Jangan Abaikan 7 Gejala Kesehatan Ini

sumber : http://www.wolipop.com/read/2011/08/25/170809/1711358/1135/jangan-abaikan-7-gejala-kesehatan-ini

Jakarta – Anda perlu waspada dengan setiap gejala yang muncul pada tubuh. Bisa jadi hal tersebut mengarah kepada penyakit serius. Seperti yang dikutip dari mayoclinic, berikut tujuh gejala yang tak boleh diabaikan.

1. Turunnya Berat Badan Secara Drastis
Menurunnya berat badan tanpa perlu usaha yang besar mungkin terdengar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Sayangnya hal tersebut bisa menjadi pertanda bahwa ada yang salah pada kesehatan Anda.

Jika Anda kehilangan hingga 10 persen dari berat badan selama enam bulan terakhir, segera konsultasikan pada dokter. Penurunan berat badan secara tiba-tiba bisa disebabkan oleh berbagai kondisi seperti tiroid yang terlalu aktif, diabetes, depresi, penyakit hati, atau kanker.

2. Demam Tinggi & Berkepanjangan
Demam bukan selalu berarti tanda bahwa tubuh Anda sedang tidak sehat. Deman memiliki peran penting dalam memerangi infeksi. Namun jika demam yang Anda alami lebih dari tiga hari, Anda harus memeriksakannya ke dokter. Dalam beberapa kasus, demam tinggi lebih dari 39,4 C dan berkepanjangan bisa disebabkan oleh gejala kanker ganas.

3. Sesak Napas
Sesak napas dapat disebabkan oleh penyakit paru obstruktif kronis, bronkitis kronis, asma, pneumonia, gumpalan darah pada paru-paru, serta gangguan jantung dan paru-paru lainnya. Biasanya sesak napas yang berbahaya disertai dengan rasa cemas yang berlebihan sehingga menyebabkan denyut jantung yang cepat, berkeringat dan gejala fisik lainnya.

4. Berubahnya Kebiasaan Buang Air
Buang air besar atau kecil sangat bervariasi pada tiap manusia. Saat Anda menemukan perubahan yang tidak biasa, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter Anda. Perubahan kebiasaan buang air bisa berupa:

- Disertai darah, berwarna pekat dan kental atau padat seperti tinja.
- Diare atau sembelit yang berkepanjangan.
- Keinginan buang air besar yang tidak bisa tertahankan.

5. Kepribadian Berubah
Jika Anda tiba-tiba merasa bingung, kebingungan mengenai waktu dan tempat (disorientasi), memiliki masalah konsentrasi, perubahan perilaku –menjadi lebih agresif– bisa jadi Anda mengalami masalah kesehatan. Perubahan perilaku bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti infeksi, anemia, gula darah rendah, dehidrasi atau kondisi kesehatan mental yang terganggu. Tak jarang, penggunaan obat-obatan memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku ini.

6. Merasa Kenyang Walau Makan Sedikit
Biasanya rasa kenyang ini disertai dengan mual, kembung dan juga demam. Penyebab yang sangat mungkin adalah heartburn (nyeri di ulu hati), Irritable Bowel Syndrome (sindrom iritasi usus), Gastrict Outlet Obstruction, kanker esofagus, dan masalah-masalah perut lainnya.

7. Kilasan Cahaya
Titik terang atau kilasan cahaya bisa menjadi pertanda bahwa Anda migren. Namun dalam kasus lain, gejala ini bisa menunjukkan ada yang salah pada retina Anda. Segera lakukan perawatan medis untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen.

(eya/eya)

Anjuran Minum 8 Gelas Sehari Menyesatkan?

sumber :

http://health.kompas.com/read/2011/07/14/17521417/Anjuran.Minum.8.Gelas.Sehari.Menyesatkan

KOMPAS.com – Minum air minimal delapan gelas sehari adalah nasihat yang
sudah lama digaung-gaungkan. Kebiasaan ini diyakini dapat membantu
mencegah kerusakan ginjal, menurunkan berat badan dan meningkatkan
konsentrasi.

Tetapi sejumlah ahli kesehatan di Inggris baru-baru memeringatkan bahwa
minum delapan gelas air sehari adalah pepatah keliru dan bahkan mungkin
bisa membahayakan. Mereka bahkan berani menyatakan, klaim ilmiah di
balik anjuran tersebut ini hanyalah “omong kosong”.

Di Inggris, National Health Services (NHS) bersama dengan dokter
terkemuka dan ahli gizi telah lama menyarankan masyarakat agar minum
sekitar 1,2 liter air per hari untuk menjaga kesehatan.

Namun, sebuah laporan terbaru yang ditulis dalam British Medical Journal
menjelaskan bahwa ancaman akan dehidrasi adalah suatu ‘mitos’ dan
mengatakan sejauh ini tak ada bukti di balik klaim bahwa minum banyak
air dapat mencegah beberapa masalah kesehatan.

Seorang dokter di Glasgow, Margaret McCartney, dalam jurnal itu
mengatakan bahwa anjuran dalam website NHS agar minum enam sampai
delapan gelas sehari tidak hanya sebuah omong kosong, tapi juga memalukan.

Dia menambahkan bahwa manfaat dari banyak minum air sering
dibesar-besarkan dan ditumpangi kepentingan, misalnya dari perusahaan
air dalam kemasan.

Dalam BMJ, Dr McCartney juga menekankan bahwa penelitian menunjukkan
bahwa minum air ketika tidak merasa haus justru dapat mengganggu dan
bukannya meningkatkan konsentrasi. Bukti-bukti lain juga menunjukkan
bahwa zat kimia yang pembunuh kuman ditemukan dalam air kemasan bisa
berakibat buruk bagi kesehatan.

Minum dalam jumlah yang berlebihan juga dapat menyebabkan kurang tidur
karena seseorang harus bangun di malam hari untuk pergi ke toilet. Studi
lain menunjukkan, bahkan dapat menyebabkan kerusakan ginjal, bukan
mencegahnya.

Dr McCartney juga memperingatkan bahwa minum terlalu banyak air dapat
menyebabkan kondisi yang jarang namun berpotensi fatal yang disebut
hiponatremia. Kondisi ini yang membuat kadar garam dalam tubuh menurun
dan dapat menyebabkan pembengkakan otak.

Pada tahun 2003, aktor Anthony Andrews jatuh sakit karena minum air
terlalu banyak selama berlatih peran.

Dokter lain yang dikutip dalam artikel tersebut menambahkan, tidak ada
dasar yang cukup untuk mengklaim bahwa air dapat membantu menurunkan
berat badan dengan menekan nafsu makan.

Profesor Stanley Goldfarb, seorang ahli metabolisme dari University of
Pennsylvania di AS, mengatakan: “Bukti saat ini menyatakan bahwa memang
tidak ada bukti. Jika anak-anak minum lebih banyak air daripada
mendapatkan kalori ekstra dari soda, itu bagus. Tetapi tidak ada bukti
bahwa minum air sebelum makan mengurangi selera saat makan.”

Sekitar 2.06 miliar liter air dalam kemasan laku dijual di Inggris pada
tahun lalu. Angka ini naik dibandingkan tahun 2000 yang hanya mencapai
1.42 miliar liter.

BOORWATER UNTUK CUCI MATA? AWAS, BAHAYA!

sumber :

http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=06277&rubrik=sehat

Meski belum ada penelitian resmi, penggunaan boorwater diduga dapat
menyebabkan mata kering. Bahkan bisa mengakibatkan gangguan fungsi hati pada
penggunaan jangka panjang. Benarkah?

Siapa yang tak kenal boorwater? Selama ini air yang diklaim suci hama
tersebut lazim digunakan sebagai obat pencuci mata. Kala mata merah, perih,
atau bengkak, boorwater-lah obatnya. Selain itu boorwater dapat dipakai
untuk mencuci kulit yang terluka. Tak heran kalau di banyak keluarga
boorwater selalu tersedia di kotak obat. Padahal seperti dituturkan dr. Hadi
Prakoso, Sp.M, penggunaan boorwater berisiko menyebabkan gangguan pada mata.
“Penggunaan boorwater terus-menerus dalam jangka waktu lama bisa menyebabkan
mata kering.” Itu sebabnya, opthalmologist atau dokter spesialis mata dari
Klinik Mata Nusantara ini tidak menganjurkan pemakaian boorwater kepada
pasiennya.

Lebih lanjut Hadi menjelaskan bahwa indra penglihatan sebenar-nya sudah
dilengkapi oleh mekanisme pembersihan diri. Setiap kali berkedip, saat
itulah air mata keluar untuk membersihkan mata. Lewat air mata,
kotoran-kotoran di mata dibersihkan dan dibuang keluar. Selain itu mata juga
mampu membuang kuman dan bakteri yang ada di mata. “Air mata mengandung
lisozim, betasin, Imunoglobulin A, dan Imunoglobulin G yang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri,” tambah Hadi pula.
Barulah pada kasus-kasus tertentu dimana mata tidak bisa memfungsikan
mekanisme pembersihannya, seperti pada kasus gangguan mata berat, mau tidak
mau harus digunakan obat-obatan dan tindakan lain yang diperlukan.

GANGGUAN SARAF & FUNGSI HATI
Senada dengan Hadi, farmakolog DR. dr. Ernie Purwaningsih, MS., menuturkan
bahwa boorwater sebetulnya merupakan larutan air dan asam borat. Jenis asam
inilah yang diyakini berbahaya bagi mata anak. Asam borat merupakan senyawa
kimia berbentuk kristal lunak yang memiliki sifat antiseptik dan mudah larut
dalam air. “Kandungan asam borat yang terdapat pada boorwater adalah 3%. Ini
merupakan konsentrasi ideal dan berlaku standar sebagai obat di seluruh
dunia. Jika lebih dari 3 persen, dikhawatirkan asam boratnya akan mengendap
dalam air. Sebaliknya, jika kandungannya di bawah 3%, kemungkinan
efektivitasnya sebagai antiseptik akan berkurang,” ujar Ernie.

Lalu kenapa boorwater dianggap membahayakan mata anak? Karena mukosa atau
selaput mata mata anak lebih tipis dibanding selaput mata orang dewasa,
hingga lebih mudah teriritasi. Selain itu, gangguan mata seperti mata merah
yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah akan memudahkan asam borat
yang terkandung dalam boorwater terserap masuk ke dalam tubuh.

Akibatnya, obat yang seharusnya berefek topical atau mengobati gangguan di
bagian luar mata saja akan menjadi racun di dalam tubuh. Semakin tinggi
intensitas pemberian boorwater akan kian banyak pula asam borat yang masuk
ke dalam tubuh. Jika pemakaian dilakukan dalam jangka panjang, asam borat
yang terakumulasi dalam tubuh akan mengganggu fungsi hati dan menimbulkan
gangguan susunan saraf pusat yang bisa “terbaca” lewat gejala kejang-kejang
dan demam tinggi.

Namun semua zat kimia yang masuk ke dalam tubuh pastilah terlebih dulu
mengganggu lokasi penyerapannya. Ernie mencontohkan asam borat yang tertelan
mula-mula akan mengganggu saluran cerna dengan gangguan yang umum muncul di
antaranya muntah-muntah dan diare. Jadi, bahaya yang mesti diwaspadai
pertama kali dari penggunaan boorwater adalah intoksikasi atau keracunan
pada mata anak. Ernie menjelaskan, asam borat bisa menyebabkan gangguan
produksi air mata yang mengakibatkan mata jadi kering. Jika mata menjadi
kering akibat kekurangan dan ketiadaan air mata, maka mukosa lapis lendirnya
bakal mudah pecah dan tampaklah bercak-bercak kering.

Untuk memeriksa apakah mata seseorang kering atau tidak, menurut Ernie bisa
dilakukan dengan uji break up time (BUT), yaitu waktu terjadinya bercak
kering pada permukaan kornea sesudah satu kedipan. Bercak kering ini mudah
terjadi bila jumlah air mata berkurang. Dengan kata lain, uji BUT mengukur
secara kasar mutu dan stabilitas lapisan lendir mata. BUT mata normal
berkisar antara 15-45 detik. Bila angkanya lebih kecil dari 10 berarti mata
tidak normal karena lapis lendirnya gampang pecah yang membuat mata kering.
Lazimnya uji BUT dilakukan pada penderita keratokonjungtivitis sika atau
kekurangan lapis lendir dan radang mata menahun. Khusus untuk
keratokon-jungtivitis sika, kadang dilakukan pula uji Schirmer untuk menilai
mutu air mata yang tidak tergantung pada kadar lapis lendir. Ernie
menjelaskan bahwa mereka yang terkena gangguan mata kering akibat produksi
air matanya berkurang, permukaan matanya akan mengalami iritasi.

Gejala-gejala yang timbul karena kondisi tersebut bisa beragam, seperti mata
terasa panas, gatal, perih, memerah, mengganggu serta mengganjal saat mata
mengedip. Kornea mata pun jadi keruh yang mengakibatkan gangguan pada
penglihatan, semisal tak bisa lagi menangkap bayangan gambar dengan baik.
Saat membaca, anak akan sulit membaca tulisan-tulisan yang ada di buku
tersebut karena pandangannya kabur. Dampak lain yang lebih parah dari
penggunaan boorwater adalah mudahnya anak terkena infeksi, seperti trachoma
yang dapat menimbulkan gangguan penglihatan.

Dalam jangka panjang, gangguan ini akan menjalar ke kornea mata anak. Kalau
gangguannya sudah terbilang amat parah, apa boleh buat mata yang rusak mesti
diangkat. Sementara menurut Erni pun penggunaan boorwater pada kulit yang
luka tidak dibenarkan. Memang dalam jangka pendek kulit yang terluka itu
jadi lebih cepat kering. Tapi Ernie mengingatkan bahwa kulit yang terluka
merupakan “pintu masuk” bagi asam borat yang bersifat membahayakan tubuh.
Para pakar pun, tukasnya, kini banyak yang meragukan efektivitas boorwater
sebagai pengobat luka.

MAKIN PEKAT
Parahnya lagi, tukas pengajar dan peneliti dan peneliti di Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia ini, kandungan ideal sebesar 3% dalam
boorwater bisa meningkat karena beberapa faktor. Salah satunya karena botol
yang dipakai sebagai wadah boorwater tidak tertutup rapat dan menyebabkan
air pelarutnya menguap. Akibatnya, kepekatan asam borat dalam air yang
tersisa semakin meningkat. Dampak negatif setiap tetes boorwater pun akan
semakin tinggi. Penyimpanan yang tidak bersih juga bisa menimbulkan dampak
negatif lain. Boorwater bisa terkontaminasi oleh kuman dan bakteri. Jadi,
alih-alih membuat mata sehat, boorwater yang tidak steril malah bisa membuat
gangguan mata jadi lebih parah. Mata yang mulanya hanya sedikit memerah
karena terkena debu malah jadi terinfeksi oleh kuman dan virus.

Namun Ernie mengakui hingga saat ini di Indonesia belum ada penelitian
tentang dampak negatif boorwater, baik pada mata maupun pada organ tubuh
lain. Meski begitu ada baiknya bila khalayak melakukan tindak pencegahan
terhadap dampak negatif yang diakibatkan oleh penggunaan boorwater.

TIPS PENGGUNAAN BOORWATER
Berikut beberapa tips dari Ernie seputar penggunaan boorwater:
* Waspadai keberadaan boorwater yang masih banyak beredar di pasaran. Penggunaannya sebaiknya dibatasi hanya sebagai pengompres kulit. Namun, hindari penggunaan secara langsung pada kulit yang luka. Mencuci kulit yang terluka, cukup dengan air bersih.
* Bila mata kelilipan entah kemasukan pasir, bulu mata, atau debu, tidak perlu harus dicuci dengan boorwater. Air bersih saja sudah cukup.
* Penggunaan boorwater sebaiknya tidak lebih dari seminggu. Dikhawatirkan,pemakaian yang melebihi tenggang waktu ini menyebabkan peningkatan konsentrasi asam borat di lokasi pemakaian. Sementara kesterilannya juga tidak bisa terjamin.
* Meski keluhan mata kering akibat pemakaian boorwater lebih banyak dialami anak-anak, ada baiknya hindari pula pemakaian pada kalangan dewasa.

Susu Plus Cemilan, Solusi Tidur Nyenyak

sumber :http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/26/10502972/Susu.Plus.Cemilan..Solusi.Tidur.Nyenyak

shutterstock.com
KOMPAS.com – JIKA semasa kecil, ibu Anda sering memberi segelas susu hangat sebelum tidur malam, ia memang mengerti apa yang Anda butuhkan . Susu merupakan minuman yang kaya nutrisi dan akan membuat Anda tidur lebih nyenyak dan tenang.

Menurut spesialis kesehatan umum dari Mayo Clinic Kenneth Berge, M.D, susu dan produk turunannya memang bisa dijadikan solusi dalam membantu Anda tidur nyenyak. Susu adalah salah satu sumber terbaik tryptophan, sejenis asam amino yang akan diubah tubuh menjadi dua jenis hormon yang membantu tidur yakni melatonin dan serotonin. Jenis makanan lain yang mengandung tryptophan adalah oat, pisang, daging unggas dan kacang.

Untuk membantu serta memperbesar peluang tidur nyenyak, Kenneth Berge juga menyarankan untuk mengonsumsi cemilan ringan dan sehat dengan komposisi terbesar karbohidrat dan sedikit protein. Kombinasi karbohidrat tinggi dan sedikit protei ini diyakini akan meningkatkan kemampuan tryptophan pada otak Anda, yang tentu membantu menghasilkan lebih banyak melatonin dan serotonin.

Berikut adalah contoh cemilan sehat yang membantu tidur :
* Semangkuk kecil oatmeal atau sereal dengan susu rendah lemak
* Yogurt dengan granola sprinkled
* Setengah porsi bagel atau crackers dengan selai kacang , 1 ons keju atau selembar deli turkey
* Irisan apel dengan 1 ons keju

Hindarilah terlalu banyak memakan protein sebelum waktu tidur. Makanan yang kaya protein juga mengandung tyrosine, asal amino yang merangsang aktivtas otak.

Makanan yang harus dihindari jelang tidur :
* Makanan berat dan gurih, terutama jika Anda rentan terhadap heatburn atau nyeri ulu hati dan kepanasan seperti ditusuk-tusuk. Makan terlalu banyak juga bisa membuat Anda tidak nyaman secara fisik ketika tidur.
* Jangan banyak minum. Memasukkan banyak cairan ke dalam tubuh sebelum tidur akan membuat Anda bangun dan terjaga berulang kali karena harus ke kamar kecil .
* Alkohol. Meskipun awalnya akan membuat Anda ngantuk , alkohol dapat menyebabkan tidur tidak nyenyak dan membuat Anda terjaga.
* Kafein. Layaknya stimulan, kafein meningkatkan aktivitas sistem syaraf Anda yang menyebabkan Anda justru sulit tidur.

Makanan Pemicu Makan Berlebih!

sumber : http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|5962

Jakarta – Apakah Anda sering merasa lapar meskipun sudah makan? Perhatikan jenis makanan yang Anda makan sebelum makan. Siapa tahu makanan tersebut justru memicu rasa lapar Anda.

Makanan yang berminyak seperti gorengan dan jenis makanan berlemak lainnya ternyata bisa membangkitkan selera makan Anda. Bahkan hal ini akan bertahan setelah beberapa hari Anda memakannya. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan baru-baru ini dalam Journal of Clinical Investigation, seperti yang dilansir eatingwell.

Kalau pada akhir pekan Anda sering menghabiskan waktu dengan menyantap makanan cepat saji, seperti burger, kentang goreng, dan makanan mengandung lemak lainnya-seperti makanan bersantan, banyak keju dan daging- Anda perlu waspada. Kebiasaan ini memang sudah menurun dari nenek moyang terdahulu.

Namun bedanya, mereka menyantap banyak sekali makanan berlemak untuk persediaan. Karena zaman dulu, makanan tidak mudah didapatkan. Dan waktu berburu tidak dilakukan setiap hari. Sedangkan hal ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat sekarang yang segala sesuatunya dengan mudah didapatkan.

Dalam studi, para peneliti menambahkan dua jenis lemak sebagai tambahan menu makan mereka. Salah satunya adalah asam palmitat, sejenis lemak jenuh yang ditemukan dalam daging sapi, mentega, keju dan minyak sawit.

Jenis lemak yang lainnya adalah asam oleat, yaitu sejenis lemak sehat yang banyak ditemukan dalam minyak zaitun, ikan, kacang-kacangan dan kedelai. Setelah asam palmitat diberikan, otak menjadi resisten terhadap hormon penekan nafsu makan, leptin dan insulin.

Penelitian yang telah dilakukan pada tikus ini, ternyata juga berlaku pada manusia ujar Deborah Clegg, Ph.D.,RD seorang penulis dari University of Texas Southest Medical Center di Dallas. Menurut Clegg, sebaiknya biasakan memakan makanan yang lebih sehat setelah akhir pekan, jika Anda ingin sedikit memanjakan diri di akhir pekan. Dan jika Anda memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol, sebaiknya mulai dikurangi dan ganti dengan air putih. Makan perlahan agar usus Anda mampu mencerna denga lebih baik dan secara otomatis membuat Anda merasa kenyang dan mengurangi rasa lapar sampai waktu makan selanjutnya.

Sulitnya Meregulasi “Obat Latah”

sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/25/03382956/sulitnya.meregulasi.obat.latah

Irwan Julianto

Sejak 30 tahun terakhir, Indonesia masih berkutat dengan sulitnya
mengatur peresepan dokter, yang sebagian besar adalah ”obat-obat
latah” atau me-too drugs. Obat-obat ini dikemas dan dipasarkan
layaknya obat ”paten”, padahal tak lain adalah obat-obat generik yang
”bermerek”. Akibatnya, harga obat resep di Indonesia tergolong
termahal di ASEAN, bahkan di dunia!

Akhir November 2009, diantar Heru Santosa, Sekretaris I Kedubes RI
untuk Kuba, Kompas sempat mengunjungi beberapa fasilitas kesehatan dan
sebuah apotek di Kota Havana.

Walaupun didera kesulitan ekonomi sejak bubarnya Uni Soviet, tetap
saja fasilitas kesehatan dasar Kuba jauh lebih baik ketimbang
Indonesia. Pusat kesehatan masyarakat tingkat rukun warga di Kuba jauh
lebih lengkap dibanding puskesmas tingkat kecamatan di Indonesia.

Dengan merata, murah/gratis, dan baiknya layanan kesehatan serta
pendidikan tak mengherankan jika Kuba berada di peringkat 50-an
teratas untuk Indeks Pembangunan Manusia (HDI), sementara Indonesia
justru terpuruk di peringkat ke-114.

Kita coba bandingkan harga salah satu obat esensial, misalnya
metformin, obat lini pertama diabetes tipe-2. Obat ini lazim dikenal
dengan merek dagang Glucophage, obat ”originator” temuan Bristol-Myers-
Squibb. Di apotek di Jakarta, Glucophage, yang sudah lewat masa
patennya, untuk satu strip berisi 10 tablet 500 mg dipatok dengan
harga Rp 14.100, sedang untuk merek lain yang sebenarnya hanya ”obat
latah” dihargai Rp 11.000, dan obat generik dengan tulisan Metformin
hanya Rp 3.000/10 tablet.

Di apotek untuk warga Kuba, harga satu dus obat Metformina berisi 10
strip yang masing-masing berisi 10 tablet 850 mg harganya hanya 1 peso
Kuba atau sama dengan Rp 400. Berarti satu strip obat generik
metformin di Kuba buatan perusahaan Cipla, India, (walaupun berdosis
lebih besar) harganya cuma Rp 40! Ini berarti pula harga metformin di
Indonesia lebih mahal 75 kali dibanding di Kuba.

Tentu kita bisa berkilah, Kuba adalah negara sosialis komunis. Dan,
Kuba dikenal sebagai negara yang tak menghargai hak paten dan hak atas
kekayaan intelektual. Namun, seyogianya Indonesia sebagai negara
dengan ideologi Pancasila adalah negara kesejahteraan (welfare state)
dan sosial demokratis, bukan negara dengan ekonomi liberal.

Menurut Direktur Utama PT Kimia Farma M Syamsul Arifin, saat ini 80
persen bahan baku obat-obatan di Indonesia diimpor dari India dan
China. Anehnya, walaupun harga bahan baku impor ini murah, setelah
diproduksi menjadi ”obat-obat latah” oleh industri farmasi Indonesia
harganya jadi berlipat kali lebih mahal dibanding harga obat-obat yang
sama di India dan China. Ini tak lain karena industri farmasi di
Indonesia masih tetap terjangkit ”penyakit” mencari rente (rent
seeking), mencari keuntungan sebesar-besarnya yang telah berlangsung
sejak era Orde Baru.

Mengontrak dokter

Dengan margin keuntungan yang amat besar—karena bahan baku yang
supermurah sebab pembuatnya di India dan China umumnya tidak melakukan
riset untuk menemukan molekul-molekul bahan aktifnya— harga ”obat
latah” atau generik bermerek di Indonesia dijual dengan harga tak
banyak beda dengan harga obat ”originator”-nya, bahkan kadang-kadang
bisa lebih tinggi. Penyebabnya, industri farmasi swasta nasional
Indonesia lebih agresif ”mengontrak” para dokter dibanding industri
farmasi asing.

Tak mengherankan jika belasan industri farmasi swasta nasional
mendominasi pangsa pasar obat resep Indonesia, jauh meninggalkan
sekitar 30 industri farmasi asing. Awal tahun 2000, Bristol-Myers-
Squibb dan Hoechst menduduki peringkat ke-6 dan ke-10 (Kompas,
22/11/2000), tetapi belakangan hanya Pfizer yang masuk dalam 10 besar
industri farmasi.

Fenomena ”kontrak-mengontrak” industri farmasi-dokter sudah
berlangsung lama. Namun, istilah industrio-medical complex baru
pertama kali diungkapkan oleh Prof dr Iwan Darmansjah ketika ia
dikukuhkan sebagai Guru Besar Farmakologi di FK UI tahun 1983 sebagai
otokritik terhadap profesi kedokteran (Kompas, 23/5/1983).

Tahun 1970-an hingga awal 1980-an praktik ”memberi imbalan” kepada
para dokter lebih banyak dilakukan oleh industri farmasi asing. Namun,
belakangan, industri farmasi swasta nasional—termasuk di Indonesia—
makin ”pintar” dan lebih jago menghalalkan segala cara untuk merayu
para dokter agar meresepkan ”obat-obat latah” produksi mereka.

Selama dekade 1980-an hingga awal 1990-an Kompas amat sering
menurunkan berita di halaman 1 tentang mahalnya harga obat di
Indonesia dan perlunya mengatur praktik peresepan obat oleh para
dokter. Hasilnya, antara lain, sampel obat dilarang. Departemen
Kesehatan (ketika itu) pun mulai memperkenalkan istilah ”obat generik”
tahun 1984, disusul dibuatnya ketentuan resep dokter untuk pasien
”berkantong tipis” yang tak lain adalah daftar 80-an obat esensial.

Kekuasaan absolut

Selama sistem pelayanan kesehatan di Indonesia masih menganut fee for
service (pasien harus membayar sendiri jasa dan produk kesehatan,
termasuk obat)—belum berupa asuransi kesehatan—semuanya tidak akan
menyelesaikan masalah secara mendasar. Hal itu berlangsung terus
hingga kini. Dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/
Menkes/068/-I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah juga tak akan menyentuh
masyarakat yang masih amat banyak berobat ke praktik dokter/rumah
sakit swasta.

Kunci pengendalian harga obat dan kerasionalan peresepan obat di
Indonesia adalah pada dokter yang terikat sumpah dokter/etika
kedokteran. Industri farmasi adalah entitas bisnis, sehingga sulit
mengharapkan mereka menjalankan praktik bisnis yang ”beretika” dan
tidak melakukan penyuapan.

Obat resep (ethical drugs) adalah satu-satunya komoditas di dunia yang
tidak memberikan kebebasan kepada konsumen/ pasien untuk memilih
sendiri. Semuanya bergantung pada pena dokter. ”Kekuasaan absolut”
inilah yang tak jarang disalahgunakan oleh sebagian dokter kita, yang
sudah melupakan darma panggilannya sebagai ”penyelamat/pemelihara
kehidupan”.

Jika ingin melakukan reformasi sektor dan sistem kesehatan nasional di
Indonesia, resep dokter harus boleh diaudit. Tak ada salahnya
Indonesia meniru cara Filipina yang pada masa pemerintahan Presiden
Corazon Aquino mengeluarkan Undang Undang Generik (Generic Law).
Peraturan itu mewajibkan para dokter menulis resep dengan nama generik/
bahan aktif obat. Kebebasan memilih diserahkan ke konsumen dengan
bimbingan petugas apotek. Awalnya para dokter protes (baca
Prescription for Change, 1992).

Beranikah Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih melakukan terobosan ini?
Tentu ia perlu meminta dukungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Selama
niat baik mengutamakan kepentingan pasien—seperti yang tersurat dalam
sumpah dokter—tidak ada alasan bagi para dokter dan IDI menentangnya.

Cerita Miring Dokter Indonesia di Time

sumber :http://health.detik.com/read/2010/02/23/130257/1305006/763/cerita-miring-dokter-indonesia-di-time

Nurul Ulfah – detikHealth

Jakarta, Orang Indonesia tentunya sudah hapal sistem kesehatan di Indonesia yang masih jauh dari maksimal. Tapi kalau cerita miring soal kredibitas dokter Indonesia sampai diulas secara internasional tentunya harus menjadi perhatian khusus.

Situs majalah Time edisi 17 Februari 2010 memaparkan sebuah esai panjang tentang bagaimana memprihatinkannya kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia. Tulisan tersebut ditulis wartawan Jason Tedjasukmana, yang menjadi koresponden untuk Time Asia.

Intinya si jurnalis ingin menceritakan minusnya pelayanan kesehatan di Indonesia. Berkaca dari pengalaman pribadinya yang menderita sakit mata. Di saat tak ada satu dokter Indonesia pun yang bisa mendiagnosis penyakitnya, dokter Amerika bisa mengetahuinya hanya dalam 5 menit.

Seperti dikutip dari Time, Selasa (23/2/2010), Jason menceritakan kisahnya.

Saya tidak pernah menduga akan menceritakan sistem kesehatan di Indonesia yang buruk. Meski saya merasa ragu dengan prosedur kesehatan di negara yang sudah saya tempati sejak tahun 1994 ini, tapi saya cukup percaya dengan dokter-dokter lokal di Indonesia. Tapi ternyata saya salah.

Pada April 2009, mata kanan saya mulai gatal dan memerah. Penglihatan saya mulai kabur tapi saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mata saya. Akhirnya saya menemui dokter dan disarankan untuk menemui spesialis karena masalahnya diperkirakan ada pada kornea.

Saya pun mengikuti sarannya, tapi setelah berkeliling dan menemui banyak dokter spesialis mata di Jakarta, keadaan mata saya justru semakin memburuk. Seminggu kemudian, saya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan mencari pengobatan di luar, tapi ternyata sudah terlambat.

Kondisi kornea saya sudah terlanjur rusak. Dokter di Singapura tempat saya berkunjung dan juga hampir kebanyakan orang Indonesia yang ingin berobat menyarankan agar dilakukan transplantasi kornea jika teknik lainnya gagal. Akhirnya saya memutuskan pergi ke Amerika untuk mencari jalan lain.

Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia menurut saya jauh dari memadai. Hal tersebut diakui pula oleh mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Kartono Mohammad. “Kita tidak punya sistem kesehatan. Tidak ada kontrol terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Indoensia,” ujar Dr Kartono.

Untuk tahun 2010, menteri kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih telah mengalokasikan dana sebesar 2,2 miliar dolar AS atau Rp 22 triliun untuk anggaran kesehatan, tapi angka itu dianggap masih kurang dan seharusnya sebesar 110 miliar miliar dolar (Rp 110 triliun). “Tentu saja itu masih belum cukup, tapi sistem pelayanan kesehatan sudah termasuk di dalamnya,” tutur Endang.

Tentu saja tidak mengejutkan jika ratusan warga Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat tuberculosis, malaria, demam berdarah dan penyakit lainnya. Tapi yang membuat saya bingung adalah bagaimana sebuah penyakit mata yang saya alami tidak terdiagnosa oleh satu pun dokter, padahal penyakit itu bisa memicu kebutaan.

Saya terpaksa pergi ke Amerika karena enam dokter di Indonesia sudah tidak bisa menjelaskan penyakit tersebut. Berbeda dengan dokter Indonesia, seorang dokter di Michigan langsung bisa mendiagnosis masalah dalam 5 menit.

“Anda terkena penyakit vernal conjunctivitis. Jika dokter di sana melihat dan memeriksa bagian di bawah kelopak mata Anda, penyakit ini sebenarnya bisa langsung ketahuan,” ujar dokter Michigan yang memeriksa Jason.

Menurut saya, sebenarnya para dokter di Indonesia sudah memeriksa bagian tersebut. Tapi tidak ada satu dokter pun yang menyadarinya dan melewatkannya begitu saja. Dokter di Jakarta hanya memberi steroid untuk mengurangi pembengkakan.

Dokter di Jakarta juga melakukan pembersihan mata dengan cara mengurangi lapisan mata. Harapannya yaitu agar tumbuh lapisan baru di atas lapisan yang rusak. Namun sakit yang dirasakan seperti ada keramik atau kaca yang ditusuk ke dalam mata saya.

Sebenarnya saya ingin menggugat dokter tersebut tapi Dr Kartono dan pakar kesehatan lainnya mengatakan bahwa kemungkinan memenangkan kasus malpraktik di Indonesia sangatlah kecil bahkan penggugat bisa jadi harus membayar kerugian yang lebih besar.

Setelah 9 bulan mengeluarkan ribuan dolar dan menjalani prosedur pengobatan di Amerika, 50 persen penglihatan saya sudah kembali normal. Meski saya masih merasa pusing dan tidak nyaman dengan ketidakseimbangan penglihatan kiri dan kanan, tapi saya optimistis mata saya akan kembali normal.

Saya sangat beruntung karena bisa mencari pengobatan di luar, tapi bagaimana dengan mereka yang tidak mampu dan tidak tahu harus berobat kemana? Semakin saya bertanya pada dokter-dokter di Jakarta, semakin banyak kekhawatiran dan cerita horor yang timbul.

Kasus Prita Mulyasari yang berani mengkritik sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah satu contoh bahwa ada yang salah dengan sistem kesehatan di Indonesia. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan setelah ini, tapi saya menyarankan agar Prita punya keberanian untuk menantang sistem yang sudah banyak mengorbankan orang banyak.(fah/ir)