Salah Kaprah Obat Generik

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/30/10100668/Salah.Kaprah.Obat.Generik.

*JAKARTA, KOMPAS.com -* Wajah Eko (33) tampak muram siang itu. Sorot
matanya yang kosong menatap sebuah poster yang menempel di dinding
apotik sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan.

Eko kebingungan karena harus menebus obat senilai ratusan ribu rupiah
untuk menyembuhkan sakit herpes yang dideritanya. Ayah dua anak itu tak
menyangka kalau harga obat yang harus ditebusnya di apotik bisa semahal
itu.

Usut punya usut, dokter ternyata meresepkan obat paten untuk
penyakitnya. Eko tidak paham kalau ia sebenarnya dapat meminta dokter
atau apoteker untuk mengganti resepnya dengan obat generik tanpa merek
yang harganya relatif jauh lebih terjangkau.

“Saya kira resep dokter tak bisa diutak-atik lagi alias harga mati buat
kesembuhan penyakit saya,” ungkap karyawan swasta di kawasan Palmerah itu.

Jika faktor biaya menjadi pertimbangan utama Eko, tidak demikian halnya
dengan pasien lain bernama Angga (34). Ia mengaku tak keberatan dengan
keputusan dokter meresepkan obat paten demi khasiat “ces pleng” yang
selama ini diyakininya. Kalau pun harus memilih, Angga mengaku tetap
menolak diberikan resep obat generik karena khawatir sakitnya akan lebih
lama.

“Saya agak ragu dengan obat generik karena sembuhnya suka lama. Walau
harus keluar kocek lebih mahal, obat paten memberi saya jaminan cepat
sembuh,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai wartawan ini.

Potret masyarakat tentang penggunaan obat di atas adalah bukti masih
terjadinya distorsi informasi tentang obat generik dan obat paten
(originator) di masyarakat. Akibat mitos yang kadung melekat, masyarakat
kurang yakin dengan obat generik karena harganya yang murah, tak
bergengsi serta diragukan khasiat dan kemanfaatannya. Di lain pihak, tak
sedikit masyarakat yang kesulitan membeli obat karena harganya sangat mahal.

Menurut guru besar Farmakologi Universitas Indonesia, Prof Arini
Setiawati, PhD, distorsi ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila
masyarakat benar-benar memahami benar informasi tentang obat generik dan
obat originator.

Arini menjelaskan, obat generik tak perlu diragukan khasiatnya karena
secara teori memiliki persamaan dengan obat originator dalam hal zat
aktif, dosis, indikasi dan bentuk sediaan.

“Obat generik adalah obat yang meng/copy/ obat originator dan diberi
nama generik. Dengan begitu, obat ini memberikan efikasi dan keamanan
yang sama,” ujarnya pada media forum yang diselenggarakan Sanofi-Aventis
di Jakarta akhir Maret lalu.

Obat generik, lanjut Arini, harganya memang lebih murah ketimbang obat
paten. Tetapi, bukan dikarenakan mutu atau efikasinya rendah. Obat
generik tak memerlukan biaya riset dan pengembangan yang mahal seperti
halnya obat originator atau paten.

“Yang diperlukan hanyalah riset untuk membuat formulasi agar dapat
setara dengan obat originator sehingga dapat dijual dengan harga murah,”
ujar anggota tetap Komisi Nasional Penilai Efikasi dan Keamanan Obat
Jadi/Obat Modern di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini.

Obat paten, terang Arini, sangat wajar bila harganya mahal karena biaya
yang dibutuhkan untuk risetnya mencapai 900 juta dollar (hampir Rp 900
miliar) hingga 1,8 juta miliar dollar AS. Selain itu, ekslusivitas obat
paten ini terbilang relatif singkat. Walaupun diberikan perlidungan
paten bekisar antara 17 hingga 20 tahun, tapi kesempatan untuk
dipasarkan sebagai obat paten sekitar lima tahun saja.

“Oleh sebab itu harganya mahal karena harus menutup biaya pengembangan
tersebut dalam waktu yang relatif singkat,” ujarnya.

Arini menambahkan, masyarakat Indonesia sudah saatnya mengubah pola
pikir tentang obat generik dan paten. Pasalnya, di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat, masyarakat sudah semakin terbiasa menggunakan
obat generik.

Buktinya, peresepan obat generik terus mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun. Data IMS Health National Prescription Audit (NPA) menyebutkan,
peresepan obat generik di AS yang hanya 19 persen pada tahun 1984 telah
meningkat pesat pada 2007 menjadi 67 persen.

*Salah kaprah*
Obat generik, lanjut Arini, saat ini dipasarkan di Indonesia dalam dua
jenis yakni dengan menggunakan nama generiknya dan memakai merek dagang.
Salah satu jenis yang dijual dengan nama generiknya adalah obat generik
berlogo (OGB) yang merupakan program pemerintah. OGB dapat dikenali
dengan logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan
“Generik” di tengah lingkaran.

Sementara itu satu jenis lainnya yakni obat generik bermerek justru
tidak diperlakukan sebagai obat generik. Dengan kemasan lebih menarik
memakai nama dagang tanpa mencantumkan logo, harga obat bermerek ini
jauh lebih mahal dibanding obat generik tanpa merek, padahal kandungan
zat aktifnya sama.

Alhasil, fenomena ini menjadikan obat generik bermerek seakan-akan
‘diposisikan’ sama seperti obat paten. Salah kaprah terhadap obat
generik bermerek ini pun tidak terelakkan.

Diakui Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI),
Marius Widjajarta, praktik salah kaprah obat generik menjadi masalah
dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Betapa tidak, obat generik
bermerek yang kandungannya tak jauh berbeda dengan obat tanpa merek
dijual dengan harga tidak rasional.

“Bahkan ada yang bisa sampai 200 kali dari harga asli obat generik tanpa
merek,” ujar Marius.

Padahal, hampir 70 persen obat yang beredar di Indonesia saat ini adalah
obat generik bermerek. Sedangkan sisanya adalah obat paten dan obat
generik tanpa merek. Peredaran obat paten di Indonesia, kata Marius,
tidak banyak yakni hanya sekitar 7 persen saja. Obat-obat paten ini
contohnya adalah obat untuk HIV/AIDS, obat-obat kanker dan flu burung.

“Yang lain itu paten-patenan. Yang lebih kejam, tak sedikit oknum dokter
yang meresepkan obat generik bermerek kepada pasien, tetapi menyebut
obat tersebut sebagai obat paten. Padahal jelas, itu melanggar etika
profesi kedokteran,” ujar Marius.

*Benang kusut*
Marius yang juga anggota Tim Rasionalisasi Harga Obat Generik Nasional
di Kementerian Kesehatan menilai masalah obat generik adalah benang
kusut yang tak pernah selesai dari tahun ke tahun.

Rumitnya masalah pengaturan obat generik di Indonesia adalah akibat
ketidaktegasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan,
menegakkan kebijakan soal peredaran obat generik bermerek. Harga obat
generik sebenarnya telah diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan,
tetapi anehnya, peraturan ini hanya diterapkan pada obat generik tanpa
merek saja.

“Di sinilah benang kusutnya, yang liar adalah obat generik bermerek,
yang tak mau tunduk pada peraturan itu. Pemerintah dalam hal ini Dirjen
Bina Kefarmasian tidak ada niatan untuk menetapkan harga obat generik
bermerek,” ujar Marius.

Kalaupun Menkes telah membuat peraturan baru yang mewajibkan seluruh
dokter di layanan kesehatan pemerintah mewajibkan peresepan obat
generik, peraturan itu diyakini Marius tidak akan berjalan efektif.
Peran apoteker sebagai profesi yang terlibat secara langsung memberikan
pelayanan di bidang kefarmasian pun belum bisa diharapkan.

Senada dengan Marius, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Priyo
Sidipratomo, manilai karut marutnya masalah obat generik lebih
disebabkan karena lemahnya penegakkan peraturan tata niaga farmasi.

Sementara profesi dokter pun tak bisa sepenuhnya disalahkan karena
mereka kerap mengalami masalah dan keterbatasan di lapangan. Masalah
peresepan obat generik, kata Priyo, biasanya muncul ketika dokter
dihadapkan pada kendala kekosongan stok obat. Karena obat generik tanpa
merek langka, dokter akhirnya beralih pada obat generik bermerek atau
obat paten.

Namun Priyo pun tak mengelak bila ada segelintir oknum dokter yang
bertindak melawan etika profesi. “Dokter-dokter yang disponsori itu
jelas tidak etis, berlawanan dengan etika. Namun itu hanya terjadi di
kota-kota besar, di kota kecil sangat jarang,” ungkapnya

Salah satu solusi yang dapat mengatasi masalah ini, lanjut Priyo, adalah
penerapan sistem asuransi kesehatan secara universal sebagai jalan
keluar mengatasi pembiayaan kesehatan di Indonesia.

“Dalam dunia kedokteran, itu tidak bisa dibersihkan 100 persen, kecuali
dengan asuransi kesehatan. Dokter yang baik hanya akan lahir dalam
sistem pelayanan kesehatan yang baik. Jadi intinya harus ada sistem
yang baik,” terangnya.

*Hak pasien
*Demi kemaslahatan, Priyo tak lupa pun berpesan agar pasien selalu
membiasakan diri meminta resep obat generik setiap kali datang berobat
ke dokter. “Sampaikan saja, karena ini adalah hak setiap pasien,” ujarnya.

Ia pun meyakinkan bahwa di mata para dokter, citra obat generik
sebenarnya tidak pernah luntur. “Pandangan para dokter tentang obat
generik sejauh ini bagus. Tidak ada masalah dari sisi efikasi dan
khasiatnya. Bahkan di semua institusi milik pemerintah, para dokter
sudah diwajibkan meresepkan obat generik,” ujar Priyo.

Iklan

Apakah Alergi Obat Itu?

sumber :http://milissehat.web.id/?p=396

Saat ini kita sering mendengar seseorang mengalami alergi karena obat. BIla seseorang muntah-muntah setelah minum obat? Mulut menjadi kering setelah minum obat apakah termasuk alergi obat? Bila seseorang mengalami kemerahan pada kulit setelah minum obat tertentu apakah orang tersebut bisa dipastikan mengalami alergi obat atau efek samping obat? Seringkali kita langsung melabel alergi obat saat seseorang mengalami keadaan yang tidak sesuai atau tidak diharapkan setelah minum obat tertentu.

Adverse drug reaction

Adverse drug reaction (ADR) adalah keadaan/kondisi tidak sesuai harapan/tujuan yang muncul setelah pemberian obat dalam dosis yang sesuai, cara yang sesuai dengan tujuan pengobatan. Efek yang tidak diinginkan (ADR) ini dapat disebabkan respon sistem kekebalan tubuh kita dapat juga muncul bukan karena sistem kekebalan tubuh kita. Kemudian ADR yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh dibagi menjadi 4 yang kita sebut tipe-tipe hipersensitifitas menurut Gell dan Coombs:

* Tipe I, yang diperantarai IgE yang menempel kepada sel mast kemudian sel mast melepaskan histamin dan bahan-bahan peradangan yang menyebabkan gejala urtikaria, angioedema, penyempitan saluran napas (bronkospasme), gatal-gatal, muntah, diare, anafilaksis. Timbul dalam jangka waktu menit-jam setelah pemaparan obat.
* Tipe II, sitotoksik; antibodi IgG dan IgM spesifik menuju sel yang dilapisi oleh protein yang dianggap alergen/benda asing untuk menghancurkannya; yang memberikan gejala anemia, kekurangan kadar sel darah putih dan kekurangan trombosit. Durasi waktu bervariasi.
* Tipe III, kompleks imun; penumpukan kompleks antibodi-obat yang merangsang pengaktifan komplemen sehingga memicu reaksi peradangan. Gejala yang timbul serum sickness, demam, ruam, nyeri sendi, pembesaran kelenjar getah bening, urtikaria, glomerulonefritis, peradangan pembuluh darah (vaskulitis). Timbul 1-3 minggu setelah paparan obat
* Tipe IV, reaksi tipe lambat. Bagian obat dipaparkan kepada sel T yang menyebabkan pelepasan bahan-bahan peradangan. Bentuk berupa alergi dermatitis kontak. Timbul 2-7 hari setelah paparan obat.

Alergi obat adalah reaksi hipersensitifitas yang diperantarai oleh IgE. Jadi yang dinyatakan sebagai alergi obat yang sejati adalah reaksi hipersensitifitas tipe I.

ADR juga dapat timbul melalui jalur yang tidak diperantarai oleh sistem kekebalan tubuh, yaitu :

* Dapat diperkirakan :
o Efek samping obat : mulut kering karena antihistamin
o Efek lanjutan karena pemakaian obat : infeksi jamur karena antibiotik jangka panjang
o Toksisitas obat : kerusakan hati karena metotreksat
o Interaksi obat : kejang karena teofilin yang dikonsumsi bersama eritromisin
o Overdosis : kejang karena pemakaian lidokain berlebihan
* Tidak dapat diperkirakan :
o Pseudoalergi : reaksi menyerupai anafilaksis setelah penyuntikan bahan kontras radioaktif
o Idiosinkrasi : anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi G6PD setelah minum primakuin
o Intoleransi : telinga berdenging setelah minum aspirin walau dosis rendah

Mengenali hipersensitifitas terhadap obat

Setiap gejala yang menyerupai alergi seperti urtikaria,anafilaksis dan asma harus dipikirkan kemungkinan hipersensitifitas obat. Gejala lain seperti serum sickness (kemerahan pada pinggir tangan, jari tangan , ibu jari, telapak kaki), ruam pada kulit, demam, hepatitis, sindrom menyerupai lupus, interstitial nefritis akut, infiltrate paru dengan eosinofilia juga harus dipikirkan kemungkinan hipersensitifitas obat.

Yang utama adalah riwayat pemakaian obat harus dicatat secara lengkap, meliputi :

* Jenis obat, baik obat resep, obat bebas, vitamin, mineral, suplemen
* Waktu paparan obat
* Rute obat : apakah oral, injeksi ke otot atau injeksi ke dalam pembuluh darah atau obat oles/topikal. Pemberian topikal, injeksi dalam otot dan melalui pembuluh darah memberikan kemungkinan hipersensitifitas obat, sementara pemberian melalui mulut lebih rendah kemungkinannya
* Riwayat gejala yang muncul pada paparan obat sebelumnya

Pemeriksaan fisik harus melihat apakah ada tanda kegawatan dari ADR :

* Urtikaria dengan edema laring (sulit bernapas, suara napas kasar), wheezing (ngik-ngik), hipotensi (tekanan darah sistolik rendah <100mgHg)

Dan tanda dari reaksi ADR yang serius seperti :

* Demam, luka pada membran mukosa (selaput bening mata, mulut, vagina, anus, penis), pembesaran kelenjar getah bening, pembengkakan dan nyeri sendi atau pemeriksaan paru yang tidak normal

ADR yang serius meliputi sindrom stevens Johnson dan toksik epidermal nekrolisis. Keadaan ini merupakan ADR yang diperantarai imunologis tetapi bukan bagian dari tipe hipersensitifitas tipe I-IV.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan untuk menunjang diagnosis hipersensitifitas atau alergi obat dapat dilakukan berupa :

* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe I : tes alergi kulit, RAST, serum triptase
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe II: coomb tes direk dan indirek
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe III: Laju endap darah, CRP, kadar komplemen (C3,C4), anti nuclear antibodi, antihiston antibodi
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe IV : uji tempel pada kulit (patch test)

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dari gejala klinis, riwayat paparan obat dan dibantu dengan pemeriksaan penunjang. Bila diagnosis hipersensitifitas obat sudah ditegakkan maka penghentian obat adalah langkah utama. Obat alternativ yang tidak memiliki struktur yang serupa dengan obat penyebab hipersensitifitas harus diusahakan. Selain penghentian obat, tatalaksana adalah suportif. Pemberian kortikosteroid, antihistamin dan bronkodilator diberikan sesuai gejala yang timbul. Jika reaksi hipersensitifitas berat maka dapat dipertimbangkan pemberian epinefrin.

Pada keadaan SSJ dan TEN maka diperlukan perawatan intensif untuk mencegah infeksi dan komplikasi yang timbul.

Pencegahan

Obat yang diketahui menyebabkan hipersensitifitas harus dicatat dan tidak boleh diberikan kembali. Obat tersebut harus diinformasikan kepada tenaga kesehatan, kalau diperlukan dapat dibuat keterangan pada pasien (gelang, kalung tanda alergi/hipersensitif).

Pemberian oabt-obatan sedianya berdasarkan indikasi, karena dengan pemberian obat sesuai indikasi dalam dosis yang tepat saja tetap memiliki kemungkinan menimbulkan ADR. Bila tidak memerlukan obat maka jangan menggunakan obat karena obat tetap bahan kimia yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

(YSK)

Sumber

Riedl Marc A., Casillas Adrian M. Adverse Drug Reactions: Types and Treatment Options, Am Fam Physician 2003;68:1781-90.

Blume, JonathanE., helm, Thomas N., Carnisa. Drug eruptions. Emedicine dermatology

Vervloet, Daniel., Durham, Stephen., ABC of allergies: Adverse reactions to drugs. BMJ 1998;316:1511-1514

7 Obat Terlarang Pada Bayi

sumber : http://www.motherandbaby.co.id/index.php?mod=vcontent&tokenid=1ff8a7b5dc7a7d1f0ed65aaa29c04b1e

Bayi yang mungil lebih rentan terkena efek samping daripada orang dewasa. Jadi berhati-hatilah dalam memilih obat untuk si kecil. Obat-obatan berikut ini tidak direkomendasikan oleh para dokter untuk diberikan pada bayi Anda.

1. Aspirin
Jangan memberikan aspirin atau obat apa pun yang mengandung aspirin pada bayi, karena aspirin akan menyebabkan bayi menjadi rentan terkena sindrom Reye (Reye syndrom: serangan mendadak berupa gangguan pernapasan dan pencernaan selama beberapa hari dan berakhir dengan pembengkakkan otak yang ditandai dengan kejang atau koma, red). Obat-obatan untuk anak yang dijual di toko juga belum tentu bebas aspirin, yang mempunyai nama lain asam salisilat. Jadi, baca baik-baik label kemasan dan bertanyalah pada dokter jika Anda tidak yakin apakah obat tersebut mengandung aspirin.

2. Obat Anti Mual
Jangan pernah memberi bayi Anda obat anti mual, karena obat-obatan seperti ini mempunyai efek samping yang besar, kecuali jika dokter memang menganjurkan. Menurut Dr. Caroline, Sp.A dari Rumah Sakit OMC Jakarta, obat yang biasanya mengandung zat metoclopramide sebagai penghilang mual jika diberikan pada bayi akan menyebabkan gangguan extrapyramidal yang menyerang syaraf. Rasa mual pada bayi biasanya hanya berlangsung sebentar, dan akan hilang tanpa diberi obat-obatan tertentu. Jika bayi Anda muntah dan mengalami dehidrasi, segera pergi ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

3. Obat untuk Orang Dewasa
Memberi bayi obat untuk orang dewasa dengan dosis yang disesuaikan sangat berbahaya. Jika pada label kemasan tidak tercantum dosis untuk bayi, maka jangan berikan obat tersebut pada bayi Anda.

4. Obat Resep Untuk Orang atau Penyakit lain
Obat yang diresepkan untuk orang lain atau jenis penyakit lain bisa jadi tidak efektif atau bahkan berbahaya jika diberikan pada bayi Anda. Berikan hanya obat yang diresepkan untuknya dan sesuai dengan penyakitnya.

5. Obat Kadaluarsa
Buang segera obat jika telah habis masa berlakunya, karena akan berbahaya jika tetap digunakan. Demikian juga dengan obat yang telah mengalami perubahan warna dan bentuk. Namun jangan membuangnya ke dalam kloset, karena akan mempengaruhi kandungan air tanah yang akan digunakan sebagai air minum. Agar aman, jauhkan dari jangkauan anak-anak dan buanglah ke tempat sampah.

6. Acetaminophen Berlebihan
Obat batuk dan pilek yang dijual bebas di pasaran mengandung acetaminophen yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dan penurun panas, sehingga tidak baik jika digunakan bersamaan. Tanyakan pada dokter jika Anda tidak tahu kandungan yang terdapat dalam suatu obat batuk atau obat pilek. Dan jika si kecil sudah terlanjur mendapatkan obat resep, berilah acetaminophen hanya jika dokter memastikan bahwa zat itu baik bagi keadaan bayi Anda.

7. Tablet Kunyah
Obat yang berupa tablet kunyah sangat berbahaya untuk bayi. Jika si kecil Anda sudah makan makanan padat dan Anda ingin memberikan tablet kunyah, maka tablet itu harus digerus dulu, lalu dicampurkan dalam satu sendok penuh makanan lembut seperti yogurt atau saus apel. Untuk memperoleh dosis yang tepat, pastikan bayi Anda memakan habis makanan yang ada di sendok tersebut. Namun, ada beberapa jenis tablet kunyah yang tidak boleh digerus, karena dapat menghilangkan kandungan zat penting di dalamnya. Mintalah penjelasan lebih lanjut pada dokter seandainya bayi Anda diberi tablet kunyah.

Selain yang sudah disebutkan di atas, ada dua jenis obat lain yang patut Anda pertimbangkan sebelum memberikannya pada si kecil:

* Obat-obatan Herbal
Obat-obatan jenis herbal memang aman bagi Anda karena menggunakan bahan-bahan dasar alami, tapi bukan berarti aman pula bagi bayi Anda. Pada dasarnya, tidak masalah jika obat-obatan herbal yang akan Anda berikan pada si kecil murni berasal dari tumbuh-tumbuhan, karena belum mengalami percampuran dengan bahan kimia. “Namun jangan memberikan obat-obatan herbal dalam bentuk jamu, karena jamu sudah mengalami proses percampuran bahan secara kimiawi.” kata Dr. Caroline.

Pada bayi, obat-obatan jenis ini dapat menimbulkan alergi, kerusakan hati, dan naiknya tekanan darah. Apalagi jika dikombinasikan dengan obat jenis lain, bisa fatal akibatnya. Sebelum memberikan obat-obatan herbal pada si kecil, konsultasilah dulu pada dokter. Dan selalu beritahu dokter mengenai obat-obatan herbal apa saja yang pernah Anda berikan pada si kecil sebelum ia memberikan resep.

* Obat Batuk dan Obat Pilek yang Dijual Di Toko
Sebenarnya, batuk dapat membantu membersihkan paru-paru bayi. Obat batuk dan pilek seperti dekongestan seringkali bersifat kontraproduktif. Artinya, tidak terlalu membantu penyembuhan batuk pada bayi, tapi hanya meringankan gejalanya saja. Obat ini justru menimbulkan efek samping seperti gelisah dan susah tidur. Jadi, jika si kecil sedang pilek, cobalah menanganinya dengan memberinya banyak minum. Kalau belum berhasil, temui dokter sebelum Anda memutuskan untuk membeli obat pilek di toko.

Antasida

Source : Source : darsono-sigit.um.ac.id

Kita sering mengenal asam klorida (HCl) sebagai suatu larutan asam yang digunakan dalam beberapa praktikum di dalam laboratorium. Asam klorida tersebut dihasilkan dari reaksi antara dihidrogen dan diklorin. Secara alami lambung kita juga memproduksi asam klorida, yang biasa kita sebut sebagai asam lambung. Menurut Unggul Sudarmo (2004:141), kelenjar pada lambung setiap hari memproduksi sekitar dua sampai tiga liter cairan lambung yang bersifat asam. Cairan lambung ini mengan dung asam klorida dengan konsentrasi sekitar 0,003 Molar. Asam klorida inilah yang menyebabkan lambung bersifat asam dengan pH sekitar 1,5.
Asam lambung sangat berperan dalam proses pencernaan. Namun apabila produksinya terlalu berlebihan, maka akan menyebabkan rasa sakit pada tukak lambung, yang pada umunya disebut dengan maag. Asam klorida tersebut dapat mengikis dinding lambung, sehingga menyebabkan rasa perih dan sakit. Asam lambung yang berlebihan tersebut dapat dinetralisir dengan suatu antasida (obat maag). Antasida mengandung kombinasi antara aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida. Reaksi antara suatu asam dari asam lambung dan suatu basa dari antasida menghasilkan suasana netral.
Magnesium hidroksida yang terkandung adalam antasida merupakan senyawa anorganik dari golongan alkali tanah. Nama magnesium ini berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari nama sebuah daerah di Thessaly yang bernama Magnesia. Joseph Black dari Inggris menyebut magnesium sebagai sejenis unsur pada tahun 1755. Sir Humphry Davy bisa menghasilkan logam magnesium secara elektrolisis pada tahun 1808 daripada campuran magnesia dan HgO (Wapedia, 2008).

Nama magnesium ini berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari nama sebuah daerah di Thessaly yang bernama Magnesia. Joseph Black dari Inggris menyebut magnesium sebagai sejenis unsur pada tahun 1755. Sir Humphry Davy bisa menghasilkan logam magnesium secara elektrolisis pada tahun 1808 daripada campuran magnesia dan HgO.
Magnesium ialah unsur kimia di dalam tabel periodik yang mempunyai simbol Mg dan nomor atom 12 dan berat atom 24,31. Kelimpahan magnesium di kulit bumi menempati urutan kedelapan dengan presentase sebesar 2%. Logam alkali tanah ini digunakan sebagai bahan untuk membuat campuran aluminium-magnesium, yang biasanya dinamakan magnalium.
Magnesium murni tidak terdapat di alam sebagai unsur, namun dalam bentuk sebagai senyawa dalam mineral. Sebagai contoh magnesium dalam bentuk senyawa karbonat terdapat dalam mineral magnesit dan dolomit (MgCO3.CaCO3). Air laut mengandung 0,13% magnesium, dan merupakan sumber magnesium yang tidak terbatas.

Magnesium adalah logam yang kuat, putih keperakan, ringan (satu pertiga lebih ringan daripada aluminium) dan akan menjadi kusam jika dibiarkan pada udara. Dalam bentuk serbuk, logam ini sangat reaktif dan bisa terbakar dengan nyala putih apabila udaranya lembab. Apabila pita logam magnesium dibakar lalu direndam dalam air, maka akan tetap terbakar hingga pita magnesiumnya habis. Magnesium, ketika dibakar dalam udara, menghasilkan cahaya putih yang terang. Ini digunakan pada zaman awal fotografi sebagai sumber pencahayaan (serbuk kilat). Rapat massa magnesium adalah 1,738 gram/cm3. Massa atom relatimya adalah 24, dan nomor atomnya 12. Magnesium meleleh pada suhu 111°C.
Magnesium, terutama magnesium oksida digunakan sebagai bahan refraktori untuk menghasilkan besi, kaca, dan semen. Dalam bentuk logam, kegunaan utama unsur ini adalah sebagai bahan tambah logam dalam aluminium. Logam aluminium-magnesium ini biasanya digunakan dalam pembuatan kaleng minuman, digunakan dalam beberapa komponen otomotif dan truk , serta dapat melindungi struktur besi seperti pipa-pipa dan tangki air yang terpendam di dalam tanah terhadap korosi.
Magnesium memegang peranan amat penting dalam proses kehidupan hewan dan tumbuhan. Magnesium terdapat dalam klorofil, yaitu yang digunakan oleh tumbuhan untuk fotosintesis. Magnesium juga mengambil peranan dalam replikasi DNA dan RNA yang mempunyai peranan amat penting dalam proses keturunan semua organisme. Di samping itu magnesium mengaktifkan berbagai enzim yang mempercepat reaksi kimia dalam tubuh manusia dan dijadikan sebagai obat penetralisir asam lambung.
Walaupun magnesium ditemukan di alam lebih daripada enam puluh jenis mineral, namun hanya dolomit, magnesit, brucite, carnallite, talkum, dan olivine mempunyai kepentingan komersil. Logam ini diperoleh melalui elektrolisis magnesium klorida lebur daripada air garam, air telaga dan air laut. Pada sayuran, magnesium terkandung dalam sayuran hijau seperti bayam (1/2 mangkok bayam
= 80 mg). Kacang-kacangan, biji-bijian dan biji-bijian setengah matang adalah sumber magnesium yang baik (Wapedia, 2008).
Dalam keadaan normal, isi lambung mempunyai sifat yang sangat asam. Sifat ini mempunyai potensi untuk merusak dinding lambung. Untungnya, dinding lambung dilindungi oleh lapisan yang mencegah asam lambung berkontak langsung dengannya. Pada beberapa keadaan, lapisan pelindung tersebut dapat mengalami kerusakan. Beberapa diantaranya adalah penggunaan pereda nyeri NSAID (non steroid anti inflammatory drugs seperti ibuprofen, asam mefenamat, piroksikam) dalam jangka waktu lama, infeksi bakteri Helicobacter pylori, dan ditambah pola makan yang tidak sehat dan tidak teratur (Wartamedika, 2009).
Antasida, yang merupakan kombinasi aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida, bekerja menetralkan asam lambung dan menginaktifkan pepsin, sehingga rasa nyeri ulu hati akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Di samping itu, efek laksatif dari magnesium hidroksida akan mengurangi gelembung-gelembung gas, yakni efek konstipasi dari aluminium hidroksida, dalam saluran cerna yang menyebabkan rasa kembung berkurang (Cari obat, 2009) .
Saat diminum, obat akan segera bereaksi dengan asam yang ada di lambung, sehingga terbentuk senyawa yang relatif netral.

2HCl(aq) + Mg(OH)2(s) → MgCl2(aq) + H2O(l) + CO2(g)
Asam + basa → netral sendawa
Magnesuim oksida lebih efektif mengikat asam karena tidak diserap sehingga tidak menyebabkan alkalosis. Magnesium trisilikat adalah antasida non-sistemik, yang bekerja lebih lambat dan di dalam lambung akan melepaskan silisium oksida yang akan melapisi selaput lendir lambung dengan lapisan pelindung. Dengan demikian, iritasi lambung akan segera berhenti dan keluhan nyeri juga akan hilang. Gas karbondioksida yang dihasilkan dari reaksi tersebut dapat menyebabkan tekanan gas di dalam lambung meningkat, sehingga dikeluarkan dengan bersendawa. Umumnya obat antasida yang sering dipilih adalah jenis yang sukar larut, sehingga reaksinya lambat dan dapat bertahan lama, misalnya aluminium hidroksi (BPPOM, 2008).
Dosis
Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari
Anak 6 – 12 tahun : ½ – 1 tablet, 3 – 4 kali sehari
Diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan dan menjelang tidur, sebaiknya tablet dikunyah dulu.
Antasida biasanya terdiri dari kombinasi antara aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida yang bekerja menetralkan asamlambung dan menginaktifkan pepsin, sehingga rasa nyeri ulu hati akibat iritasi oleh asam lambung dan pepsin berkurang. Efek samping dari antasida jarang dan hampir tidak pernah ditemui karena dampak negatif dari kedua senyawa tersebut saling menghilangkan. Namun pada beberapa orang akan terjadi efek samping berupa mual, muntah, diare, dan konstipasi.
Rasa mual dan muntah disebabkan karena adanya penolakan dari dalam tubuh seseorang terhadap suatu kandungan dari antasida sehingga orang yang meminum antasida akan merasa tidak enak. Sedangkan konstipasi merupakan efek samping yang ditimbulkan oleh aluminium hidroksida. Konstipasi adalah kondisi di mana feses memiliki konsistensi keras dan sulit dikeluarkan. Biasanya buang air besar disertai dengan rasa sakit dan menjadi lebih jarang. Kasus ini sering terjadi pada anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya. Menurut Dokter Nurul Itqiyah (2007), apabila keadaan ini terjadi secara terus menerus, maka bisa menimbulkan gejala berikut:
• Sakit perut
• Turun atau hilangnya nafsu makan
• Mual atau muntah
• Turunnya berat badan
• Jika anak mengalami konstipasi yang cukup berat, dapat mengalami kehilangan kemampuan merasakan kebutuhan ke toilet untuk buang air besar sehingga menyebabkan anak buang air besar di celananya. Hal ini disebut encopresis atau fecal incontinence.
• Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan
• Konstipasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih.
Meskipun aluminium hidroksida mempunyai efek konstipasi, namun efek ini bisa dikurangi dengan adanya efek laksatif dari magnesium hidroksida. Laksatif merupakan kebalikan dari konstipasi, yaitu suatu keadaan dimana feses terlalu banyak mengandung air sehingga feses memiliki konsentrasi cair dan sangat mudah dikeluarkan. Keadaan seperti ini basa disebut dengan diare. Apabila terjadi secara terus-menerus, maka seseoarang akan mengalami kehilangan cairan yang banyak. Namun komposisi yang setimbang dalam suatu antasida, akan mengurangi bahkan menghilangkan efek samping dari antasida tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah antasida yang mengandung magnesium hidroksida ini harus diberikan dalam dosis kecil pada penderita gangguan ginjal. Bahkan penderita tersebut tidak boleh mengkonsumsinya apabila kerusakan ginjalnya sudah parah. Hal ini disebabkan magnesium hidroksida dapat mengakibatkan hipermagnesia, yaitu kelebihan magnesium dalam darah, karena magnesium hidroksida dapat diserap sebagian kecil ke dalam darah. Bagi penderita gangguan ginjal yang mengalami sakit maag sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sehingga dokter akan memberi obat maag dari golongan lain seperti Proton Pump Inhibitor (PPI) (Indonesia, 2008).

Interaksi Antasida dan Vitamin B Kompleks

Source : http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/interaksi-antasida-dan-vitamin-b-kompleks/
Dear Piogama,
Salam kenal piogama, nama saya Wulan, umur 19 tahun. Kemarin saya mengalami gejala maag, kemudian oleh dokter saya diberi obat maag, katanya sejenis antasida. Dan karena saya sering pegal-pegal, saya juga diberi vitamin B kompleks. Namun dokter menyarankan agar vitamin B kompleksnya diminum terlebih dahulu, baru satu jam kemudian minum antasidanya. . Yang ingin saya tanyakan adalah mengapa vitamin B harus diminum 1 jam terlebih dahulu.? Apakah ada efeknya?..
Terimakasih atas pertanyaannya saudara Wulan.
Maag memang dapat diatasi dengan Antasida. Fungsi dari antasida sendiri adalah untuk menetralkan asam lambung berlebihan, yang merupakan penyebab maag. Sekresi asam lambung yang meningkat drastis dapat menimbulkan luka pada dinding lambung. Antasida mengandung zat aktif Al(OH)2 atau Mg(OH)2 yang dapat mengikat senyawa logam lain yang terkandung pada makanan atau obat tertentu.
Vitamin B kompleks sendiri merupakan campuran dari vitamin B1 , B2, B6, Dan B12. Vitamin B12, disebut juga cyanocobalamin, merupakan salah satu senyawa yang mengandung logam yaitu logam Co (Kobalt). Oleh karena itu, jika diminum bersama Antasida, Co akan terikat dan tidak dapat terserap oleh tubuh, sehingga efek dari vitamin B12 dan Antasida pun menjadi berkurang. Obat lain yang tidak boleh diminum bersama dengan antasida adalah obat penambah darah yang mengandung zat besi.
Dengan meminum B12 1jam terlebih dahulu diharapkan vitamin B12 telah teradsopsi oleh tubuh, sehingga ketika meminum Antasida tidak terjadi efek diatas, dan kedua obat dapat bekerja maksimal. Sekiranya saudara Wulan merasa repot harus meminum dengan selang waktu 1 jam, maka saudara Wulan dapat berkonsultasi dengan dokter untuk diganti dengan obat maag yang lain. Obat-obat maag seperti golongan simetidin dapat digunakan sebagai alternatif. Obat-obat tersebut tidak mengkelat logam, sehingga aman jika diminum bersama vitamin B komplek