Apakah Alergi Obat Itu?


sumber :http://milissehat.web.id/?p=396

Saat ini kita sering mendengar seseorang mengalami alergi karena obat. BIla seseorang muntah-muntah setelah minum obat? Mulut menjadi kering setelah minum obat apakah termasuk alergi obat? Bila seseorang mengalami kemerahan pada kulit setelah minum obat tertentu apakah orang tersebut bisa dipastikan mengalami alergi obat atau efek samping obat? Seringkali kita langsung melabel alergi obat saat seseorang mengalami keadaan yang tidak sesuai atau tidak diharapkan setelah minum obat tertentu.

Adverse drug reaction

Adverse drug reaction (ADR) adalah keadaan/kondisi tidak sesuai harapan/tujuan yang muncul setelah pemberian obat dalam dosis yang sesuai, cara yang sesuai dengan tujuan pengobatan. Efek yang tidak diinginkan (ADR) ini dapat disebabkan respon sistem kekebalan tubuh kita dapat juga muncul bukan karena sistem kekebalan tubuh kita. Kemudian ADR yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh dibagi menjadi 4 yang kita sebut tipe-tipe hipersensitifitas menurut Gell dan Coombs:

* Tipe I, yang diperantarai IgE yang menempel kepada sel mast kemudian sel mast melepaskan histamin dan bahan-bahan peradangan yang menyebabkan gejala urtikaria, angioedema, penyempitan saluran napas (bronkospasme), gatal-gatal, muntah, diare, anafilaksis. Timbul dalam jangka waktu menit-jam setelah pemaparan obat.
* Tipe II, sitotoksik; antibodi IgG dan IgM spesifik menuju sel yang dilapisi oleh protein yang dianggap alergen/benda asing untuk menghancurkannya; yang memberikan gejala anemia, kekurangan kadar sel darah putih dan kekurangan trombosit. Durasi waktu bervariasi.
* Tipe III, kompleks imun; penumpukan kompleks antibodi-obat yang merangsang pengaktifan komplemen sehingga memicu reaksi peradangan. Gejala yang timbul serum sickness, demam, ruam, nyeri sendi, pembesaran kelenjar getah bening, urtikaria, glomerulonefritis, peradangan pembuluh darah (vaskulitis). Timbul 1-3 minggu setelah paparan obat
* Tipe IV, reaksi tipe lambat. Bagian obat dipaparkan kepada sel T yang menyebabkan pelepasan bahan-bahan peradangan. Bentuk berupa alergi dermatitis kontak. Timbul 2-7 hari setelah paparan obat.

Alergi obat adalah reaksi hipersensitifitas yang diperantarai oleh IgE. Jadi yang dinyatakan sebagai alergi obat yang sejati adalah reaksi hipersensitifitas tipe I.

ADR juga dapat timbul melalui jalur yang tidak diperantarai oleh sistem kekebalan tubuh, yaitu :

* Dapat diperkirakan :
o Efek samping obat : mulut kering karena antihistamin
o Efek lanjutan karena pemakaian obat : infeksi jamur karena antibiotik jangka panjang
o Toksisitas obat : kerusakan hati karena metotreksat
o Interaksi obat : kejang karena teofilin yang dikonsumsi bersama eritromisin
o Overdosis : kejang karena pemakaian lidokain berlebihan
* Tidak dapat diperkirakan :
o Pseudoalergi : reaksi menyerupai anafilaksis setelah penyuntikan bahan kontras radioaktif
o Idiosinkrasi : anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi G6PD setelah minum primakuin
o Intoleransi : telinga berdenging setelah minum aspirin walau dosis rendah

Mengenali hipersensitifitas terhadap obat

Setiap gejala yang menyerupai alergi seperti urtikaria,anafilaksis dan asma harus dipikirkan kemungkinan hipersensitifitas obat. Gejala lain seperti serum sickness (kemerahan pada pinggir tangan, jari tangan , ibu jari, telapak kaki), ruam pada kulit, demam, hepatitis, sindrom menyerupai lupus, interstitial nefritis akut, infiltrate paru dengan eosinofilia juga harus dipikirkan kemungkinan hipersensitifitas obat.

Yang utama adalah riwayat pemakaian obat harus dicatat secara lengkap, meliputi :

* Jenis obat, baik obat resep, obat bebas, vitamin, mineral, suplemen
* Waktu paparan obat
* Rute obat : apakah oral, injeksi ke otot atau injeksi ke dalam pembuluh darah atau obat oles/topikal. Pemberian topikal, injeksi dalam otot dan melalui pembuluh darah memberikan kemungkinan hipersensitifitas obat, sementara pemberian melalui mulut lebih rendah kemungkinannya
* Riwayat gejala yang muncul pada paparan obat sebelumnya

Pemeriksaan fisik harus melihat apakah ada tanda kegawatan dari ADR :

* Urtikaria dengan edema laring (sulit bernapas, suara napas kasar), wheezing (ngik-ngik), hipotensi (tekanan darah sistolik rendah <100mgHg)

Dan tanda dari reaksi ADR yang serius seperti :

* Demam, luka pada membran mukosa (selaput bening mata, mulut, vagina, anus, penis), pembesaran kelenjar getah bening, pembengkakan dan nyeri sendi atau pemeriksaan paru yang tidak normal

ADR yang serius meliputi sindrom stevens Johnson dan toksik epidermal nekrolisis. Keadaan ini merupakan ADR yang diperantarai imunologis tetapi bukan bagian dari tipe hipersensitifitas tipe I-IV.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan untuk menunjang diagnosis hipersensitifitas atau alergi obat dapat dilakukan berupa :

* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe I : tes alergi kulit, RAST, serum triptase
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe II: coomb tes direk dan indirek
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe III: Laju endap darah, CRP, kadar komplemen (C3,C4), anti nuclear antibodi, antihiston antibodi
* Dicurigai reaksi hipersensitifitas tipe IV : uji tempel pada kulit (patch test)

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dari gejala klinis, riwayat paparan obat dan dibantu dengan pemeriksaan penunjang. Bila diagnosis hipersensitifitas obat sudah ditegakkan maka penghentian obat adalah langkah utama. Obat alternativ yang tidak memiliki struktur yang serupa dengan obat penyebab hipersensitifitas harus diusahakan. Selain penghentian obat, tatalaksana adalah suportif. Pemberian kortikosteroid, antihistamin dan bronkodilator diberikan sesuai gejala yang timbul. Jika reaksi hipersensitifitas berat maka dapat dipertimbangkan pemberian epinefrin.

Pada keadaan SSJ dan TEN maka diperlukan perawatan intensif untuk mencegah infeksi dan komplikasi yang timbul.

Pencegahan

Obat yang diketahui menyebabkan hipersensitifitas harus dicatat dan tidak boleh diberikan kembali. Obat tersebut harus diinformasikan kepada tenaga kesehatan, kalau diperlukan dapat dibuat keterangan pada pasien (gelang, kalung tanda alergi/hipersensitif).

Pemberian oabt-obatan sedianya berdasarkan indikasi, karena dengan pemberian obat sesuai indikasi dalam dosis yang tepat saja tetap memiliki kemungkinan menimbulkan ADR. Bila tidak memerlukan obat maka jangan menggunakan obat karena obat tetap bahan kimia yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan.

(YSK)

Sumber

Riedl Marc A., Casillas Adrian M. Adverse Drug Reactions: Types and Treatment Options, Am Fam Physician 2003;68:1781-90.

Blume, JonathanE., helm, Thomas N., Carnisa. Drug eruptions. Emedicine dermatology

Vervloet, Daniel., Durham, Stephen., ABC of allergies: Adverse reactions to drugs. BMJ 1998;316:1511-1514

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s