RESUME “ EINSTEIN NEVER USED FLASH CARD” (02)

SUMBER : http://www.bintangbangsaku.com/content/resume-%E2%80%9C-einstein-never-used-flash-card-02

Bab 2 Gagasan: Bagaimana Bayi Apakah Wired untuk Belajar

Mendengarkan Mozart, dan bukan untuk membungkam atau komposisi dari Phillip Glass dapat mempengaruhi suasana hati para pendengar, tetapi tidak IQ mereka secara keseluruhan. fenomena Mozart merupakan bagian dari serangkaian mitos yang lebih besar tentang bagaimana membangun otak lebih baik -mitos yang telah merasuki masyarakat kita.

Apa yang Anda sudah dengar: Ketika Mitos Buruk Terjadi pada Orang Tua yang Baik

Mitos pertama adalah bahwa orang tua adalah pematung otak anaknya, bertanggung jawab untuk cetakan kecerdasan dan kemampuan anak-anak mereka. Ini adalah mitos yang meyakinkan kita bahwa kita bertanggung jawab untuk cara anak-anak kita mencari jalan keluar secara intelektual. Mitos lain yang dimiliki Goodwins dalam cengkeraman adalah bahwa penelitian ilmiah memberi kita dengan manual untuk membangun otak lebih baik.

Apa Sebenarnya Bahan untuk Pertumbuhan Otak: Prinsip Dasar

Cerebral cortex, yang membuat sampai sekitar 80 persen dari volume otak. Frontal lobus, yang terlibat dalam gerakan sukarela dan berpikir; lobus oksipital, dalam penglihatan; lobus temporal, mendengar, dan lobe parietal, dalam memproses informasi tentang sensasi tubuh seperti sentuhan.

3 Tahun Pertama dan Teori Periode “Kritis”

“Periode kritis” adalah sebuah konsep yang datang kepada kita dari biologi. Pada manusia, kerusakan pada periode kritis berakibat ekstrim-seperti mengkonsumsi obat-obatan yang merusak janin-memiliki efek pada anak dimana dia tidak bisa sembuh.

Tiga kesimpulan utama. Pertama, tampaknya ada lebih dan kurang periode diterima untuk belajar perilaku tertentu, seperti bahasa. Kedua, sementara anak-anak berumur 3 tahun lebih baik dari usia 30 tahun, tampaknya tidak menjadi periode kritis yang tiba-tiba berakhir pada suatu titik tertentu dalam waktu untuk belajar perilaku ini. Ketiga, periode responsif tampaknya tidak ada sama sekali untuk pengalaman-tergantung pada perilaku seperti catur dan senam.

Dr Irving Sigel, telah menulis, “pengajaran konsep dan keterampilan di masa yang sangat dini sangat memakan waktu, bahkan untuk belajar hafalan, karena belajar lebih sulit ketika pemahaman tidak menyertai pengalaman belajar.” Dengan kata lain, menghafal wajah komposer dan nama adalah pengalaman yang berguna untuk balita atau anak prasekolah yang tidak dapat menghubungkan informasi ini untuk sesuatu yang berarti dalam dunianya. Bahkan flash card dengan nama warna atau nomor tidak membangun kompetensi jika mereka bukan bagian dari pengalaman sehari-hari anak. Selain itu, tidak ada bukti bahwa pengalaman-pengalaman belajar awal meningkatkan otak.

Jika anak tumbuh secara normal, lingkungan sehari-hari diisi dengan benda-benda dan bangunan, dengan orang-orang yang mengasihi mereka dan berbicara dengan mereka, otak mereka akan tumbuh dengan sendirinya.

Asumsi bahwa semua harus dipelajari dalam 3 tahun pertama adalah tidak benar.

Dr John Bruer berpendapat bahwa kita tidak perlu berlebihan memperkaya lingkungan untuk otak muda dapat berkembang.

Iklan

RESUME “ EINSTEIN NEVER USED FLASH CARD” (01)

SUMBER : http://www.bintangbangsaku.com/content/resume-%E2%80%9C-einstein-never-used-flash-card-01

dibuat oleh Vela sebagai Tugas Magang di Bintang Bangsaku

BAB 1 Kondisi Buruk Dari Orang Tua Moderen

Melakukan Kegiatan Yang Memaksa Pada Masa Kanak

Perlombaan untuk mengubah anak-anak menjadi anak-anak yang paling berbakat di kelas mereka mulai lebih awal daripada buaian- sekarang dimulai di dalam rahim. Setelah bayi-bayi ini lahir, dorongan untuk mengubah mereka secepat mungkin menuju kompetensi mengintensifkan dewasa. mereka didorong untuk mengambil keterampilan membaca cepat, menambah dan mengurangi cepat, dan bahkan menguasai mengaburkan tugas seperti mengidentifikasi wajah komposer musik yang sudah lama meninggal tahun sebelum mereka akan memerlukan informasi ini (jika mereka pernah akan).

Salah satu survei menunjukkan bahwa 65 persen orang tua percaya bahwa kartu flash adalah “sangat efektif” dalam membantu anak usia 2 tahun untuk mengembangkan kapasitas intelektual mereka. Dan lebih dari sepertiga orang tua yang disurvei percaya bahwa memainkan Mozart untuk bayi mereka dapat meningkatkan perkembangan otak.

Perkumpulan Roadrunner: Faster, Better, More (lebih cepat, lebih baik, lebih)

Pada tahun 1975, 34 persen ibu dengan anak-anak di bawah 6 berada di dunia kerja. Pada tahun 1999, jumlah tersebut hampir dua kali lipat, dengan 61 persen ibu dalam angkatan kerja. Sebagian besar para ibu bekerja adalah ibu dari bayi.

Menurut sebuah studi 1997 oleh Organisasi Buruh Internasional, ayah bekerja rata-rata 51 jam per minggu, sementara ibu-ibu yang bekerja 41 jam per minggu.

Survei terhadap orangtua menemukan bahwa 25 persen mengatakan mereka tidak punya waktu untuk keluarga mereka karena tuntutan pekerjaan mereka.

Hal ini menimbulkan ide “waktu berkualitas”-istilah yang berasal dari tahun 1970-an. Orang tua cepat mengambil konsep ini, karena “kuantitas waktu” adalah hadiah. Orang tua telah memaksimalkan kualiatas waktu mereka bersama anak-anak mereka dengan menciptakan “anak yang terorganisir”-salah satu yang setiap saat, tampaknya, adalah produktif dijadwalkan.

Keluarga yang tampak begitu sibuk merangsang anak-anak mereka, semakin punya sedikit waktu saja untuk menikmati satu sama lain.

Bagaimana Perlombaan Untuk Memperbaiki Dimulai

Jean-Jacques Rousseau menulis, “Anak punya cara sendiri untuk melihat, berpikir, dan merasakan, dan tidak ada yang lebih bodoh daripada mencoba untuk menggantikan peran kita sebagai mereka.”

Fokus pada rekayasa pengembangan intelektual anak-anak kita sudah berputar tidak terkendali. Kami menyaksikan sebuah ironis kembali ke masa lalu kita: mengambil masa kanak dari anak-anak dan memperlakukan mereka seperti orang dewasa mini.

Puncak dari penelitian yang menunjukkan kemampuan bayi dan yang mengungkapkan keterampilan yang baru ditemukan di anak-anak prasekolah sedang disalahartikan dan keliru.

Cara Memuja dari Pencapaian dan Kehilangan Masa Kanak

“Emergent kurikulum,” yang berarti bahwa bidang subjek muncul dari ketertarikan anak-anak dan lebih berpengalaman daripada akademik. “Ketika saya memberikan wisata orang tua di sekolah saya saat ini, saya katakan bahwa kita tidak melakukan lembar kerja dan keahlian kerja langsung. Mereka bertanya apakah anak-anak mereka akan dipersiapkan untuk sekolah, dan saya menjelaskan bahwa mereka akan, karena mereka akan diberi kesempatan untuk menjadi penasaran dan mengeksplorasi.

Tidak mengherankan, anak-anak kita menderita depresi dan kecemasan berlebihan. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menyatakan bahwa “jumlah ’signifikan’ anak-anak dan remaja yang tertekan di Amerika Serikat adalah 3,4 juta, atau 5 persen dari semua anak-anak.”

Beberapa penelitian menunjukkan besarnya pemerataan uji kecemasan pada anak-anak, mungkin karena peningkatan jumlah pengujian di sekolah-sekolah dan tingginya pengharapan akademik dari orang tua. Kecemasan ini, tentu saja, benar-benar mengganggu kinerja dan belajar. kecemasan lainnya adalah berhubungan dengan kurang-sering hubungan sosial dengan orang tua; anak-anak memperoleh keamanan melalui menghabiskan waktu antara keluarga.

MENEGUR BATITA ORANG LAIN

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Ada trik tersendiri agar orangtua si batita tak malah marah.
Di area playground yang sarat dengan anak-anak kecil, tidak aneh kalau ayah dan ibu malah merasa sebal. Biasa, kan, kalau di antara anak-anak itu ada yang tidak mengikuti aturan, lantas membuat anak kita menangis atau terganggu keasyikan bermainnya. Mau menegur anak orang lain, takut malah jadi ribut. Gemes deh! Sebetulnya boleh enggak sih kita menegur anak orang lain? Seandainya boleh, bagaimana menghindari hal yang tak mengenakkan agar tak memicu keributan?
Tak bisa dipungkiri, usia batita memang rawan teguran. Menjadi tugas kitalah sebagai orang dewasa yang kebetulan berada di tempat kejadian untuk mengoreksi perilaku yang salah. Mengoreksi anak sendiri tentu tak masalah. Sebaliknya, mengoreksi anak orang lain, yang tidak kita kenal pula, tentu butuh trik khusus.
* JANGAN EMOSIONAL
– Jangan terperangkap pada budaya “rikuh”. Jangan mendiamkan saja, atau malah memberi reward dengan tertawa karena menganggap perilaku salah itu lucu. Bagi anak, hal-hal tersebut ditangkapnya sebagai bentuk penghargaan sehingga ia terpanggil untuk kembali melakukannya.
– Minimalkan perhatian kita kepadanya. Pisahkan anak yang saling mendorong tanpa banyak bicara. Atau alihkan pembicaraan ketika anak orang lain berkata tak pantas kepada anak lain.
– Hindari reaksi spontan bernada geram. “Eh kamu jangan dorong-dorong gitu dong! Kamu nakal banget, anak siapa sih?” Wah kalau kata-kata seperti itu yang terlontar pasti bakalan ribut. Reaksi emosional ini tentu saja ditangkap orangtua si “anak nakal” sebagai tuduhan yang menyudutkan. Ingat, kalaupun si anak melakukan kesalahan belum tentu orangtuanya yang mengajarkan. Sebagai orang yang berani menuduh anak orang, kita juga harus siap dituduh balik tak mengerti soal perkembangan anak. Bukankah “kenakalan” lumrah dilakukan anak usia batita?
* SADARKAN LEWAT CANDA
– Kalau kita menegur anak lain dengan santun, umumnya orangtua si anak bisa menerima kok.
– Menegur dengan cara bercanda biasanya juga lebih mudah diterima tanpa membuat orang lain tersinggung. Misalnya. “Wah, anak-anak kita kok ngomongnya makin canggih ya?” Meski sebenarnya berupa teguran, orangtua si anak tidak akan tersinggung karena nada bicara kita jauh dari kesan menyalahkan dan memojokkannya sebagai orangtua yang tidak bisa “mendidik” anak.
JIKA ANAK KITA YANG DITEGUR
Anak sering diibaratkan sebagai setengah nyawa orangtuanya. Jadi baik dan buruk, pasti dibela. Kalau anak kita ditegur orang lain, pasti ada sedikit celah di hati untuk merasa tersinggung. Apalagi kalau orang tadi menegurnya disertai nada tinggi.
Namun, Anda sebaiknya tetap berkepala dingin dengan tidak langsung bersikap reaktif, apalagi marah-marah. Bila ternyata si buah hati benar melakukan kesalahan, jelaskan apa kesalahannya dan bimbing dia untuk minta maaf pada teman yang “dinakalinya”. Sikap rendah hati lebih arif daripada mempertaruhkan gengsi yang dapat berkembang menjadi pertengkaran terbuka di tempat umum.
Santi Hartono.

9 KEREWELAN BALITA DAN CARA MENGATASINYA

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Masih susah bicara bikin si batita gampang frustrasi. Sedikit-sedikit menangis, menjerit, kadang disertai amukan. Perilaku ini sering tak kenal waktu dan tempat. Penyebabnya kadang juga membingungkan. Apa saja sih? Nah, coba deh kenali 9 sumber kerewelan anak batita dan cara jitu mengatasinya!
1. REWEL KALA SAKIT
Wajar jika anak rewel kala sakit. Diberi ini salah, diberi itu salah. Kondisi tak nyaman membuat anak uring-uringan. Tak heran, semua itu bisa mengubah perilaku anak. Si kecil yang tadinya aktif dan ceria, mendadak murung dan cengeng. Anak pun jadi lebih manja.
Cara Mengatasi:
– Bersabarlah menghadapinya. Anak sakit lebih membutuhkan banyak perhatian ketimbang anak sehat. Jadi, dampingi selalu si kecil. Jalinlah komunikasi yang hangat dan menghibur. Tanyakan, apa yang dia rasakan. Sedapat mungkin berikan beberapa pertolongan kecil, seperti mengusap-usap perut atau mengipasi. Jika perlu, dekaplah dia dengan penuh kasih. Ciptakan suasana aman, hingga anak merasa nyaman dan tidak bosan.
– Sikap sabar juga perlu dikedepankan saat memberi makan dan obat. Jika anak menolak makan, tak perlu dipaksa, melainkan disuapi sedikit demi sedikit. Buatlah menu makanan yang lembut dan mudah dikunyah. Hal yang sama berlaku buat obat. Katakan, obat harus diminum agar anak bisa sehat dan bisa bermain kembali.
– Buat juga suasana menyenangkan. Hindari menunjukkan kesedihan di depan anak. Lakukan kegiatan bermain yang disukainya. Membacakan dongeng favorit bisa menjadi pilihan. Sediakan juga mainan yang bisa dilakukan di tempat tidur seperti boneka tangan, mewarnai, melipat kertas, nonton teve atau film kesayangan, dan sebagainya. Namun, waktu bermain tetap harus dibatasi, karena anak membutuhkan istirahat agar cepat sembuh.
2. REWEL DI TEMPAT BARU/ASING
Meskipun dinilai wajar, perilaku ini sering membuat kesal orangtua. Anak rewel karena merasa tak nyaman dengan kondisi baru. Tak jarang, kondisi itu dirasakan anak sebagai sesuatu yang mengancam. Terlebih jika anak belum mengenal kondisi tempat baru itu sebelumnya, juga fasilitas yang ada. Saat anak diajak ke tempat praktik dokter, misal, dia tentu bingung dengan ruangan serba putih, dan terdapat berbagai peralatan “aneh” macam jarum suntik, stetoskop, mesin USG, dan sebagainya.
Cara Mengatasi:
Sebelum mengajak si kecil pergi, orangtua perlu membekali anak mengenai tempat apa yang akan dituju, kondisi apa sajakah yang akan ditemui anak, apa pula benda-benda yang terdapat di sana. Sering-seringlah bepergian ke tempat baru bersama si batita. Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin kaya dan luas pengalaman anak.
3. REWEL KALA BERTAMU
Sering kan menghadapi batita yang merengek-rengek minta pulang kala diajak bertamu, “Pulang… Ma… pulang….” Kerewelan ini disebabkan si batita menganggap, rumahku adalah surgaku. Tiada tempat yang paling indah dan nyaman selain rumah. Apalagi jika lingkungan rumah benar-benar menyenangkan; luas, sejuk, dan banyak mainan. Selain itu, banyaknya sosok asing di rumah orang lain membuat anak enggan berlama-lama. Belum lagi rumah itu kurang menyenangkan seperti sempit, gerah, dan sumpek.
Cara Mengatasi:
– Buatlah anak merasa nyaman. Sebelum pergi, bekali si kecil dengan banyak mainan. Jika di rumah yang dikunjungi ada anak kecil, ajak bermain bersama si kecil. Perhatikan juga kondisi tubuh anak. Jika terlihat lelah, biarkan dia beristirahat sejenak.
Setelah cukup, orangtua bisa mengeksplorasi lingkungan rumah yang dikunjungi. Siapa tahu banyak hal menarik yang bisa ditemukan seperti ada kolam ikan, taman, dan sebagainya.
– Ajari anak bersosialisasi dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau teman, sehingga dia terbiasa mengunjungi rumah orang lain.
4. REWEL SAAT ADA IBU
Kerewelan justru terjadi saat ibu ada di rumah. Biasanya disebabkan anak meminta perhatian lebih. Maklum, ibu yang bekerja umumnya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Keberadaan ibu membuat si batita menuntut macam-macam. Apalagi, ibu bekerja biasanya menerapkan aturan lebih longgar dan minim memberikan punishment, juga selalu memanjakan anak. Nah, bagi anak, ini merupakan aji mumpung untuk melanggar aturan atau memaksakan kehendak.
Cara Mengatasi:
– Bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan adalah solusinya. Jika ibu menerapkan aturan tidak boleh menonton teve hingga larut malam, maka semua yang ada di rumah harus menerapkan aturan itu. Ini untuk mengajari si batita, mana yang benar dan mana pula yang salah. Sikap tega dan tegas harus dikedepankan. Jika ibu dan pengasuh atau anggota keluarga lain di rumah berbeda pola asuh, anak cenderung memilih aturan yang dirasa paling enak. Namun jika ibu dan semua anggota keluarga konsisten, maka si batita tidak akan berulah di setiap akhir pekan, atau kala ibu ada di rumah. Disiplin dan rutinitas batita akan terbentuk dengan baik. Berikan sanksi mendidik jika perlu. Selain itu, jangan sungkan memberikan penghargaan jika anak bisa melakukan rutinitas dengan baik. Penghargaan tidak melulu berbentuk hadiah, tapi juga berbagai bentuk lainnya seperti pelukan, ciuman, atau pujian. Dengan demikian, batita akan selalu mengulangi perilaku positif, sekaligus menjauhi sikap negatifnya.
5. REWEL SAAT ARISAN
Dalam kondisi tertentu, orangtua kadang terpaksa mengajak batitanya ikut serta arisan. Namun si batita tak bisa duduk manis selama acara berlangsung. Bahkan, tak sedikit anak berbicara sambil berteriak-teriak atau berlarian ke sana kemari. Banyak orangtua yang kesal dan langsung memarahi si batita. Padahal, tindakan memarahi malah dapat memberikan dampak yang tak baik bagi si batita. Selain membuatnya jadi rewel, bukan tak mungkin anak menganggap acara arisan tidaklah menyenangkan. Ia pun kapok jika suatu saat orangtua mengajaknya serta.
Cara Mengatasi:
– Sebetulnya, wajar saja bila si batita tak dapat duduk manis berlama-lama. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motoriknya. Makanya, dia tak bisa diam. Lagian, anak juga bukan orang dewasa mini yang bisa duduk lama dengan tenang. Acara arisan juga tidak menarik di mata anak. Yang dapat dilakukan adalah menyalurkan energi anak di luar ruangan. Ajak anak bermain di luar ditemani pengasuhnya. Lakukan beberapa permainan yang menyenangkan. Jika kebetulan orangtua lain membawa serta anak, biarkan si kecil berbaur bersama mereka dengan didampingi pengasuhnya.
6. REWEL KALA DITINGGAL ORANGTUA
Sulit kan jika anak tidak mau ditinggal pergi? Walhasil, banyak aktivitas orangtua yang batal gara-gara anak. Di usia ini, anak sedang mengembangkan sikap kelekatan. Jika anak menganggap orangtua adalah sosok paling dekat, maka sulit baginya untuk berpisah, maunya menempel melulu. Anak merasa tidak aman jika diasuh oleh sosok lain.
Cara Mengatasi:
– Berikan penjelasan. Jika ibu harus meninggalkan anak pergi berbelanja, katakan, “Mama mau pergi ke pasar. Tidak lama, kok, nanti Mama pulang dan bisa main lagi sama Adek.” Cara itu akan membuat anak mengerti, orangtua pergi hanya untuk sementara waktu.
– Hindarkan pergi secara sembunyi-sembunyi, bahkan berbohong. Itu bisa membuat anak semakin rewel, bahkan muncul ketidakpercayaan dalam dirinya.
– Agar anak tak terlalu merasa kehilangan, biarkan dia terlibat dalam sebuah kegiatan yang mengasyikkan seperti corat-coret. Biasanya, anak akan larut dalam aktivitasnya dan tidak terlalu memedulikan kepergian orangtua.
7. REWEL SETIAP KALI DIAJAK PERGI
Banyak orangtua yang pusing sekaligus kesal saat mengajak anaknya pergi. Itu semua terjadi karena si batita masih sulit mengendalikan emosinya. Selain orangtua juga mesti mengetahui penyebab kerewelan anak, semisal mood-nya sedang buruk. Atau, siapa tahu orangtua terlalu heboh saat mengajak anak bepergian, umpama, memburu-burunya mandi dan berpakaian. Ketergesaan itu menyebabkan anak tidak nyaman, lalu mengekspresikannya dengan sikap rewel. Sebab lain, mencari perhatian orangtua.
Cara Mengatasi:
Atasi berdasarkan penyebabnya. Bila dikarenakan suasana hatinya kurang baik, bangkitkanlah mood-nya. Jelaskan, perjalanan dan tempat tujuan sangat menyenangkan. Beritahukan hal-hal menarik apa saja yang bisa ditemui anak di tempat tujuan, seperti melihat sawah milik kakek, kerbau, dan sebagainya. Demikian juga kala di perjalanan. Jelaskan beberapa hal menarik yang bisa ditemui, misal, dengan menggunakan mobil sendiri, anak bisa melihat pemandangan. Jangan lupa, bawa serta mainan untuk di perjalanan. Atau, selama perjalanan orangtua bisa membuat aneka permainan menarik. Kalau memungkinkan, hindari mempersiapkan kepergian dengan terburu-buru, agar anak menganggap bepergian adalah hal yang menyenangkan.
8. REWEL SETIAP PAGI
Ada beberapa batita yang bersemangat setiap bangun pagi, di sisi lain banyak juga batita yang justru rewel. Menangis dengan berteriak, bahkan beberapa bersikap manja. Ini bisa disebabkan bermacam-macam hal. Boleh jadi sehari sebelumnya si batita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga pengalaman itu masih membekas saat terbangun. Jangan-jangan anak juga mendapat mimpi buruk. Atau, si kecil terlalu lelah atau sedang sakit, hingga dia mengekspresikan perasaan tidak nyamannya dengan sikap rewel. Rewel adalah tanda anak lelah, mengantuk, sakit, kecewa, sedih, dan lain-lain.
Cara Mengatasi:
– Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu, anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
– Orangtua jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang dan santai.
– Bila ibu sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi rutinitasnya setiap pagi.
– Ciptakan suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat terbangun dari tidur.
9. REWEL SAAT NAIK KENDARAAN UMUM
Naik bis, angkutan kota, atau kereta api? Pasti banyak orangtua yang memiliki pengalaman tak menyenangkan dengan ulah si batita. Sepertinya angkutan umum bak “neraka” buat anak. Dia ingin cepat-cepat keluar dari dalamnya. Apalagi jika perjalanan harus memakan waktu berjam-jam, kerewelan anak pun semakin bertambah. Semua itu terjadi karena anak merasa bosan berlama-lama di angkutan umum. Ketiadaan aktivitas sangatlah menjenuhkan bagi anak usia ini. Ia pun lalu mengungkapkannya dengan kerewelan. Apalagi jika angkutan umum itu tidak berpendingin udara, sempit, dan sesak.
Anak juga rewel karena merasa tidak nyaman bertemu dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Selain itu, anak usia ini bukan tipe “pertapa” yang bisa duduk berlama-lama. Anak sedang dalam masa eksplorasi. Keinginannya adalah bergerak dan terus bergerak. Ini tidak hanya berlaku untuk anak laki-laki, tapi juga perempuan.
Cara Mengatasi:
– Kerewelan anak bisa terjadi hanya saat pertama kali, tapi juga bisa setiap kali naik angkutan umum. Rewel saat pertama kali naik angkutan umum adalah wajar. Yang dapat dilakukan orangtua adalah membuat anak nyaman di angkutan umum. Dengan demikian, anak pun tidak rewel lagi.
Orangtua bisa mengajak anak mengobrol agar tak bosan. Jika mungkin, bisa juga diperdengarkan musik kesukaannya. Tentu dengan tak mengganggu penumpang lain. Ceritakan semua pemandangan yang ditemuinya saat di jalan. Ladeni semua pertanyaan anak dan puaskan rasa ingin tahunya.
Hal penting lainnya, bawa bekal makanan dan minuman yang cukup, di samping membawa beberapa mainan favorit anak. Pilih mainan yang sekiranya bisa dimainkan di angkutan umum.
Saeful Imam.

5 Langkah AGAR Anak TAK Serakah

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Tak mau satu, maunya semua! Apa yang harus dilakukan orangtua agar perilaku ini tak keterusan?
Suatu sore di hari libur, Immy membuat kue kesukaan anaknya, Bian (4). Begitu selesai, satu stoples berisi kue itu langsung dibawa sang bocah ke kamarnya. “Lo, kok, Mama dan Papa enggak dibagi kuenya, Sayang?” tanya Immy. “Enggak ah. Aku mau semuanya!” Begitu pun di sekolah. Ketika itu ada kegiatan menggambar. Saat guru membagikan satu batang pensil warna untuk masing-masing anak.
Ya, si prasekolah kadang suka berlaku “serakah”, tidak mau berbagi dengan teman-teman, adik, bahkan orangtuanya sendiri. Perilakunya malah terkesan egois, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepadanya harus lebih banyak dari yang lain, kalau perlu mendapatkan semuanya. Dia akan merasa bangga karena melebihi yang lain, misalnya, “Ayo lihat nih, aku punya tiga pensil warna. Kamu cuma dapat satu!” Jadi, ada keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah yang banyak.
Menurut Sani B. Hermawan, Psi., dalam diri si prasekolah ini, berkembang konsep pemahaman bahwa ingin punya sesuatu dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, dia masih cenderung mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Maka bila mendapatkan jumlah yang lebih banyak, dia pun merasa ada kepuasan. “Di sisi lain, pada dasarnya dalam diri anak ada kebutuhan untuk memuaskan diri dengan cara memiliki atau mendapatkan benda atau apa pun sebanyak-banyaknya,” kata Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani, Jakarta ini.
Perilaku si prasekolah selain tampak “serakah”, juga mau menang sendiri, egois dan sederet label negatif lainya. Sifat individualnya masih sangat dominan sehingga apa pun yang dilakukannya masih terpusat pada dirinya sendiri. Alhasil, ketika diberikan sesuatu, dia malah ingin semuanya.
Dalam hal ini, lingkungan sangat memengaruhi perilakunya yang cenderung “serakah” itu. Misalnya, orangtua yang memberi sesuatu selalu banyak atau berlebihan demi membuat anak merasa puas, entah itu makanan, mainan atau hal lainnya. Dengan begitu, anak akan memersepsikan bahwa sesuatu yang banyak itu memang menyenangkan. Contoh, suatu saat sang ayah memberi hadiah pada si prasekolah mainan tertentu. Akan tetapi, di saat yang sama, ibunya pun memberikan mainan. Lantaran itu, si prasekolah pun tak mendapatkan pelajaran atau suatu pengalaman mengenai “apa yang ia dapatkan” tetapi yang ditangkapnya adalah “berapa banyak yang aku dapatkan”. Maka tak perlu heran bila kemudian si prasekolah selalu minta sesuatu dalam jumlah banyak.
5 LANGKAH
Nah, perilaku “serakah” tentu tak boleh dibiarkan, bukan? Soalnya, bila tak diantisipasi akan mengganggu proses sosialisasinya. Bisa saja kemudian ia dijauhi temannya atau menjadi bulan-bulanan di antara teman-teman. Mumpung hal itu belum terjadi, maka sebagai upaya antisipasinya, lakukan beberapa hal berikut ini:
* Beri penjelasan
Jelaskan pada anak bahwa bukan hanya soal jumlah atau banyaknya yang dia dapat, akan tetapi maknanya. Misalnya, ketika guru memberikan masing-masing satu pensil warna dan satu kertas gambar, berarti semuanya itu sama, tak ada yang dibedakan.
* Ajarkan berbagi
Meski anak usia prasekolah sudah mengetahui konsep berbagi, tapi tak semuanya sudah memahami dengan baik. Jadi perlu terus diajarkan mengenai konsep berbagi ini. Umpamanya, dalam konteks yang sederhana, ketika di sekolah, ajarkan untuk mau berbagi bekal atau kue yang dibawanya dari rumah kepada temannya. Pesankan sebelum berangkat sekolah, “Sayang, Ibu bawakan kamu bekal yang cukup banyak. Nah, nanti di sekolah kamu bagi-bagi sama teman ya.” Tak ketinggalan, pesan moral dari konsep berbagi ini, misalnya, “Kalau kamu suka memberi teman, kamu akan disenangi teman.”
Nah, dengan seringnya belajar berbagi, lama-kelamaan dia akan terlatih pula untuk tidak menjadi “serakah” lagi.
Kemudian, bila anak masih belum mau meminjamkan mainannya, cukup katakan bahwa temannya akan merasa senang bila ia mau meminjamkan mainannya. Atau temannya akan merasa sedih kalau tidak dibolehkan mencicipi makanan miliknya. Dengan begitu, si prasekolah pun belajar untuk berempati pada orang lain.
* Konsisten
Orangtua sebaiknya bersikap konsisten untuk tidak memberi anak sesuatu secara berlebihan. Boleh jadi si prasekolah jadi uring-uringan atau terus merengek lantaran kemauannya untuk mendapatkan sesuatu dalam jumlah banyak tak terpenuhi. Sekali lagi, kita harus tetap konsisten. Kalau kita “mengalah”, justru itu akan dijadikan senjata oleh anak di kemudian hari. Jadi, dalam masa pembelajaran ini, sebaiknya kita tak selalu menuruti kemauannya yang cenderung berlebihan.
* Dukungan lingkungan
Kalaupun anak mulai mau belajar untuk tidak “serakah” lagi, akan tetapi bila lingkungannya tak mendukung, ya tentu sikap buruknya itu akan sulit diubah. Contoh dari orangtua pun sangat besar pengaruhnya. Tradisi bertukar bingkisan atau makanan dengan tetangga atau bersedekah kepada peminta-minta menjadi contoh yang lambat-laun ikut mengikis sikap serakah dalam dirinya.
Akan tetapi, boleh jadi, si prasekolah sulit untuk meninggalkan perilaku “serakah”nya itu. Soalnya, sesuatu yang dimilikinya itu seolah merupakan bagian dari dirinya. Maka, untuk menghadapi hal ini orangtua perlu usaha yang lebih giat untuk memberi pengertian dan penjelasan pada si prasekolah. Memang, jangan berharap si prasekolah langsung bisa memahami maksud kita. Begitu pun kita tak boleh memaksa anak untuk mau berbagi, karena justru hasilnya takkan maksimal. Toh, secara naluri, tiap orang termasuk anak-anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk mau memberi, berbagi dan menolong orang lain. tinggal bagaimana kita mengasah kemampuannya itu.
* Jangan beri label
Poin terakhir, yang tak kalah pentingnya adalah jangan sampai si prasekolah dijuluki si “serakah” atau si “pelit”. Jadi sebaiknya hindari pelabelan seperti itu. Pasalnya, kata-kata ini justru akan membuatnya merasa disalahkan atau tak berharga. Perlu diketahui, pada dasarnya ia memang belum paham mengenai perilaku apa yang diharapkan, lantaran masih memandang dirinya sebagai orang yang paling penting. Ini karena dia masih bersikap egosentris. Jadi sekali lagi, jangan sampai menggunakan julukan yang menyudutkan si kecil.
Hilman Hilmansyah.

AKU MASIH KECIL, Eh Sudah BESAR!

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

“Kakak, biar Mama yang angkat pancinya, kamu kan masih kecil nanti airnya tumpah!”
Sadar atau tidak, sebagai orangtua kita sering memakai standar ganda dalam menentukan besar atau kecilnya usia anak. Kalau hendak melarang, dipakailah penekanan, “Kamu, kan, masih kecil.” Tapi kalau anak sedang manja, sering kita menolaknya dengan alasan, “Kakak, kan, sudah besar.” Nah, mana tahu standar ganda ini akan dimanfaatkan oleh si prasekolah yang mulai coba-coba bermain dengan logika. Kalau minta gendong, maunya dia dianggap masih kecil. Namun, saat mencoba sesuatu, ia ingin dibilang sudah besar.
Ah, ada-ada saja ulah si prasekolah. Kira-kira seperti apa yang dipikirkan si kecil (ngomong-ngomong, setuju kan kalau menyebutnya si kecil?). Cari tahu deh supaya kita tidak dimanfaatkan olehnya.
Semau-Maunya
Ada beberapa faktor yang membuat anak menganggap dirinya besar atau kecil sesuai kebutuhan. Faktor-faktor ini merupakan beberapa kemampuan yang memang sudah berkembang di usia prasekolah, yaitu:
Melegitimasi
Kemampuan membenarkan pendapat diri sendiri mulai dilakukan di usia prasekolah. Umpama, anak punya kemauan namun kita melarangnya padahal dia ingin sekali melakukannya. Nah, salah satu cara untuk mewujudkannya adalah dengan melegitimasi diri supaya mendapat persetujuan dari kita. Dia akan mengungkapkan kalau dirinya sudah besar dan mampu melakukan pekerjaan orang dewasa. Atau sebaliknya, mengungkapkan dirinya masih kecil sehingga pantas diperlakukan seperti anak yang lebih kecil.
Memanipulasi Lingkungan
Selain melegitimasi, anak pun berusaha memanipulasi lingkungannya. Dia membujuk kita untuk percaya dan yakin kalau dirinya mampu melakukan pekerjaan orang dewasa atau pantas diperlakukan sebagai anak yang lebih kecil. Terkadang, tanpa sadar orangtua terbawa dengan manipulasi mereka. Terutama ibu yang merasa bersalah pada anaknya karena seharian bekerja. Dia akan mengabulkan permintaan anak untuk digendong karena sang ibu pun ingin memuaskan emosinya lantaran seharian tidak bersama anak.
Dua kemampuan ini, melegitimasi dan memanipulasi, akan berlangsung semakin baik dengan dukungan kemampuannya yang lain, yakni kemampuan dalam menyetarakan diri dan otonomi diri.
Menyetarakan
Anak kan masih berpikir secara konkret dari apa yang dilihatnya. Ketika dia melihat anak kecil digendong, di saat tertentu dia akan menyetarakan dirinya ke anak kecil tersebut, “Aku juga kan masih kecil jadi aku boleh digendong.” Atau sebaliknya, ketika dia melihat pekerjaan tertentu yang sering dilakukan oleh orang dewasa, dia akan menyetarakan dirinya dengan orang dewasa/besar.
Otonomi Diri
Di usia ini anak juga sudah masuk pada fase otonomi dan inisiatif diri. Dia merasa berhak untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya sendiri. Tak ada orang lain yang boleh mengaturnya, orangtua sekalipun. Nah, ketika dia ingin berbuat atau melakukan sesuatu sesuai keinginannya, dia pun akan melakukannya, “Aku bisa mengangkat panci, jadi aku boleh dong melakukannya.”
Jangan TERJEBAK
Ketika anak ingin melegitimasi dan memanipulasi supaya keinginannya dipenuhi, sebaiknya kita tidak terjebak. Kita perlu melakukan antisipasi supaya anak mendapatkan pemahaman yang benar akan konsep besar-kecil. Berikut caranya:
Tidak Ikut Melegitimasi
Ketika anak berusaha melegitimasi kebesaran atau kekecilannya, sebaiknya kita tidak ikut melegitimasi. Contoh, ketika anak bilang dirinya sudah besar sehingga boleh mengangkat panci yang berisi air panas, kita harus melarangnya. Aktivitas ini cukup membahayakan sementara kemampuan anak belum prima.
Katakan pada anak, “Kak, yang mengangkat panci biar Mama saja, Kakak angkat sendok pancinya saja!” Terangkan kenapa ia tak boleh mengangkat air di panci tersebut. Demikian pula ketika anak minta digendong padahal tubuhnya sudah cukup berat, kita bisa menolak untuk melegitimasi keinginannya, “Badan kamu berat lo, kok minta digendong? Yang digendong itu adik bayi yang belum bisa jalan!” dan seterusnya.
Dengan tidak melegitimasi keinginan anak, kita memberikan pelajaran kepadanya bahwa untuk memenuhi keinginan harus melalui pertimbangan, seperti faktor risiko, kemampuan dan kekuatan diri sendiri, serta situasi. Kita perlu menjelaskan faktor-faktor ini supaya anak memahami dampak yang terjadi bila dia memaksakan keinginannya.
Bila kita ikut melegitimasi, anak akan beranggapan bahwa pendapatnya memang benar, “Tuh kan aku memang masih kecil, buktinya aku boleh digendong.” Jadi, anak beranggapan bahwa dirinya masih kecil seperti adik bayinya karena sama-sama digendong, hanya badannya doang yang berbeda. Selain itu, bila yang dilakukan anak dapat membahayakannya, terkena air panas misal, tentu sangat merugikan anak.
Beri Pengalaman Baru
Banyak anak yang sulit diberi tahu. Bila demikian, kita boleh saja mengarahkannya dengan cara memberikan pengalaman baru kepada anak. Umpama, membuka tutup panci lalu memperlihatkan air yang mengepulkan uap, “Lihat Kak, airnya panas sekali sampai mengepulkan uap. Nanti kalau terkena badanmu bagaimana?”
Syukur bila anak tak jadi melakukannya. Tetapi bila ia tidak juga mengurungkan niatnya, alihkan dengan memberinya pengalaman baru yang tidak menyenangkan, seperti mencipratkan setitik air panas tersebut ke tangannya biar dia merasakan panasnya. Ketidaknyamanan akan membuatnya mengurungkan niat. Dari situ, anak akan tahu kenapa kita melarangnya melakukan suatu hal.
Harus Konsisten
Ketika kita bilang bahwa anak sudah besar dan tidak akan digendong, kita harus konsisten dengan pendapat itu. Bila tidak, anak akan berpersepsi lebih kuat kalau dirinya memang masih kecil, “Betul kan aku masih kecil, buktinya Mama mau menggendong aku!”
Bila kita bersikap konsisten, tentu akan lebih baik karena kita sudah memberikan arahan yang sesuai dengan kemampuan usianya. Anak bisa berjalan sendiri tanpa harus digendong dan ternyata mampu melakukannya. Ini adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuknya.
Tetapi bila anak begitu ngotot, kita bisa mengarahkannya dengan cara menunjukkan bahwa tubuhnya sudah sangat berat. “Lihat, Mama keberatan menggendong kamu,” sambil kita mengeluarkan napas yang ngos-ngosan. Dengan begitu anak akan melihat kalau tubuhnya memang sudah lebih besar dari sebelumnya.
Belajar BESAR KECIL Dari KESEHARIAN
Anak usia prasekolah dapat membedakan konsep besar dan kecil. Dia tahu kalau tubuhnya lebih besar dari adiknya atau lebih kecil dari kakaknya. Hal ini didapat anak dari pembelajaran yang kita berikan sehari-hari. Misal, tanpa sadar kita sering membandingkan si kakak dengan adiknya, si kakak dengan saudara sepupunya, dan sebagainya. Atau ketika adik bayi lahir, kita kan sering mengajaknya berdialog, “Lihat, adik kecil lucu ya. Nah kamu kakaknya kan lebih besar, harus melindunginya!” Dengan pengalaman seperti ini, memberi sinyal ke anak kalau dirinya lebih besar dari adik bayinya. Tanpa sadar pun kita sering menanamkan konsep besar kecil ini di banyak kegiatan, “Kamu kan lebih besar, jadi harus mengalah dengan adik dong!”
Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA
Narasumber:
Juriana, S.Psi., Psi.,
psikolog dan dosen dari Universitas Negeri Jakarta

3 Alasan Anak Prasekolah Senang Mengolok

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Maksudnya bukan menghina karena ia memang belum paham. Lalu kenapa?
LEBIH Karena LINGKUNGAN
Ada beberapa penyebab kenapa anak prasekolah suka mengolok-olok teman, di antaranya:
Meniru Lingkungan
Lingkungan berperan penting dalam membentuk perilaku anak. Banyak perilaku anak yang muncul karena proses peniruan anak terhadap lingkungannya. Sebab di usia ini anak berada pada tahap belajar mengamati lingkungan dan kemudian meniru apa yang dilihatnya. Bisa saja dia melihat orangtuanya pernah mengolok-olok orang lain, “Hei si gendut, tubuhmu seperti gajah!” Maka anak pun akan meniru dengan mengatakan hal yang seperti didengarnya. Atau kalau kita merasa tak pernah melakukannya, bisa saja anak menirunya dari orang di luar rumah maupun televisi.
Bila anak berada di lingkungan yang terbiasa ceplas-ceplos, terbuka, dan menganggap mengolok merupakan hal biasa atau bentuk candaan yang lumrah, proses peniruan anak akan lebih besar. Selama hal tersebut diterapkan di lingkungannya sendiri mungkin tak masalah, namun bila sudah dibawa keluar dimana normanya berbeda, anak mendapatkan cap negatif. Mungkin saja anak dianggap kurang ajar, tidak sopan, dan sebagainya.
Sifat Egois
Proses peniruan akan diperkuat oleh sifat keegoisan anak yang saat itu sedang tinggi-tingginya. Dia beranggapan apa yang ada di dalam dirinya adalah yang terbaik, sedangkan orang lain lebih jelek sehingga mendorongnya untuk mengolok anak lain. Contoh, meskipun rambutnya sama keriting dengan teman, dia tetap mengolok karena sifat egoisnya itu, “Bagusan keriting rambutku!”
Tak hanya keegoisan terhadap dirinya, terhadap apa yang dimilikinya pun anak tak mau kalah. Mudah sekali baginya untuk mengolok kalau apa yang dimiliki temannya lebih jelek dibandingkan miliknya, “Mobil-mobilanku lebih bagus dong. Mobil kamu jelek!”
Terjadi Konflik
Konflik yang terjadi antaranak pun bisa memunculkan olok-mengolok. Mungkin saat bermain, anak berebut mainan. Ketika salah satu gagal mendapatkan mainan tersebut, dia mengolok lawannya dengan kata-kata, “Kamu pelit, aku tidak mau main sama kamu. Dasar pelit!” Atau malah sebaliknya, yang berhasil meraih mainan malah mengolok. Konflik antaranak prasekolah sering terjadi mengingat perilaku egoisme mereka sangat tinggi.
Bagaimana Menyembuhkannya
Jangan Beri Contoh
Mengingat contoh sangat efektif ditiru anak, maka hindari pemberian contoh negatif, seperti mengolok-olok. Mungkin tanpa sadar kita pernah mengolok anak dengan kata-kata “gendut,” “cengeng,” atau “hidung pesek.” Meskipun maksudnya bercanda namun anak tetap akan meniru karena tak terlalu paham apakah kita bercanda atau tidak. Contoh negatif ini pun harus kita hindarkan dari anak usia di bawah 3 tahun karena ia mulai menyerap informasi yang masuk dan akan dikeluarkannya saat usia prasekolah.
Contoh mungkin bukan berasal dari kita melainkan orang lain seperti anak tetangga atau dari teve. Untuk itu sedapat mungkin hindari anak dari contoh yang datang dari luar. Bekerja samalah dengan tetangga, guru di sekolah, orangtua teman anak untuk berkata sopan di depan anak. Bila contoh datang dari teve, kita perlu menyeleksi acara-acara teve yang layak disaksikan anak. Hindari anak dari tontonan-tontonan yang mengeluarkan olokan-olokan kasar.
Segera Arahkan
Ketika anak mengolok temannya, segera arahkan. Arahan yang segera ini lebih efektif karena anak baru saja melakukannya sehingga tahu dengan jelas apa kesalahannya, “Adek, mengolok-olok itu bukanlah tindakan yang baik.” Terangkan, meskipun ada kekurangan di tubuh orang lain bukan berarti kita boleh mengoloknya, “Itu kan sudah ciptaan Tuhan, kita harus mensyukuri apa yang sudah diberikan olehNya.”
Hindari penjelasan dengan tenggang waktu yang cukup lama dari kejadian mengolok. Misal, kita baru mengarahkan 3-4 jam setelah anak mengolok temannya. Pengarahan ini kurang efektif karena mungkin saja anak sudah lupa. Namun bila hanya ingin menguatkan dari apa yang tadi sudah kita arahkan, ya boleh saja. Umpama, anak sudah kita arahkan saat di sekolah dia mengolok temannya. Nah, sesampainya di rumah kita bisa mengingatkan anak lagi.
Reward and Punishment
Kita juga perlu memperkuat perilaku positif anak dengan memberikan reward dan punishment. Contoh, ketika anak berhasil tidak mengolok temannya meskipun saat itu dia terlihat emosional, kita beri pujian, “Wah, anak mama pintar!” sambil membelai atau memeluknya. Sebaliknya, bila dia mudah sekali mengolok, kita harus memberinya punishment yang bersifat mendidik seperti, tidak mengizinkan anak mendapatkan dongeng saat akan tidur. Dengan begitu anak akan berpikir bahwa ada akibat yang akan diterimanya sehingga dia mulai berpikir untuk tidak mengolok-olok.
Tanamkan Norma Kesopanan
Perlu menanamkan norma kesopanan pada anak sejak dini. Caranya bisa lewat buku cerita, cerita di VCD, arahan-arahan di rumah, dan sebagainya. Saat ini banyak buku cerita atau VCD yang berisi cerita tentang norma kesopanan. Nah, kita bisa menanamkannya lewat kandungan yang ada di dalamnya. Memang terkadang cara ini tidak menjamin 100% akan berhasil. Bila anak mendapat contoh negatif bisa saja dia tetap akan mengolok-olok. Namun bila kita terus mengarahkan dan konsisten melakukannya, ditambah dengan arahan yaitu menegur atau menghentikan perbuatannya setiap kali kita pergoki anak mengolok, maka perilaku yang muncul akan lebih sering bernorma positif
Jadi, anak harus diberi tahu bahwa mengolok-olok bukanlah tindakan terpuji. Bila tak ada usaha dari orangtua untuk meluruskannya, maka perilaku ini bisa saja menetap. Hingga besar, dia terbiasa mengolok bila ada yang menggelitik hatinya. Parahnya, bila anak sudah beranggapan kalau dengan mengolok orang lain dia bisa membangun kebanggaan dirinya, bisa bersenang di atas penderitaan orang lain, bisa menjatuhkan reputasi orang lain, dan sebagainya. Apalagi bila kelak dia menganggap bahwa dirinyalah yang paling sempurna. Tentu hal ini tak baik untuk kepribadian anak, dia bisa bercitra negatif dan akan dijauhi teman-temannya.
Irfan Hasuki. Ilustrator Pugoeh
Narasumber:
Nurhayati Rahman, S. Psi
dari UIN Jakarta