TRAUMA KEPALA

sumber : http://milissehat.web.id/?p=99

9/23/2008

Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab trauma kepala ini antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena kecelakaan.

Pemeriksaan
Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal, pernapasan dan sirkulasi anak dalam keadaan aman.
Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU. Gunakan penekanan pada supraorbital yang cukup keras sebagai rangsang nyeri.

A Alert (sadar)
V Responds to voice (berespon terhadap suara)
P Responds to pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully
Non-purposefully

Withdrawal/flexor response
Extensor response

U Unresponsive (tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-tanda neurologis fokal lainnya.
Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:

* Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
* Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan, nyeri, Battles
* Mata – ukuran pupil, ekualitas dan reaktivitas, funduskopi
* Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
* Hidung – deformitas, pembengkakan, perdarahan, kebocoran LCS
* Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak
* Patah tulang wajah
* Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks dan kelemahan sesisi
* Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
* Pertimbangkan kemungkinan adanya trauma non-kecelakaan selama secondary survey terutama pada bayi dengan trauma kepala
Trauma lain

Dapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian kecelakaan. Secara spesifik tentukan:

* Waktu, mekanisme, dan keadaan trauma
* Hilangnya kesadaran dan durasinya
* Mual dan muntah
* Kondisi klinis sebelum dibawa ke dokter – stabil, memburuk, membaik
Luka-luka lainnya

Derajat Kesadaran – Glasgow coma scale (GCS)
Mata membuka Respon Verbal
(modifikasi untuk anak kecil dengan tulisan merah)
Spontan 4 Orientasi baik
Kata-kata yang tepat, senyum 5
Dengan suara 3 Bingung
Menangis tetapi dapat ditenangkan 4
Terhadap nyeri 2 Kata-kata yang tidak tepat
Terus-menerus rewel 3
Tidak ada 1 Kata-kata yang tidak dapat dimengerti
Lelah dan gelisah 2
Tidak ada
Tidak ada 1
Respon motorik
Menuruti perintah 6
Melokalisasi rangsang 5
Menarik dari rangsang 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak ada respon 1

Tatalaksana
Trauma kepala ringan:

* Tidak kehilangan kesadaran
* Satu kali atau tidak ada muntah
* Stabil dan sadar
* Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala
* Pemeriksaan lainnya normal

Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian dirawat oleh orang tuanya. Jika terdapat keraguan apakah telah terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap telah terjadi dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua mendapatkan instruksi yang jelas mengenai tatalaksana anak mereka di rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit jika anak:

* menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
* menjadi bingung
* mengalami kejang
* timbul sakit kepala menetap
* berulang kali muntah
* keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:

* Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian
* Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk
* Dua atau lebih episode muntah
* Sakit kepala persisten
* Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma
* Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di kulit kepala
* Pemeriksaan lainnya normal

Jika berdasarkan anamnesis dari keluarga atau petugas ambulans, anak tidak mengalami penurunan secara neurologis maka anak dapat diobservasi di IGD selama 4 jam dengan observasi tiap 30 menit (kesadaran, nadi, frekuensi napas, tekanan darah, pupil, dan kekuatan motorik). Anak dapat dipulangkan jika terdapat perbaikan selama 4 jam menjadi dalam keadaan sadar dan tidak terdapat muntah. Sakit kepala persisten, hematoma yang besar, atau luka penetrasi dapat membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Jika anak masih mengantuk atau muntah atau bila terdapat perburukan selama 4 jam, diskusikan dengan ahli bedah saraf untuk rawat inap dan penyelidikan lebih lanjut.

Trauma kepala berat:

* Kehilangan kesadaran dalam waktu lama
* Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif
* Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga
* Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi)
* Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
o Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor
o Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi
* Trauma kepala yang berpenetrasi
* Kejang (selain Kejang singkat (5cm pada bayi di bawah 1 tahun
* Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi
* Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter
* Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA

Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk diketahui apakah hal itu merupakan masalah yang serius atau tidak. Jika anak Anda terbentur di kepala, sebaiknya Anda menemui dokter. Trauma kepala adalah benturan apa pun yang mengenai kepala yang menyebabkan benjol, luka lecet, robekan, atau luka yang lebih parah pada kepala anak. Kebanyakan trauma kepala bukan merupakan hal yang serius dan hanya menimbulkan benjol atau luka lecet. Namun terkadang trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.

Cari bantuan medis segera jika :

Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan mobil.
Anak Anda kehilangan kesadaran.
Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya

Gejala dan Tanda
Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya trauma tersebut. Trauma kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat.

Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:

* Tidak sadar lebih dari 30 detik.
* Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
* Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan, seperti lebar pupil yang tidak sama, kelemahan lengan dan kaki.
* Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
* Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika trauma terjadi.
* Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda mengalami trauma kepala berat.

Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:

* Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
* Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
* Muntah 2 kali atau lebih.
* Sakit kepala.
* Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah trauma .
* Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang besar di kepala.

Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama paling sedikit 4 jam setelah trauma kepala sedang.

Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:

* Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
* Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
* Mungkin muntah, namun hanya sekali.
* Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya.
* Selain itu normal.

Tatalaksana untuk trauma kepala ringan
Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya. Sebagian besar benturan ringan hanya menyebabkan luka lecet dan nyeri sebentar.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma untuk membantu mengurangi bengkak.
Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5 menit. Luka robek di kepala sering berdarah banyak.

Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:

Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kela. Berikan parasetamol tiap 4-6 jam jika diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah berkelanjutan, bawalah ke dokter.
Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa mengantuk. Anda tidak perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia ingin tidur. Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1 jam untuk memeriksa kondisinya dan reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya. Anda sebaiknya melakukan ini sampai ia tak lagi mengantuk dan telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa pertanyaan yang dapat Anda ajukan:

* Apakah ia mengetahui namanya?
* Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya?
* Apakah ia mengetahui hari apa hari ini?
* Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak sesuai? Misalnya mengambil sebuah mainan. Apakah ia tampak interaktif dan tidak terlalu rewel?

Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke gawat darurat terdekat atau hubungi ambulans.
Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya atau bila nyeri tidak hilang, pergilah ke dokter.

Follow up
Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir untuk dideteksi pada awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang tua mungkin melihat adanya:

* Rewel
* Mood yang berganti-ganti
* Kelelahan
* Masalah konsentrasi
* Perubahan perilaku

Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda tersebut.

Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda mengalami/memiliki:

* Perilaku yang tidak lazim
* Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang dengan parasetamol (rewel pada bayi)
* Muntah berulang kali
* Keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung.
* Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki
* Sulit bangun
* Sulit untuk tetap terjaga
* Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun

Hal-hal yang harus diingat
Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk membantu mengurangi bengkak.

Algoritme Evaluasi dan Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala (Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan American of Family Physician)

Keterangan

(A) Parameter ini ditujukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan yang sebelumnya sehat secara neurologis yang memiliki status mental normal, tanpa kelainan neurologis fokal (termasuk funduskopi), dan tidak terdapat tanda fisik fraktur tengkorak (seperti hemotimpanum, Battle’s sign).

(B) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten dianjurkan untuk anak dengan trauma kepala tertutup ringan tanpa kehilangan kesadaran.

(C) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten mungkin dilakukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran.

(D) CT scan bersama dengan observasi dapat dilakukan untuk evaluasi dan tatalaksana awal dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran singkat.

(E) Jika pencitraan diperlukan oleh dokter dan jika baik CT scan dan foto Roentgen kepala tersedia, CT scan merupakan modalitas pilihan, karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih baik. Apabila tidak terdapat CT scan, foto Roentgen kepala dapat membantu dokter untuk mengetahui adanya resiko kerusakan intrakranial. Namun fraktur tengkorak dapat dideteksi pada foto kepala tanpa adanya jejas intrakranial dan kadang-kadang terdapat kerusakan intrakranial meskipun tidak terdapat fraktur tengkorak pada foto kepala. Apakah adanya kerusakan intrakranial berdasarkan hasil pada foto kepala cukup untuk merubah strategi penanganan bergantung keinginan dokter dan keluarga.

(F) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif daripada CT dalam mendiagnosis lesi intrakranial tertentu. Namun, saat ini tidak terdapat perbedaan antara CT dan MRI dalam mendiagnosis trauma dan perdarahan intrakranial akut yang secara klinis signifikan yang membutuhkan intervensi bedah saraf. CT lebih cepat dan lebih mudah dibanding MRI dan biaya CT lebih murah daripada MRI.

(G) Pasien yang secara neurologis normal dengan CT scan yang normal memiliki resiko yang sangat rendah untuk terjadinya perburukan. Pasien dapat dipulangkan untuk observasi oleh orang yang dapat dipercata jika CT scan setelah trauma normal. Keputusan untuk melakukan observasi di rumah diambil dengan mempertimbangkan kemungkinan anak harus kembali ke rumah sakit dan besarnya tingkat kepercayaan pada orang tua atau orang yang akan melakukan observasi. Observasi dapat pula dilakukan di klinik, tempat praktek, IGD, atau rumah sakit tergantung keinginan dokter dan orang tua.

(H) Jika CT scan menunjukkan adanya kelainan, tergantung kelainan tersebut apakah akan dirujuk atau tidak dan jika perlu konsultasi dengan subspesialis yang sesuai.

(I) Jika status neurologis anak memburuk selama observasi, dilakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh, bersamaan dengan CT scan segera setelah kondisi pasien stabil. Jika pada pengulangan CT scan menunjukkan kelainan patologis intrakranial baru, diperlukan konsultasi dengan subspesialis.
Referensi :

1. American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari http://www.aap.org

2. American Academy of Family Physicians Commission on Clinical Polices and Research. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari http://www.aafp.org

3. Royal Childrens Hospital. Clinical practice guidelines: Head injury. Diakses dari http://www.rch.au.org
4. Royal Childrens Hospital. Kids health info for parents: Head injury. Updated June 26, 2006. Diakses dari http://www.rch.au.org.

dr. Veda

Iklan

TRAUMA KEPALA RINGAN “ANAK JATUH”

sumber : muslimpinang

Jatuh adalah satu kejadian yang sering terjadi pada anak baik di dalam maupun di luar rumah. Orangtua tentunya sangat khawatir akan akibat yang terjadi, banyak pertanyaan yang timbul pada saat orangtua mengetahui anaknya jatuh, terutama bila kepla terbentur lantai. Beberapa pertanyaan yang timbul adalah: apa yang harus orangtua lakukan, haruskah segera dibawa ke Rumah Sakit. apakah perlu di lakukan pemeriksaan CT Scan kepala, apa yang harus diperhatikan setelah jatuh, apakah akan berpengaruh di kemudian hari, bagaimanakah mencegah anak jatuh?
Trauma kepala dengan luka di sekitar kepala, tidak selalu menimbulkan kegawatan. Sebaliknya benjolan di daerah samping kepala akibat jatuh ternyata dapat menimbulkan kegawatan. Oleh karenanya, diperlukan pengetahuan yang benar tentang trauma kepala ringan. Menurut American Academy of Pediatrics (1999) trauma kepala ringan didefinisikan sebagai trauma kepala dengan status mental dan neurologis pada pemeriksaan awal normal, dan tidak adanya fraktur tulang kepala pada pemeriksaan fisis. Pada keadaan ini dapat disertai kehilangan kesadaran < 1 menit, kejang singkat setelah trauma, muntah, sakit kepala dan lesu.

Problem anak jatuh
Tidak semua orangtua mengetahui apa yang harus dilakukan saat melihat anaknya jatuh. Sebenarnya informasi yang perlu diketahui tentang anak jatuh adalah:
• Posisi anak jatuh, bagian yang terbentur lantai: muka, kepala, atau bagian tubuh lainnya
• Apakah anak pingsan, berapa lama – Adakah benjolan di daerah kepala
• Adakah patah tulang: leher, bahu, lengan, atau tungkai
• Adakah sakit kepala atau muntah
Untuk mengetahui akibat jatuh, orangtua seharusnya perlu melakukan pemeriksaan:
• Yakinkan apakah anak sadar atau tidak: panggil namanya, goyangkan badannya.
• Rabalah seluruh bagian kepalanya dengan sedikit penekanan, sehingga memastikan adakah benjolan (hematom), nyeri, atau “dekok” (fraktur kompresi) di kepala.
• Bila ubun-ubun belum menutup, rabalah ubun-ubun apakah membonjol atau tidak. Ubun-ubun membonjol tanda adanya peningkatan tekanan dalam otak, dapat terjadi karena edema otak atau perdarahan.
• Gerakkan kepala, dan tangan kakinya untuk memastikan tidak ada patah tulang leher, bahu, tulang belakang atau ekstremitas.
• Perhatikan dengan teliti: mata, kelopak mata, raut wajah atau senyumnya adakah perubahan?.
• Pastikan penglihatannya tidak terganggu.
Pada anak jatuh terutama dengan kepala terbentur lantai, beberapa keadaan darurat dapat terjadi:
• Anak tidak sadar, dapat disebabkan perdarahan dalam rongga kepala (perdarahan epidural, subdural), atau akibat pembengkakan (edema) otak, terkenanya pusat kesadaran saat kepala terbentur.
• Benjolan (hematom) di kepala terutama bila terdapat di daerah samping kepala (temporal), karena fraktur/retak tulang di daerah tersebut dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala.
• Terbenturnya kepala bagian belakang (oksipital) dengan keras dapat menyebabkan pembengkakan otak sehingga penglihatan menjadi terganggu atau buta dalam beberapa hari.
• Terbenturnya bagian depan kepala (frontal) dapat menyebabkan hematom di pelipis awalnya. Kadang hematom ini akan turun sehingga kedua kelopak mata atas menjadi bengkak.
• Kekakuan di leher dapat disebabkan perdarahan subdural yang pada pemeriksaan funduskopi didapatkan papil edema atau perdarahan subhialoid.
• Keluar cairan atau darah dari hidung dan lubang telinga.
Bawalah segera anak ke rumah sakit bila didapatkan kelainan di atas. Tetapi bila tidak, anak dapat diobsevasi di rumah. Pengawasan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan setiap 2 -3 jam perhari sampai 3 hari setelah anak jatuh. Selama observasi anak tidak diberikan obat muntah, karena dapat menghilangkan gejala muntah yang bertambah.
Bawalah anak segera ke rumah sakit bila selama observasi didapatkan:
• Anak menjadi tidak sadar atau tidur terus.
• Anak menjadi delirium, bingung, dan iritabel.
• Kejang/kelumpuhan pada wajah atau ekstremitas.
• Sakit kepala atau muntah yang menetap atau semakin bertambah.
• Adanya kekakuan di leher.
• Timbul benjolan di kepala terutama pada daerah samping kepala (temporal).
Di rumah sakit perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala untuk melihat adakah fraktur tulang kepala atau perdarahan otak. Rontgen kepala saat ini tidak dianjurkan lagi. Pemeriksaan kepala dilakukan atas indikasi bila dicurigai adanya perdarahan otak dan tidak harus segera setelah jatuh. Ini disebabkan perdarahan otak dapat berlangsung sedikit demi sedikit. Anak yang mengalami perdarahan otak ringan umumnya tidak akan mengalami gangguan perkembangan di kemudian hari.
Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan untuk menghindari anak jatuh atau terbentur kepalanya. Pencegahan dapat dilakukan:
• Pada bayi <6 bulan, apabila sudah dapat berguling, taruhlah kasur di samping tempat tidur.
• Bila bayi sudah dapat berdiri berikan pelindung di tempat tidurnya.
• Bila anak sudah dapat berlari awasi dengan ketat, jangan sampai menarik taplak meja atau pintu rak lemari.
• Hindari pemakaian baby walker tanpa pengawasan.
• Jangan biarkan air seni berserakan di lantai.
• Kakak jangan nakal terhadap adik, misalnya: main dorong dorongan
Kesimpulan
Dari uraian di atas, beberapa hal penting pada kedaruratan anak jatuh terutama bila kepala terbentur lantai:
• Lakukan tindakan pencegahan anak agar tidak jatuh.
• Periksalah dengan teliti bila anak jatuh, terutama bila kepala terbentur lantai.
• Observasi klinis anak jatuh di lakukan selama 3 hari setelah anak jatuh.
• Bawalah ke rumah sakit bila dicurigai adanya perdarahan otak.
• Pemeriksaan CT Scan kepala dilakukan sesuai indikasi, tidak selalu dilakukan segera setelah anak jatuh.
Daftar Pustaka
1. AAP. Pediatrics 1999;104:1407- 15.
2. Palchak MJ. Am Emerg Med 2003;42:492- 506.