Belajar Konsep Ukuran

sumber : tabloidnakita.com
Dapat mengembangkan kecerdasan logis-matematis dan visual-spasial.
Di usia 2 sampai 2;6 tahun, batita dapat belajar tentang konsep ukuran (banyak-sedikit, besar-kecil, panjang-pendek, tinggi-rendah). Selain karena kemampuan bahasanya yang semakin baik, di usia ini kemampuan kognitifnya berada dalam tahap praoperasional (usia 2-6 tahun). Anak dapat mengelompokkan, entah benda, warna, bentuk, maupun ukuran. Salah satunya, mengelompok benda berdasarkan ukuran tertentu, semisal benda kecil dengan benda besar, atau benda panjang dengan benda pendek.
Ia pun dapat diajak menyusun benda berdasarkan urutan sesuai ukuran, namun ia baru bisa merangkaikan dua benda saja. Contoh, tongkat A lebih panjang daripada tongkat B, atau tongkat C lebih panjang daripada tongkat B. Tapi ia belum bisa diminta menyusun sejumlah tongkat dari yang paling pendek sampai yang paling panjang. Karena, ia baru bisa memusatkan satu hubungan pada satu saat dan belum bisa melihat keseluruhan.
Tentunya pemberian stimulasi dilakukan melalui permainan, mengingat usia balita adalah usia bermain. Pilihlah alat permainan yang konkret, dapat diraba, dirasakan dan dicoba sendiri, sehingga memudahkan si batita untuk memahami materi yang dipelajari.
KONSEP BESAR-KECIL
Mulailah dengan anggota tubuh si batita. Misal, Anda mengambil tangan si kecil dan berkata, “Coba Adek lihat tangannya, deh. Tangan Adek kecil, tangan Bunda besar.” Kemudian, satukan telapak tangan anak dengan telapak tangan Anda sehingga si batita dapat melihat dengan jelas betapa kecil ukuran tangannya dibanding dengan tangan bundanya. Selanjutnya dapat dikembangkan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Contoh, “Lihat, sepatu Adek kecil, sepatu Ayah besar.” Atau, dengan beberapa permainan yang dapat dilakukan bersama.
* Menyusun menara dari kayu, mulai ukuran besar di bagian bawah dan makin ke atas makin mengecil. Bentuknya bisa berbagai macam: bujur sangkar, lingkaran, segitiga, segilima. Pilih sumbu yang tak rata, sehingga anak harus menyusun dari yang besar makin ke atas makin mengecil, tak bisa dibalik karena balok-balok itu takkan bisa masuk.
* Sediakan 1 botol bermulut kecil dan 1 wadah bermulut besar yang dapat dimasukkan oleh tangan anak, semisal stoples. Minta anak memasukkan benda-benda kecil seperti kancing atau kelereng kepunyaannya. Selanjutnya, minta ia mengambil benda-benda itu. Tentunya, ia akan kesulitan memasukkan tangannya ke dalam mulut botol yang kecil. Sebaliknya, ke dalam stoples. Tanyakan komentarnya, mengapa tangannya tidak bisa masuk di botol dengan mulut kecil. Berikan penjelasan, sehingga anak memahami tentang besar dan kecil dengan baik.
KONSEP TINGGI-RENDAH
* Minta si batita berdiri tegak dan Anda juga berdiri tegak di sebelahnya. Berikan penjelasan bahwa Adek rendah, sedangkan Bunda tinggi.
* Lanjutkan dengan benda-benda yang ada di sekitar rumah. Misalnya, lemari baju Adek rendah, lemari baju Bunda tinggi.
* Dapat juga dengan permainan, seperti menyusun bantal. Minta si batita menyusun bantal setinggi tubuhnya. Kemudian, susunlah bantal lain yang tingginya 2 kali lebih tinggi dari yang telah disusun si batita. Berikanlah penjelasan, bahwa tumpukan bantal Adek rendah, tumpukan bantal Bunda tinggi.
KONSEP PANJANG-PENDEK
* Ambil tangan kanan si kecil, mintalah untuk meluruskan tangannya ke depan. Kemudian, tempelkan tangan kiri Anda sejajar dengan tangan si kecil. Sampaikan bahwa, tangan Bunda panjang, tangan Adek pendek.
* Gunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah. Misal, sapu lidi yang digunakan untuk membersihkan atap itu panjang dan sapu untuk membersihkan lantai itu pendek. Selang untuk menyiram bunga lebih panjang daripada selang dari keran ke ember.
* Lakukan permainan sederhana. Contoh, menyusun kursi menjadi kereta api. Susunlah kereta api dengan 4 kursi dan kereta dengan 2 kursi. Tanyakan mana yang lebih panjang atau yang lebih pendek? Minta ia naik kereta api yang lebih panjang dan Anda menaiki kereta api yang lebih pendek.
KONSEP BANYAK-SEDIKIT
Salah satu contoh, ambil 2 buah stoples berukuran sama besar, lalu isi dengan permen; yang satu diisi penuh dan satunya lagi diisi setengahnya. Tanyakan pada anak, mana stoples yang berisi permen lebih banyak.

RAGAM MANFAAT BELAJAR KONSEP UKURAN
1. Kelak anak akan lebih mudah membedakan besar-kecil, tinggi-rendah, banyak-sedikit, panjang-pendek dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengembangkan kecerdasan visual-spasial, yakni kemampuan berpikir dalam bentuk tiga dimensi atau berkaitan dengan bidang ruang.
3. Mengembangkan kecerdasan logis-matematis, yakni kemampuan mengolah hal-hal yang bersifat matematis dan ilmiah. Mampu membedakan pola logika dan numerik serta menangani rangkaian penalaran yang panjang.
COBA-COBA SEPATU KEGEDEAN
Biarkan saja. Yang penting, ajarkan etika meminjam.
Gemar mencoba sepatu milik ayah-ibu atau orang lain adalah pemandangan yang kerap ditemui di usia batita. Si kecil terlihat asyik memakai aneka sepatu yang ada di hadapannya, tak peduli apakah sepatu itu kebesaran di kakinya. Sepertinya, kegiatan itu adalah suatu permainan yang mengasyikkan.
Sesungguhnya, perilaku ini merupakan perwujudan dari rasa ingin tahunya. Ia ingin mengeksplorasi dunianya dan ingin melakukan sesuatu yang berarti buat dirinya. Ini memang ciri anak batita, yaitu memiliki keinginan yang sangat besar untuk menjajagi lingkungannya, sehingga apa pun yang dilihat dan dipegangnya ingin selalu diketahuinya. Karena itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kesenangan si kecil mencoba-coba sepatu orang. Apalagi dari kegiatan ini, si kecil juga memperoleh manfaatnya (lihat boks).
Namun, mengingat sepatu yang dikenakan si batita, umumnya kepunyaan orang lain, maka orangtua hendaknya juga mengajari anak untuk meminta izin terlebih dahulu kepada si empunya sepatu. Dengan begitu, anak sekaligus belajar tentang aturan. Jadi, saat melihat si kecil beraksi dengan mencoba sepatu yang bukan miliknya, jangan dimarahi atau dihentikan, melainkan beri arahan.
RAGAM MANFAAT
Kegiatan mencoba-coba sepatu orang bisa menjadi ajang latihan bagi si kecil untuk:
* Mengembangkan keterampilan motorik halus.
Saat membuka, melepas dan memakai sepatu dengan jari-jarinya, si batita tengah melatih keterampilan motorik halusnya. Semakin sering berlatih, tentu kemampuannya semakin baik. Ia pun akan terampil memakai dan melepas sepatunya sendiri.
* Mengembangkan kemampuan otonomi.
Menginjak 2 tahun, anak mulai menunjukkan otonominya. Salah satunya adalah keinginan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Demikian pula dengan sepatu. Kalau biasanya ia dipakaikan, maka sekarang ada dorongan untuk menggunakan sepatu sendiri. Berikan kesempatan itu, meski sepatu yang digunakan adalah milik orang lain. Jangan lupa memberikan penghargaan berupa pujian bila si batita berhasil memakai sepatu dengan benar. Penghargaan ini akan membangun rasa percaya dirinya. Berikan pula kesempatan kepada si batita untuk memilih sendiri sepatu yang akan digunakan. Lambat laun, ia akan terbiasa mengambil keputusan sendiri. Ini dapat menimbulkan kepuasan tersendiri pada si batita karena memakai pilihannya sendiri.
* Belajar konsep besar-kecil.
Saat si kecil memakai sepatu milik ayah, misal, jelaskan padanya bahwa sepatu ayah terlalu besar untuk ukuran kakinya yang kecil. Kemudian berikan sepatu miliknya dan bandingkan dengan sepatu milik ayah yang dipakainya. Dengan demikian si batita dapat belajar mengenai konsep besar-kecil.
* Belajar konsep kanan-kiri.
Begitu pula dengan konsep kanan-kiri. Bila si kecil salah menempatkan sepatu yang dikenakannya, segera perbaiki. “Adek, sepatu yang ini untuk kaki kanan. Nah, ini kaki Adek yang kanan. Kalau sepatu yang ini untuk kaki kiri. Nah, ini kaki Adek yang kiri.” Bila kesalahan ini tak diperbaiki pada kesempatan pertama, maka akan lebih sulit untuk memperbaikinya kelak.
Utami Sri Rahayu. DIPERAGAKAN MODEL, FOTO-FOTO: IMAN/NAKITA
Narasumber:
Rahmi Dahnan Psi.,
Konsultan Yayasan Kita dan Buah Hati

Why is my toddler suddenly waking up hysterical at night?

source : http://www.babycenter.com/404_why-is-my-toddler-suddenly-waking-up-hysterical-at-night_1292621.bc

My toddler has always been a good sleeper, but all of a sudden he’s waking up and hysterical several times a night. What’s going on?

Expert Answers
Deborah Lin-Dyken, pediatric sleep disorders expert

It’s very common for even the best of sleepers to suddenly start having sleep problems, whether that means having a hard time falling asleep at bedtime or abruptly waking up during the night. Your toddler may be having night terrors, which are similar to sleepwalking but are more dramatic. Night terrors are often related to being sleep-deprived.

When your child “wakes up” with a night terror, go in and check on him but don’t speak to him or try to soothe him. Your child will resist being comforted and will appear confused and disoriented. Trying to soothe your child will only extend and intensify the sleep terror — even saying his name can make him more upset. Likewise, don’t try to vigorously awaken him. He may think you are attacking him. Instead, just let the night terror run its course, and stand nearby to make sure your toddler doesn’t hurt himself.

Your little one may also be having bad dreams. Your child’s imagination is developing, and that can’t help but carry over into his sleeping world. When he wakes up after a nightmare, go in and reassure him. A few moments spent soothing him should do the trick. Stay with him until he falls back to sleep if he asks you to. Don’t worry if he doesn’t want to talk about the dream. Sometimes nightmares aren’t about anything definitive, just a scary feeling.

Other common causes of night-waking in previously good sleepers include illness, separation anxiety or a looming developmental leap. In those cases, there are a couple of things to try, aside from treating the fever or throat or ear pain that’s making a sick toddler uncomfortable. First, make sure that your child is getting enough sleep in general. It may seem counterintuitive, but the less sleep your child gets, the more likely he is to have trouble settling down at bedtime and staying asleep through the night. So be consistent about putting him to bed for naps during the day and getting him to bed at a reasonable time in the evening.

When your toddler wakes up during the night, be soothing and calming, but boring. Let him know that everything is okay, but that it’s time to sleep. Keep the conversation to a minimum and the lights dim. It may take a few nights or even a few weeks to get back on track, but the closer you stick to his regular sleep routine, the sooner the problem will be resolved.

Kepekaan Indera Bayi

KEPEKAAN INDERA BAYI TENTUKAN KECERDASAN

Membicarakan stimulasi untuk bayi memang tak ada habisnya. Sesudah kelahiran, otak bayi mengalami lompatan perluasan jaringan. Jaringan ini muncul berkat berlangsungnya kegiatan listrik yang dipicu pengalaman indera si bayi. Lebih jauh, stimulasi melalui indera akan memperhalus sambungan dari cabang-cabang sel-sel saraf di otak.

Bayi baru lahir, seperti yang dapat dilihat dari tatapan matanya, memang sudah dapat melihat tetapi masih buram. Untuk bisa mencapai kemampuan melihat yang kompleks, indra penglihatan bayi harus dilatih sejak ia lahir. Kalau tidak, maka sistem penglihatannya tidak berkembang.

Melalui indera pendengarannya, bayi juga mulai belajar merangkai ritme dan bahasa, bahkan sejak dalam kandungan. Para peneliti menemukan, bahwa berbicara banyak pada bayi akan mempercepat proses penguasaan kata-kata baru. Kata-kata yang menyenangkan akan menghangatkan jiwanya. Ditambah sentuhan penuh kasih sayang, maka bayi pun belajar merangkai perasaannya. Perlakuan tidak baik pada bayi akan menghasilkan reaksi berupa kecemasan yang meningkat dan stres yang tinggi. Jadi jelas, stimulasi inderawi merupakan kebutuhan vital yang tak boleh tidak dipenuhi.

sumber :NAKITA

Ngeces Tidak Normal, Bila…

sumber : http://cidera-otak.blog.friendster.com

Oleh: Dr. Luh Karunia Wahyuni, SpRM

Sehari-hari sering kita jumpai anak balita dengan air liur yang menetes dari sudut bibir, terus menerus disertai mulut yang selalu terbuka, dapat diibaratkan seperti keran bocor. Anak seperti tidak peduli dengan pipi, dagu dan leher yang selalu basah. Kondisi seperti itu disebut drooling (ngeces).

Pada dasarnya kontrol terhadap ngeces terjadi bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Kontrol ini berhubungan dengan posisi tubuh anak, kegiatan yang sedang dilakukan anak, kemampuan anak mengontrol gerakan mulut serta tingkat perkembangan gerak anak.

Jangan-jangan tumbuh gigi
Ngeces sering terjadi saat anak sedang mempelajari keterampilan gerak yang baru dan berlanjut sampai anak mencapai kemampuan melakukan gerakan secara otomatis. Sering terjadi pula selama, sebelum dan setelah tumbuh gigi baru.

Pada usia 1-3 bulan, anak jarang ngeces karena produksi air liur masih minimal. Saat usia 6 bulan, anak akan ngeces pada posisi berbaring, terlentang, tengkurap atau duduk. Demikian bila anak mulai bicara (babling), meraih, menunjuk atau tumbuh gigi. Usia 9 bulan, anak dapat duduk atau merangkak tanpa ngeces. Pada usia ini anak akan ngeces saat makan makanan tertentu.

Pada usia 15-18 bulan anak ngeces bila melakukan gerakan halus seperti makan sendiri. Sedangkan pada usia 2 tahun anak seharusnya tidak ngeces lagi sekalipun melakukan gerakan yang sudah trampil seperti menggambar, makan sendiri atau bermain.

Jika kita cermati penjelasan di atas, ngeces pada usia tertentu masih dianggap normal. Penjelasan di atas dapat dipergunakan oleh orangtua sebagai patokan untuk mengenali apakah ngeces masih dalam batas wajar.

Tidak normal, bila…
Ada berbagai kondisi yang menyebabkan ngeces tidak lagi sebagai suatu keadaan yang normal misalnya:

* Mulut terbuka terus sehingga anak sulit menelan. Kita dapat mencoba merasakan menelan air liur saat mulut terbuka, betapa sulitnya. Mulut yang terbuka terus kemungkinan berhubungan dengan infeksi saluran napas yang kronis atau hidung selalu mampet.
* Frekuensi tidak adekuat sehingga air liur menumpuk dan terjadilah ngeces. Pada dasarnya manusia normal akan menelan ludah 2 kali per menit saat sadar dan 1 kali per menit saat tidur.
* Adanya gangguan pada saraf cranialis yang bertanggung jawab terhadap proses menelan.Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa.

Pentingnya Variasi

Baby Walker Tidak Membantu Anak Berjalan

http://mommygadget.com

Selain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat
mengakibatkan kelainan kaki. Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari
orang tua Indonesia yang tinggal di Australia:

Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena
banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan
ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini
jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan,
konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah
tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau
si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok… malah baby walker bikin
anak menjadi malas untuk berjalan…. .

Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang
bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia
akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di
sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih
banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L.
Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik
kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby
walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.

Sampai-sampai, desain “alat bantu” belajar jalan ini, tidak pernah sama
dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa “kadaluwarsa” oleh pihak
pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup
baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau
perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah
diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar
benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah.

Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah
terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi
baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. “Sementara desain
baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang
sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya,” ujar Karel. Akhirnya,
kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika
Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.

TERKESAN PRAKTIS

Lalu kenapa dong alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel
karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal
dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan
leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan
tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat
tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu
capek-capek menatih si kecil?

Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai
benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby
walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah
orang tua berpikir, “Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini
kan baik untuk persiapan fase berjalannya!” Namun, alasan penggunaan
baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi
keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia
menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua,
ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai
pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.

RIBUAN KASUS

Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus
bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby
walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut
rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka
kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.

Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan;
belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau
lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang
sering terjadi akibat penggunaan baby walker:

* Menggelinding di tangga. Kecelakaan ini kemungkinan besar
mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas. Ketika duduk dalam baby walker anak jadi
bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya
secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam. Tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby
walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu
tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya. Dengan baby walker, anak lebih mudah
meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang
tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit. Ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi
bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat
meraih celah daun pintu.

Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby
walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya.
Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan
bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1
detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan,
meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.

MENYEBABKAN KELAINAN KAKI

Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis
pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya,
aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker
hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot
betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot
paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.

Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan
motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar),
yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi
waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat
anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat
stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila
dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10
bulan bayi sudah bisa berjalan.

Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan
berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari
e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker
memang tidak menguntungkan, “Secara psikologis baby walker akan membuat
anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu
merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah
menjejakkan kakinya.”

Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki
pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan
bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker-nya diduga bisa
menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah,
banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak
berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.

Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan
otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang
akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya
lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.

ALAMI LEBIH BAIK

Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari
alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil
diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari
otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan
yang terbaik adalah yang alami. “Sangat baik anak belajar berjalan
secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai
otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih
maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih
menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang.”
Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai
pelajaran dari pengalamannya sendiri.

Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan
bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih
terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau
benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin
karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma
dan takut dilatih berjalan.

TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK

Sudah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses
perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan
pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan
motorik kasar anak secara garis besar:

0 – 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.

1,5 – 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90
derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita
maka kepalanya harus sudah bisa tegak.

3,5 – 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan
tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan
membolak-balik tubuhnya.

5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.

6 – 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun
kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan
merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka
bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti
mengalami perkembangan motorik yang normal.

7,5 – 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan
berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah
mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa
langkah.

12 – 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan

BABY WAKLER TIDAK MEMBANTU ANAK BELAJAR BERJALAN

Selain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat
mengakibatkan kelainan kaki. Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari
orang tua Indonesia yang tinggal di Australia:

Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena
banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan
ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini
jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan,
konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah
tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau
si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok… malah baby walker bikin
anak menjadi malas untuk berjalan…. .

Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang
bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia
akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di
sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih
banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L.
Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik
kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby
walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.

Sampai-sampai, desain “alat bantu” belajar jalan ini, tidak pernah sama
dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa “kadaluwarsa” oleh pihak
pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup
baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau
perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah
diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar
benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah.

Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah
terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi
baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. “Sementara desain
baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang
sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya,” ujar Karel. Akhirnya,
kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika
Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.

TERKESAN PRAKTIS

Lalu kenapa dong alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel
karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal
dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan
leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan
tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat
tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu
capek-capek menatih si kecil?

Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai
benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby
walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah
orang tua berpikir, “Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini
kan baik untuk persiapan fase berjalannya!” Namun, alasan penggunaan
baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi
keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia
menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua,
ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai
pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.

RIBUAN KASUS

Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus
bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby
walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut
rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka
kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.

Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan;
belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau
lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang
sering terjadi akibat penggunaan baby walker:

* Menggelinding di tangga. Kecelakaan ini kemungkinan besar
mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas. Ketika duduk dalam baby walker anak jadi
bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya
secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam. Tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby
walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu
tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya. Dengan baby walker, anak lebih mudah
meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang
tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit. Ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi
bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat
meraih celah daun pintu.

Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby
walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya.
Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan
bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1
detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan,
meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.

MENYEBABKAN KELAINAN KAKI

Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis
pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya,
aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker
hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot
betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot
paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.

Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan
motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar),
yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi
waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat
anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat
stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila
dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10
bulan bayi sudah bisa berjalan.

Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan
berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari
e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker
memang tidak menguntungkan, “Secara psikologis baby walker akan membuat
anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu
merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah
menjejakkan kakinya.”

Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki
pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan
bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker-nya diduga bisa
menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah,
banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak
berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.

Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan
otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang
akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya
lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.

ALAMI LEBIH BAIK

Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari
alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil
diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari
otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan
yang terbaik adalah yang alami. “Sangat baik anak belajar berjalan
secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai
otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih
maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih
menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang.”
Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai
pelajaran dari pengalamannya sendiri.

Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan
bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih
terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau
benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin
karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma
dan takut dilatih berjalan.

TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK

Sudah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses
perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan
pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan
motorik kasar anak secara garis besar:

0 – 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.

1,5 – 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90
derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita
maka kepalanya harus sudah bisa tegak.

3,5 – 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan
tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan
membolak-balik tubuhnya.

5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.

6 – 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun
kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan
merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka
bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti
mengalami perkembangan motorik yang normal.

7,5 – 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan
berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah
mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa
langkah.

12 – 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan

Anakku Kok Pendek Ya

Sumber : http://perempuan.kompas.com

KOMPAS.com — Tak perlu menunggu hingga anak duduk di SD, kala si kecil masih TK dan ia tampak kalah tinggi ketimbang teman-teman sebayanya (sementara ayah dan ibunya memiliki tinggi standar), sebaiknya Anda memeriksakan anak ke dokter.
Seperti diketahui, pertumbuhan tinggi badan (TB) anak selain dipengaruhi oleh faktor genetik, juga faktor lingkungan dan faktor hormon. Faktor genetik terkait dengan tinggi badan kedua orangtua. Ibu-bapak yang berperawakan tinggi, anak-anaknya pun kelak akan bertubuh tinggi. Begitu sebaliknya pada orangtua yang relatif pendek, kemungkinan anaknya akan berbadan pendek pula. Sepanjang tak ada kelainan genetik dan masalah gangguan kesehatan, anak dapat tumbuh dengan normal. Sementara, faktor yang dapat memengaruhi TB anak, antara lain gizi yang diperoleh sejak dalam kandungan, kondisi kesehatan anak, dan kondisi psikologis, dalam hal ini berkaitan dengan kasih sayang kedua orangtua.
Akan halnya faktor hormon yang memengaruhi TB adalah hormon pertumbuhan (growth hormone), IGF 1 (insulin like growth factor), dan hormon tiroid. Hormon pertumbuhan yang terdiri atas sekitar 191 asam amino spesifik yang terikat dalam struktur tiga dimensi ini, diproduksi di bagian depan kelenjar hipofisis di otak, berfungsi di masa fase anak dan pubertas.
Anak yang kekurangan hormon akan mengalami kekerdilan. Memang, saat lahir, pertumbuhan anak (dalam hal ini TB) akan tampak normal. Namun, setelah usia 1-2 tahun pertumbuhannya melambat. Kurangnya hormon pertumbuhan bisa karena kongenital atau ada sesuatu di otak, seperti tumor otak sehingga otak tidak dapat memproduksi hormon pertumbuhan tersebut atau ada kelainan pada reseptornya.
Untuk mengetahui anak memang betul pendek karena kekurangan hormon pertumbuhan tentu harus dipastikan dengan pemeriksaan hormon tersebut melalui uji stimulasi yang dilakukan di klinik atau rumah sakit. Pemberian hormon pertumbuhan yang sintetis bisa dilakukan dari luar lewat suntikan pen khusus atau dengan alat khusus tanpa jarum.
Tak boleh sembarangan
Pemberian hormon pertumbuhan tentu harus dilakukan oleh ahli, tepatnya dokter endokrinologi anak. Yang perlu diketahui, pemberian hormon memiliki efek samping. Pengaturan dosis dan juga evaluasi pengobatan harus dilakukan oleh dokter yang kompeten.
Hormon pertumbuhan hanya diberikan kepada anak bertubuh pendek yang memiliki indikasi antara lain: memang ada defisiensi hormon pertumbuhan dengan gejala adanya penurunan massa otot, tulang lemah, dan kadar berbagai lemak darah abnormal; anak mempunyai berat badan lahir kurang dari 2.500 gr (BBLR) dan ketika usianya 2 tahun tetap tampak kecil dibandingkan teman sebayanya; anak mengalami kemunduran perlahan pada fungsi ginjalnya yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah; anak berbadan pendek tanpa suatu sebab patologis dan mengalami sindrom Turner atau sindrom Prader Willy. Pada anak-anak yang tidak memiliki indikasi medis tadi tak boleh disuntikkan hormon pertumbuhan ini.
Dari penelitian yang ada, pemberian hormon pertumbuhan pada anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tersebut responsnya cukup baik. Bila pertumbuhan anak sudah normal sesuai potensi genetiknya, tentunya efek hormon pertumbuhan menjadi minimal sekali atau bahkan mungkin tidak ada.
Pemberian hormon pertumbuhan dilakukan sebanyak 7 kali dalam seminggu, dilakukan hingga bertahun-tahun sampai potensi pertumbuhannya sudah berhenti, untuk anak perempuan sampai usia 13-14 tahun, dan anak laki-laki sekitar 18 tahun. Umumnya pada anak perempuan, setelah mengalami menstruasi, pertumbuhan TB-nya akan berhenti, tak bertambah tinggi lagi.
Penelitian di Belanda juga mengungkap, pemberian hormon pertumbuhan selama 14 tahun saja ternyata rata-rata bisa menambah TB 7 cm/tahun. Untuk anak perempuan, penambahan TB sekitar 5-7 cm, sementara untuk anak laki-laki sekitar 6-9 cm. Meskipun hanya bertambah 7 cm, bagi anak yang merasa pendek, itu sudah cukup berarti.
Kalau usia potensi pertumbuhan sudah dilewati, di usia 18-20 tahun, otomatis tak ada obat maupun alat yang dapat membantu meninggikan badan.
(Dedeh Kurniasih/Nakita)
Narasumber: Dr. Aman Pulungan Sp.A (K)., dari divisi Endokrinologi bagian Ilmu Kesehatan Anak, RS Ciptomangunkusumo, Jakarta, Konsultan Endokrin Klinik Anakku Cinere dan RS Pondok Indah.