Studi Lain tidak Menemukan hubungan MMR dengan Autisme

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20446/studi-lain-tidak-menemukan-hubungan-mmr-dengan-autisme.html

Kalbe.co.id – Sebuah studi baru memberikan bukti lebih lanjut bahwa vaksin measles-mumps-rubella tidak terkait dengan peningkatan risiko autisme.

Kekhawatiran bahwa suntikan MMR bisa menyebabkan autisme pertama kali diangkat satu dekade yang lalu oleh dokter Inggris Andrew Wakefield, yang berdasarkan penelitian dari 12 anak-anak, mengusulkan bahwa ada kaitan antara vaksin dengan penyakit usus dan autisme.

Penelitian telah dilakukan sejak didiskreditkan secara luas, dan sejumlah studi internasional telah gagal untuk menemukan hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme.

Studi terbaru ini termasuk anak Polandia usia 2-15 yang telah didiagnosis dengan autisme. Peneliti membandingkan setiap anak dengan dua anak-anak yang sehat umur dan jenis kelamin yang sama yang telah dirawat oleh dokter yang sama.

Beberapa anak telah menerima vaksin MMR, sementara yang lain tidak diberi vaksin sama sekali atau telah menerima vaksin untuk melawan campak saja.

Polandia telah lebih lambat untuk memperkenalkan MMR dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, tapi selama sepuluh tahun terakhir, perlahan-lahan vaksin telah digantikan dengan suntikan campak saja.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan, anak-anak yang telah menerima vaksin MMR benar-benar memiliki risiko yang lebih rendah terkena autisme daripada yang tidak divaksinasi. Juga tidak ada bukti peningkatan risiko autisme dengan vaksin campak saja.

Menurut pemimpin peneliti, Dr Dorota Mrozek-Budzyn, dari Jagiellonian University di Krakow, orangtua harus yakin tentang keamanan vaksin MMR.

Dia mencatat bahwa penyakit menular yang dapat dicegah oleh vaksin MMR kadang-kadang dapat menjadi komplikasi serius.

Campak, misalnya, dapat mengakibatkan radang paru-paru atau radang otak, dan satu atau dua anak mati keluar dari setiap 1.000 orang yang tertular virus, menurut US Centers for Disease Control and Prevention. Gondok dapat menyebabkan pembengkakan testis menyakitkan, radang otak dan, dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan pendengaran.

Sebagian besar anak-anak dalam studi saat ini juga telah menerima vaksin MMR atau vaksin campak, menurut laporan di Pediatric Infectious Disease Journal.

Dari 96 anak-anak dengan autisme, 8 mereka belum pernah diberi vaksin untuk melawan campak, sementara sekitar 41 persen telah menerima suntikan MMR dan setengah telah menerima hanya vaksin campak.

Di antara anak-anak yang sehat, 55 persen telah mendapat suntikan MMR, sementara 45 persen telah menerima vaksin campak, hanya satu anak tetap tidak divaksinasi.

Ketika para peneliti hanya melihat anak-anak yang telah divaksinasi sebelum diagnosis autisme mereka, mereka menemukan bahwa anak-anak yang telah menerima vaksin MMR mempunyai risiko 83 persen lebih rendah dari anak-anak autis daripada tidak divaksinasi. Vaksin campak juga dikaitkan dengan resiko lebih rendah 56 persen.

Ketika para peneliti melihat pada anak-anak yang telah divaksinasi sebelum menunjukkan gejala autisme, vaksinasi MMR kembali dikaitkan dengan resiko yang lebih rendah dari gangguan. Vaksin Campak tunggal menunjukkan tidak berpengaruh pada risiko autisme.

Studi tidak menjawab pertanyaan mengapa anak-anak yang divaksinasi autisme memiliki resiko yang lebih rendah. Tapi satu kemungkinan, menurut Mrozek-Budzyn, adalah bahwa beberapa potensi anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda autisme, atau mungkin masalah-masalah kesehatan lainnya, sebelum menerima vaksin MMR atau vaksin campak. Dokter atau orang tua kemudian dapat menghindari vaksinasi.

Vaksinasi MMR Tidak Berkaitan Dengan Timbulnya Autisme

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-8yfsl0-tips.htm

Apakah autisme itu?

Autisme adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan gangguan perkembangan secara neurologik dimana individu yang mengalaminya akan mengalami gangguan pada kemampuan interaksi sosialnya dan keterampilan komunikasinya, serta kecenderungan untuk mengulangi suatu perilaku tertentu. Terdapat berbagai macam bentuk autisme, dari seseorang yang dapat berperilaku baik pada berbagai keadaan, sampai seseorang yang mengalami gangguan bicara dan keterampilan harian sederhana. Autisme biasanya didiagnosa pada usia balita atau usia prasekolah, walaupun ada juga yang didiagnosa pada usia yang lebih tua. Menurut laporan, sekitar 20% anak yang mengalami autisme mengalami sesuatu yang disebut sebagai �regresi�, yaitu mereka tampaknya mengalami suatu perkembangan normal tetapi kemudian kehilangan keterampilan komunikasi dan sosial. Anak laki-laki mempunyai resiko tiga sampai empat kali lipat untuk mengalami autisme dari pada anak perempuan. Autisme dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnik, dan sosial manapun. Berbagai macam faktor yang diduga berhubungan dengan autisme antara lain faktor infeksi, metabolisme, genetik, neurologik, dan lingkungan.

Faktor genetik dan kelainan otak pada saat lahir dianggap sebagai penyebab utama autisme.

Apakah vaksin measles-mumps-rubella (MMR) / campak-gondong-rubella dapat menyebabkan autisme?

Menurut bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini tidak ada satupun hipotesis yang mendukung pernyataan bahwa vaksin MMR, atau kombinasinya, dapat menyebabkan terjadinya autisme maupun bentuk autisme regresif. Pertanyaan-pertanyaan akan adanya kemungkinan kaitan antara vaksin MMR dan autisme telah diteliti secara luas oleh National Academy of Sciences, Institute of Medicine, Amerika. Penelitian ini menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti epidemiologi yang ada saat ini bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Apa saja yang telah dapat disimpulkan melalui penelitian tersebut?

Penelitian epidemiologi telah menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR pada anak dengan terjadinya autisme.

Apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kaitan antara autisme dan vaksin MMR?

Beberapa penelitian yang menyatakan ada kemungkinan hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme sebenarnya memiliki kekurangan dan kelemahan signifikan dan tidak dapat dibuktikan dengan nyata. Penelitian-penelitian semacam ini telah gagal dalam menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Penelitian tersebut meneliti dengan menggunakan jumlah kasus yang terlalu sedikit yang diperlukan untuk dapat menyimpulkan sesuatu secara umum. Selain itu, kasus yang diteliti bukan merupakan sampel yang representatif dan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai perbandingan.

Apakah vaksinasi MMR yang diberikan secara terpisah berdasarkan komponen individualnya, dengan kata lain menyuntik anak tiga kali secara terpisah, akan lebih aman dari pada satu suntikan kombinasi?

Tidak ada penelitian ilmiah atau data yang menunjukkan bahwa ada manfaat dalam pemberian vaksinasi MMR secara terpisah menurut komponen individualnya. Komite Institute of Medicine, Amerika yang menganalisa keamanan imunisasi telah menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung pernyataan bahwa sistem kekebalan bayi belum mampu menghadapi sejumlah antigen yang disuntikkan saat imunisasi rutin. Memisahkan vaksinasi MMR menjadi tiga dosis terpisah yang diberikan sebanyak tiga kali akan menambah ketidaknyamanan.

Apakah adik dari seorang anak autistik, atau anak dari seorang autistik dapat diberi vaksinasi MMR?

Ya. Bukti-bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa vaksin MMR, atau kombinasi apapu vaksin tersebut, dapat menyebabkan terjadinya autisme, termasuk bentuk autisme regresif.

Apakah vaksinasi sebaiknya ditunda sampai akibat negatif dari vaksin ini diketahui?

Tidak. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa vaksin yang diberikan pada imunisasi dapat menyebabkan akibat jangka panjang. Sebaliknya, seseorang dapat jatuh sakit dan meninggal dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini. (cfs/cdc.gov)

Waspadai Rubela Kongenital

sumber : http://versipdf.jawapos.co.id/index.php?detail=mt_det&file_det=003600241260

Muncul Lagi setelah 10 Tahun Menghilang

SURABAYA – Sindrom rubela kongenital, penyakit yang sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir jarang ditemui, belakangan muncul kembali. Penyebabnya,ditengarai banyak ibu yang tidak mau memberi anaknya vaksin infeksi campak dan gondongan atau MMR (mumps, measles, rubella).

Dokter Connie Untario SpA dari Rumah Sakit Mitra Keluarga, misalnya,
menemukan tiga kasus penderita sindrom rubela dalam tiga tahun terakhir.
Padahal, dia terakhir menemui sindrom penyakit yang biasa menyerang
anak-anak itu pada 1990-an saat masih kuliah di FK Unair. ”Saya heran, kok sekarang muncul lagi ya. Ada apa?” ujarnya.

Dia menjelaskan, sebetulnya infeksi rubela pada anak-anak merupakan penyakit ringan. Gejala yang tampak dari luar adalah munculnya bercak-bercak merah yang tidak permanen dan tidak tahan lama. Tapi, penyakit itu menjadi bermasalah jika menyerang ibu hamil. Terutama saat awal kehamilan. Bila tak segera ditangani, bayi bisa meninggal atau mengalami kecacatan saat lahir.

Efek lain, otak si anak bisa sangat kecil (mikrosevali). Lalu, timbul
katarak kongenital (lahir sudah katarak) dan jantung bocor. Menurut Connie, penyebab utama munculnya lagi sindrom itu adalah orang tua takut memberikan vaksin MMR kepada anak-anaknya. Padahal, vaksin tersebut terbukti ampuh membendung virus rubela.

Ketakutan tersebut, kata Connie, merupakan ekses sebuah kasus yang
menyiarkan bahwa MMR mengandung zat berbahaya (merkuri) yang bisa
menyebabkan anak menjadi autis. ”Padahal, kasus itu hanya menimpa satu orang, tapi gembar-gembornya sangat keras,” katanya tanpa menyebut rinci kapan kasus itu muncul.

Menurut dia, MMR sangat penting diberikan kepada anak-anak. Sebab, sejatinya vaksin tersebut merupakan kombinasi pencegahan terhadap virus rubela,campak, serta gondongan sekaligus. Jika pemberian pada ibu hamil tepat, potensi penularan sindrom rubela terhadap janin tidak akan terjadi. Jika diberikan kepada balita, penyakit campak juga akan terbendung.

Bahaya campak, kata Connie, bisa menyebabkan anak terkena infeksi pada telinga, peradangan paru-paru, hingga mengalami kematian. Anak juga bisa terkena gondong. Penyakit jenis itu akan membuat kelenjar patoris pada anak membesar. Yang paling gampang dilihat, anak akan mengalami demam dan sakit kepala hebat.

Menurut dia, vaksin MMR bisa diberikan kepada anak yang sistem kekebalan tubuhnya sudah berkembang. ”Ya antara usia 12-18 bulan lah,” katanya.
(nur/ari)