Kiat Perawatan Kulit Bayi

sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1179

Siapa yang bilang merawat kulit bayi yang lembut itu sulit. Para ibu bisa melakukan perawatan tersebut asal mengetahui kiat-kiatnya.

Mandi Teratur

Mandi dua kali sehari, pagi dan sore, sudah dapat membuat tubuh bayi bersih dan sehat. Mandi penting dilakukan untuk membebaskan si kecil dari kotoran atau kuman yang mungkin menempel di kulitnya, serta dapat mencegah datangnya biang keringat yang sering timbul di daerah-daerah lipatan, seperti dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian.
Setiap kali mandi, tubuh si kecil harus dibersihkan hingga ke lipatan-lipatan kulitnya. Inilah yang harus diperhatikan:

– Perhatikan suhu air mandi terutama untuk bayi baru lahir. Sebaiknya suhunya tidak terlalu panas atau dingin.

– Pilih sabun khusus bayi yang umumnya aman dan tidak menimbulkan iritasi. Sangat baik bila bilasan dilakukan dua kali untuk membersihkan bahan kimianya. Bila terjadi iritasi terhadap merek tertentu sebaiknya beralihlah, ke merek lain, jangan biarkan berlarut- larut.

– Daerah seperti sela jari jemari, ketiak, serta selangkangan, jangan sampai terlewatkan.

– Cara membersihkan alat kelamin bayi perempuan dan laki-laki berbeda. Pada bayi perempuan, basuh alat kelaminnya dari bagian depan ke belakang atau ke arah anus dengan menggunakan kapas atau waslap basah. Pada bayi laki-laki, tarik kulupnya perlahan-lahan hingga tampak lubang kencingnya, baru kemudian bersihkan dengan kapas atau waslap basah.

– Setiap kali bayi buang air besar, bilas anus dan daerah sekitarnya dengan menggunakan
air bersih yang mengalir. Kalaupun terpaksa menggunakan tisu atau kapas basah, pilihlah tisu basah khusus bayi yang tanpa alkohol. Alkohol dikhawatirkan bisa membuat kulit bayi teriritasi.

Pilih Pakaian yang Lembut

– Perhatikan bahan pakaian dan perawatannya.

Pakaian bayi penting diperhatikan karena pemilihan bahan pakaian yang tidak tepat dapat menambah risiko kulitnya teriritasi. Bahan yang kaku, keras, kasar, membuat panas, atau kelewat tebal juga dapat membuatnya rewel karena merasa tidak nyaman.

Berikut beberapa kiat yang sebaiknya dilakukan:

– Pilih pakaian dan popok berbahan lembut dan tipis dari bahan katun atau campurannya. Hindari bahan nilon yang umumnya membikin bayi gerah dan mudah keringatan. Kondisi ini akan mudah mengundang kuman atau bakteri yang mudah memunculkan ruam dan gatal-gatal. Jika bayi sudah bisa menggaruk, kemungkinan terinfeksi pun menjadi lebih besar.

– Hindari pakaian dan popok yang terlalu ketat, karena bisa membuat kulit bayi terluka bila lama tergesek bahannya.

– Ganti segera pakaian bayi bila terkena kotoran. Entah itu berupa muntahan, tumpahan makanan, apalagi jika terkena feses atau air seninya. Kontak kulit dengan feses dan air seni dalam waktu lama akan menyebabkan terjadinya ruam popok.

– Cuci pakaian bayi dengan sabun cair karena bahan kimia dalam sabun deterjen bubuk umumnya lebih tajam. Bila bahan deterjen ini tertinggal di baju sangat mungkin akan membuat kulit bayi teriritasi. Ibu juga boleh menggunakan sabun krim asalkan sabun itu terlebih dahulu dicampur dengan air dan menjadi cair. Pewangi pakaian tidak terlalu dianjurkan. Yang dikhawatirkan bukanlah kontak cairan pewangi itu dengan kulit bayi, melainkan aromanya yang dapat terhirup masuk ke dalam tubuh bayi. Asal tahu saja, aroma yang terkandung dalam pewangi pakaian mengandung bahan kimia.

Pilih Kosmetika yang Aman

Untuk meningkatkan kualitas perawatan kulit si buah hati, silakan saja orang tua menggunakan kosmetika bayi. Namun, gunakan kosmetika ini secara benar dengan mengikuti aturan yang tertera dan jangan berlebihan. Penggunaan kosmetika yang sembarangan dan cenderung berlebihan akan membuat sumbatan pada pori-pori. Sumbatan ini dapat memunculkan ruam yang dikhawatirkan akan menipiskan kulit bayi, disamping bahaya yang mungkin timbul jika diserap oleh tubuhnya.

Soal kebiasaan membedaki atau membalurkan minyak telon pada tubuh bayi setelah mandi, bisa dilanjutkan. Hal ini terbukti mengurangi kemungkinan terjadinya iritasi. Minyak telon juga dapat menghindari bayi dari gigitan serangga karena baunya yang menyengat dan tidak disukai serangga.

Hindari Sabun Keras

1, Bersihkan kulit dari kotoran yang menempel pada kulit seperti sisa makanan, air seni, dan tinja dengan air. Mandi dua kali sehari juga akan membantu membersihkan kulit. Jika kegiatan dan gerak anak sangat tinggi, mandi dapat dilakukan sampai 3 kali sehari.

2. Perhatikan sabun pembersih kulit. “Hindari sabun yang terlalu keras. Pilih sabun khusus untuk balita dan bayi yang memiliki pH 4.5-5 dan agak berminyak untuk menghindari iritasi. Gunakan pula pelembab berupa lotion dan krim khusus bayi dan balita. Fungsinya mempertahankan atau menambah kandungan air dalam kulit terutama bagian terluar kulit ari (epidermis). Berikan setelah mandi.

Hati-Hati Sengatan Sinar Matahari

Suhu lingkungan yang tidak pas buat si kecil akan membuat kulitnya bereaksi, misalnya langsung muncul warna kemerahan. Berkaitan dengan itu, lakukan hal, seperti:

– Hindari terpaan langsung sinar matahari terutama di siang hari. Berdasarkan penelitian, bayi yang seeing terkena sengatan sinar ultraviolet dari terik matahari di siang hari akan menghadapi risiko mengidap kanker kulit ketika dewasa.

– Bila ingin membawa bayi keluar rumah, gunakan pelindung seperti payung atau topi. Krim pelindung matahari (sunblock) bisa digunakan asalkan dikonsultasikan pada dokter terlebih dulu. Hati-hati jangan sampai mengenai mata, mulut, dan telapak tangan si kecil.

– Jika bayi harus dijemur untuk mendapatkan tambahan vitamin D demi pertumbuhan tulangnya, lakukan hal itu di bawah jam sembilan pagi. Pada daerah-daerah yang tingkat polusinya cukup tinggi, seperti Jakarta atau Surabaya, sangat dianjurkan menjemurnya di bawah jam delapan pagi.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tips Bepergian Bersama Bayi

SOURCE : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1545

Mother And Baby

Libur Lebaran kerap dimanfaatkan untuk bepergian bersama keluarga. Tetapi, kalau buah hati Anda masih bayi, bisa lain ceritanya. Liburan yang seharusnya menyenangkan, bisa kacau balau, hanya karena Anda tidak melakukan persiapan dan antisipasi yang cermat.

Agar perjalanan liburan keluarga nyaman dan menyenangkan, berikut tipsnya:

1. Perhatikan jadwal. Anda harus peka terhadap jadwal hariannya. Amatilah kapan ia biasanya makan dan kapan biasanya ia tidur. Ini penting, karena perubahan yang drastis bisa jadi masalah. Bayi jadi rewel, atau malah jatuh sakit.

2. Siapkan kebutuhannya. Identifikasi hal-hal apa yang dibutuhkan bayi Anda dalam perjalanan. Masukkan diaper, baby wipes, makanan selingan, susu, air putih, pakaian ganti, perlengkapan mandi dan kebutuhan khusus bayi lainnya dalam jumlah yang lebih dari cukup. Prinsipnya, lebih baik lebih daripada kurang. Bawa juga mainan favorit si kecil, agar dia tidak merasa bosan.

3. Jika naik pesawat. Perubahan tekanan yang cepat saat terbang bisa membuat telinga bayi tidak nyaman. Jika perlu, lindungi telinganya dengan filter lembut khusus untuk bepergian dengan pesawat. Jika tidak ada, biarkan bayi menghisap empengnya, atau sering-sering memberi minum karena dapat membantu mengurangi kadar sensitivitas telinga bayi terhadap perubahan tekanan.

4. Pengiriman awal. Agar tidak merepotkan dan bayi bisa senyaman di rumah, ada baiknya jika kereta dorong, kursi makan, dan perlengkapan bayi berukuran besar lainnya, dikirim ke tempat tujuan sebelum Anda melakukan perjalanan.

5. Perhatikan kapasitas bayi. Saat merencanakan tempat-tempat mana saja yang akan Anda kunjungi, perhatikan kapasitas dan kemampuan fisik bayi Anda. Misalnya, seharian berlibur di pantai mungkin terlalu berlebihan untuk bayi Anda.

6. Susu formula. Jika si kecil tak lagi minum ASI, pastikan Anda membawa seluruh perlengkapan untuk menyiapkan susunya. Mulai dari air panas, botol dalam jumlah banyak, cairan untuk mensterilisasi botol, penghangat botol, sikat botol dan wadah-wadah yang dapat menyimpan semua perlengkapan tersebut dengan higienis dan aman, wajib Anda bawa. Bila harus melakukan perjalanan jauh dengan mobil, rencanakan baik-baik, bagaimana Anda dapat memenuhi kebutuhan tertentu. Misalnya, mendapatkan air panas, memandikan bayi, menidurkan, dan sebagainya.

7. Perlindungan outdoor. Setiap kali Anda dan si kecil berada di luar ruang, gunakanlah sunblock bayi atau payung untuk melindunginya dari sinar matahari. Jangan lupa untuk juga membawa perlengkapan untuk melindungi bayi dari serangan nyamuk dan serangga. Siapkan juga perlengkapan P3K dalam daftar bawaan Anda.

8. Travel pack. Kurangi kerepotan dengan memanfaatkan aneka produk yang dirancang khusus untuk bepergian (travel pack), seperti baby wipes, perlak ukuran mini, produk perawatan dalam ukuran yang handy, dan lain sebagainya.

Meli Simarmata

Sumber: Majalah Inspire Kids

Minyak telon dan kayu putih

sumber : http://www.sehatgroup.web.id / milist sehat

Question : dear Dr. wati & SPs…Anak saya Nathan (9 bulan 26 hari) sampai sekarang masih mengunakan minyak kayu putih/telon setiap kali sehabis mandi. Dari lahir s/d usia 8 bulan selalu mengunakan minyak telon. 8 bulan keatas peralihan ke minyak kayu putih. selama pengunaan minyak telon/kayu putih belum pernah menimbulkan iritasi pada kulit Nathan. tapi baru-baru ini saya sempat kepikiran, apakah baik jika minyak telon/kayu putih dibaluri secara terus menerus ketubuh anak saya, apakah akan mempunyai dampak dikemudian harinya? selain keluhan umum sbb:kulit menjadi gelap, iritasi dsbnya, apakah masih ada efek lain yang dapat ditimbulkan? apakah minyak tersebut dibaluri ke tubuh jika dalam keadaan tertentu, sakit flu misalnya, atau bagaimanakah? jika memang pemakaian minyak-minyak tersebut aman & baik, kira-kira sampai umur berapakah anak tanpa minyak-minya lagi?selama ini memang saya belum menemukan dampak negatif pengunaan minyak-minyak tersebut. FYI; baru saja saya menemukan artikel yg menulis ttg no work penggunaan minyak telon/kayu putih, saya posting dibawah ini. Pro dan kontra semacam ini sering memusingkan. mohon kepada SPs & Dr. Wati utk pencerahannya
Best regards,
Sari (Nathan’s mom)

Answer 1 : MINYAK TELON/KAYU PUTIH AMANKAH? – SARIE – 170105
Sebetulnya kamu tidak perlu bingung sarie perihal kontroversi penggunaan kedua minyak iniSoal aman atau tidak terus terang saya tdk tahu … setahu saya belum ada penelitian jangka panjang dampak nya terhadap kita Dampak jangka pendek… sebagian anak memang bereaksi thd keduanya alias alergi Nah … saya pribadi suka “happy” kalau lihat ada bayi alergi sama keduanya … maafff … karena saya jadi punya alasan yg semakin kuat untuk menyatakan .. stop aja deh …Saya pribadi juga suka bingung kenapa sih bayi2 dikasih minyak2 an seperti
Baca lebih lanjut

Bedak Bayi

source : http://www.preventcancer.com/consumers/cosmetics/talc.htm

*Q. What is talc?*

A. Talc is a mineral, produced by the mining of talc rocks and then
processed by crushing, drying and milling. Processing eliminates a number of
trace minerals from the talc, but does not separate minute fibers which are
very similar to asbestos.

*Q. What kinds of consumer products contain talc?*

A. Talc is found in a wide variety of consumer products ranging from home
and garden pesticides to antacids. However, the products most widely used
and that pose the most serious health risks are body powders Talc is the
main ingredient in baby powder, medicated powders, perfumed powders and
designer perfumed body powders. Because talc is resistant to moisture, it is
also used by the pharmaceutical industry to manufacture medications and is a
listed ingredient of some antacids. Talc is the principal ingredient home
and garden pesticides and flea and tick powders. Talc is used in smaller
quantities in deodorants, chalk, crayons, textiles, soap, insulating
materials, paints, asphalt filler, paper, and in food processing.

*Q. Why is talc harmful?*

A. Talc is closely related to the potent carcinogen asbestos. Talc particles
have been shown to cause tumors in the ovaries and lungs of cancer victims.
For the last 30 years, scientists have closely scrutinized talc particles
and found dangerous similarities to asbestos. Responding to this evidence in
Baca lebih lanjut

Minyak telon dan kayu putih

dear Dr. wati & SPs…Anak saya Nathan (9 bulan 26 hari) sampai sekarang masih mengunakan minyak kayu putih/telon setiap kali sehabis mandi. Dari lahir s/d usia 8 bulan selalu mengunakan minyak telon. 8 bulan keatas peralihan ke minyak kayu putih. selama pengunaan minyak telon/kayu putih belum pernah menimbulkan iritasi pada kulit Nathan. tapi baru-baru ini saya sempat kepikiran, apakah baik jika minyak telon/kayu putih dibaluri secara terus menerus ketubuh anak saya, apakah akan mempunyai dampak dikemudian harinya? selain keluhan umum sbb:kulit menjadi gelap, iritasi dsbnya, apakah masih ada efek lain yang dapat ditimbulkan? apakah minyak tersebut dibaluri ke tubuh jika dalam keadaan tertentu, sakit flu misalnya, atau bagaimanakah? jika memang pemakaian minyak-minyak tersebut aman & baik, kira-kira sampai umur berapakah anak tanpa minyak-minya lagi?selama ini memang saya belum menemukan dampak negatif pengunaan minyak-minyak tersebut. FYI; baru saja saya menemukan artikel yg menulis ttg no work penggunaan minyak telon/kayu putih, saya posting dibawah ini. Pro dan kontra semacam ini sering memusingkan. mohon kepada SPs & Dr. Wati utk pencerahannya
Best regards,
Sari (Nathan’s mom)

Answer 1 : MINYAK TELON/KAYU PUTIH AMANKAH? – SARIE – 170105
Sebetulnya kamu tidak perlu bingung sarie perihal kontroversi penggunaan kedua minyak iniSoal aman atau tidak terus terang saya tdk tahu … setahu saya belum ada penelitian jangka panjang dampak nya terhadap kita Dampak jangka pendek… sebagian anak memang bereaksi thd keduanya alias alergi Nah … saya pribadi suka “happy” kalau lihat ada bayi alergi sama keduanya … maafff … karena saya jadi punya alasan yg semakin kuat untuk menyatakan .. stop aja deh …Saya pribadi juga suka bingung kenapa sih bayi2 dikasih minyak2 an seperti ini? kan baiknya natural aja … sampai suatu ketika .. saya setengah mati mencoba meyakinkan seorang ibu baru muda usia dan ibunya (nenek si bayi) … saya cengengesan jail bilang … ahhh capek praktek mending saya bikin pabrik minyak telon aja …. pasti kaya raya hehehe … Iya lho … di negara lain mah gak ada yg pakai kok .. mitos aja tuh kalau gak pakai minyak bla bla jadi kembung dll … ok?!
wati

Answer 2 : Dokter Wati & SPs….Saya mau ikutan tanya…..seperti yang Mbak Efi anjurkan, jika anak sedang pilek, kita letakkan seember air panas yang sudah diteteskan air panas +minyak kayu putih di ruang kamar. Rasya (2 th), sekarang ini sedang batuk pilek, tadi malam saya pakai keramik yang biasa saya gunakan untuk membakar wangi2an (aroma terapi), tapi airnya saya campur dengan minyak kayu putih. Pertanyaannya. boleh ngga ya Dok ? Soalnya dengan pakai keramik itu, aroma minyak kayu putih jadi lebih menyebar ke ruang kamar. Thanks…..
rgds
Lana

Answer 3 : Pak Samsul,Maksudnya combination itu, dalam satu “dosis” vaksin terdiri dr bbrp vaksin.Ada berbagai macam produsen utk vaksin kombinasi ini, spt TetraHib (kalau tidak salah produksinya Aventis, cmiiw) tdd dr vaksin DPT dan HiB.Ukurannyha sih normal aja ya pak, nggak perlu tabung yg besar. Vaksin kombinasi ini bisa diberikan simultan dg vaksin yg lain.
Ria

Q & A Pemakaian diapers & underware

28/09/2004
Q : Saya punya seorang bayi perempuan, umur hampir 10 bln, memakai diapers mami poko size M, 1 hal yg ingin saya tanyakan adalah: setiap pakai diapers, dia selalu muntah (tidak banyak, spt holap..gitu) padahal saya memakaikan diaper itu tidak kencang-kencang amat sehingga menekan perutnya..apakah ini disebabkan pemakai diapers atau hal lain. Bagaimana memakai kan diaper yg baik & benar..mohon solusi and penjelasannya.Terima kasih
Ning

A : NingThanks buat emailnyaSaya merasa, sulit menghubungkan pemakaian diapers dengan muntahnya anakmu.
Di lain pihak, saya bukan penggemar diapers. Jakarta kan panas sekali dan lembab. Pemakaian diapers mudah menyebabkan anak mengalami ruam kulit. Kalau boleh saya memberi saran, kurangi pemakaian diapers misalnya, hanya saat malam dan bepergian.Lalu kamu onserve ya.
Bagaimanapun, gumoh pada bayi umumnya bukan hal yang abnormal dan seiring waktu akan membaik dengan sendirinya. Coba kamu tinggikan posisi kepalanya setelah dia mimik
Wati

Pemakaian Underwear

Question : Dear SPs & Dr. Wati,
Saya ada beberapa pertanyaan:
1. Apakah akibatnya kalo anak laki2x balita tidak pernah pakai celana dalam(cd)?
2. Sebaiknya mulai usia berapa seorang anak laki2x HARUS mgnk cd?
Terima kasih atas bantuannya.
regards,
eny

Answer : Pagi semua,Mbak eny…Putra saya sekarang (17 bln) sejak usia 1 tahun udah pake cd…yang bermotif lucu..kebetulan semua cucu umi/ibu…(keponakan saya) semuanya laki-laki 11 orang.
Nah, dari pengalaman kakak-kakak saya yang semua anaknya laki-laki ini ada pengalaman lucu dan jadi pelajaran buat kami sebagai adik-adiknya…waktu anaknya yang pertama dan kedua…uni/kakak tidak membiasakan pakai CD…dan akhirnya dia (anak yang pertama) ga mau pake CD sampai masuk dan lulus dari SD…dan mau pake CD karena dia malu pas masuk SMP…sekarang dia udah kuliah.
Begitu juga dengan anak kedua. yang ini lebih parah. waktu anaknya kecil kira-kira umur 2 tahun lebih, kebetulan pakai celana yang ada resleting (zipper)…kejadiannya…habis pipis anaknya ini mo nutup resleting celana…alhasil penisnya (maaf) kejepit resleting…nangis kejer….sejak itu uni selalu pakein cd ke semua anaknya (kecuali yg pertama..males banget)…6 orang…semuanya laki-laki.
Kesimpulannya…untuk keamanan ya…dan juga kenyamanan.Untuk balita yang perempuan…saya ga tau…soalnya ga punya ponakan perempuan. tapi pastinya untuk kenyamanan lah ya. kita aja sebagai perempuan pasti ga enak dong kalo gak pake cd ya gak ?? he..he
Bunda Emra

POPOK BAYI MODERN PUN BISA SEBABKAN MANDUL

Setelah disposable diaper dibuat pertama kali oleh Victor Miller di tahun 1950, nama Pampers langsung melejit dan menjadi populer di seluruh dunia. Orangtua merasa senang dengan inovasi popok modern ini. Bagi mereka, disposable diaper adalah solusi yang tepat untuk masalah pipis dan berak para bayi. Selain bayi bisa tidur tenang karena “tidak terganggu” basah, orangtua pun senang karena tidak perlu mendengar tangis bayi karena ngompol. Tapi beberapa waktu lalu, sebuah penelitian memaparkan kalau disposable diaper sangat tidak aman bagi bayi. Selain masalah ruam popok, disposable diaper disebut-sebut sebagai salah satu pemicu munculnya kanker dan kemandulan.
Seorang ibu rumah tangga bercerita kalau bayinya yang berumur satu bulan mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Ia mencoba beberapa diaper dari yang murah hingga yang mahal (produk impor) tapi hasilnya tetap sama, daerah di sekitar pantat bayi menjadi kemerahan dan nampak lecet. Ia berpikir kalau disposable diaper akan membuat bayinya tetap kering seperti yang diiklankan di televisi, dan terhindar dari ruam popok. Tapi nyatanya?. Bayi mungilnya tak urung sembuh. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke popok kain. Memang pada awalnya, ia rela membayar mahal demi kenyamanan bayinya dengan popok modern. Namun setelah berpikir untung ruginya, ia menyadari kalau popok kain adalah pilihan terbaik untuk putranya. Lain halnya dengan ibu tadi yang hanya dipusingkan dengan masalah ruam popok, Consumer Protection Agency melaporkan masalah sehubungan dengan pemakaian disposable diaper, mulai dari pembakaran bahan kimia, pemakaian bahan kimia
berbahaya dan bau insektisida sampai kelakuan bayi yang sering menarik dan meletakkan disposable diaper ke hidungnya atau mulutnya.
Menurut laporan Journal of Pediatrics terdapat 54% bayi berumur 1 bulan yang mengalami ruam popok setelah memakai disposable diaper. Dalam artikel yang berjudul Disposable Diapers : Potential Health Hazards, Cathy Allison menyatakan kalau Procter & Gamble (produsen Pampers dan Huggies) melalui penelitiannya memperoleh data mencengangkan. Angka ruam popok pada bayi yang menggunakan disposable diaper meningkat dari 7,1% hingga 61%. Sementara itu Mark Fearer dalam artikelnya yang berjudul Diaper Debate-Not Over Yet menyatakan beberapa hasil studi medis menunjukkan angka peningkatan ruam popok dari 7% pada tahun 1955 sampai 78% pada tahun 1991.
Penyebaran ruam popok merupakan fenomena yang terjadi di permukaan disposable diaper. Hal itu disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia, kurangnya udara, temperatur tinggi karena dilapisi plastik yang sifatnya mempertahankan kalor (panas) di area popok, dan bayi jarang ganti karena mereka merasa kering meskipun pantat dalam keadaan lembab (basah).
Sebenarnya masalah ruam popok bisa diatasi dengan mengganti diaper sesering mungkin. Procter & Gamble melaporkan kalau rata-rata konsumen produk mereka mengganti diaper 5 kali sehari. Tapi beberapa peneliti dan ahli medis menyarankan agar mengganti diaper setiap 2 jam sekali. Jika masalahnya hanya ruam popok mungkin masih bisa dianggap enteng, orangtua hanya perlu membayar lebih mahal (dengan sering mengganti diaper) supaya bayinya bebas ruam popok. Tapi bagaimana dengan isu kanker dan kemandulan yang dikait-kaitkan dengan disposable diaper?
Pemicu Kanker dan Kemandulan
Pada tahun 2000 beberapa peneliti dari Universitas Kiel, Jerman melakukan sebuah riset mengenai Archives of Desease in Childhood yang dimuat dalam British Medical Journal. Penelitian yang melibatkan 48 bayi laki-laki itu dilakukan selama setahun untuk mengetahui efek yang ditimbulkan oleh disposable diaper. Para peneliti yang melakukan studi tersebut melaporkan bahwa bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat dibanding yang tidak memakai.. Bagi seorang bayi laki-laki yang skortumnya sedang berkembang, hal tersebut merupakan perkara yang serius. Karena untuk memproduksi sperma dalam jumlah yang banyak, skortum harus bisa menjaga temperatur testis supaya suhunya lebih rendah dari suhu badan. Oleh sebab itu kenaikan satu derajat pun akan merusak kinerja skortum sebagai “mesin pendingin” testis.. Tentu saja fenomena ini akan membuat produksi sperma terganggu, yang berarti
kesuburan pria akan menurun. Peneliti yang melakukan studi tersebut menyatakan, “peningkatan temperatur skortum yang disebabkan oleh pemakaian disposable diaper akan mempengaruhi kualitas sperma bayi laki-laki dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.” Mereka juga mengatakan kalau fisiologi mekanisme pendingin testis mengalami kerusakan secara signifikan.
Dalam melakukan studinya mereka juga meneliti pria Eropa yang lahir pada tahun 1975 (tidak lama setelah disposable diaper menjadi begitu populer dan digandrungi). Para peneliti itu terkejut dengan penemuannya, ternyata jumlah sperma pria Eropa mengalami penurunan hingga 25% dalam 25 tahun terakhir. Sekitar 27000 pria Inggris yang sudah menikah menjalani perawatan ketidaksuburan setiap tahunnya, dan angka kejadiannya meningkat hingga 55% pada tahun 1995. Tim Hedgley, ketua National Fertility Assosiation mengatakan, “penelitian ini begitu mengejutkan dan penting untuk diketahui.”
Sementara itu, Dr. Simon Fishel, direktur Centre of Assisted Reproduction (Nottingham, Inggris) mengatakan, “teori tersebut sangat masuk akal dan saya tidak terkejut dengan hasilnya. Bagaimana pun disposable diaper dapat meningkatkan temperatur skortum bayi laki-laki dan tentu saja hal itu merupakan masalah besar karena kinerja skortum akan terganggu.” Sayangnya produksi besar-besaran disposable diaper tidak disertai penelitian terlebih dahulu terhadap efek sampingnya. Sehingga ada kemungkinan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh pemakaian disposable diaper.
Bahan Kimia Berbahaya dalam Disposable Diaper
Isu kenyamanan yang digencarkan oleh produsen diaper selalu berkisar pada masalah daya serap tinggi yang membuat kulit bayi tetap kering. Yah, tentu saja, Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Ketika disuntikkan pada tikus percobaan menimbulkan hemorhage, kegagalan kardivaskuler, bahkan kematian. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.
Bahan kimia lain yang terkenal tingkat bahayanya adalah dioxin. Dioxin dihasilkan dari proses produksi pemutih kertas. Sementara itu proses produksi disposable diaper menggunakan dioxin dalam bentuk gas klorin. Dalam artikel yang berjudul “Whitewash; Exposing the health and environmental dangers of woman’s sanitary product and dsposable diaper – what you can do about it”, Liz Amstrong dan Adrienne Scott menyatakan kebanyakan industri kertas melakukan proses pemutihan dengan menggunakan pulp whiter daripada klorin. Penyebabnya tak lain adalah bahan kimia yang termasuk dalam organoklorin (termasuk di dalamnya dioxin) ini sangat beracun dan bersifat persisten (menetap dalam tubuh).
Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.
Pada tahun 1999 The Archive of Environtmental Health melaporkan sebuah studi yang dilakukan oleh Anderson Laboratories. Dalam studi tersebut mereka membuka kemasan diaper lalu meletakkannya di dekat tikus-tikus percobaan. Tikus-tikus yang terekspos diaper tersebut menderita bronchoconstriction yang menyerupai serangan asma Tak hanya itu, tikus-tikus tersebut juga mengalami iritasi mata, kulit dan tenggorokan. Di dalam sebuah ruangan yang luas sekalipun emisi dari disposable diaper cukup mampu membuat tikus-tikus ini terserang asma. Bahan kimia yang ditemukan dalam disposable diaper yang mampu menyebabkan iritasi tenggorokan antara lain tolune, xylene, ethylbenzene, styrene, dan isopropylbenzene.
Tentu saja berbeda dengan popok kain yang terkenal aman karena tidak mengandung bahan kimia. Tikus-tikus percobaan tidak mengalami gangguan pernafasan seperti tikus-tikus yang terkena emisi diaposable diaper. Jadi sekarang saatnya mempertimbangkan lagi penggunaan disposable diaper supaya bayi aman dari efek jangka panjang yang ditimbulkan oleh disposable diaper.