TV Free For Toddler

TV Free Ideas for Your Toddler

Not turning on the TV in the early hours of the day may feel next to impossible to the exhausted parent. Here are some suggestions for active pursuits, and while they do take parental energy, they result in more engaged parent/child interactions (and who knows, perhaps, your child will learn to sleep longer if the excitement of the tube is no longer available).

  1. Work on age-appropriate puzzles. If you can, you may want to purchase new puzzles for this week.
  2. Make a puzzle. Help your child make a puzzle by cutting an old photo, greeting card, or calendar picture into large pieces. Let him or her put the pieces back together on a sheet of paper.
  3. Read aloud. Get new books out of the library. Read familiar favorites. Help your child make an indoor fort using a sheet, blanket, or towel. “Build” it over chairs. Let your child read books with a flashlight inside the fort.
  4. Read a map. Take a look at any map, and, depending on the type of map, point out major roads, highways, exits, mountains, bridges, bodies of water.
  5. Organize photo albums. Put photos into albums. This depends on your child’s age. (If your child is too young you may end up with scattered, chewed on photos — so be careful.)
  6. Write letters. Compose letters to friends and family, detailing your week’s past activities. Little children can be encouraged to write or use stickers to help spell out words.
  7. Dance to Music. Let your child draw a flag on a piece of paper. Attach a stick to one end, turn on the radio to lively music, and let your child march around the house carrying the flag.
  8. Organize closets. Have younger children help you sort and older children can be assigned a particular closet to do by themselves.
  9. Play trains, blocks, or arts and crafts. Challenge your imaginations. Here are two quick ideas:
    1. Make a bouquet of flowers out of opened-up cupcake liners. Write a message at the center of each flower for someone special. Glue or tape a straw or popsicle stick for a stem. Tie the flowers together with a ribbon.
    2. Make a collage by cutting out pictures of healthy foods from magazines and glueing them on construction paper. Then try to eat those healthy foods throughout the day.
  10. Plan the night before. Take a few minutes to discuss the routine with your child before bed the night before. For example, “In the morning, we aren’t going to watch TV. When we wake up, we’ll get washed and dressed, eat breakfast and then do x, y or z.”

TV-Otak Bayi Tumpul

TV Membuat Otak Bayi Tumpul

Hasil Penelitian

Stasiun TV kerap menawarkan program khusus untuk anak dan bayi. TV mengklaim program tersebut bagus untuk perkembangan anak dan bayi.
Nyatanya, sejumlah peneliti dari dokter spesialis anak menyimpulkan TV sama sekali tak ada gunanya bagi bayi.

Bahkan TV menjadi penyebab otak bayi tak berkembang dan tumpul.
“Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi,” demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat
dalam majalah kedokteran Jerman, Neu-Isenburg, belum lama ini. Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm,
Hamburg, Jerman. Menurut Spitzer, bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi. Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di AS, sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa Cina sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi. Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa
Cina namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun. Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya. Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1.000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata delapan persen lebih banyak dari rata-rata. Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata.
Video Bayi
Sebuah penelitian juga dilakukan di AS, tahun lalu, juga mengungkapkan, rekaman yang dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhan otak bayi malah justru memperlambat perkembangan kosakata pada bayi, jika semua itu digunakan secara
berlebihan. Peneliti dari University of Washington, Frederick Zimmerman, mengungkapkan, video khusus bayi itu justru membuat bayi yang berusia antara delapan bulan hingga 16 bulan memahami kata-kata lebih sedikit. Bayi yang menonton video dan DVD bayi selama empat jam per hari rata-rata memahami enam sampai delapan kata lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang tidak
menontonnya. Bayi yang lebih tua tak terpengaruh atau terbantu oleh video itu, kata para peneliti tersebut dalam Journal of Pediatrics. “Fakta paling penting yang datang dari studi ini ialah tak ada bukti jelas mengenai manfaat yang berasal dan DVD dan video, dan ada petunjuk mengenai keburukannya, ” kata Zimmerman.
Zimmerman dan rekannya melakukan wawancara telepon secara acak dengan lebih dari 1.000 keluarga di Minnesota dan Washington yang memiliki bayi dan mengajukan pertanyaan terperinci mengenai kegiatan menonton video dan televisi.
“Hasilnya mengejutkan kami, tapi semuanya masuk akal. Hanya sejumlah jam terbatas saat bayi melek dan sadar,” kata Andrew Meltzoff, ahli psikologi yang ikut dalam studi itu. “Jika bayi belajar mengenal kata lewat DVD dan TV, dan bukan dengan orang yang berbicara dengan cara kebapakan atau keibuan, gaya bicaya melodis yang kita gunakan dengan anak kecil, bayi tak memperoleh pengalaman linguistik yang sama,” kata Meltzoff. Dua penelitian ini sepakat orangtua
adalah guru pertama dan terbaik bagi bayi. Bayi secara insting menyesuaikan cara bicara, pandangan mata, dan tanda sosial guna mendukung ketepatan bahasa.
Menonton TV dan DVD yang menarik perhatian mungkin bukan pengganti yang setara bagi interaksi hangat sosial manusiawi pada usia ini.

Televisi-Pengaruh Buruk Otak

Televisi Memberi Pengaruh Buruk Pada Otak Bayi

Jauhi Anak dari Televisi
Televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi, demikian dikatakan oleh sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini.

Bahkan acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi,” demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.

Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, demikian laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian rofesor Manfred Spitzer dari Ulm.

Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari ampilan benda maupun suara dari televisi, demikian dikatakan. Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.

Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.

Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya.

Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia 8 hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.

Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara “Baby TV” atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. (ant/ly)

Should Babies and Toddlers Watch Television?

Elizabeth Pantley

So much television programming is aimed at young children. Much of it appears to be educational: teaching the ABCs and life skills. When is it appropriate to introduce a baby to television, and what do parents need to know about this topic?

A great deal of research has been done on the effects of television on children’s lives. The first step in making the decision is to get the facts. Because nearly all of us have one or more TV sets in our home, and since most of us watch some TV nearly every day, we may not want to hear what research tells us, but these are things parents need to know.

• Experts suspect that babies younger than two years old view TV as a confusing array of colors, images, and noises. They don’t understand much of the content. Since the average TV scene lasts five to eight seconds, your baby or toddler doesn’t have enough time to digest what’s happening.
• Cartoons and many children’s shows are filled with images of violence. If you find this hard to believe, surf the TV on Saturday morning. The realism portrayed in today’s cartoons has moved light years beyond the Bugs Bunny type of violence. Many children’s shows almost are animated versions of adult action films. Research shows that exposure to this type of programming increases the risk of aggressive behavior and desensitizes children to violence.
• Babies and toddlers have a very literal view of the world. They can’t yet tell the difference between real and pretend, and they interpret what they see on TV as true life. Research has demonstrated that many young children believe that TV characters actually live inside the TV set. This can confuse young children’s understanding of
the world and get in the way of their learning what’s right or wrong. It can paint a picture of a frightening, unstable, and bewildering world ⎯ and your little one does not yet have the faculties to put what he sees into proper perspective.
• Television watching can be addictive. The more that children watch, the more they want to watch. Even toddlers can become drawn to the set. Once addicted, turning off the TV can become a daily battle. Children who watch TV excessively often become passive and lose their natural creativity; they eventually have a hard time keeping themselves busy, and they lose valuable time that should be dedicated
to “play” ⎯ the foundation of a healthy childhood and the primary way that very young children learn.
• Parents sometimes unwittingly begin to use TV more and more as a way to keep their children happy and quiet. It takes a strong will and dedication to avoid the easy route provided by this free and easy ⎯ yet sometimes dangerous ⎯ babysitter.
• Children experience unparalleled physical, mental, and emotional growth in the early years of life. Time spent watching television is time taken away from more healthful activities that nurture growth and development.
• Children who watch a lot of television during their early years are at risk for childhood obesity, poor social development, and aggressive behavior. They often have trouble adjusting to preschool or kindergarten. According to a study by Yale Family Television Research, teachers characterized children who watched excessive television as less cooperative, less imaginative, less enthusiastic about learning,
and less happy than those who watched little or no TV.

You may have noticed that all of these points demonstrate the negative aspects of letting babies and toddlers watch TV, and you’re wondering if there are any positives. There are a few, but I’ll be honest: I had to be very creative to come up with this list, since published research doesn’t demonstrate many good points for putting a young
child in front of a television. But we need to be realistic and acknowledge that most of us aren’t going to put our TVs in the closet until all of our children start school. Here are some of the good points of television for children:

• Quality children’s programming can teach your child basic academic skills, such as the ABCs, counting, addition, science fundamentals, basic language skills, manners, and even early reading skills.
• Your child can view things she might not otherwise see in daily life: exotic animals, distant lands, musical instruments, historical places, and diverse lifestyles. Your child can learn about the world beyond her home and neighborhood.
• Your child can learn basic social skills from watching wholesome programming: how to play with other children, how to use good manners.
• Using extraordinarily careful selection and restraint, a little bit of television can provide a parent with much-needed down time, or time to catch up on tasks that need adult-only attention.

TV Watching Tips for Parents of Babies and Young Children Pantley suggests that the following tips may help you minimize the negative and maximize the positive effects of television watching for your little one:
• Hold off introducing television ⎯ even videos ⎯ to your baby as long as possible. If you wait until your child’s second birthday, you can consider yourself incredibly successful in starting your little one off well and with the kind of real-life interaction that is so important for his development. If you decide to allow TV before
your child turns two, choose programming carefully, limit viewing time and skip days when possible. The less time, the better! Set a goal, such as no more than 30 minutes or an hour per day, or one favorite show, so that you’ll not be tempted to turn the TV on too frequently.
• Watch programs yourself before you allow your baby or toddler to watch them. Just because a network markets a show to young children doesn’t mean it will reflect your own family’s morals and values. You will be amazed to discover that many programs aimed at children contain violence or topics that are inappropriate for your child. Don’t assume that your baby can pick out the moral message from a program that features violence or conflict on the way to an important lesson.
• Pay attention also to commercials ⎯ surprisingly, an excellent children’s show will sometimes feature commercials that depict the exact things you don’t want your little one to see!
• Choose programs that are developmentally appropriate for your child. For you, this means slow, boring, and probably somewhat goofy. But choose from your child’s perspective, not your own.
• Invest in a collection of appropriate and educational videos for your child so that you won’t be confined to network programming schedules when you are ready to let your little one watch something.
• Watch along with your child when you can so that you can monitor your child’s reactions to what he’s seeing. Invite questions and discuss what you are watching so that you can understand your little one’s take. Point things out and talk about what is being taught to get the most of out of educational TV. You may even follow up with some lessons afterwards.
• Avoid keeping the TV on when no one is actively watching. Many people do this and are used to the background noise the set generates, but your child will almost surely be exposed to programming that is inappropriate for her.
• Make a conscious decision about how you will use television in your family; don’t watch it by accident or default.

This article is a copyrighted excerpt from Gentle Baby Care by Elizabeth Pantley. (McGraw-Hill, 2003)

Elizabeth Pantley is a parent educator and the author of many parenting books.

Sinar Biru Ancam Mata

Sinar Biru Ancam Mata si Buah Hati

KETERBATASAN pengetahuan orangtua terhadap bahaya sinar biru membuat anak-anak rentan mengalami gangguan mata. Bagaimana tidak, aktivitas sehari-hari sang buah hati sangat dekat dengan sumber sinar biru, salah satunya dari layar televisi.

Bukan perkara sulit menemui seorang anak yang tengah menonton tv. Karena inilah aktivitas yang paling banyak dilakukan anak-anak saat ini. Tidak aneh bila kalangan pendidik, sudah memberikan peringatan terhadap pengaruh buruk terlalu banyak menonton tv terhadap perkembangan seorang anak.

Bukan hanya itu, perkembangan kesehatan mata anak pun ikut terancam. Pancaran sinar dari layar televisi merupakan salah satu sumber sinar biru, selain pancaran sinar matahari, lampu neon, dan komputer. Sinar yang memiliki panjang gelombang cahaya 400-500 nm pada spektrum sinar yang masih dapat diterima mata bisa menyebabkan kerusakan dan menimbulkan luka fotokimia pada retina mata anak.

“Jika hal ini terus berkelanjutan bisa menyebabkan makula degeneratif yang terjadi pada anak saat dewasa,” ujar Konsultan Pediatrik Ophtalmologis/ Spesialis Mata Anak Departemen Mata FKUI/ RSCM dr Rita S Sitorus PhD SpM(K). Dalam jangka waktu pendek, dampak sinar biru dapat mengganggu kerja retina sehingga menghambat proses pembelajaran melalui mata.

Sinar biru merupakan sinar proses pembelajaran melalui mata yang bersifat paling merusak dan dapat mencapai retina. Bayi dilahirkan dengan lensa yang relatif jernih atau bening yang secara bertahap dan alami berubah menjadi kuning sejalan dengan usia. Risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru yaitu sekitar 70- 80 persen sinar biru dapat mencapai retina pada usia 0-2 tahun dan 60-70 persen pada usia 2 hingga 10 tahun. Adapun sinar biru yang mencapai retina pada usia 60 hingga 90 tahun hanya mencapai 20 persen.

Untuk memberikan perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan sedini mungkin, salah satunya dengan asupan lutein. “Lutein dapat membantu melindungi mata, terutama retina, dari kerusakan dengan cara menyaring sinar biru dan juga berperan sebagai antioksidan dengan cara menetralisasikan radikal-radikal bebas,” ungkap Rita S Sitorus.

Menurut dia, bagian luar fotoreseptor di dalam retina adalah bagian yang cenderung mudah terkena peroksidasi karena tingginya asam lemak.

Bagian luar fotoresptor inilah yang tinggi akan lutein. Lutein berperan sebagai antioksidan dan memberi perlindungan pada mata. Tubuh tidak dapat mensintesakan lutein. Karena itu kebutuhan lutein harus disuplai dari luar tubuh, salah satunya dari makanan seperti sayuran, buah, suplemen, dan terutama ASI. Namun, bahan makanan yang mengandung lutein biasanya tidak disukai, dan jarang dikonsumsi bayi dan balita. Hasil penelitian menunjukkan, hanya sekitar 10 persen anak yang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari.

Kecukupan lutein pada makanan dapat membantu menjamin perkembangan mata yang sehat pada bayi dan anak. Mata merupakan salah satu indra penting bagi proses belajar.

Konsultan Neurologi pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dr Dwi Putro Widodo SpA(K) Mmed mengatakan, fungsi penglihatan (visual) adalah salah satu bagian dalam perkembangan kognitif.

Perkembangan visual adalah jendela dalam sistem kecerdasan dan menjadi petunjuk penting bagi kebutuhan nutrisi otak. “Ada beberapa nutrisi penting untuk menjaga kesehatan mata, yaitu Vitamin A, AADHA, Taurine, dan Lutein. Lutein adalah jenis karotenoid alami yang dapat membantu melindungi mata bayi dan batita yang masih peka dari bahaya sinar biru. Lutein terdapat pada ASI dan juga sumber makanan lain, seperti sayuran hijau dan buah berwarna kekuningan,” ujarnya.

Pada 2004, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA-US) menyetujui ketentuan dari pengakuan umum tentang keselamatan (GRAS) bagi lutein dari Tagetes erecta I.

Sebagai zat nutrien bagi makanan bayi dan susu formula. Setahun kemudian, Komite Evaluasi Gabungan untuk Zatzat Tambahan pada Makanan (ZECFA) dari WHO/CODEX menetapkan bahwa lutein dari bunga marigold aman digunakan sebagai suplemen nutrien bagi makanan. WHO menetapkan asupan harian yang diperoleh (Allowable Daily Intake/ADI) sebanyak 2 mg per kg berat tubuh per hari, yang ribuan kali lebih besar daripada kadar yang terdapat pada susu formula. (lenny handayani/sindo/mbs)

sumber: okezone

Komputer Bagi Anak

“Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak”

Pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai Media tutorial, alat peraga dan juga alat uji dimana tiap fungsi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.

Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0 -2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2 – 7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7 – 12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya.

Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat “Edutainment” yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi “Edutainment” tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia.

Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download).

Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi “Teleconference” (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.

Nonton TIVI

NONTON TIVI: Tak Cukup Hanya Berbekal Mata .
Published July 20th, 2007 Uncategorized 0 Comments

Coba simak data-data berikut ini. Dalam seminggu, anak-anak di Indonesia menonton televisi selama 30-35 jam, atau 1560-1820 jam setahun. Angka ini jauh lebih besar ketimbang jumlah jam belajar di sekolah dasar yang tak lebih dari 1000 jam/tahun. Maka, ketika seorang anak menginjak usia SMP, dia sudah menyaksikan televisi selama 15.000 jam. Sementara, waktu yang dihabiskannya untuk belajar tak lebih dari 11.000 jam saja (Nielsen Index). Kesimpulannya, lebih banyak waktu dihabiskan untuk nonton tivi daripada belajar! Kidia, sebuah lembaga riset dan advokasi media anak mencatat, saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar mencapai 80 judul setiap minggu, yang ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal, dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Artinya, porsi tayangan program anak di televisi sudah berlebihan, melebihi jumlah jam dalam setiap minggu. Bisa dibayangkan betapa banyaknya program televisi yang membombardir anak-anak. Padahal, dari sekian banyak program televisi, hanya 15 persen saja yang dikonsumsi anak-anak.

Masalahnya, kalau acara televisi yang aman dikonsumsi oleh anak-anak jumlahnya hanya 15 persen, maka bagaimana dengan sisanya? Lalu, bicara riil saja, apa saja sih yang ditonton oleh sekitar 60 juta anak Indonesia yang menghabiskan waktu selama berjam-jam hampir sepanjang hari di depan televisi? Guntarto, aktivis media mengungkapkan, anak-anak menonton apa saja karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas. Mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang permisif dan penuh kekerasan, intrik, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Acara-acara semacam itu sama sekali jauh dari definisi ‘aman’ bagi anak-anak karena masih mengandung, atau bahkan sarat dengan adegan kekerasan, seks, dan mistis. Sebuah program tivi dinyatakan aman karena kekuatan ceritanya: sederhana, dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi. Dan, jangan lupa, mengandung nilai-nilai positif yang bisa ditransfer kepada anak-anak.

Apa yang terjadi ketika anak-anak diterpa oleh program televisi yang tidak aman dikonsumsi mereka? Hasil kajian efek di manapun memperlihatkan bahwa televisi punya pengaruh pada khalayaknya. Mulai dari desensitisasi atau penumpulan kepekaan sampai fear effect, efek rasa takut nan berlebihan. Yang tadinya takut lihat darah dan kekerasan, misalnya, berubah menjadi permisif terhadap kekerasan ketika sering diterpa oleh acara-acara bertema kriminalitas. Berita penangkapan maling ayam jadi kurang seru rasanya kalau tidak disertai liputan tentang bagaimana masyarakat menghakimi sang maling sampai terkencing-kencing, berdarah-darah. Inilah desensitisasi kekerasan. Efek lain: yang tadinya menganggap dunia ini biasa-biasa saja, gara-gara acap nonton acara bertema kekerasan, menganggap bahwa dunia ini luarbiasa mengerikan karena kejahatan ada di mana-mana. Golongan khalayak yang terkena efek semacam ini jadi paranoid terhadap realitas, sampai takut ke luar rumah. Fear effect. Kita belum lagi bicara soal pergeseran budaya, kekerasan verbal, dan model solusi yang dicomot begitu saja oleh khalayak berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi. Kasus bunuh diri anak atau kekerasan seksual yang dilakukan anak-anak, misalnya, kuat pula disinyalir akibat pengaruh media audiovisual seperti televisi. “Belakangan ini, banyak orangtua mengajukan komplain karena sinetron remaja seperti Heart memperlihatkan bagaimana anak-anak sudah mengenal dunia pacaran lengkap dengan intrik dan cemburu-cemburuan,” tutur Atie Rachmiatie, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Propinsi Jawa Barat, yang bertugas menerima dan memproses keluhan masyarakat seputar program penyiaran. Kenyataan seperti ini jelas-jelas memprihatinkan, dan mencengangkan. Tapi, ini bukan masalah khas Indonesia.

Di manapun, program televisi yang dikelola oleh industri berwatak kapitalis yang hanya berpikir bagaimana mencari keuntungan semata, senantiasa menimbulkan persoalan. Maka, pada awal dekade 1990-an, para pengamat media kemudian melontarkan gagasan untuk melakukan sejenis aktivisme yang bergerak di tataran publik. Lahirlah gerakan media literacy, yaitu sebuah gerakan mendidik publik agar mampu menghadapi media massa secara bijak dan cerdas. Bijak, artinya mampu memanfaatkan media massa sesuai dengan keperluannya. Cerdas, artinya mampu memilih dan memilah ragam informasi yang memang diperlukan. Tahu mana yang penting, dan mana yang tidak penting atau bahkan berbahaya bagi dirinya maupun lingkungannya. Media literacy dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai keberaksaraan media atau melek media. Konsep ini merujuk pada kemampuan khalayak untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi pesan-pesan melalui media dalam berbagai konteks (Livingstone, 2003). Dalam suatu masyarakat media seperti kita sekarang ini, di mana kontak dengan media menjadi sesuatu yang esensial dan tak terhindarkan, media literacy merupakan sejenis ketrampilan yang diperlukan oleh khalayak guna berinteraksi selayaknya dengan media, dan menggunakan media dengan rasa percaya diri. Ketrampilan- ketrampilan ini sesungguhnya dianggap penting bagi siapa saja. Namun target utama media literacy adalah kaum muda dan anak-anak. Maklum, mereka tengah berada dalam proses peneguhan mental dan fisik.

Bagaimana penerapan media literacy di lapangan? Bagaimana mendidik masyarakat agar melek media? Banyak cara yang telah dilakukan oleh para aktivis media literacy. Beberapa aktivis di Amerika Serikat bekerjasama dengan sekolah-sekolah merancang model kelas dan pembelajaran berbasis media. Siswa-siswa diajari untuk melihat bahwa ada banyak hal yang bisa diperoleh di media jika teknologi informasi digunakan dengan benar. Di Jepang, para aktivis media literacy bahkan bergerak lebih jauh lagi. Mereka berhasil menjalin kerjasama dengan Kementerian Pendidikan untuk merancang dan memberlakukan kurikulum yang memasukkan prinsip-prinsip media literacy ke dalam kelas-kelas sekolah dasar, bahkan TK dan kelompok bermain. Gerakan media literacy di Eropa juga tak kalah dahsyat. Para aktivisnya membuat semacam indikator kultural untuk menilai kualitas program guna menandingi sistem rating yang selama ini disebut-sebut sebagai biang keladi buruknya acara televisi. Mereka juga berhasil memaksa pemerintah dan industri untuk memperhitungkan indikator kultural tersebut guna menimbang kualitas sebuah program televisi-dan aman tidaknya dikonsumsi masyarakat terutama pada rentang prime time. Gerakan penyadaran juga dilakukan lewat aksi-aksi seperti Turn Off TV Week yang digagas Adbuster, dan sudah mendunia selama beberapa tahun terakhir. Lewat aksi mematikan televisi atau tidak menonton televisi selama seminggu (lazimnya jatuh di bulan April), aksi ini bermaksud memberi pesan kuat kepada industri penyiaran bahwa masyarakat, andai bersatu, bisa menuntut haknya mendapatkan yang terbaik bagi dirinya dari televisi-bukankah stasiun televisi sudah menjual kepala penontonnya kepada media buyer di biro-biro periklanan agar bisa menjual airtime dengan harga tinggi bagi pengiklan? Kepada khalayak sendiri, aksi semacam ini bermaksud memunculkan kesadaran bahwa menonton televisi itu hanyalah satu dari sekian banyak pilihan untuk mengisi hidup. Masih banyak kok aktivitas lain yang bisa dilakukan, barangkali malah jauh lebih produktif, tanpa harus berkutat terus di depan televisi.

Santi Indra Astuti

Hari Tanpa TV – Sebuah Gerakan Menciptakan Masyarakat dan Industri Penyiaran yang Sehat
Published June 29th, 2007 Uncategorized

A. Pengantar: Mengapa harus ada Hari Tanpa TV?

Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Anak-anak menonton apa saja karena kebanyakan keluarga tidak memberi batasan menonton yang jelas. Mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal yang berdarah-darah, sinetron remaja yang permisif dan penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan grup musik berpakaian seksi dengan lirik orang dewasa yang tidak mendidik, sinetron berbungkus agama yang banyak menampilkan rekaan azab, hantu, iblis, siluman, dan seterusnya. Bahkan, acara anak pun dipenuhi oleh adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak (Kompas, Juli 2006).

Bayangkan, kalau anak-anak kita adalah salah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan acara TV yang tidak mendidik. Anak-anak bisa kehilangan kepolosan dan keceriaannya, tersempitkan persepsinya dalam dunia orang dewasa yang penuh intrik, mengimitasi budaya instan dan perilaku antisosial, dan lain-lain.

Kita semua prihatin dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita membutuhkan televisi sebagai sarana informasi dan komunikasi, di sisi lain, kita melihat televisi berkembang menjadi industri penyiaran yang gagal menyediakan alternatif program yang mencerdaskan penontonnya. Sayangnya, keprihatinan itu baru sebatas wacana. Diperlukan aksi yang lebih konkret untuk mengubah wacana keprihatinan menjadi sesuatu yang benar-benar nyata, sehingga upaya menciptakan khalayak yang cerdas dan industri penyiaran yang sehat, dapat terwujud. Untuk itulah, sejumlah pemerhati dan aktivis media berencana menyelenggarakan kembali Aksi “Hari Tanpa TV,” yang secara serempak akan diselenggarakan di 5 kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makasar.

Aksi “Hari Tanpa TV” di Bandung ditangani oleh kami-Bandung School of Communication Studies (Bascomms). Melalui Aksi “Hari Tanpa TV”, kami bermaksud mengajak khalayak untuk tidak menyalakan televisi selama sehari, pada hari Minggu 22 Juli 2007. Aksi ini memiliki dua tujuan bagi dua sasaran yang berbeda. Pertama, bagi masyarakat, aksi ini bertujuan untuk membentuk dan meningkatkan kesadaran kritis masyarakat terhadap tayangan televisi yang tidak mencerdaskan. Menimbulkan semacam awareness agar mengkritisi tayangan televisi, sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat punya pilihan untuk mematikan televisi, jika tidak diperoleh alternatif tayangan lain yang aman ditonton. Selain itu, aksi ini juga ingin mengingatkan masyarakat bahwa masih banyak terdapat pilihan lain yang jauh lebih bermanfaat untuk mengisi waktu daripada sekadar menonton TV. Kedua, bagi industri penyiaran, aksi ini bertujuan memperlihatkan bentuk keprihatinan masyarakat terhadap tayangan TV yang tidak aman dan tidak bersahabat bagi anak maupun keluarga. Lewat aksi bersama, yaitu mematikan televisi pada hari yang ditetapkan, kami ingin memperlihatkan bahwa anggota masyarakat dapat bersatu dalam menyikapi perilaku industri televisi yang tidak berpihak bagi kepentingan publik. Aksi “Hari Tanpa TV”, karenanya, merupakan strong message bagi industri penyiaran agar memperbaiki kualitas tayangannya, dan memperhatikan kepentingan khalayaknya.

Melalui gerakan ini, kami sama sekali tidak bermaksud mengajak masyarakat untuk memusuhi televisi. Mengkritisi televisi tidak lain merupakan sebuah upaya yang bisa kita lakukan bersama-sama untuk menjadikan dunia penyiaran sebagai industri yang sehat dan beretika, serta didukung oleh khalayak yang cerdas. Tepatnya, aksi ini merupakan rangkaian dari upaya penguatan bagi televisi Indonesia sendiri, beserta khalayaknya. Keberhasilan gerakan ini jelas tercermin dari dukungan yang Anda berikan. Karena itu, kami mengajak Anda untuk turut berpartisipasi dan memberi kontribusi bagi rangkaian kegiatan yang akan kami selenggarakan.

B. Rangkaian Aksi “Hari Tanpa TV”

1. Mini Seminar “Sehari Tanpa TV”
Seminar diselenggarakan pada hari Sabtu, 21 Juli 2007 pk. 9-12 WIB. Dalam seminar ini, kami hendak mendiseminasikan prinsip-prinsip media literacy sambil menginformasikan alternatif kegiatan yang bisa dilakukan ketika tidak menonton TV. Mini seminar ini gratis, diperuntukkan bagi orangtua yang berminat, sekitar 100-an. Pembicara terdiri dari media expert, psikolog, dan teman-teman dari sanggar bermain alternatif. Dalam mini seminar ini juga akan disosialisasikan rencana aksi Hari Tanpa TV, yang sekaligus dijadikan momen jumpa pers untuk teman-teman wartawan lokal dari media cetak maupun media elektronik.
2. Workshop Remaja: “Bedah Iklan Secara Kritis”.Sasarannya adalah siswa SMP dan SMA, yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 19 Juli 2007. Workshop dibagi menjadi dua sesi, Sesi I: pukul 09.00-12.00 WIB untuk mahasiswa, dan Sesi II: pukul 14.00-17.00 WIB untuk pelajar (SMP/SMA).

3. Sosialisasi “Hari Tanpa TV” ke sekolah wilayah Bandung berupa penyebaran kit “Hari Tanpa TV” (terdiri dari campaign material dan lembar dukungan), mulai Senin 16 Juli s.d. Kamis, 19 Juli 2007.

4. Aksi Damai “Hari Tanpa TV” pada Sabtu, 21 Juli 2007, pk. 10-14 WIB. Dalam kegiatan ini kami akan memasang spanduk, menyebarkan flyer dan brosur di sejumlah titik penting di Bandung. Tujuannya membangkitkan awareness gerakan “Hari Tanpa TV”. Dalam acara ini, kami dibantu oleh para relawan dosen dan mahasiswa Fikom Unisba, Stikom, Unpas, dan simpatisan lain.
5. Aksi “Hari Tanpa TV”, 22 Juli 2007. Diselenggarakan serempak di 5 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makasar.
6. Monitoring “Hari Tanpa TV”, mulai Senin, 24 Juli 2007 s.d. Sabtu. Untuk menilai efektivitas aksi ini, sekaligus menjaring bagi masukan aksi berikutnya, maka akan dilakukan evaluasi melalui penyebaran dan pengumpulan kuesioner kepada masyarakat maupun sekolah-sekolah baik secara langsung maupun lewat posting di milis-milis. Hasilnya akan dilaporkan lewat media maupun milis-milis.


Komputer Bagi Anak

Komputer Bagi Anak

Oleh hari

Selain memiliki manfaat, komputer juga menyimpan mudhorot. Keterlibatan orangtua amat diperlukan untuk mencegah anak mengambil manfaat dari kotak ajaib ini.

Ibu Endang merasa beruntung anak-anaknya ‘bersahabat’ dengan komputer sejak dini. Fatih (9), anaknya yang pertama, tak hanya senang bermain games, namun juga lancar mengoperasikan berbagai program olah kata dan angka. Sementara adiknya, Nadia (4) yang baru belajar mengenal komputer, sudah asyik menjajal program pendidikan dalam mengenal warna dan bentuk saja. Fatih kini pintar matematika lantaran sering berlatih dengan bantuan komputer. Sementara Nadia punya banyak kosakata bahasa Inggris juga lantaran sering bermain komputer.

Tetapi, Ibu Rahmi justru merasa punya masalah dengan ‘keakraban’ anaknya dengan komputer. Menurutnya, Rizki (7 tahun) kini lebih sukai ‘bermain’ dengan komputernya daripada dengan teman-temannya. Rizki bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain games. Ia juga malas bila diajak menulis atau menggambar. Tak heran, tugas menggambar di sekolah tidak pernah dikerjakannya sampai tuntas. Tetapi, untuk menggambar di komputer ia sangat pandai. Maklum, dengan satu dua klik-an saja, ia sudah dapat menggambar dan mewarnai dengan sempurna.

Pernah punya pengalaman senada?


Nina Armando, Staf Pengajar Jurusan Komunikasi FISIP UI, mengatakan bahwa kemunculan teknologi komputer sendiri sesungguhnya bersifat netral. Pengaruh positif atau negatif yang bisa muncul dari alat ini tentu saja lebih banyak tergantung dari pemanfaatannya. Bila anak-anak dibiarkan menggunakan komputer secara sembarangan, pengaruhnya bisa jadi negatif. Sebaliknya, komputer akan memberikan pengaruh positif bila digunakan dengan bijaksana, yaitu membantu pengembangan intelektual dan motorik anak.

Senada dengan Nina, Muhammad Rizal, Psi, Psikolog di Lembaga Psikologi Terapan UI, mengatakan banyak manfaat dapat diambil dari penggunaan komputer, namun tak sedikit pula mudhorot yang bisa ditimbulkannya.

Diantara manfaat yang dapat diperoleh adalah penggunaan perangkat lunak pendidikan seperti program-program pengetahuan dasar membaca, berhitung, sejarah, geografi, dan sebagainya. Tambahan pula, kini perangkat pendidikan ini kini juga diramu dengan unsur hiburan (entertainment) yang sesuai dengan materi, sehingga anak semakin suka.

Manfaat lain bisa diperoleh anak lewat program aplikasi berbentuk games yang umumnya dirancang untuk tujuan permainan dan tidak secara khusus diberi muatan pendidikan tertentu. Beberapa aplikasi games dapat berupa petualangan, pengaturan strategi, simulasi, dan bermain peran (role-play).

Dalam kaitan ini, komputer dalam proses belajar, akan melahirkan suasana yang menyenangkan bagi anak. Gambar-gambar dan suara yang muncul juga membuat anak tidak cepat bosan, sehingga dapat merangsang anak mengetahui lebih jauh lagi. Sisi baiknya, anak dapat menjadi lebih tekun dan terpicu untuk belajar berkonsentrasi.

Namun, sisi mudhorot penggunaan komputer tak juga bisa diabaikan. Salah satunya adalah dari kemungkinan anak, kemungkinan besar tanpa sepengetahuan orangtua, ‘mengkonsumsi’ games yang menonjolkan unsur-unsur seperti kekerasan dan agresivitas. Banyak pakar pendidikan mensinyalir bahwa games beraroma kekerasan dan agresi ini adalah pemicu munculnya perilaku-perilaku agresif dan sadistis pada diri anak.

Akses negatif lewat internet

Pengaruh negatif lain, disepakati Nina dan Rizal adalah terbukanya akses negatif anak dari penggunaan internet. Mampu mengakses internet sesungguhnya merupakan suatu awal yang baik bagi pengembangan wawasan anak. Sayangnya, anak juga terancam dengan banyaknya informasi buruk yang membanjiri internet.

Melalui internetlah berbagai materi bermuatan seks, kekerasan, dan lain-lain dijajakan secara terbuka dan tanpa penghalang. Nina mengungkapkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa satu dari 12 anak di Canada sering menerima pesan yang berisi muatan seks, tawaran seks, saat tengah berselancar di internet.

Meski demikian, baik Nina maupun Rizal sepakat bahwa mengajarkan internet bagi anak, di zaman sekarang merupakan hal penting. Hanya saja, demi mencegah dampak negatifnya, ada beberapa hal yang harus dilakukan orangtua.

Pertama, orangtualah yang seharusnya mengenalkan internet pada anak, bukan orang lain. Mengenalkan internet berarti pula mengenalkan manfaatnya dan tujuan penggunaan internet. Karena itu, ujar Nina, orangtua terlebih dahulu harus ‘melek’ media dan tidak gatek.

”Sayangnya, seringkali anaknya sudah terlalu canggih, sementara orangtuanya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana membuka internet, juga tidak tahu apa-apa soal games yang suka dimainkan anak. Nanti ketika ada akibat buruknya, orangtua baru menyesal,” sesal Nina.

Kedua, gunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak. Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan.

Ketiga, letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak. Meletakkan komputer di dalam kamar anak, menurut Nina akan mempersulit orangtua dalam hal pengawasan. Anak bisa leluasa mengakses situs porno atau menggunakan games yang berbau kekerasaan dan sadistis di dalam kamar terkunci. Bila komputer berada di ruang keluarga, keleluasaannya untuk melanggar aturan pun akan terbatas karena ada anggota keluarga yang lalu lalang.

Cegah kecanduan

Pengaruh negatif lain bagi anak, menurut Rizal, adalah kecendrungan munculnya ‘kecanduan’ anak pada komputer. Kecanduan bermain komputer ditengarai memicu anak menjadi malas menulis, menggambar atau pun melakukan aktivitas sosial.

Kecanduan bermain komputer bisa terjadi terutama karena sejak awal orangtua tidak membuat aturan bermain komputer. Seharusnya, menurut Rizal, orangtua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer. Misalnya, anak boleh bermain komputer sepulang sekolah setelah selesai mengerjakan PR hanya selama satu jam. Waktu yang lebih longgar dapat diberikan pada hari libur.

Pengaturan waktu ini perlu dilakukan agar anak tidak berpikir bahwa bermain komputer adalah satu-satunya kegiatan yang menarik bagi anak. Pengaturan ini perlu diperhatikan secara ketat oleh orangtua, setidaknya sampai anak berusia 12 tahun. Pada usia yang lebih besar, diharapkan anak sudah dapat lebih mampu mengatur waktu dengan baik.

Peran penting orangtua

Menimbang untung ruginya mengenalkan komputer pada anak, pada akhirnya memang amat tergantung pada kesiapan orangtua dalam mengenalkan dan mengawasi anak saat bermain komputer. Karenanya, kepada semua orangtua, Rizal kembali mengingatkan peran penting mereka dalam pemanfaatan komputer bagi anak.

Pertama, berikan kesempatan pada anak untuk belajar dan berinteraksi dengan komputer sejak dini. Apalagi mengingat penggunaan komputer adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari pada saat ini dan masa yang akan datang.

Kedua, perhatikan bahwa komputer juga punya efek-efek tertentu, termasuk pada fisik seseorang. Karena perhatikan juga amsalah tata ruang dan pencahayaan. Cahaya yang terlalu terang dan jarak pandangan terlalu dekat dapat mengganggu indera penglihatan anak.

Ketiga, pilihlah perangkat lunak tertentu yang memang ditujukan untuk anak-anak. Sekalipun yang dipilih merupakan program edutainment ataupun games, sesuaikan selalu dengan usia dan kemampuan anak.

Keempat, perhatikan keamanan anak saat bermain komputer dari bahaya listrik. Jangan sampai terjadi konsleting atau kemungkinan kesetrum terkena bagian tertentu dari badan Central Processing Unit (CPU) komputer.

Kelima, carikan anak meja atau kursi yang ergonomis (sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuh anak), yang nyaman bagi anak sehingga anak dapat memakainya dengan mudah. Jangan sampai mousenya terlalu tinggi, atau kepala harus mendongak yang dapat menyebabkan kelelahan. Alat kerja yang tidak ergonomis juga tidak baik bagi anatomi anak untuk jangka panjang.

Keenam, bermain komputer bukan satu-satunya kegiatan bagi anak. Jangan sampai anak kehilangan kegiatan yang bersifat sosial bersama teman-teman karena terlalu asik bermain komputer.