Hindari Sakit Gigi Selama Hamil

sumber : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1551

Mother And Baby

Saat Anda merencanakan untuk hamil dan memiliki momongan, tak hanya fisik dan mental yang perlu dipersiapkan. Kesehatan gigi dan mulut pun juga perlu mendapat perhatian utama. Mengapa? Apa hubungan sakit gigi dan kehamilan?

Tentu saja ada. Meski tak tampak dari luar, tapi rasa sakit yang bersumber dari gigi berdampak sangat besar. Selain sakit kepala berkepanjangan, sakit gigi bisa menyebabkan penderita tak bisa menikmati makanan secara baik. Ujung-ujungnya, ibu hamil jadi kurang berselera untuk makan. Kalau kurang makan dari mana janin akan mendapatkan asupan nutrisi?

Penyebab

1. Adanya radang gusi ringan (gingivitis) yang terlambat diketahui. Perempuan yang tidak hamil pun dapat mengalami gingivitis. Bedanya, pada ibu hamil telah terjadi perubahan hormonal sehingga dapat memperberat reaksi peradangan. Radang gusi ini biasanya terjadi karena plak gigi telah mengalami pengapuran akibat dari sisa-sisa makanan, tambalan yang kurang baik, serta kualitas gigi tiruan yang kurang baik.

2. Ketidakseimbangan hormonal. Peningkatan konsentrasi hormon estrogen dan progesteron pada masa kehamilan mempunyai efek bervariasi pada jaringan, di antaranya pelebaran pembuluh darah yang mengakibatkan bertambahnya aliran darah sehingga gusi menjadi lebih merah, bengkak dan mudah mengalami perdarahan. Akan tetapi, jika kebersihan mulut terpelihara dengan baik selama kehamilan, perubahan mencolok pada jaringan gusi jarang terjadi.

Gejala

1. Pada trimester pertama hingga trimester ketiga kehamilan biasanya timbul pembesaran gusi yang mudah berdarah. Hal ini karena jaringan gusi merespons secara berlebihan terhadap iritasi lokal. Kemudian pada beberapa hari sebelum melahirkan dan seteah melahirkan keadaannya gusi akan kembali normal seperti sebelum hamil.

2. Gusi akan terlihat seperti membulat, permukaan licin mengilat, berwarna merah menyala, konsistensi lunak, mudah berdarah bila kena sentuhan.

Dampak

Bila selama kehamilan si ibu dibiarkan mengalami infeksi gigi, maka dapat mengakibatkan hormon prostaglandin (senyawa aktif yang diperoleh dari kelenjar prostata dan kandung mani) meningkat. Akibat peningkatan hormon prostaglandin ini rahim akan berkontraksi dan menegang. Keadaan kontraksi ini akan menekan si janin. Jika kontraksi dibiarkan terus menerus akan menyebabkan bayi lahir sebelum waktunya atau prematur.

Solusi

1. Sebelum memutuskan untuk hamil, sebaiknya masukkan pemeriksaan gigi dalam daftar persiapan prakehamilan. Tindakan yang biasanya dilakukan oleh dokter gigi adalah menghilangkan semua jenis penyebab iritasi lokal seperti plak, kalkulus, sisa makanan, perbaikan tambalan, dan perbaikan gigi tiruan yang kurng baik.

2. Tingkatkan perawatan harian, seperti mengosok gigi setiap selesai makan dan sebelum tidur. Serta jaga asupan makanan dengan baik.

Penting untuk diperhatikan

1. Kalaupun harus diambil tindakan pencabutan gigi, konsultasikan dengan seksama mengenai dampaknya pada janin.
2. Fase yang paling aman untuk melakukan pencabutan gigi adalah pada trimester kedua atau antara usia kandungan 4 sampai 6 bulan.

Sumber: conectique.com

Segera Sikapi Gangguan Sendi Rahang

sumber : http://cyberjob.cbn.net.id

Rahang Anda sering terasa sakit saat digerakkan? Mungkin Anda mengalami gangguan sendi rahang atau temporomandibular joint (TMJ). Segera sikapi dengan perawatan sederhana sejak dini.

Sakit gigi memang bisa membuat moodmenjadi buruk. Dan ternyata sakit gigi ini tidak hanya berasal dari bagian gigi dan mulut, bisa juga berasal dari gangguan sendi dan rahang (TMJ).

Dokter gigi yang berpraktik di Klinik Bakti Asih, Pondok Kacang Ciledug, Tangerang, drg Tuti Octavira mengatakan, sendi rahang atau TMJ adalah daerah langsung di depan kuping pada kedua sisi kepala di mana rahang atas (maxilla) dan rahang bawah (mandible) bertemu.

Sendi rahang mempunyai banyak fungsi yang bisa digunakan beratus kali dalam sehari untuk menggerakkan rahang. Misalnya untuk menggigit,mengunyah,berbicara sampai menguap.

“Sendi rahang ini merupakan salah satu sendi yang paling sering digunakan, bahkan bisa digunakan beratus kali dalam sehari,” tutur dokter yang juga berpraktik di Ritz Clinic di kawasan Bintaro ini.

Dokter gigi yang akrab disapa Utay inimenyebutkan, sendi rahang terdiri atas otot-otot, urat-urat, dan tulang-tulang sehingga bisa dikatakan sebagai sendi yang rumit. Setiap komponen berkontribusi pada kelancaran kerja dari sendi rahang. Saat otot-otot berimbang dan kedua rahang membuka dan menutup dengan nyaman, maka seseorang dapat berbicara, mengunyah, dan menguap tanpa sakit.

“Namun, jika terjadi otot yang tidak berimbang akan menghambat gerak yang terus-menerus terjadi dalam waktu lama, maka akan mengakibatkan rusaknya struktur gigi, rusaknya tulang pendukung atau perubahan posisi sendi TMJ,” sebutnya.

Melokalisasi sendi rahang bisa dilakukan diri sendiri dengan cara yang sederhana. Seperti yang dijelaskan Utay di antaranya dengan meletakkan sebuah jari pada struktur segi tiga di depan kuping. Kemudian jarinya digerakkan maju sedikit ke depan dan ditekan dengan kuat ketika membuka rahang. Gerakan yang dirasakan berasal dari sendi rahang. Kita juga dapat merasakan gerakan sendi jika kita menaruh jari kecil pada sisi dalam bagian depan dari telinga.

“Saat mengalami gejala gangguan sendi rahang, maka seseorang di antaranya akan mengalami nyeri kepala, bahu, dan tidak dapat membuka mulut dengan lebar,” tutur dokter lulusan Fakultas Gigi Universitas Trisakti ini.

Bahkan, gejala lain juga dapat dirasakan seperti nyeri di otot leher, bahu sampai kepada telinga berdengung. Gangguan sendi rahang dipengaruhi persentuhan antara gigi di rahang bawah dan atas. Beberapa faktor penyebab terjadinya gangguan sendi rahang ini di antaranya karena trauma, stres, emosional, dan kebiasaan mulut di luar fungsi utama yang tidak memiliki tujuan tertentu.

“Aktivitas di luar fungsi utama misalnya selalu mengunyah makanan pada satu sisi mulut, menggigit-gigit bibir, bertopang dagu, dan yang paling sering bruxism,” ujar dokter yang juga berpraktik di rumahnya di kawasan Ciledug Tangerang.

Bruxism merupakan istilah medis dari ge-meretak atau beradunya gigi-geligi yang terjadi tanpa sengaja dan terutama timbul pada saat tidur. Bentuk bruxism yang biasa dikenal masyarakat adalah gigi yang mengerat (gerinding), terutama pada malam hari, dan clenching (mengatupkan mulut rapat-rapat sehingga terjadi tumbukan keras antara gigi bawah dan atas).

Dokter gigi Lulusan FKG UI tahun 1999, drg Donna Pratiwi, Sp. Prosto dalam bukunya yang berjudul Gigi Sehat dan Cantik (Perawatan Praktis Sehari-hari) menjelaskan bahwa masalah TMJ merupakan masalah multifaktorial. Secara umum, TMJ dapat disebabkan faktor bawaan dari lahir atau diperoleh semasa hidup.

“TMJ yang merupakan bawaan sejak lahir berupa anomali atau kelainan sendi secara anatomis,” jelasnya.

Posisi sendi TMJ juga dapat dipengaruhi posisi tubuh yang tidak simetris sejak lahir atau kebiasaan melakukan aktivitas dengan posisi tubuh yang tidak baik. Contohnya, seperti cara berjalan dan posisi duduk yang membungkuk atau kebiasaan bertopang dagu.

“Benturan yang keras pada daerah TMJ seperti kecelakaan atau pukulan keras juga dapat menimbulkan masalah sendi TMJ,” paparnya.

Dokter yang melanjutkan spesialisasinya di FKG UI dan juga diakui sebagai lulusan dokter gigi spesialis termuda dan tercepat menyelesaikan pendidikannya ini juga menuturkan, masalah TMJ biasanya timbul keluhan setelah beranjak dewasa.

Kehilangan gigi, posisi gigi yang tidak baik, dan kebiasaan mengunyah di satu sisi menyebabkan posisi gigitan dalam mulut menjadi tidak stabil. Akhirnya kemudian akan memberi hambatan pada pergerakan rahang bawah saat berfungsi yang salah satunya bisa menyebabkan TMJ. Perubahan posisi inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai keluhan yang bervariasi seperti yang telah disebutkan sebelumnya sebagai gejala-gejala masalah TMJ.

“Metode terapi kelainan TMJ bervariasi antarpasien dan antardokter. Beberapa kasus bahkan memerlukan penanganan bersama dokter ahli di bidang spesialisasi yang berbeda-beda secara tim.Lamanya terapi TMJ juga cukup bervariasi,” tutur staf pengajar di FKG Universitas Prof Dr Moestopo (beragama).(Koran SI/Koran SI/nsa)

Sehat Mulut, Gigi & Gusi

sumber : http://www.pdgi-online.com

Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari sudah menjadi salah satu ritual keseharian kita.

Sehat Mulut, Gigi & Gusi

Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari sudah menjadi salah satu ritual keseharian kita.

“Upacara” itu setidaknya mampu mencegah hadirnya plak, biang keladi sejumlah masalah dimulut.

Banyak orang mengaku telah menggosok gigi setiap hari. Namun, mereka masih saja mengeluh dihantam masalah gigi. Entah giginya berlubang, gusi meradang, gigi berkarang, atau mulut bau naga. Lantas, apanya yang salah? Giginya atau cara menggosoknya?

Berawal dari plak

Sejumlah penelitian menunjukkan, biang kerok penyebab beberapa masalah yang menimpa rongga mulut itu tak tahunya dental plaque atau plak gigi. Berupa lapisan tipis bening yang menempel pada permukaan gigi, terkadang juga ditemukan pada gusi dan lidah. Lapisan itu tidak lain kumpulan sisa makanan, dan biasanya ditemani segelintir bakteri dan sejumlah protein dari air ludah.

Celakanya, plak selalu ngendon di dalam mulut karena bisa terbentuk setiap saat. Ia akan hilang setelah dibersihkan secara mekanik dengan cara menggosok gigi. Akan makin bersih kalau dilanjutkan dengan menggunakan benang gigi.

Bila dibiarkan saja, plak yang akan menumpuk akan mengalami klasifikasi, lalu mengeras. Ujung-ujungnya, terbentuklah karang gigi atau calculus yang keras dan melekat erat pada leher gigi. Itulah sebabnya gigi pada bagian itu berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kehijauan.

Gangguan yang ditimbulkan oleh karang gigi biasanya lebih parah. Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat meresorbsi (menyerap) tulang alveolar penyangga gigi. Akibatnya jelas, gigi menjadi goyang.

Karena tampak oleh mata telanjang dan berhubungan dengan kosmetik, karang gigi lebih sering mencuri perhatian. Sayangnya, kita tidak bisa mengatasinya sendiri. Perlu bantuan dokter gigi untuk menghilangkannya dengan cara scaling. Artinya, ya membuang karang gigi.

Bakteri-bakteri seperti Stertoccus mutans dan Streptoccus sanguine yang pada keadaan normal memang berada di dalam rongga mulut- juga menimbulkan persoalan. Ketika gerombolan bakteri itu bertemu dengan sisa makanan (khususnya yang mengandung gula sukrosa) berikut enzim dari saliva, akan terjadi reaksi fermentasi yang menghasilkan asam. Bila asam itu terus menerus diproduksi, akan terjadi proses demineralisasi atau pelunakan lapisan email gigi terdekat (email bagian terluat dan terkeras dari gigi). Karena email melunak, timbullah karies atau gigi berlubang.

Kalau menemukan spot (noktah) putih atau kecokelatan pada gigi, itu pertanda awal terjadinya karies. Semakin lama noktah semakin membesar, membentuk sebuah lubang. Biasanya masih belum ada keluhan rasa sakit pada tahap ini. Namun, ketika proses demineralisasi berlanjut sampai ke lapisan gigi berikutnya, yakni dentin, timbullah rasa ngilu saat terkena rangsangan.
Terang saja ngilu karena dentin memiliki pori-pori yang berhubungan dengan jaringan saraf gigi.

Plak pada jaringan gusi yang tidak dibersihkan secara teratur juga dapat mengiritasi gusi sehingga gusi menjadi merah, mudah berdarah, dan terkadang membengkak. Ini gejala awal terjadinya gingivitis (radang gusi). Namun, karena terkadang tidak disertai rasa sakit, gejala itu luput dari perhatian dan cenderung dibiarkan saja. Bila radang gusi terus dibiarkan, gigi bisa goyang, dan akhirnya copot sendiri.

Kalau gigi sensitif

– Bisa terjadi, gigi kita tidak berlubang, tetapi ketika menenggak minuman dingin atau panas, mengunyah makanan manis atau asam, tiba-tiba gigi terasa ngilu. Kalau itu yang terjadi, mungkin gigi kita sensitif.

Ada beragam penyebab gigi sering terasa ngilu bila terkena rangsangan suhu atau rasa. Diantaranya karena terjadi abrasi pada leher gigi atau turunnya gusi (retaksi gingiva) yang menyebabkan akar gigi terbuka. Gigi terabrasi atau gusi turun biasanya akibat tindakan kita sendiri yang kurang tepat. Umpamanya, cara menggosok gigi yang tidak benar atau memakai sikat gigi yang terlalu keras bulunya.

Gigi sensitif bisa pula akibat terkikisnya email gara-gara mekai pasta gigi yang mengandung bahan bersifat terlalu abrasif. Karena email tererosi, dentin menjadi terbuka, tidak terlindung. Akibatnya, gigi menjadi sensitif bila terkena rangsangan.

Usia tua juga bisa menyebabkan gigi sensitif, gara-gara retraksi (penurunan) gusi yang terjadi secara fisiologis. Gigi sensitif bisa pula timbul setelah dilakukan scaling. Pada saat itu akar gigi terekspos, sehingga peka terhadap rangsangan. Namun, pada kasus ini biasanya rasa ngilu akan hilang dengan sendirinya begitu gusi menutup kembali.

Biasanya, pasta gigi khusus untuk gig sensitif mengandung sodium monofluorofosfat atau strontium klorida. Menurut penelitian, kedua bahan itu akan membantu menutup poripori dentin yang terbuka sehingga melindungi jaringan saraf dari rangsangan suhu atau rasa. Efeknya baru terasa setelah beberapa saat pemakaian dihentikan. Maka pemakaian teratur pasta gigi khusus untuk gigi sensitif ini sangat dianjurkan.

Makanan yang bersifat asam, seperti minuman bersoda dan makanan masam, sebaiknya dihindari. KAndungan asam akan turut meningkatkan suasana asam yang akan mengikis bahan pelindung yang menutup pori-pori dentin.

MENGATASI BAU MULUT

– Pernah dengar istilah halitosis?Ya, itulah nama lain bau mulut.

Bau mulut merupakan hasil metabolisme kuman rongga mulut dan sisa-sisa makanan, yang berupa gas yang disebut Volatile Sulfur compound (VSCs). Gas ini terdiri atas zat hidrogen Sulfid, metil mercaptan, demetil disulfid, dan dimetil sulfid. Zat-zat tersebut selalu dihasilkan dalam proses metabolisme dari bakteri atau flora rongga mulut. Jadi VSCs dalam keadaan normal pasti ada pada rongga mulut semua orang.

Namun, dia akan menjadi masalah ketika terjadi peningkatan kadar VSCs didalam mulut, yakni ketika ada peningkatan aktivitas bakteri anaerob didalam mulut yang menyebabkan bau dari VSCs ini akan tercium oleh indera penciuman. Peningkatan aktivitas itu bisa karena rendahnya kadar oksigen di dalam rongga mulut yaitu saat produksi saliva atau air liur menurun, bisa juga karena adanya karang gigi atau gigi berlubang (karies).

Cara mengatasinya antara lain :

– Jagalah kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur.
– jangan lupa sikatlah juga lidah anda, karena permukaan lidah yang tidak rata memungkinkan adanya sisa makanan tersangkut disana.
– Usahakan sesering mungkin mengonsumsi air putih, tetapi hindari minum kopi karena akan memperparah keadaan.
– Mengunyah permen karet yang sweetless atau yang tidak mengandung gula juga bisa membantu untuk merangsang produksi saliva, terutama bagi mereka yang memiliki saliva kental.
– Mengunjungi dokter gigi anda. Mungkin ada gigi yang berlubang atau ada karang gigi.

Oleh : Drg. Agnes Susi Ardini, di Surabaya