Jumlah kasus flu babi global capai 1.085

SOURCE cybermed.cbn.net
Health News Tue, 05 May 2009 13:18:00 WIB

New York – Kasus flu babi mencapai 1.085 di seluruh dunia, dengan penyebaran di 21 negara dan setiap wilayah utama di AS, kata pejabat kesehatan.

Di AS, virus H1N1 telah dipastikan melalui tes laboratorium terhadap 286 pasien di sembilan wilayah yang dilacak sensus AS, ungkap U.S Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta. Penyakit tersebut, yang paling banyak terjadi di Kanada, Meksiko dan AS, telah terdeteksi di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Eropa, Timur Tengah, Asia dan Selandia Baru.

WHO menyatakan bersiap menghadapi kemungkinan akan semakin parahnya penyakit tersebut, meski ada indikasi virus tersebut tidak akan lebih buruk dari flu musiman. Karena wabah penyakit terjadi di Meksiko, yang terjangkit paling parah, para pejabat kesehatan memfokuskan di Hemisphere Selatan, di mana flu musiman kemungkinan terjadi sebelum vaksin flu babi tersedia.

U.S. CDC melaporkan 286 kasus di 36 negara bagian AS, dengan satu korban meninggal dunia. Jumlah warga yang terjangkit flu di AS meningkat ketika musim flu normal akan berakhir, ujar CDC. Sedikitnya 533 sekolah di 24 negara bagian diliburkan hari ini, yang mengistirahatkan sekitar 330.000 siswa, ujar Departemen Pendidikan AS.

St. Francis Preparatory School di New York, di mana lebih dari 1.000 orang siswanya diperkirakan terinfeksi, hari ini kembali dibuka setelah tutup sejak 27 April. New York telah mengonfirmasikan 73 kasus flu babi, kata Thomas Frieden, pejabat kesehatan kota saat konferensi hari ini.

Pernyataan terjadinya pandemik sangat penting, kata World Health Organization pekan lalu. WHO menaikkan peringkat waspada 6 menjadi 5 pada 29 April dan peningkatan lebih lanjut akan mengindikasikan terjadinya pandemik, mengingatkan pemerintah untuk menjalankan rencana untuk menghambat penyakit tersebut.

WHO, agen PBB yang berbasis di Jenewa, hari ini menambahkan Kolombia dan El Salvador ke dalam daftar negara yang mengonfirmasi kasus flu babi. Negara lainnya adalah Austria, Canada, Kosta Rika, Denmark, Prancis, Jerman, China (Hong Kong), Irlandia, Israel, Italia, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Inggris dan AS.

Pejabat kesehatan Kanada pada 2 Mei lalu melaporkan kasus pertama penyakit tersebut di dunia yang menular ke babi dari manusia, kemungkinan setelah pekerja pertanian di Provinsi Alberta mengalami sakit ketika melakukan melakukan perjalanan ke Meksiko. Ratusan babi di perternakan tersebut menunjukkan gejala terjangkit strain virus H1N1 yang menjangkiti manusia, lapor Canadian Food Inspection Agency.

Tiga strain virus flu musiman utama yakni H3N2, bentuk lain dari H1N1 dan tipe-B, menyebabkan 250.000 hingga 500.000 orang meninggal di dunia per tahun, lapor WHO. Gejala flu jenis baru ini serupa, yakni gatal-gatal, batuk, dan demam. CDC menyatakan orang-orang yang menderita flu babi kemungkinan juga mengalami diare.

Pihak otoritas menyarankan untuk mencuci tangan, hidup higienis dan diam di rumah ketika sakit sebagai cara yang paling efektif untuk mengontrol penyebarannya. WHO dan CDC mengatakan menutup perbatasan atau membunuh hewan merupakan langkah yang mahal yang tidak akan memperlambat penyebaran flu babi.(t03/er)

Sumber: Bisnis Indonesia

Iklan

12 Anggota Elfa’s Secioria Kena Flu Babi

sumber : http://batampos.co.id/Nasional/Nasional/12_Anggota_Elfa%92s_Secioria_Kena_Flu_Babi.html

Dapat Medali Emas di Korea

Prestasi yang diraih Elfa’s Music School dengan menyabet medali emas di ajang Asian Choir Games untuk kategori Etnik di Busan, Korea Selatan, harus dibayar mahal. 12 orang dari 60 anggota penyanyi dinyatakan terkena flu babi oleh dokter setempat.

Mereka yang terjangkit penyakit dengan nama beken flu H1N1 itu adalah Ati, Kelly, Santosa, Pinkyvi, Allya, Luanada, Devin, Ratih, Sheila, Nurlaila, Arantha, dan Varinia. “Iya, saya nggak tahu sekarang mereka di mana. Kita sih masih di asrama,” kata Tantri Agung Dewani (21), salah seorang kontestan ketika dihubungi koran ini lewat sambungan internasional, tadi malam.

Mereka yang tersisa dan dinyatakan sehat sedang menunggu kepastian kapan bisa pulang. Semua menempati sebuah asrama di Masan University, Gyongnam, Busan. Mereka bertolak dari tanah air sejak 6 Juli malam.

Total 83 orang berangkat, termasuk kru dan pemain musik. “Kita naik Garuda Indonesia dan Korean Airline. Sebagian besar yang sakit saat berangkat naik pesawat Korean Airline,” ucap Tantri.

Setiba di Korea, menurut Tantri, setiap pagi dokter setempat memeriksa kondisi kesehatan para peserta. Mereka yang dinyatakan flu babi saat diperiksa panasnya di atas 38 derajat celcius. “Di sini (asrama) ada 6 lantai. Kita menempati lantai 2, lantai 5, dan lantai 6,” terangnya.

Tadinya, lantai 2 digunakan untuk 12 orang warga indonesia yang dinyatakan flu babi. Sedangkan lantai 5 untuk yang kurang sehat namun dalam kategori penyakit ringan. “Kami yang sehat di lantai 6. Tapi kami di sini sedih, merasa didiskriminasi,” keluh Tantri.

Bagaimana tidak, katanya, banyak tulisan di kertas ditempel di dinding bahwa siswa Elfa”s Music School dilarang ke lantai 3 dan 4 yang dihuni kontestan asal China dan Kroasia. “Kami hanya boleh pergi ke mini market yang dekat saja untuk beli mie instan karena orang yang mengurus dan mengantar makanan buat kita itu juga kena flu babi,” ungkapnya.

Menurut Tantri, Elfa sendiri selaku pimpinan sekolah musik sedang berupaya agar para siswanya yang sehat segera pulang. Terlebih kompetisi musik sudah dihentikan oleh pemerintah setempat.

Bahkan, medali emas yang diraih tidak akan diserahkan pada acara seremoni. Lomba untuk kategori Pop dan Jazz bahkan belum sempat digelar. Maka, penyanyi terkenal antara lain; Lita Zein, Yana Julio, Mario Kahitna, dan Agus Wisman, yang seharusnya berangkat ke Korea kemarin, dibatalkan.

Meski begitu medali emas untuk kategori Etnik akan tetap diserahkan secara non formal kepada Elfa”s Music School yang mewakili Indonesia. Untuk kategori itu, kelompok paduan suara yang sudah langganan juara di ajang internasional tersebut menyanyikan lagu Paris Barantai, lagu adat Batak medley, Sunda medley, dan Minang medley.

Sementara itu, anggota DPR dari Komisi Kesehatan Max Sopacua mengatakan bahwa insiden itu murni faktor individu yang terkena serangan virus tersebut. Sebab, sampai saat ini, tidak ada prosedur standar bagi mereka yang bepergian ke luar negeri.

“Untuk orang dari luar negeri yang masuk ke Indonesia memang ada prosedurnya. Mereka harus menjalani serangkaian tes. Kalau orang Indonesia yang bepergian ke luar negeri, mereka akan menjalani tes di bandara negara tersebut. Kita tidak mengatur,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Max menambahkan, para peserta rombongan mestinya sudah memahami bagaimana kondisi di Korea Selatan. Upaya pencegahan mestinya sudah dipersiapkan sebelum berangkat. “Mereka yang berangkat kan intelektual. Bukan TKI (Tenaga Kerja Indonesia, red). Mestinya mereka sudah paham dong kondisi di sana,” ujarnya.***

FLU BABI

source : http://blog.rusari.com/?p=382

Meksiko City: Lebih dari seratus orang tewas setelah terjangkit flu babi di Meksiko. Kasus virus ini telah menyebarkan ke Amerika, Kanada dan terakhir ke Spanyol.

Kematian di Meksiko mencapai 103 orang, meski belum ada laporan apakah ada kematian di luar negara tersebut. Namun setidaknya sudah ada 1.300 orang terjangkit virus mematikan ini.

Laporan terakhir di Spanyol ada satu kasus dilaporkan tekena virus H1N1, sementara 17 orang lainnya masih dimonitor kondisinya. Satu kasus itu, dikatakan oleh Departemen Kesehatan Spanyol bahwa orang itu kembali dari Meksiko pada tanggl 22 April.

Sementara di Amerika korban Flu Babi telah menimpa 20 orang dan enam orang lainnya berada di Kanada. Terakhir, penyelidikan juga dilakukan di Selandia Baru dan Israel.(koran tempo)

FLU babi, influensa, berita flu babi menyerang manusia
influensa babi adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Gejala klinis penyakit ini terlihat secara mendadak, yaitu berupa batuk, dispnu, demam dan sangat lemah. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia, akan
berakibat pada kematian (FENNER et al., 1987).

Penyakit virus influensa babi pertama dikenal sejak tahun 1918, pada saat itu didunia sedang terdapat wabah penyakit influensa secara pandemik pada manusia yang menelan korban sekitar 21 juta orang meninggal dunia
(HAMPSON, 1996). Kasus tersebut terjadi pada akhir musim panas. Pada tahun yang sama dilaporkan terjadi wabah penyakit epizootik pada babi di Amerika tengah bagian utara yang mempunyai kesamaan gejala klinis dan patologi dengan influensa pada manusia.
Karena kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi.

EPIDEMIOLOGI
Penyebaran virus influensa dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit
bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan.
Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif.
Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan
pada babi yang mewabah di Amerika Utara (WEBBY et al., 2000; ROTA et al., 2000; LANDOLT et al., 2003), tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di Canada (KARASIN et al., 2000).
Manusia dapat terkena penyakit influensa secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti
disebabkan oleh sero tipe asal manusia. Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada
kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.

PENYEBAB
Penyebab influensa yang ditemukan pada babi, bersamaan dengan penyakit yang langsung menyerang manusia. Pertama kali, virus influensa babi diisolasi tahun 1930, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi, imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influensa lainnya serta kejadian penyakit di alam.
Penyebab penyakit saluran pernafasan pada babi adalah virus influensa tipe A yang termasuk Famili Orthomyxoviridae. Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque) (PALSE and YOUNG, 1992).Ukuran virus tersebut berdiameter 80- 120 nm. Selain influensa A, terdapat influensa B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe virus influensa pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan
antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetik
reassortment antara bangsa burung dan manusia.. Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja.
Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N). Peranan
haemagglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama.
Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi.
Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi
H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang (HAYASHI et al., 1993)
kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2. Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italy, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukan virus influensa yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam
berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandung virus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI. Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajari virus influensa. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influensa telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influensa selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK), (FENNER et al., 1986).

GEJALA KLINIS
Pada kejadian wabah penyakit, masa inkubasi sering berkisar antara 1-2 hari (TAYLOR, 1989), tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari (BLOOD dan RADOSTITS, 1989). Penyakit ini menyebar sangat cepat hampir
100% babi yang rentan terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat lemah, enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot, eritema pada kulit, anoreksia, demam sampai 41,8oC. Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi dengan muntah eksudat lendir, bersin, dispnu
diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata. Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada hari ke 5-7 setelah gejala klinis. Terjadi tingkat kematian tinggi pada anakanak babi yang dilahirkan dari induk babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari setelah dilahirkan. Tingkat kematian pada
babi tua umumnya rendah, apabila tidak diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat rendah, biasanya kurang dari 1%. Bergantung pada infeksi yang mengikutinya, kematian dapat mencapai 1-4% (ANON., 1991).

GEJALA KLINIS

Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya. Anak-anak babi yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap memperlihatkan gejala klinis yang parah. Pada beberapa kelompok babi terinfeksi bisa bersifat
subklinis dan hanya dapat dideteksi dengan sero konversi. Wabah penyakit mungkin akan berhenti pada saat tertentu atau juga dapat berlanjut sampai selama 7 bulan. Wabah penyakit yang bersifat atipikal hanya
ditemukan pada beberapa hewan yang mempunyai manifestasi akut. Influensa juga akan menyebabkan abortus pada umur 3 hari sampai 3 minggu kebuntingan apabila babi terkena infeksi pada pertengahan kebuntingan kedua. Derajat konsepsi sampai dengan melahirkan selama tejadi wabah penyakit akan
menurun sampai 50% dan jumlah anak yang dilahirkan pun menurun.

Flu Babi Serang Warga AS

Los Angeles (ANTARA News) – Dua kasus misterius flu babi pada manusia telah ditemukan di wilayah Imperial dan San Diego di Southern California, AS demikian laporan Rabu.

Petugas kesehatan setempat maupun tingkat negara bagian dan federal telah melakukan penyelidikan guna menemukan sumber kasus itu, kata Los Angeles Times yang dikutip kantor berita Xinhua.

Seorang gedis yang berusia 19 tahun di Imperial County dan anak laki yang berusia 10 tahun di San Diego County diidentifikasi terserang virus tersebut.

Namun tak seorang pun perlu dirawat di rumah sakit dan keduanya telah pulih, kata surat kabar tersebut, yang mengutip beberapa pejabat kesehatan.

Kasus itu membuat bingung pejabat kesehatan karena tak seorang pasien pun telah melakukan kontak dengan babi atau satu sama lain, dan rangkaian flu tersebut tak pernah dilihat di Amerika Serikat, kata harian itu.

Beberapa pejabat mengatakan tak ada petunjuk virus tersebut menyebar. “Kita tak menghadapi wabah,” kata Dr. Wilma Wooten, pejabat kesehatan di San Diego County.

Anggota keluarga dan orang lain yang mengenal kedua pasien tersebut sedang diwawancarai dan diperiksa, kata surat kabar itu.

Meskipun penyakit tersebut biasanya mengakibatkan gangguan pernafasan pada babi, flu babi jarang menyerang manusia.

Hanya 12 kasus lain infeksi pada manusia telah dideteksi sejak 2005, demikian data dari U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDCP). Dari ke-12 kasus tersebut, 11 pasien telah melakukan kontak dengan bab

H1N1 Flu atau Swine Flu

source : http://www.cdc.gov/h1n1flu/

A New Virus Emerges

Novel influenza A (H1N1) is a new flu virus of swine origin that was first detected in April, 2009. The virus is infecting people and is spreading from person-to-person, and has sparked a growing outbreak of illness in the United States with an increasing number of cases being reported internationally as well.

CDC anticipates that there will be more cases, more hospitalizations and more deaths associated with this new virus in the coming days and weeks because the population has little to no immunity against it. Novel influenza A (H1N1) activity is now being detected in two of CDC’s routine influenza surveillance systems as reported in the May 8, 2009 FluView. FluView is a weekly report that tracks U.S. influenza activity through multiple systems across five categories.

The May 8 FluView found that the number of people visiting their doctors with influenza-like-illness is higher than expected in the United States for this time of year. Second, laboratory data shows that regular seasonal influenza A (H1N1), (H3N2) and influenza B viruses are still circulating in the United States, but novel influenza A (H1N1) and “unsubtypable”* viruses now account for a significant number of the viruses detected in the United States.

It’s thought that novel influenza A (H1N1) flu spreads in the same way that regular seasonal influenza viruses spread; mainly through the coughs and sneezes of people who are sick with the virus.

CDC continues to take aggressive action to respond to the outbreak. CDC’s response goals are to reduce the spread and severity of illness, and to provide information to help health care providers, public health officials and the public address the challenges posed by this new public health threat.
Increased Testing

CDC has developed a PCR diagnostic test kit to detect this novel H1N1 virus and has now distributed test kits to all states in the U.S. and the District of Columbia and Puerto Rico. The test kits are being shipped internationally as well. This will allow states and other countries to test for this new virus. This increase in testing will likely result in an increase in the number of confirmed cases of illness reported. This, combined with ongoing monitoring through Flu View should provide a fuller picture of the burden of disease in the United States over time.

CDC is issuing updated interim guidance daily in response to the rapidly evolving situation.
Clinician Guidance

CDC has issued interim guidance for clinicians on identifying and caring for patients with novel H1N1, in addition to providing interim guidance on the use of antiviral drugs. Influenza antiviral drugs are prescription medicines (pills, liquid or an inhaler) with activity against influenza viruses, including novel influenza H1N1 viruses. The priority use for influenza antiviral drugs during this outbreak is to treat severe influenza illness, including people who are hospitalized or sick people who are considered at high risk of serious influenza-related complications.
Public Guidance

In addition, CDC has provided guidance for the public on what to do if they become sick with flu-like symptoms, including infection with novel H1N1. CDC also has issued instructions on taking care of a sick person at home. Novel H1N1 infection has been reported to cause a wide range of symptoms, including fever, cough, sore throat, body aches, headache, chills and fatigue. In addition, a significant number of people also have reported nausea, vomiting or diarrhea. Everyone should take everyday preventive actions to stop the spread of germs, including frequent hand washing and people who are sick should stay home and avoid contact with others in order to limit further spread of the disease.

*Unsubtypable viruses are viruses that through normal testing cannot be subtyped as regularly occurring human seasonal influenza viruses. In the context of the current outbreak, it’s likely that most of these unsubtypable viruses are novel H1N1.

H1N1 Flu (Swine Flu) Flu Babi

source : http://www.cdc.gov/h1n1flu/

International Human Cases of Swine Flu Infection
See: World Health OrganizationExternal Web Site Policy.

*Case is resident of KY but currently hospitalized in GA.

The ongoing outbreak of novel influenza A (H1N1) continues to expand in the United States and internationally. CDC expects that more cases, more hospitalizations and more deaths from this outbreak will occur over the coming days and weeks.

CDC continues to take aggressive action to respond to an expanding outbreak caused by novel H1N1 flu.

CDC’s response goals are to:

1. Reduce transmission and illness severity, and
2. Provide information to help health care providers, public health officials and the public address the challenges posed by this emergency.

CDC is issuing updated interim guidance daily in response to the rapidly evolving situation. This includes updated interim guidance for clinicians on how to identify and care for people who are sick with novel H1N1 flu now that more widespread illness has been detected in the United States. CDC recommends that testing and antiviral treatment be prioritized for those with severe respiratory illness and those at highest risk of complications from seasonal influenza. This includes children younger than 5 years old, pregnant women, people with chronic medical conditions and weakened immune systems, and people 65 years and older. In addition, CDC has provided information for the public on what to do if they develop flu-like symptoms.

CDC has completed deployment of 25 percent of the supplies in the Strategic National Stockpile (SNS) to all states in the continental United States. These supplies and medicines will help states and U.S. territories respond to the outbreak. In addition, the Federal Government and manufacturers have begun the process of developing a vaccine against the novel H1N1 flu virus.

Response actions are aggressive, but they may vary across states and communities depending on local circumstances. Communities, businesses, places of worship, schools and individuals can all take action to slow the spread of this outbreak. People who are sick are urged to stay home from work or school and to avoid contact with others, except to seek medical care. This action can avoid spreading illness further.