Gejala Hamil Palsu

sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/sehat/2010/05/06/482/Gejala-Hamil-Palsu

ANDA pernah mendengar hamil palsu? Mungkin istilah ini masih asing di telinga kita, namun kenyataannya hal itu ada dan tidak banyak diketahui para ibu.

Menurut Womenshealth, hamil palsu atau yang disebut pseudocyesis adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan yang tidak hamil namun merasa atau percaya bahwa dirinya sedang hamil, meskipun tidak ada bukti fisik kehamilan. Tidak menstruasi, morning sickness, mengidam, sakit di bagian perut dan pembesaran payudara adalah gejala-gejala yang dikeluhkan penderita hamil palsu.

Perempuan yang mengalami kehamilan palsu atau disebut pseudopregnancy seringkali mengalami gejala kehamilan yang nyata seperti perempuan hamil pada umumnya. Meskipun kondisi ini belum sepenuhnya dapat dijelaskan, para ahli percaya penyebab utamanya adalah masalah emosional dan psikologis.

Perbedaan Hamil Anggur dan Hamil Palsu
Hamil anggur yakni kehamilan dimana terdapat kegagalan pembentukan janin dalam kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah mola hidatidosa. Rahim hanya berisi gelembung-gelembung cairan bening seperti buah anggur atau gelembung udara.

Sedangkan perempuan yang mengalami hamil palsu, rahimnya dalam kondisi kosong dalam arti tidak terdapat janin, namun penderita mengeluhkan gejala yang biasa dialami oleh seseorang yang benar-benar hamil.

Penyebab Hamil Palsu
Sebuah penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara kehamilan palsu dengan kelenjar pituitary (pusat produksi hormon selama kehamilan). Ketidakseimbangan hormon ini sering dipicu oleh stres dan kecemasan, sehingga dapat menyebabkan perubahan emosi dan psikologis yang mengarah pada kepercayaan atas sesuatu yang sangat diharapkannya.

Perempuan yang mengalami kondisi ini biasanya dianjurkan untuk melakukan konseling, karena penyebab dasarnya adalah emosional dan psikologis termasuk stres, gelisah dan depresi.

Para psikolog percaya bahwa perempuan yang mengalami kehamilan palsu memiliki keinginan yang sangat kuat untuk hamil, sehingga dirinya merasa mengalami proses kehamilan. Perempuan yang beresiko mengalami hamil palsu ini, diantaranya:
– Usia akhir 30 atau awal 40 tahun dan belum memiliki anak
– Pernah mengalami keguguran pada kandungan sebelumnya
– Sangat ingin punya anak lagi, karena anak yang kecil sudah layak punya adik lagi
– Di lingkungannya ada perempuan yang sedang hamil
– Faktor stres dan kecemasan, terutama yang menyangkut kehamilan
(V. Aztriko/CN16)

Kemana Larinya Kenaikan Berat Badan Saat Hamil?

sumber : http://us.health.detik.com/read/2011/06/17/131805/1662547/764/kemana-larinya-kenaikan-berat-badan-saat-hamil?l991101755

Jakarta, Saat hamil berat badan ibu secara otomatis akan meningkat
seiring dengan bertambahnya pertumbuhan janin yang dikandung. Tapi
sebenarnya kemana penambahan berat badan tersebut dilarikan?

Ibu yang sedang mengandung memang butuh kalori ekstra dari makanan yang
kaya akan zat gizi untuk menunjang pertumbuhan janin. Tapi ibu hamil tak
perlu memiliki pemikiran makan untuk berdua (eat for two).

Secara umum ibu hamil akan mengalami peningkatan berat badan sekitar 1-2
kg selama trimester pertama kehamilan, lalu 3-4 kg selama trimester
kedua dan sekitar 5-7 kg selama trimester ketiga.

Peningkatan berat badan yang terjadi selama hamil ini akan terdistribusi
ke beberapa bagian, seperti dikutip dari WebMD, Jumat (17/6/2011) yaitu:

1. Bayi mendapatkan berat badan sekitar 3-4 kg
2. Plasenta mendapatkan berat badan sekitar 1-1,5 kg
3. Cairan ketuban mendapatkan berat badan sekitar 1-1,5 kg
4. Jaringan payudara mendapatkan berat badan sekitar 1-1,5 kg
5. Pasokan darah mendapatkan berat badan sekitar 2 kg
6. Penyimpanan lemak untuk proses melahirkan dan menyusui sekitar
2,5-4,5 kg
7. Rahim mendapatkan berat badan sekitar 1-2,5 kg

Jika semua kenaikan berat badan tersebut ditotal, maka ibu akan
mengalami peningkatan berat badan selama hamil sekitar 11,5-17,5 kg.
Namun jika ibu hamil sudah mengalami kelebihan berat badan atau berat
badan di bawah ideal, maka peningkatan berat badan yang seharusnya
terjadi akan berbeda.

Jika peningkatan berat badan yang terjadi selama kehamilan sudah
berlebihan, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter. Karena berat badan
yang berlebih bisa memicu terjadinya diabetes saat hamil (diabetes
gestational). Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi baik bagi ibu atau
janin yang dikandung.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan jika berat badan yang naik sudah
berlebihan, yaitu:

1. Pilihlah makanan yang rendah lemak dan dikukus atau rebus, jika
ingin mengonsumsi salad hindari penggunaan saos dan mayones serta
makanan yang digoreng.
2. Membatasi konsumsi minuman manis atau yang bergula karena
memiliki tingkat kalori tinggi tapi sedikit nutrisi.
3. Jangan terlalu banyak menambahkan garam saat memasak makanan,
karena natrium dari garam bisa membuat tubuh menahan air.
4. Membatasi permen dan makanan ringan yang berkalori tinggi,
seperti kue manis, permen, donat, sirup, madu dan keripik kentang.
Cobalah diganti dengan buah segar, yogurt rendah lemak, kue kering
dengan buah.
5. Menggunakan lemak secara moderat, yang termasuk lemak disini
termasuk minyak goreng, margarin, mentega, saos, mayones, krim asam dan
keju krim.

Kulit Tetap Cantik Pasca Kehamilan

sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman|0|0|8|1360

Mother And Baby

Kehamilan adalah peristiwa yang sangat ditunggu-tunggu banyak kaum wanita. Namun kadang-kadang kehamilan juga membuat para calon ibu merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri. Bayangkan saja, peningkatan kadar hormon selama kehamilan, seringkali menyebabkan perubahan pada kondisi kulit.

Kulit yang sebelumnya halus mulus, bisa berubah tekstur dan berwarna kehitaman, timbul stretch mark,dan selulit. Warna kehitaman berupa garis kehamilan (linea nigra) sering terjadi di sekitar daerah perut, membujur vertikal mulai dari pusar hingga pubis. Tetapi sebenarnya setelah melahirkan, biasanya linea nigra yang berwarna gelap akan kembali menjadi garis yang berwarna lebih terang.

Lain halnya dengan stretch mark dan selulit, yang lebih bandel. Selulit adalah penumpukan sel-sel lemak yang berlebihan pada jaringan kulit, sehingga membuat permukaan kulit tampak tidak rata. Penumpukan itu terjadi akibat peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron secara drastis. Meski banyak klinik, salon atau spa yang menawarkan solusi untuk mengatasi selulit, namun Dr. Nooryda Hardjono, SpKK mengatakan,”Belum ada treatment yang diklaim dapat mengatasi selulit 100%. Meski demikian, selulit dapat dicegah ataupun diminimalisasi.”

Sementara stretch mark, tanda berupa garis-garis memutih tak beraturan timbul akibat rusaknya jaringan pada lapisan dermis kulit yang mengalami peregangan secara drastis dan mendadak. Menurut Nooryda, mengatasi strechmark jauh lebih sulit, “Karena kolagennya sudah terlanjur rusak, maka kondisi tersebut akan sulit diperbaiki. Pencegahan adalah langkah terbaik.”

Agar gangguan kulit di masa kehamilan itu tak menjadi gangguan pemanen, berikut tipsnya;

Selulit:
* Berolahraga ringan secara teratur, akan membakar lemak di bagian-bagian tubuh yang mengalami selulit. Senam, berenang atau bersepeda juga bisa jadi pilihan.
* Kurangi lemak, dan makan makanan bergizi lengkap dan seimbang.
* Penggunaan lotion dibarengi dengan efek pijatan untuk memperlancar peredaran darah, secara teratur sejak awal masa kehamilan.

Stretch mark:
* Olesan pelembab dapat membantu menjaga elastisitas dan kekencangan kulit yang mengalami pemelaran selama hamil, misalnya perut, payudara, pinggul, dan bokong.
* Penggunaan body lotion secara teratur sejak dini, diharapkan dapat mencegah robeknya kolagen akibat perkembangan lapisan dermis saat kulit tubuh mengalami pemelaran.
(Meliana Simarmata)

Sumber: Majalah Inspire Kids

Mengapa Hamil Muda Tak Nafsu Makan?

sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman|0|0|8|1363
Mother And Baby
Pada awal kehamilan, calon ibu pasti akan merasakan mual yang luar biasa. Selain membuat calon ibu malas melakukan aktifitas, kondisi ini ternyata juga mempengaruhi selera makan sang ibu.

Meski sulit untuk menelan makan, usahakan agar ibu hamil tetap makan, walaupun sedikit. Sebab janin di dalam perut membutuhkan asupan nutrisi. Terlebih lagi, pada masa 8 minggu pertama kehamilan, otak janin mulai bertumbuh, dan proses ini membutuhkan dukungan nutrisi yang baik.

Penyebab

1. HcG (Human Chorionic Gonodotropin) adalah sejenis hormon yang dihasilkan oleh plasenta pada awal kehamilan. Keberadaan hormon tersebut di dalam darah memicu reaksi penolakan tubuh, karena dianggap sebagai benda asing. Penolakan tubuh inilah yang memicu sensai mual pada awal kehamilan. Dan rasa mual, seringkali menyebabkan ibu tidak bisa menelan makanan. Ketika fungsi plasenta telah sempurna, rasa mual ini akan hilang, sehingga ibu kembali dapat makan seperti biasa. Umumnya rasa mual akan berhenti pada usia kehamilan 12-14 minggu (awal trimester kedua).

2. Perubahan metabolisme glikogen hati pada ibu hamil biasanya menyebabkan rasa tidak nyaman, dan penuh pada perut bagian atas, sehingga ibu enggan untuk makan.

3. Faktor psikis juga berpengaruh terhadap nafsu makan calon ibu. Misalnya, apakah calon ibu memang mengharapkan kehamilannya atau tidak.

4. Gangguan enzim. Saat hamil, enzim-enzim pencernaan cenderung berubah, sehingga jika seorang ibu sebelum hamil tidak memiliki keluhan tukak lambung, bisa jadi ketika hamil merasakan gangguan ini.

5. Ibu hamil terlalu pilih-pilih makanan karena cemas memikirkan efek makanan itu bagi kesehatan kehamilannya. Kondisi ini membuat ibu hamil terpaksa mengonsumsi makanan yang mungkin tidak ia sukai.

Tidak nafsu makan, jangan dituruti!

Jika calon ibu tidak mau makan sama sekali dikhawatirkan akan terjadi ketidakseimbangan kadar hormon di dalam tubuhnya. Dalam jangka waktu tertentu, kondisi ini pasti akan membahayakan ibu dan janin.

Bagi ibu, asupan makanan dibutuhkan agar kondisi tubuh selama kehamilan selalu prima. Sedangkan bagi janin, asupan nutrisi diperlukan untuk mendukung pertumbuhan awal organ-organ tubuh, dan pembentukan otak. Perlu diketahui bahwa pertumbuhan otak yang optimal berkaitan erat dengan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ibu.

Solusi

Biar sedikit ibu hamil harus tetap makan. Langkah tepat untuk menyiasati kondisi ini adalah:

* Usahakan untuk tetap makan lebih sering dalam porsi kecil.
* Jauhi makanan bersantan, atau bercitarasa dan beraroma tajam.
* Hindari makanan yang dapat memicu pembentukan gas dalam rongga perut, antara lain: kacang tanah yang biasa terdapat di bumbu ketoprak, gado-gado, sate, siomay dan sejenisnya.
* Perbanyak makan buah-buahan segar, seperti apel, jeruk, pisang, pepaya.
* Perbanyak minum air di antara dua waktu makan dan hindari minum pada saat makan.

Sumber: conectique.com

Menu Ibu Hamil Saat Ngidam

sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|427

Mother And Baby Tue, 25 Feb 2003 09:40:00 WIB

Mengidam adalah pertanda di dalam badan ibu hamil terjadi perubahan besar yang menyangkut susunan enzim dan hormon. Dengan demikian tubuh ibu menjadi lebih efisien menyerap zat gizi dan makanan sehari-hari.
Tanda-tanda ngidam nafsu makan menurun, merasa mual, dan muntah, namun hanya beberapa bulan yang disudahi dengan naiknya nafsu makan.

Saat ini ibu hamil dianjurkan banyak minum dan makan yang segar-segar seperti jus buah. Makanan ini bisa diambil dari buah segar dan rasa sedikit asam, bisa juga berupa asinan buah sayuran atau selada buah.

Kebutuhan gizi memang belum meningkat mengingat pertumbuhan janin belum cepat, tetapi tetap diusahakan makan sesuai porsi sehari-hari, jangan kurang dari kebutuhan normal. Kebutuhan normal rata-rata perempuan Indonesia 2.200 kalori.

Syarat menu

Menu yang baik untuk ibu yang sedang ngidam adalah hidangan yang terasa segar dan asam. Manfaatkan banyak buah dan sayuran segar. Bila mual dan muntah, upayakan porsi kecil tetapi sering atau masakan panas yang dihidangkan panas. Hidangkan makanan segar yang banyak memakai tomat asam dan lain-lain; dan upayakan terus makan sesuai porsi. Pilihlah makanan yang padat kalori sehingga porsi akan bisa dihadirkan kecil.

Zat gizi yang diperlukan

Karbohidrat adalah sumber energi utama, terdiri dari dua jenis yaitu karbohidrat sederhana seperti gula pasir, gula merah, dan karbohidrat kompleks seperti tepung, beras, jagung, gandum dan lain-lain.

Protein adalah zat gizi untuk pertumbuhan. Janin yang sedang tumbuh memerlukan protein tambahan, di samping kebutuhan ibu sendiri. Protein terdapat dalam ikan, ayam, daging, susu, telur, kacang-kacangan, tahu dan tempe.

Lemak
Dalam makanan lemak merupakan sumber kalori dan melarutkan vitamin A, D, E dan K, terdapat di dalam minyak goreng, margarin, mentega, dan dalam bahan makanan hewan atau nabati.

Vitamin

Vitamin A penting untuk pertumbuhan tulang mata, rambut, kulit, mencegah kelainan bawaan. Sumbernya susu, keju, mentega, hati, kuning telur, minyak ikan.

Provitamin A terdapat dalam sayuran berwarna seperti daun singkong, kangkung, bayam, wortel, tomat, dan buah berwarna. Provitamin A di dalam tubuh akan dikonversi menjadi vitamin A dengan adanya lemak.

Vitamin B terdiri sekelompok vitamin yang berfungsi menjaga sistem susunan saraf agar berfungsi normal. Vitamin ini terdapat dalam nasi, roti, susu, daging dan makanan yang diformulasi seperti tempe.

Vitamin C berguna untuk pembentukan dan integritas jaringan dan peningkatan penyerapan zat besi, terdapat dalam buah sayur dan sayuran segar.

Mineral berguna untuk pertumbuhan dan mempertahankan jaringan serta mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh.

Zat besi berguna untuk pertumbuhan sel-sel darah merah yang diperlukan untuk pertumbuhan janin. Sumber zat besi adalah daging, ikan, hati, ayam serta dalam jumlah sedikit dari sayur-sayuran.

Kalsium berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi, penggumpalan darah dan mempertahankan fungsi normal otot serta susunan saraf. Susu sapi dan produknya merupakan sumber yang baik.

Seng (Zn) mencegah kelainan kongenital untuk perkembangan otak normal. Mencegah retardasi pertumbuhan janin. Sumbernya daging, hati, telur, ayam, seafood, susu, dan kacang-kacangan.

Iodium penting untuk susunan saraf pusat yang terkait dengan daya pikir dan pendengaran. Kekurangan iodium sewaktu hamil dapat mengakibatkan lahirnya anak cacat fisik, cacat mental, sangat rendah kemampuan pendengaran bahkan tuli sama sekali. Sumbernya makanan dari laut, rumput laut dan lain-lain.

Air merupakan salah satu unsur vital dalam kehidupan, apalagi dalam masa mengidam yang diiringi muntah, upayakan masukan air tetap dijaga. Yang baik air dalam buah-buahan, karena tidak hanya mendapatkan air saja tetapi juga vitamin yang terkandung dalam buah itu.

Ibu hamil perlu mengikuti menu empat sehat lima sempurna yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah, serta susu.

Lauk selama hamil sebaiknya sekitar 30-50 persen berasal dari sumber hewani. Sayur dan buah diperbanyak selama hamil. Susu merupakan sumber gizi berkualitas tinggi sehingga sangat dianjurkan minum susu setiap hari satu gelas susu. Untuk mencegah terjadinya cacat akibat kekurangan iodium dianjurkan selalu menggunakan garam beriodium.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Morning Sickness? Banyak Cara Mengatasinya!

SUMBER :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1191

Mual, muntah, dan perut terasa tidak enak. Itulah masalah klasik yang kerap dikeluhkan para calon ibu di awal-awal kehamilannya. Ada yang derajatnya ringan, ada juga yang berat.

Terlepas dari berat ringannya gejala morning sickness yang Anda alami, yang penting adalah mencari cara untuk mengurangi gejala yang ada. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari tidak terganggu, dan Anda pun tetap nyaman melakukan tugas-tugas kantor tanpa banyak masalah.

Dialami Hampir Semua Wanita Hamil

Tak perlu khawatir, gejala morning sickness memang biasa dialami oleh hampir semua wanita hamil. Bahkan, ada kemungkinan 80% Anda akan mengalaminya di bulan-bulan pertama kehamilan. Dari penelitian yang dilakukan di Cornell University, Amerika Serikat, ditemukan bahwa gejala morning sickness ini mencapai puncaknya pada minggu ke-6 hingga ke-18 dari masa kehamilan.

Lalu, mengapa bisa terjadi? Di sinilah faktor hormon amat berperan. Peningkatan kadar hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dan estrogenlah yang bertanggung jawab atas terjadinya “si morning sickness”. Kedua hormon ini diproduksi oleh plasenta dan janin, yang menyebabkan perut kosong lebih lama. Sehingga akibatnya, ya itu tadi, muncul gejala mual dan muntah. Teori lainnya adalah karena pengaruh hormon progesteron yang dominan selama masa kehamilan. Hormon yang satu ini “melembutkan” otot-otot tubuh, terutama di bagian rahim, untuk mencegah kelahiran prematur. Progesteron juga merilekskan kerja saluran pencernaan sehingga proses pengosongan perut berjalan lebih lambat, dan mengakibatkan meningkatnya asam lambung penyebab munculnya mual.

Biasanya, morning sickness lebih sering terjadi pada kehamilan pertama, pada wanita muda, dan kehamilan bayi kembar. “Mereka yang memang mudah sekali mual, seperti saat naik bis, kapal laut, juga lebih besar kemungkinannya mengalami morning sickness,” papar Sheila Crowe, MD, profesor ahli penyakit dalam dari University of Virginia’s Digestive Health Center of Excellence, Amerika Serikat.

Meski begitu, tingkat keparahan gejala morning sickness berbeda-beda pada setiap wanita. Ada yang hanya berupa mual-mual biasa, ada juga yang sampai muntah-muntah berat sampai tak bisa melakukan apa pun. Gejala yang parah inilah yang dikenal dengan istilah hyperemesis gravidarum, di mana mual dan muntah terjadi sangat sering dan cukup parah.

Cara Meringankannya

Untungnya, gejala morning sickness bisa diatasi. Cara pertama yang bisa dilakukan adalah memperhatikan pola makan. Panduan berikut ini bisa Anda jadikan acuan dalam mengatur pola makan di awal-awal kehamilan:

1. Hindari mengonsumsi makanan berbumbu menyengat, berminyak, dan makanan berat dalam porsi besar.
Caranya: Bagi porsi makan Anda menjadi lima atau enam porsi kecil dalam sehari yang bisa dimakan setiap dua jam sekali. Di pagi hari, saat bangun tidur, makanlah crackers tawar, lalu istirahatlah 20-30 menit baru kemudian mandi dan bersiap-siap berangkat kerja.

2. Pastikan tuhuh mendapatkan cukup asupan cairan.
Caranya: Bawalah botol berisi air putih ke mana pun Anda pergi, dan minumlah beberapa teguk secara teratur sepanjang hari. Cara tersebut membantu cadangan makanan dan air di dalam perut terjaga dengan baik, sehingga mencegah meningkatnya asam lambung yang bisa memperparah rasa mual yang Anda alami. Tapi, jangan minum bersamaan saat makan. Itu akan membuat perut terasa penuh dan mual semakin parah. Lebih balk minumlah air di saat-saat antara waktu makan Anda.

3. Makanlah makanan berkarbohidrat tinggi, batasi makanan dan minuman manis.
Pilihannya: Roti panggang, madu, pisang, kentang panggang, tofu, atau sereal.

4. Minuman yang tepat di pagi hari.
Yang bisa dijadikan alternatif: Jus buah, tapi hindari yang terlalu asam. Jika mengatur pola makan tak cukup membantu, mungkin ada baiknya memperhatikan vitamin atau suplemen zat besi Anda. Sebab, pada sebagian wanita, zat besi justru bisa membuat mual. Bicarakanlah kemungkinan tersebut kepada dokter Anda untuk memastikannya.

Selain itu, tak ada salahnya mencoba cara lain, tentu saja dengan persetujuan dokter Anda. Misalnya, dengan mengonsumsi teh jahe, permen jahe, permen karet rasa menthol, atau teh mint untuk membantu mengurangi mual.

Yang juga perlu diperhatikan, kurangi dulu kegiatan-kegiatan yang cukup menyita tenaga dan memperparah mual serta muntah Anda. Istirahat yang cukup, dan mintalah bantuan orang-orang di rumah untuk membantu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga yang biasa Anda kerjakan.

Namun, bukan berarti lalu Anda tak bisa berolahraga. Sebagian wanita hamil bahkan merasa olahraga ringan bisa membantu meringankan gejala yang mereka rasakan. Karena itu, cobalah untuk melakukan olahraga ringan seperti jalan santai ditambah sedikit gerakan-gerakan peregangan atau gerakan yoga sederhana.

Langkah lainnya adalah mengurangi stres. Saat Anda merasa stres, tarik napas dalam-dalam dan berusahalah untuk rileks. Jika ada masalah yang cukup berat, coba berbagi cerita dengan orang yang bisa dipercaya, atau mintalah bantuan tenaga profesional bila memang diperlukan. Nah, mudah bukan mengatasinya?

Wanita yang rajin melakukan aktivitas fisik secara teratur, 35% lebih rendah berisiko terserang pre eklamsia dibanding mereka yang jarang melakukan kegiatan fisik (Penelitian para ahli dari Swedish Medical Center, di Seattle, Amerika Serikat).

Sumber: Majalah Lisa

Haruskah Berhenti Kerja Saat Hamil?

SUMBER : http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1193

Saat sedang sibuk berkarier, tiba-tiba Anda hamil. Haruskah berhenti dan fokus pada kehamilan? Sebelum memutuskan pilihan, beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi masukan bagi Anda.

Anda hamil, berada di tempat kerja dan mencoba untuk tetap fokus melakukan tugas-tugas, tapi sulit berkonsentrasi. Berbagai pertanyaan pun muncul, apakah pekerjaan saya ini bisa membahayakan bayi saya? Haruskah saya berhenti bekerja saja? Inilah dua hal yang bisa menjadi bahai pertimbangan sebelum memutuskan.

Anak-anak yang ibunya tidak bekerja belum tentu lebih baik daripada anak-anak yang ibunya bekerja.

Penelitian sudah membuktikan hal tersebut. “Anak-anak yang ibunya bekerja di kantor memiliki ikatan yang erat dengan ibu mereka, mudah menyesuaikan diri secara sosial maupun emosional. Bahkan, mereka juga lebih mandiri,” papar Ellen Galinsky, dalam bukunya, Ask the Children: What America’s Children Really Think About Working Parents. Selain itu, mereka juga memiliki perkembangan fisik dan intelektual yang tidak kalah dengan anak-anak yang ibunya di rumah. Terlepas dari bekerja atau tidaknya si ibu, yang paling penting adalah seberapa hangat, sensitif, dan bertanggung jawabnya para ibu kepada anak mereka, serta seberapa puas si ibu menghadapi peran dan situasinya sebagai orangtua.

Bila berhenti bekerja, belum tentu Anda bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja kembali nantinya.

Seringkali, karier seorang wanita mengalami penurunan jika mereka berhenti bekerja atau bekerja paruh waktu sesudah melahirkan. Jadi, pikirkanlah dulu secara masak-masak sebelum mengambil keputusan untuk berhenti bekerja.

Apakah pekerjaan si ibu bisa membahayakan janin?

“Beberapa jenis pekerjaan mungkin bisa memicu terjadi keguguran, berat lahir bayi yang rendah, kelahiran prematur, ataupun bayi lahir cacat,” jelas Elizabeth Whelan, Ph.D.,ahli epidemiologi dari The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Tapi, itu bisa dicegah dengan meminimalisir hal-hal berikut:

• Zat-zat kimia seperti zat timbal.
• Radiasi sinar X, yang biasanya bisa dialami oleh pekerja kesehatan, peneliti di laboratorium.
• Cytomegalovirus, hepatitis B, HIV, rubella, dan cacar air yang bisa memengaruhi si janin maupun ibu. Pekerjaan yang berisiko tinggi terkena misalnya guru atau perawat anak. Perawat hewan atau dokter hewan juga harus mewaspadai virus toksoplasmosis.
• Berdiri terlalu lama, mengangkat barang-barang berat, dan tugas-tugas sejenis.
• Cairan dry cleaning.
• Bekerja malam dan kerja lembur.

Tapi, apa pun pilihan Anda: berhenti atau tidak berhenti bekerja, tidak ada pilihan yang salah. Yang penting adalah Anda benar-benar menyadari konsekuensinya dan bisa menikmati pilihan yang sudah Anda putuskan.

Nah, bila Anda memilih untuk tetap bekerja, buatlah perencanaan sejak awal, terutama untuk dua hal berikut.

Perencanaan cuti melahirkan

Pastikan Anda mengetahui aturan yang berlaku di tempat kerja untuk urusan cuti melahirkan. Namun, umumnya perusahaan memberlakukan aturan cuti 1 bulan sebelum dan sesudah melahirkan. Para wanita pekerja sendiri ada juga yang memilih untuk tetap bekerja hingga menjelang persalinan, dan cuti selama hampir tiga bulan sesudah melahirkan. Nah, bila memang memungkinkan, tidak ada salahnya itu menjadi pilihan. Yang penting, informasikanlah itu semua kepada atasan Anda jauh-jauh hari. Bahkan, dia berhak tahu bahwa Anda hamil pada bulan ketiga atau keempat kehamilan (lebih awal lebih baik bila morning sickness membuat Anda harus sesekali tidak masuk kerja).

Buat perencanaan pekerjaan yang jelas

Sebelum berbicara kepada atasan untuk meminta cuti, buatlah perencanaan yang jelas: kapan Anda akan mulai cuti, tugas-tugas apa saja yang harus didelegasikan kepada rekan kerja yang lain, dan siapa yang bisa melakukannya. Intinya, permudahlah segalanya bagi Anda maupun tempat kerja Anda. Tapi, tak perlu berkompromi untuk hal-hal yang paling penting bagi Anda.

Sumber: Majalah Lisa

Asma Ganggu Kehamilan

sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1196

Wanita penderita asma khawatir jika ia hamil. Sebab ini erat kaitan dengan persalinan kelak. Obat-obatan yang selalu dikonsumsi penderita asma pun, dikhawatirkan akan berpengaruh pada janin.

Berbeda dengan orang yang tidak menderita asma, pada penderita asma terjadi peradangan kronik yang menyebabkan pipa saluran napas menjadi sensitif. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan serangan asma, maka faktor pencetusnya harus dihindari. Faktor pencetus asma antara lain alergi (biasanya debu rumah), kelelahan dan influenza.
Sedangkan ketegangan jiwa dapat memperberat serangan asma.

Serangan asma dapat muncul sewaktu-waktu jika dipicu oleh faktor pencetusnya. Ketika sedang hamil pun serangan asma bisa saja muncul. Tapi tidak perlu dikhawatirkan. Karena timbulnya serangan asma tidak sama tiap penderita. Bahkan pada seorang penderita asma pun serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.

Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik pada saat hamil, lebih dari sepertiga akan menetap, serta kurang dari sepertiga lagi akan memburuk atau serangannya bertambah ketika hamil. Biasanya serangan akan timbul pada usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Justru pada akhir kehamilan, serangan asma jarang terjadi.

Namun bagaimana pun juga wanita penderita asma berisiko saat ia hamil. Karena si ibu akan kekurangan oksigen. Maka jika tidak segera diatasi janin pun dapat kekurangan oksigen yang dapat berakibat keguguran, persalinan prematur, berat janin tidak sesuai dengan kehamilan atau pertumbuhan janin terhambat.

Perjalanan asma pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Padahal berbagai teori justru menunjukkan kedua hormon tersebut mestinya dapat memperbaiki kondisi asma. Sebab memiliki efek melemaskan otot polos dan merilekskan bronkus. Selain itu meningkatnya kadar hormon protasiklin (PG12) ditambah prostaglandin (PGE) juga dapat memperbaiki asma. Namun di sisi lain bertambahnya hormon lain seperti PGF2 saat kehamilan, bisa memperburuk asma.

Ada yang kondisinya semakin buruk setelah hamil, ada pula yang tidak mempengaruhi kehamilannya. Ini semua tergantung dari status imunologi dan reaksi imunologi pada tubuh si ibu. Namun, ibu penderita asma dapat melahirkan normal, jika saat persalinan tidak terjadi serangan asma. Tetapi bila terjadi serangan asma, persalinan dapat dibantu dengan vakum atau forsep. Bahkan jika perlu saat melahirkan ibu didampingi dokter spesialis paru.

Pengaruh Obat

Asma yang tidak dikendalikan dengan baik pada keadaan hamil dapat berpengaruh buruk pada ibu maupun janin. Pada kehamilan muda memang seharusnya obat-obatan ini perlu dihindari. Namun jika diperlukan penggunaanya juga mesti hati-hati. Sebab berbagai obat dapat menimbulkan efek samping pada janin atau pun ibu. Misalnya, abortus, kematian janin, kelainan kongenital terutama pada trimester pertama, efek terhadap pertumbuhan janin dan gangguan fungsi organ seperti sistem saraf serta otot polos uterus.

Banyak wanita penderita asma saat awal kehamilannya menghentikan penggunaan obat asma, mereka mengkhawatirkan efek samping bagi ibu dan janinnya, dilaporkan dalam berita edisi Juli dari American Journal of Obstetrics and Gynecology. Meski sebenarnya standar terapi yang ditetapkan adalah tetap melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut, karena obat tersebut dapat mempertahankan kehidupan dari penderitanya.

Banyak wanita berasumsi bahwa mengkonsumsi obat asma saat hamil tidak baik, karena obat tersebut akan masuk dan mempengaruhi perkembangan dari janin yang dikandungnya, Dr.Tina V. Hartert dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee menjelaskan kepada Reuters Health.

Hartert dan timnya menggunakan data yang diambil lebih dari 8.000 wanita hamil yang menderita asma, mereka diteliti apakah tetap menggunakan obat asma selama mereka hamil.

Pada minggu ke-13 kehamilan penggunaan obat inhalasi anti inflamasi menurun hingga 22,9 persen. Penggunaan obat beta agonis short acting seperti albuterol yang bermanfaat meredakan gejala mengalami penurunan hingga 13,2 persen dan penggunaan kortikosteroid mengalami penurunan hingga 54,3 persen, mereka melaporkan.

Penggunaan semua kelompok obat asma mengalami peningkatan kembali dari Minggu ke 6-13, dan dari Minggu ke 13-26 usia kehamilan, catatan para ahli, namun hanya penggunaan beta agonis short acting yang menunjukkan perbaikan secara bermakna pada minggu ke 26 usia kehamilan.

Hasil studi ini menyimpulkan bahwa wanita penderita asma mengalami penurunan dan/atau berhenti menggunakan obat asma selama awal masa kehamilan, meskipun rekomendasi yang ditetapkan adalah tetap menggunakan obat tersebut, mereka menyebutkan.

Diperlukan suatu perhatian khusus yang diberikan kepada ibu hamil terutama yang menderita asma. Seharusnya para ibu tersebut mendapatkan pengetahuan tentang penyakitnya, serta secara rutin melakukan kontrol terhadap kondisi asmanya dan tentunya menjamin mereka tetap menggunakan obat selama kehamilan, Hartert menjelaskan.

“Wanita hamil selalu menyebutkan bahwa mereka makan untuk dua orang, gunakan juga istilah tersebut untuk menyebutkan bahwa mereka bernapas untuk dua orang pula”.

Anemia Pada Kehamilan

sumber : http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1198

Wanita hamil paling rentan terkena anemia. Ketika mengandung, volume darah dalam tubuh meningkat sekitar 50 persen. Ini karena tubuh memerlukan tambahan darah guna mensuplai oksigen dan makanan untuk pertumbuhan janin.

Meningkatnya volume darah mengakibatkan meningkatnya jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah. Jika anemia pada wanita hamil tidak segera diatasi, maka bisa berakibat pada kehamilannya. Si ibu akan mudah pingsan, keguguran, atau proses melahirkan yang lama karena kontraksi yang tidak bagus. Sedangkan bagi janin, gangguan ini bisa mengakibatkan pertumbuhan terhambat, lahir prematur, lahir dengan cacat bawaan, atau lahir dengan cadangan zat besi yang kurang.

Zat besi, erat berkaitan dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari, dan adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita, sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya.

Zat besi berguna membantu pembentukan haemoglobin dalam sel darah merah, mencegah anemia. Sedangkan kalium/natrium, berguna untuk mempertahankan keseimbangan garam dan air dalam tubuh serta mempertahankan kesehatan fungsi syaraf dan otot.

Selama masa kehamilan, dibutuhkan zat besi sebanyak 800 mg. Dari jumlah itu, 500 mg digunakan untuk pertambahan sel darah merah ibu. Sedangkan sisanya untuk janin dan plasenta. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya karena pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir.

Penanganannya, pertama, menggunakan terapi obat dengan memberikan tablet zat besi (ferosulfat) 30-60 mg per hari, tergantung pada berat ringannya anemia. Kedua, terapi diet dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau.

Untuk mengatasi anemia ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan :

1. Bagi penderita anemia karena kekurangan zat besi, sebaiknya memperbanyak konsumsi makanan yang kaya akan zat besi, seperti bayam. Juga makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, tomat, mangga, dan sebagainya. Sebab kandungan asam askorbat dalam vitamin C bisa meningkatkan penyerapan zat besi.

2. Sedangkan bagi ibu hamil, sejak sebelum kehamilan maupun selama hamil, sebaiknya memperbanyak mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat juga vitamin B. Misalnya adalah hati, daging, kuning telur, ikan teri, susu, dan kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai, serta sayuran berwarna hijau tua.

3. Hindarilah mengonsumsi makanan atau minuman yang menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh. Misalnya kopi dan teh. Teh dan kopi merupakan sumber makanan penghambat asupan zat besi. Kebiasaan masyarakat setelah makan tidak dilanjutkan dengan minum air putih, jus buah, atau maka buah-buahan. Sebaliknya, mereka lebih suka mengosumsi teh atau kopi. Begitu juga obat antibiotik seperti tetrasiklin, obat nyeri lambung, dan obat penahan rasa nyeri seperti obat rematik, juga menjadi penyebab terhambatnya asupan zat besi.

Mengandung Buah Hati? Jangan Terjebak Mitosnya!

sumber : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1539

Mother And Baby Mon

Anda sedang hamil? Di usia kandungan berapa pun, pasti telinga Anda sudah familiar dengan berbagai macam mitos dan fakta seputar kehamilan. Terlebih bila ini merupakan calon buah hati yang pertama.

Taruhlah petuah dari sesepuh yang mengatakan untuk jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas bila tidak ingin proses kelahiran dipercepat. Itu baru salah satu mitos saja, masih banyak mitos popular yang kadang diragukan kebenarannya.

Tapi nanti dulu, toh bukan berarti juga semua petuah dan nasehat seputar kehamilan yang beredar merupakan mitos belaka. Bila masih bingung mana yang fakta dan mana yang merupakan isapan jempol belaka, beberapa petuah populer di berikut ini bisa menjawab rasa penasaran Anda.

ONLY MYTH!

1. Semua wanita hamil pasti ngidam. Fenomena ingin makan/melakukan sesuatu karena ‘bawaan bayi’ ini nyatanya hanya terjadi di Indonesia. Ngidam ingin mengkonsumsi makanan asam atau asin itu sebenarnya adalah cara untuk mengalihkan rasa mual. Namun tidak semua wanita hamil mengalami ngidam, karena apa yang dirasakan ketika hamil tentunya berbeda-beda.

2. Bentuk perut adalah cerminan jenis kelamin bayi. Sampai kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ada hubungannya antara keduanya. Mau tahu fakta di baliknya? Nyatanya kandung kemih dan posisi bayi di dalam perutlah yang berpengaruh pada lebar atau bentuk perut yang menonjol ke depan.

3. Makan ikan membuat bayi jadi bau amis. Bila mendengar “Jangan makan ikan, nanti bayinya jadi bau amis!” Anggap saja angin lalu. Ikan justru baik dikonsumsi ibu hamil. Pasalnya, ikan memiliki kandungan lemak omega 3 yang baik bagi perkembangan otak anak. Tentunya, pilih ikan yang masih fresh.

4. Jenis kelamin bayi dapat diramal dari tinggi rendah perut. Sama halnya seperti poin nomer dua di atas, nyatanya ini pun mitos. TInggi rendahnya bentuk perut tergantung pada bentuk tubuh. Selain itu, kehamilan pertama dan kedua bisa berbeda, karena pada kehamilan kedua, bentuk perut dapat tampak lebih rendah karena otot perutnya yang mungkin sudah mengendur. Hubungan dengan gender bayi? Tidak ada.

THE TRUTH IS..

1. Jangan pelihara kucing. Jujur saja, ini benar. Untuk ibu hamil penggemar kucing, sementara Anda sepertinya harus ‘puasa bergaul’ dengan kucing. Dr. Phil McGraw Ph.D., yang populer dengan talkshow-nya di Amerika, membenarkan hal ini. Menurutnya, kotoran kucing membawa virus toksoplasma yang dapat membahayakan bagi janin. Jadi ketika hamil sebaiknya memang hindari dulu berinteraksi dengan kucing, karena virus dapat terbawa pada tubuh si kucing walaupun Anda tidak bersentuhan langsung dengan kotorannya.

2. Jalan kaki lancarkan persalinan. Yup, ini juga benar. Ibu hamil sebaiknya tetap aktif beraktivitas, karena dapat melancarkan persalinan. Berjalan kaki dan gerakan seperti ‘nungging’ ketika mengepel, justru dianjurkan oleh dokter kandungan. Jadi siapa bilang ibu hamil hanya harus berdiam diri saja?

Yang jelas, entah itu fakta ataupun ternyata isapan jempol belaka, menjaga perkembangan kandungan agar tetap sehat dan kondisi tubuh agar tetap prima, sudah merupakan tanggungjawab seorang ibu kala memboyong sang calon buah hati dalam kandungannya, bukan?

Sumber: conectique.com

Ibu Over Hati-hati, Bayi Penakut!

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

“Saya bingung, sejak hamil lagi istri saya serba takut mau ngapain-ngapain. Hanya di tempat tidur. Malah diajak berhubungan intim saja nggak mau. Pokoknya serba hati-hati dan takut melakukan apa pun. Padahal kata dokter nggak apa-apa, lho,” cerita seorang reporter sebuah televisi swasta yang tak mau disebut namanya. “Eh, itu berpengaruh nggak sih sama janin?” tiba-tiba ia balik bertanya.

Tindakan ibu hamil yang harus ekstra hati-hati, sebenarnya hanya lantaran ketakutan terjadi sesuatu pada bayinya jika ia melakukan berbagai kegiatan atau makan makanan tertentu. Ini bisa jadi karena ibu memiliki pengalaman yang tak bagus pada kehamilan sebelumnya (traumatik), seperti pernah mengalami keguguran atau ‘tersugesti’ berbagai pantangan yang dikatakan orang-orang tua. Atau mungkin juga karena kepribadian ibu memang pencemas.

Jika tanpa indikasi medis – seperti riwayat keguguran berulang atau komplikasi kehamilan – sesungguhnya ibu hamil bisa menjalani kehidupan kehamilannya secara normal. Bekerja di kantor, boleh; makan apa saja, tak ada pantangan asal tak berlebihan; berhubungan intim dengan suami, silakan, dsb.

Malah, menurut spesialis kebidanan dan kandungan Nining Hadiyanti, terlalu hati-hati, serba takut kalau-kalau kegiatannya akan mengganggu janin, justru berpengaruh pada janin. “Bukan hanya gizi, stimulus luar atau penyakit yang dapat mempengaruhi janin, juga kondisi emosi ibu,” tegasnya.

Ibu yang memiliki kecemasan berlebihan yang ditandai dengan tindakan ekstra hati-hati, menurut penelitian, perilakunya dapat menurun pada bayi yang dikandungnya. Ingat kan Bu, jika kita takut untuk melakukan sesuatu, pasti jantung berdebar lebih kencang, dan itu dirasakan janin. Selain itu, ketika kita cemas dan ketakutan, oksigen jadi terhambat, terus mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke janin. Karena kekurangan pasokan, janin pun ikut gelisah.

Bagaimana setelah si kecil lahir? Menurut psikolog Henny Eunike Wirawan, M.Hum., bayi yang gelisah karena ibunya serba ketakutan, besar kemungkinan menjadi anak pencemas, penakut,dan cengeng. “Selain pengaruh hubungan saraf, terhambatnya oksigen, karena ikatan emosional ibu dan bayi itu sudah terbentuk sejak dalam kandungan,” jelasnya. “Maka, kalau ibu pencemas, penakut, siap-siap saja punya anak yang juga penakut atau cengeng.”

Jangan Serba Takut, Ah!

Takut begini, takut begitu, Bu, Pak. Cobalah usir dengan…

* Bapak, bantu ibu dengan menjelaskan bahwa itu ketakutan yang tak perlu.

* Lawan perasaan takut. Yakinlah bahwa kehamilan Anda normal-normal saja dan melakukan berbagai kegiatan justru membuat Anda dan bayi lebih sehat.

* Yang penting, pola makan Anda bagus. Makanan yang baik memenuhi kebutuhan Anda dan janin. Janin yang sehat dan kuat dapat Anda ‘ajak’ melakukan berbagai macam aktivitas.

* Keluarlah dari rumah, kunjungi tetangga dan teman Anda, dan bersantailah.

* Hindari gula terutama bila digabung dengan cokelat dan minuman berkafein lainnya karena dapat meningkatkan kecemasan.

Dr. Nining Hadiyanti, spesialis kebidanan & kandungan

Siapa Yang Perlu Ekstra Hati-hati?

Setiap kehamilan pasti harus dijaga dengan hati-hati. Namun pada beberapa pasien dengan riwayat tertentu harus dijaga ekstra hati-hati. Mereka yang harus lebih hati-hati:

* Pasien yang susah mendapatkan anak. Secara medis pasien yang demikian disebut infertilitas sehingga agak susah mendapatkannya. Sewajarnyalah kalau ibu demikian lebih hati-hati menjaga kehamilannya.

* Ibu dengan riwayat keguguran berulang. Pasien ini biasanya mudah hamil tapi selalu mengalami keguguran. Perlu ekstra hati-hati bahkan mungkin sampai bed rest.

* Kehamilan pertama di atas usia 35 tahun. Kehamilan itu biasanya mengandung risiko sehingga harus dijaga ekstra.

* Ibu dengan penyakit tertentu. Misalnya, yang mengidap penyakit hipertensi, diabetes, jantung, ginjal atau penyakit lainnya yang membahayakan kehamilan. Sementara itu dari sisi anak, ibu harus menjaga kehamilan bila keadaan janin placenta previa, atau ari-ari terletak di bawah.

Ibu hamil yang tak mengalami keluhan atau gangguan alias normal saja tentu tak perlu ekstra hati-hati. Hati-hati perlu, dengan memperhatikan gizi dan istirahat yang cukup. b Mira

Sumber: Tabloid Ibu Anak