Kenaikan Berat Badan Anak Paling Banyak Saat Kelas 1-3 SD

sumber : http://health.detik.com/read/2011/11/28/124818/1777106/1301/kenaikan-berat-badan-anak-paling-banyak-saat-kelas-1-3-sd
Jakarta, Studi menemukan bahwa anak sekolah dasar kelas 1-3 mendapatkan berat badan lebih banyak dibanding anak-anak SD kelas lainnya.

Studi yang hasilnya dilaporkan dalam jurnal Pediatrics menemukan bahwa peningkatan berat badan terbesar terjadi pada ‘masa kritis’ di awal sekolah dasar dengan peningkatan indeks massa tubuh yang signifikan yaitu sekitar 5,8 persen yang terjadi pada anak kelas 1-3 sekolah dasar.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena saat anak prasekolah sebagian besar anak-anak ini bermain dan terus bergerak, tapi ketika memasuki masa sekolah maka anak-anak ini akan lebih banyak duduk diam dan belajar sehingga lebih sedikit membakar kalori.

Meski kadang anak-anak ini memiliki berat badan yang normal ketika memasuki masa sekolah dasar, tapi tetap ada kemungkinan berat badannya bisa bertambah saat ia mulai sekolah dasar.

Dalam studi ini peneliti melihat data dari sekitar 4.200 anak-anak berkulit putih, 700 anak berkulit hitam dan lebih dari 1.000 anak hispanik dengan menganalisis berat dan tinggi badan anak-anak selama 9 tahun.

“Kami ingin melihat perubahan indeks massa tubuh dari waktu ke waktu, bukan hanya pada anak yang kelebihan berat badan atau obesitas tapi untuk semua anak,” ujar penulis studi Ashlesha Datar dari RAND Corporation di Santa Monica, California, seperti dikutip dari Healthland.Time, Senin (28/11/2011).

Diketahui sekitar 40 persen anak-anak memiliki penambahan berat badan sekitar 25 persen pada grafik pertumbuhannya saat sekolah, lalu proporsinya naik menjadi 45 persen hingga ia kelas 3. Tapi peneliti menemukan tidak ada perubahan berat badan yang signifikan saat sekolah menengah.

Datar mengungkapkan kelas pendidikan fisik mungkin tidak bisa dijadwalkan lebih sering, tapi bisa diakali dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga seperti basket, sepakbola atau kegiatan fisik lainnya.

“Para ahli harus mulai berpikir tentang intervensi yang bisa dilakukan untuk mencegah kelebihan berat badan, karena anak-anak ini lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi ketimbang bergerak atau beraktivitas fisik,” ujar Datar.

Iklan

Dua Kunci Perangi Obesitas

source : cybermed.cbn.net

Diet dan olahraga merupakan dua upaya paling tepat memerangi obesitas yang telah menjadi epidemi dunia. Bila orang tua yang memiliki anak obesitas khawatir anaknya akan cedera jika berolahraga, cobalah berkonsultasi dengan ahli gizi agar dapat merancang pola diet dan olahraga yang tepat guna membantu si kecil menurunkan bobot badannya.

Apa sebenarnya yang menyebabkan seorang anak mengalami kegemukan atau obesitas? Spesialis anak RSAB Harapan Kita Jakarta, dr Tinuk Agung Meilany SpA, menuturkan, sekitar 95 persen obesitas anak disebabkan aspek nutrisional, sedangkan 5 persen adalah penyebab lain seperti penyakit atau kelainan hormon.

“Nutrisi berkaitan dengan pola makan. Penyebab kegemukan adalah ketidakseimbangan antara jumlah makanan yang masuk (input) dengan yang dikeluarkan (output) dalam bentuk tenaga untuk beraktivitas,” ungkap wanita yang akrab disapa Tinuk.

Agar diperoleh nutrisi seimbang, orang tua terutama para ibu perlu mengetahui kebutuhan kalori anaknya. Jangan sampai berlebihan. Sebab, tubuh manusia punya kemampuan mengubah kelebihan kalori menjadi lemak yang bisa jadi biang kegemukan. Sebagai contoh, anak hingga usia 5 tahun kebutuhannya adalah 100 kalori per kilogram berat badan.

Dari situ bisa direncanakan menu apa saja yang bisa dipilih dan diterapkan pada anak setiap hari. Misalkan semangkuk kecil bubur tiga kali sehari ditambah susu tiga gelas dalam sehari, buah-buahan, serta sedikit camilan.

“Kalau masih ragu,ibu bisa bertanya pada dokter atau ahli gizi tentang contoh menu harian yang seimbang. Selanjutnya, menu bisa divariasikan sendiri supaya tidak bosan,” tuturnya.

Tidak seperti orang dewasa, Indeks Massa Tubuh (IMT) pada anak lebih sulit ditentukan karena setiap bulan atau tahun bisa berubah, dan umumnya IMT anak lakilaki dan perempuan juga berbeda. Penilaian biasanya didasarkan pada kurva pertumbuhan atau kurva persentil yang tercatat di Kartu Menuju Sehat (KMS) masing-masing anak dan dipantau sejak bayi. Begitu pula kebutuhan kalori anak bertambah seiring pertambahan usia dan aktivitasnya.

“Faktor individual juga jangan dilupakan. Ada anak yang tidak bisa menghabiskan makanan dalam porsi besar, bisanya sedikit-sedikit, tapi sering misalnya. Hal seperti itu juga perlu dicermati dalam menentukan pola makan yang tepat,” katanya.

Tanpa sadar orang tua juga sering kali menerapkan kebiasaan atau hal-hal yang “pro-gemuk”. Tak hanya pola makan, juga lewat aktivitas sehari-hari. Apalagi gaya hidup modern yang sedentary cenderung membuat anak malas.

“Ke sekolah diantar-jemput,di sekolah jajannya burger, pulang sekolah main game sambil ngemil,di rumah menyalakan TV dan AC pakai remote, kalau lapar tinggal minta pembantu. Akibatnya anak kurang gerak dan jadi gemuk,” papar Tinuk.

Saat ini, pengukuran lingkar pinggang kerap dianjurkan pada orang dewasa sebagai “alarm”atas kondisi kesehatan, termasuk gejala sindrom metabolik. Namun, untuk anak-anak, pengukuran IMT dianggap lebih mewakili profil kesehatan mereka pada masa mendatang, termasuk risiko penyakit jantung.

Bagi orang tua yang tidak mau ribed melakukan pengukuran, ada cara sederhana memantau anak yang dikategorikan gemuk. Cirinya adalah lemak perut yang berlipat, dagu dobel,kedua pipi maju ke depan (sampai-sampai hidung seperti melesak), dan ada lipatan lemak di lengan belakang bagian atas. Selain itu, pada anak obesitas biasanya area leher bagian belakang juga terlihat menghitam.(Koran SI/Koran SI/nsa)

Sumber: Okezone