Kiat orang tua jika anak terdiagnosa sebagai autisme.

sumber : http://dr-anak.com/category/autisme

Pelajarilah mengenai autism.
Cobalah pelajari mengenai autisme dari buku, seminar, dokter dan para orang tua lain yang lebih berpengalaman karena anaknya telah terdiagnosa lebih dahulu daripada anak anda. Banyak hal2 positif yang bisa anda pelajari.

Pelajarilah berbagai jenis terapi autisme, sambil tetap menjalani hidup yang serasi.
Pelajarilah berbagai jenis terapi buat anak autis, sehingga anda tahu apa yang sedang dilakukan pada anak anda. Cermatilah terapi yang mana yang cocok untuk anak anda, karena tidak semua terapi cocok untuk setiap anak. Janganlah jadikan terapi menguasai kehidupan anda. Juga jangan membebani anak anda dengan terapi yang berlebihan. Ada waktu untuk terapi, tapi juga ada waktu untuk bersantai dengan anak anda.

Carilah bantuan dan nasihat dan pilihlah yang mana yang cocok untuk anda dan anak anda.
Bila anak anda sudah usia sekolah, carilah sekolah yang mau menerima anak anda , dimana para guru juga siap membantu dan mengerti tentang mendidik anak dengan kebutuhan khusus. Berkolaborasilah dengan guru tentang pendidikan anak anda. Bawalah guru anak anda untuk mengikuti seminar2 tentang autisme. YAI mengadakan seminar tiap tahun untuk para guru sekolah umum yang menerima anak dengan berkebutuhan khusus.

Hargai, cintai dan belajarlah dari anak anda.
Anak anda mempunyai banyak kekurangan. Janganlah memaksanya untuk segera bisa mengatasinya. Misalnya kalau dia tidak mau memakai baju yang kasar karena kurang nyaman baginya, janganlah mencoba memaksanya. Pastikanlah bahwa anak anda merasa bahwa anda menyayanginya. Tak usah merasa malu dengan kelainannya. Bila ada orang tua lain yang bertanya , katakanlah sejujurnya bahwa anak anda mempunyai gejala autisme. Autisme bukan sesuatu yang memalukan, bukan penyakit dan tidak menular.

Tetap sabar dan bersikap positif.
Banyak anak yang mempunyai gejala2 autisme yang berat pada waktu kecil, ternyata bisa berkembang dengan sangat baik. Jadi tetaplah bersikap positif, karena semuanya ini merupakan proses yang panjang.
Belajarlah untuk menghargai dan menyangi anak anda, betapapun aneh perilakunya. Hargailah dia sebagai insan yang memang mempunyai sifat berbeda dan janganlah menyoroti hal2 yang negatifnya saja.
Jangan meremehkan kemampuan dan pengertiannya. Beberapa kasus autisme yang terlihat berat, setelah bisa berkomunikasi, misalnya dengan mengetik, ternyata mempunyai intelegensi yang tinggi.
Bersabarlah, dan terimalah keadaan. Persiapkan diri anda untuk menjalani suatu perjalanan yang panjang. Suatu hal yang sangat baik mungkin menanti diujung perjalanan anda.

Bantulah anak anda mengembangkan kemampuan dan minatnya.
Bila minatnya mengumpulkan berbagai jenis serangga dikebun, kembangkanlah untuk menjadi seorang peneliti. Janganlah dipaksa untuk melakukan hal-hal yang lain. Bila berbakat musik, olah raga , menggambar atau computer, arahkanlah kearah itu.

Carilah terapis yang terbaik.
Kadang2 terapis yang melakukan terapi pada anak anda tidak berhasil dan anak mengalami stress. Sebaiknya gantilah dengan terapis lain.
Terapis yang baik untuk anak anda adalah yang berhasil mendorong kemajuan perkembangan anak anda.

Pikirkanlah untuk memperbaiki diet anak anda.
Buatlah catatan makanan anak anda setiap hari dan catatlah juga perilakunya. Dalam satu -dua bulan anda akan mendapat pola makanan mana yang membuat perilaku anak anda jadi lebih hiper, agresif dan marah2. Kemudian hilangkanlah makanan tersebut dari menunya. Anak autistik mempunyai kecenderungan alergi yang banyak terhadap berbagai jenis makanan.
Perhatikan juga pencernaannya dan jangan lupa melapor pada dokter anak anda.

Berilah waktu dan ruang untuk diri anda sendiri.
Anda boleh bersedih karena “kehilangan” anak anda. Secara fisik dia ada, tapi anda telah kehilangan anak yang anda inginkan. Ditempatnya ada anak yang samasekali berbeda.
Pada saat yang sama cobalah untuk mengenal dan mencintai anak yang baru ini.
Berilah waktu dan ruang untuk anda sendiri. Pergilah berekreasi dengan teman2 anda, lakukanlah hal2 yang anda sukai dan anda akan lebih merasa kuat untuk menghadapi lagi anak anda yang sulit.

Cintai dan terimalah anak anda sebagaimana adanya.
Hal inilah yang sangat penting. Perasaan bahwa anda menyayangi mereka dan menerima mereka sebagaimana adanya akan membantu memajukan mereka lebih dari segalanya .

sumber: http://www.autisme.or.id

CHAT (Checklist Autism in Toddlers)

sumber : http://dr-anak.com/category/autisme

Interpretasi

Risiko tinggi menderita autis : bila tidak bisa melakukan A5, A7, B2, B3, dan B4

Risiko kecil menderita autis : tidak bisa melakukan A7 dan B4

Kemungkinan gangguan perkembangan lain : tidak bisa melakukan > 3

Dalam batas normal : tidak bisa melakukan < 3

Bagian A. Alo – anamnesis Apakah anak anda :

1. Senang diayun-ayun atau diguncangguncang naik- turun (bounced) di lutut ?
2. Tertarik (memperhatilan) anak lain ?
3. Suka memanjat benda-benda, seperti mamanjat tangga ?
4. Bisa bermain cilukba, petak umpet ?
5. Pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain ?
6. Pernah menunjuk atau menerima sesuatu dengan menunjukkan jari ?
7. Pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana ?
8. Dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil mainan atau balok-balok) ?
9. Pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu ?

Bagian B. Pengamatan

1. Selama pemeriksaan apakah anak menatap (kontak mata dengan) pemeriksa ?
2. Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan : “Lihat, itu. Ada bola (atau mainan lain)” Perhatikan mata anak, apakah anak melihat ke benda yang ditunjuk. Bukan melihat tangan pemeriksa
3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas / cangkir dan teko. Katakan pada anak anda : “Apakah kamu bisa membuatkan secangkir susu untuk mama ?” Diharapkan anak seolah-olah membuat minuman, mengaduk, menuang, meminum. Atau anak mampu bermain seolah-olah menghidangkan makanan, minuman, bercocok tanam, menyapu, mengepel dll.
4. Tanyakan pada anak : “ Coba tunjukkan mana ‘anu’ (nama benda yang dikenal anak dan ada disekitar kita). Apakah anak menunjukkan dengan jarinya ? Atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda ?
5. Dapatkah anak anda menyusun kubus / balok menjadi suatu menara ?

Keterangan :

CHAT dikembangkan di Inggeris dan telah digunakan untuk penjaringan lebih dari 16.000 balita. Pertanyaan berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint attention. Pertanyaan A5, 7 dan B2, 3, 4 paling penting. Anak yang tidak bisa melakukan hal-hal tersebut ketika di uji 2 kali (jarak 1 bulan) semua kemudian terdiagnosis sebagai autis ketika berumur 20 – 42 bulan. Tetapi anak dengan keterlambatan perkembangan yang menyeluruh juga tidak bisa melakukannya. Oleh karena itu perlu menyingkirkan kemungkinan retardasi mental.
Sumber IDAI.or.id

Studi Lain tidak Menemukan hubungan MMR dengan Autisme

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20446/studi-lain-tidak-menemukan-hubungan-mmr-dengan-autisme.html

Kalbe.co.id – Sebuah studi baru memberikan bukti lebih lanjut bahwa vaksin measles-mumps-rubella tidak terkait dengan peningkatan risiko autisme.

Kekhawatiran bahwa suntikan MMR bisa menyebabkan autisme pertama kali diangkat satu dekade yang lalu oleh dokter Inggris Andrew Wakefield, yang berdasarkan penelitian dari 12 anak-anak, mengusulkan bahwa ada kaitan antara vaksin dengan penyakit usus dan autisme.

Penelitian telah dilakukan sejak didiskreditkan secara luas, dan sejumlah studi internasional telah gagal untuk menemukan hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme.

Studi terbaru ini termasuk anak Polandia usia 2-15 yang telah didiagnosis dengan autisme. Peneliti membandingkan setiap anak dengan dua anak-anak yang sehat umur dan jenis kelamin yang sama yang telah dirawat oleh dokter yang sama.

Beberapa anak telah menerima vaksin MMR, sementara yang lain tidak diberi vaksin sama sekali atau telah menerima vaksin untuk melawan campak saja.

Polandia telah lebih lambat untuk memperkenalkan MMR dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, tapi selama sepuluh tahun terakhir, perlahan-lahan vaksin telah digantikan dengan suntikan campak saja.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan, anak-anak yang telah menerima vaksin MMR benar-benar memiliki risiko yang lebih rendah terkena autisme daripada yang tidak divaksinasi. Juga tidak ada bukti peningkatan risiko autisme dengan vaksin campak saja.

Menurut pemimpin peneliti, Dr Dorota Mrozek-Budzyn, dari Jagiellonian University di Krakow, orangtua harus yakin tentang keamanan vaksin MMR.

Dia mencatat bahwa penyakit menular yang dapat dicegah oleh vaksin MMR kadang-kadang dapat menjadi komplikasi serius.

Campak, misalnya, dapat mengakibatkan radang paru-paru atau radang otak, dan satu atau dua anak mati keluar dari setiap 1.000 orang yang tertular virus, menurut US Centers for Disease Control and Prevention. Gondok dapat menyebabkan pembengkakan testis menyakitkan, radang otak dan, dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan pendengaran.

Sebagian besar anak-anak dalam studi saat ini juga telah menerima vaksin MMR atau vaksin campak, menurut laporan di Pediatric Infectious Disease Journal.

Dari 96 anak-anak dengan autisme, 8 mereka belum pernah diberi vaksin untuk melawan campak, sementara sekitar 41 persen telah menerima suntikan MMR dan setengah telah menerima hanya vaksin campak.

Di antara anak-anak yang sehat, 55 persen telah mendapat suntikan MMR, sementara 45 persen telah menerima vaksin campak, hanya satu anak tetap tidak divaksinasi.

Ketika para peneliti hanya melihat anak-anak yang telah divaksinasi sebelum diagnosis autisme mereka, mereka menemukan bahwa anak-anak yang telah menerima vaksin MMR mempunyai risiko 83 persen lebih rendah dari anak-anak autis daripada tidak divaksinasi. Vaksin campak juga dikaitkan dengan resiko lebih rendah 56 persen.

Ketika para peneliti melihat pada anak-anak yang telah divaksinasi sebelum menunjukkan gejala autisme, vaksinasi MMR kembali dikaitkan dengan resiko yang lebih rendah dari gangguan. Vaksin Campak tunggal menunjukkan tidak berpengaruh pada risiko autisme.

Studi tidak menjawab pertanyaan mengapa anak-anak yang divaksinasi autisme memiliki resiko yang lebih rendah. Tapi satu kemungkinan, menurut Mrozek-Budzyn, adalah bahwa beberapa potensi anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda autisme, atau mungkin masalah-masalah kesehatan lainnya, sebelum menerima vaksin MMR atau vaksin campak. Dokter atau orang tua kemudian dapat menghindari vaksinasi.

Autisme Bisa Dibantu dengan Hormon Oksitosin

sumber :http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=20488

Kalbe.co.id – Oksitosin atau yang dikenal juga dengan hormon cinta, bisa membantu mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial penderita autisme pada level high-functioning. High-functioning autism merupakan istilah informal yang merujuk pada orang-orang autis yang dianggap memiliki fungsi yang lebih tinggi di bidang tertentu dibandingkan penderita autisme pada umumnya.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan high-functioning autism, seperti Asperger’s syndrome, yang ditangani dengan oxytocin merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan lebih banyak perilaku sosial yang tepat.

Meskipun mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi, orang-orang dengan high-functioning autism kurang keahlian sosial untuk bergaul secara tepat dengan orang lain di dalam masyarakat.

Oxytocin dinamakan hormon cinta karena dikenal menguatkan hubungan antara ibu dan bayi. Hormon ini juga diyakini terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku sosial lainnya. Penelitian lain telah menemukan bahwa anak-anak autis memiliki kadar oxytocin yang lebih rendah dibandingkan anak-anak tanpa autisme.

Dalam studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini, peneliti memeriksa efek menghirup oxytocin terhadap perilaku sosial pada 13 orang dewasa muda dengan high-functioning autism dalam dua percobaan terpisah. Selain itu, peneliti juga melibatkan 13 partisipan tanpa autisme sebagai kelompok pembanding.

Pada percobaan pertama, peneliti mengamati perilaku sosial partisipan dalam ball-tossing game di komputer. Dalam game ini, pemain diminta memilih mengirim bola kepada karakter yang baik, buruk atau netral.

Pada umumnya, orang-orang dengan autisme tidak akan terlalu memperhatikan ketiga pilihan tersebut. Tapi dalam percobaan ini, mereka yang menghirup oxytocin lebih banyak terlibat dengan karakter baik dan mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik dibandingkan yang jahat.

Partisipan dengan autisme yang diberikan placebo tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap ketiga karakter. Sedang kelompok pembanding tanpa autisme mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik.

Dalam percobaan kedua, peneliti mengukur tingkat perhatian dan respon partisipan terhadap gambar wajah manusia. Mereka yang ditangani dengan oxytocin lebih memperhatikan tanda-tanda visual di gambar dan melihat lebih lama pada area wajah yang berkaitan dengan informasi sosial, seperti mata.

“Di bawah pengaruh oxytocin, pasien merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku sosial yang lebih tepat. Hal ini menunjukkan potensi terapis oxytocin dalam menangani autisme,” terang peneliti Elissar Andari dari Centre Nátional de la Recherche Scientifique di Bron, Prancis, seperti dikutip situs webmd.com.

Peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mengindikasikan perlunya studi lanjutan untuk memeriksa efek oxytocin terhadap keterampilan dan perilaku sosial pada orang-orang dengan high-functioning autism.

Hormon Cinta Bantu Penderita Autisme

sumber :http://kesehatan.kompas.com/read/2010/02/16/11255585/Hormon.Cinta.Bantu.Penderita.Autisme

Kesadaran orangtua untuk menyembuhkan anaknya yang menderita autis kian meningkat. Mereka berharap anaknya dapat hidup normal. Kegiatan terapi di Kiddy Autism Centre, Sungai Kambang, Jambi, pada hari Kamis (8/5).
TERKAIT:

* Bayi Prematur Lebih Berisiko Mengidap Autis
* Kenapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?
* Dokter Pemicu Kontroversi Vaksin MMR Dijatuhi Sanksi
* Diet Khusus Belum Terbukti Efektif untuk Anak Autis
* Jumlah Anak Autis Meningkat
* GramediaShop: Cerdas Dan Bugar Dengan Senam Lantai
* GramediaShop: Seri Biologi Organ Tubuh Manusia – Ginjal Dan Kandung Kemih

BRON, KOMPAS.com – Hormon cinta atau oksitosin terbukti bermanfaat memperbaiki fungsi sosial para penderita autisme, demikian dilaporkan sebuah riset terbaru di Prancis.

Angela Sirigu dan timnya dari laboratorium CNRS di Bron, Prancis menemukan pemberian oksitosin dalam bentuk inhalasi kepada partisipan pengidap spektrum autisme menunjukkan hasil yang baik. Mereka cenderung lebih fokus dalam memberikan perhatian terhadap mata dan wajah manusia — yang merupakan penanda penting dari interaksi sosial.

Riset ini dilakukan dengan cara membandingkan efek oksitosin pada 13 individu berusia 17-39 tahun – 10 di antaranya dengan gejala spektrum autis dan tiga lainnya mengidap high functioning autisme (autisme dengan tingkat IQ tinggi) – dengan 13 kelompok populasi kontrol. Kedua kelompok ini diperintahkan bermain video game sepakbola di mana kelompok autisme mendapatkan inhaler oksitosin.

Riset yang dipublikasi secara online dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, itu menemukan bahwa inhalasi oksitosin pada dewasa yang pengidap Sindrom Asperger atau autisme IQ tinggi membuat mereka cenderung senang bermain dengan partner mereka yang lebih responsif secara sosial dalam video gim sepakbola.

“(Riset) Kami menunjukan bahwa oksitosin dapat merangsang pendekatan sosial dan pemahaman sosial para pasien pengidap autisme,” ungkap Sirigu.

“Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui apakah asupan oksitosin untuk jangka panjang dapat memperbaiki pada kehidupan soal para pasien ini dalam kesehariannya,” tambahnya.

Hormon oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan dalam kelenjar pituitari belakang. Hormon ini biasanya banyak diproduksi oleh wanita hamil menjelang melahirkan dan juga dilepaskan pria dan wanita saat berhubungan intim. Hormon ini juga terbukti berkaitan dengan ikatan emosional dan hubungan interpersonal.

Vaksinasi MMR Tidak Berkaitan Dengan Timbulnya Autisme

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-8yfsl0-tips.htm

Apakah autisme itu?

Autisme adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan gangguan perkembangan secara neurologik dimana individu yang mengalaminya akan mengalami gangguan pada kemampuan interaksi sosialnya dan keterampilan komunikasinya, serta kecenderungan untuk mengulangi suatu perilaku tertentu. Terdapat berbagai macam bentuk autisme, dari seseorang yang dapat berperilaku baik pada berbagai keadaan, sampai seseorang yang mengalami gangguan bicara dan keterampilan harian sederhana. Autisme biasanya didiagnosa pada usia balita atau usia prasekolah, walaupun ada juga yang didiagnosa pada usia yang lebih tua. Menurut laporan, sekitar 20% anak yang mengalami autisme mengalami sesuatu yang disebut sebagai �regresi�, yaitu mereka tampaknya mengalami suatu perkembangan normal tetapi kemudian kehilangan keterampilan komunikasi dan sosial. Anak laki-laki mempunyai resiko tiga sampai empat kali lipat untuk mengalami autisme dari pada anak perempuan. Autisme dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnik, dan sosial manapun. Berbagai macam faktor yang diduga berhubungan dengan autisme antara lain faktor infeksi, metabolisme, genetik, neurologik, dan lingkungan.

Faktor genetik dan kelainan otak pada saat lahir dianggap sebagai penyebab utama autisme.

Apakah vaksin measles-mumps-rubella (MMR) / campak-gondong-rubella dapat menyebabkan autisme?

Menurut bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini tidak ada satupun hipotesis yang mendukung pernyataan bahwa vaksin MMR, atau kombinasinya, dapat menyebabkan terjadinya autisme maupun bentuk autisme regresif. Pertanyaan-pertanyaan akan adanya kemungkinan kaitan antara vaksin MMR dan autisme telah diteliti secara luas oleh National Academy of Sciences, Institute of Medicine, Amerika. Penelitian ini menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti epidemiologi yang ada saat ini bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Apa saja yang telah dapat disimpulkan melalui penelitian tersebut?

Penelitian epidemiologi telah menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR pada anak dengan terjadinya autisme.

Apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kaitan antara autisme dan vaksin MMR?

Beberapa penelitian yang menyatakan ada kemungkinan hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme sebenarnya memiliki kekurangan dan kelemahan signifikan dan tidak dapat dibuktikan dengan nyata. Penelitian-penelitian semacam ini telah gagal dalam menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Penelitian tersebut meneliti dengan menggunakan jumlah kasus yang terlalu sedikit yang diperlukan untuk dapat menyimpulkan sesuatu secara umum. Selain itu, kasus yang diteliti bukan merupakan sampel yang representatif dan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai perbandingan.

Apakah vaksinasi MMR yang diberikan secara terpisah berdasarkan komponen individualnya, dengan kata lain menyuntik anak tiga kali secara terpisah, akan lebih aman dari pada satu suntikan kombinasi?

Tidak ada penelitian ilmiah atau data yang menunjukkan bahwa ada manfaat dalam pemberian vaksinasi MMR secara terpisah menurut komponen individualnya. Komite Institute of Medicine, Amerika yang menganalisa keamanan imunisasi telah menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung pernyataan bahwa sistem kekebalan bayi belum mampu menghadapi sejumlah antigen yang disuntikkan saat imunisasi rutin. Memisahkan vaksinasi MMR menjadi tiga dosis terpisah yang diberikan sebanyak tiga kali akan menambah ketidaknyamanan.

Apakah adik dari seorang anak autistik, atau anak dari seorang autistik dapat diberi vaksinasi MMR?

Ya. Bukti-bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa vaksin MMR, atau kombinasi apapu vaksin tersebut, dapat menyebabkan terjadinya autisme, termasuk bentuk autisme regresif.

Apakah vaksinasi sebaiknya ditunda sampai akibat negatif dari vaksin ini diketahui?

Tidak. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa vaksin yang diberikan pada imunisasi dapat menyebabkan akibat jangka panjang. Sebaliknya, seseorang dapat jatuh sakit dan meninggal dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini. (cfs/cdc.gov)

Q & A Autism

Autism

Question :dear smart parents,mau nanya tempat untuk mendapatkan vcd untuk anak autis. Agar dia bisa belajar.dimana ya?mohon masukannya.
tks
yeni

Answer 1 :Mbak Yeni,
Kebetulan kemarin saya lihat brosur dari Haula Toys disitu tersedia alat terapi autis, aneka vcd pendidikan telpnya : 4372107, 43936700, HP : 08161610855/70735955smoga membantu…
salam,
Mia

Answer 2 : dear allSaya posting autis – vaksinasiUntuk menjawab beberapa pertanyaan perihal miskonsepsi ini
Evidence Does Not Support Thimerosal-Autism Link
Posted 11/12/2003
Madsen KM, Lauritsen MB, Pedersen CB, et al. Thimerosal and the occurrenceof autism: negative ecological evidence from Danish population-based data.Pediatrics. 2003;112:604-606.
The health care com munity has been uncertain about whether thimerosal, a mercury-based preservative found in some vaccines, is a contributing factor for the seeming increased prevalence of autistic disorder (see Hudson GT,Dixon D. Autism: challenges in diagnosis and treatment [Board Review].Clinician Reviews. 2003;13[7]:45-52). However, the results of a Danish population-based study published in Pediatrics did not show such a correlation.For their analysis, Madsen et al obtained information from a Danish national database regarding 956 children who were diagnosed with autism from age 2 up to (but not including) their 10th birthday between 1971 and 2000. Children who followed a full vaccination schedule between 1961 and 1970 received a total of 400 mg of thimerosal by age 15 months; from 1970 to 1992, children received a total of 250 mg by age 10 months. Thimerosal-containing vaccines were discontinued in Denmark in March 1992.Data showed that autism incidence remained stable until 1990. In 1991, the incidence began to rise, but the greatest increases occurred after the discontinuation of thimero sal. The rate of incidence peaked in 1999;children between the ages of 2 and 6 who were diagnosed with autism that year had been born after the introduction of thimerosal-free vaccines.The spike in the incidence of autism after 1990 may be attributable to increased attention to the disorder, as well as to a change in the diagnostic criteria that occurred in 1994, the authors suggest. Furthermore, they caution that their data “cannot, of course, exclude the possibility that thimerosal at doses larger than [those] used in Denmark may lead to neuro developmental damage.”Contrary to previous concerns, new research suggests that the vaccine preservative thimerosal is not linked to autism risk.Clinician Reviews 13(10):38,41, 2003. © 2003 Clinicians Group, LLC
Misconceptions about Immunization
Misconception #9
Vaccines cause autism
On October 3, 1999, Cable News Network broadcasted a program on which the parents of three-year-old Liam Reynolds stated that he had developed autism two weeks after receiving measles, mumps and rubella (MMR) vaccine [1]. The program also aired the views of Stephanie Cave, M.D., a Louisiana physician who “specializes in treating autism” with diet and nutritional supplements [2]. An American Academy of Pediatrics official and explained why there is no reason to believe that a link exists between autism and vaccination. Butthe dramatic before-and-after videotapes of the child probably had enough impact to persuade many parents to avoid having their children vaccinated.The program’s narrator stated there had been “a puzzling jump in the number of children being diagnosed with autism.” However, the number being diagnosed may reflect increased reporting of cases rather than an increase in actual incidence.Autism is a chronic developmental disorder characterized by problems in social interaction, communication, and restrictive and repetitive interests and activities. Autism may be initially noted in infancy as impaired attachment, but it is most often first identified in toddlers, mostly boys,from 18 to 30 months of age. Boys are 3-4 times more likely to be afflicted with autism than girls. Girls as a group, however, may be more severely affected. Correct diagnosis of autism depends on an accurate developmental history focused on types of behaviors typical of autism and on evaluation of functional skills. Approximately 75% of persons with autism are mentally retarded. Fewer than 5% of children with autistic traits have fragile X oranother known chromosomal abnormality. Although no cure exists, autism is treatable. Symptoms associated with autism often improve as children start to acquire language and learn how to communicate their needs.In most cases of autism, no cause is apparent. In a few cases, biologic causes have been identified, although none are unique to autism. Some prenatal factors include intrauterine rubella; tuberous sclerosis; chromosomal abnormalities, such as Down’s syndrome; as well as brain abnormalities, such as hydrocephalus. Frequently cited postnatal conditionsassociated with autism are untreated phenylketonuria, infantile spasms, and herpes simplex encephalitis. In the majority of cases, however, no underlying cause can be identified.The current theory favored by many experts is that autism is a genetically-based disorder that occurs before birth [3]. Studies of persons with autism are finding abnormalities in brain structures that develop in the first few weeks of fetal development [4]. Evidence that genetics is an important, but not exclusive, cause of autism includes a 3-8% risk of recurrence in families with one affected child. A working group convened by the National Institutes of Health in 1995 reached a consensus that autism is a genetic condition. An issue unresolved by the group was the role of immune factors in autism spectrum disorders; it was suggested that studies to clarify the situation are needed.No Evidence of LinkSome parents of children with autism believe that there is a link between measles, mumps, rubella (MMR) vaccine and autism. However, there is no sensible reason to believe that any vaccine can cause autism or any kind of behavioral disorder. Typically, symptoms of autism are first noted by parents as their child begins to have difficulty with delays in speakingafter age one. MMR vaccine is first given to children at 12-15 months of age. Since this is also an age when autism commonly becomes apparent, it is not surprising that autism follows MMR immunization in some cases. However,by far the most logical explanation is coincidence, not cause-and-effect.If measles vaccine or any other vaccine causes autism, it would have to be a very rare occurrence, because millions of children have received vaccines without ill health effects. The only “evidence” linking MMR vaccine and autism was published in the British journal Lancet in 1998 [5]. An editorial published in the same issue, however, discussed concerns about the validity of the study [6]. Based on data from 12 patients, Dr. Andrew Wakefield (a British gastroenterologist) and colleagues speculated that MMR vaccine may have been the possible cause of bowel problems which led to a decreased absorption of essential vitamins and nutrients which resulted in developmental disorders like autism. No scientific analyses were reported,however, to substantiate the theory. Whether this series of 12 casesrepresent an unusual or unique clinical syndrome is difficult to judge without knowing the size of the patient population and time period over which the cases were identified. If there happened to be selective referral of patients with autism to the researchers’ practice, for example, the reported case series may simply reflect such referral bias. Moreover, thetheory that autism may be caused by poor absorption of nutrients due to bowel inflammation is senseless and is not supported by the clinical data.In at least 4 of the 12 cases, behavioral problems appeared before the onset of symptoms of inflammatory bowel disease. Furthermore, since publication of their original report in February of 1998, Wakefield and colleagues have published another study in which highly specific laboratory assays in patients with inflammatory bowel disease, the posited mechanism for autism after MMR vaccination, were negative for measles virus [7,8].Other recent investigations also do not support a causal association between MMR (or other measles-containing vaccines) and autism or inflammatory bowel disease (IBD) [9-13]. In one investigation, a Working Party on MMR Vaccine of the United Kingdom’s Committee on Safety of Medicines (1999) was charged with the evaluation of several hundred reports, collected by a firm of lawyers, of autism, Crohn’s disease, or similar disorders developing after receipt of MMR or MR vaccines. The Working Party conducted a systematic,standardized review of parental and physician information. Although acknowledging that it is impossible to prove or refute the suggested associations (because of variable data quality, biased selection of cases,and lack of a control group), the Working Party concluded that theinformation available “… did not support the suggested causal associations or give cause for concern about the safety of MMR or MR vaccines.” [12] In March 2000, a Medical Research Council report concludes that between March1998 and September 1999 no new evidence had suggested a causal link between MMR and autism or IBD [13]. The American Medical Association has reached the same conclusion.A study by Taylor and colleagues provides population-based evidence that overcomes many of the limitations faced by the Working Party and by Wakefield and colleagues [14,15]. The authors identified all 498 known cases of autism spectrum disorders (ASD) in certain districts of London born in 1979 or later and linked them to an independent regional vaccination registry. ASD includes classical autism, atypical autism, and Asperger’ssyndrome, but the results were similar when cases of classical autism were analyzed separately. The authors noted:The known number of ASD cases has been increasing since 1979, but there was no jump after the introduction of MMR vaccine in 1988.Cases vaccinated before 18 months of age had similar ages at diagnosis as did cases who had been vaccinated after 18 months or not vaccinated,indicating that vaccination does not result in earlier expression of autistic characteristics.At age two years, the MMR vaccination coverage among the ASD cases was nearly identical to coverage in children in the same birth cohorts in the whole region, providing evidence of an overall lack of association with vaccination.The first diagnosis of autism or initial signs of behavioral regression were not more likely to occur within time periods following vaccination than during other time periods.A weak statistical association existed between MMR vaccination and initial parental concern, but this appears to have been due to parents’ difficulty in recalling precise age at onset and a preference for approximating the age as 18 months.A study of the population of children in two communities in Sweden also found no evidence of an association between MMR vaccination and autism [16].That study found no difference in the prevalence of autism in children born after the introduction of MMR vaccination in Sweden compared with children born before.In January 1990, an Institute of Medicine committee examining possible health effects associated with DPT vaccine concluded that there was no evidence to indicate a causal relation between DPT vaccine or the pertussis component of DPT vaccine and autism [17]. Also, data obtained from CDC’s Monitoring System for Adverse Events Following Immunization (MASAEFI) system, showed no reports of autism occurring within 28 days of DPT immunization from 1978-1990, a period in which approximately 80.1 million doses of DPT vaccine were administered in the United States. From January 1990 through February 1998, only 15 cases of autism behavior disorder after immunization were reported to the Vaccine Adverse Events Reporting System (VAERS). Because of the small number of reports over an 8-year period, the cases reported are likely to represent unrelated chance occurrences that happened around the time of vaccination. The most frequent vaccines cited in the reports were diphtheria, tetanus, pertussis (DPT), oral polio vaccine (OPV), and MMR. Other vaccines reported as having a possible association with autism were Haemophilus influenzae type B and Hepatitis B.In 2000, the American Academy of Pediatrics convened a multidisciplinary panel of experts ro review what is known about the development, epidemiology, and genetics of ASD and the hypothesized associations with IBD, measles, and MMR vaccine. The panel concluded:Although the possible association with MMR vaccine has received much public and political attention and there are many who have derived their own conclusions based on personal experiences, the available evidence does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism or associated disorders or IBD. Separate administration of measles, mumps, and rubella vaccines to children provides no benefit over administration of the combination MMR vaccine and would result in delayed or missed immunizations.Pediatricians need to work with families to ensure that children are protected early in the second year of life from these preventable diseases.Continued scientific efforts need to be directed to the identification of the causes of ASD [18].The fact that autism is diagnosed during the second or third year of life does not mean that it began at that age. Analyses of home movies made from birth onward have shown that most children who are diagnosed as autistic during the second or third year have abnormal signs during the first year –and some even show abnormalities at birth [19-26].Recently, the National Childhood Encephalopathy Study (NCES) was examined to see if there was any link between measles vaccine and neurological events.Researchers in England found no indication that measles vaccine contributes to the development of educational and behavioral deficits or other possible signs of long-term neurological damage [27].Most people have no adverse reaction after receiving a MMR vaccination.About 5%-15% of vaccines may develop a fever 5-12 days after MMR vaccination and 5% may develop a rash. Central nervous system conditions, including encephalitis and encephalopathy, have been reported with a frequency of less than one per million doses administered. In July 2002, after Wakefield testified before a U.S. Congressional committee chaired by a vaccine opponent, Dr. Michael Fitzpatrick (a British general physician and parenbt of an autistic child) charged that Wakefield “has opted out of medical science to join the world of pseudoscientific dogma, media celebrity and populist campaigning.” [29] In a devastating review of the conduct of Wakefield and Paul Shattock, a pharmacist and vaccine opponent who runs the so-called Autism Research Unit at the University of Sunderland, Fitzpatrick stated:There is now a flourishing network of private laboratories offering urine and blood tests of the sort carried out by Mr Shattock — all of no recognised diagnostic value. There is a substantial business sector selling dietary supplements, vitamins, minerals, enzymes and all manner of special dietary products — all of no proven therapeutic value. The common feature of both tests and supplements is their exorbitant cost, suggesting that highprofits are being made from peddling interventions of no proven value, often to desperate parents, many on low incomes.There are other beneficiaries of the anti-MMR campaign. Private GPs are now making profits of several hundred percent from selling separate vaccines.Lawyers are eagerly collecting legal aid fees by inflating the hopes of parents that they may gain substantial compensation for the alleged damages from MMR through the pursuit of litigation. It is not surprising that both are enthusiastic supporters of Dr Wakefield’s crusade. It seems that Britain’s investigative journalists are so smitten by Dr Wakefield’s charisma and so credulous towards junk science, that they are reluctant to investigate the real abuses generated around the anti-MMR campaign [29].As with the administration of any agent that can produce fever, some children may have a febrile seizure. Most that follow measles vaccination are simple febrile seizures and affect children without known risk factors.An increased risk of febrile convulsions may occur among children with a prior history of convulsions.
The Bottom Line
There are no proven data to suggest that measles vaccine will increase the risk of developing autism or any other behavioral disorder [28]. The known benefits vastly exceed any unknown risks. The CDC continues to recommend two doses of MMR vaccine for all children who do not have a known medical contraindication; the first dose is recommended at 12-15 months of age and the second dose is recommended at either 4-6 years of age or at 11-12 years of age [30,31].To assure the safety of vaccines, the CDC, the FDA, the National Institutes of Health (NIH), and other federal agencies routinely examine any new evidence that would suggest possible problems with the safety of vaccines. Currently, CDC is conducting a study in the metropolitan Atlanta area to further evaluate any possible association between MMR vaccination and autism.Immunization against measles has led to a dramatic decrease in the incidence of measles, which is sometimes fatal. I believe that the manner in which CNN covered this issue was extremely irresponsible and will result in the death of children whose parents are scared out of having their children receive it.For Additional Information.
East Lacashire Authority MMR Information Pack, April 2001.
wati

Autism Spectrum Disorder

As the name “autism spectrum disorders” suggests, ASDs cover a wide range of behaviors and abilities. People who have an ASD, like all people, are very different in how they act and what they can do. No two people with ASDs will have the same symptoms.
People with ASDs have serious impairments with social, emotional, and communication skills. They might repeat certain behaviors again and again and might have trouble changing their daily routine. Many people with ASDs also have different ways of learning, paying attention, or reacting to things. ASDs begin before the age of 3 and last throughout a person’s life. It is important to note that some people without ASDs might also have some of these symptoms. But for people with ASDs, the impairment is bad enough to make life very challenging.
• Social Skills
• Communication
• Repeated Behaviors and Routines
• Additional Disabilities and Conditions
• Associated Features
• Pattern of Development
• Possible Red Flags for Autism Spectrum Disorders
• What can I do if I think my child has an ASD?
Social Skills
Social impairments are one of the main problems in all of the autism spectrum disorders (ASDs). People with ASDs do not have merely social “difficulties” like shyness. The social impairments they have are bad enough to cause serious problems in everyday life. These social problems are often combined with the other areas of deficit, such as communication skills and unusual behaviors and interests. For instance, the inability to have a back-and-forth conversation is both a social and a communication problem.
Typical infants are very interested in the world and people around them. By the first birthday, a typical toddler tries to imitate words, uses simple gestures such as waving “bye bye,” grasps fingers, and smiles at people. But the young child with autism may have a very hard time learning to interact with other people. One way very young children interact with others is by imitating actions—for instance, clapping when mom claps. Children with ASDs may not do this, and they may not show interest in social games like peek-a-boo or pat-a-cake. Although the ability to play pat-a-cake is not an important life skill, the ability to imitate is. We learn all the time by watching others and by doing what they do—especially in new situations and in the use of language.
People with ASDs might not interact with others the way most people do. They might not be interested in other people at all. Some might want friends but have social problems that make those relationships difficult. They might not make eye contact and might just want to be alone. Many children with ASDs have a very hard time learning to take turns and share—much more so than other children. This can make other children unwilling to play with them.
People with ASDs may have problems with expression, so they might have trouble understanding other people’s feelings or talking about their own feelings. Many people with ASDs are very sensitive to being touched and might not want to be held or cuddled. Self-stimulatory behaviors, common among people with ASDs, may seem odd to others or make them uncomfortable, causing them to shy away from a person with an ASD.
Social issues such as trouble interacting with peers, saying whatever comes to mind even if it’s inappropriate, difficulty adapting to change, and even poor grooming habits can sometimes make it hard for adults with ASDs to get and/or keep a job at their intellectual level. Anxiety and depression, which affect some people with ASDs, can make existing social impairments even harder to manage.
Social skills that many people learn by watching others may need to be taught directly to people with ASDs. When deciding what to teach, remember the social value of learning independent living skills such as toilet training and other basic grooming skills (bathing, tooth brushing, dressing appropriately, etc.). Click here to learn more about autism treatment.
Because children and adolescents with ASDs are “different,” and because they are often very literal and sometimes naïve and overly trusting, they are often the target of bullies and might be easily taken advantage of. It is very important to teach all children from a very young age to be tolerant and accepting of differences. It is also important to teach children and adolescents with ASDs about personal safety and tell them to go to a parent, teacher, or other trusted adult if they need help.
There are many strategies and curriculum supplements for teaching children and adolescents with and without ASDs about bullying and other personal safety issues. These can be found by visiting a local bookstore, searching an online book seller, or by contacting a publishing company that specializes in disability-specific and/or education publications. Teachers and health care professionals are often good resources for this type of information as well.
For more examples of the social issues related to ASDs, click here.
Communication
Each person with an ASD has different communication skills. Some people may have relatively good verbal skills, with only a slight language delay with impaired social skills. Others may be not speak at all or have limited ability or interest in communicating and interacting with others. About 40% of children with ASDs do not talk at all. Another 25%–30% of children with autism have some words at 12 to 18 months of age and then lose them.[1] Others may speak, but not until later in childhood.
People with ASDs who do speak may use language in unusual ways. They may not be able to combine words into meaningful sentences. Some people with ASDs speak only single words, while others repeat the same phrases over and over. Some children repeat what others say, a condition called echolalia. The repeated words might be said right away or at a later time. For example, if you ask someone with an ASD, “Do you want some juice?” he or she might repeat “Do you want some juice?” instead of answering your question. Although many children without ASDs go through a stage where they repeat what they hear, it normally passes by age 3. Some people with ASDs can speak well but may have a hard time listening to what other people say.
People with ASDs may have a hard time using and understanding gestures, body language, or tone of voice. For example, people with ASDs might not understand what it means to wave goodbye. Facial expressions, movements, and gestures may not match what they are saying. For instance, people with ASDs might smile while saying something sad. They might say “I” when they mean “you,” or vice versa. Their voices might sound flat, robot-like, or high-pitched. People with ASDs might stand too close to the people they are talking to, or might stick with one topic of conversation for too long. They might talk a lot about something they really like, rather than have a back-and-forth conversation with someone. Some children with relatively good language skills speak like little adults, failing to pick up on the “kid-speak” that is common in their peers.
For more examples of the communication issues related to ASDs, click here.
Repeated Behaviors and Routines
Unusual behaviors such as repetitive motions may make social interactions difficult.
Repetitive motions are actions repeated over and over again. They can involve part of the body or the entire body or even an object or toy. For instance, people with ASDs may spend a lot of time repeatedly flapping their arms or rocking from side to side. They might repeatedly turn a light on and off or spin the wheels of a toy car in front of their eyes. These types of activities are known as self-stimulation or “stimming.”
People with ASDs often thrive on routine. A change in the normal pattern of the day—like a stop on the way home from school—can be very upsetting or frustrating to people with ASDs. They may “lose control” and have a “melt down” or tantrum, especially if they’re in a strange place.
Also, some people with ASDs develop routines that might seem unusual or unnecessary. For example, a person might try to look in every window he or she walks by in a building or may always want to watch a video in its entirety—from the previews at the beginning through the credits at the end. Not being allowed to do these types of routines may cause severe frustration and tantrums.
For more examples of repetitive behaviors and routines related to ASDs, click here.
Additional Disabilities and Conditions
Children with an ASD may also have one of several other developmental disabilities such as mental retardation/intellectual impairment, epilepsy, fragile X syndrome, or tuberous sclerosis. A study published by CDC in 2003 found that 62% of the children who had an ASD had at least one additional disability or epilepsy (glossary). Of those children, 68% had mental retardation/intellectual impairment, 8% had epilepsy, 5% had cerebral palsy, 1% had vision impairment, and 1% had hearing loss. Other studies show that 5% to 38% of adults with ASDs have epilepsy.[2] And some people with ASDs may have mental disorders such as depression and anxiety. Although these additional conditions may not be key to the ASD diagnosis, they do add challenges for the person with ASD and his or her family.

Autism
Source : http://www.cdc.gov
Associated Features
People with ASDs might have a range of other behaviors associated with the disorder. These include hyperactivity, short attention span, impulsivity, aggressiveness, self-injury, and temper tantrums. They may have unusual responses to touch, smell, sound, and other sensory input. For example, they may over- or under-react to pain or to a loud noise. They may have abnormal eating habits. For instance, some people with ASDs limit their diet to only a few foods, and others may eat nonfood items like dirt or rocks (this is called pica). They may also have odd sleeping habits. People with ASDs may seem to have abnormal moods or emotional reactions. They may laugh or cry at unusual times or show no emotional response at times you would expect one. They may not be afraid of dangerous things, and they could be fearful of harmless objects. People with ASDs may also have gastrointestinal issues such as chronic constipation or diarrhea.
It is important to remember that children with ASDs can get sick or injured just like children without ASDs. Regular medical and dental exams should be part of a child’s intervention plan. Often it is hard to tell if a child’s behavior is related to the ASD or is caused by a separate health problem. For instance, head banging could be a symptom of an ASD, or it could be a sign that the child is having headaches. In those cases, a careful physical exam is important.
Pattern of Development
Some children with ASDs show hints of future problems within the first few months of life. In others, symptoms may not show up until 24 months or later. Studies have shown that one third to half of parents of children with ASDs noticed a problem before their child’s first birthday, and nearly 80%–90% saw problems by 24 months. Some children with ASDs seem to develop normally until 18–24 months of age and then they stop gaining new language and social skills, or they lose the skills they had.
Children with ASDs develop at different rates in different areas of growth. They may have delays in language, social, and learning skills, while their motor skills are about the same as other children their age. They might be very good at putting puzzles together or solving computer problems, but they might have trouble with social activities like talking or making friends. Children with ASDs might also learn a hard skill before they learn an easy one. For example, a child might be able to read long words but not be able to tell you what sound a “b” makes.
Children develop at their own pace, so it can be difficult to tell exactly when a child will learn a particular skill. But there are age-specific developmental milestones used to measure a child’s social and emotional progress in the first few years of life. To learn more about developmental milestones, visit “Learn the Signs. Act Early,” a campaign designed by CDC and a coalition of partners to teach parents, health care professionals, and child care providers about early childhood development, including possible ”red flags” for autism spectrum disorders.
Possible Red Flags for Autism Spectrum Disorders
Children and adults with an autism spectrum disorder might:
• Not play “pretend” games (pretend to “feed” a doll)
• Not point at objects to show interest (point at an airplane flying over)
• Not look at objects when another person points at them
• Have trouble relating to others or not have an interest in other people at all
• Avoid eye contact and want to be alone
• Have trouble understanding other people’s feelings or talking about their own feelings
• Prefer not to be held or cuddled or might cuddle only when they want to
• Appear to be unaware when other people talk to them but respond to other sounds
• Be very interested in people, but not know how to talk to, play with, or relate to them
• Repeat or echo words or phrases said to them, or repeat words or phrases in place of normal language (echolalia)
• Have trouble expressing their needs using typical words or motions
• Repeat actions over and over again
• Have trouble adapting to changes in routine
• Have unusual reactions to the way things smell, taste, look, feel, or sound
• Lose skills they once had (for instance, stop saying words they were once using)
Talk to your child’s doctor or nurse if your child loses skills at any age.
Children and adults with an autism spectrum disorder might:
• Not play “pretend” games (pretend to “feed” a doll)
• Not point at objects to show interest (point at an airplane flying over)
• Not look at objects when another person points at them
• Have trouble relating to others or not have an interest in other people at all
• Avoid eye contact and want to be alone
• Have trouble understanding other people’s feelings or talking about their own feelings
• Prefer not to be held or cuddled or might cuddle only when they want to
• Appear to be unaware when other people talk to them but respond to other sounds
• Be very interested in people, but not know how to talk to, play with, or relate to them
• Repeat or echo words or phrases said to them, or repeat words or phrases in place of normal language (echolalia)
• Have trouble expressing their needs using typical words or motions
• Repeat actions over and over again
• Have trouble adapting to changes in routine
• Have unusual reactions to the way things smell, taste, look, feel, or sound
• Lose skills they once had (for instance, stop saying words they were once using)
Talk to your child’s doctor or nurse if your child loses skills at any age.
Even if your child has not been diagnosed with an ASD, he or she may be eligible for early intervention services. The Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) says that children under the age of 3 who are at risk of having serious developmental delays may be eligible for services. These services are provided through an early intervention system in your state. Through this system, you can ask for an evaluation. To learn more about early intervention.

Imunisasi MMR dan Autisme

http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/05/11005080/vaksin.mmr.bukan.penyebab.autisme
Jumat, 5 September 2008 | 11:00 WIB

KEKHAWATIRAN para orangtua akan isu vaksin yang dapat menyebabkan
austisme tampaknya akan semakin pudar. Sebuah riset di Amerika
Serikat (AS) membuktikan, tidak hubungan sama sekali antara autisme
dengan pemberian vaksin MMR (measles, mumps, rubella).

Riset yang telah dipubliskasi Rabu kemarin dalam jurnal Public
Library of Science edisi online ini adalah penelitian yang mematahkan
riset sebelumnya oleh Dr Andrew Wakefield dari Royal Free Hospital,
Inggris. Dalam risetnya yang kemudian ditarik dari jurnal Lancet,
Wakefield mengindikasikan adanya kaitan antara vaksin MMR dan autisme.

Para ahli dari Columbia University New York dan Centers for Disease
Control (CDC) membantah indikasi riset Wakefield setelah meneliti
sinyal-sinyal penanda genetika dari virus measles (campak) pada sampel
jaringan usus 25 anak pengidap autisme yang juga menderita gangguan
pencernaan.

Mereka membandingkan sampel tersebut dengan 13 anak lainnya yang bukan
autis, tapi mengidap gangguan pencernaan. Jaringan ini lalu dianalisa
di tiga laboratorium berbeda dengan sistem pemeriksaan acak.

Menurut peneliti, hasil riset ini telah menyediakan bukti kuat yang
mematahkan dugaan adanya hubungan autisme dengan virus campak pada
saluran pencernaan ataupun paparan MMR. “Kami tak menemukan hubungan
antara masa pemberian vaksin MMR dan kejadian penyakit
gastrointestinal ataupun autisme,” ungkap pimpinan riset, Dr Mady Hornig.

Di AS sendiri, klaim pengadilan federal telah mempertimbang komplain
para orangtua dalam setahun terakhir. CDC mengatakan, kekhawatiran
orangtua akan risiko vaksin membuat mereka enggan memberikan vaksin
MMR kepada anak sehingga memicu peningkatan kasus campak di AS dan Eropa.

Penyakit campak menyebabkan kematian pada sekurangnya 250.000 orang
per tahun, dan korban sebagian besar adalah anak-anak di negara
berkembang. Berdasarkan data CDC, satu dari 150 anak di Amerika
mengidap autisme.

Diagnosa Autisme

PERLU KEHATI-HATIAN MENEGAKKAN DIAGNOSA AUTISME

Menegakkan diagnosa autisme sesungguhnya tidak mudah, perlu kehati-hatian yang tinggi. Demikian yang dipesankan oleh JK Buitelaar, seorang professor psikiatri anak dari Universitas Nijmegen Negeri
Belanda dalam suatu kesempatan ceramah tunggalnya selama dua hari tanggal 28-29 Januari 2006 yang lalu di Jogjakarta.
Selanjutnya, menurut ahli autis kaliber dunia yang sengaja didatangkan oleh Sekolah Lanjutan Autisme Fredofios dibantu oleh Terres Des Homes Nederland ini, mengatakan bahwa kehati-hatian itu sangat diperlukan karena dari hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga autisme di negaranya menunjukkan bahwa dengan menggunakan alat deteksi autism yang kini sudah populer di dunia yang disebut CHAT
bila digunakan untuk anak di bawah 18 bulan dan DSM IV bila digunakan untuk anak di bawah tiga tahun, penggunaan kedua alat deteksi ini akan menunjukkan kesalahan yang sangat tinggi. Kesalahan
akan terjadi terutama terhadap anak-anak bergangguan perkembangan lain bukan
autisme seperti anak-anak penyandang cacat inteligensia (mental retarded) dan anak-anak yang terlambat bicara yang juga dengan sendirinya akan mengalami gangguan sosial sebagaimana autisme.

Apa yang ditelitinya itu juga gambarannya tidak banyak berbeda dengan di Negara-negara lain. Karena itu ia bersama dengan timnya tengah mempersiapkan alat deteksi autisme yang baru, yang kelak bisa
lebih menyempurnakan deteksi dini autisme yang sudah ada. Untuk menghindari kekeliruan deteksi ini, maka diperlukan sekali pemeriksaan secara multidisiplin yaitu dilakukan oleh dokter, psikolog, dan orthopedagog yang sudah terlatih dan ahli. Hal ini disebabkan karena autisme adalah suatu gangguan yang menyangkut banyak aspek perkembangan yang bila dikelompokkan akan menyangkut tiga aspek yaitu perkembangan fungsi bahasa, aspek fungsi sosial, dan perilaku repetitif. Karena gambaran autisme begitu beragam dan setiap saat seorang anak akan senantiasa mengalami perkembangan, maka penegakan diagnosa tidak bisa begitu saja, sebab bisa saja kemudian diagnosa menjadi berubah-ubah dari waktu ke waktu. Setelah dilakukan berbagai observasi secara berkala oleh berbagai profesi tadi, disamping juga dilakukan tes psikologi, dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh barulah diagnosa itu boleh ditegakkan. Penegakan diagnosa ini seringkali juga memerlukan waktu yang panjang, enam bulan hingga satu tahun. Namun yang terpenting menurutnya adalah bukan penegakan diagnosa itu tetapi bagaimana kita mampu melihat berbagai gangguan sebagai faktor lemah yang dimilikinya, dan factor kuatnya. Untuk anak di bawah tiga tahun menurutnya pula sebaiknya jangan mengunakan DSM IV, dan CHAT jangan digunakan juga untuk anak di bawah usia 18 bulan.

Buitelaar juga memperagakan bagaimana mendeteksi dini berbagai gejala autisme melalui alat deteksi yang bersama timnya tengah disusunnya dalam sebuah proyek yang disebut Project SOSO. Alat deteksi dini autisme yang baru ini bernama ESAT (Early Screening Autism Traits), ia memperagakannya dengan menunjukkan film yang sangat menarik. Ia juga memperlihatkan bahwa anak usia di bawah tiga tahun seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan penyandang autisme, atau sebaliknya gejala yang ada pada anak autisme sering juga ditunjukkan oleh anak-anak yang mempunyai gangguan perkembangan lainnya. Karena itu disinilah para dokter dan psikolog harus benar-benar mampu mengamati dengan baik. Orang tua diminta untuk dapat mengungkapkan dengan baik bagaimana perilaku anaknya tersebut dengan berpatokan pada gejala-gejala yang ditampilkan oleh anak-anak normal, sehingga dapat diketahui bagaimana penyimpangan yang terjadi. Setidaknya perlu adanya
pengamatan berkala setiap tiga bulan, dilakukan evaluasi guna menentukan tindakan apa yang perlu kita perbaharui.

Kelanjutan penyusunan deteksi dini (ESAT) ini adalah, Project SOSO-nya tengah membangun suatu model untuk memberikan intervensi dini yang sesuai dengan keunikan yang disandang oleh setiap
anak autisme. Hasil Project SOSO kali ini dinamakan DIANE (Diagnostic Intervention Autism Nederland). Sehingga Project SOSO yang tengah dikembangkannya ini kelak, akan menghasilkan suatu model dalam bentuk tatalaksana screening atau deteksi dini autism di usia 24 bulan, penegakan diagnosa di atas usia 36 bulan, dan melakukan indentifikasi keunikan setiap anak autisme, memberikan panduan dan training intervensi kepada setiap orang tua.

Akan halnya tentang penyebab autisme sampai saat ini menurutnya masih belum bisa diketahui. Namun, banyak sekali publikasi di masyarakat yang justru datang dari fihak-fihak yang tidak didasarkan oleh penelitian ilmiah, seperti yang banyak ditanyakan oleh para peserta. Misalnya penyebab autisme karena thimerosal dalam vaksin, virus vaksin, keracunan logam berat, alergi terutama gluten dan casein, sistem imun tubuh, dan sebagainya. Sementara itu para ilmuwan yang berkecimpung dalam bidang autism menyatakan bahwa kemungkinan besar penyebab autisme adalah factor kecendrungan yang dibawa oleh genetik. Sekalipun begitu sampai saat ini kromosom mana yang membawa sifat autisme belum dapat diketahui. Sebab pada anak- anak yang mempunyai kondisi kromosom yang sama akan bisa juga memberikan gambaran gangguan yang berbeda. Namun para ahli lebih cenderung akan menyatakan bahwa penyebab autism kemungkinan besar adalah faktor gen yang membawa peranan, hal ini disimpulkan dari hasil penelitian terhadap kembar satu telur yang akan menunjukkan kemungkinan terjadinya gangguan autisme yang lebih tinggi secara siknifikan bila dibandingkan dengan kembar dua telur.
Autisme adalah gangguan atau kecacatan yang akan disandang oleh individu tersebut seumur hidupnya.

Di kalangan luas juga ada publikasi yang mengatakan bahwa autism dapat disebabkan berbagai gangguan di tiga bulan pertama kehamilan.
Menurut Buitelaar hal ini juga masih belum bisa dikatakan apakah benar demikian, karena penelitiannya belum selesai,dan hasilnya belum ada.

Pertanyaan tentang berbagai pengobatan autisme saat ini yang banyak digunakan bahkan seringkali juga atas anjuran dokter (yang bergerak dalam terapi alternatif), misalnya detoksifikasi untuk menghilangkan racun di otak, diet bebas gluten dan casein, probiotik, megadosis vitamin, hormon, dan sebagainya, Buitelaar menanggapi bahwa karena hingga kini penyebab autisme belum bisa dipahami secara pasti maka para dokter juga belum bisa mentukan obatnya. Ia menyarankan agar para orang tua tak perlu terkesima dengan reklame komersial yang menyatakan bahwa autisme dapat diobati, sebab menurutnya selain pengobatan model intervensi biologis itu sangat mahal, tidak ada efeknya, juga cukup berbahaya bagi si anak sendiri.
Bila dokter memberikan resep obat-obatan psikostimulan, hal itu bukan untuk menyembuhkan autisme, tetapi hanya sekedar untuk mengendalikan emosi dan perilakunya. Yang terpenting pesannya adalah bagaimana kita harus menanganinya dengan cara melihat faktor lemah dan factor kuatnya dengan pendekatan psikologi dan pedagogi, yaitu arahkan perilakunya, tingkatkan kecerdasannya, latih kemandirian, ajarkan kerjasama, dan ajarkan bersosisalisasi. Ia juga menganjurkan jangan berikan obat-obatan psikiatrik atau psikostimulan kepada anak-anak di bawah 6 tahun. Utamakan pendekatan psikologi dan pedagogi, jika cara-cara ini sudah tidak dimungkinkan barulah bisa diberikan obat-obatan. Para orang tua juga berhak menanyakan apa efek samping dan harapan apa yang bisa dicapai dengan menggunakan psikostimulan itu.Karena bagaimanapun reaksi setiap anak terhadap obat akan berbeda beda, sehingga diperlukan pemantauan yang baik secara rutin. Disamping itu sampai saat ini belum ada
penelitian obat-obatan pada anak dibawah usia 6 tahun,sehingga kita masih belum tahu efek jangka panjangnya (Julia Maria van Tiel, Pembina kelompok
diskusi orang tua anak berbakat
anakberbakat@ yahoogroups. com).

Dari ceramah Prof JK Buitelaar (bagian 2)

GEJALA AWAL AUTISME

Masih ingat atau masih mengalami saat anak kita tengah belajar bicara di usianya yang ke satu atau satu setengah tahun? Ia akan menyebutkan apa yang dilihatnya dengan cara menunjukkan ke satu objek dan menyebutkan nama objek itu. Cara-cara ini disebut sebagai Joint Attention (bersama-sama memperhatikan) . Pada anak normal caranya adalah, mula-mula ia akan melihat wajah ibu atau pengasuhnya dan kemudian diteruskan dengan kontak mata, dengan maksud menarik perhatian ibu atau pengasuhnya agar bersama-sama memperhatikan sesuatu yang menjadi perhatiannya, kemudian ia menunjuk dengan tangan dan jari-jarinya ke sesuatu yang menjadi perhatiannya itu.
Ini adalah suatu awal perkembangan dari komunikasi timbal balik yang membutuhkan suatu interaksi emosional yang sehat.
Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme. Pada fase ini ia mengalami kegagalan perkembangan. Umumnya anak-anak autisme tidak melakukan fase dimana ia mencoba membangun kontak komunikasi melalui kontak mata. Ini adalah patron yang khas dari anak penyandang autisme. Namun, menurut Buitelaar, kita juga harus berhati-hati. Tentang
ketidak adaan kontak mata ini jangan dijadikan sebagai butir diagnosa, sebab banyak juga anak normal yang tidak melakukan kontak mata saat berinteraksi. Ada juga yang hanya sekilas melakukan kontak mata, baginya sudah cukup. Jadi jangan menghitung berapa lama ia mampu membangun kontak mata, sebab banyak anak normal juga melakukan kontak mata hanya sekilas. Artinya yang harus diperhatikan adalah kualitas dari kontak mata itu. Sebaliknya juga banyak anak-anak autisme yang bisa lama melakukan kontak mata tetapi kualitasnya sangat rendah. Ia memandang mata orang di hadapannya
namun tidak bisa membangun kontak secara emosional.

Kegagalan membangun kontak emosional inilah yang menyebabkan perkembangan bicara juga menjadi terganggu dan akhirnya akan menyebabkan gangguan perkembangan bersosialisasi.
Karena itu, dijelaskan oleh Buitelaar bahwa dalam penegakan diagnosa autism perkembangan kemampuan bicara dan bahasa menjadi salah satu butir yang penting. Tetapi kita juga harus berhati-hati,
sebab anak-anak yang tidak bisa bicara atau mengalami keterlambatan bicara, belum tentu ia adalah penyandang autisme. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah kemampuan berbahasa non verbalnya. Pada anak- anak autisme selain ia mengalami gangguan komunikasi secara verbal, ia juga mengalami gangguan komunikasi nonverbal.

Komunikasi nonverbal adalah suatu komunikasi tanpa menggunakan kata-kata. Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi dengan cara membaca bahasa simbolik dan bahasa mimik. Pada anak
autisme yang mengalami kegagalan perkembangan membangun kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia mengalami kegagalan membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya adalah komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain. Ketidakmampuan membaca emosi orang lain dalam
bentuk ekspresi muka orang lain inilah yang kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu mengekspresikan wajahnya. Ia adalah anak yang tidak berekspresi, tidak mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang atau marah. Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang mengalami kesalahan dalam mengekspresikan perasaannya, atau ekspresinya tidak pada tempatnya.
Padahal komunikasi nonverbal ini merupakan bentuk komukasi yang lebih banyak digunakan oleh kita sehari-hari, dalam membangun hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, sebagian besar komunikasi adalah berbentuk komunikasi non verbal. Dengan sendirinya kegagalan komunikasi nonverbal ini akan pula menyebabkan ia mengalami gangguan bersosialisasi, atau memangun hubungan sosial dengan orang-orang disekitarnya.

Pada sebuah tes dengan anak autis yang lebih besar, di atas lima tahun, seringkali ia juga mengalami kegagalan membaca jalan fikiran orang, dan merasakan perasaan orang lain. Hal ini oleh Buitelaar ditunjukkan dengan suatu demonstrasi The Theory of Minds, yaitu dengan permainan yang disebut Sally and Anne. Ia memberikan contoh, ada seorang anak autisme dengan usia lebih dari 5 tahun, diberi
permainan dua figur boneka bernama Sally dan Anne.
Sally mempunyai sebuah keranjang, dan Anne mempunyai sebuah kotak. Anne mempunyai sebuah kelereng dikotaknya. Waktu Anne keluar, oleh Sally kelereng itu dipindahkan ke keranjang. Lalu anak berusia lebih dari 5 tahun tadi ditanya, kalau Anne datang, Anne akan berfikir bagaimana? Pada anak normal, ia akan menjawab, bahwa pasti Anne berfikir bahwa kelerengnya masih berada di tempatnya semula yaitu di dalam kotak. Tetapi anak autisme akan menjawab bahwa kelerengnya berada di dalam keranjang. Anak autisme ini tidak mengerti apa yang akan difikirkan oleh orang lain. Namun pola autisme yang seperti ini bukanlah juga sebagai butir untuk menegakkan diagnosa, sebab banyak pula anak normal di atas usia lima tahun masih belum bisa membaca jalan fikiran orang lain.

Demonstrasi tadi menunjukkan bahwa bagaimana cara berfikir seorang anak autisme, bahwa ia hanya mampu memakna kejadian-kejadian tersebut secara harafiah. Ia juga mengalami kegagalan dalam pengembangan bentuk fantasi dan imajinasi. Sehingga segalanya menjadi kaku atau rigid dan tidak fleksibel.

Pada anak-anak autisme ini juga mengalami kegagalan dalam melakukan memakna hubungan kejadian yang satu dengan yanglainnya. Jadi seringkali ia mampu mengumpulkan banyak informasi secara detil
tetapi tidak mengerti apa fungsi setiap detilnya, dan konteksnya secara global. Karena kegagalan berbagai perkembangan dalam melakukan kontak dengan orang lain ini, ia juga akan bereaksi berbeda dari pada anak-anak normal lainnya.

Anak-anak ini juga sangat sulit menerima perubahan, sangat rigid, dengan ritual-ritual yang sulit dirubah. Kepada anak-anak ini perlu diajarkan bagaimana berperilaku fleksibel.

(Julia Maria van Tiel, pembina kelompok diskusi orang tua anak
berbakat anakberbakat@ yahoogroups. com)

Dari Ceramah Prof JK Buitelaar (bagian 3)

ANAK AUTISME ADALAH PENGUMPUL DATA

Ceramah sepanjang dua hari yang diberikan oleh Prof Buitelaar itu juga menyinggung bagaimana seorang anak autisme dalam mengembangkan inteligensianya. Inteligensia anak-anak kelompok
autisme sebetulnya cukup beragam, mulai dari yang mental retarded hingga yang mempunyai inteligensia tinggi. Namun yang menarik disini adalah sekalipun anak itu merupakan anak autisme dengan IQ yang tidak tinggi sekalipun, ada yang mampu mengumpulkan informasi atau data sangat
luar biasa.
Misalnya ia mampu menyebutkan nama-nama burung hingga ratusan. Ia mampu membedakan dan menyebutkan setiap nama burung itu. Namun tidak lebih dari itu saja.

Pada anak autisme yang mempunyai inteligensia tinggi, biasa disebut sebagai Asperger. Kelompok ini adalah kelompok autism yang mempunyai perkembangan fungsi yang tinggi yang kemudian disebut High
Function. Nama Asperger sendiri diambil dari nama seorang dokter anak Hans Asperger dari Austria, adalah yang pertama kali mengemukakan kasus autisme ini. Kelompok ini memang mempunyai gangguan berbahasa, tetapi tidak mengalami gangguan perkembangan bicara. Perkembangan bicaranya sesuai dengan jadwal, atau dengan kata lain tidak mengalami keterlambatan bicara.
Sekalipun tidak terlambat bicara, berbahasanya sangat kaku. Anak-anak Asperger ini saat kecilnya sering disangka anak berbakat (gifted children),namun ternyata apa yang dikuasai lebih menjurus pada
kemampuan meregistrasi atau pengumpul data, sehingga tidak bisa dikelompokkan sebagai anak berbakat. Kelompok Asperger ini seringkali justru sangat terlambat terdeteksi, karena selain ia mempunyai inteligensia yang baik, juga tidak mengalami keterlambtan bicara.
Inteligensianya sering menutupi kekurangannya. Buitelaar mengakui cukup sulit membedakan anak-anak berbakat (gifted children) yang mempunyai inteligensia sangat tinggi namun mengalami gangguan bersosialisasi sebagaimana halnya dengan kelompok Asperger.

Gangguan bersosialisasi pada anak-anak berbakat (gifted children) menurut Buitelaar lagi, lebih banyak disebabkan karena bahasa yang dikuasai anak-anak berbakat sangat berbeda dengan anak-anak lainnya, atau teman sepermainannya. Seringkali anak-anak normal, teman sepermainannya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anak-anak berbakat (gifted) ini. Sekalipun antara anak berbakat
(gifted children) dan kelompok Asperger mempunyai kesamaan berkemampuan mengumpulkan pengetahuan yang luar biasa, namun tetap
Asperger sebagai kelompok autisme, adalah individu yang mengalami kegagalan dalam melihat konteks dan hubungan antar data dalam pengetahuan tersebut. Ia memberikan contoh, andaikan ada dua anak
yang satu adalah Asperger dan yang satu adalah anak berbakat (gifted child), mereka mempunyai minatan yang sama pada misalnya berbagai macam dinosaurus. Anak autisme hanya akan mengumpulkan data tentang berbagai macam dinosaurus, tentang kehidupannya, namun tak mampu
menganalisa hubungan dinosaurus dengan kehidupan ini dimana justru kemampuan ini dimiliki oleh anak-anak berbakat (gifted child).

Anak autisme juga hanya mempunyai bidang minatan yang sangat sempit, berbeda dengan anak-anak normal, ataupun anak-anak berbakat (gifted) dimana bisa mempunyai bidang minatan yang luas.
Buitelaar mencotohkan pada pasiennya yang setiap datang hanya menceritakan tentang mesin cucinya.

Perkembangan fantasi dan imajinasi anak-anak autism juga sangat kurang. Sehingga andaikan anak ini diajak bermain fantasi ia tidak akan bisa. Ia hanya mampu melakukan suatu kegiatan yang tidak
menggunakan fantasi dan imajinasinya. Andaikan ia memperhatikan satu benda, misalnya sebuah mobil-mobilan ia hanya akan meperhatikan satu bagian saja, dan tak bisa memainkan mobilan itu sebagaimana anak- anak lainnya.

Dalam kesempatan seminar kali ini juga dipamerkan puluhan lukisan hasil karya Osi seorang penyandang autisme berusia 18 tahun, putra dari pasangan Ir Buggi Rustamadji,MSc yang juga direktur sekolah lanjutan atas Fredofios, dan Ibu Soedarjati MA. Osi mampu menggambar dengan sangat baik, dengan warna-warna yang memikat, dan sangat realis. Themanya adalah apa yang dilihat dan dialaminya sehari-hari.
Misalnya keramaian di kota, tempat menjemur baju, di restorant, saudara-saudaranya, ayah dan ibunya. Teman Osi,Opik adalah sesame penyandang autisme juga memamerkan karya-karya, tak kalah dengan
karya Osi yang puluhan banyaknya. Namun yang menarik dari kedua pelukis penyandang autisme ini adalah, karya lukisannya bagai sebuah suatu laporan pandangan mata yang detil, sangat perfek, dan tanpa dibumbui oleh suatu unsur imajinasi. Disinilah kekhususan dari perkembangan kognitif penyandang autisme. Sekalipun di dalam gambar- gambarnya itu juga berdiri gambar manusia, namun manusia-manusia yang digambarkan itu adalah detil yang melengkapi apa yang dilaporkan. Bukan sebuah karya imajinasi yang menjelaskan banyak arti. Akan berbeda misalnya dengan karya gambar seorang anak berbakat, dimana karya-karya penuh dengan fantasi dan imajinasi, bahkan seringkali tidak realis sama sekali.

Penutupan ceramah kali ini ditutup dengan pesan-pesan supaya kita mampu melihat gejala autisme dengan lebih baik dan kita mampu menentukan penanganan yang lebih tepat. Namun yang terpenting
adalah kita harus berhati-hati dalam mencari sumber bacaan, karena saat ini sumber bacaan yang banyak dipublikasi justru datangnya dari kelompok-kelompok yang tidak bisa dipertanggung jawabkan
keilmiahannya.

Alternatif Anak Hiperaktif

sumber : http://sehat-bugar.blogspot.com/2007/09/sehat-digest-number-7728.html

Alternatif buat Anak Hiperaktif

Keceriaan Bu Santi tiba-tiba memudar. Putranya, Reza (2 th) tiba-tiba berubah. Semula perubahan itu dianggap lumrah. Sejak kecil putra pertamanya itu begitu aktif dan tak mau diam. Melihat kegesitan anaknya, Bu Santi senang dan tenang saja. Bahkan, dengan bangga ia menceritakan tingkah laku anaknya kepada para tetangganya. “Si Reza itu calon aktivis. Lihat, usianya belum sampai dua tahun, tapi kelakuannya itu lho. Kemarin, pagar rumah saya kunci dari dalam, eh malah dia manjat..” ujar Bu Santi bangga.

Namun, sejak putra sulungnya itu jatuh dari meja makan dan hampir kesetrum karena memegang stop kontak listrik, Bu Santi jadi banyak berpikir. Dibanding teman-teman seusianya, Reza sepertinya mengalami kelainan. Ia seperti kelebihan tenaga, tak bisa duduk berlama-lama dan sering berteriak-teriak memberikan jawaban sebelum ditanya. Yang membuat sang ibu kesel, anaknya suka mengganggu anak-anak lain. Dari salah seorang psikolog anak, diketahui bahwa si Reza mengalami gejala hiperaktif.

Tak sedikit orangtua yang mempunyai pengalaman seperti Bu Santi. Kebanggaan mempunyai anak gesit, tangkas dan lincah perlahan pudar berganti dengan kecemasan. Sikap anaknya yang tidak bisa diatur dan sering melakukan tindakan-tindakan di luar kontrol, tentu membuat orangtua cemas.Gejala seperti yang dialami Reza termasuk gejala hiperaktivitas motorik yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Gejala ini biasa menjangkiti 3%-5% anak berusia 4-14 tahun. Namun, sejak usia di bawah dua tahun gejalanya sudah mulai
kelihatan. Bahkan, menurut Seto Mulyadi, pakar pendidikan anak yang biasa disapa Kak Seto, gejala hiperaktif sudah kelihatan sejak bayi. “Ia menangis terus tak mau berhenti. Menarik perhatian orangtua di tengah malam dengan menangis keras-keras,” ujar Kak Seto. Nah, masih menurut Kak Seto, anak hiperaktif mengalami puncaknya pada usia 4-5 tahun.

Namun, walaupun tampak beberapa keganjilan, tak perlu buru-buru memvonis sangat anak hiperaktif. “Banyak anak yang kreatif dan aktif tapi tidak hiperaktif. Bahkan, mungkin anak berbakat dan jenius. Boleh jadi nantinya seperti Thomas Alfa Edison atau Einstein,” papar Kak Seto.

Untuk dapat disebut memiliki gangguan ADHD, minimal ada tiga gejala utama yang tampak.

Pertama, inatensi atau kurangnya kemampuan anak untuk memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu. “Bahkan hanya sekadar konsentrasi 2-3 menit pun dia tidak bisa. Konsentrasinya sangat mudah berubah-ubah,” tambah Kak Seto.

Kedua, hiperaktif. Biasanya sang anak seperti kelebihan tenaga. Ia tak mau diam, selalu berlari kesana kemari, dan cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Ketiga, impulsif. Gejala ini ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk melakukan sesuatu tanpa kendali. Biasanya, sang anak menjadi tidak sabar menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Ia akan menyela atau buru-buru memberikan jawaban. Anak juga tak bisa menunggu giliran, antri misalnya. Ia akan cepat marah dan mudah tersulut emosi. Karenanya, sang anak akan berpotensi tinggi melakukan aktivitas membahayakan, baik bagi dirinya atau orang lain.

Anak bisa disebut hiperaktif kalau ketiga gejala itu sudah berlangsung minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak mencapai dewasa.

Menurut Dokter Zakiudin Munasir, Sp A (K), staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara umum penyebab anak hiperaktif ada dua. Yaitu, (secara medis) karena kelainan organik di susunan sarafnya dan (secara psikologis) karena kelainan tingkah laku. Kelainan organik bisa disebabkan banyak hal. “Bisa karena trauma pada sesuatu, karena benturan di salah satu anggota tubuhnya,
atau tumor di otak,” papar Zaki. Jadi, karena adanya kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak menyebabkan rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan.

Secara psikologi bisa disebabkan lingkungan, baik keluarga atau teman bermain. Orangtua yang kurang perhatian dan membiarkan anaknya melakukan apa saja, bisa membuat anak hiperaktif. Gejalanya sama saja. “Yang membedakan adalah penyebabnya,” tambah Dokter Zaki.

Karenanya, menurut Sydney Walker III, Direktur Institut Neuropsikiatris California Selatan, dalam bukunya Hyperactivity Hoax, kesalahan mendasar dalam penanganan hiperaktif adalah memandangnya sebagai suatu diagnosa. Padahal hiperaktif bukanlah suatu penyakit, melainkan sekumpulan gejala yang dapat disebabkan oleh beragam penyakit dan gangguan.

Ia memberikan contoh, pusing. Pusing bukanlah penyakit tetapi suatu gejala. Ia bisa merupakan gejala influenza. Juga bisa disebabkan terlambat makan, tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Atau, bahkan bisa merupakan gejala tumor otak. Karenanya, memberikan satu obat yang sama untuk semua gejala pusing, jelas tak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperburuk kondisi pasien.

Begitu juga dengan hiperaktif. Tidaklah tepat bila memberikan obat atau pendekatan yang sama kepada semua anak yang mengalami hiperaktif tanpa memahami lebih dulu penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya. Karenanya, menurut Dokter Zaki, dalam pengobatan hiperaktif, biasanya dipastikan dulu, apakah karena kelainan organik atau tidak. Proses ini bisa melalui berbagai prosedur pemeriksaan, seperti otak direkam otak discan.

Menurut Sydney Walker III, hiperaktif bisa muncul kerena efek adanya infeksi bakteri, cacingan, keracunan logam dan zat berbahaya (Pb, CO, Hg), gangguan metabolisme, gangguan endoktrin, diabetes, dan gangguan pada otak. Dengan mengatasi penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya, maka hiperaktivitas pun dapat tertanggulangi.

Penyakit keturunan seperti turner syndrome, sickle-cell anemia, fragilex, dan marfan syndrome juga dapat menimbulkan hiperaktif. Karenanya, hiperaktif bisa juga ditemukan dalam garis keturunan. Bukan hiperaktifnya yang diturunkan, tapi penyakit yang bisa menyebabkan hiperaktif.

Secara psikologis, hiperaktif adalah dampak dari pola hidup yang kurang disiplin. Tanpa kedisiplinan yang konsisten, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak-anak yang malas, sembrono, sulit mengendalikan diri, dan mematuhi peraturan.

Untuk menghadapi anak seperti ini orang tua membutuhkan kombinasi antara “ketegasan” dan “pengalihan perhatian”. Misalnya, dalam kasus anak bermain stop kontak. Meskipun dilarang dengan mengatakan “jangan” tetap saja iamelakukannya. Mengapa? Karena anak kecil belum memiliki cara berpikir yang fleksibel. Karenanya, ia harus diberikan permainan alternatif agar tidak main stop kontak. “Jangan anaknya yang diubah, tapi lingkungannya,” pesan Kak Seto.

Sebagian besar anak-anak hiperaktif mendapat perawatan medis berupa obat-obatan stimulan. Stimulan dipercaya dapat meningkatkan produksi dopamine dan norepinephrine, yaitu neurotransmiter otak yang penting untuk kemampuan memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku. Ritalin dengan kandungan methylphenidate adalah salah satu stimulan yang paling banyak diresepkan.

Sementara mengonsumsi stimulan, anak akan mengikuti terapi dan modifikasi perilaku. Setelah terapi dan modifikasi perilaku membuahkan hasil, dosis stimulan akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya lepas obat sama sekali.

Di sisi lain, banyak juga pihak yang menentang pendekatan ini. Salah satunya adalah gerakan Alternative Mental Health di Amerika. Mereka memandang stimulan lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat. Para pakar yang bergabung dalam gerakan ini dengan giat melakukan penelitian tentang peranan nutrisi, diet, dan herbal untuk mengatasi hiperaktif.

Alasan yang lebih masuk akal dikemukakan Sydney Walker III yang juga menentang penggunaan stimulan. Sydney mengingatkan, bahwa hiperaktif adalah sekumpulan gejala yang dilatarbelakangi beragam penyakit dan gangguan, sehingga tidaklah tepat menyamaratakan penanganannya. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa belum ada penelitian tentang efek jangka panjang stimulan.

Bahkan, Sydney mulai melihat kecenderungan anak-anak yang mengonsumsi stimulan tertentu lebih mudah menjadi pecandu narkoba di usia dewasa. Selain struktur biokimia-nya yang mirip dengan kokain, konsumsi stimulan membuat anak-anak terbiasa mencari jalan keluar yang instan.

Kurt Cobain-penyanyi grup Rock Nirvana yang tewas bunuh diri-diangkat oleh Sydney sebagai contoh anak hiperaktif yang mendapatkan penanganan yang salah. Ia terjerat narkoba sampai akhir hayatnya.

Apa pun bentuk penanganannya yang perlu diperhatikan adalah menerima dan memahami kondisi anak. Orangtua perlu memahami bahwa tingkah laku si anak yang tidak pada tempatnya didasari oleh keterbatasan dan gangguan yang ia alami.

Bukan berarti orangtua dan pendidik lantas mengabaikan kedisiplinan, melainkan anak dibantu untuk memenuhi peraturan. Misalnya, agar anak dapat menyelesaikan tugas pada waktunya, bagilah tugas ke dalam beberapa bagian kecil (beberapa nomor), tetapkan pula batas waktunya dengan jelas. Usahakan agar ruang belajar bebas dari gangguan, seperti suara, pernak-pernik maupun orang-orang yang hilir mudik. Menempatkan anak di barisan paling depan dan memberikan tepukan
lembut juga dapat membantunya untuk memusatkan perhatian.

Berbagai tips praktis di atas, tentu saja tak kan bermanfaat, bila penyebab dasarnya belum teridentifikasi. Untuk itu diperlukan kerja sama tim yang terdiri dari dokter, dokter spesialis, psikolog, psikiater, guru dan orangtua dalam proses identifikasi. Setelah masalah teridentifikasi dengan jelas, program penanganan dapat
dirancang dengan akurat.

Pada beberapa kasus, anak-anak dengan gangguan ini membutuhkan terapi, seperti terapi remedial, terapi integrasi sensori, maupun terapi lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Pusat-pusat terapi semacam ini telah banyak berdiri, meskipun terbatas di kota-kota besar di Indonesia.

Ketekunan, konsistensi, kerja sama dan sikap mau mengubah diri sangatlah dituntut dari pihak orangtua dan pendidik. Di atas itu semua, doa dan kasih sayang yang tulus, menduduki urutan pertama dalam mengatasi masalah anak. Jadi, hiperaktif bukanlah masalah tanpa alternatif jalan keluar.

Tips buat Orang tua
——————-
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua saat mendapati
anaknya hiperaktif.

1.Untuk mengatasi anak hiperaktif, orangtua harus sabar, konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tak bisa diam, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.

2.Setelah bisa duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf.

3.Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.

4.Selain itu bisa juga mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka “0” dengan benar.

5.Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

6.Jangan menghukum anak. Hiperaktif bukan kesalahannya.

7.Jangan sekali-kali melabel anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas atau bodoh. Karena ia akan bersikap seperti yang dilabelkan padanya.

8.Keefektifan terapi berbeda-beda bagi tiap anak. Orang tua harus menentukan terapi yang terbaik bagi anak.

9.Yang terpenting, berikan kasih sayang, bukan memanjakannya melebihi saudara lainnya.