Kiat orang tua jika anak terdiagnosa sebagai autisme.

sumber : http://dr-anak.com/category/autisme

Pelajarilah mengenai autism.
Cobalah pelajari mengenai autisme dari buku, seminar, dokter dan para orang tua lain yang lebih berpengalaman karena anaknya telah terdiagnosa lebih dahulu daripada anak anda. Banyak hal2 positif yang bisa anda pelajari.

Pelajarilah berbagai jenis terapi autisme, sambil tetap menjalani hidup yang serasi.
Pelajarilah berbagai jenis terapi buat anak autis, sehingga anda tahu apa yang sedang dilakukan pada anak anda. Cermatilah terapi yang mana yang cocok untuk anak anda, karena tidak semua terapi cocok untuk setiap anak. Janganlah jadikan terapi menguasai kehidupan anda. Juga jangan membebani anak anda dengan terapi yang berlebihan. Ada waktu untuk terapi, tapi juga ada waktu untuk bersantai dengan anak anda.

Carilah bantuan dan nasihat dan pilihlah yang mana yang cocok untuk anda dan anak anda.
Bila anak anda sudah usia sekolah, carilah sekolah yang mau menerima anak anda , dimana para guru juga siap membantu dan mengerti tentang mendidik anak dengan kebutuhan khusus. Berkolaborasilah dengan guru tentang pendidikan anak anda. Bawalah guru anak anda untuk mengikuti seminar2 tentang autisme. YAI mengadakan seminar tiap tahun untuk para guru sekolah umum yang menerima anak dengan berkebutuhan khusus.

Hargai, cintai dan belajarlah dari anak anda.
Anak anda mempunyai banyak kekurangan. Janganlah memaksanya untuk segera bisa mengatasinya. Misalnya kalau dia tidak mau memakai baju yang kasar karena kurang nyaman baginya, janganlah mencoba memaksanya. Pastikanlah bahwa anak anda merasa bahwa anda menyayanginya. Tak usah merasa malu dengan kelainannya. Bila ada orang tua lain yang bertanya , katakanlah sejujurnya bahwa anak anda mempunyai gejala autisme. Autisme bukan sesuatu yang memalukan, bukan penyakit dan tidak menular.

Tetap sabar dan bersikap positif.
Banyak anak yang mempunyai gejala2 autisme yang berat pada waktu kecil, ternyata bisa berkembang dengan sangat baik. Jadi tetaplah bersikap positif, karena semuanya ini merupakan proses yang panjang.
Belajarlah untuk menghargai dan menyangi anak anda, betapapun aneh perilakunya. Hargailah dia sebagai insan yang memang mempunyai sifat berbeda dan janganlah menyoroti hal2 yang negatifnya saja.
Jangan meremehkan kemampuan dan pengertiannya. Beberapa kasus autisme yang terlihat berat, setelah bisa berkomunikasi, misalnya dengan mengetik, ternyata mempunyai intelegensi yang tinggi.
Bersabarlah, dan terimalah keadaan. Persiapkan diri anda untuk menjalani suatu perjalanan yang panjang. Suatu hal yang sangat baik mungkin menanti diujung perjalanan anda.

Bantulah anak anda mengembangkan kemampuan dan minatnya.
Bila minatnya mengumpulkan berbagai jenis serangga dikebun, kembangkanlah untuk menjadi seorang peneliti. Janganlah dipaksa untuk melakukan hal-hal yang lain. Bila berbakat musik, olah raga , menggambar atau computer, arahkanlah kearah itu.

Carilah terapis yang terbaik.
Kadang2 terapis yang melakukan terapi pada anak anda tidak berhasil dan anak mengalami stress. Sebaiknya gantilah dengan terapis lain.
Terapis yang baik untuk anak anda adalah yang berhasil mendorong kemajuan perkembangan anak anda.

Pikirkanlah untuk memperbaiki diet anak anda.
Buatlah catatan makanan anak anda setiap hari dan catatlah juga perilakunya. Dalam satu -dua bulan anda akan mendapat pola makanan mana yang membuat perilaku anak anda jadi lebih hiper, agresif dan marah2. Kemudian hilangkanlah makanan tersebut dari menunya. Anak autistik mempunyai kecenderungan alergi yang banyak terhadap berbagai jenis makanan.
Perhatikan juga pencernaannya dan jangan lupa melapor pada dokter anak anda.

Berilah waktu dan ruang untuk diri anda sendiri.
Anda boleh bersedih karena “kehilangan” anak anda. Secara fisik dia ada, tapi anda telah kehilangan anak yang anda inginkan. Ditempatnya ada anak yang samasekali berbeda.
Pada saat yang sama cobalah untuk mengenal dan mencintai anak yang baru ini.
Berilah waktu dan ruang untuk anda sendiri. Pergilah berekreasi dengan teman2 anda, lakukanlah hal2 yang anda sukai dan anda akan lebih merasa kuat untuk menghadapi lagi anak anda yang sulit.

Cintai dan terimalah anak anda sebagaimana adanya.
Hal inilah yang sangat penting. Perasaan bahwa anda menyayangi mereka dan menerima mereka sebagaimana adanya akan membantu memajukan mereka lebih dari segalanya .

sumber: http://www.autisme.or.id

CHAT (Checklist Autism in Toddlers)

sumber : http://dr-anak.com/category/autisme

Interpretasi

Risiko tinggi menderita autis : bila tidak bisa melakukan A5, A7, B2, B3, dan B4

Risiko kecil menderita autis : tidak bisa melakukan A7 dan B4

Kemungkinan gangguan perkembangan lain : tidak bisa melakukan > 3

Dalam batas normal : tidak bisa melakukan < 3

Bagian A. Alo – anamnesis Apakah anak anda :

1. Senang diayun-ayun atau diguncangguncang naik- turun (bounced) di lutut ?
2. Tertarik (memperhatilan) anak lain ?
3. Suka memanjat benda-benda, seperti mamanjat tangga ?
4. Bisa bermain cilukba, petak umpet ?
5. Pernah bermain seolah-olah membuat secangkir teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain ?
6. Pernah menunjuk atau menerima sesuatu dengan menunjukkan jari ?
7. Pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke sesuatu agar anda melihat ke sana ?
8. Dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil mainan atau balok-balok) ?
9. Pernah memberikan suatu benda untuk menunjukkan sesuatu ?

Bagian B. Pengamatan

1. Selama pemeriksaan apakah anak menatap (kontak mata dengan) pemeriksa ?
2. Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan : “Lihat, itu. Ada bola (atau mainan lain)” Perhatikan mata anak, apakah anak melihat ke benda yang ditunjuk. Bukan melihat tangan pemeriksa
3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas / cangkir dan teko. Katakan pada anak anda : “Apakah kamu bisa membuatkan secangkir susu untuk mama ?” Diharapkan anak seolah-olah membuat minuman, mengaduk, menuang, meminum. Atau anak mampu bermain seolah-olah menghidangkan makanan, minuman, bercocok tanam, menyapu, mengepel dll.
4. Tanyakan pada anak : “ Coba tunjukkan mana ‘anu’ (nama benda yang dikenal anak dan ada disekitar kita). Apakah anak menunjukkan dengan jarinya ? Atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda ?
5. Dapatkah anak anda menyusun kubus / balok menjadi suatu menara ?

Keterangan :

CHAT dikembangkan di Inggeris dan telah digunakan untuk penjaringan lebih dari 16.000 balita. Pertanyaan berjumlah 14 buah meliputi aspek-aspek : imitation, pretend play, and joint attention. Pertanyaan A5, 7 dan B2, 3, 4 paling penting. Anak yang tidak bisa melakukan hal-hal tersebut ketika di uji 2 kali (jarak 1 bulan) semua kemudian terdiagnosis sebagai autis ketika berumur 20 – 42 bulan. Tetapi anak dengan keterlambatan perkembangan yang menyeluruh juga tidak bisa melakukannya. Oleh karena itu perlu menyingkirkan kemungkinan retardasi mental.
Sumber IDAI.or.id

Studi Lain tidak Menemukan hubungan MMR dengan Autisme

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20446/studi-lain-tidak-menemukan-hubungan-mmr-dengan-autisme.html

Kalbe.co.id – Sebuah studi baru memberikan bukti lebih lanjut bahwa vaksin measles-mumps-rubella tidak terkait dengan peningkatan risiko autisme.

Kekhawatiran bahwa suntikan MMR bisa menyebabkan autisme pertama kali diangkat satu dekade yang lalu oleh dokter Inggris Andrew Wakefield, yang berdasarkan penelitian dari 12 anak-anak, mengusulkan bahwa ada kaitan antara vaksin dengan penyakit usus dan autisme.

Penelitian telah dilakukan sejak didiskreditkan secara luas, dan sejumlah studi internasional telah gagal untuk menemukan hubungan antara vaksinasi MMR dan autisme.

Studi terbaru ini termasuk anak Polandia usia 2-15 yang telah didiagnosis dengan autisme. Peneliti membandingkan setiap anak dengan dua anak-anak yang sehat umur dan jenis kelamin yang sama yang telah dirawat oleh dokter yang sama.

Beberapa anak telah menerima vaksin MMR, sementara yang lain tidak diberi vaksin sama sekali atau telah menerima vaksin untuk melawan campak saja.

Polandia telah lebih lambat untuk memperkenalkan MMR dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, tapi selama sepuluh tahun terakhir, perlahan-lahan vaksin telah digantikan dengan suntikan campak saja.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan, anak-anak yang telah menerima vaksin MMR benar-benar memiliki risiko yang lebih rendah terkena autisme daripada yang tidak divaksinasi. Juga tidak ada bukti peningkatan risiko autisme dengan vaksin campak saja.

Menurut pemimpin peneliti, Dr Dorota Mrozek-Budzyn, dari Jagiellonian University di Krakow, orangtua harus yakin tentang keamanan vaksin MMR.

Dia mencatat bahwa penyakit menular yang dapat dicegah oleh vaksin MMR kadang-kadang dapat menjadi komplikasi serius.

Campak, misalnya, dapat mengakibatkan radang paru-paru atau radang otak, dan satu atau dua anak mati keluar dari setiap 1.000 orang yang tertular virus, menurut US Centers for Disease Control and Prevention. Gondok dapat menyebabkan pembengkakan testis menyakitkan, radang otak dan, dalam kasus yang jarang terjadi, gangguan pendengaran.

Sebagian besar anak-anak dalam studi saat ini juga telah menerima vaksin MMR atau vaksin campak, menurut laporan di Pediatric Infectious Disease Journal.

Dari 96 anak-anak dengan autisme, 8 mereka belum pernah diberi vaksin untuk melawan campak, sementara sekitar 41 persen telah menerima suntikan MMR dan setengah telah menerima hanya vaksin campak.

Di antara anak-anak yang sehat, 55 persen telah mendapat suntikan MMR, sementara 45 persen telah menerima vaksin campak, hanya satu anak tetap tidak divaksinasi.

Ketika para peneliti hanya melihat anak-anak yang telah divaksinasi sebelum diagnosis autisme mereka, mereka menemukan bahwa anak-anak yang telah menerima vaksin MMR mempunyai risiko 83 persen lebih rendah dari anak-anak autis daripada tidak divaksinasi. Vaksin campak juga dikaitkan dengan resiko lebih rendah 56 persen.

Ketika para peneliti melihat pada anak-anak yang telah divaksinasi sebelum menunjukkan gejala autisme, vaksinasi MMR kembali dikaitkan dengan resiko yang lebih rendah dari gangguan. Vaksin Campak tunggal menunjukkan tidak berpengaruh pada risiko autisme.

Studi tidak menjawab pertanyaan mengapa anak-anak yang divaksinasi autisme memiliki resiko yang lebih rendah. Tapi satu kemungkinan, menurut Mrozek-Budzyn, adalah bahwa beberapa potensi anak-anak mulai menunjukkan tanda-tanda autisme, atau mungkin masalah-masalah kesehatan lainnya, sebelum menerima vaksin MMR atau vaksin campak. Dokter atau orang tua kemudian dapat menghindari vaksinasi.

Autisme Bisa Dibantu dengan Hormon Oksitosin

sumber :http://www.kalbe.co.id/index.php?mn=news&tipe=detail&detail=20488

Kalbe.co.id – Oksitosin atau yang dikenal juga dengan hormon cinta, bisa membantu mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial penderita autisme pada level high-functioning. High-functioning autism merupakan istilah informal yang merujuk pada orang-orang autis yang dianggap memiliki fungsi yang lebih tinggi di bidang tertentu dibandingkan penderita autisme pada umumnya.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan high-functioning autism, seperti Asperger’s syndrome, yang ditangani dengan oxytocin merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan lebih banyak perilaku sosial yang tepat.

Meskipun mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi, orang-orang dengan high-functioning autism kurang keahlian sosial untuk bergaul secara tepat dengan orang lain di dalam masyarakat.

Oxytocin dinamakan hormon cinta karena dikenal menguatkan hubungan antara ibu dan bayi. Hormon ini juga diyakini terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku sosial lainnya. Penelitian lain telah menemukan bahwa anak-anak autis memiliki kadar oxytocin yang lebih rendah dibandingkan anak-anak tanpa autisme.

Dalam studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini, peneliti memeriksa efek menghirup oxytocin terhadap perilaku sosial pada 13 orang dewasa muda dengan high-functioning autism dalam dua percobaan terpisah. Selain itu, peneliti juga melibatkan 13 partisipan tanpa autisme sebagai kelompok pembanding.

Pada percobaan pertama, peneliti mengamati perilaku sosial partisipan dalam ball-tossing game di komputer. Dalam game ini, pemain diminta memilih mengirim bola kepada karakter yang baik, buruk atau netral.

Pada umumnya, orang-orang dengan autisme tidak akan terlalu memperhatikan ketiga pilihan tersebut. Tapi dalam percobaan ini, mereka yang menghirup oxytocin lebih banyak terlibat dengan karakter baik dan mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik dibandingkan yang jahat.

Partisipan dengan autisme yang diberikan placebo tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap ketiga karakter. Sedang kelompok pembanding tanpa autisme mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik.

Dalam percobaan kedua, peneliti mengukur tingkat perhatian dan respon partisipan terhadap gambar wajah manusia. Mereka yang ditangani dengan oxytocin lebih memperhatikan tanda-tanda visual di gambar dan melihat lebih lama pada area wajah yang berkaitan dengan informasi sosial, seperti mata.

“Di bawah pengaruh oxytocin, pasien merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku sosial yang lebih tepat. Hal ini menunjukkan potensi terapis oxytocin dalam menangani autisme,” terang peneliti Elissar Andari dari Centre Nátional de la Recherche Scientifique di Bron, Prancis, seperti dikutip situs webmd.com.

Peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mengindikasikan perlunya studi lanjutan untuk memeriksa efek oxytocin terhadap keterampilan dan perilaku sosial pada orang-orang dengan high-functioning autism.

Hormon Cinta Bantu Penderita Autisme

sumber :http://kesehatan.kompas.com/read/2010/02/16/11255585/Hormon.Cinta.Bantu.Penderita.Autisme

Kesadaran orangtua untuk menyembuhkan anaknya yang menderita autis kian meningkat. Mereka berharap anaknya dapat hidup normal. Kegiatan terapi di Kiddy Autism Centre, Sungai Kambang, Jambi, pada hari Kamis (8/5).
TERKAIT:

* Bayi Prematur Lebih Berisiko Mengidap Autis
* Kenapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?
* Dokter Pemicu Kontroversi Vaksin MMR Dijatuhi Sanksi
* Diet Khusus Belum Terbukti Efektif untuk Anak Autis
* Jumlah Anak Autis Meningkat
* GramediaShop: Cerdas Dan Bugar Dengan Senam Lantai
* GramediaShop: Seri Biologi Organ Tubuh Manusia – Ginjal Dan Kandung Kemih

BRON, KOMPAS.com – Hormon cinta atau oksitosin terbukti bermanfaat memperbaiki fungsi sosial para penderita autisme, demikian dilaporkan sebuah riset terbaru di Prancis.

Angela Sirigu dan timnya dari laboratorium CNRS di Bron, Prancis menemukan pemberian oksitosin dalam bentuk inhalasi kepada partisipan pengidap spektrum autisme menunjukkan hasil yang baik. Mereka cenderung lebih fokus dalam memberikan perhatian terhadap mata dan wajah manusia — yang merupakan penanda penting dari interaksi sosial.

Riset ini dilakukan dengan cara membandingkan efek oksitosin pada 13 individu berusia 17-39 tahun – 10 di antaranya dengan gejala spektrum autis dan tiga lainnya mengidap high functioning autisme (autisme dengan tingkat IQ tinggi) – dengan 13 kelompok populasi kontrol. Kedua kelompok ini diperintahkan bermain video game sepakbola di mana kelompok autisme mendapatkan inhaler oksitosin.

Riset yang dipublikasi secara online dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, itu menemukan bahwa inhalasi oksitosin pada dewasa yang pengidap Sindrom Asperger atau autisme IQ tinggi membuat mereka cenderung senang bermain dengan partner mereka yang lebih responsif secara sosial dalam video gim sepakbola.

“(Riset) Kami menunjukan bahwa oksitosin dapat merangsang pendekatan sosial dan pemahaman sosial para pasien pengidap autisme,” ungkap Sirigu.

“Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui apakah asupan oksitosin untuk jangka panjang dapat memperbaiki pada kehidupan soal para pasien ini dalam kesehariannya,” tambahnya.

Hormon oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan dalam kelenjar pituitari belakang. Hormon ini biasanya banyak diproduksi oleh wanita hamil menjelang melahirkan dan juga dilepaskan pria dan wanita saat berhubungan intim. Hormon ini juga terbukti berkaitan dengan ikatan emosional dan hubungan interpersonal.

Vaksinasi MMR Tidak Berkaitan Dengan Timbulnya Autisme

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-8yfsl0-tips.htm

Apakah autisme itu?

Autisme adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan gangguan perkembangan secara neurologik dimana individu yang mengalaminya akan mengalami gangguan pada kemampuan interaksi sosialnya dan keterampilan komunikasinya, serta kecenderungan untuk mengulangi suatu perilaku tertentu. Terdapat berbagai macam bentuk autisme, dari seseorang yang dapat berperilaku baik pada berbagai keadaan, sampai seseorang yang mengalami gangguan bicara dan keterampilan harian sederhana. Autisme biasanya didiagnosa pada usia balita atau usia prasekolah, walaupun ada juga yang didiagnosa pada usia yang lebih tua. Menurut laporan, sekitar 20% anak yang mengalami autisme mengalami sesuatu yang disebut sebagai �regresi�, yaitu mereka tampaknya mengalami suatu perkembangan normal tetapi kemudian kehilangan keterampilan komunikasi dan sosial. Anak laki-laki mempunyai resiko tiga sampai empat kali lipat untuk mengalami autisme dari pada anak perempuan. Autisme dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnik, dan sosial manapun. Berbagai macam faktor yang diduga berhubungan dengan autisme antara lain faktor infeksi, metabolisme, genetik, neurologik, dan lingkungan.

Faktor genetik dan kelainan otak pada saat lahir dianggap sebagai penyebab utama autisme.

Apakah vaksin measles-mumps-rubella (MMR) / campak-gondong-rubella dapat menyebabkan autisme?

Menurut bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini tidak ada satupun hipotesis yang mendukung pernyataan bahwa vaksin MMR, atau kombinasinya, dapat menyebabkan terjadinya autisme maupun bentuk autisme regresif. Pertanyaan-pertanyaan akan adanya kemungkinan kaitan antara vaksin MMR dan autisme telah diteliti secara luas oleh National Academy of Sciences, Institute of Medicine, Amerika. Penelitian ini menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti epidemiologi yang ada saat ini bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Apa saja yang telah dapat disimpulkan melalui penelitian tersebut?

Penelitian epidemiologi telah menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR pada anak dengan terjadinya autisme.

Apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kaitan antara autisme dan vaksin MMR?

Beberapa penelitian yang menyatakan ada kemungkinan hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme sebenarnya memiliki kekurangan dan kelemahan signifikan dan tidak dapat dibuktikan dengan nyata. Penelitian-penelitian semacam ini telah gagal dalam menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Penelitian tersebut meneliti dengan menggunakan jumlah kasus yang terlalu sedikit yang diperlukan untuk dapat menyimpulkan sesuatu secara umum. Selain itu, kasus yang diteliti bukan merupakan sampel yang representatif dan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai perbandingan.

Apakah vaksinasi MMR yang diberikan secara terpisah berdasarkan komponen individualnya, dengan kata lain menyuntik anak tiga kali secara terpisah, akan lebih aman dari pada satu suntikan kombinasi?

Tidak ada penelitian ilmiah atau data yang menunjukkan bahwa ada manfaat dalam pemberian vaksinasi MMR secara terpisah menurut komponen individualnya. Komite Institute of Medicine, Amerika yang menganalisa keamanan imunisasi telah menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung pernyataan bahwa sistem kekebalan bayi belum mampu menghadapi sejumlah antigen yang disuntikkan saat imunisasi rutin. Memisahkan vaksinasi MMR menjadi tiga dosis terpisah yang diberikan sebanyak tiga kali akan menambah ketidaknyamanan.

Apakah adik dari seorang anak autistik, atau anak dari seorang autistik dapat diberi vaksinasi MMR?

Ya. Bukti-bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa vaksin MMR, atau kombinasi apapu vaksin tersebut, dapat menyebabkan terjadinya autisme, termasuk bentuk autisme regresif.

Apakah vaksinasi sebaiknya ditunda sampai akibat negatif dari vaksin ini diketahui?

Tidak. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa vaksin yang diberikan pada imunisasi dapat menyebabkan akibat jangka panjang. Sebaliknya, seseorang dapat jatuh sakit dan meninggal dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini. (cfs/cdc.gov)

Q & A Autism

Autism

Question :dear smart parents,mau nanya tempat untuk mendapatkan vcd untuk anak autis. Agar dia bisa belajar.dimana ya?mohon masukannya.
tks
yeni

Answer 1 :Mbak Yeni,
Kebetulan kemarin saya lihat brosur dari Haula Toys disitu tersedia alat terapi autis, aneka vcd pendidikan telpnya : 4372107, 43936700, HP : 08161610855/70735955smoga membantu…
salam,
Mia

Answer 2 : dear allSaya posting autis – vaksinasiUntuk menjawab beberapa pertanyaan perihal miskonsepsi ini
Evidence Does Not Support Thimerosal-Autism Link
Posted 11/12/2003
Madsen KM, Lauritsen MB, Pedersen CB, et al. Thimerosal and the occurrenceof autism: negative ecological evidence from Danish population-based data.Pediatrics. 2003;112:604-606.
The health care com munity has been uncertain about whether thimerosal, a mercury-based preservative found in some vaccines, is a contributing factor for the seeming increased prevalence of autistic disorder (see Hudson GT,Dixon D. Autism: challenges in diagnosis and treatment [Board Review].Clinician Reviews. 2003;13[7]:45-52). However, the results of a Danish population-based study published in Pediatrics did not show such a correlation.For their analysis, Madsen et al obtained information from a Danish national database regarding 956 children who were diagnosed with autism from age 2 up to (but not including) their 10th birthday between 1971 and 2000. Children who followed a full vaccination schedule between 1961 and 1970 received a total of 400 mg of thimerosal by age 15 months; from 1970 to 1992, children received a total of 250 mg by age 10 months. Thimerosal-containing vaccines were discontinued in Denmark in March 1992.Data showed that autism incidence remained stable until 1990. In 1991, the incidence began to rise, but the greatest increases occurred after the discontinuation of thimero sal. The rate of incidence peaked in 1999;children between the ages of 2 and 6 who were diagnosed with autism that year had been born after the introduction of thimerosal-free vaccines.The spike in the incidence of autism after 1990 may be attributable to increased attention to the disorder, as well as to a change in the diagnostic criteria that occurred in 1994, the authors suggest. Furthermore, they caution that their data “cannot, of course, exclude the possibility that thimerosal at doses larger than [those] used in Denmark may lead to neuro developmental damage.”Contrary to previous concerns, new research suggests that the vaccine preservative thimerosal is not linked to autism risk.Clinician Reviews 13(10):38,41, 2003. © 2003 Clinicians Group, LLC
Misconceptions about Immunization
Misconception #9
Vaccines cause autism
On October 3, 1999, Cable News Network broadcasted a program on which the parents of three-year-old Liam Reynolds stated that he had developed autism two weeks after receiving measles, mumps and rubella (MMR) vaccine [1]. The program also aired the views of Stephanie Cave, M.D., a Louisiana physician who “specializes in treating autism” with diet and nutritional supplements [2]. An American Academy of Pediatrics official and explained why there is no reason to believe that a link exists between autism and vaccination. Butthe dramatic before-and-after videotapes of the child probably had enough impact to persuade many parents to avoid having their children vaccinated.The program’s narrator stated there had been “a puzzling jump in the number of children being diagnosed with autism.” However, the number being diagnosed may reflect increased reporting of cases rather than an increase in actual incidence.Autism is a chronic developmental disorder characterized by problems in social interaction, communication, and restrictive and repetitive interests and activities. Autism may be initially noted in infancy as impaired attachment, but it is most often first identified in toddlers, mostly boys,from 18 to 30 months of age. Boys are 3-4 times more likely to be afflicted with autism than girls. Girls as a group, however, may be more severely affected. Correct diagnosis of autism depends on an accurate developmental history focused on types of behaviors typical of autism and on evaluation of functional skills. Approximately 75% of persons with autism are mentally retarded. Fewer than 5% of children with autistic traits have fragile X oranother known chromosomal abnormality. Although no cure exists, autism is treatable. Symptoms associated with autism often improve as children start to acquire language and learn how to communicate their needs.In most cases of autism, no cause is apparent. In a few cases, biologic causes have been identified, although none are unique to autism. Some prenatal factors include intrauterine rubella; tuberous sclerosis; chromosomal abnormalities, such as Down’s syndrome; as well as brain abnormalities, such as hydrocephalus. Frequently cited postnatal conditionsassociated with autism are untreated phenylketonuria, infantile spasms, and herpes simplex encephalitis. In the majority of cases, however, no underlying cause can be identified.The current theory favored by many experts is that autism is a genetically-based disorder that occurs before birth [3]. Studies of persons with autism are finding abnormalities in brain structures that develop in the first few weeks of fetal development [4]. Evidence that genetics is an important, but not exclusive, cause of autism includes a 3-8% risk of recurrence in families with one affected child. A working group convened by the National Institutes of Health in 1995 reached a consensus that autism is a genetic condition. An issue unresolved by the group was the role of immune factors in autism spectrum disorders; it was suggested that studies to clarify the situation are needed.No Evidence of LinkSome parents of children with autism believe that there is a link between measles, mumps, rubella (MMR) vaccine and autism. However, there is no sensible reason to believe that any vaccine can cause autism or any kind of behavioral disorder. Typically, symptoms of autism are first noted by parents as their child begins to have difficulty with delays in speakingafter age one. MMR vaccine is first given to children at 12-15 months of age. Since this is also an age when autism commonly becomes apparent, it is not surprising that autism follows MMR immunization in some cases. However,by far the most logical explanation is coincidence, not cause-and-effect.If measles vaccine or any other vaccine causes autism, it would have to be a very rare occurrence, because millions of children have received vaccines without ill health effects. The only “evidence” linking MMR vaccine and autism was published in the British journal Lancet in 1998 [5]. An editorial published in the same issue, however, discussed concerns about the validity of the study [6]. Based on data from 12 patients, Dr. Andrew Wakefield (a British gastroenterologist) and colleagues speculated that MMR vaccine may have been the possible cause of bowel problems which led to a decreased absorption of essential vitamins and nutrients which resulted in developmental disorders like autism. No scientific analyses were reported,however, to substantiate the theory. Whether this series of 12 casesrepresent an unusual or unique clinical syndrome is difficult to judge without knowing the size of the patient population and time period over which the cases were identified. If there happened to be selective referral of patients with autism to the researchers’ practice, for example, the reported case series may simply reflect such referral bias. Moreover, thetheory that autism may be caused by poor absorption of nutrients due to bowel inflammation is senseless and is not supported by the clinical data.In at least 4 of the 12 cases, behavioral problems appeared before the onset of symptoms of inflammatory bowel disease. Furthermore, since publication of their original report in February of 1998, Wakefield and colleagues have published another study in which highly specific laboratory assays in patients with inflammatory bowel disease, the posited mechanism for autism after MMR vaccination, were negative for measles virus [7,8].Other recent investigations also do not support a causal association between MMR (or other measles-containing vaccines) and autism or inflammatory bowel disease (IBD) [9-13]. In one investigation, a Working Party on MMR Vaccine of the United Kingdom’s Committee on Safety of Medicines (1999) was charged with the evaluation of several hundred reports, collected by a firm of lawyers, of autism, Crohn’s disease, or similar disorders developing after receipt of MMR or MR vaccines. The Working Party conducted a systematic,standardized review of parental and physician information. Although acknowledging that it is impossible to prove or refute the suggested associations (because of variable data quality, biased selection of cases,and lack of a control group), the Working Party concluded that theinformation available “… did not support the suggested causal associations or give cause for concern about the safety of MMR or MR vaccines.” [12] In March 2000, a Medical Research Council report concludes that between March1998 and September 1999 no new evidence had suggested a causal link between MMR and autism or IBD [13]. The American Medical Association has reached the same conclusion.A study by Taylor and colleagues provides population-based evidence that overcomes many of the limitations faced by the Working Party and by Wakefield and colleagues [14,15]. The authors identified all 498 known cases of autism spectrum disorders (ASD) in certain districts of London born in 1979 or later and linked them to an independent regional vaccination registry. ASD includes classical autism, atypical autism, and Asperger’ssyndrome, but the results were similar when cases of classical autism were analyzed separately. The authors noted:The known number of ASD cases has been increasing since 1979, but there was no jump after the introduction of MMR vaccine in 1988.Cases vaccinated before 18 months of age had similar ages at diagnosis as did cases who had been vaccinated after 18 months or not vaccinated,indicating that vaccination does not result in earlier expression of autistic characteristics.At age two years, the MMR vaccination coverage among the ASD cases was nearly identical to coverage in children in the same birth cohorts in the whole region, providing evidence of an overall lack of association with vaccination.The first diagnosis of autism or initial signs of behavioral regression were not more likely to occur within time periods following vaccination than during other time periods.A weak statistical association existed between MMR vaccination and initial parental concern, but this appears to have been due to parents’ difficulty in recalling precise age at onset and a preference for approximating the age as 18 months.A study of the population of children in two communities in Sweden also found no evidence of an association between MMR vaccination and autism [16].That study found no difference in the prevalence of autism in children born after the introduction of MMR vaccination in Sweden compared with children born before.In January 1990, an Institute of Medicine committee examining possible health effects associated with DPT vaccine concluded that there was no evidence to indicate a causal relation between DPT vaccine or the pertussis component of DPT vaccine and autism [17]. Also, data obtained from CDC’s Monitoring System for Adverse Events Following Immunization (MASAEFI) system, showed no reports of autism occurring within 28 days of DPT immunization from 1978-1990, a period in which approximately 80.1 million doses of DPT vaccine were administered in the United States. From January 1990 through February 1998, only 15 cases of autism behavior disorder after immunization were reported to the Vaccine Adverse Events Reporting System (VAERS). Because of the small number of reports over an 8-year period, the cases reported are likely to represent unrelated chance occurrences that happened around the time of vaccination. The most frequent vaccines cited in the reports were diphtheria, tetanus, pertussis (DPT), oral polio vaccine (OPV), and MMR. Other vaccines reported as having a possible association with autism were Haemophilus influenzae type B and Hepatitis B.In 2000, the American Academy of Pediatrics convened a multidisciplinary panel of experts ro review what is known about the development, epidemiology, and genetics of ASD and the hypothesized associations with IBD, measles, and MMR vaccine. The panel concluded:Although the possible association with MMR vaccine has received much public and political attention and there are many who have derived their own conclusions based on personal experiences, the available evidence does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism or associated disorders or IBD. Separate administration of measles, mumps, and rubella vaccines to children provides no benefit over administration of the combination MMR vaccine and would result in delayed or missed immunizations.Pediatricians need to work with families to ensure that children are protected early in the second year of life from these preventable diseases.Continued scientific efforts need to be directed to the identification of the causes of ASD [18].The fact that autism is diagnosed during the second or third year of life does not mean that it began at that age. Analyses of home movies made from birth onward have shown that most children who are diagnosed as autistic during the second or third year have abnormal signs during the first year –and some even show abnormalities at birth [19-26].Recently, the National Childhood Encephalopathy Study (NCES) was examined to see if there was any link between measles vaccine and neurological events.Researchers in England found no indication that measles vaccine contributes to the development of educational and behavioral deficits or other possible signs of long-term neurological damage [27].Most people have no adverse reaction after receiving a MMR vaccination.About 5%-15% of vaccines may develop a fever 5-12 days after MMR vaccination and 5% may develop a rash. Central nervous system conditions, including encephalitis and encephalopathy, have been reported with a frequency of less than one per million doses administered. In July 2002, after Wakefield testified before a U.S. Congressional committee chaired by a vaccine opponent, Dr. Michael Fitzpatrick (a British general physician and parenbt of an autistic child) charged that Wakefield “has opted out of medical science to join the world of pseudoscientific dogma, media celebrity and populist campaigning.” [29] In a devastating review of the conduct of Wakefield and Paul Shattock, a pharmacist and vaccine opponent who runs the so-called Autism Research Unit at the University of Sunderland, Fitzpatrick stated:There is now a flourishing network of private laboratories offering urine and blood tests of the sort carried out by Mr Shattock — all of no recognised diagnostic value. There is a substantial business sector selling dietary supplements, vitamins, minerals, enzymes and all manner of special dietary products — all of no proven therapeutic value. The common feature of both tests and supplements is their exorbitant cost, suggesting that highprofits are being made from peddling interventions of no proven value, often to desperate parents, many on low incomes.There are other beneficiaries of the anti-MMR campaign. Private GPs are now making profits of several hundred percent from selling separate vaccines.Lawyers are eagerly collecting legal aid fees by inflating the hopes of parents that they may gain substantial compensation for the alleged damages from MMR through the pursuit of litigation. It is not surprising that both are enthusiastic supporters of Dr Wakefield’s crusade. It seems that Britain’s investigative journalists are so smitten by Dr Wakefield’s charisma and so credulous towards junk science, that they are reluctant to investigate the real abuses generated around the anti-MMR campaign [29].As with the administration of any agent that can produce fever, some children may have a febrile seizure. Most that follow measles vaccination are simple febrile seizures and affect children without known risk factors.An increased risk of febrile convulsions may occur among children with a prior history of convulsions.
The Bottom Line
There are no proven data to suggest that measles vaccine will increase the risk of developing autism or any other behavioral disorder [28]. The known benefits vastly exceed any unknown risks. The CDC continues to recommend two doses of MMR vaccine for all children who do not have a known medical contraindication; the first dose is recommended at 12-15 months of age and the second dose is recommended at either 4-6 years of age or at 11-12 years of age [30,31].To assure the safety of vaccines, the CDC, the FDA, the National Institutes of Health (NIH), and other federal agencies routinely examine any new evidence that would suggest possible problems with the safety of vaccines. Currently, CDC is conducting a study in the metropolitan Atlanta area to further evaluate any possible association between MMR vaccination and autism.Immunization against measles has led to a dramatic decrease in the incidence of measles, which is sometimes fatal. I believe that the manner in which CNN covered this issue was extremely irresponsible and will result in the death of children whose parents are scared out of having their children receive it.For Additional Information.
East Lacashire Authority MMR Information Pack, April 2001.
wati