TANDA-TANDA SIAP MASUK TK

sumber : NAKITA

Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya
dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.

M asuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi
dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana
serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui
sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia
barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah
dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung,
kan?

Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti
dipaparkan

Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di
Universitas Negeri Jakarta.

1. KESIAPAN FISIK

Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal,
anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan
gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola,
bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar
bola.

Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya,
bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK
dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya
tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya
bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main
sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak,
selanjutnya harus dikembangkan di TK.

Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di
TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih
biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang
bagus.

2. KESIAPAN EMOSIONAL

Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak,
ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung
pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.

Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi
yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis
menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih
siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan
siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi
di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.

hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si
anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan,
berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak
cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi
juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi
dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan
emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan,
bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.

3. KESIAPAN KOGNITIF

Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu
memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu
menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut.
Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup
untuk seusianya.

Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK.
Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua
mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan
menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum
bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.

Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya,
kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena
potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan
masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.

Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca
-tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari
anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh,
mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.

4. KESIAPAN SOSIAL

Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia
akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun
akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak “pelajaran” dari
guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.

Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut
menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak
berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih
menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada
di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila
bertemu teman-teman baru.

AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH

* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi
awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan
mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak
mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding
kelasnya juga lucu-lucu.

* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh,
karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh
pada guru, dan tertib.

* Jelaskan pula kenapa ia “harus” masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang
akan didapat di TK. “Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan
belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar,” misal.

* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di
TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi
murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan
suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan
permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita
telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.

Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari
sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak
masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila
perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk
beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk
sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi
saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani
masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.

ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?

Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5
tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam
hal kemandirian, menurut Bambang, orang tua hendaknya jangan buru-buru
memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu
menangis setiap kali masuk kelas. “Kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah
terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi.”

Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, “Katanya
Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?” Bila ia
menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal,
berjanji menemaninya, “Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas.”
Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu
perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya
mengantar dan menjemput.

Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu
anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah
permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer
dan membaur bermain. “Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu
anak ‘diperam’ terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya
makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik
cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap.”

Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai
kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan
suasana yang hangat dan akrab baginya. “Lama-lama anak akan merasa, ‘Oh,
sekolah itu ternyata menyenangkan.’ Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan
segera sigap berangkat ke sekolah.”

Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder
memasukkan anaknya ke TK. “Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan
guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi
yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan.”

PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT

Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak
manfaatnya. “Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain
sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami
keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti
peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan,” papar
Bambang.

Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal
warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak
bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot
halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa
berfantasi dan mengekspresikan diri.

Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat
bermain.

Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi
Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. “Karena anak akan mengenal nuansa
yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah,
di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain
bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas,” ujar pendidik yang bersama
istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.

Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah
menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak “kaget” saat menemui
lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa
menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.

Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju.
Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita
siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.

Santi Hartono. Ferdi/nakita.

Iklan