Temper Tantrum

sumber : http://www.e-smartschool.com/uot/001/UOT0010006.asp

Orangtua yang mempunyai anak balita (bawah lima tahun) mungkin pernah mengalami suatu waktu ketika sang anak ingin dibelikan sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dan permintaannya tidak dituruti maka tanpa di duga, si anak menangis sekeras-kerasnya bahkan sampai berguling-guling di lantai. Anda tentu menjadi jengkel, tapi si anak semakin menjadi-jadi tangisnya.

Itulah yang disebut Temper Tantrum (mengeluarkan amarah yang hebat untuk mencapai maksudnya), suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi ? Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.

Beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum adalah :

1. Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
2. Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
3. Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak meledak.
4. Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.
5. Yang paling sering terjadi adalah karena anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya. Jika Anda peduli dengan perkembangan anak Anda, periksalah kembali sikap dan sifat-sifat kita sebagai orangtua.

Beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasinya :

* Yang paling utama adalah orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Jika Anda marah, salurkanlah itu secara tepat. Anda harus ingat, bahwa anak merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitarnya. Jika tanpa Anda sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia melihat si Ayah memukul Ibunya, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya kelak.
* Jika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, berilah kesempatan secara bijaksana kepadanya. Jangan terlalu mengekang, dan beri kepercayaan bahwa dia bisa bermain dan bergaul dengan baik.
* Jika Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak saat dia mengamuk, kemukakan pendapat Anda secara tegas, tetapi lembut. Jangan membentaknya, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Atur emosi Anda, karena dia tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan dia bukan musuh Anda. Abaikan tangisnya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepadanya mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Jelaskan dengan sabar sampai dia mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang dialami oleh si anak. Pastikan bahwa ia bisa mengerti maksud Anda dengan baik, karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Sekali lagi, atur emosi Anda. Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di supermarket. Tapi ingatlah akan perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda.
* Ajarlah anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya. Anda bisa mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Lewat permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat. Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda bermain curang. Mungkin Anda pikir ini hanya sekedar permainan. Tapi anak akan berpikir dan menerapkan pada dirinya, bahwa berlaku curang itu sah-sah saja.

Ref : http://www.iqeq.web.id

Iklan

Psikologi anak

oleh Retno G Kusuma

Tangisannya Berjam-jam

Kunci meredakan tangisan dan teriakan anak adalah bersikap tenang dan tidak perlu tergesa-gesa. Orangtua yang nampak gelisah atau memendam kemarahan tentu akan sulit menerima kondisi si kecil yang juga sedang tidak nyaman dengan tangisannya sendiri. Anak membutuhkan figur yang tenang dan mampu mengendalikan emosinya ketika mendekati anak. Kontrol emosi Anda akan membuat suatu ruang toleransi apapun reaksi tambahan yang akan dikeluarkan anak.

SAYA Ibu bekerja di kantor Pemda dengan lima hari kerja, demikian juga suami. Kami memiliki seorang anak berusia 2 tahun 3 bulan, laki-laki, sehari-hari diasuh pembantu sejak usia 5 bulan. Yang menjadi permasalahan saya adalah anak ini kalau menangis rasanya tidak berhenti dan bisa hampir satu jam. Padahal saya sudah membujuknya dengan bermacam-macam cara, sampai kadang-kadang habis rasanya kesabaran saya. Pernah tangan saya hampir memukulnya tetapi saya urungkan karena tangisnya makin meledak. Yang sering adalah pelototan mata dan nada ancaman kalau dia tidak mau diam dari tangisannya.

Saya sering tidak habis pikir, kenapa anak laki-laki kok bisa cengeng seperti itu. Kondisi ini makin memburuk sejak ulang tahunnya yang kedua. Memang sebelumnya dia tergolong anak yang mudah menangis tetapi akhir-akhir ini hal sepele saja bisa membuatnya menangis berjam-jam, terutama kalau saya dan bapaknya ada di rumah.

Apakah ada hambatan perkembangan pada anak saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Mohon penjelasan dan petunjuk dari Ibu. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.

Ayu, Denpasar

Tangisan anak itu suara musik alam yang indah. Memang kalau mendengar suara bayi menangis berjam-jam maka akan menimbulkan rasa cemas dalam diri kita, tetapi kalau anak 2 tahun menangis berjam-jam tidak berhenti padahal segala cara sudah kita keluarkan untuk membujuknya, biasanya kejengkelan lingkunganlah yang akan muncul. Pada akhirnya cara kekerasan baik secara fisik maupun verbal berupa nada ancaman sering dicobakan untuk menjadi ‘senjata pamungkas’.

The Terrible Two adalah julukan yang sering dilontarkan untuk si 2 tahun yang memang sudah mulai sering menentang dan banyak ulah. Negativistic & Tantrum yaitu bersikap negatif, semau gue, tidak mau diatur, keras kepala, di sisi lain suka merajuk, mudah mengamuk dan emosional memang merupakan ciri perkembangan si 2 tahun. Memang untuk perkembangan sampai usia 5 tahun, masa 2 tahun merupakan masa yang paling sulit, di mana sering terjadi suatu transisi dari anak yang manis menjadi anak yang penentang dan terlihat ‘nakal’ di mata lingkungannya. Masalahnya sebenarnya terletak pada orangtua, bagaimana trik-trik yang dimilikinya untuk ‘mengelola’ anak sehingga menjadi manis dan penurut kembali.

Menurut Hans Grothe, seorang psikolog perkembangan dari Jerman, sebenarnya tangisan dan teriakan tantrum anak ternyata tidak berkaitan dengan usia. Tak hanya si 2 tahun yang melakukannya, si 3 atau 5 tahun pun kadang-kadang masih melakukannya. Memang frekuensi yang terbanyak adalah pada si 2 tahun. Menurutnya ada 3 kunci untuk meredakan tangisan anak yaitu ketenangan, ketenangan dan ketenangan. Tentu saja dalam tiga tataran yang berbeda-beda. Dan kemampuan ini tidak begitu saja jatuh dari langit melainkan para orangtua harus melatih dan belajar melihat reaksi anak.

Menjadi orangtua sebenarnya seperti seorang peneliti di laboratorium. Mencoba sebuah formula pola asuh, memecahkan masalah sesuai dengan budayanya serta kemudian melihat reaksi yang terjadi dengan dicobakan formulanya. Apabila tidak cocok dan reaksi buruk maka harus dicobakan formula yang lain sampai cocok. Dan biasanya formula yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak yang lainnya. Jadi berlatih dan belajar menjadi peneliti adalah tugas orangtua agar sukses mendidik anak-anaknya. Beberapa formula ini silakan dicoba.

Tenang, Tenang dan Tenang

Kunci meredakan tangisan dan teriakan anak adalah bersikap tenang dan tidak perlu tergesa-gesa. Tidak perlu panik dan jengkel bila si 2 tahun meledak tangisnya. Orangtua yang nampak gelisah atau memendam kemarahan tentu akan sulit menerima kondisi si kecil yang juga sedang tidak nyaman dengan tangisannya sendiri. Anak membutuhkan figur yang tenang dan mampu mengendalikan emosinya ketika mendekati anak. Kontrol emosi Anda akan membuat suatu ruang toleransi apapun reaksi tambahan yang akan dikeluarkan anak. Latihan bagi para orangtua untuk mencapai ketenangan adalah dengan pernafasan perut, minum segelas air putih, mencuci muka dan yang penting empati pada keadaan anak bahwa kita harus membantunya keluar dari tangisan dan situasi yang sedang tidak mampu dikendalikannya.

Sentuhan

Bagi anak, ketenangan dapat dicapai dengan mudah melalui suatu sentuhan. Jadi apabila Anda tenang dan siap menghadapi si 2 tahun tanpa bersikap emosional, belaian pada rambut usapan pada punggung, memeluknya ke pangkuan atau menggedongnya ke tempat yang lebih tenang, akan menenangkannya segera.

Meskipun demikian kalau tangisan menghantam emosinya begitu kuat terhadang sentuhan justru mengganggunya dan membuatnya marah, tentu jangan memaksa. Biarkan kemarahannya reda terlebih dalu, berikan waktu anak meredakan emosi dan kemarahan serta ketidaknyamanan yang dirasakannya. Lalu pelan-pelan dan setahap demi setahap dekati dan tunjukkan ketenangan dan sentuhan Anda.

Alihkan Perhatian dan Bersikap ”Tuli”

Sekali lagi perlu diingat 2 tahun adalah masa sulit, dan penuh tantangan. Terkadang anak begitu sukar dikendalikan, bahkan menolak untuk disentuh atau diberi perhatian. Sekali lagi jangan memaksakan diri. Cara yang jitu menurut banyak ahli perkembangan anak adalah bersikap ”tuli” pada tangisannya dan mengalihkan perhatian kita agar tidak terganggu dengan tangisannya. Misalnya pura-pura ke dapur untuk memasak, memperhatikan burung yang terbang atau mengomentari mobil yang lewat. Untuk itu diperlukan kecepatan berpikir dan improvisasi kita. Biasanya anak akan terpengaruh dan melupakan tangisannya karena tertarik dengan hal baru di sekitarnya. Selamat melatih diri untuk menjadi orangtua yang tenang, tenang, dan tenang…!

Temper Tantrum

Temper Tantrum Bikin Bingung?

Merasa aneh karena tiba-tiba anak berubah? Sering menangis menjerit-jerit tanpa sebab yang jelas, gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi, membanting botol, atau bahkan kadang memukul pengasuhnya. Mungkin Anda sedang menghadapi Temper Tantrum (ledakan emosi) si buah hati.

Selama tahap ini, kita mungkin panik menghadapinya. Tapi dengan memahami dan tahu bagaimana cara menghadapi, tentu kita akan lebih tenang dan mudah untuk menjalani saat tiba-tiba anak “meledak” emosinya.

Yang harus kita pahami adalah tantrum merupakan sesuatu yang normal dan biasa terjadi pada saat tumbuh kembang anak dan biasa muncul saat anak berusia 1-3 tahun (Tantrums Secret to Calming the Storm, La Forge, 1996). Kenapa tantrum terjadi? Secara garis besar, penyebabnya adalah: karena anak mencari perhatian; lapar; lelah; atau karena anak frustrasi.

Frustrasi

Frustrasi pada anak sering kali membuat bingung para orangtua. Frustrasi pada anak bisa terjadi karena anak tidak mendapatkan keinginannya: bisa mainan, perhatian, maupun orangtuanya. Jadi, saat Anda melihat (atau bahkan mengalami sendiri) anak menangis di pertokoan karena minta sesuatu, atau bahkan menjerit dan berguling di lantai, itu bisa jadi temper tantrum.

Atau suatu pagi, saat Anda mau ke kantor. Si kecil yang biasanya mengantar dengan riang, tiba-tiba menangis menjerit-njerit sambil memegangi kaki Anda. “Gak boleh…. Bunda gak boleh pergi,,, di rumah saja.”

Lain waktu, si buah hati ingin bercerita sesuatu yang seru kepada Anda. Tapi, dia susah sekali mengomunikasikannya. Hal ini membuatnya frustrasi dan mengakibatkan tantrum. Anak-anak biasanya lebih cepat memahami sesuatu, namun masih susah untuk mengungkapkannya (karena keterbatasan kosakata/bahasa). Namun, saat kemampuan bahasanya meningkat, bisa jadi tantrum akan menurun/hilang.

Cara Menghadapi

Sebenarnya, tantrum akan mulai berkurang saat anak memasuki usia sekolah. Namun, selama masa-masa itu, kita perlu kiat yang tepat untuk menghadapi tantrum.

– Pertama, tetap tenang. Tarik napas, berpikirlah dengan jernih. Kenapa? Karena apabila Anda ikut frustrasi, bahkan berteriak, bisa jadi kondisi malah akan lebih runyam. Sedapat mungkin, alihkan perhatian anak. Misalnya, kalau anak minta mainan dan sudah mulai tantrum… alihkan perhatiannya ke benda/tempat lain.

– Hindari memberi apa yang anak inginkan hanya karena kita merasa “malu”. Misalnya karena anak menangis di pertokoan, kita langsung membelikan apa yang diminta. Anak itu pintar lho Moms. Jadi, sekali hal itu berhasil, bisa jadi dia akan “membacanya” bahwa kita akan memberi apa yang dia inginkan kalau dia menangis.

– Memindahkannya ke tempat yang lebih tenang. Jika tantrum terjadi di tempat ramai, angkat si buah hati, bawa ke tempat yang lebih tenang, dan biarkan tantrumnya selesai. Setelah itu, baru kita ajak bicara.

– Tidak mengacuhkan anak saat tantrum kadang juga perlu. Tentu dengan melihat bahwa kondisi di sekitarnya aman. Kalau dia sudah tenang, baru kita peluk dan tanya dengan lembut, kenapa dia marah.

– Jika tantrum makin menjadi, peluk si buah hati. Tapi kalau kita tidak bisa memeluk (karena kita juga sudah mulai jengkel/emosi), paling enggak, duduk/berdiri di dekatnya.

Antisipasi

– Mengantisipasi tantrum juga perlu loh. Jadi, kita harus tahu, sampai batas mana anak kita. Misalnya, kita terlalu asyik jalan-jalan sampai lupa bahwa sudah waktunya makan. Dan ini bisa mengakibatkan tantrum pada anak.

– Sodorkan pertanyaan dengan pilihan jawaban. Misalnya, saat anak susah gosok gigi. Kita tanya: “mau gosok gigi kapan sayang? Sebelum mandi, atau sesudah mandi”. Sedapat mungkin, hindari jawaban “ya” atau “enggak”.

Jika tantrum sudah lewat, kita bisa mencari tau apa sebenarnya keinginan anak. “Kenapa marah begitu sayang? Sebenarnya pengen apa? Mama enggak tau adik pengen apa kalau menangis begitu.” Yang paling penting, bantu anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara verbal dan terkendali. Berikan rasa cinta dan aman kepada si buah hati. Tunjukkan kepadanya, meski dia telah berbuat salah, sebagai orangtua kita tetap menyayanginya.

Yang penting, selama tantrum terjadi, sebaiknya tidak membujuk, berargumen, atau menasihati anak karena anak biasanya tidak akan menanggapi/mendengarkan. Bahkan, terkadang hal itu malah membuat tantrum anak makin menjadi.

**Dari berbagai sumber & pengalaman pribadi**

Apakah Temper Tantrum?

APAKAH TEMPER TANTRUM ITU?
Temper Tantrum adalah suatu letupan amarah anak di saat anak menunjukkan kemandirian dengan sikap negatifnya.

SIAPA YANG MENGALAMI TEMPER TANTRUM?
Umumnya dialami oleh anak usia balita, terutama terjadi antara usia 2 hingga 4 tahun.

KENAPA TERJADI TEMPER TANTRUM?
Anak balita merasa lepas kendali, dirinya sedang kacau, bingung, dan berantakan. Ada keinginannya yang tidak terpenuhi. Keinginannya harus segera dipenuhi saat itu juga.
Anak balita tidak mengenal konsep “nanti”, sehingga tidak dapat menunda atau menunggu pemenuhan atas keinginannya. Karena keinginannya tidak terpenuhi, ia merasa tidak puas dan menjadi frustrasi.

Untuk menanggulangi rasa frustrasi tersebut, ia mengamuk. Frustrasi menimbulkan banyak ketegangan. Ia mengungkapkan rasa frustrasi ini dengan cara menjerit sambil menangis keras-keras, menjatuhkan diri ke lantai, atau bergerak-gerak dengan liar, berguling-guling di lantai, melempar barang, memukul-mukul, menendang, dsb. Cara tsb sangat ampuh untuk segera lepas dari ketegangan tadi.

HAL-HAL APA YANG MEMBUAT ANAK BALITA FRUSTRASI?

  • Tidak mendapatkan apa yang diinginkan (misalnya perhatian guru/orang tua, permen, mainan, dsb)
  • Tidak mampu melakukan sendiri (misalnya dalam berpakaian, membawa mainannya sekaligus, menyeberangi jalan tanpa berpegangan pada orang tua, dsb)
  • Menginginkan orang tua/guru melakukan sesuatu yang orang tua/guru tidak bisa atau tidak ingin lakukan (misalnya menemani anak tidur, mengambil makanan kesukaan yang tidak diperbolehkan, dsb)
  • Tidak mengetahui apa yang diinginkannya (misalnya apakah sebaiknya ia makan di meja makan atau duduk di sofa atau tidak makan)
  • Tidak mampu menjelaskan apa yang diinginkannya (misalnya ingin bermain ayunan lebih tinggi, tapi alat ayunan tidak memungkinkan)
  • Tidak mampu mengendalikan segala sesuatu (misalnya ia ingin ibunya tidak pergi ke kantor, tapi ibunya tetap pergi, ia ingin memakai piring warna biru, tetapi dibelikan warna merah, dsb)
  • Disalahmengerti (ditertawakan, padahal dia tidak bermaksud melucu)
  • Bosan
  • Lelah
  • Lapar
  • Sakit
  • Mencontoh tindakan penyaluran marah yang salah dari orang dewasa (ayah, ibu)

KONDISI SEPERTI APA YANG MENYEBABKAN ANAK MENGAMUK?
Ketika anak merasa diabaikan. Orang tua/guru sibuk dengan aktivitas lain, tidak punya waktu untuk memberikan perhatian kepada anak. Yang dibutuhkan anak bukan hanya sekadar kehadiran, tetapi keterlibatan orang tua/guru di dalam kegiatannya.

APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA/GURU?
Tidak ada jawaban yang pasti. Namun, ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua/guru:

1. Sebelum terjadi amukan pada anak :

  • Orang tua/guru harus mengenali emosi-emosi di dalam dirinya masing-masing terlebih dahulu. Semakin kita mahir mengenali emosi ini, semakin tenang menghadapi anak yang sedang emosi.
  • Berikanlah contoh yang baik, karena kita akan dijadikan contoh oleh anak.
  • Bila kita sedang marah salurkanlah amarah kita secara tepat. Karena anak akan dengan mudah merekam setiap kejadian di sekitarnya, baik yang positif maupun yang negatif.
  • Anak akan menyesuaikan perilakunya dengan perilaku kita. Jika kita terpancing ikut mengamuk, amukan anak akan lebih hebat.
  • Berikan perhatian yang cukup. Anak membutuhkan orang tua/guru untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan dan pikirkan. Semakin banyak perhatian yang didapat, akan semakin banyak pemahaman akan dirinya. Semakin ia memahami diri, anak akan semakin bahagia.
  • Cari penjaga anak, bila kita akan menghadapi kesibukan yang tidak memungkinkan memberikan perhatian sebagaimana biasanya
  • Bawa buku cerita yang bergambar dan menarik, boneka, makanan kecil yang bergizi, dll., jika akan bepergian dengannya
  • Bernegosiasi dan berkompromi. Bicarakan apa yang akan dilakukan orang tua/guru, libatkan atau ajak dia untuk membantu, diskusikan satu solusi yang menyenangkan bagi anak dan orang tua/guru.

2. Pada saat anak mengamuk:

  • Jangan memberinya perhatian
  • Berdiam diri (tenang, berjalan menjauhinya, tidak memberikan perhatian, memandangnya tanpa emosi) sampai anak siap untuk diajak bicara
  • Memegangi dengan kuat tanpa mencederai agar ia merasa aman
  • Bersikap tegas tetapi lembut, dewasa, peduli, dan positif
  • Mengalihkan perhatian anak, misalnya dengan menciptakan suasana humor atau melibatkan anak ke dalam aktivitas lain
  • Kalahkan amukan anak dengan suara tegas yang dapat mengejutkannya
  • Jangan memukul atau memakinya

3. Setelah badai berlalu:

  • Setelah badai berlalu, yang harus dilakukan adalah memeluknya.
  • Jelaskan apa yang telah terjadi
  • Berikan pemahaman kenapa hal itu sampai terjadi
  • Katakan perilaku apa yang kita inginkan lain kali
  • Sadarkan anak bahwa amukan adalah cara komunikasi yang tidak dapat diterima. Ada cara lain untuk memberitahukan apa yang dia inginkan kepada orang tua/guru. Kita harus yakin bahwa pada waktunya nanti ia akan mempelajari cara-cara lain tersebut.
  • Ajari anak berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya, yaitu dengan cara mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Lewat permainan, anak akan belajar menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, bersaing secara sehat. Jangan sekali-kali diajarkan untuk bermain curang.
  • Ajarkan perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan. Anak berhak mendapatkan semua kebutuhannya (kasih sayang, kehangatan, dll) tetapi tidak semua keinginan yang dapat diperolehnya.
  • Tetapkan batas secara jelas dan tegas. Batas mana yang boleh dan harus dilakukannya, dan mana yang tidak. Anak membutuhkan orang tua/guru untuk membatasi perilakunya.
  • Ajarkan anak memilih di dalam batasan (Kamu ingin makan telur atau sosis? Kamu ingin main air atau mandi?).
  • Berusaha konsisten. Konsisten artinya selalu bersikap sama. Sekali kita menerapkan aturan tertentu pada anak, aturan tsb tetap berlaku sama setiap saat, di semua tempat, dan bagi siapapun.
  • Melatih anak untuk tidak mendapatkan perhatian penuh kita, sedikit demi sedikit. Misalnya dengan memulai perjalanan singkat lalu menambah waktunya secara bertahap

APA YANG AKAN TERJADI JIKA TEMPER TANTRUM BERLANJUT TERUS?

  • Anak akan belajar bahwa amukan bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia inginkan.
  • Amukan bertambah hebat
  • Mengikuti orang tua/guru dari satu ruangan ke ruangan lain
  • Hanya mengamuk ketika ada orang-orang lain di sekitarnya
  • Berhenti dan memulai tergantung pada apakah orang tua/guru melihatnya atau tidak


Sumber Pustaka:

  • Hames, P. (2003). Menghadapi dan Mengatasi Anak yang Suka Ngamuk. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Iqeq.web.id. (2003). Mengatasi Temper Tantrum pada Anak. Betawi.Net

Temper Tantrum 6

Temper Tantrum

Pengertian:

letupan kemarahan anak (mengamuk)

waktu terjangkit:

sering terjadi dalam 4 tahun pertama usia anak

bentuk tingkah laku:

  • menangis
  • menjerit
  • melempar barang
  • membuat tubuh kaku
  • memukul
  • berguling-guling di lantai
  • tidak mau beranjak dari tempat tertentu

menjadi kebiasaan apabila anak mengetahui bahwa dengan cara itu keinginannya akan dipenuhi
Temper Tantrum terbentuk secara kondisional.

kondisi yang menyebabkan temper tantrum menjadi kebiasaan:

  1. balita yang mengalami sakit untuk waktu lama
  2. Ketidakkonsistenan orang tua dalam menerapkan disiplin pada anak-anaknya
  3. sikap orang tua yang cenderung mengkritik dan terlalu cerewet
  4. Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental serta yang mengalami hambatan dalam perkembangan bicara pada saat mereka gagal mengungkapkan maksudnya pada lingkungan.

Contoh kasus:

anak menjadi sering marah karena si ibu selalu dengan paksa menyuruh anak buang air kecil saat ia asyik bermain.
Kemarahan yang awalnya timbul karena anak dihentikan dari aktivitas bermainnya, akhirnya beralih pada situasi pergi ke kamar mandi bisa membangkitkan kemarahan anak.

Penanganan

  1. hindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak
  2. hindari tuntutan yang berlebihan
  3. hindari pemberian tugas yang diluar kemampuan anak
  4. tidak bersikap sewenang-wenang
  5. tidak terlalu memegang teguh sikap-sikap keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak
  6. bersikap konsisten atau ajeg, namun tetap penuh kasih sayang: keajegan memungkinkan anak belajar dari pengalaman-pengalamannya. Namun ini tidak berarti segala sesuatu harus berlangsung rutin tanpa pengecualian.
    Bagaimanapun juga, pengecualian dari apa yang sudah ditetapkan boleh saja dilakukan sepanjang hal itu diperlukan dan tidak dilakukan demi mengikuti suasana hati orang tua semata.

Sikap orang tua saat anak mengamuk:

tenang
kalem
tidak terpancing untuk marah
konsistensi dan penuh pengertian
Sedapat mungkin abaikanlah adegan mengamuk tsb, sehingga anak menyadari bahwa ia tidak bisa memperoleh perhatian dengan kemarahannya itu. Anak harus belajar bahwa dengan mengamuk ia tidak akan mendapat apa yang ia inginkan.
Jangan sekali-sekali mencoba berargumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk.
beberapa saat setelah amukan berakhir atau mereda merupakan saat yang baik untuk mengatakan bahwa caranya itu salah dan tidak bisa diterima. **Di atas itu semua, perlu diketahui bahwa, dalam batas-batas tertentu, mengamuk adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak.**

Menghadapi Tantrum si Kecil

(3 Tahun Pertama Yang Menentukan)

Sebagai orang tua, sebaiknya Anda melihat kecenderungan tantrum pada anak sebagai ekspresi yang sehat. Namun terkadang orang tua kewalahan menghadapi Tantrum si kecil. Menghilangkan tantrum 100 persen tentu bukan pekerjaan mudah.

beberapa cara untuk meminimalkan kemarahan si kecil:

(Cobalah menerapkan cara ini sesuai situasi, dan pastikan bahwa orang-orang yang membantu Anda mengasuh si kecil menggunakan cara yang sama dengan Anda)

Cobalah tenang
Kepanikan Anda menghadapi tantrum si kecil akan menyulut kemarahannya. Melihat Anda tidak dapat mengendalikan diri, anak akan panik dan sulit mengendalikan dirinya juga. Si kecil membutuhkan sosok yang dapat menularkan ketenangan untuk mengontrol situasi, karena keterbatasannya mengendalikan diri di usia ini. Ia juga membutuhkan kepastian bahwa dalam situasi apa pun Anda masih mencintainya.

Ingat-ingat penyebabnya
Cobalah menuliskan di dalam agenda Anda, apa penyulut kemarahan si kecil. Terkadang tantrum disebabkan anak terlalu lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi. Jika ini penyebabnya, cobalah menghindari keadaan ini. Kemungkinan lain, tantrum si kecil hanya muncul jika ia dibawa ke supermarket. Jika demikian, batasi kepergian ke supermarket dengan
membawa si kecil.

Berbicaralah dengan halus namun mantap
Jika Anda berteriak maka si kecil akan membalas dengan teriakan yang lebih hebat. Namun jika Anda dapat berbicara dengan intonasi yang halus namun mantap, hal ini akan membantu si kecil mengatasi diri. Terkadang karena terlalu halus suara yang Anda ucapkan, si kecil tidak dapat mendengar. Hal ini justru menguntungkan, karena biasanya ia akan terdiam berkonsentrasi pada apa yang Anda ucapkan.

Singkirkan keinginan menggunakan hukuman fisik
Tantrum si kecil terkadang membuat orang tua kesal, sehingga tanpa sadar orang tua menjatuhkan hukuman fisik seperti memukul atau mencubit agar si kecil diam. Hal ini merupakan pertanda bahwa Anda pun telah kehilangan kontrol diri.
Bagaimana meminta si kecil belajar mengontrol dirinya, jika orang tuanya sendiri tidak mampu mengontrol diri sendiri?

Jangan berdebat
Mengajak si kecil berdebat selama kemarahannya meledak tidak ada gunanya. Pada saat ini si kecil dapat diharapkan berpikir rasional. Tunggulah hingga ia sudah dapat menggunakan logika berpikirnya kembali, baru ajak ia berdiskusi.

Jaga anak dari kemungkinan celaka
Terkadang si kecil banyak menggunakan gerakan memukul atau menendang. Jika hal ini tidak diwaspadai dapat mencelakai dirinya sendiri, atau orang di sekitarnya. Cobalah mengajak anak ke tempat yang lebih aman, misalnya tidurkan ia di tempat tidur, atau ikatkan tali pengaman jika ia mengamuk di kereta dorongnya. Jika tidak mungkin,
cobalah untuk memegang, atau memeluknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain mencegah kemungkinan celaka, dengan memegang atau memeluk, si kecil merasa Anda membantunya menyatukan ‘bagian’
dari dirinya yang telah ‘hancur berkeping-keping’. Pelukan erat juga membantu meluruhkan kemarahan, baik bagi si kecil maupun Anda.

Tunjukan empati
Tunjukan bahwa Anda mengerti perasaan si kecil. Misalnya dengan berkata,”Ibu tahu sulit rasanya jika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibu juga sering merasa kecewa dan marah jika ibu tidak mendapatkan apa yang ibu inginkan”.

Coba alihkan perhatian anak
Kadang-kadang ada anak yang sulit sekali mengatasi tantrum-nya. Campur tangan orang tua bahkan dapat memperburuk kemarahannya. Jika ini terjadi, cobalah alihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan permainan yang telah lama tidak dilakukannya, atau perdengarkan lagu-lagu gembira favoritnya. Cara lain yang dapat dicoba adalah humor misalnya
dengan mengatakan,”Apa pun yang kamu lakukan, jangan ketawa!! Eh…, lho kok malah ketawa”.

Berikan waktu jeda
Jika si kecil tidak dapat mengontrol dirinya untuk waktu yang cukup lama, cobalah untuk memberikan waktu jeda. Misalnya, biarkan ia menyendiri di dalam kamarnya hingga kemarahannya reda. Namun tentunya semua itu harus dibawah pengawasan anda. Pastikan bahwa ia aman berada sendiri di dalam kamarnya.

Jangan takut jika tak mereda
Jika Anda tidak dapat meredakan tantrum-nya, jangan terlalu cemas. Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk mengekspresikan emosinya. Setelah ia merasa lega, maka semua akan segera berakhir.

Sumber: NAKITA

Temper Tantrum 5

Temper Tantrum

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “sulit”, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.

Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
Sulit dialihkan perhatiannya.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia:

1. Di bawah usia 3 tahun:

Menangis
Menggigit
Memukul
Menendang
Menjerit
Memekik-mekik
Melengkungkan punggung
Melempar badan ke lantai
Memukul-mukulkan tangan
Menahan nafas
Membentur-benturkan kepala
Melempar-lempar barang

2. Usia 3 – 4 tahun:
Perilaku-perilaku tersebut diatas
Menghentak-hentakan kaki
Berteriak-teriak
Meninju
Membanting pintu
Mengkritik
Merengek

3. Usia 5 tahun ke atas
Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
Memaki
Menyumpah
Memukul kakak/adik atau temannya
Mengkritik diri sendiri
Memecahkan barang dengan sengaja
Mengancam

Faktor Penyebab

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.

Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.

Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.

Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua

Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Tindakan
Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut). Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

Mencegah terjadinya Tantrum
Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum
Menangani anak pasca Tantrum
Pencegahan

Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.

Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun.

Ketika Tantrum Terjadi

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:

Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.

Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.

Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: “kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih”; “kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong”), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan “mama/papa sayang kamu”, “mama ada di sini sampai kamu selesai”. Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.

Ketika Tantrum Telah Berlalu

Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya.

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orangtua bisa mencegah Tantrum berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orangtua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal.

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang “sulit” dan mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtualah yang punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran diatas mungkin dapat berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak. Selamat membaca, semoga bermanfaat.(jp

Temper tantrum

Istilah temper tamtrum saya baca di Koran Tempo terbitan hari Minggu edisi 1 April 2007. Istilah tersebut ditujukan untuk anak-anak yang suka marah-marah tidak jelas, atau tiba-tiba saja ngamuk pada saat sedang asyik bermain atau jalan-jalan. Temper tantrum ini katanya biasa terjadi pada anak menjelang umur tiga tahun. Pas sudah dengan umur anak saya yang juga saat ini punya kebiasaan seperti di atas, tiba-tiba saja ngambek tanpa sebab, kita tanya maunya apa enggak tahu, di suruh main saja enggak mau, pegang mainan di banting atau di lempar. Pusing juga jadinya.

Kata penulisnya ”anak usia segitu sedang belajar emosi” mungkin juga begitu. Dalam tulisan di koran tersebut bahwa anak mengalami temper tantrum ketika merasa frustasi. Frustasi karena banyak yang ingin dilakukan tetapi tidak bisa, berkomunikasi tidak nyambung, jadi biasanya diekspresikan dengan berteriak, menangis dan merajuk.

Kalo anak sudah kumat seperti ini, katanya kita tidak usah panik dan tetap bersifat suportif terhadap anak, tak perlu marah atau bahkan memukul (emang gampang sich kalo ngomong mah, kalo ngalamin kadang kesalnya minta ampun, terpaksa kita deh yang berteriak dalam hati). Katanya lagi, anak belajar ngamuk dari orang-orang terdekat, nah loh.

Pengalaman pribadi pun pernah seperti di atas, membiarkan permintaanya tidak dikabulkan, walaupun sudah menangis keras-keras. Hasilnya adalah dia minta susu dan tertidur. Tetapi percaya dech kadang kita tidak tega kalo dia menangis keras sampai suara hilang, apalagi kalo masih ada uang di saku, keseringan kita yang kalah.

Berikut adalah tips mengatasi temper tantrum anak (sumber Koran Tempo, 1 April 2007)

  1. tetap tenang. Beri anak waktu menguasi diri nya sendiri
  2. jangan hiarukan anak hingga dia bisa lebih tenang
  3. lakukan apapun yang sedang anda lakukan selama masa tantrum berlangsung
  4. jangan memukul atau melakukan hukuman fisik apapun
  5. jangan menyerah pada tantrum anak, begitu menyerah mereka akan belajar mempergunakan perilaku tak pada tempatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
  6. jangan menyuap anak dengan hadiah untuk menghentikan tantrum. Anak-anak akan belajar bertindak tak semestinya untuk mendapatkanya
  7. singkirkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkuan anak-anak

Temper Tantrum 4

Temper Tantrum

Pernahkah Anda melihat anak mengamuk, menangis kencang sampai berguling-guling di tempat umum dan tingkah lain yang semakin membuat orang jengkel melihatnya hanya karena keinginannya tidak dipenuhi? Jika Anda mendapati atau malah anak Anda sendiri yang berperilaku demikian, keadaan inilah yang dinamakan temper tantrum.

Gambar diambil dari sini

Temper tantrum atau suatu letupan amarah anak sering terjadi pada anak berusia 2 sampai 3 tahun, ketika anak memperlihatkan sikap mandiri dan sikap negatifnya. Ekspresi yang ditunjukkan memang berbeda antara anak yang satu dengan anak lainnya. Selain yang telah disebutkan di atas, kadang anak dapat menjerit keras disertai tangisan, memukul-mukul tanah, menyepak-nyepak apa yang ada di dekatnya, bahkan terkadang ada yang sampai muntah dan kencing di celana.

Perilaku tersebut merupakan suatu ketidaknormalan yang terjadi pada anak. Seharusnya anak yang berusia 2 sampai 3 tahun tidak mengalami hal itu. Sebab pada usia itu anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi dengan baik, mau mendengarkan dan bisa menurut. Bila sampai terjadi demikian kemungkinan ada yang tidak beres pada pola asuh orangtua terhadap anak.

Jika kemarahan anak semakin tidak terkendali, maka orang tua adalah pihak yang paling repot dan bertanggung jawab untuk menenangkan si anak. Kadang orang tua hilang kesabaran, memarahi anak hingga melakukan tindak kekerasan dan menyakiti anak. Tindakan ini bukannya membuat anak menjadi tenang dan diam dari tangisnya. Tetapi kemarahan si anak justru semakin menjadi-jadi dan sulit diredakan.

Orang tua sendiri agaknya tidak mengerti bahwa sebenarnya anak hanyalah tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan kemarahan secara wajar. Padahal dalam perkembangan selanjutnya, anak usia 3 – 5 tahun seharusnya sudah mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Begitu pula dalam hal mengekspresikan emosinya, anak seharusnya mengetahui bahwa melampiaskan kemarahan secara berlebihan di tempat umum adalah tidak baik.

Mengapa perilaku temper tantrum dapat terjadi pada anak? Ada berbagai faktor penyebab yang mempengaruhi anak sehingga anak tak mampu mengendalikan emosinya. Diantaranya adalah faktor fisiologis, faktor psikologis dan faktor orang tua si anak dan faktor lingkungan.

Penyebab fisiologis dapat muncul ketika anak merasa terlalu lelah, capek karena bermain, mengantuk berat, kelaparan atau ketika anak sedang sakit. Pada saat ini anak menjadi kesal karena kebutuhannya tidak terpenuhi sedangkan si anak belum mampu mengungkapkannya secara lisan kepada orang tua. Emosi anak memuncak ketika orang tua tidak mampu memahami apa yang dibutuhkannya. Akhirnya anak menjadi marah, menangis dan mengamuk sejadi-jadinya.

Penyebab psikologis dapat terjadi dikarenakan anak mengalami kegagalan dalam melakukan sesuatu dan menjadi emosi akibat kegagalan tersebut. Keadaan ini dapat menjadi makin parah jika orang tua atau keluarga si anak selalu membandingkan kemampuan anak dengan orang lain. Demikian juga orang tua yang memiliki tuntutan tinggi terhadap anaknya harus bisa begini, harus bisa begitu akan memicu kejengkelan dan berbuntut pada kemarahan yang tidak terkendali.

Faktor orang tua juga berpengaruh terhadap temper tantrum anak. Kerap terjadi dalam sebuah keluarga manakala anak sering ditolak atau dimarahi ketika menginginkan sesuatu. Misalnya orang tua memaksa anak melakukan sesuatu saat ia sedang asyik bermain dan harus meninggalkan permainannya, entah untuk minum susu, makan atau hal lain. Orang tua mungkin mengira bahww ini bukan suatu masalah namun ternyata malah menjadi masalah di kemudian hari. Anak akan merasa bahwa ia tak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara ia sendiri harus menuruti kehendak orang tua. Ini akhirnya menjadi sebuah konflik dan emosi terpendam dalam diri anak yang akan meledak pada suatu saat.

Selain ketiga faktor di atas, faktor lingkungan juga turut berperan dalam menciptakan temper tantrum pada anak. Lingkungan keluarga maupun lingkungan luar rumah sama besar pengaruhnya. Yang paling sering terjadi adalah ketika si anak melihat orang tuanya mengungkapkan kemarahannya secara negatif. Kemarahan yang tak terkendali dari orang tua dengan cara mengamuk, membentak-bentak, membanting, merusak barang di sekitarnya di hadapan si anak akan terekam secara kuat dan membayangi pikiran anak.

Di samping itu terkadang anak juga menjadi sasaran kemarahan orang tua yang disebabkan bukan karena kesalahan anak. Misalnya pertengkaran antara suami istri, maka kemarahan dilampiaskan pada anak. Anak yang disalahkan dan anak pula yang menjadi korban kemarahan kedua orang tuanya. Hal ini akan berakibat tidak baik bagi perkembangan anak. Terlebih lagi di lingkungan luar rumah. Anak yang terbiasa melihat tetangga marah-marah dengan cara tidak wajar akan mempengaruhi perkembangan emosi anak pula.

Bagaimana cara mencegahnya?

Temper tantrum dapat dicegah dengan cara sederhana dan bijaksana. Misalnya dengan memberi kesempatan pada anak untuk bermain dan mengekspresikan keinginannya secara wajar. Jika belum mampu mengungkapkan secara lisan usahakan agar anak mampu mengungkapkan dengan isyarat. Orang tua harus memahami apa yang menjadi kebutuhan anak, jangan terlalu mengekang namun berikan kepercayaan bahwa anak mampu bermain dan bergaul dengan baik.

Kemampuan anak dalam mengungkapkan keinginan baik dengan isyarat maupun lisan bisa dilatih sedikit demi sedikit. Dan ketika anak sudah terlatih dalam hal ini, maka insya Allah temper tantrum tidak akan terjadi. Begitu juga saat anak sudah bisa diajak berkomunikasi, berikan pengertian dan penjelasan kepada anak dari hati ke hati. Berbicara dengan ucapan yang lembut dan tegas akan membuat anak tenang dan tidak merasa seperti dimarahi. Anak yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan baik biasanya mudah mengerti dan memahami.

Namun bila suatu anak kita mengalami temper tantrum di tempat umum, hal yang mesti dilakukan adalah menjaga emosi. Mungkin kita akan merasa malu dilihat oleh banyak orang, tapi bertindak gegabah dan memarahi anak dengan emosi tidak terkendali akan membuat kita lebih malu lagi. Dan tindakan ini justru tidak baik bagi perkembangan emosi anak.

Orang tua yang sering marah dan mengamuk di hadapan anak akan menjadi model tukang ngamuk bagi si anak dalam perkembangan emosinya.