Membaca yang tersirat

SUMBER : http://www.bintangbangsaku.com/kumpulan-paper-dan-makalah/resume-%E2%80%9C-einstein-never-used-flash-cardquot-01/literasi-membaca-yang-t

RESUME “EINSTEIN NEVER USED FLASH CARD”
Bab 5 Literasi : Membaca yang tersirat

Pada saat orang tua membacakan cerita bergambar kepada anak, biarkan anak bertanya tentang apa yang dia dengar dan lihat. Orang tua juga dapat mengajukan pertanyaan kepada anak tentang tokoh yang ada pada cerita bergambar. Ajaklah anak berdiskusi untuk mendalami cerita tersebut.

Mendengarkan : Belajar Membaca

Hal yang paling penting dilakukan untuk anak adalah membuat membaca jadi menyenangkan, bukan menjadi sebuah aktifitas semata yang harus dikerjakan. Ketika orangtua mulai memahami perbendaharaan kosa kata (vocabulary) sebagai pokok dasar yang yang penting untuk belajar membaca, bercerita, kepekaan fonologis, dan memaknai apa yang tertulis. Maka akan terlihat bagaimana anak-anak secara bertahap menemukan sendiri aspek pentingnya mengenal huruf saat mereka mencapai titik tertentu dalam proses belajar membaca.

Tonggak ini didalamnya termasuk kemampuan untuk membedakan gambar-gambar dalam buku dan kenyataannya, mengidentifikasi tulisan yang berasal dari rangkaian garis berliku-liku maupun desain gambar, dan belajar bagaimana mengejanya. Membacakan dengan suara yang jelas kepada anak adalah kegiatan “paling penting” untuk mendukung keberhasilan belajar membaca. Menghabiskan waktu untuk berlatih dan praktik membaca sangat baik untuk anak serta mendiskusikan apapun yang ada pada media (buku – gambar) tersebut. Bahwa membaca adalah tentang bagaimanakah memaknai arti dari garis-garis berliku-liku pada halaman kertas. Kegiatan literasi harus dilakukan dalam suasana yang menggembirakan dan menyenangkan sehingga anak-anak merasakan bahwa “buku adalah teman”.

Dibalik proses belajar membaca

Membaca tidak hanya ada dilakukan di sekolah, namun bisa dilakukan semua tempat, pengalaman pertama dalam literasi anak adalah sebagai pembaca. 20 persen anak-anak memiliki permasalahan dalam belajar membaca. Masalah ini cenderung berasal dari lingkungan yang didominasi masalah kemiskinan sebab anak-anak jarang menemukan serta melihat buku. Salah satu alasan yang lain mengapa anak-anak ini memiliki masalah dalam belajar membaca adalah karena orang tua mereka tidak atau sangat jarang membaca.

Dasar-dasar membaca

Sebelum anak mulai belajar membaca, anak-anak membutuhkan empat kemampuan dasar yang harus dikembangkan. Tujuan membaca adalah memaknai tulisan dari sebuah coretan ke maksud dari simbol tersebut, dan hal ini membutuhkan petunjuk-petunjuk yang jelas. Didalamnya termasuk perbendaharaan kata atau kosa kata yang bagus, mampu untuk bercerita, dan memahami tentang bagaimana mengeja tulisan huruf perhuruf menjadi suku kata kemudian menjadi sebuah kata (kepekaan fonologis). Hingga untuk belajar membaca anak-anak juga perlu mengetahui tentang maksud simbol atau kode yang dituliskan, sebagaimana huruf-huruf yang membentuk kata, untuk kemudian menjadi sebuah kalimat, dan memahami bagaimana buku bisa bercerita melalui rangkaian kata dan kalimat yang ada di dalamnya.

Kosakata (perbendaharaan kata)

Anak yang sudah mulai sering membaca akan memiliki aneka ragam kosa kata dan pada umumnya lebih banyak. Kosakata adalah prediktor utama untuk membaca dan kemampuan literasi. Cara terbaik untuk membangun dan memperkaya perbendaharaan kata adalah dengan bicara, bicara dan terus bicara.

Mendongeng (membacakan cerita)

Keterampilan bahasa kedua yang penting setelah membaca adalah bercerita. Bahwa ternyata bercerita adalah salah satu jembatan yang memperluas kemampuan anak-anak dari lisan ke tulisan. Kemampuan untuk menceritakan kisah secara langsung berkaitan dengan kemampuan untuk mempelajari cara membaca. Nama keren untuk hal ini adalah “decontextualized” bahasa.

Kesadaran fonologi, atau mengeja huruf menjadi kata

‘Kata’ terdiri dari suara, suara lebih rinci dari suku kata, disebut fonem. Ketika seorang anak belajar untuk bicara, ia harus menggabungkan suara terpisah, atau fonem, yang membentuk kata-kata untuk mereka ucapkan. Tapi dia tidak sadar apa yang dia lakukan ketika dia mengatakan kata. Membaca mengharuskan anak menjadi sadar akan fakta bahwa kata-kata yang tertulis terdiri dari potongan-potongan bunyi (fonem). Ini tingkat kesadaran yang lebih dalam, detil dan rinci dalam kesadaran fonologis bahasa.

Anak-anak itu jauh lebih baik dalam hal suku kata dari pada tugas fonem, hal ini menunjukkan dua point. Pertama, bahwa anak-anak prasekolah bisa memainkan permainan – ketika unit analisis (suku kata) yang cukup besar dan gampang bagi mereka untuk diolah. Kedua, menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah belum sensitif terhadap suara individu (fonem) yang membentuk kata-kata.

Singkatnya, membaca dibangun berdasarkan bahasa. Bangunan pondasi bahasa yang kuat untuk kosa kata, bercerita, dan kesadaran fonologis merupakan pusat munculnya kemampuan literasi atau keaksaraan. Membaca bukan hanya tentang bahasa, namun juga tentang pengetahuan tentang mencetak atau mengubah dari suara ke tulisan dan sebaliknya.

Membaca dan memahamkan tulisan

Apa yang diperlukan untuk belajar membaca huruf atau tulisan yang pada awalnya terdiri dari gabungan gambar garis dan garis yang berlekuk-lekuk hingga bisa dimaknai menjadi sebuah simbol? Pertama, perlu untuk bisa mengatakan dan menandai huruf-huruf secara terpisah. Kedua, belajar atau mendengarkan bunyi dari setiap huruf atau kelompok huruf yang ditulis. Ketiga, anda perlu tahu juga bagaimana konsep untuk dapat mengajari cara menggabungkan huruf dan suaranya dalam kata-kata, juga untuk perpaduan suaranya.

Sebelum mengenali huruf atau karakter, perlu diketahui lebih dulu dari arah mana mulai membaca tulisan pada jika berbahasa asing. Pada bahasa Inggris, membaca dimulai dari kiri ke kanan. Ada juga yang dari atas ke bawah seperti bahasa Cina, atau dari kanan ke kiri seperti bahasa Yahudi.

Perjalanan dan proses belajar membaca

Kapankah bayi dapat mengerti tentang gambar/coretan yang ada pada buku?

Pada anak usia 19 bulan sudah bisa melihat gambar namun masih diperlukan waktu beberapa tahun lagi untuk bisa mengerti maksud dari gambar yang ada.

Mengenai sebuah kata, bagaimanapun harus mengingat dan mengetahui dulu tentang huruf

Hanya karena mampu mengeja dan membaca kata dari flash card tidak berarti anak dapat membaca, bahkan mampu untuk mengenal nama-nama merek umum tidak menjamin anak bisa membaca. Bahkan belum bisa menjamin bahwa anak-anak dapat membedakan dan menulis (huruf dan kata) dari desain, gambar, atau simbol.

Dua hal penting tentang keaksaraan. Pertama, anak-anak belajar banyak hal tentang cara kerja menulis. Hal kedua yang kita pelajari adalah bagaimana tentang kritisnya lingkungan.

Apakah mempelajari nama-nama huruf penting untuk belajar mebaca?

Bahwa mengajar huruf-huruf otomatis juga mengenalkan nama huruf tersebut, dengan itu maka semua bahasa adalah indah dan kegiatan keaksaraan informal akan berdampak pada kemampuan membaca. Pengajaran nama-nama huruf sangat memiliki konteks dengan kegiatan keaksaraan, bukan menjadi sebuah tujuan namun hal itu inheren didalamnya.

Berilah contoh untuk membaca secara kontinyu untuk memancing dan memberikan motivasi pada anak tentang huruf dan kata, pada saatnya orang tua akan terkejut dengan apa yang didapatkan dan diketahui oleh anak-anak.

Apakah menulis pada potongan kertas adalah sebuah cara yang nyaman?

Menumbuhkan kemampuan literasi sekaligus didalamnya adalah kemampuan membaca dan juga menulis. Salah satu indikasi keberhasilan kegiatan loterasi adalah anak mulai sukan mencorat-coret pada lembaran kertas. Anak-anak akan belajar seberapakah tekanan-tekanan yang diperlukan untuk membuat coretan atau tulisan, bagaimana cara memegang dengan jari di tangannya, dan lebih lagi adalah bagaimana caranya untuk membuat garis-garis lurus maupun yang melengkung.

Menulis huruf dan menjadi kata adalah indikator kemajuan yang riil!

Peran orangtua dalam membangun literasi

Profesor Monique Sénéchal dan Jo-Anne Lefevre menunjukkan bahwa pengalaman berlatih literasi dirumah bersama anak-anak di rumah memberingan sumbangan mendasar yang penting baik ketika mereka berada di taman kanak-kanak bahkan hingga di kelas tiga. Memang, mengajak anak belajar membaca sebelum anak masuk sekolah adalah prestasi yang luar biasa dan mencerahkan, dan akan memberikan banyak bekal kemampuan yang diperlukan bagi anak untuk dipakai ketika secara formal mulai mendapatkan instruksi membaca di dalam kelas.

Iklan