Persalinan Normal dengan Induksi

sumber :http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman|0|0|8|1362

sumber : majalah Mother And Baby
Tak kunjung mulas dan melahirkan, operasi caesar mungkin bisa menjadi jawabannya. Tetapi tidak sedikit diantara ibu hamil yang ingin tetap dapat melahirkan secara normal, maka induksi merupakan jalan keluarnya. Induksi juga dilakukan untuk menghindari komplikasi yang lebih berbahaya, seperti gawat janin atau agar bayi yang lahir terlalu besar.

Mendengar kata induksi, pasti yang terbayang pada ibu hamil adalah ketakutan akan rasa sakit yang berkepanjangan. Benarkah induksi bisa sesakit itu? Apa sebenarnya induksi itu? Mengapa harus dilakukan?

Induksi adalah

Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan (dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada). Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.

Kondisi harus dilakukan induksi:

1. Ibu hamil tidak merasakan adanya kontraksi atau his. Padahal kehamilannya sudah memasuki tanggal perkiraan lahir bahkan lebih (sembilan bulan lewat).
2. Induksi juga dapat dilakukan dengan alasan kesehatan ibu, misalnya si ibu menderita tekanan darah tinggi, terkena infeksi serius, atau mengidap diabetes
3.  Ukuran janin terlalu kecil, bila dibiarkan terlalu lama dalam kandungan diduga akan beresiko/membahayakan hidup janin.
4. Membran ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda awal persalinan.
5. Plasenta keluar lebih dahulu sebelum bayi.

Risiko

Namun cara ini bukan berarti tanpa risiko. Risiko yang mungkin terjadi, diantaranya adalah:

1. Adanya kontraksi rahim yang berlebihan. Itu sebabnya induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang menangani. Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan, biasanya dokter akan menghentikan proses induksi kemudian akan dilakukan operasi caesar.
2. Janin akan merasa tidak nyaman sehingga dapat membuat bayi mengalami gawat janin (stress pada bayi). Itu sebabnya selama proses induksi berlangsung, dokter akan memantau gerak jani melalui cardiotopografi. Bila dianggap terlalu beresiko menimbulkan gawat janin, proses induksi akan dihentikan.
3. Dapat merobek bekas jahitan operasi caesar. Hal ini bisa terjadi pada yang sebelumnya pernah dioperasi caesar, lalu menginginkan kelahiran normal.
4. Emboli. Meski kemungkinannya sangat kecil sekali namun tetap harus diwaspadai. Emboli terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu, atau paru-paru. Bila terjadi, dapat merenggut nyawa ibu seketika.

Proses induksi

Ada dua cara yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk memulai proses induksi, yaitu kimia dan mekanik. Namun pada dasarnya, kedua cara ini dilakukan untuk mengeluarkan zat prostaglande (prostaglandin) yang fungsinya sebagai zat penyebab otot rahim berkontraksi.

Secara kimia, si ibu akan diberikan obat-obatan khusus. Ada yang diberikan dengan cara diminum, dimasukan ke dalam vagina, diinfuskan, atau pun disemprotkan pada hidung. Biasanya, tak lama setelah salah satu cara kimia itu dilakukan, ibu hamil akan merasakan datangnya kontraksi.

Secara mekanik, biasanya dilakukan dengan sejumlah cara, seperti menggunakan metode stripping, vibrator, kateter, serta memecahkan ketuban.

Sakitkah?

Kontraksi akibat induksi mungkin terasa lebih sakit karena mulainya sangat mendadak. Itu sebabnya persalinan karena induksi cenderung memerlukan obat penawar rasa sakit.

Sumber: conectique.com

Tas untuk ke Rumah Sakit

sumber : http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman|0|0|8|1365

sumber : majalah mother and baby

Persiapan persalinan menyangkut beberapa aspek seperti persiapan tempat melahirkan, kebersihan diri dari aktivitas yang dapat dilakukan menjelang persalinan, mengelola rasa panik dan takut, memperkirakan waktu persalinan untuk mengatur jadwal bepergian jauh. Dan tentunya peralatan yang harus dibawa untuk persalinan.

Sebelum bersalin:

# Untuk kenyamanan, ibu dapat membawa alas tahan air (water proof) selama di mobil dalam perjalanan ke rumah sakit.

# Minyak untuk memijit dan mengurangi rasa sakit.

# Alat-alat mandi seperti sabun, tutup kepala, handuk, dll. Lip balm, sikat gigi dan odol, sisir, ikat rambut juga perlu dibawa karena ibu tetap ingin tampil cantik.

# Radio, CD atau musik yang menenangkan, bila ibu membutuhkannya, tapi biasanya beberapa rumah sakit telah menyediakannya.

# Baju ganti yang nyaman dan mudah menyerap keringat.

# Bahkan Anda dapat membawa bantal dari rumah bila itu yang diinginkan, tapi hal ini tidak begitu penting.

Setelah persalinan:

# Baju atau gaun berkancing depan agar dapat menyusui.

# Kosmetik, bra yang sesuai.

# Makanan ringan yang ibu sukai dan bergizi tinggi.

# Baju untuk pulang, perlu diingat badan ibu akan terlihat seperti hamil 5-6 bulan, jadi siapkan baju yang sesuai.

# Bawalah baju tidur dengan jumlah cukup. Untuk persalinan normal biasanya 2 hari dan persalinan operasi caesar dibutuhkan 4-5 hari menginap di rumah sakit.

# Sandal juga dapat Anda bawa agar dapat berjalan sepanjang koridor rumah sakit dan juga menjaga kaki tetap hangat. Atau dapat Anda gunakan untuk ke kamar mandi.

# Pembalut wanita khusus untuk ibu bersalin.

# Gurita atau korset untuk ibu baru bersalin juga jangan sampai ketinggalan.

# Kosmetik seperti bedak, sisir, lipstick, pengharum tubuh/deodoran juga perlu Anda bawa. Ini berguna bagi Anda karena akan bertemu dengan teman atau keluarga yang mengunjungi Anda setelah proses kelahiran.

# Handuk dan sabun juga perlu Anda bawa bila lebih ingin menggunakan milik sendiri, walaupun beberapa rumah sakit menyediakannya.

Biasanya keperluan bayi akan disediakan oleh rumah sakit. Anda cukup menyediakan persiapan untuk pulang dari rumah sakit. Walaupun demikian Anda tetap harus mempersiapkannya. Ibu dapat menyiapkan kain flannel beberapa buah (3 – 4 buah), pakaian bayi minimal 2 pasang dan 2 ukuran karena bayi terkadang gumo (memuntahkan sedikit susu, popok kain atau popok sekali pakai, sarung tangan, sarung kaki dan tangan, topi (penutup kepala), bedak, minyak angin, dan selimut atau bedong untuk membungkus bayi selama di perjalanan pulang. Bila perlu, bawalah 1 buah botol dot kecil 12v0 CC (persiapan di jalan bila ASI belum siap).

Bila Anda termasuk orang yang senang mengabadikan hal-hal penting dalam hidup Anda, jangan lupa membawa kamera atau handycam untuk mengabadikan kelahiran si kecil.

Dalam tas tersebut siapkan juga keperluan ayah bayi seperlunya saja, karena biasanya suami juga ikut menginap di rumah sakit. Untuk ayah, siapkan 1 piyama dan kaos lengan panjang untuk hari itu saja. Hari berikutnya ayah dapat pulang untuk mengambil pakaian gantinya sekalian membawa pakaian kotor milik ibu.

Sebaiknya setelah kehamilan mencapai usia sekitar 7 bulan atau akhir kehamilan 28 minggu persiapkan barang-barang di atas dan masukkan dalam satu tas khusus. Anda juga perlu mengingatkan dan memberitahukan suami tentang tas yang telah anda persiapkan ini. Sehingga bila harinya tiba semuanya telah siap. Jangan lupa letakkan tas di tempat yang mudah dijangkau dan diingat.
(Dini Safitri)

Sumber: Majalah Inspire Kids

Posisi Melahirkan

sumber :http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|430

Mother And Baby Fri, 28 Feb 2003 09:52:00 WIB

Kebanyakan wanita melahirkan dengan cara berbaring terlentang di tempat tidur. Meski begitu ada wanita tertentu yang mencoba posisi berbeda untuk menemukan pengurangan nyeri dan untuk membuat melahirkan bayi mereka lebih mudah. Berikut hasil wawancara dengan Dr Dedy Arman dari RS Hermina Bekasi.

Dulu wanita sering menjalani fase persalinan dan melahirkan dengan posisi tegak yang membuat serviks tetap vertikal, seperti berlutut, berjongkok, duduk, atau berdiri tegak. Melahirkan dengan posisi ini memungkinkan dinding perut (abdomen) relaks dan bayi turun ke dalam jalan lahir lebih cepat. Karena kontraksi terjadi lebih kuat dan lebih teratur, maka persalinan yang dialami lebih singkat.

Sekarang ini banyak wanita meminta untuk memilih posisi melahirkan yang lebih memberikan kenyamanan. Kebebasan memilih posisi melahirkan dapat membuat ibu lebih percaya diri mengatasi persalinan dan melahirkan. Wanita yang memilih sendiri posisi melahirkannya dapat merasa lebih puas dengan pengalaman melahirkannya.

Jika hal ini penting bagi Anda, bahas masalah ini dokter yang bakal menangani persalinan. Tanyakan tentang fasilitas yang tersedia di RS tempat Anda bersalin, apakah memiliki peralatan khusus seperti kursi untuk melahirkan, balok berjongkok, atau tempat tidur, untuk membantu Anda merasa lebih nyaman.

Posisi yang dapat Anda pertimbangkan untuk posisi melahirkan diuraikan di bawah ini:

1. Berjalan dan Berdiri

Merupakan posisi yang baik untuk digunakan selama persalinan dini. Berjalan dapat membantu Anda bernafas lebih mudah. Berdiri di bawah shower hangat dapat menjadi pereda sakit. Ketika berjalan pastikan ada orang lain bersama Anda untuk memberi dukungan baik fisik maupun emosional.

2. Duduk

Dapat menurunkan kekuatan dan frekuensi kontraksi dan dapat memperlambat persalinan. Duduk setelah berjalan atau berdiri dapat dibenarkan, namun duduk dapat menjadi tak nyaman selama terjadinya kontraksi.

3. Berlutut dengan disangga tangan dan lutut Anda

Merupakan cara terbaik menghilangkan nyeri bokong. Cara lainnya adalah berlutut dengan sangaan kursi atau pasangan Anda, meregangkan otot-otot bokong. Efek yang ditimbulkan sama dengan berjalan dan berdiri.

4. Berbaring miring

Posisi ini khususnya digunakan jika Anda mendapat kan obat penghilang nyeri, dimana Anda harus berbaring di tempat tidur. Berbaringlah miring ke kiri, kemudian ke sisi kanan.

5. Posisi berbaring telentang

Meski posisis ini paling umum digunakan untuk melahirkan, tetapi dapat menurunkan kekuatan dan frekuensi kontraksi, yang dapat memperlambat proses persalinan. Posisi ini juga dapat membuat tekanan darah turun dan menyebabkan denyut jantung bayi turun. Jika Anda berbaring telentang, tinggikan tempat kepala tidur dan letakan bantal di bawah satu paha sehingga Anda tidak berbaring rata. (BOD/Your Pregnancy)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Persalinan Darurat di Rumah

sumber :http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|432

Untungnya persalinan darurat di tempat-tempat unik hanya terjadi di film atau TV. Tetapi hanya untuk berjaga-jaga bila kebetulan Anda adalah salah satu dari wanita seperti itu, mungkin bijaksana bila Anda dan pasangan mengenal dasar-dasar persalinan darurat di rumah, di perjalanan atau di kantor. Kuncinya tetap tenang, ingat meski Anda tidak tahu apa-apa tentang melahirkan bayi, secara alami tubuh seorang ibu dan anaknya dapat melakukan tugasnya sendiri. Berikut hasil wawancara dengan Dr Deddy Arman Saidi, Sp OG dari RS Hermina, Bekasi.

Persalinan Darurat di Rumah atau di Kantor
1.Hubungi pusat pertolongan darurat terdekat. Minta mereka menghubungi dokter Ibu.
2.Ibu harus mulai menarik nafas pendek dan cepat untuk menghindarinya dari mengejan
3.Selama persiapan dan persalinan, tenangkan dan yakinkan ibu.
4.Bila ada waktu, cuci daerah vagina dan tangan Anda dengan sabun dan air.
5.Bila tidak waktu memindahkan ibu ke tempat tidur, letakkan koran, handuk bersih, atau pakaian yang dilipat di bawah pantatnya untuk meninggikan agar ada ruang untuk bahu bayi.
6.Bila ada waktu tempatkan ibu di meja atau tempat tidur, sedemikian rupa agar pantatnya agak menggantung, tangan berada di bawah paha untuk menjaga paha tetap terangkat. Bila ada letakkan dua kursi untuk mendukung kakinya.
7.Lindungi permukaan persalinan, bila mungkin dengan taplak plastik, gorden plastik dari kamar mandi, koran , handuk, dsb. Sebuah baskom atau panci dapat diletakkan untuk menadahi cairan ketuban dan darah.
8.Ketika puncak kepala bayi mulai muncul, perintahkan ibu menarik nafas cepat dan pendek atau meniup (tidak mendorong), dan berikan tekana lawan dengan hati-hati pada kepala agar ia tidak keluar dengan tiba-tiba. Biarkan kepala muncul secara bertahap – jangan pernah menariknya keluar!. Bila terdapat lingkaran tali umbilikal melilit leher, kaitkan jari padanya dan dengan hati-hati angkat melalui kepala bayi.
9.Bila kepala telah keluar, dengan hati-hati urut bagian sisi hidung ke arah bawah, leher, dan bagian bawah dagu ke arah, atas untuk membantu mengeluarkan lendir dan cairan ketuban dari hidung dan mulut.
10.Selanjutnya pegang kepala dengan dua tangan dan tekan sedikit ke arah bawah (jangan menarik), pada saat bersamaan mintalah ibu mendorong (mengejan) untuk mengeluarkan pundak bagian depan. Ketika lengan bagian atas muncul, angkat kepala dengan hati-hati, perhatikan pundak bagian belakang muncul. Sekali pundak telah keluar, maka bagian lain dari bayi akan keluar dengan mudah.
11.Segera bungkus bayi dengan selimut, handuk, atau apa saja yang cukup bersih. Letakkan bayi pada perut ibunya, atau bila tali pusatnya cukup panjang (tapi jangan menariknya), bisa pada dada ibunya.
12.Jangan mencoba menarik plasenta keluar. Tapi bila ia keluar dengan sendirinya sebelum ambulans tiba, bungkuslah dengan handuk atau koran dan bila mungkin tempatkan di tempat yang lebih tinggi dari letak bayi. Tidak perlu mencoba memotong tali pusat.
13.Usahakan agar ibu dan bayi tetap nyaman dan hangat sampai bantuan tiba.

Persalinan Darurat di Perjalanan
1.Bila Anda berada di mobil Anda sendiri, berhentilah. Carilah bantuan lewat alat komunikasi. Bila tidak nayalakan lampu peringatan bahay atau atau lampu tanda belok. Bila seseorang berhenti untuk memberi pertolongan, minta padanya menelepon atau menghubungi RS atau pertolongan darurat terdekat. Bila Anda berada di taksi, minta supir taksi meminta bantuan lewat radionya.
2.Bila mungkin bantulah ibu tersebut pindah ke tempat duduk belakang. Letakkan mantel, jaket atau selimut di bawahnya. Lanjutkan pertolongan seperti tulisan di atas.
3.Segera setelah persalinan selesai, lanjutkan perjalanan ke RS.

Persalinan Darurat Seorang Diri
1.Tetap tenang. Hubungi pusat pertolongan darurat terdekat, minta mereka menghubungi dokter Anda.
2.Temui tetangga atau orang lain untuk minta tolong, bila mungkin.
3.Mulai menarik nafas pendek dan cepat agar tidak menekan/mengejan.
4.Kalau bisa, cuci tangan dan daerah vagina.
5.Letakkan beberapa handuk bersih, koran, atau kain lebar pada tempat tidur, sofa, atau lantai, dan berbaringlah sambil menunggu pertolongan.
6.Bila meski Anda sudah menarik nafas cepat dan pendek bayi tetap akan lahir sebelum pertolongan tiba, dengan perlahan mulailah mengejan setiap kali Anda merasakan dorongannya. Dan bila ia keluar, tangkaplah dengan tangan Anda.
7.Lanjutkan dengan langkah nomor 9 sampai 13 tulisan di atas.(BOD)

Sumber: Tabloid Ibu Anak