Saya akan isi blog ini lagi

setelah sekian lama blog ini lumutan. saya akan coba update dengan ilmu-ilmu kesehatan anak terbaru karena apa? karena saya hamil lagi hehehehe. dan jika saya punya waktu saya akan coba mengolah tulisan yg saya peroleh dulu baru saya akan tampilkan di blog ini .. jadi ga copas banget kayak dulu lagi. maklum dulu itu bener2 tertimbun pekerjaan dan butuh untuk wadah menampung artikel yang saya temukan untuk membantu saya mengasuh anak saya…

terimakasih,
luchan

Iklan

Fenomena Training Otak Tengah

sumber : http://m.kompasiana.com/?act=r
&id=269146

Oleh: Daeng Mursyid

Bukan mau menyalahkan pihak tertentu, tetapi tulisan ini bisa jadi membantu anda
menjawab beberapa teman yang bertanya ke saya mengenai otak tengah. Saya sendiri
belum bisa menemukan hubungan antara melatih anak mengenal benda, huruf, warna
dll dengan mata tertutup dengan kemampuan akademik misal-nya anak akan cepat
bisa mengerti logic suatu soal (Otak kiri), atau kemampuan anak melakukan
analisa/konsep terhadap suatu masalah (Otak kanan). Jadi Mungkin teman-teman
yang ditawari ikut training Otak tengah bisa membaca tulisan ini.

Mungkin ini ada tulisan dari Dr. Sarlito, Guru Besar Psikologi UI.

Otak Tengah

Saturday, 18 September 2010

DI suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang Lebaran,
tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusustentang psikologi maaf.

Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan
dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)
yang sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah
(midbrain).Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan
alternatif yang menarik di tengahtengah banjirnya (lebih parah dari
banjir Pakistan) artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari
seputar Lebaran ini. Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang
berfungsi sebagai relay station untuk penglihatan dan pendengaran.

Dia juga mengendalikan gerak bola mata.Bagian berpigmen gelapnya yang
disebut red nucleus (inti merah) dan substantia nigra juga mengatur
gerak motorik
anggota tubuh.Karena itu kelainan atau gangguan di otak tengah bisa
menyebabkan parkinson. Untuk keterangan lebih lanjut silakan
berkonsultasi dengan dokter Google.Namun,yang jelas,otak tengah tidak
mengurusi inteligensi, emosi, apalagi aspek-aspek kepribadian lain
seperti sikap, motivasi, dan minat.Para pakar ilmu syaraf
(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California dan Irvine
serta Rex Jung dari Universitas New Mexico,Amerika Serikat, menemukan
bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam ukuran
IQ tidak terpusat pada satu bagian tertentu dari otak, melainkan
merupakan hasil interaksi antarbeberapa bagian dari otak.Makin bagus
kinerja antarbagian- bagian otak itu,makin tinggi tingkat kecerdasan
seseorang (teori parieto-frontal integration).

Di sisi lain,pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang
dinamakan amygdala,tak ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu
aspek kepribadian lain seperti minat dan
motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis) dari jiwa,
yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang dicari
pusatnya di otak. Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini)
masih banyak yang percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat
tergantung pada IQ-nya.Makin tinggi IQ seseorang akan makin besar
kemungkinannya untuk berhasil.

Itulah sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas
120 untuk bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak
Howard Gardner menemukan teori tentang multiple intelligence (1983)
dan Daniel Goleman memublikasikan temuannya tentang Emotional
Intelligence (1995),maka para pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ
pada keberhasilan seseorang hanya sekitar 20–30% saja. Selebihnya
tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha,
ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun
begitu,beberapa bulan terakhir ini,marak sekali kampanye tentang
pelatihan otak tengah.

Bahkan rekan saya psikologpsikolog muda ada yang bersemangat sekali
mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka ke
pelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau
dua anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus. Hasilnya
adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna dengan
mata tertutup.Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka pikir
setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka
langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan
santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan
sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini.

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk
dua hari kursus,orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak
mereka belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri),
tidak usah membayar guru les lagi
(karena otomatis anak akan mengerti sendiri pelajarannya), dan yang
terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk peringkat. Inilah
yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang sedang berkembang
pesat akhirakhir ini. Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5
juta mungkin tidak ada artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata
dia tidak bisa memenuhi harapan orang tuanya.

Selain bisa menggambar dengan mata tertutup (sebagian hanya berpura-
pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup mata dekat hidung),
ternyata dia tidak bisa apa-apa.Konsentrasi tetap payah,motivasi tetap
rendah, dan emosi tetap meledakledak tak terkendali. Pasalnya memang
tidak ada hubungannya antara otak tengah dengan faktorfaktor
kepribadian itu. Namun,orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah
membayar Rp3,5 juta dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting,
pakar otak tengah dari Malaysia itu. Kata Dr Ting, anak yang sudah
ikut pelatihan otak tengah
bukan hanya jadi makin pintar,tetapi jadi jenius.

Karena itu nama perusahaannya juga Genius Mind Corporation. Malah
bukan itu saja.Menurut Dr Ting,anak yang sudah terlatih otak tengahnya
bisa melihat di balik dinding, bisa melihat apa yang akan terjadi
(seperti almarhumah Mama Laurenz),bahkan bisa mengobati orang sakit.
Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan Youtube-nya di
internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka KDRT pada
anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti atau
dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiri
lantaran tidak bisa melihat di balik tembok,meramal atau mengobati
orang sakit.

*** Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David
Ting di Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David
Ting dan David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan
pakar ilmu syaraf, kedokteran,biologi atau psikologi. Dia disebutkan
sebagai pakar pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf
(neuroscience). Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya
mendapati beberapa versi Youtube yang diulang- ulang saja,beberapa
tulisan kesaksian, dan cerita-cerita yang sulit diverifikasi
kebenarannya. Saya pun lanjut dengan menelusuri jurnal-jurnal ilmiah
online, siapa tahu tulisan-tulisan ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya
belum pernah membacanya.

Namun hasilnya juga nol. Maka saya makin tidak percaya. Saya yakin
bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah pseudo-science
atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa
diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak
kiri yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib
orang dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya,
astrologi dan palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-
siapa karena hanya dilakukan oleh yang memercayainya atau sekadar
iseng-iseng tanpa biaya dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur,
kalau salah yo wis. Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu
pernah juga populer pelatihan otak kanak-otak kiri.

Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah gedung pertemuan (kebetulan
saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah pelatihan diselenggarakan
oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya “Meningkatkan Kecerdasan
Salat”.Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan biaya (istilah mereka
“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke masalah membohongi
publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama dua hari
seorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan bisa
melihat di balik dinding seperti Superman.Lagipula, apa hubungannya
antara menggambar dengan mata tertutup dengan jenius? Einstein,
Colombus, Thomas Edison,Bill Gates, Barack Obama, dan masih banyak
lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa
menggambar
dengan mata tertutup.

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya
sedikit,setiap orang bisa tahu bahwa ini adalah penipuan. Namun orang
Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serbainstan. Termasuk kaum
terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali jadi sasaran
penipuan. Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknya
kasus otak tengah ini.(*)

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI

IGAUAN DALAM TIDUR PELAMPIASAN PERASAAN TERPENDAM

sumber: http://www.tabloid-nakita.com

Asalkan si kecil tak sering mengigau saat tidur, orang tua tak perlu cemas.
Justru itu bisa jadi alat pemuasan dari perasaannya yang terpendam.

Menjumpai anak batita mengigau mungkin tak asing lagi. Kadang bukan hanya
bicara sambil tidur, tapi juga tertawa cekikikan, bahkan sampai jeritan
histeris. Kita pun jadi bingung, mimpi apa gerangan si kecil? Yang jelas,
menurut Sherly Saragih Turnip, Psi., anak mengigau dalam tidur bukan tak ada
alasannya. Sebab, tidur sendiri sebenarnya suatu proses yang tak sesederhana
seperti yang kita bayangkan selama ini. Seperti kita ketahui, tidur adalah
saat di mana seseorang, entah orang dewasa ataupun anak kecil, istirahat.
Nah, dalam tidur sendiri ternyata ada tahapan-tahapannya.Untuk dapat tidur
nyenyak, maka ia harus dapat memasuki tahapan ke-4.

Nah, jika ia mengigau, berarti ia belum masuk dalam tahapan tidur nyenyak,
tapi masih di tahap 1 atau 2. Dalam tahapan ini simpul-simpul otak sedang
sibuk menguraikan dan membereskan satu per satu simpul-simpul semua kejadian
yang dialaminya selama seharian. “Jika semua simpul telah dibereskan atau
diluruskan, berarti ia masuk tahapan ke-3 dan di sini ada kemungkinan ia
akan bermimpi. Barulah pada tahap ke-4, anak benar-benar telah masuk tahapan
tidur nyenyak, tanpa mimpi. Kalau kita bisa tidur dalam tahapan ke-4 ini
atau sangat nyenyak, biasanya saat bangun kita akan merasa segar. Begitu
juga pada anak batita, ia pasti akan ceria,” papar psikolog dari Klinik
Anakku Bekasi ini.

Menurut Freud, lanjutnya, bila simpul-simpul di otak tak bisa atau susah
untuk dibereskan atau diluruskan, akan muncul saat tidur dalam bentuk
igauan. Itu sebab, igauan anak dalam tidur merupakan ungkapan jujur dari
diri anak. Misal, jika siangnya ia dipaksa melakukan sesuatu oleh sang
kakak, tapi ia sendiri pada dasarnya tak mau, maka saat tidur, igauan yang
keluar adalah luapan keinginannya, yaitu tak mau menuruti apa yang diminta
kakaknya.

TIAP ANAK BERBEDA
Seperti kita ketahui, mengigau sebenarnya bukan monopoli anak batita, orang
dewasa pun sering mengalaminya. Namun demikian igauan anak batita dan orang
dewasa tetaplah berbeda. Igauan orang dewasa tentunya sudah berupa rentetan
kata-kata atau kalimat yang jelas dan mudah dimengerti. Sementara karena
kemampuan bicara anak batita masih terbatas, maka igauannya pun bisa saja
berupa kata-kata tak bermakna. “Yang namanya mengigau, kan, bukan berbicara
saat tidur saja. Mengeluarkan suara tanpa makna sambil tidurnya gelisah dan
bergerak-gerak pun sudah termasuk dalam kategori mengigau,” terang alumni
Fak. Psikologi UI ini.

Selain itu, igauan orang dewasa mengindikasikan suatu keinginan, baik yang
sudah kesampaian ataupun belum. Sementara untuk batita, karena pengalaman
hidupnya masih sedikit, maka kemampuannya juga belum sampai ke situ.
Alhasil, igauannya masih murni representasi pengalamannya hari itu.
“Walaupun untuk anak-anak juga ada perbedaan lagi. Di usia setahun, biasanya
igauannya berupa hasil representasi hari itu yang bersifat fisik.
Jadi, karena dia kecapekan setelah aktif bermain. Nah, sewaktu tidur, karena
kondisi fisiknya lemah dan kecapekan, maka simpul-simpul otaknya sulit untuk
dibereskan. Akibatnya, simpul-simpul pengalaman hari itu keluar dalam bentuk
igauan.”

Sedangkan pada usia 2-3 tahun, penyebab igauannya bukan karena kelelahan
semata, melainkan juga bisa dikarenakan pengalaman yang lebih berkesan. Di
usia ini kemampuan kognitifnya telah lebih berkembang, hingga bila siangnya
habis dimarahiorang tua atau dipukul kakaknya, atau ada kebutuhan yang tak
terpenuhi, maka pengalaman ini akan terekspresikan lewat igauannya.

Nah, karena kejadian-kejadian yang dialami anak berbeda-beda, maka igauan
anak pun tak bisa seragam. Itulah mengapa, tak hanya berupa bicara yang kita
temui sebagai igauan anak, kadang bisa berupa tertawa-tawa atau menangis
sedih dan berteriak.

“Mungkin saja siangnya anak tak menangis karena ditahan gara-gara malu atau
takut. Nah, dalam igauan, yang keluar adalah kesedihan yang dipendamnya.
Ingat, kan, kalau igauan selalu berupa ekspresi yang jujur dari diri anak?”
Bahkan bisa jadi apa yang keluar dalam igauan pun bisa sangat sedih. “Karena
dalam tidur, ia bisa melepaskan semua yang ditahannya. Jangankan anak
batita, kita sendiri yang sudah dewasa jika teringat kejadian lalu yang
menyedihkan tentunya akan merasa lebih sedih dibandingkan pada saat
kejadiannya.”

Namun demikian, hal ini sebenarnya ada sisi positifnya. Dengan mengungkapnya
dalam igauan, berarti ada proses pemuasan terhadap kejadian yang tak
mengenakkan baginya. “Ia bisa melepaskan apa yang menjadi beban atau
ganjalan dalam dirinya. Hingga ia pun bisa merasa plong karena simpul-simpul
di otaknya sudah bisa dibereskan. Ia pun bisa bangun dengan lebih fresh.”

Sebaliknya, bila dalam pemberesan simpul-simpul di otaknya itu tak
terpuaskan, misal, tak menangis walau ia sedih, justru bisa menimbulkan
trauma pada dirinya. “Sebab, kesedihan yang ditahan-tahannya akan jadi beban
dalam dirinya. Dengan demikian, ia perlu terapi lagi untuk mengatasi
traumanya.”

Jadi, tak perlu cemas, ya, Bu-Pak, kalau anak mengigau sambil menangis. Pun
demikian bila ia mengigau berupa senyuman atau tertawa gembira.

TAK BOLEH TERUS-MENERUS
Walaupun igauan wajar adanya, tapi jangan dibiarkan begitu saja kalau
terjadi terus-menerus. “Jika tiap hari ia mengigau, maka orang tua harus
segera mengevaluasi aktivitas sehari-hari si anak. Adakah kebutuhan anak
yang tak terpenuhi atau adakah kejadian tertentu yang membuat trauma anak.
Hal lain, bagaimana kondisi fisik si anak itu sendiri, apakah dalam kondisi
fit ataukah memang dia anak yang termasuk cepat lelah?”

Jika memang ia kelelahan bermain karena kondisi fisiknya kurang fit, cobalah
untuk mengurangi intensitas dan waktu bermainnya, hingga kala berangkat
tidur ia tak dalam keadaan kecapekan. Akan tetapi kalau permasalahannya
terletak pada kebutuhan-kebutuhan anak yang belum terpenuhi, menurut Sherly,
orang tua harus mencoba memenuhi apa yang jadi kebutuhan anak. “Inilah yang
gampang-gampang susah.” Misal, dalam igauannya, si anak melarang ibunya
pergi ke kantor. Si ibu pun jadi bingung, mau kerja salah, enggak kerja juga
salah.Padahal, sebenarnya si ibu bisa saja menggali keterangan dari si anak,
kenapa ia sampai tak rela kalau ibunya pergi. Tentunya dengan bahasa yang
mudah dimengerti anak. “Adek, kenapa Mama tak boleh kerja?” Namun ingat,
nada bicaranya jangan mengancam agar anak tak takut mengungkapkan apa yang
ada di hatinya.

“Jangan lupa pula memberi penjelasan pada anak, kenapa ibu harus berangkat
kerja setiap hari. Yakinkan diri anak bahwa sekalipun setiap hari berangkat
kerja, bukan berarti ibu tak sayang lagi padanya. Lagi pula, setiap hari
libur, toh, anak bisa sepuasnya kumpul bersama sang ibu.” Nah, kalau
pemecahan masalah itu tercapai, otomatis tak ada lagi kebutuhan anak yang
mesti dipendam hingga terbawa sampai tidur, kan?

Kalau setelah kita cari solusinya tapi anak tetap saja terus-menerus
mengigau, saran Sherly, ada baiknya anak dibawa ke dokter ahli saraf atau
psikolog. Siapa tahu anak mengalami gangguan biologis atau masalah psikis.
Sebab, kalau tak dicari solusinya, mungkin saja akan timbul
implikasi-implikasi psikologis nantinya. Misal, anak jadi penakut, tak
berani mengungkapkan pendapat, takbisa mengekspresikan diri, malah ia pun
bisa tumbuh jadi anak yang selalu dihantui ketakutan, tapi tak jelas apa
yang ditakutkannya.

Selain itu,dengan ada igauan, berarti tidurnya kurang nyenyak dan itu sama
dengan anak kurang mendapat istirahat. “Nah, bagaimana anak bisa tumbuh
optimal dan keesokan paginya akan bersikap ceria kalau tidurnya tak nyenyak?
Bukankah tidur merupakan proses menyiapkan diri untuk menghadapi hari baru?”
Kalau anak kurang istirahat, biasanya anak pun jadi sensitif, cepat marah,
dan tak bergairah karena mengantuk. Oleh karena itu, terang Sherly,
sebaiknya usahakan anak agar jangan mengigau terlalu sering.

BANGUNKAN ANAK
Selain itu, kalau kita melihat tangisan dalam igauan anak terkesan sedih
sekali, bahkan sampai terisak-isak, atau jika marah hingga berteriak
histeris, jangan dibiarkan begitu saja. Segera bangunkan si anak. “Tenangkan
si anak dengancara dipeluk, hingga memberikan rasa aman dan tak membuatnya
ketakutan lagi.”

Namun, anak jangan dulu buru-buru ditanyai atau diinterogasi mengenai
penyebab igauannya.Sebab, kata Sherly, anak bisa kebingungan dan tambah
takut. “Anak yang bangun dari tidurnya gara-gara menjerit atau kecapekan
setelah menangis, tentunya akan tambah takut kalau kita berondong
pertanyaan. Sebab, seringkali anak tak ingat akan apa yang diigaukannya.”

Itulah sebabnya pula, tak guna juga kita bertanya saat ia sedang mengigau
dalam tidurnya. “Ia tak bakalan dengar dan tak memahami ada pertanyaan.
Jadi, kalaupun ada yang bisa nyambung melakukan tanya jawab dengan orang
yang sedang mengigau, itu hanya faktor kebetulan belaka.”

Jika ingin mencari tahu latar belakang igauannya,terang Sherly, ada baiknya
dilakukan esok hari tapi dengan tenang dan jangan mendesak. Ingat, igauan
itu ada yang bisa diingat anak, ada pula yang tak bisa diingatnya.

Salah Kaprah Obat Generik

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/30/10100668/Salah.Kaprah.Obat.Generik.

*JAKARTA, KOMPAS.com -* Wajah Eko (33) tampak muram siang itu. Sorot
matanya yang kosong menatap sebuah poster yang menempel di dinding
apotik sebuah rumah sakit swasta di kawasan Jakarta Selatan.

Eko kebingungan karena harus menebus obat senilai ratusan ribu rupiah
untuk menyembuhkan sakit herpes yang dideritanya. Ayah dua anak itu tak
menyangka kalau harga obat yang harus ditebusnya di apotik bisa semahal
itu.

Usut punya usut, dokter ternyata meresepkan obat paten untuk
penyakitnya. Eko tidak paham kalau ia sebenarnya dapat meminta dokter
atau apoteker untuk mengganti resepnya dengan obat generik tanpa merek
yang harganya relatif jauh lebih terjangkau.

“Saya kira resep dokter tak bisa diutak-atik lagi alias harga mati buat
kesembuhan penyakit saya,” ungkap karyawan swasta di kawasan Palmerah itu.

Jika faktor biaya menjadi pertimbangan utama Eko, tidak demikian halnya
dengan pasien lain bernama Angga (34). Ia mengaku tak keberatan dengan
keputusan dokter meresepkan obat paten demi khasiat “ces pleng” yang
selama ini diyakininya. Kalau pun harus memilih, Angga mengaku tetap
menolak diberikan resep obat generik karena khawatir sakitnya akan lebih
lama.

“Saya agak ragu dengan obat generik karena sembuhnya suka lama. Walau
harus keluar kocek lebih mahal, obat paten memberi saya jaminan cepat
sembuh,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai wartawan ini.

Potret masyarakat tentang penggunaan obat di atas adalah bukti masih
terjadinya distorsi informasi tentang obat generik dan obat paten
(originator) di masyarakat. Akibat mitos yang kadung melekat, masyarakat
kurang yakin dengan obat generik karena harganya yang murah, tak
bergengsi serta diragukan khasiat dan kemanfaatannya. Di lain pihak, tak
sedikit masyarakat yang kesulitan membeli obat karena harganya sangat mahal.

Menurut guru besar Farmakologi Universitas Indonesia, Prof Arini
Setiawati, PhD, distorsi ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila
masyarakat benar-benar memahami benar informasi tentang obat generik dan
obat originator.

Arini menjelaskan, obat generik tak perlu diragukan khasiatnya karena
secara teori memiliki persamaan dengan obat originator dalam hal zat
aktif, dosis, indikasi dan bentuk sediaan.

“Obat generik adalah obat yang meng/copy/ obat originator dan diberi
nama generik. Dengan begitu, obat ini memberikan efikasi dan keamanan
yang sama,” ujarnya pada media forum yang diselenggarakan Sanofi-Aventis
di Jakarta akhir Maret lalu.

Obat generik, lanjut Arini, harganya memang lebih murah ketimbang obat
paten. Tetapi, bukan dikarenakan mutu atau efikasinya rendah. Obat
generik tak memerlukan biaya riset dan pengembangan yang mahal seperti
halnya obat originator atau paten.

“Yang diperlukan hanyalah riset untuk membuat formulasi agar dapat
setara dengan obat originator sehingga dapat dijual dengan harga murah,”
ujar anggota tetap Komisi Nasional Penilai Efikasi dan Keamanan Obat
Jadi/Obat Modern di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ini.

Obat paten, terang Arini, sangat wajar bila harganya mahal karena biaya
yang dibutuhkan untuk risetnya mencapai 900 juta dollar (hampir Rp 900
miliar) hingga 1,8 juta miliar dollar AS. Selain itu, ekslusivitas obat
paten ini terbilang relatif singkat. Walaupun diberikan perlidungan
paten bekisar antara 17 hingga 20 tahun, tapi kesempatan untuk
dipasarkan sebagai obat paten sekitar lima tahun saja.

“Oleh sebab itu harganya mahal karena harus menutup biaya pengembangan
tersebut dalam waktu yang relatif singkat,” ujarnya.

Arini menambahkan, masyarakat Indonesia sudah saatnya mengubah pola
pikir tentang obat generik dan paten. Pasalnya, di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat, masyarakat sudah semakin terbiasa menggunakan
obat generik.

Buktinya, peresepan obat generik terus mengalami peningkatan dari tahun
ke tahun. Data IMS Health National Prescription Audit (NPA) menyebutkan,
peresepan obat generik di AS yang hanya 19 persen pada tahun 1984 telah
meningkat pesat pada 2007 menjadi 67 persen.

*Salah kaprah*
Obat generik, lanjut Arini, saat ini dipasarkan di Indonesia dalam dua
jenis yakni dengan menggunakan nama generiknya dan memakai merek dagang.
Salah satu jenis yang dijual dengan nama generiknya adalah obat generik
berlogo (OGB) yang merupakan program pemerintah. OGB dapat dikenali
dengan logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan
“Generik” di tengah lingkaran.

Sementara itu satu jenis lainnya yakni obat generik bermerek justru
tidak diperlakukan sebagai obat generik. Dengan kemasan lebih menarik
memakai nama dagang tanpa mencantumkan logo, harga obat bermerek ini
jauh lebih mahal dibanding obat generik tanpa merek, padahal kandungan
zat aktifnya sama.

Alhasil, fenomena ini menjadikan obat generik bermerek seakan-akan
‘diposisikan’ sama seperti obat paten. Salah kaprah terhadap obat
generik bermerek ini pun tidak terelakkan.

Diakui Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI),
Marius Widjajarta, praktik salah kaprah obat generik menjadi masalah
dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Betapa tidak, obat generik
bermerek yang kandungannya tak jauh berbeda dengan obat tanpa merek
dijual dengan harga tidak rasional.

“Bahkan ada yang bisa sampai 200 kali dari harga asli obat generik tanpa
merek,” ujar Marius.

Padahal, hampir 70 persen obat yang beredar di Indonesia saat ini adalah
obat generik bermerek. Sedangkan sisanya adalah obat paten dan obat
generik tanpa merek. Peredaran obat paten di Indonesia, kata Marius,
tidak banyak yakni hanya sekitar 7 persen saja. Obat-obat paten ini
contohnya adalah obat untuk HIV/AIDS, obat-obat kanker dan flu burung.

“Yang lain itu paten-patenan. Yang lebih kejam, tak sedikit oknum dokter
yang meresepkan obat generik bermerek kepada pasien, tetapi menyebut
obat tersebut sebagai obat paten. Padahal jelas, itu melanggar etika
profesi kedokteran,” ujar Marius.

*Benang kusut*
Marius yang juga anggota Tim Rasionalisasi Harga Obat Generik Nasional
di Kementerian Kesehatan menilai masalah obat generik adalah benang
kusut yang tak pernah selesai dari tahun ke tahun.

Rumitnya masalah pengaturan obat generik di Indonesia adalah akibat
ketidaktegasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan,
menegakkan kebijakan soal peredaran obat generik bermerek. Harga obat
generik sebenarnya telah diatur melalui Keputusan Menteri Kesehatan,
tetapi anehnya, peraturan ini hanya diterapkan pada obat generik tanpa
merek saja.

“Di sinilah benang kusutnya, yang liar adalah obat generik bermerek,
yang tak mau tunduk pada peraturan itu. Pemerintah dalam hal ini Dirjen
Bina Kefarmasian tidak ada niatan untuk menetapkan harga obat generik
bermerek,” ujar Marius.

Kalaupun Menkes telah membuat peraturan baru yang mewajibkan seluruh
dokter di layanan kesehatan pemerintah mewajibkan peresepan obat
generik, peraturan itu diyakini Marius tidak akan berjalan efektif.
Peran apoteker sebagai profesi yang terlibat secara langsung memberikan
pelayanan di bidang kefarmasian pun belum bisa diharapkan.

Senada dengan Marius, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Priyo
Sidipratomo, manilai karut marutnya masalah obat generik lebih
disebabkan karena lemahnya penegakkan peraturan tata niaga farmasi.

Sementara profesi dokter pun tak bisa sepenuhnya disalahkan karena
mereka kerap mengalami masalah dan keterbatasan di lapangan. Masalah
peresepan obat generik, kata Priyo, biasanya muncul ketika dokter
dihadapkan pada kendala kekosongan stok obat. Karena obat generik tanpa
merek langka, dokter akhirnya beralih pada obat generik bermerek atau
obat paten.

Namun Priyo pun tak mengelak bila ada segelintir oknum dokter yang
bertindak melawan etika profesi. “Dokter-dokter yang disponsori itu
jelas tidak etis, berlawanan dengan etika. Namun itu hanya terjadi di
kota-kota besar, di kota kecil sangat jarang,” ungkapnya

Salah satu solusi yang dapat mengatasi masalah ini, lanjut Priyo, adalah
penerapan sistem asuransi kesehatan secara universal sebagai jalan
keluar mengatasi pembiayaan kesehatan di Indonesia.

“Dalam dunia kedokteran, itu tidak bisa dibersihkan 100 persen, kecuali
dengan asuransi kesehatan. Dokter yang baik hanya akan lahir dalam
sistem pelayanan kesehatan yang baik. Jadi intinya harus ada sistem
yang baik,” terangnya.

*Hak pasien
*Demi kemaslahatan, Priyo tak lupa pun berpesan agar pasien selalu
membiasakan diri meminta resep obat generik setiap kali datang berobat
ke dokter. “Sampaikan saja, karena ini adalah hak setiap pasien,” ujarnya.

Ia pun meyakinkan bahwa di mata para dokter, citra obat generik
sebenarnya tidak pernah luntur. “Pandangan para dokter tentang obat
generik sejauh ini bagus. Tidak ada masalah dari sisi efikasi dan
khasiatnya. Bahkan di semua institusi milik pemerintah, para dokter
sudah diwajibkan meresepkan obat generik,” ujar Priyo.

PERTANYAAN FAVORIT TENTANG IMUNISASI DPT & BCG

Sumber : NAKITA

Tahun pertama kehidupan seorang bayi akan dipenuhi dengan kegiatan imunisasi. Tak heran jika muncul banyak pertanyaan seputar masalah ini. Berikut pertanyaan favorit para ibu baru yang dijawab oleh dr. Alan R. Tumbelaka, Sp.A(K) dari FKUI-RSUPNCM Jakarta.
SELUK BELUK IMUNISASI DPT
* Apakah jadwal imunisasi bayi prematur sama dengan anak lahir cukup bulan?
Seharusnya sama. Namun imunisasi baru bisa dimulai pada saat kondisi bayi prematur dianggap memadai untuk memberikan respons yang baik terhadap imunisasi.
* Bagaimana kondisi bayi prematur yang dianggap siap untuk diimunisasi?
Bukan tergantung pada usia saja, sebab berat badan (BB) juga menentukan. Bayi yang lahir normal cukup bulan bisa langsung divaksinasi, sementara bayi prematur harus menunggu waktu. Dengan imunisasi diharapkan tubuh bayi dapat terangsang untuk membuat suatu zat anti, akan tetapi bayi prematur seringkali belum mampu melakukannya. Untuk itu, diadakan penundaan imunisasi pertama sekitar 1-2 bulan, di mana usianya dianggap sudah hampir sama dengan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, BB-nya sudah bagus, sekitar 3 kg. Tentunya, siap-tidaknya bayi prematur tersebut diimunisasi, tergantung pada pemeriksaan dokter sebelumnya.
* Biasanya imunisasi DPT menyebabkan demam. Mengapa bayi saya tidak?
Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Demam-tidaknya, ditentukan banyak faktor. Antara lain kondisi anak saat diimunisasi dan kondisi vaksin. Demam atau panas disebabkan suntikan P (Pertusis) yang merupakan kuman yang dilemahkan. Jika tubuh tak bereaksi terhadap kuman, berarti daya tahan tubuh kurang memadai. Jadi, dengan suntikan DPT memang diharapkan timbul reaksi panas/demam.
Kalau vaksinnya jelek, juga ada kemungkinan tak muncul reaksi panas. Dokter apalagi awam tentunya tak akan tahu apakah vaksinnya bagus atau tidak. Untuk menjamin vaksin yang berkualitas baik, dokter harus mendapatkannya dari jalur resmi dan juga prosedur penyimpanannya harus sesuai dengan ketentuan.
* Kalau anak tak demam, berarti imunisasi gagal?
Dalam usia setahun, imunisasi DPT dilakukan 3 kali, yaitu DPT I, II, dan III sebagai imunisasi dasar. Berhasil-tidaknya imunisasi itu tidak bisa dilihat dari sekali suntik saja, melainkan setelah 3 kali.
Lagi pula, tak ada vaksin yang bisa 100 persen melindungi atau menimbulkan kekebalan. DPT misalnya, punya daya lindung sekitar 80-90 persen. Jadi masih ada 10-20 persen yang tak terlindung. Di sisi lain, bukan berarti jika imunisasi DPT I tidak menimbulkan demam lalu harus segera diulang lagi. Pengulangan baru bisa dilakukan sekurang-kurangnya 1 tahun sejak pemberian terakhir DPT dasar. Jadi, tetap harus melewati tahap DPT II dan III dulu. Baru kemudian di usia antara 18 bulan sampai 2 tahun, diberi DPT IV. Lalu DPT V di usia 5 tahun.
Pengulangan imunisasi DPT diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh yang mungkin menurun setelah sekian lama. Karena itu mestii diperkuat lagi dengan pengulangan pemberian vaksin (booster).
Kalau sudah dilakukan 5 kali suntikan DPT, maka biasanya dianggap sudah cukup. Namun di usia 12 tahun, seorang anak biasanya mendapat lagi suntikan DT atau TT (tanpa P/Pertusis) di sekolahnya. Di atas usia 5 tahun, penyakit pertusis jarang sekali terjadi dan dianggap bukan masalah. Jadi, suntikan P tak perlu diberikan lagi.
* Adakah pengaruh buruk bila tak diberi vaksin DPT ulangan?
Tentu. Pada saat daya tahan tubuh menurun, kemungkinan terkena penyakit DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) lebih besar.
* Berapa lama anak demam akibat imunisasi? Berapa kisaran suhu panasnya dan bagaimana mengatasinya?
Biasanya 1-2 hari. Malah kadang cuma sehari. Panas tubuh pada setiap anak tidak sama karena daya tahan masing-masing tubuhnya berbeda. Jadi, reaksinya berlainan dan sangat individual. Apalagi setelah suntikan pertama, ada yang sekadar hangat, ada juga yang panas tinggi. Kisarannya di atas suhu normal 37,5 derajat Celcius sampai 40 derajat Celcius. Mengatasinya dengan obat penurun panas yang takarannya sesuai usia dan BB anak.
* Bolehkah bayi tidak diberi imunisasi DPT? Apa pengaruhnya bagi anak?
Imunisasi DPT, Polio, Hepatitis, Campak dan BCG diwajibkan pemerintah lewat Program Pengembangan Imunisasi. Tujuannya untuk melindungi anak balita dari penyakit tersebut. Meski wajib, bayi diimunisasi atau tidak, tergantung pada orang tuanya. Seperti halnya asuransi, kalau mau ikut silakan, berarti ada perlindungan, kalau tidak, ya, tak ada jaminan perlindungan.
* Apakah anak harus diimunisasi dengan urutan yang benar? Apa alasannya?
Jelas harus. Karena itu dibuat urutan I hingga III. Ini berdasarkan angka seringnya kejadian penyakit tersebut di usia yang tertentu pula. Misalnya, vaksin DPT harus diberikan di usia 2, 3, dan 4 bulan, karena di usia itu penyakit sudah bisa berjangkit.
* Bagaimana kalau tidak sesuai jadwal?
Yang sesuai jadwal saja, tak bisa 100 persen melindungi anak. Misalnya, 3 kali suntikan imunisasi DPT, hanya bisa memberi perlindungan 90 persen. Jadi, kalau hanya sekali saja dilakukan dan yang selebihnya tertunda, efek perlindungannya pun semakin kecil. Mungkin hanya 30 persen saja. Alhasil, kemungkinan terkena penyakitnya jadi cukup besar.Jadi, imunisasi tetap harus diberi sesuai jadwal. Tak ada istilah hangus.
* Ibu yang pernah mengalami kejang di masa kecilnya, benarkah bayinya hanya diimunisasi DT saja tanpa P (Pertusis) Mengapa?
Sebetulnya, bila dulu ibu pernah kejang demam, anaknya belum tentu mengalami hal sama. Dengan kata lain, walau kemungkinan itu selalu ada, selama si anak terbukti tak pernah kejang, suntikan DPT tetap bisa diberikan. Kalau tidak, ia tak kebal pertusis.
Lain hal jika anak pernah mengalami kejang karena demam. Ia hanya akan diberi suntikan DT atau DPT yang vaksin Pertusisnya tidak menimbulkan demam. Namanya P Acelular. Bayi yang pernah kejang akan kembali kejang jika diberi vaksin DPT yang vaksin P-nya utuh atau bisa menimbulkan panas. Risikonya tentu saja tidak kecil. Kejang yang berlangsung lama bisa merusak otaknya.
SELUK-BELUK IMUNISASI BCG
* Apa ciri keberhasilan imunisasi BCG?
Suntikan BCG yang benar adalah yang ditanam di kulit, tidak dalam, dan tidak masuk ke otot seperti halnya suntikan DPT. Setelah disuntik, permukaan kulit yang menjadi lokasi suntikan akan melendung/membengkak karena suntikannya menyusur kulit itu.
Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya “jadi” dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika vaksinnya mencapai sasaran.
Sesuai konsensus nasional, agar mudah dilihat apakah seorang anak pernah atau belum diimunisasi BCG, maka suntikan ini umumnya dilakukan di lengan atas sebelah kanan.
* Apa artinya bila suntikan BCG tidak berbekas?
Mungkin kualitas vaksinnya tak bagus atau tubuh anak tak bereaksi. Pada anak yang mengalami kurang gizi, suntikan BCG ini tak akan “jadi” karena daya tahan tubuhnya kurang bagus. Anak yang kurang gizi biasanya tak akan memberi reaksi terhadap vaksinasi apa pun. Agar berhasil, vaksinasi hanya bisa diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh baik. Kalau gizi atau daya tahan tubuhnya jelek, maka tubuhnya tak mampu membuat zat-zat tertentu yang dibutuhkan untuk membuat zat anti.
* Haruskah vaksinasi diulang dan kapan sebaiknya dilakukan?
Pengulangan memang perlu tapi tak perlu dilakukan saat itu juga. Idealnya, harus dilakukan tes Mantoux dulu setelah 2 bulan. Tes ini akan menunjukkan apakah tubuh sudah membentuk zat antinya atau belum. Kalau hasilnya positif dan besarnya sudah mencapai 10 ml atau 1 cm, berarti sudah ada zat antinya. Namun jika lebih dari 15 ml, berarti yang terbentuk adalah penyakit TBC-nya. Bila hasilnya negatif, berarti tubuh tak membuat zat anti sama sekali. Berarti vaksinasi yang diberikan gagal dan harus diulang. Kapan waktunya, akan diatur oleh dokter.
* Apa akibatnya bila bayi mendapat imunisasi BCG pada usia 3 bulan lebih?
Penyakit tuberkulosis sebetulnya mempunyai masa inkubasi sekitar 2 bulan atau 6-8 minggu. Jadi kalau imunisasi baru diberikan setelah umurnya lewat 2 bulan, jangan-jangan dia sudah terkena kuman tuberkulosis itu. Entah ditularkan orang tua atau lingkungannya. Maka itu, suntikan BCG akan lebih baik jika diberikan lebih awal sebelum usia bayi 2 bulan.
* Bayi yang akan diimunisasi BCG pada usia lebih dari 3-4 bulan, apakah harus dites Mantoux dulu untuk memastikan ia belum terkena TBC?
Idealnya begitu. Namun tes Mantoux relatif mahal. Akibatnya, kadang-kadang di puskesmas, suntikan BCG akan langsung diberikan walaupun usia bayi sudah lewat dari 3 bulan. Kalau misalnya dilakukan tes mantoux dan hasilnya positif TBC, maka suntikan BCG tak perlu diberikan. Tinggal penyakitnya itu saja yang diobati. Setelah sembuh dari TBC, tubuh yang bersangkutan akan membuat zat anti dan kemungkinan besar tidak akan terkena lagi.
* Katanya ada bayi yang kena TBC kulit akibat imunisasi BCG. Ada juga yang di dada kanannya tumbuh jaringan lain. Mengapa bisa demikian?
Kalau cara menyuntiknya salah, hal itu bisa terjadi. Suntikan yang terlalu dalam bisa menimbulkan reaksi berupa TBC kulit. Kadang, vaksin/kuman masuk ke kelenjar di dada sehingga terjadi pembesaran. Untuk mengatasinya, kadang harus dilakukan pengangkatan kelenjar dengan tindakan operasi.
* Apakah suntikan BCG selalu disertai dengan benjolan di ketiak?
Tidak selalu. Benjolan di ketiak bisa terjadi kalau vaksin BCG masuk ke kelenjar melalui cara penyuntikan yang salah. Kalau menyuntiknya benar belum tentu benjolan terjadi. Itulah bahayanya kalau salah menyuntik. Anak malah terinfeksi TBC karena vaksin BCG sebetulnya merupakan kuman yang dilemahkan.
Apakah bayi yang sudah mendapat imunisasi BCG masih mungkin tertular TBC? Mengapa?
Ya, karena tak ada satu pun vaksinasi yang dapat menjamin perlindungan seutuhnya. Namun, kalau anak terkena penyakit, hal itu sebetulnya sama dengan mendapat vaksinasi. Hanya saja, vaksinasi adalah kuman yang diberikan secara sengaja agar muncul zat anti dari tubuh. Sementara sakit disebabkan oleh kuman yang didapat dengan sendirinya.

DPT

Sumber : http://m.infeksi.com/articles.php?lng=en&pg=15&id=12
DIFTERI

Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.

Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .

PERTUSIS

Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking.
Penularan umumnya terjadi melalui udara ( batuk / bersin ). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.

TETANUS

Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Bagaimana gejala dan apa penyebabnya? Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.
Apa yang menyebabkan infeksi tetanus? Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteria tetanus.
Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.