Persaingan Si Kakak dan Si Adik

sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=264010&kat_id=100

Waspadalah. Tanpa intervensi, sibling rivalry bisa berlanjut hingga dewasa.

Mitha (13 tahun) merasa kesal karena selalu disuruh mengalah pada adiknya,
Viera (10). ”Kenapa sih dari dulu saya disuruh mengalah terus,” teriak gadis
cilik yang menginjak remaja itu.

Bila Mitha sedang bermain sesuatu, adiknya sering merebutnya. Demikian pula
sebaliknya, Mitha juga sering mengganggu adiknya, sehingga hampir setiap hari
dia rumahnya terjadi keributan di antara kakak beradik ini. Bila sudah
demikian, ayah atau ibunya selalu menyuruh Mitha mengalah. Sebab, Mitha kan
‘lebih besar’. Hal seperti itu terjadi sejak mereka masih kecil. Perselisihan
model Mitha dan adiknya, menurut psikolog dari RS Dr Sardjito/Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwi Susilowati SPsi, merupakan
sibling rivalry alias persaingan antarsaudara kandung.

Fokus perhatian
Sibling rivalry adalah hal yang wajar pada anak menyesuaikan dengan kondisi
yang baru. Biasanya muncul jika ada kelahiran anak kedua, dan anak pertama
belum dipersiapkan lebih dulu bahwa dia akan mempunyai adik. ”Orang tua yang
tadinya fokus perhatiannya hanya pada anak pertama (ketika belum punya adik),
namun sejak kehadiran anak kedua, orang tua secara tidak sadar akan lebih fokus
ke anak kedua,” tutur Kiki, panggilan akrab Dwi Susilowati.

Karena itu bila orang tua berniat untuk mempunyai anak lagi, saran dia, si
kakak harus dipersiapkan sejak si adik masih dalam kandungan. Misalnya, si
kakak diberi tahu bahwa dia akan mempunyai adik dan bila ada adik, mainnya
lebih enak daripada main sendiri.

”Kemudian kita yakinkan bahwa dengan kehadiran adik, adik masih lemah,
sehingga apa-apa harus dibantu, kakak kan sudah bisa main sendiri, mengambil
sendiri,” kata Kiki, ”Dengan demikian anak akan memahami bila si ibu atau
ayah akan lebih mendahulukan adiknya.”

Kadang-kadang si kakak akan mengalami kecemburuan dengan adanya adik baru.
Tetapi, dengan bertambahnya usia, justru adik yang mengalami kecemburuan.
Misalnya, kakak usia lima tahun sudah bisa naik sepeda, sedangkan adik usia 2-3
tahun belum bisa naik sepeda dan ia iri pada kemampuan si kakak.

Cari penyebabnya
Kebanyakan sibling rivalry dialami oleh anak-anak sesuai tahapan perkembangan.
Misalnya, pada usia 2-3 tahun anak sedang berkembang keakuannya, ingin
dihargai, ingin diakui bahwa mereka nomor satu dan paling disayangi orang tua.
Sehingga orang tua penting mengatur trik-triknya. Misalnya: kakak pintar dan
bagus dalam hal merapikan pakaian, adik pintar bila bertemu orang langsung
bersalaman, sehingga tidak ada pembedaan. ”Kita memperlakukan adik dan kakak
sama, tetapi tidak membandingkan atau membedakan,” kata Kiki.

Tetapi kadang sibling rivalry itu tidak terjadi saat anak masih balita,
melainkan ketika sudah usia SD. Misalnya, anak ingin nomor satu, ingin mendapat
perhatian lebih dari orang tua, dan sebagainya. Sibling rivalry juga bisa
muncul antar sepupu. Misalnya, ketika pascagempa di Yogyakarta, orang tuanya
menampung keluarga kakak/adik yang rumahnya hancur. Dulu ketika berbeda rumah,
si anak mau berbagi dengan sepupunya. Tetapi ketika saudara sepupunya tinggal
serumah, si anak tidak mau lagi berbagi.

Menurut Kiki, sebetulnya yang penting adalah bagaimana orang tua menyikapi
lebih dari satu anak, bagaimana membagi perhatian kepada anak-anak dan
menyikapi terjadinya persaingan/kecemburuan tersebut. Namun, sering kali sikap
orang tua dengan sadar atau tidak menyuruh si kakak mengalah dengan adik,
menyuruh menjaga si adik, karena si kakak sudah besar.

”Sikap itu justru akan menjadikan sikap kecemburuan yang besar si kakak
terhadap si adik,” katanya. Menurut alumni Fakultas Psikologi UGM ini, adalah
tidak bijak jika kakak disuruh selalu mengalah. ”Kita harus melihat latar
belakangnya penyebab kenapa ramai antara kakak dan adik? Untuk itu harus ada
pendekatan lain.” Apabila kakak dan adik selalu bertengkar, dua-duanya harus
salah dan menanggung akibat.

Introspeksi dulu
Selanjutnya, Psikolog dari RS Dr Sardjito/FK UGM Dra Yemima Triwuryani Psi,
lebih mengartikan sibling rivalry sebagai emosi iri yang terjadi antarorang
yang mempunyai hubungan dekat. Emosi iri atau iri hati itu harus dikendalikan,
karena tidak sehat. Bagaimanapun iri hati itu buruk, kalau dia sampai bersikap
positif itu karena dia justru bisa mengendalikan iri hati. Sibling rivalry yang
terjadi sejak usia anak-anak, jika tidak diintervensi dengan baik itu akan
berlanjut sampai dewasa. Emosi iri itu sulit menyelesaikannya, karena
percampuran dari marah, benci, dan cinta.

Dalam menyelesaikan masalah sibling rivalry yang terjadi antara kakak-beradik,
orang tua harus menganalisis dulu, kira-kira apa penyebabnya? ”Itu pertanyaan
yang tidak mudah untuk dijawab dan harus betul-betul ada kesungguhan dan
pengertian orang tua untuk mengerti anaknya, baik yang diirikan maupun yang
tidak,” tutur Yemima. Banyak kasus penyebabnya secara fisik, misalnya: satunya
cantik dan satunya tidak, satunya kulit hitam dan putih.

Orang tua di bawah sadar kerap membedakan hal itu. Sebab, orang tua mempunyai
pandangan hidup, filsafat hidup mengenai orang, misalnya orang itu bahagia
kalau pandai, cantik, putih kulitnya, dan itu terekspresi ketika punya anak.
Berbeda halnya bila pandangan orang bahwa bahagia itu adalah orang yang
jalannya lurus dan baik. Soal orangnya pendek, hitam, tidak terlalu pandai, itu
tidak masalah.

Jadi, kata Yemima, bila mau memanage atau mengintervensi anak yang sibling
rivalry, orang tuanya harus melakukan introspeksi diri lebih dulu. Sesungguhnya
setiap orang itu ada emosi iri, tetapi ada yang mampu mengendalikan.

Anak-anak yang tidak bisa mengendalikan emosi iri akan berperilaku negatif.
Anak akan berperilaku buruk supaya orang tua marah, dia akan ‘menghukum’ orang
tua. Dampak iri hati itu adalah anak banyak menuntut secara materi. Dan, orang
tua bertugas bagaimana agar sang anak tidak dikuasai emosi iri. Yemima
menyarankan agar orang tua memberi dukungan dan perhatian kepada anak yang
dalam posisi ‘kurang’ dari saudaranya. Yang sering banyak terjadi justru yang
banyak kekurangan itu yang sering disalahkan. Jika tidak bisa mengatasi sibling
rivalry yang terjadi, Yemima menyarankan orang tua agar tak segan meminta
bantuan orang yang profesional. nnri

Iklan

Sibling Rivalry (3)

SUMBER : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206791.html

Sylvia Radjawane
Wed, 07 May 2008 00:42:11 -0700

http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

*SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*
————————-

*14. Children do not have to be treated equally.*

Memang anak-anak diciptakan setara, tetapi tidaklah mungkin untuk
memperlakukan mereka setara sepanjang waktu. Pemahaman seperti ini baru kami
peroleh dalam kehidupan keluarga besar kami dan setelah kelahiran beberapa
anak kami. Begitu besarnya keinginan orang tua untuk mencegah pertengkaran
di antara anak-anaknya, sehingga mereka berupaya untuk memperlakukan sama
kepada semua anak mereka, apakah itu dalam hal memilihkan piyama atau
menyeleksi sekolah.

Setiap anak tidaklah sama; Anda tidak perlu beranggapan seolah-olah mereka
adalah sama. Buatlah setiap keputusan dalam setiap momen atau peristiwa dan
jangan cemas dengan konsekuensi jangka panjang yang mungkin terjadi jika
Anda lebih memperhatikan anak Anda dibandingkan anak Anda yan glain. Cobalah
menerapkan keseimbangan perhatian ‘dalam 1 minggu’, bukan ‘dalam 1
hari’. ‘Kenapa
Hayden dapat sepasang sepatu baru sedangkan aku idak?’ protes Erin. ‘Karena
sepatu Hayden telah rusang dan kamu sudah mendapatkan sepasang sepatu baru
bulan lalu’. Walau demikian, kami tidak membiarkan Hayden memamerkan
hadiahnya di hadapan Erin. Anak-anak ingin diperlakukan sebagai individu,
bukan diperlakukan sama.

Tetapi memang anak-anak memiliki pemahaman sejak lahir tentang keadilan,
atau tentang apa yang mereka rasa sebagai bentuk keadilan. Ada anak-anak
yang memang terlahir sebagai ‘scorekeeper’, jika Anda mencoba untuk
bergabung dalam ‘permainan’, pasti akan membuat Anda kewalahan. Suatu kali
di saat makan malam, ada kegiatan ‘menghitung jumlah kacang polong yang
disajikan untuk setiap piring untuk meyakinkan bahwa jumlah kacang yang
diterima masing-masing anak adalah sama’. Setelah itu, kami membiarkan
mereka melakukannya sendiri. Jika mereka ingin meneruskan aktivitas konyol
ini, itu adalah pilihan mereka, tapi kami tidak akan bergabung dengan
‘permainan’ jenis begini.

Jika ada suguhan yang perlu dibagi, kami minta salah satu anak untuk
membaginya, sementara anak yang lain mendapat giliran pertama untuk memilih.

Sebisa mungkin, cobalah untuk membagi pekerjaan rumah yang sama bobotnya di
antara anak-anak Anda, sesuai dengan usia dan kemampuannya, sementara itu
jangan paksa diri Anda untuk menjadi orang tua

yang 100% adil. Anda tidak dapat melakukannya.

Ingat, Anda sedang mempersiapkan anak-anak Anda untuk menghadapi kehidupan
nyata, dan kehidupan nyata di luar rumah tidak memperlakukan orang secara
sama dan adil. ‘Papa, kenapa aku harus tidur jam 9 malam sedangkan Erin
tidak perlu tidur hingga jam 10?’ Jawablah dengan,’Karena kamu perlu lebih
banyak tidur’. Anak-anak tampaknya tidak akan mengomel jika mereka
menyadari adanya keadilan dalam keputusan Anda. Jelaskan kepada mereka bahwa
anak-anak memperoleh hak-hak yang berbeda dan lebih banyak lagi kewajiban
saat mereka beranjak semakin besar. Akan tiba masanya memperoleh hak-hak
istimewa tsb. saat mereka semakin besar nanti.

Kadangkala metode ‘terapi kelompok’ memecahkan masalah tentang ‘pembagian
waktu yang sama’. Jika kami memberikan waktu yang sama kepada setiap anak
untuk menceritakan bukunya sebelum tidur, kami hanya akan terus ‘membaca’
sepanjang malam karena jumlah anak kami yang banyak. Itulah yang membuat
anak-anak kami yang lebih tua segera belajar bahwa adiknya yang lebih kecil
butuh lebih banyak waktu bersama orang tua untuk mengantarnya tidur. Jika
mereka juga ingin hal yang sama, mereka akan bergabung dalam aktivitas
‘dongeng keluarga sebelum tidur’. Bahkan sering kali kami ternyata telah
dikelilingi oleh beberapa anak yang ikut bergabung dalam ‘pembacaan dongeng
anak usia 3 tahun’ menjelang tidur malam.

* *

*15. Every child is a favorite.*

Orang tua yang bisa bilang kalau mereka tidak pernah menjadikan salah satu
anak mereka favorit dibandingkan saudaranya yang lain adalah tidak
realistis. Ada sebagian orang tua dan anak-anak yang punya kepribadian yang
berbeda, ada pula yang saling bertautan. Ada anak-anak yang mewarisi
sifat-sifat yang baik dari orang tua mereka, tapi ada pula yang tidak.
Kuncinya
adalah: jangan biarkan anak-anak Anda menganggap hal ini sebagai sikap Anda
yang pilih kasih. Lebih baik, buat mereka merasa spesial.

Jika anak Anda bertanya pada Anda, ‘Siapa yang lebih dicintai – aku atau
Matthew?’, berikan jawaban politis yang tepat – ‘Kamu berdua dicintai,
masing-masing dengan cara yang spesial’. Berikan perumpamaan bahwa ‘cinta’
itu seperti ‘sinar matahari’ – membagi sinar matahari bukan berarti kita
mendapatkan lebih sedikit dari yang lain, dan cinta orang tua kepada
anak-anaknya bagaikan sinar matahari. Katakan kepada setiap anak ‘kualitas
spesial’ mereka: ‘Kamu adalah anak sulung kami, tidak ada seorang pun yang
dapat menjadi anak sulung kami’ (atau anak ke dua, atau anak perempuan
pertama, dll.) Jangan terjebak dengan perangkap ‘siapa yang terbaik’
Anak-anak tidak mengharapkan Anda berkata ‘siapa yang lebih baik’, mereka
hanya ‘memancing’ Anda untuk bisa meyakinkan mereka tentang perasaan Anda
terhadap mereka.

*16. Minimize comparisons.*

Ini juga merupakan dasar dari perasaan rendah diri, yang mendorong perilaku
yang tidak diinginkan di antara anak dalam keluarga. Puji anak Anda untuk
pencapaian prestasi yang ada hubungannya dengan dirinya sendiri, bukan
karena dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Setiap anak akan merasa
bahwa dia adalah pribadi yang spesial di mata orang tuanya.

Anak-anak selalu dibandingkan terus-menerus. Dalam sebagian besar hidup
mereka, mereka akan diukur berdasarkan kemampuan: nilai-nilai di sekolah,
cara memukul bola di dalam tim baseball, perlombaan dan permainan di antara
mereka. Hanya rumah yang menjadi satu-satunya organisasi yang tersisa yang
menghargai seorang anak sebagai dirinya sendiri, bukan berdasarkan
perbandingan dengan anak lain. Karena itu, hindari komentar seperti, ‘Kenapa
kamu tidak dapat memiliki nilai baik seperti kakakmu?’

*17. Referee quarrels.*

Waktu berperan sebagai ‘wasit’ dan waktu berperan sebagai ‘penonton’ adalah
keputusan subjektif tahap demi tahap. Dengan hanya membiarkan saja anak-anak
tersebut atau memberikan mereka peringatan, kadang itulah yang sebenarnya
diperlukan. Komentar yang berhasil menghentikan ‘perang’ dengan segera ala
Martha istri saya adalah, ‘Kalian mengganggu kedamaian Ibu’. Cara ini
berhasil karena kami telah menanamkan ide sejak dini dalam keluarga kami
bahwa di tengah orang banyak (keluarga kami termasuk kategori ‘orang
banyak’), setiap orang menghargai kedamaian sesamanya.

Jika anak-anak mulai masuk dalam tahap berbahaya (mis. melukai seseorang
atau merusak barang milik seseorang), segera hentikan perkelahian. Anak-anak
dalam keluarga yang diizinkan untuk berkelahi saat mereka masih kecil
cenderung berbuat yang sama saat mereka dewasa. Yang terpenting, hentikan
perlakuan kasar di antara anak-anak di rumah – baik perlakuan kasar secara
fisik atau emosional.

*18. When in doubt, intervene.*

Tentang persaingan antar anak dalam keluarga, Anda mungkin pernah dengar
‘Oh, hal seperti itu akan berlalu juga nantinya!’ Baik pengalaman dan
penelitian telah menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dari orang tua, anak-anak
yang memiliki hubungan yang buruk cenderung bertumbuh menjadi orang-orang
dewasa yang juga memiliki hubungan buruk. Semakin sering diizinkan untuk
berkelahi saat mereka masih anak-anak, kecenderungan untuk berkelahi saat
mereka dewasa juga semakin besar. Berpuas diri dengan kesimpulan bahwa
hubungan yang ada pada masa kanak-anak secara alami akan berubah dari ‘tidak
enak’ menjadi ‘manis’ adalah sikap yang naif. Karena memang tidaklah
demikian.

Pada saat anak-anak bertumbuh dan kehilangan kasih dari saudara-saudara
kandung nya yang merupakan hak asasinya sebagai seorang anak dalam keluarga,
maka hubungan yang terbentuk menjadi lebih ‘tidak menyenangkan’ di kemudian
hari.

*19. Listen to both sides.*

Anak-anak dapat menjadi ‘sobat’ dan ‘musuh’. Kita tidak saja perlu
melindungi tubuh-tubuh yang sedang tumbuh ini dari perlakuan fisik yang
kasar (yang mana anak-anak umumnya tumbuh dengan sedikit atau tanpa luka
fisik yang menetap) tapi yang lebih penting lagi, kita perlu melindungi pola
pikir mereka yang mampu menyerap perlakuan emosional yang kasar – yang lebih
cenderung memberikan dampak jangka panjang dalam kehidupan mereka.

Perlakuan kasar terhadap anak dalam keluarga tidak dapat ditolerir. Jika
tanda bahaya mulai muncul, ingat untuk mengutamakan keselamatan, baru
psikologi. Pertama-tama, pisahkan para ‘petarung’ kemudian antisipasi dari
kemungkinan terjadinya ‘perang’ teriakan di antara mereka, tenangkan setiap
orang dan kenakan topi ‘psikologi’ Anda di atas topi ‘otoritas’ Anda.

Juga, jika Anda merasa bahwa seorang anak Anda sedang menjadikan anak dalam
keluarganya ‘korban’, segera hentikan! ‘Perang’ kata-kata kasar tetap
termasuk kategori ‘perang’. Secara khusus, waspadalah untuk tetap mengatasi
situasi agar dapat mencegah setiap anak memiliki ‘luka’ emosional, yang akan
butuh waktu lebih lama untuk sembuh dibandingkan ‘luka’ fisik. Tunjukkan
pada mereka beberapa alternatif untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang
ada, karena ini adalah pelajaran hidup yang berharga. Dengarkan semua opini
dari kedua belah pihak yang ‘berperang’, ‘Ia memukulku’, ‘Nggak, ia yang
memukulku dulu!’ ‘Saya benci kamu!’ ‘Saya lebih benci sama kamu!’. Berikan
anak-anak Anda waktu dan tempat untuk melepaskan kemarahan dan frustrasi
mereka sebelum memulai ‘terapi’ Anda.

Anak-anak selalu ‘terperangkap’ dengan emosi diri sendiri sehingga mereka
tidak mendengar apa yang sedang Anda katakan pada mereka. Tunjukkan bahwa
Anda memahami sudut pandang masing-masing anak dan bantu mereka mau
mendengarkan isi hati saudaranya yang lain dengan cara mengulang perkataan
mereka tentang perasaan mereka masing-masing, ‘Bob, kamu merasa Jim berbuat
salah padamu, dan Jim, kamu merasa Bob telah berlaku tidak adil … Coba
lihat, ini adalah sesuatu yang kalian berdua dapat mengatasinya. Kalian
anak-anak yang sudah besar, dan Saya mengharapkan kalian ke luar dari kamar
tidur ini sebagai teman’. Dalam keluarga kami, jika perseteruan antar anak
sedang memuncak, anak-anak kami kadang akan berkomentar bahwa ini terjadi
karena kami memiliki terlalu banyak anak. Kami akan membuat mereka terdiam
dengan komentar balik, ‘Lalu siapa dari antara kalian yang seharusnya tidak
jadi anak kami?’

*20. Siblings are forever.*

Sebagai orang tua dari banyak anak, kami juga merangkap sebagai – guru,
wasit, pelatih, psikolog dan jendral perang. Walau demikian kami juga
merangkap sebagai komunikator untuk membantu anak-anak kami menjadi teman
sepanjang masa satu dengan yang lainnya. Saat anak-anak ada dalam masa usia
6 hingga 10 tahun, tekankan kepada anak-anak Anda arti sebenarnya seorang
‘kakak laki-laki’ atau ‘kakak perempuan’. Anak-anak akan menghayati pepatah
‘darah lebih kental dibandingkan air’. Saudara-saudara kandung adalah
semacam sistem penopang kehidupan.

Ini pesan yang kami sampaikan kepada anak-anak kami: ‘Saudara-saudara
kandungmu pada akhirnya akan menjadi sahabat terbaikmu. Suatu kali
teman-temanmu yang lain akan pindah atau menghilang, tapi ‘teman-teman’
dalam keluargamu – saudara-saudara kandungmu -, akan selalu ada setiap kali
kamu membutuhkannya.

…Friends come and go, siblings are forever…

Sibling Rivalry (2)

SUMBER : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206790.html

Sylvia Radjawane
Wed, 07 May 2008 00:41:24 -0700

http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

*SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*
————————-

*7. Set limits.*

Kadangkala Anda terlalu lelah untuk berperan sebagai ‘psikolog amatir’ dan
Anda hanya ingin segera berganti peran sebagai ‘polisi’. Lakukanlah dan
tidak perlu cemas dengan dampak permanen yang mungkin mempengaruhi psikis
anak Anda. Sampaikan pesan dengan jelas tentang apa yang Anda harapkan
terhadap cara bersikap anak Anda kepada saudaranya yang lain, sebelum timbul
argumentasi antar anggota keluarga Anda.

Ingatkan secara verbal dengan tenang: ‘Cukup!’, jika ada anak yang
meremehkan saudaranya. Atau, tunjukkan tatapan mata yang
menyiratkan,’jangan sekali-kali berani mencoba!’.

Hentikan segera pertengkaran yang terjadi sebelum menjadi tak terkendali.
Waspada dengan peran anak-anak sebagai ‘penyerang & korban’. Tugas Anda
adalah melindungi anak-anak Anda, bahkan melindungi mereka dari saudaranya
yang lain.

Bagaimana cara anak berperi laku satu dengan yang lain dalam keluarganya
adalah pelajaran sosial pertama yang mereka dapatkan untuk berperi laku
dalam suatu kelompok. Dalam keluarga kami, kami menetapkan ‘batas maksimum
yang diperbolehkan’ terhadap peri laku yang kami ajarkan dalam kehidupan
bersama dalam keluarga, dan anak-anak juga diajarkan untuk menghormati
batasan-batasan itu. Pada waktu ada pertengkaran karena berebut mainan dan
menimbulkan suara yang desibelnya sudah melebihi ‘batas toleransi yang
diperbolehkan’, Martha, sang ibu, hanya akan berkomentar singkat,’Ini sudah
mengganggu kedamaian Ibu!’.

Anak-anak telah belajar – karena mereka telah diajarkan – bahwa ‘batas
maksimum’ telah tercapai dan mereka harus segera mengubah peri laku yang
lebih bisa diterima secara sosial.

*8. Hold family meetings.*

Hayden adalah anak perempuan pertama kami setelah 3 kakak laki-lakinya.
Walau kami pikir bahwa tidak menjadi masalah untuk sekadar menggoda dan
bercanda, Hayden tidak selalu sepakat mengenai hal ini. Suatu hari saat ia
berumur 5 tahun, ia bilang,’Tidak ada satu pun di keluarga ini yang
mencintai saya’. Kami mengadakan pertemuan keluarga sebagai ajang ‘curhat’.
Setelah itu Hayden dan para saudara prianya berteman dengan lebih baik.

*9. Humor is the best medicine.*

Anak ke-5 kami, Peter, memegang sejumput rambut dalam tangannya, berlari ke
arah dapur dan mengeluhkan adiknya yang berusia 2 tahun: ‘Hayden telah
menarik lepas rambutku’. Yang mengejutkan Peter, Martha, sang ibu, segera
berkomentar jenaka, ‘Mengapa kamu tidak membawa rambut itu ke sekolah untuk
ditunjukkan dan diceritakan kepada teman-temanmu?’. Peter segera menanggapi
komentar ibunya sebagai ide yang cukup lucu dan ia segera lupa dengan
si-‘penarik rambut’ nya.

Suatu hari saaat Jim dan Bob berebut mainan yang dampaknya sudah melebihi
‘batas maksimum yang dibolehkan’ dalam aturan keluarga kami, Saya berkata
kepada mereka,’Jika kalian ingin bertarung seperti hewan, saya akan
membangun kandang-kandang di halaman belakang untuk kalian. Saya akan
menjuluki salah satu dari kalian ‘kucing’ dan yang lain ‘anjing’. Saya akan
meletakkan makanan kucing juga makanan anjing di depan kandang kalian ..’

Para pemilik hewan peliharaan pun telah mengetahui bahkan kucing dan anjing
dapat diajar untuk hidup bersama dengan harmonis jika pemilik mereka
menetapkan aturan rumah juga hubungan pertemanan di antara hewan-hewan
peliharaannya.

Humor tidak melukai dan dapat mengejutkan anak-anak, sehingga mereka dapat
melihat bagaimana tidak pekanya mereka terhadap saudaranya.

Berikan humor kepada anak Anda tentang kehidupan nyata. ‘Aku ingin jadi
bayi, juga’ kata Trisha yang berusia 4 tahun. ‘Baiklah, komentar ibunya,
‘Kamu bisa menjadi seorang bayi hari ini. Apa yang kamu ingin lakukan?’
‘Aku ingin susu botol’. Ibunya memberikan Trisha sebotol susu formula. ‘Iih,
rasanya nggak enak!’ ‘Kamu ingin main apa?’ ‘Aku ingin mengendarai sepeda
roda-3 ku’. ‘Bayi tidak dapat mengendarai sepeda roda-3’ ‘Bolehkah aku minta
sandwich isi selai kacang dan jelly?’ ‘Bayi tidak dapat makan sandwich isi
selai kacang dan jelly. Mereka hanya makan makanan bayi.’ Akhirnya Trisha
memutuskan bahwa dia tidak mau lagi jadi seorang bayi, dan berkata: ‘
kayaknya aku ke luar rumah saja dan main dengan sepeda roda 3 ku’.

* *

*10. Foster a team spirit.*

Kadang kami membawa semua anak kami dalam perjalanan keluarga. Mereka segera
belajar bahwa setiap hak selalu diikuti tanggung jawab, sehingga mereka
belajar bagaimana cara bersikap dalam kelompok. Rumah dan keluarga adalah
hubungan sosial pertama yang dipelajari anak-anak. Mereka belajar bagaimana
seseorang memperlakukan orang lain dan setiap orang dalam kelompok memiliki
hak individu. Mereka membangun tenggang rasa dalam kelompok, yang merupakan
alat penting dalam kehidupan. Pada kenyataannya, dengan mendisiplinkan
anak-anak sebenarnya orang tua telah memberikan mereka modal untuk sukses
dalam kehidupan.

Suatu kali kami mengajak ke-delapan anak kami (lengkap dengan 2 cucu juga
para ibu mereka!), menyewa sebuah kapal layar mengarungi Karibia. Dalam
situasi seperti ini, anak-anak itu harus bekerja sama dan rukun (untuk
keselamatan dan kewarasan) bersama.

*11. Promote empathy.*

Mendisiplinkan anak-anak kita dalam satu keluarga memberikan mereka modal
untuk sukses dalam kehidupan, dan salah satu modal yang terpenting yang juga
memiliki dampak sosial sepanjang hidup adalah kualitas empati mereka. Ini
adalah cara lain dari moto ‘Lakukan pada orang lain sama seperti yang kamu
ingin mereka lakukan kepadamu’. Bantu anak-anak Anda belajar bagaimana cara
mendukung orang lain dan selalu berpikir lebih dahulu apakah peri laku
mereka memberikan dampak tertentu pada orang lain.

Kita ingin anak-anak kita berpikir melalui apa yang mereka lakukan. Kurangnya
empati merupakan tanda dari hubungan anti-sosial di antara anak dalam
keluarga jika kelak mereka dewasa.

*12. Promote gender sensitivity.*

Kami mengalami tantangan seperti ini setelah ada Hayden, putri pertama kami
(sebelumnya kami sudah memiliki 3 orang putra). Keadaan keluarga segera
menjadi: ‘Bob, Jim dan Pete’ versus Hayden. Kondisi keluarga yang
sebelumnya sudah ramai, kini ditambah issue kepribadian dan gender yang
berbeda, belum lagi masalah antar anak dalam keluarga yang bisa saja menjadi
tak terkendali jika orang tua tidak senantiasa memantau ‘panas’ nya.

Anak-anak lelaki kami masuk dalam tahap ‘tak ada toleransi bagi anak
perempuan’. Hayden, menjadi lebih kuat saat ia harus hidup dengan kondisi
demikian. Kami orang tuanya harus waspada karena kami menyadari bahwa cara
pandang pertama Hayden terhadap isu ‘pria’ (selain ayah) adalah cara pandang
dia terhadap hubungannya dengan para kakak lelakinya – begitu juga
sebaliknya. Kami tidak ingin para anak laki-laki kami belajar bahwa
‘menjadi yang lebih muda dan menjadi wanita’ adalah sama dengan ‘kurang
berarti’.

Bertahun-tahun kemudian, saat kami menyaksikan presiden kelas senior,
Hayden, memimpin para teman prianya dalam badan kepemimpinan siswa, kami
berpikir betapa pendidikan kami terhadap Hayden untuk memperoleh respek dari
para kakak laki-lakinya mempengaruhi hubungan yang sama antara dia dengan
teman-teman prianya.

*13. Ignore smallies; address biggies.*

Untuk hal-hal kecil, seperti berebut mainan, ajarkan anak-anak Anda untuk
mengatasinya sendiri. Nyatakan saja secara sederhana tentang konsekuensinya
dan apa yang Anda harapkan, ‘Saya akan kembali dalam 1 menit. Jika kalian
tidak juga belajar bagaimana berbagi mainan atau mencari solusi lainnya,
mainan itu akan masuk ke dalam garasi.’ Anda dapat ‘mengistirahatkan’
mainan atau ‘mengistirahatkan’ anak-anak. Anda sedang menyampaikan
sekaligus 2 pesan kepada mereka: Anda mengharapkan mereka dapat mengatasi
masalah ini sendiri, tapi Anda juga memberikan mereka konsekuensi tegas
bahwa jika mereka tidak juga dapat mencari solusinya, Anda yang akan
melakukannya.

Anak-anak mengharapkan bimbingan orang tua, sekaligus juga menginginkan
orang dewasa melindungi diri mereka sendiri dari tingkah laku yang ….
seperti anak-anak, seperti: hal-hal besar yang justru diacuhkan, misalnya:
seorang anak yang membuat anak lain jadi korban. Dalam situasi seperti ini,
anak-anak membutuhkan Anda untuk memantau hal-hal yang diacuhkan seperti
ini. Sebab jika tidak, Anda tidak melakukan tugas Anda. Dengan hanya diam,
anak yang jadi korban akan menyimpulkan bahwa Anda berpihak pada anak lain
yang menyerangnya.

Pertentangan di antara anak dalam suatu keluarga tampaknya juga merupakan
salah satu tahap dalam hidup yang harus dijalani. Anak-anak sering
melakukannya, khususnya saat mereka bosan. Mereka merasa ‘kita butuh aksi
di sini. Ayo, kita timbulkan masalah!’ Ini yang akhirnya membuat anak yang
lebih besar mendorong adiknya, walau kadangkala anak yang lebih kecil
berubah menjadi ‘pengganggu’ dan ‘penghasut’, seakan-akan anak nomer 2 harus
berusaha sedikit lebih keras.

… (to be continued) …

SIBLING RIVALRY

sumber : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206789.html

source : http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*

20 TIPS TO STOP QUIBBLING SIBLINGS AND PROMOTE SIBLING HARMONY

Sebagai orang tua – dan juga ‘wasit’ – dari 8 anak, kami telah melewati
berbagai ‘cobaan’ dalam keluarga kami menyangkut ‘kepribadian yang
bertentangan’, ‘saling unjuk kemampuan’, ‘taktik dalam mencari-cari
perhatian’, dan banyak sekali ‘perang-kecil’, hingga kini bisa menyimpulkan
bahwa persaingan antar anak dalam keluarga (sibling rivalry) adalah salah
satu ‘gangguan’ , seperti halnya jika terbangun di tengah malam, yang tidak
terelakkan dalam kehidupan berkeluarga (baca: memiliki anak-anak).

Kami juga belajar bahwa dampak jangka panjang dari tingkat persaingan antar
anak dalam keluarga, baik secara positif atau negatif, semuanya tergantung
dari apa yang bisa dilakukan orang tua dalam menangani issue ini. Walau
demikian, jenis persaingan yang bisa saja tak terkendali ini jangan pula
dijadikan dasar pertimbangan bagi orang tua agar hanya memiliki 1 anak saja.

Usia anak pertama dan kedua kami, Jimmy dan Bobby, hanya berjarak 26 bulan
dan mereka mulai segera ‘berkompetisi’ layaknya 2 anak dalam keluarga yang
jarak usianya sangat dekat. Saat mereka usia pra-sekolah, mereka bertengkar
karena masalah mainan. Saat usia sekolah dasar, mereka berkompetisi dengan
nilai-nilai pelajaran. Saat usia remaja, mereka bersaing dalam hal
pertemanan. Saat Jim yang pertama kali memasuki jenjang pernikahan, Bob
berkomentar, ‘Ini tidak adil!’ (walau kemudian Bob yang pertama kali
menghadiahi sang ayah seorang cucu – akhirnya ada juga yang dia lakukan
lebih dulu daripada saudaranya Jim!).Tahun berlalu dan kedua anak ini kini
menjadi sahabat akrab dan bahkan menjadi kolega dalam praktek pediatrik
sebagai Dr. Jim dan Dr. Bob (bersama-sama ayah mereka, Dr. Bill Sears).

Dengan banyaknya anak, kami menyadari bahwa bagian dari disiplin adalah
melakukan apa yang perlu kami lakukan agar kami dapat menikmati hidup dan
tinggal bersama anak-anak kami, terutama dengan menciptakan harmoni dan
menghindari persaingan antar anak-anak kami.

Ada 20 cara yang telah mendidik kami untuk menolong anak-anak kami berlaku
sebagai teman terhadap saudara kandungnya sebelum mereka belajar untuk
bertentangan satu dengan lainnya.

*1. Make friends before birth.*

Perkenalkan anak Anda yang lebih tua dengan adik bayinya sebelum sang adik
dilahirkan. Tunjukkan padanya gambar bayi yang sedang bertumbuh dalam perut
ibunya. Biarkan ia menepuk-nepuk perut ibunya, tanda ia sedang mengelus
adiknya, berbicara dengan adiknya, juga merasakan tendangan adiknya dalam
perut ibunya.

Dengan duduk bersama sambil membuka kembali album fotonya waktu bayi, Anda
dan anak Anda dapat mengenang kembali masa-masa ia masih bayi. Tunjukkan
padanya bagaimana rupanya sesaat setelah dilahirkan, pulang ke rumah, saat
menyusui dan saat diganti popoknya. Dengan mengulang kembali ingatan akan
masa-masa bayi sang kakak, ia akan lebih siap untuk mengulang ‘ritual’ yang
sama yang kini akan dilakoni adik bayinya nanti.

* *

*2. Make the older sibling feel important.*

Sanak keluarga dan relasi, yang paham dan juga berhasil melewati tantangan
‘sibling rivalry’ di keluarganya, akan datang menjenguk bayi Anda sambil
membawa hadiah pula untuk kakak sang bayi. Kalau pun tidak, Anda dapat
mempersiapkan kado-kado kecil sebagai cadangan untuk sang kakak saat para
pengunjung sedang memberikan kado dan perhatian pada bayi baru. Biarkan
sang kakak yang membuka bungkus hadiah untuk adik bayinya juga mencoba
pertama kali mainan-mainan adiknya.

Berikan anak Anda pekerjaan dalam organisasi keluarga Anda. Agar anak Anda
tidak terjebak dalam keinginan ‘Aku ingin jadi bayi juga!’, tunjukkan peran
pentingnya bagi Anda, secara pribadi maupun dalam praktek. Berikan dia
jabatan ‘penolong ibu’.

Sesaat setelah Erin, anak ke-5 kami lahir, kami memberikan jabatan kepada
Hayden, kakaknya yang berusia 4 tahun, ‘Asisten Ibu’. Dan kami memberikan
upah untuk ‘jabatan’ nya itu. Setelah beberapa minggu berlalu, Hayden tidak
saja lebih menikmati kondisi ini, dia juga terlatih dalam beberapa pekerjaan
rumah sederhana.

Salah satu dari anak-anak kami senang dijuluki sebagai ‘go-fer’. Saat
Martha, sang ibu, sedang menyusui Stephen, ia akan minta tolong Matthew
anak kami yang berusia 3 tahun untuk ‘bawakan pakaian untuk Ibu’, ‘ambilkan
mainan’, ‘pegang popok ini’ … dan sang ibu akan berterima kasih kepada
Matthew untuk bantuannya tsb.

Bila ada orang lain yang memandang bayi baru kami dan berkata, ‘Wow, bayi
yang cantik!’, kami akan dengan cepat menambahkan, ‘Ya, sekarang kami punya
2 anak yang cantik!’

* *

*3. Time share.*

Yang paling ‘menjengkelkan’ perasaan sebagian besar anak kecil adalah
kondisi di mana ia harus ‘membagi’ Anda dengan adik bayinya yang baru. Apalagi
terhadap istilah ‘berbagi’ yang merupakan konsep yang asing untuk para
batita (di mana selama ini yang mereka tahu, Ibu adalah ‘milik’ mereka yang
paling utama), cukup sulit untuk memperkenalkan mereka konsep baru tentang
‘Ibu harus berbagi perhatian’. Kelihatannya memang baik untuk berkata kepada
anak Anda yang lebih tua bahwa Anda akan membagi waktu yang sama antara Anda
dengan adik bayi dan Anda dengannya, tetapi dalam prakteknya, hal seperti
ini tidak realistis dan tidak perlu. Bayi yang baru tentu akan lebih banyak
membutuhkan waktu untuk dirawat dan Anda tidak punya 200% waktu Anda untuk
dibagikan setiap anak Anda.

Itulah sebabnya kami menempatkan bayi kami dalam ayunan bayi, yang membuat
kedua tangan kami bisa ‘bebas’ bermain dengan sang kakak.

Saat memberi makan bayi, kami membacakan cerita kepada sang kakak atau
menggunakan waktu yang ada untuk sekadar bermanja-manja.

Mengambil waktu untuk duduk-duduk di lantai akan menambah kesempatan Anda
untuk bersama dengan balita Anda sementara adik bayinya tetap berada dalam
dekapan Anda atau sedang menyusui.

Ketika bayi Anda sudah semakin besar, tempatkan dia di atas tempat duduk
bayinya atau di atas selimut di lantai agar ia bisa menyaksikan Anda bermain
satu-lawan-satu dengan kakaknya.

Kondisi seperti ini membuat 1 orang tua dapat ‘menghibur’ 2 anak sekaligus.
Saat menjadi orang tua pertama kali, kami harus dibuat sibuk untuk mencari
cara bagaimana kami dapat memenuhi kebutuhan seorang bayi baru lahir dan
juga kebutuhan kakaknya yang balita, hingga kemudian menyadari bahwa anak
kami yang balita telah mendapatkan apa yang ia butuhkan waktu ia bayi,
sehingga ia dapat menangani rasa frustrasinya. Tapi tidak demikan halnya
dengan seorang bayi.

* *

*4. Stay positive.*

Menciptakan harmoni di antara anak-anak dalam keluarga kadang membuat pihak
orang tua butuh sedikit kemampuan marketing. Anda mungkin berpikir bahwa
anak Anda yang lebih tua seharusnya tertantang untuk mendapatkan manfaat
dalam hal ‘berlaku sebagai teman dengan adiknya di rumah’, tapi anak-anak
kadang hanya sibuk memikirkan sesuatu yang ‘hilang’ dari mereka. Mereka
tidak terlalu antusias untuk berbagi mainan, kamar dan yang terutama ..
orang tua mereka dengan orang lain.

Coba balikkan kenyataan ini untuk membantu anak Anda, yang memang sedang ada
dalam fase egosentris normal, untuk berpikir, ‘Apa yang akan saya peroleh?’
dengan situasi adanya ‘adik baru’ ini. Gunakanlah istilah ‘waktu spesial’.
(Anda akan memperoleh banyak sekali trik marketing yang bisa dilakukan untuk
kata ‘spesial’ ini). Perhatian terhadap anak yang lebih tua biasanya
‘hilang’ dari ibunya, tapi dia bisa memperoleh gantinya dari sang
ayah. Rancang
banyak sekali event pergi berduaan dengan anak Anda yang lebih tua,
misalnya: waktu bersama di taman dan toko ice cream, sehingga sang anak
menyadari bahwa walaupun ia kehilangan waktu bersama ibunya, ia memperoleh
lebih banyak waktu spesial bersama ayah, kakek-neneknya atau orang lain yang
mengurusnya.

*5. Begin the day in harmony.*

Jika memungkinkan awalilah setiap hari dengan ‘waktu spesial’ bersama balita
Anda. Kadang memulai hari dengan berduaan bersama balita Anda selama 20
menit akan mencegah perasaan marah balita Anda terhadap bayi baru Anda dan
ini adalah investasi baik untuk melewati sisa hari itu.

*6. Raise sensitive sibs.*

Sangatlah sulit untuk membenci atau memukul seseorang yang Anda sayangi dan
yang sayang kepada Anda. Saya tidak percaya bahwa anak-anak dalam keluarga
terlahir sebagai ‘musuh’ satu dengan lainnya, ini sangatlah tidak mungkin
kecuali orang tua mengizinkan kondisi ‘bermusuhan’ tetap berlangsung. Anda
dapat memelihara pola ‘pertemanan sepanjang zaman’ di antara anak-anak Anda
dengan cara membantu mereka menemukan cara-cara yang membangun untuk
bersikap peka satu dengan yang lain.

Belajar hidup bersama dalam satu keluarga adalah pelajaran pertama seorang
anak untuk bisa bergaul dengan anak-anak lainnya. Di awal ‘karir’ kami
sebagai orang tua, kami menyadari bahwa peran orang tua dalam menciptakan
kondisi anak-anak yang harmonis adalah bahwa orang tua harus bisa berperan
sebagai fasilitator, tidak melakukan sesuatu secara langsung terhadap
anak-anak mereka, tapi lebih kepada menciptakan kondisi yang membantu
perkembangan hubungan yang rukun di antara anak-anak mereka. Tugas Anda
bukanlah untuk mengawasi bagaimana cara anak-anak tersebut berhubungan, tapi
lebih kepada membentuk hubungan itu sendiri.

Ada beberapa jenis hubungan antar anak dalam keluarga yang kami coba untuk
fasilitasi:

· *Sib in charge*

Jika usia anak-anak Anda berbeda beberapa tahun, berikan pada anak yang
lebih tua tanggung jawab untuk menjadi ‘supervisor’ saudara-saudara yang
lebih muda usianya. Hal ini akan memotivasinya untuk bersikap peduli, dan
anak yang lebih muda juga akan merasakannya. Bahkan seorang balita dapat
memegang dan menepuk adik bayi mungilnya dengan lembut di bawah pengawasan
orang dewasa.

· *Sib as comforter*

Jika ada anak yang terluka, kami akan minta salah satu dari anak-anak yang
lain untuk menolongnya. Kami akan memberikan ‘asisten’ kami tugas: ‘Dr.
Erin, Anda dapat memegang kaki Matthew saat saya membalutnya’ atau ‘Tolong
tempelkan perban di atas luka Lauren’. Para ‘dokter’ ini umumnya
memperlakukan para ‘pasien’ mereka dengan penuh kasih. Tentu sulit untuk
membenci orang yang tangannya yang sedang menolong Anda.

* *

– *Sib as minister.*

Dalam keluarga kami, jika ada seorang anak yang sedang terluka, baik secara
fisik maupun emosi, anak-anak yang lain akan tergerak untuk menawarkan
hiburan untuk mengurangi sakit itu. Anak yang sedang di bawah tekanan (baik
karena akan menghadapi ujian, atau terluka secara fisik dan emosi) akan
duduk di tengah kelompok keluarga besar kami dan anggota keluarga yang lain
akan berdoa untuknya.

Saat anak kami yang ke-tujuh, Stephen, terlahir sebagai penderita Down
Syndrome, anak-anak kami dengan segera belajar – karena mereka diajarkan –
bahwa Stephen memiliki kebutuhan khusus dan ia membutuhkan kasih yang
spesial juga dari kakak-kakaknya.

– *Sib as teacher.*

Dorong anak Anda untuk mengajarkan sesuatu yang menjadi kegemaran dan
ketrampilannya kepada saudara kandungnya yang lain.

Contohnya: kami minta anak kami Matthew, yang selalu keranjingan permainan
baseball, untuk mengajarkan adiknya Stephen bagaimana cara memukul dan
menangkap bola. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, Stephen cukup baik
bermain bola dengan teman-teman sebayanya.

– *Sibs as co-workers.*

Rancang tugas rumah anak-anak yang membutuhkan kerja sama dan memotivasi
mereka untuk bekerja sama: ‘Matthew, bisakah kamu dan Erin membersihkan
garasi? Jika kalian berdua bekerja cepat, kita dapat menyelesaikannya segera
dan bisa nonton bioskop siang ini!’

Jika anak dalam keluarga terlahir dengan kepribadian yang bertentangan satu
dengan yang lain, hubungan ‘tuan & hamba’ perlu dicegah agar tidak terus
berkembang.

– *Sibs as co-sleepers.*

Para orang tua dalam ruang praktek kami bercerita bahwa anak-anak yang tidur
bersama pada malam hari umumnya dapat bermain bersama dengan lebih rukun
sepanjang hari. Pengalaman kami pun mengajarkan demikian.

– *Sib as entertainer.*

Jika Anda memiliki anak yang memang terlahir sebagai ‘komedian’, manfaatkan
‘aset’ ini dan dorong ia untuk bisa menghibur saudaranya yang lain.
Misalnya: anak yang lebih tua bisa bercanda dengan saudaranya yang balita
sementara Anda menyelesaikan tugas lain yang menanti.