Sibling Rivalry (3)


SUMBER : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206791.html

Sylvia Radjawane
Wed, 07 May 2008 00:42:11 -0700

http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

*SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*
————————-

*14. Children do not have to be treated equally.*

Memang anak-anak diciptakan setara, tetapi tidaklah mungkin untuk
memperlakukan mereka setara sepanjang waktu. Pemahaman seperti ini baru kami
peroleh dalam kehidupan keluarga besar kami dan setelah kelahiran beberapa
anak kami. Begitu besarnya keinginan orang tua untuk mencegah pertengkaran
di antara anak-anaknya, sehingga mereka berupaya untuk memperlakukan sama
kepada semua anak mereka, apakah itu dalam hal memilihkan piyama atau
menyeleksi sekolah.

Setiap anak tidaklah sama; Anda tidak perlu beranggapan seolah-olah mereka
adalah sama. Buatlah setiap keputusan dalam setiap momen atau peristiwa dan
jangan cemas dengan konsekuensi jangka panjang yang mungkin terjadi jika
Anda lebih memperhatikan anak Anda dibandingkan anak Anda yan glain. Cobalah
menerapkan keseimbangan perhatian ‘dalam 1 minggu’, bukan ‘dalam 1
hari’. ‘Kenapa
Hayden dapat sepasang sepatu baru sedangkan aku idak?’ protes Erin. ‘Karena
sepatu Hayden telah rusang dan kamu sudah mendapatkan sepasang sepatu baru
bulan lalu’. Walau demikian, kami tidak membiarkan Hayden memamerkan
hadiahnya di hadapan Erin. Anak-anak ingin diperlakukan sebagai individu,
bukan diperlakukan sama.

Tetapi memang anak-anak memiliki pemahaman sejak lahir tentang keadilan,
atau tentang apa yang mereka rasa sebagai bentuk keadilan. Ada anak-anak
yang memang terlahir sebagai ‘scorekeeper’, jika Anda mencoba untuk
bergabung dalam ‘permainan’, pasti akan membuat Anda kewalahan. Suatu kali
di saat makan malam, ada kegiatan ‘menghitung jumlah kacang polong yang
disajikan untuk setiap piring untuk meyakinkan bahwa jumlah kacang yang
diterima masing-masing anak adalah sama’. Setelah itu, kami membiarkan
mereka melakukannya sendiri. Jika mereka ingin meneruskan aktivitas konyol
ini, itu adalah pilihan mereka, tapi kami tidak akan bergabung dengan
‘permainan’ jenis begini.

Jika ada suguhan yang perlu dibagi, kami minta salah satu anak untuk
membaginya, sementara anak yang lain mendapat giliran pertama untuk memilih.

Sebisa mungkin, cobalah untuk membagi pekerjaan rumah yang sama bobotnya di
antara anak-anak Anda, sesuai dengan usia dan kemampuannya, sementara itu
jangan paksa diri Anda untuk menjadi orang tua

yang 100% adil. Anda tidak dapat melakukannya.

Ingat, Anda sedang mempersiapkan anak-anak Anda untuk menghadapi kehidupan
nyata, dan kehidupan nyata di luar rumah tidak memperlakukan orang secara
sama dan adil. ‘Papa, kenapa aku harus tidur jam 9 malam sedangkan Erin
tidak perlu tidur hingga jam 10?’ Jawablah dengan,’Karena kamu perlu lebih
banyak tidur’. Anak-anak tampaknya tidak akan mengomel jika mereka
menyadari adanya keadilan dalam keputusan Anda. Jelaskan kepada mereka bahwa
anak-anak memperoleh hak-hak yang berbeda dan lebih banyak lagi kewajiban
saat mereka beranjak semakin besar. Akan tiba masanya memperoleh hak-hak
istimewa tsb. saat mereka semakin besar nanti.

Kadangkala metode ‘terapi kelompok’ memecahkan masalah tentang ‘pembagian
waktu yang sama’. Jika kami memberikan waktu yang sama kepada setiap anak
untuk menceritakan bukunya sebelum tidur, kami hanya akan terus ‘membaca’
sepanjang malam karena jumlah anak kami yang banyak. Itulah yang membuat
anak-anak kami yang lebih tua segera belajar bahwa adiknya yang lebih kecil
butuh lebih banyak waktu bersama orang tua untuk mengantarnya tidur. Jika
mereka juga ingin hal yang sama, mereka akan bergabung dalam aktivitas
‘dongeng keluarga sebelum tidur’. Bahkan sering kali kami ternyata telah
dikelilingi oleh beberapa anak yang ikut bergabung dalam ‘pembacaan dongeng
anak usia 3 tahun’ menjelang tidur malam.

* *

*15. Every child is a favorite.*

Orang tua yang bisa bilang kalau mereka tidak pernah menjadikan salah satu
anak mereka favorit dibandingkan saudaranya yang lain adalah tidak
realistis. Ada sebagian orang tua dan anak-anak yang punya kepribadian yang
berbeda, ada pula yang saling bertautan. Ada anak-anak yang mewarisi
sifat-sifat yang baik dari orang tua mereka, tapi ada pula yang tidak.
Kuncinya
adalah: jangan biarkan anak-anak Anda menganggap hal ini sebagai sikap Anda
yang pilih kasih. Lebih baik, buat mereka merasa spesial.

Jika anak Anda bertanya pada Anda, ‘Siapa yang lebih dicintai – aku atau
Matthew?’, berikan jawaban politis yang tepat – ‘Kamu berdua dicintai,
masing-masing dengan cara yang spesial’. Berikan perumpamaan bahwa ‘cinta’
itu seperti ‘sinar matahari’ – membagi sinar matahari bukan berarti kita
mendapatkan lebih sedikit dari yang lain, dan cinta orang tua kepada
anak-anaknya bagaikan sinar matahari. Katakan kepada setiap anak ‘kualitas
spesial’ mereka: ‘Kamu adalah anak sulung kami, tidak ada seorang pun yang
dapat menjadi anak sulung kami’ (atau anak ke dua, atau anak perempuan
pertama, dll.) Jangan terjebak dengan perangkap ‘siapa yang terbaik’
Anak-anak tidak mengharapkan Anda berkata ‘siapa yang lebih baik’, mereka
hanya ‘memancing’ Anda untuk bisa meyakinkan mereka tentang perasaan Anda
terhadap mereka.

*16. Minimize comparisons.*

Ini juga merupakan dasar dari perasaan rendah diri, yang mendorong perilaku
yang tidak diinginkan di antara anak dalam keluarga. Puji anak Anda untuk
pencapaian prestasi yang ada hubungannya dengan dirinya sendiri, bukan
karena dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Setiap anak akan merasa
bahwa dia adalah pribadi yang spesial di mata orang tuanya.

Anak-anak selalu dibandingkan terus-menerus. Dalam sebagian besar hidup
mereka, mereka akan diukur berdasarkan kemampuan: nilai-nilai di sekolah,
cara memukul bola di dalam tim baseball, perlombaan dan permainan di antara
mereka. Hanya rumah yang menjadi satu-satunya organisasi yang tersisa yang
menghargai seorang anak sebagai dirinya sendiri, bukan berdasarkan
perbandingan dengan anak lain. Karena itu, hindari komentar seperti, ‘Kenapa
kamu tidak dapat memiliki nilai baik seperti kakakmu?’

*17. Referee quarrels.*

Waktu berperan sebagai ‘wasit’ dan waktu berperan sebagai ‘penonton’ adalah
keputusan subjektif tahap demi tahap. Dengan hanya membiarkan saja anak-anak
tersebut atau memberikan mereka peringatan, kadang itulah yang sebenarnya
diperlukan. Komentar yang berhasil menghentikan ‘perang’ dengan segera ala
Martha istri saya adalah, ‘Kalian mengganggu kedamaian Ibu’. Cara ini
berhasil karena kami telah menanamkan ide sejak dini dalam keluarga kami
bahwa di tengah orang banyak (keluarga kami termasuk kategori ‘orang
banyak’), setiap orang menghargai kedamaian sesamanya.

Jika anak-anak mulai masuk dalam tahap berbahaya (mis. melukai seseorang
atau merusak barang milik seseorang), segera hentikan perkelahian. Anak-anak
dalam keluarga yang diizinkan untuk berkelahi saat mereka masih kecil
cenderung berbuat yang sama saat mereka dewasa. Yang terpenting, hentikan
perlakuan kasar di antara anak-anak di rumah – baik perlakuan kasar secara
fisik atau emosional.

*18. When in doubt, intervene.*

Tentang persaingan antar anak dalam keluarga, Anda mungkin pernah dengar
‘Oh, hal seperti itu akan berlalu juga nantinya!’ Baik pengalaman dan
penelitian telah menunjukkan bahwa tanpa bimbingan dari orang tua, anak-anak
yang memiliki hubungan yang buruk cenderung bertumbuh menjadi orang-orang
dewasa yang juga memiliki hubungan buruk. Semakin sering diizinkan untuk
berkelahi saat mereka masih anak-anak, kecenderungan untuk berkelahi saat
mereka dewasa juga semakin besar. Berpuas diri dengan kesimpulan bahwa
hubungan yang ada pada masa kanak-anak secara alami akan berubah dari ‘tidak
enak’ menjadi ‘manis’ adalah sikap yang naif. Karena memang tidaklah
demikian.

Pada saat anak-anak bertumbuh dan kehilangan kasih dari saudara-saudara
kandung nya yang merupakan hak asasinya sebagai seorang anak dalam keluarga,
maka hubungan yang terbentuk menjadi lebih ‘tidak menyenangkan’ di kemudian
hari.

*19. Listen to both sides.*

Anak-anak dapat menjadi ‘sobat’ dan ‘musuh’. Kita tidak saja perlu
melindungi tubuh-tubuh yang sedang tumbuh ini dari perlakuan fisik yang
kasar (yang mana anak-anak umumnya tumbuh dengan sedikit atau tanpa luka
fisik yang menetap) tapi yang lebih penting lagi, kita perlu melindungi pola
pikir mereka yang mampu menyerap perlakuan emosional yang kasar – yang lebih
cenderung memberikan dampak jangka panjang dalam kehidupan mereka.

Perlakuan kasar terhadap anak dalam keluarga tidak dapat ditolerir. Jika
tanda bahaya mulai muncul, ingat untuk mengutamakan keselamatan, baru
psikologi. Pertama-tama, pisahkan para ‘petarung’ kemudian antisipasi dari
kemungkinan terjadinya ‘perang’ teriakan di antara mereka, tenangkan setiap
orang dan kenakan topi ‘psikologi’ Anda di atas topi ‘otoritas’ Anda.

Juga, jika Anda merasa bahwa seorang anak Anda sedang menjadikan anak dalam
keluarganya ‘korban’, segera hentikan! ‘Perang’ kata-kata kasar tetap
termasuk kategori ‘perang’. Secara khusus, waspadalah untuk tetap mengatasi
situasi agar dapat mencegah setiap anak memiliki ‘luka’ emosional, yang akan
butuh waktu lebih lama untuk sembuh dibandingkan ‘luka’ fisik. Tunjukkan
pada mereka beberapa alternatif untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang
ada, karena ini adalah pelajaran hidup yang berharga. Dengarkan semua opini
dari kedua belah pihak yang ‘berperang’, ‘Ia memukulku’, ‘Nggak, ia yang
memukulku dulu!’ ‘Saya benci kamu!’ ‘Saya lebih benci sama kamu!’. Berikan
anak-anak Anda waktu dan tempat untuk melepaskan kemarahan dan frustrasi
mereka sebelum memulai ‘terapi’ Anda.

Anak-anak selalu ‘terperangkap’ dengan emosi diri sendiri sehingga mereka
tidak mendengar apa yang sedang Anda katakan pada mereka. Tunjukkan bahwa
Anda memahami sudut pandang masing-masing anak dan bantu mereka mau
mendengarkan isi hati saudaranya yang lain dengan cara mengulang perkataan
mereka tentang perasaan mereka masing-masing, ‘Bob, kamu merasa Jim berbuat
salah padamu, dan Jim, kamu merasa Bob telah berlaku tidak adil … Coba
lihat, ini adalah sesuatu yang kalian berdua dapat mengatasinya. Kalian
anak-anak yang sudah besar, dan Saya mengharapkan kalian ke luar dari kamar
tidur ini sebagai teman’. Dalam keluarga kami, jika perseteruan antar anak
sedang memuncak, anak-anak kami kadang akan berkomentar bahwa ini terjadi
karena kami memiliki terlalu banyak anak. Kami akan membuat mereka terdiam
dengan komentar balik, ‘Lalu siapa dari antara kalian yang seharusnya tidak
jadi anak kami?’

*20. Siblings are forever.*

Sebagai orang tua dari banyak anak, kami juga merangkap sebagai – guru,
wasit, pelatih, psikolog dan jendral perang. Walau demikian kami juga
merangkap sebagai komunikator untuk membantu anak-anak kami menjadi teman
sepanjang masa satu dengan yang lainnya. Saat anak-anak ada dalam masa usia
6 hingga 10 tahun, tekankan kepada anak-anak Anda arti sebenarnya seorang
‘kakak laki-laki’ atau ‘kakak perempuan’. Anak-anak akan menghayati pepatah
‘darah lebih kental dibandingkan air’. Saudara-saudara kandung adalah
semacam sistem penopang kehidupan.

Ini pesan yang kami sampaikan kepada anak-anak kami: ‘Saudara-saudara
kandungmu pada akhirnya akan menjadi sahabat terbaikmu. Suatu kali
teman-temanmu yang lain akan pindah atau menghilang, tapi ‘teman-teman’
dalam keluargamu – saudara-saudara kandungmu -, akan selalu ada setiap kali
kamu membutuhkannya.

…Friends come and go, siblings are forever…

Iklan

4 thoughts on “Sibling Rivalry (3)

  1. ada gk survey yang telah dilakukan di WHO, negara maju dan indonesia mengenai SIBLING RIVALRY pada anak usia pra sekolah 3-5 tahun???
    bisa gk kasi alamat email ataw blog mengenai itu????
    tolong replay yhea mbak…
    penting bgd nhe.
    thanx sebelumnya.
    meri sihotang
    Akademi Kebidanan Cipto Medan

  2. hehehehhe…. ada gg sih pengelompokan umur tentang rata-rata usia anak yg mengalami sibling ,,, n bagaimana dengan anak yg mengalami gangguan (idiot)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s