SIBLING RIVALRY


sumber : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206789.html

source : http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*

20 TIPS TO STOP QUIBBLING SIBLINGS AND PROMOTE SIBLING HARMONY

Sebagai orang tua – dan juga ‘wasit’ – dari 8 anak, kami telah melewati
berbagai ‘cobaan’ dalam keluarga kami menyangkut ‘kepribadian yang
bertentangan’, ‘saling unjuk kemampuan’, ‘taktik dalam mencari-cari
perhatian’, dan banyak sekali ‘perang-kecil’, hingga kini bisa menyimpulkan
bahwa persaingan antar anak dalam keluarga (sibling rivalry) adalah salah
satu ‘gangguan’ , seperti halnya jika terbangun di tengah malam, yang tidak
terelakkan dalam kehidupan berkeluarga (baca: memiliki anak-anak).

Kami juga belajar bahwa dampak jangka panjang dari tingkat persaingan antar
anak dalam keluarga, baik secara positif atau negatif, semuanya tergantung
dari apa yang bisa dilakukan orang tua dalam menangani issue ini. Walau
demikian, jenis persaingan yang bisa saja tak terkendali ini jangan pula
dijadikan dasar pertimbangan bagi orang tua agar hanya memiliki 1 anak saja.

Usia anak pertama dan kedua kami, Jimmy dan Bobby, hanya berjarak 26 bulan
dan mereka mulai segera ‘berkompetisi’ layaknya 2 anak dalam keluarga yang
jarak usianya sangat dekat. Saat mereka usia pra-sekolah, mereka bertengkar
karena masalah mainan. Saat usia sekolah dasar, mereka berkompetisi dengan
nilai-nilai pelajaran. Saat usia remaja, mereka bersaing dalam hal
pertemanan. Saat Jim yang pertama kali memasuki jenjang pernikahan, Bob
berkomentar, ‘Ini tidak adil!’ (walau kemudian Bob yang pertama kali
menghadiahi sang ayah seorang cucu – akhirnya ada juga yang dia lakukan
lebih dulu daripada saudaranya Jim!).Tahun berlalu dan kedua anak ini kini
menjadi sahabat akrab dan bahkan menjadi kolega dalam praktek pediatrik
sebagai Dr. Jim dan Dr. Bob (bersama-sama ayah mereka, Dr. Bill Sears).

Dengan banyaknya anak, kami menyadari bahwa bagian dari disiplin adalah
melakukan apa yang perlu kami lakukan agar kami dapat menikmati hidup dan
tinggal bersama anak-anak kami, terutama dengan menciptakan harmoni dan
menghindari persaingan antar anak-anak kami.

Ada 20 cara yang telah mendidik kami untuk menolong anak-anak kami berlaku
sebagai teman terhadap saudara kandungnya sebelum mereka belajar untuk
bertentangan satu dengan lainnya.

*1. Make friends before birth.*

Perkenalkan anak Anda yang lebih tua dengan adik bayinya sebelum sang adik
dilahirkan. Tunjukkan padanya gambar bayi yang sedang bertumbuh dalam perut
ibunya. Biarkan ia menepuk-nepuk perut ibunya, tanda ia sedang mengelus
adiknya, berbicara dengan adiknya, juga merasakan tendangan adiknya dalam
perut ibunya.

Dengan duduk bersama sambil membuka kembali album fotonya waktu bayi, Anda
dan anak Anda dapat mengenang kembali masa-masa ia masih bayi. Tunjukkan
padanya bagaimana rupanya sesaat setelah dilahirkan, pulang ke rumah, saat
menyusui dan saat diganti popoknya. Dengan mengulang kembali ingatan akan
masa-masa bayi sang kakak, ia akan lebih siap untuk mengulang ‘ritual’ yang
sama yang kini akan dilakoni adik bayinya nanti.

* *

*2. Make the older sibling feel important.*

Sanak keluarga dan relasi, yang paham dan juga berhasil melewati tantangan
‘sibling rivalry’ di keluarganya, akan datang menjenguk bayi Anda sambil
membawa hadiah pula untuk kakak sang bayi. Kalau pun tidak, Anda dapat
mempersiapkan kado-kado kecil sebagai cadangan untuk sang kakak saat para
pengunjung sedang memberikan kado dan perhatian pada bayi baru. Biarkan
sang kakak yang membuka bungkus hadiah untuk adik bayinya juga mencoba
pertama kali mainan-mainan adiknya.

Berikan anak Anda pekerjaan dalam organisasi keluarga Anda. Agar anak Anda
tidak terjebak dalam keinginan ‘Aku ingin jadi bayi juga!’, tunjukkan peran
pentingnya bagi Anda, secara pribadi maupun dalam praktek. Berikan dia
jabatan ‘penolong ibu’.

Sesaat setelah Erin, anak ke-5 kami lahir, kami memberikan jabatan kepada
Hayden, kakaknya yang berusia 4 tahun, ‘Asisten Ibu’. Dan kami memberikan
upah untuk ‘jabatan’ nya itu. Setelah beberapa minggu berlalu, Hayden tidak
saja lebih menikmati kondisi ini, dia juga terlatih dalam beberapa pekerjaan
rumah sederhana.

Salah satu dari anak-anak kami senang dijuluki sebagai ‘go-fer’. Saat
Martha, sang ibu, sedang menyusui Stephen, ia akan minta tolong Matthew
anak kami yang berusia 3 tahun untuk ‘bawakan pakaian untuk Ibu’, ‘ambilkan
mainan’, ‘pegang popok ini’ … dan sang ibu akan berterima kasih kepada
Matthew untuk bantuannya tsb.

Bila ada orang lain yang memandang bayi baru kami dan berkata, ‘Wow, bayi
yang cantik!’, kami akan dengan cepat menambahkan, ‘Ya, sekarang kami punya
2 anak yang cantik!’

* *

*3. Time share.*

Yang paling ‘menjengkelkan’ perasaan sebagian besar anak kecil adalah
kondisi di mana ia harus ‘membagi’ Anda dengan adik bayinya yang baru. Apalagi
terhadap istilah ‘berbagi’ yang merupakan konsep yang asing untuk para
batita (di mana selama ini yang mereka tahu, Ibu adalah ‘milik’ mereka yang
paling utama), cukup sulit untuk memperkenalkan mereka konsep baru tentang
‘Ibu harus berbagi perhatian’. Kelihatannya memang baik untuk berkata kepada
anak Anda yang lebih tua bahwa Anda akan membagi waktu yang sama antara Anda
dengan adik bayi dan Anda dengannya, tetapi dalam prakteknya, hal seperti
ini tidak realistis dan tidak perlu. Bayi yang baru tentu akan lebih banyak
membutuhkan waktu untuk dirawat dan Anda tidak punya 200% waktu Anda untuk
dibagikan setiap anak Anda.

Itulah sebabnya kami menempatkan bayi kami dalam ayunan bayi, yang membuat
kedua tangan kami bisa ‘bebas’ bermain dengan sang kakak.

Saat memberi makan bayi, kami membacakan cerita kepada sang kakak atau
menggunakan waktu yang ada untuk sekadar bermanja-manja.

Mengambil waktu untuk duduk-duduk di lantai akan menambah kesempatan Anda
untuk bersama dengan balita Anda sementara adik bayinya tetap berada dalam
dekapan Anda atau sedang menyusui.

Ketika bayi Anda sudah semakin besar, tempatkan dia di atas tempat duduk
bayinya atau di atas selimut di lantai agar ia bisa menyaksikan Anda bermain
satu-lawan-satu dengan kakaknya.

Kondisi seperti ini membuat 1 orang tua dapat ‘menghibur’ 2 anak sekaligus.
Saat menjadi orang tua pertama kali, kami harus dibuat sibuk untuk mencari
cara bagaimana kami dapat memenuhi kebutuhan seorang bayi baru lahir dan
juga kebutuhan kakaknya yang balita, hingga kemudian menyadari bahwa anak
kami yang balita telah mendapatkan apa yang ia butuhkan waktu ia bayi,
sehingga ia dapat menangani rasa frustrasinya. Tapi tidak demikan halnya
dengan seorang bayi.

* *

*4. Stay positive.*

Menciptakan harmoni di antara anak-anak dalam keluarga kadang membuat pihak
orang tua butuh sedikit kemampuan marketing. Anda mungkin berpikir bahwa
anak Anda yang lebih tua seharusnya tertantang untuk mendapatkan manfaat
dalam hal ‘berlaku sebagai teman dengan adiknya di rumah’, tapi anak-anak
kadang hanya sibuk memikirkan sesuatu yang ‘hilang’ dari mereka. Mereka
tidak terlalu antusias untuk berbagi mainan, kamar dan yang terutama ..
orang tua mereka dengan orang lain.

Coba balikkan kenyataan ini untuk membantu anak Anda, yang memang sedang ada
dalam fase egosentris normal, untuk berpikir, ‘Apa yang akan saya peroleh?’
dengan situasi adanya ‘adik baru’ ini. Gunakanlah istilah ‘waktu spesial’.
(Anda akan memperoleh banyak sekali trik marketing yang bisa dilakukan untuk
kata ‘spesial’ ini). Perhatian terhadap anak yang lebih tua biasanya
‘hilang’ dari ibunya, tapi dia bisa memperoleh gantinya dari sang
ayah. Rancang
banyak sekali event pergi berduaan dengan anak Anda yang lebih tua,
misalnya: waktu bersama di taman dan toko ice cream, sehingga sang anak
menyadari bahwa walaupun ia kehilangan waktu bersama ibunya, ia memperoleh
lebih banyak waktu spesial bersama ayah, kakek-neneknya atau orang lain yang
mengurusnya.

*5. Begin the day in harmony.*

Jika memungkinkan awalilah setiap hari dengan ‘waktu spesial’ bersama balita
Anda. Kadang memulai hari dengan berduaan bersama balita Anda selama 20
menit akan mencegah perasaan marah balita Anda terhadap bayi baru Anda dan
ini adalah investasi baik untuk melewati sisa hari itu.

*6. Raise sensitive sibs.*

Sangatlah sulit untuk membenci atau memukul seseorang yang Anda sayangi dan
yang sayang kepada Anda. Saya tidak percaya bahwa anak-anak dalam keluarga
terlahir sebagai ‘musuh’ satu dengan lainnya, ini sangatlah tidak mungkin
kecuali orang tua mengizinkan kondisi ‘bermusuhan’ tetap berlangsung. Anda
dapat memelihara pola ‘pertemanan sepanjang zaman’ di antara anak-anak Anda
dengan cara membantu mereka menemukan cara-cara yang membangun untuk
bersikap peka satu dengan yang lain.

Belajar hidup bersama dalam satu keluarga adalah pelajaran pertama seorang
anak untuk bisa bergaul dengan anak-anak lainnya. Di awal ‘karir’ kami
sebagai orang tua, kami menyadari bahwa peran orang tua dalam menciptakan
kondisi anak-anak yang harmonis adalah bahwa orang tua harus bisa berperan
sebagai fasilitator, tidak melakukan sesuatu secara langsung terhadap
anak-anak mereka, tapi lebih kepada menciptakan kondisi yang membantu
perkembangan hubungan yang rukun di antara anak-anak mereka. Tugas Anda
bukanlah untuk mengawasi bagaimana cara anak-anak tersebut berhubungan, tapi
lebih kepada membentuk hubungan itu sendiri.

Ada beberapa jenis hubungan antar anak dalam keluarga yang kami coba untuk
fasilitasi:

· *Sib in charge*

Jika usia anak-anak Anda berbeda beberapa tahun, berikan pada anak yang
lebih tua tanggung jawab untuk menjadi ‘supervisor’ saudara-saudara yang
lebih muda usianya. Hal ini akan memotivasinya untuk bersikap peduli, dan
anak yang lebih muda juga akan merasakannya. Bahkan seorang balita dapat
memegang dan menepuk adik bayi mungilnya dengan lembut di bawah pengawasan
orang dewasa.

· *Sib as comforter*

Jika ada anak yang terluka, kami akan minta salah satu dari anak-anak yang
lain untuk menolongnya. Kami akan memberikan ‘asisten’ kami tugas: ‘Dr.
Erin, Anda dapat memegang kaki Matthew saat saya membalutnya’ atau ‘Tolong
tempelkan perban di atas luka Lauren’. Para ‘dokter’ ini umumnya
memperlakukan para ‘pasien’ mereka dengan penuh kasih. Tentu sulit untuk
membenci orang yang tangannya yang sedang menolong Anda.

* *

– *Sib as minister.*

Dalam keluarga kami, jika ada seorang anak yang sedang terluka, baik secara
fisik maupun emosi, anak-anak yang lain akan tergerak untuk menawarkan
hiburan untuk mengurangi sakit itu. Anak yang sedang di bawah tekanan (baik
karena akan menghadapi ujian, atau terluka secara fisik dan emosi) akan
duduk di tengah kelompok keluarga besar kami dan anggota keluarga yang lain
akan berdoa untuknya.

Saat anak kami yang ke-tujuh, Stephen, terlahir sebagai penderita Down
Syndrome, anak-anak kami dengan segera belajar – karena mereka diajarkan –
bahwa Stephen memiliki kebutuhan khusus dan ia membutuhkan kasih yang
spesial juga dari kakak-kakaknya.

– *Sib as teacher.*

Dorong anak Anda untuk mengajarkan sesuatu yang menjadi kegemaran dan
ketrampilannya kepada saudara kandungnya yang lain.

Contohnya: kami minta anak kami Matthew, yang selalu keranjingan permainan
baseball, untuk mengajarkan adiknya Stephen bagaimana cara memukul dan
menangkap bola. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, Stephen cukup baik
bermain bola dengan teman-teman sebayanya.

– *Sibs as co-workers.*

Rancang tugas rumah anak-anak yang membutuhkan kerja sama dan memotivasi
mereka untuk bekerja sama: ‘Matthew, bisakah kamu dan Erin membersihkan
garasi? Jika kalian berdua bekerja cepat, kita dapat menyelesaikannya segera
dan bisa nonton bioskop siang ini!’

Jika anak dalam keluarga terlahir dengan kepribadian yang bertentangan satu
dengan yang lain, hubungan ‘tuan & hamba’ perlu dicegah agar tidak terus
berkembang.

– *Sibs as co-sleepers.*

Para orang tua dalam ruang praktek kami bercerita bahwa anak-anak yang tidur
bersama pada malam hari umumnya dapat bermain bersama dengan lebih rukun
sepanjang hari. Pengalaman kami pun mengajarkan demikian.

– *Sib as entertainer.*

Jika Anda memiliki anak yang memang terlahir sebagai ‘komedian’, manfaatkan
‘aset’ ini dan dorong ia untuk bisa menghibur saudaranya yang lain.
Misalnya: anak yang lebih tua bisa bercanda dengan saudaranya yang balita
sementara Anda menyelesaikan tugas lain yang menanti.

Iklan

2 thoughts on “SIBLING RIVALRY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s