Q & A dan tips seputar epilepsi pada anak

sumber :http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=200962394110

Epilepsi merupakan problem neurologi kronis yang cukup banyak dialami anak-anak, akan tetapi masyarakat masih kurang mendapat pengetahuan yang benar tentang epilepsi pada anak. Berikut ini adalah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang tua ketika anaknya didiagnosis epilepsi :

Q : Mengapa anak saya dikatakan epilepsi, setahu saya epilepsi atau ayan itu kejangnya sampai mengeluarkan busa dari mulut.

A : Epilepsi adalah kejang berulang 2 kali atau lebih tanpa penyebab. Sebelum kejang anak masih beraktifitas seperti biasa, setelah kejang anak juga kembali beraktifitas seperti biasa. Kejang pada epilepsi tidak harus kejang kelojotan dan mengeluarkan busa, serangan kejang dapat berupa kaku di seluruh tubuh, kejang kaku/kelojotan sebagian lengan atau tungkai bawah, kedutan di sebelah mata dan sebagian wajah, hilangnya kesadaran sesaaat (anak tampak bengong/seperti melamun), tangan atau kaki tiba-tiba tersentak atau anak tiba-tiba jatuh seperti kehilangan tenaga. Gejala klinis kejang sangat tergantung dari area otak yang menjadi fokus kejang. Oleh karena itu kita harus curiga anak mengindap epilepsi bila anak mendapat serangan yang berulang tanpa sebab.

Q : Apakah anak saya sudah dikatakan epilepsi jika baru 1 kali mengalami kejang tanpa penyebab ? (first unprovoked seizure)

A : Jika baru 1 kali mengalami kejang tanpa penyebab belum dapat dikatakan epilepsi. Akan tetapi pemberian obat antiepilepsi akan dipertimbangkan jika risiko berulangnya kejang cukup besar yang dapat dilihat dari pemeriksaan EEG yang tidak normal (banyak fokus kejang) atau anak walaupun baru 1 kali mengalami kejang tapi kejang berlangsung lama (lebih dari 30 menit).

Q : Keluarga besar saya dan suami tidak ada keturunan epilepsi, mengapa anak saya bisa menderita epilepsi ?

A : Faktor genetik memang berperan dalam epilepsi, akan tetapi tidak semua jenis epilepsi menunjukkan faktor genetik sebagai penyebab. Pada anak dengan gangguan perkembangan otak, pernah mengalami perdarahan di kepala, riwayat radang otak, radang selaput otak dsb dapat terjadi kerusakan sel-sel saraf di otak. Sel-sel saraf yang rusak itulah yang suatu saat dapat menjadi fokus timbulnya kejang pada epilepsi.

Q : Apakah diagnosis epilepsi pada anak saya sudah pasti? Karena dokter mengatakan EEG anak saya normal.

A : Jika seorang anak mengalami kejang berulang 2 kali atau lebih pada episode yang berbeda dan tidak ada penyebab lain (unprovoked seizure), maka anak tersebut sudah dikatakan epilepsi. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) terutama untuk melihat fokus kejang berasal dari otak sebelah mana (kanan/kiri, bagian depan/samping/belakang) , adakah penyebaran kejang ke daerah lain di otak serta untuk melihat jenis epilepsi. Semuanya bermanfaat untuk menentukan obat antiepilepsi yang akan diberikan, jenis epilepsi, dan menentukan prognosis (perjalanan penyakit epilepsi itu sendiri) di kemudian hari. Hasil EEG dapat normal, dikarenakan rekaman dilakukan lebih dari 2 hari setelah serangan, rekaman hanya dilakukan dalam 20 – 30 menit, dan prognosis anak dalam pengobatan baik

Q : Berapa lama anak saya harus minum obat?

A : Sebagian besar jenis epilepsi pada anak memerlukan pengobatan sampai 2 tahun bebas kejang dari kejang yang terakhir, jadi bukan 2 tahun minum obat. Hal ini sudah dibuktikan oleh banyak penelitian dan literatur bahwa angka kekambuhan kejang akan semakin kecil jika anak minum obat sampai 2 tahun bebas kejang dibandingkan hanya minum obat sampai 1 tahun bebas kejang.

Q : Berapa macam obat epilepsi yang harus diminum ?

A : Dokter akan memberikan 1 macam obat epilepsi terlebih dahulu dimulai dari dosis minimal. Jika kejang masih ada, dokter akan menaikkan dosis secara bertahap sampai dosis optimal yang dapat mengontrol kejang. Dosis optimal akan terus dipertahankan sampai 2 tahun bebas kejang, dosis akan disesuaikan jika terdapat kenaikan berat badan anak. Jika dengan 1 macam obat (dosis maksimal) kejang masih ada, dokter akan memberikan obat antiepilepsi kedua sebagai tambahan.

Q : Apakah obat epilepsi tidak menimbulkan ketergantungan karena dikonsumsi dalam waktu yang lama ?

A : Obat antiepilepsi tidak termasuk golongan obat hipnotik-sedatif atau obat narkotik sehingga tidak akan menimbulkan ketergantungan. Selama minum obat antiepilepsi dokter akan melakukan pemantauan efek samping obat dengan melihat gejala efek samping, pemeriksaan darah lengkap, fngsi hati, fungsi ginjal. Pemberian obat antiepilepsi diberikan setelah dipertimbangkan bahwa keuntungan lebih banyak dibanding kerugiannya.

Q : Apakah anak saya harus minum obat seumur hidup ?

A : Sebagian besar tidak.Hampir 70% pasien epilepsi anak dapat terkontrol dengan obat antiepiulepsi. Ada jenis epilepsi tertentu (Juvenile myoclonic epilepsy) yaitu seorang anak di atas usia 5 tahun dengan serangan kaget seluruh tubuh yang sering berulang, anak ini memerlukan pengobatan seumur hidup. Jenis epilepsi yang berat juga memerlukan pengobatan yang lebih lama dengan lebih dari 1 macam obat antiepilepsi.

Q : Apa saja yang harus diperhatikan selama anak saya minum obat epilepsi ?

A : Keteraturan minum obat sangat penting. Jika obat harus diminum 2 kali sehari, berarti jarak minum obat adalah 12 jam, demikian juga jika dosis obat 3 kali sehari, maka interval pemberian obat adalah 8 jam. Jika kita lupa memberi obat, maka berikan sesegera mungkin begitu kita teringat, jangan menunggu keesokan harinya. Lihat tips pengobatan epilepsi dibawah.

Q : Apakah ada makanan yang perlu dipantang selama minum obat anti epilepsi ?

A : Tidak ada makanan yang perlu dipantang.

Q : Apa yang dapat menyebabkan anak saya kejang, walaupun anak saya sudah minum obat teratur?

A : Beberapa keadaan yang harus diwaspadai dapat merangsang kejang: a. Panas tinggi di atas 39 0C. b. Muntah-muntah berulang. c. Diare lama yang menyebabkan dehidrasi. d. Anak terlalu lelah. e. Emosi anak yang berlebihan.

Tips pengobatan epilepsi

1. Pastikan anak anda minum obat secara teratur. Penghentian obat tiba-tiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus.
2. Jika satu dosis terlewat/lupa, segera minum obat tersebut begitu teringat kembali.Tanyakan pada dokter anda apa yang harus dilakukan jika anak lupa minum satu dosis obat.
3. Tanyakan kepada dokter apa yang harus anda kerjakan bila anak kejang. Ajarkan kepada anggota di rumah.
4. Diskusikan obat-obat atau vitamin lain yang diberikan dengan dokter anda apakah bisa mempengaruhi kerja OAE (Obat Anti Epilepsi). Obat seperti dekongestan, asetosal dan obat herbal bisa berinteraksi dengan OAE.
5. Jangan ganti OAE dari merk paten ke obat generik tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena perbedaan pemrosesan obat dapat mempengaruhi metabolisme OAE dalam tubuh.
6. Anak penderita epilepsi sebaiknya memakai tanda pengenal
7. Jika OAE diminum ketika anak berada di sekolah, beritahukan guru maupun pengawas mengenai hal tersebut.
8. Bawakan di tas sekolah obat penghenti kejang yang diberikan melalui dubur. Beritahukan adanya obat tersebut kepada guru di sekolah.
9. Hindari habisnya persediaan OAE dengan menyediakan obat cadangan untuk 2 minggu.
10. Simpan OAE di tempat yang sulit dijangkau anak kecil.
11. Untuk anak yang sudah besar, jam dengan alarm pengingat waktu minum obat dilengkapi dengan kotak obat akan sangat bermanfaat.
12. Bagi OAE dalam beberapa dosis untuk pemakaian seharí, hal ini memudahkan ketika anak menginap di luar rumah.
13. Sangat penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. Pencetus yang sering dialami :

Lupa minum obat, kurang tidur, terlambat atau lupa makan, stres fisik dan emosi, anak dalam keadaan sakit atau demam, kadar obat antiepilepsi yang rendah dalam darah, cahaya yang berkedip-kedip yang dihasilkan komputer, TV, video game dll (pada pasien epilepsi fotosensitif).

Penulis : Setyo Handryastuti

UKK Neurologi Anak – PPIDAI

Iklan