Mengapa Anak Mengompol Dan Bagaimana Menghadapinya.

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-noalwv-tips.htm

Mengapa Anak Mengompol Dan Bagaimana Menghadapinya.
Setiap malam di seluruh Amerika, 5 sampai 7 juta anak tidur, dan mengompol. Istilah medik dari mengompol adalah enuresis, yaitu mengeluarakan air seni secara tidak sadar pada usia dimana seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak dan remaja. Bagi anak, mengompol sering merupakan hal yang sangat memalukan. Sedangkan bagi orang tua, hal ini dapat merupakan pengalaman yang menjengkelkan. Mereka bertanya-tanya apakah mengompol dilakukan dengan sengaja karena kemalasan anak mereka.

Siapa saja yang mengalaminya?
Enuresis terjadi pada 20% anak berusia 5 sampai 6 tahun dan sekitar 1% remaja. Sebagian besar anak yang mengalami enuresis dinyatakan normal secara fisik dan emosional. Walaupun beberapa dari mereka memang ada yang memiliki kandung kemih yang kecil, tetapi hal ini seharusnya tidak menghalangi mereka untuk tidak mengompol.
Mengompol pada anak berusia dibawah 6 tahun merupakan hal yang umum sehingga tidak memerlukan program perawatan khusus.
Enuresis sering merupakan turunan dalam keluarga, sekitar 85% anak yang mengalami enuresis memiliki kerabat yang juga mengalami enuresis, dan sekitar setengah dari mereka memiliki orang tua atau saudara yang juga mengalami enuresis.
Jenis enuresis.
Sebagian besar anak mengalami apa yang disebut enuresis �primer�, yang berarti bahwa mereka mengompol sejak usia balita. Enuresis ini tidak berhubungan dengan bagaimana didikan penggunaan kamar mandi seorang anak. Orang tua tidak perlu merasa bersalah dan merasa telah melakukan seuatu yang salah bila anak mengalami hal seperti ini.
Sedangkan sejumlah kecil anak yang lain mengalami enuresis �sekunder�, yang berarti bahwa mereka telah berhenti mengompol, setidaknya untuk beberapa bulan, tetapi kemudian mengompol lagi. Ada berbagai hal yang dapat berperan dalam enuresis sekunder, antara lain masalah medik, seperti infeksi saluran kemih atau diabetes, dan masalah di lingkungan keluarga yang dapat menyebabkan menyebabkan stres, seperti perceraian orang tua atau masalah di sekolah. Walaupun demikian, alasan spesifik dari mengompol lebih sering tidak diketahui.
Sebagian besar anak mengalami enuresis jenis nokturnal (atau malam hari). Mereka mengompol selama mereka tidur. Kadang-kadang, beberapa anak mengompol pada siang hari saat mereka terjaga (enuresis diurnal). Mereka mungkin memiliki kandung kemih yang tidak stabil, yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih buang air kecil dan yang terlalu sering. Anak-anak ini dapat dirujuk ke dokter anak dan mungkin akan diberi obat selama beberapa waktu yang dapat melemaskan otot kandung kemih.
Sembelit (konstipasi) juga dapat berhubungan dengan enuresis. Umumnya, hanya dengan merubah menu makan sehari-hari sudah dapat menyambuhkan konstipasi ringan, tetapi pada beberapa kasus berat konstipasi memerlukan perawatan khusus sebelum masalah enuresisnya dapat diatasi.
Enuresis primer juga dapat berhubungan dengan kelainan lain seperti attention deficit hyperactivity disorder (AD/HD) dan anemia sel sabit.
Perawatan dan pengobatan
Sampai saat ini belum ada yang tahu persis mengapa seorang anak mengompol, walaupun berbagai alasan telah diajukan. Salah satu alasannya antara lain bahwa ada beberapa anak yang tidur begitu nyenyak dan sulit bangun dibandingkan dengan anak lain yang terbangun bila merasa kandung kemihnya penuh.
Ada anak yang tidak mengompol bila tidur di rumah teman atau kerabatnya, tetapi selalu mengompol bila tidur di tempat tidurnya sendiri. Mungkin, bila tidur di tempat asing yang jauh dari rumah menyebabkan mereka tidak tidur senyenyak biasanya. Hal ini sangat menjengkelkan bagi anak dan orang tuanya. Tetapi, hal ini juga merupakan pertanda bagus bahwa anak dapat disembuhkan. Anak-anak ini, mungkin, baik secara sadar maupun tidak, berusaha untuk tidak mengompol bila mereka tidak di rumah sendiri. Pelatihan mental semacam ini mungkin dapat membantu.
�Sebagian besar orang tua telah mencoba untuk membangunkan anak mereka pada malam hari untuk buang air kecil, tetapi anak mereka masih tetap mengompol� demikian penjelasan Sandra Hassink, MD, seorang dokter anak yang menjalankan klinik enuresis. �Beberapa orang tua juga mencoba membatasi jumlah cairan yang diminum oleh anaknya, dan tetap saja anak mereka masih mengompol, selain itu si anak juga merasa haus. Kami tidak menggunakan teknik-teknik semacam ini. Kami ingin anak untuk tidur pada malam hari dan terbangun sendiri bila mereka merasa ingin buang air kecil. Kami juga berusaha menghindarkan anak dari kafein�.
Menurut Dr. Hassink, sebagian besar masalah enuresis dapat sembuh sendiri. Enuresis bukan merupakan kesalahan anak atau orang tua. �Keberhasilan dalam perawatan enuresis tergantung pada dorongan yang diberikan kepada seorang anak. Kami menekankan kepada anak-anak� bahwa tidak ada orang yang sengaja mengompol karena mengompol merupakan hal yang memalukan dan tidak nyaman. Hukuman sebaiknya tidak diberikan bila anak mengompol karena dapat membuat masalah menjadi tambah buruk. Keberhasilan dalam mengatasi masalah mengompol ini sangat tergantung pada dukungan keluarga yang bersifat positif�.
Sebagian besar anak mengompol sebanyak 7 kali dalam semalam, demikian menurut Dr. Hassink, dan sebagian kecil mengompol berulang kali dalam semalam. �Anak-anak ini dapat berhenti mengompol� tegasnya. �Dapat dimengerti bahwa anak yang mengompol mengira hanya dia saja yang masih mengompol diantara teman-temannya�. Karena itu, memberitahu si anak bahwa ada keluarganya yang dapat menghentikan kebiasaan mengompolnya akan sangat membantu untuk mengerti bahwa kebiasaan mengompolnya tersebut dapat dihentikan.
Orang tua sebaiknya juga membicarakan hal ini dengan dokter anak. Riwayat yang diambil, pemeriksaan fisik, dan analisa kencing merupakan langkah pertama yang penting. Tetapi hasil yang diperoleh biasanya tidak menunjukkan adanya kelainan.
Sejalan dengan pertumbuhan anak, terjadi penurunan dalam jumlah anak yang mengalami enuresis nokturnal. Pada akhirnya, anak yang mengompol akan menghentikan kebiasaannya tersebut. Tujuan dari suatu program perawatan adalah untuk menghentikan kebiasaan ini lebih cepat. Keberhasilan dapat diperoleh paling tidak dalam 1 sampai 2 bulan setelah dimulainya perawatan.
Ada berbagai macam pendekatan, baik medik maupun perilaku, untuk mengatasi masalah ini. Dr. Hassink mengatakan, �kami lebih menekankan pada perubahan perilaku, bukan penggunaan obat-obatan. Beberapa program ada yang menggunakan obat-obatan. Tetapi sebagian besar pasien kami telah mencoba dan gagal. Tingkat keberhasilan yang menggunakan obat-obatan ini hanya setengah dari tingkat keberhasilan yang menggunakan metode perilaku. Lagipula, obat-obatan yang digunakan kadang-kadang harganya mahal�.
Dr. Hassink menyarankan agar anak yang mengompol juga harus ikut bertanggung jawab dalam membersihkan alas tidur yang basah. Tapi ia juga menekankan bahwa hal ini jangan dianggap sebagai hukuman. Menurutnya justru anak akan merasa lebih baik dengan membantu membersihkan. �Kami menyarankan agar anak dilatih untuk dapat mengendalikan keinginan buang air kecilnya. Selain itu, buku bergambar yang berisi tentang masalah mengompol yang dibaca tiap malam dapat membantu mendorong mereka untuk tidak mengompol�.
Jam dengan alarm merupakan hal yang penting dalam program yang dijalankan Dr. Hassink. Seperempat dari pasiennya telah mencoba menggunakan metode jam ini tetapi gagal. Tapi saat mereka mencobanya bersama-sama dengan metode lain tingkat keberhasilannya meningkat. Hal penting yang harus diingat bahwa teknik-teknik manapun yang digunakan membutuhkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sebelum menunjukkan hasil. Karena itu setiap orang, baik anak maupun orang tua, harus bersabar. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyerah setelah dalam 1 sampai 2 minggu suatu program belum menunjukkan hasilnya.
Ingat bahwa orang tua harus selalu bersikap mendukung terhadap anak yang mengompol. Hampir sebagian besar kasus� seperti ini akan memperoleh hasil yang baik pada akhirnya. (cfs/kidshealth.org)

Iklan

Depol, Akibat Kurang Hormon

sumber : Mother And Baby

Ngompol bukan disebabkan faktor psikologis semata. Bisa jadi, penyebabnya karena anak kekurangan anti-diuretic hormone.
Kebiasaan ngompol pada anak sering membuat si kecil merasa rendah diri. Apalagi jika kebiasaan ini berlanjut hingga memasuki usia sekolah. Malu rasanya kalau dipangil depol, alias sudah gede tapi masih ngompol.

Orangtua umumnya menganggap, kebiasaan ngompol berkaitan dengan masalah psikologis yang dihadapi anak. Seperti perasaan tertekan, takut, atau tidak aman. Tapi kini para orangtua perlu lebih teliti karena kebiasaan ngompol yang terus-menerus bisa jadi penyebabnya akibat kurang hormon ADH (anti-diuretic hormone), yakni hormon yang bisa mengurangi produksi air kemih saat malam hari. Bila anak kurang hormon ADH, ia akan mengalami kelainan fungsi kandung kemih sehingga anak tak bisa mengontrol produksi air kemihnya. Akibatnya, di saat tidur si kecil ngompol.

Menurut Dr. Sudung O. Pardede Sp.A.(K), spesialis penyakit ginjal dan saluran kandung kemih anak, kekurangan hormon ADH bisa diakibatkan oleh beberapa sebab. Umumnya, kekurangan ADH bukan disebabkan faktor genetik atau keturunan, tapi biasanya terjadi karena faktor bawaan saat lahir atau karena berbagai penyakit seperti tumor atau infeksi di otak. Bila ini penyebabnya, menurut Sudung ada kemungkinan jaringan kelenjar hipofisis yang memproduksi hormon ADH terganggu. “Anak pun akan mengalami kekurangan hormon ADH dan jadi sering ngompol. Dalam bahasa kedokteran, ini disebut diabetes insipidus.”

Pemeriksaan Sejak Dini
Sejauh ini, menurut dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UI ini, persentase anak yang mengalami kekurangan hormon ADH terbilang kecil. Namun, sebaiknya anak yang memiliki kebiasaan ngompol sesegera mungkin menjalani pemeriksaan. Bila penyebabnya karena kelainan hormon ADH, terapi yang diberikan adalah pemberian hormon buatan yang disebut desmopressin. Hormon buatan ini akan membantu meningkatkan hormon ADH di tubuh anak sehingga si kecil bisa menyeimbangkan produksi air kemih dan pengeluarannya saat ia tertidur.

Sejauh ini, pemberian desmopressin menurut Sudung tak mengakibatkan dampak negatif pada anak. Kecuali, pada beberapa anak yang sensitif mengakibatkan rasa pusing sesaat. “Pemakaian desmopressin juga mengurangi pengeluaran cairan dari tubuh, dan potensial membuat anak menahan cairan jika minum terlalu banyak setelah meminum obat.” Jadi sangat penting bagi anak yang mendapatkan terapi desmopressin untuk mengurangi minum sebelum tidur.
Normalnya seorang anak mengompol hingga usia mereka menginjak 5-6 tahun. Pada usia ini kebiasaan ngompol di malam hari dianggap wajar karena anak memang belum terbiasa untuk mengontrol air kemih saat mereka tertidur. Tapi itu pun harus diteliti terlebih dahulu jenis ngompolnya.

Menurut Sudung, ada dua jenis ngompol. Pertama adalah ngompol normal yang disebut enuresis. Ngompol ini biasanya berhenti bila anak sudah berusia 7 tahun. Kedua, disebut incontinence urine. Yakni kebiasaan ngompol yang sulit dicegah oleh penderita, tak hanya saat ia tertidur saja. Inkontinensia ini terjadi karena kelainan kandung kemih. Biasanya keluarnya air kemih tidak selalu lancar tapi hanya sekadar menetes saja.

Umumnya kebiasaan ngompol tidak berbahaya selama tidak diikuti gejala penyakit lain. Misalnya kesulitan atau sakit saat buang air kecil, sering demam, dan mengeluarkan air kemih dalam jumlah berlebihan.

Terapi Alarm
Enuresis atau kebiasaan ngompol yang normal tak membutuhkan terapi desmopressin. Kebiasaan ngompol ini mungkin terjadi karena faktor psikologis atau kebiasaan pada anak itu sendiri. Misalnya, anak yang selalu ngedot -minum susu menggunakan botol- pada saat hendak tidur, kemungkinan ngompol akan sangat besar. Sebaliknya anak yang jarang minum sebelum tidur kebiasaan ngompol mungkin tak terlalu sering.
Bagaimanapun, kebiasaan ngompol perlu ditanggulangi sejak dini meski tak harus selalu diobati. Pembiasaan sejak kecil, menurut Sudung sangat menentukan apakah anak terbiasa ngompol atau tidak. “Anak yang menjalani toilet training sejak usia 1 tahun biasanya lebih mudah mengontrol pipisnya saat ia tidur. Begitu pula dengan anak yang dibiasakan buang air kecil terlebih dahulu sebelum tidur.”

Sayangnya, tidak setiap orangtua memberlakukan kebiasaan ini pada anak-anak mereka. Akibatnya anak-anak pun jadi tidak terlatih untuk tidak mengompol. Untuk itu, menurut Sudung ada beberapa terapi yang bisa dilakukan. Salah satunya menggunakan alarm. Penggunaan alarm ini bermanfaat untuk melatih daya ingat si kecil untuk bangun saat ia ingin buang air kecil.

Alat ini bekerja dengan detektor yang berfungsi mendeteksi apakah ada cairan urine yang keluar. Bila ada maka alarm ini akan berbunyi dan akan membangunkan anak. Pemakaian alarm biasanya tidak berlangsung lama. Jika si kecil sudah terbiasa bangun pada saat ia ingin pipis maka alarm sudah berhasil sebagai detektor pengingat sekaligus menanamkan kebiasaan pada anak.

“Namun, penggunaan alarm tidak akan serta merta membuat anak bangun saat ia ingin pipis,” papar Sudung. “Mungkin di minggu pertama pemakaian, anak masih tetap tertidur meski sudah dipasang alarm. Orangtualah yang akan membantu mereka untuk bangun. Tapi biasanya anak-anak akan mulai terbiasa setelah 2-3 minggu.”

Welcome to the Ngompol World!
Ngompol sebenarnya bukan hal yang aneh. Menurut survei di Inggris sana, setengah juta anak Inggris berusia 6-16 tahun masih suka ngompol. Survei lain di Inggris, Irlandia, Belanda, dan Selandia Baru tahun 1998 lalu menunjukkan, 1 di atara 6 (17%) anak berusia 5 tahun masih ngompol secara teratur. 14% anak berusia 7 tahun, 9% anak berusia 9 tahun, dan 1-2% anak berusia 15 tahun, masih ngompol juga! Umumnya anak yang ngompol sehat-sehat saja secara fisik. Gangguan ini juga sebenarnya bisa ditangani. Cuma umumnya anak dan orangtua lebih memilih diam daripada mencari penanganan.

Penyebab Si Basah…Sah
Penyebab ngompol umumnya tidak diketahui. Namun seringkali ngompol dihubungkan dengan faktor-faktor seperti:
• Keturunan. Seringkali ngompol menurun dalam keluarga.

• Ketidakmampuan untuk bangun malam hari dan pergi ke toilet. Anak yang ngompol biasanya kalau tidur lelap sekali.

• Keterlambatan dalam mengontrol kandung kemih di malam hari. Jika kasusnya ini, keadaan akan makin membaik seiring waktu, meski butuh waktu beberapa tahun. Sekitar 1% anak tetap ngompol sampai masa puber.

• Kekurangan ADH. Hormon ini, yang mengurangi produksi air kemih saat malam ahri, jumlahnya kurang banyak pada sekitar 20-30% anak.

TG/YP

Sumber: Tabloid Ibu Anak