Depol, Akibat Kurang Hormon


sumber : Mother And Baby

Ngompol bukan disebabkan faktor psikologis semata. Bisa jadi, penyebabnya karena anak kekurangan anti-diuretic hormone.
Kebiasaan ngompol pada anak sering membuat si kecil merasa rendah diri. Apalagi jika kebiasaan ini berlanjut hingga memasuki usia sekolah. Malu rasanya kalau dipangil depol, alias sudah gede tapi masih ngompol.

Orangtua umumnya menganggap, kebiasaan ngompol berkaitan dengan masalah psikologis yang dihadapi anak. Seperti perasaan tertekan, takut, atau tidak aman. Tapi kini para orangtua perlu lebih teliti karena kebiasaan ngompol yang terus-menerus bisa jadi penyebabnya akibat kurang hormon ADH (anti-diuretic hormone), yakni hormon yang bisa mengurangi produksi air kemih saat malam hari. Bila anak kurang hormon ADH, ia akan mengalami kelainan fungsi kandung kemih sehingga anak tak bisa mengontrol produksi air kemihnya. Akibatnya, di saat tidur si kecil ngompol.

Menurut Dr. Sudung O. Pardede Sp.A.(K), spesialis penyakit ginjal dan saluran kandung kemih anak, kekurangan hormon ADH bisa diakibatkan oleh beberapa sebab. Umumnya, kekurangan ADH bukan disebabkan faktor genetik atau keturunan, tapi biasanya terjadi karena faktor bawaan saat lahir atau karena berbagai penyakit seperti tumor atau infeksi di otak. Bila ini penyebabnya, menurut Sudung ada kemungkinan jaringan kelenjar hipofisis yang memproduksi hormon ADH terganggu. “Anak pun akan mengalami kekurangan hormon ADH dan jadi sering ngompol. Dalam bahasa kedokteran, ini disebut diabetes insipidus.”

Pemeriksaan Sejak Dini
Sejauh ini, menurut dokter sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UI ini, persentase anak yang mengalami kekurangan hormon ADH terbilang kecil. Namun, sebaiknya anak yang memiliki kebiasaan ngompol sesegera mungkin menjalani pemeriksaan. Bila penyebabnya karena kelainan hormon ADH, terapi yang diberikan adalah pemberian hormon buatan yang disebut desmopressin. Hormon buatan ini akan membantu meningkatkan hormon ADH di tubuh anak sehingga si kecil bisa menyeimbangkan produksi air kemih dan pengeluarannya saat ia tertidur.

Sejauh ini, pemberian desmopressin menurut Sudung tak mengakibatkan dampak negatif pada anak. Kecuali, pada beberapa anak yang sensitif mengakibatkan rasa pusing sesaat. “Pemakaian desmopressin juga mengurangi pengeluaran cairan dari tubuh, dan potensial membuat anak menahan cairan jika minum terlalu banyak setelah meminum obat.” Jadi sangat penting bagi anak yang mendapatkan terapi desmopressin untuk mengurangi minum sebelum tidur.
Normalnya seorang anak mengompol hingga usia mereka menginjak 5-6 tahun. Pada usia ini kebiasaan ngompol di malam hari dianggap wajar karena anak memang belum terbiasa untuk mengontrol air kemih saat mereka tertidur. Tapi itu pun harus diteliti terlebih dahulu jenis ngompolnya.

Menurut Sudung, ada dua jenis ngompol. Pertama adalah ngompol normal yang disebut enuresis. Ngompol ini biasanya berhenti bila anak sudah berusia 7 tahun. Kedua, disebut incontinence urine. Yakni kebiasaan ngompol yang sulit dicegah oleh penderita, tak hanya saat ia tertidur saja. Inkontinensia ini terjadi karena kelainan kandung kemih. Biasanya keluarnya air kemih tidak selalu lancar tapi hanya sekadar menetes saja.

Umumnya kebiasaan ngompol tidak berbahaya selama tidak diikuti gejala penyakit lain. Misalnya kesulitan atau sakit saat buang air kecil, sering demam, dan mengeluarkan air kemih dalam jumlah berlebihan.

Terapi Alarm
Enuresis atau kebiasaan ngompol yang normal tak membutuhkan terapi desmopressin. Kebiasaan ngompol ini mungkin terjadi karena faktor psikologis atau kebiasaan pada anak itu sendiri. Misalnya, anak yang selalu ngedot -minum susu menggunakan botol- pada saat hendak tidur, kemungkinan ngompol akan sangat besar. Sebaliknya anak yang jarang minum sebelum tidur kebiasaan ngompol mungkin tak terlalu sering.
Bagaimanapun, kebiasaan ngompol perlu ditanggulangi sejak dini meski tak harus selalu diobati. Pembiasaan sejak kecil, menurut Sudung sangat menentukan apakah anak terbiasa ngompol atau tidak. “Anak yang menjalani toilet training sejak usia 1 tahun biasanya lebih mudah mengontrol pipisnya saat ia tidur. Begitu pula dengan anak yang dibiasakan buang air kecil terlebih dahulu sebelum tidur.”

Sayangnya, tidak setiap orangtua memberlakukan kebiasaan ini pada anak-anak mereka. Akibatnya anak-anak pun jadi tidak terlatih untuk tidak mengompol. Untuk itu, menurut Sudung ada beberapa terapi yang bisa dilakukan. Salah satunya menggunakan alarm. Penggunaan alarm ini bermanfaat untuk melatih daya ingat si kecil untuk bangun saat ia ingin buang air kecil.

Alat ini bekerja dengan detektor yang berfungsi mendeteksi apakah ada cairan urine yang keluar. Bila ada maka alarm ini akan berbunyi dan akan membangunkan anak. Pemakaian alarm biasanya tidak berlangsung lama. Jika si kecil sudah terbiasa bangun pada saat ia ingin pipis maka alarm sudah berhasil sebagai detektor pengingat sekaligus menanamkan kebiasaan pada anak.

“Namun, penggunaan alarm tidak akan serta merta membuat anak bangun saat ia ingin pipis,” papar Sudung. “Mungkin di minggu pertama pemakaian, anak masih tetap tertidur meski sudah dipasang alarm. Orangtualah yang akan membantu mereka untuk bangun. Tapi biasanya anak-anak akan mulai terbiasa setelah 2-3 minggu.”

Welcome to the Ngompol World!
Ngompol sebenarnya bukan hal yang aneh. Menurut survei di Inggris sana, setengah juta anak Inggris berusia 6-16 tahun masih suka ngompol. Survei lain di Inggris, Irlandia, Belanda, dan Selandia Baru tahun 1998 lalu menunjukkan, 1 di atara 6 (17%) anak berusia 5 tahun masih ngompol secara teratur. 14% anak berusia 7 tahun, 9% anak berusia 9 tahun, dan 1-2% anak berusia 15 tahun, masih ngompol juga! Umumnya anak yang ngompol sehat-sehat saja secara fisik. Gangguan ini juga sebenarnya bisa ditangani. Cuma umumnya anak dan orangtua lebih memilih diam daripada mencari penanganan.

Penyebab Si Basah…Sah
Penyebab ngompol umumnya tidak diketahui. Namun seringkali ngompol dihubungkan dengan faktor-faktor seperti:
• Keturunan. Seringkali ngompol menurun dalam keluarga.

• Ketidakmampuan untuk bangun malam hari dan pergi ke toilet. Anak yang ngompol biasanya kalau tidur lelap sekali.

• Keterlambatan dalam mengontrol kandung kemih di malam hari. Jika kasusnya ini, keadaan akan makin membaik seiring waktu, meski butuh waktu beberapa tahun. Sekitar 1% anak tetap ngompol sampai masa puber.

• Kekurangan ADH. Hormon ini, yang mengurangi produksi air kemih saat malam ahri, jumlahnya kurang banyak pada sekitar 20-30% anak.

TG/YP

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s