Sore Throat / Radang Tenggorokan

sumber :http://health.kompas.com/direktori/yourbody/152/Sore.Throat.#detail

DEFINISI
Tenggorokan kering, bengkak dan sakit adalah tanda radang tenggorokan yang dapat membuat anda tidak nyaman. Radang tenggorokan – disebut juga pharyngtis – paling sering disebabkan oleh infeksi virus seperti pilek atau flu. Pada banyak kasus, radang tenggorokan adalah tanda awal anda akan sakit.

Radang tenggorokan umumnya adalah alasan utama seseorang menemui dokter. Tapi sebenarnya hal itu tidak diperlukan. Pada banyak kasus, sakit tenggorokan yang disebabkan virus akan hilang dengan sendirinya. Radang tenggorokan jarang yang disebabkan infeksi bakteri yang membutuhkan perawatan medis atau dengan antibiotik. Obat-obat tanpa resep dan perawatan di rumah sebenarnya dapat membantu meringankan gejala sampai anda merasa lebih baik.

GEJALA
Gejala radang tenggorokan antara lain :
• Kering, luka kecil atau bengkak pada tenggorokan
• Sakit ketika menelan, bernapas atau berbicara

Sakit tenggorokan biasanya terjadi karena infeksi. Sebagai contoh, jika sakit tenggorokan disebabkan pilek, anda mungkin juga akan batuk, demam, bersin, tidak enak badan atau hidung berlendir.

Pada banyak kasus, jika mengacu pada pemicunya seperti pilek atau flu, radang tenggorokan akan pulih dengan sendirinya paling tidak seminggu. Hanya sedikit saja kasus radang tenggorokan yang membutuhkan perawatan agar pasien merasa lebih baik.

Tanda-tanda radang tenggorokan dapat menjadi serius yang disebabkan suatu hal – seperti radang amandel atau radang karena bakteri – antara lain :

• Putih atau nanah pada tenggorokan atau amandel
• Tidak mampu menelan
• Radang tenggorokan tidak membaik dengan sendirinya atau selalu timbul lagi
• Muntah
• Ruam pada kulit
• Sakit kepala
• Rasa sakit pada tenggorokan yang parah
• Bengkak, kemerahan pada amandel
• Demam tinggi – lebih dari 38,3 Celsius pada bayi di bawah 6 bulan atau 39,4 Celsius pada anak dan orang dewasa

Penyebab & Faktor Risiko
Penyebab

Penyebab paling sering dari radang tenggorokan adalah virus yang sama dengan penyebab pilek dan flu. Sedangkan radang tenggorokan yang disebabkan infeksi bakteri lebih jarang. Baik virus maupun bakteri, keduanya masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan hidung – karena anda menghirup partikel bebas dari udara ketika seseorang batuk atau bersin, atau karena anda melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi atau menggunakan sesuatu alat bersama-sama.

Karena kuman yang menyebabkan sakit tenggorokan menular, mereka dapat menyebar dengan mudah di manapun terdapat berkumpulnya orang-orang, seperti sekolah atau kantor.

– Virus
Sakit karena virus yang paling banyak menyebabkan radang tenggorokan antara lain:
• Pilek
• Flu
• Mononucleosis

Sakit karena virus lain yang dapat menyebabkan radang tenggorokan antara lain:
• Campak
• Cacar
• Batuk dengan napas sesak – panyakit umum pada anak-anak yang ditandai dengan ruam dan batuk berdahak

– Infeksi bakteri
Infeksi bakteri yang dapat menyebabkan sakit tenggorokan antara lain:
• Sakit tenggorokan akibat bakteri
• Sakit amandel
• Diphtheria – sakit pernapasan serius yang jarang pada negara industri tapi lebih umum ada di negara berkembang

Penyebab lain
Penyebab lain sakit tenggorokan antara lain :
• Alergi. Bulu hewan peliharaan, jamur dan serbuk sari yang memicu reaksi alergi seperti kemerahan, mata bengkak dan hidung berlendir dapat menyebabkan sakit tenggorokan.

• Kekeringan. Udara kering di dalam ruangan, khususnya ketika musim dingin dimana ruangan cenderung kelebihan panas, dapat membuat tenggorokan anda terasa kasar dan gatal, terutama sekali di pagi hari ketika anda bangun tidur pertama kali. Bernapas melalui mulut – sering disebabkan oleh hidung tersumbat – juga dapat menyebabkkan kekeringan yang kemudian menjadi sakit tenggorokan.

• Polusi dan iritan lainnya. Polusi udara luar ruangan dapat menyebabkan tenggorokan teriritasi. Tetapi polusi di dalam ruangan – khususnya asap tembakau – bahkan menjadi penyebab yang lebih besar dari kasus sakit tenggorokan kronis. Selain itu penjadi perokok pasif, minum minuman beralkohol dan makan makanan pedas juga dapat membuat tenggorokan bengkak.

• Ketegangan otot. Anda dapat mengalami ketegangan otot di tenggorokan seperti halnya anda mengalami di lengan atau kaki. Jika anda pernah mengalami sakit tenggorokan setelah bersorak di acara konser atau olahraga, anda sepertinya mengalami ketegangan pada otot tenggorokan. Suara anda mungkin juga menjadi serak (gejala laryngitis).

• Acid gastroesophageal reflux disease (GERD). Ini terjadi ketika asam lambung memenuhi saluran makanan (esophagus). Normalnya, lower esophageal sphincter mencegah asam naik ke esophagus. Tapi jika sphincter tidak normal atau lemah, asam lambung dapat naik, mengiritasi tenggorokan seperti hal nya esophagus. Iritasi tenggorokan yang disebabkan oleh GERD tidak terjadi pada gejala lain seperti infeksi virus, dan ini cenderung berkepanjangan, membutuhkan lebih dari sekedar beberapa hari untuk hilang. Hal ini juga jauh lebih umum terjadi pada orang dewasa daripada anak-anak. Pada banyak kasus, anda dapat mencegah atau mengurangi GERD secara sederhana dengan merubah gaya hidup anda – contohnya kurangi berat badan yang berlebih, hindari makanan yang menyebabkan anda tidak nyaman dan tidak makan sebelum tidur. Ketika hal ini tidak efektif, obat tanpa resep maupun dengan resep dapat menawarkan beberapa pertolongan.

• Infeksi HIV. Orang dengan HIV positif kadang juga menderita sakit tenggorokan kronis. Hal ini karena infeksi sekunder seperti infeksi virus cytomegalovirus, infeksi virus yang umum terjadi dapat dengan ekstrim menjadi serius pada orang dengan sistem imun yang lemah.

• Tumor. Jika anda merokok atau minum alkohol, anda memiliki risiko tinggi tumor di tenggorokan, lidah dan pita suara. Pada beberapa orang tumor ini memiliki banyak tanda dan gejala. Pada orang yang lainnya, pada mereka dapat terjadi suara serak, pembengkakan dan sakit tenggorokan.

Faktor risiko
Meskipun seseorang dapat mengalami sakit tenggorokan, beberapa faktor risiko mambuat anda lebih mungkin mengalami sakit tenggorokan. Faktor tersebut adalah :

• Usia. Anak dan remaja paling banyak mengalami sakit tenggorokan. Anak-anak palinh umum mengalami masalah tenggoroKan terkait dengan infeksi bakteri.
• Menjadi perokok aktif maupun perokok pasif. Asap tembaka, mengandung ratusan racun yang dapat mengiritasi lapisan tenggorokan.
• Alergi. Jika anda memiliki alergi yang musiman pada debu, jamur atau bulu binatang yang lebih mudah terkena tenggorokan sakit daripada orang yang tidak memilkinya.
• Terkena iritan kimia. Partikel yang melayang-layang di udara dari asap pembakaran seperti hal nya kimia rumah lain.
• Infeksi sinus kronis attau rutin. Pembasahan di hidung atau atau infeksi sinus dapat menyebabkan iritasi tenggorokan.
• Tinggal atau bekerja secara berdekatan. Infeksi dan bakteri dapat menyebar di tempat orang berkumpul.
• Rendahnya kebersihan. Mencuci tangan anda secara hati-hati dan sering adalah jalan terbaikuntuk mencegah banyak infeksi virus dan jamur.
• Sistem imun yang rendah. Anda lebih rentan terinfeksi virus jika ketahanan tubuh anda rendah.

Pencegahan

Jalan terbaik untuk mecegah penyakit ini sebenarnya sangat sederhana: cuci tangan secara rutin. Pembersih tangan yang mengandung alkohol merupakan alternatif yang sangat baik untuk mencuci tangan, khususnya jika sabun dan air tidak tersedia.
Coba tips berikut ini untuk menjaga anda dan anak anda sehat :

• Hindari berbagi perlengkapan makan, gelas, serbet, makanan atau handuk.
• Hindari menyentuh telepon umum atau peralatan umum lain dengan mulut
• Secara rutin bersihkan telepon, keyboard PC dan remotes TV dengan pembersih. Ketika anda melakukan perjalanan, bersihkan telepon dan remote di kamar hotel anda.
• Hindari kontak secara dekat dengan orang yang sakit
• Sebisa mungkin tetap dirumah saat hari dengan polusi yang tinggi
• Jangan merokok, dan hindari menjadi perokok pasif
• Gunakan pelembab ruangan jika udara dirumah anda kering
• Gunakan tisu saat batuk dan bersin kemudian buang
• Ketika di dalam pesawat, jaga agar lubang angin di atas anda tertutup. Sirkulasi udara dapat menjadi sumber penyebaran virus.

TRAUMA KEPALA

sumber : http://milissehat.web.id/?p=99

9/23/2008

Trauma kepala umum terjadi pada anak pada umur berapapun. Penyebab trauma kepala ini antara lain jatuh, kecelakaan saat berolahraga, kecelakaan lalu lintas, dan trauma bukan karena kecelakaan.

Pemeriksaan
Lakukan primary survey dan pastikan jalan napas, tulang servikal, pernapasan dan sirkulasi anak dalam keadaan aman.
Segera periksa status mental anak dengan meggunakan skala AVPU. Gunakan penekanan pada supraorbital yang cukup keras sebagai rangsang nyeri.

A Alert (sadar)
V Responds to voice (berespon terhadap suara)
P Responds to pain (berespon terhadap nyeri)

Purposefully
Non-purposefully

Withdrawal/flexor response
Extensor response

U Unresponsive (tidak berespon)

Nilai ukuran pupil, sama tidaknya dan reaktivitasnya, dan cari tanda-tanda neurologis fokal lainnya.
Lakukan secondary survey untuk melihat secara spesifik pada:

* Leher dan tulang servikal – deformitas, nyeri, spasme otot
* Kepala – lecet di kulit kepala, laserasi, pembengkakan, nyeri, Battles
* Mata – ukuran pupil, ekualitas dan reaktivitas, funduskopi
* Telinga – darah di belakang gendang telinga, kebocoran LCS
* Hidung – deformitas, pembengkakan, perdarahan, kebocoran LCS
* Mulut – trauma gigi, trauma jaringan lunak
* Patah tulang wajah
* Fungsi motorik – periksa alat gerak untuk melihat adanya refleks dan kelemahan sesisi
* Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma Score
* Pertimbangkan kemungkinan adanya trauma non-kecelakaan selama secondary survey terutama pada bayi dengan trauma kepala
Trauma lain

Dapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai kejadian kecelakaan. Secara spesifik tentukan:

* Waktu, mekanisme, dan keadaan trauma
* Hilangnya kesadaran dan durasinya
* Mual dan muntah
* Kondisi klinis sebelum dibawa ke dokter – stabil, memburuk, membaik
Luka-luka lainnya

Derajat Kesadaran – Glasgow coma scale (GCS)
Mata membuka Respon Verbal
(modifikasi untuk anak kecil dengan tulisan merah)
Spontan 4 Orientasi baik
Kata-kata yang tepat, senyum 5
Dengan suara 3 Bingung
Menangis tetapi dapat ditenangkan 4
Terhadap nyeri 2 Kata-kata yang tidak tepat
Terus-menerus rewel 3
Tidak ada 1 Kata-kata yang tidak dapat dimengerti
Lelah dan gelisah 2
Tidak ada
Tidak ada 1
Respon motorik
Menuruti perintah 6
Melokalisasi rangsang 5
Menarik dari rangsang 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi 2
Tidak ada respon 1

Tatalaksana
Trauma kepala ringan:

* Tidak kehilangan kesadaran
* Satu kali atau tidak ada muntah
* Stabil dan sadar
* Dapat mengalami luka lecet atau laserasi di kulit kepala
* Pemeriksaan lainnya normal

Anak-anak ini dapat dipulangkan dari Gawat Darurat untuk kemudian dirawat oleh orang tuanya. Jika terdapat keraguan apakah telah terjadi hilangnya kesadaran atau tidak, anggap telah terjadi dan tatalaksana sebagai trauma kepala sedang. Pastikan orang tua mendapatkan instruksi yang jelas mengenai tatalaksana anak mereka di rumah terutama untuk segera kembali ke rumah sakit jika anak:

* menjadi tidak sadar atau sulit dibangunkan
* menjadi bingung
* mengalami kejang
* timbul sakit kepala menetap
* berulang kali muntah
* keluar darah atau cairan dari hidung atau telinga

Trauma kepala sedang:

* Kehilangan kesadaran singkat saat kejadian
* Saat ini sadar atau berespon terhadap suara. Mungkin mengantuk
* Dua atau lebih episode muntah
* Sakit kepala persisten
* Kejang singkat (<2menit) satu kali segera setelah trauma
* Mungkin mengalami luka lecet, hematoma, atau laserasi di kulit kepala
* Pemeriksaan lainnya normal

Jika berdasarkan anamnesis dari keluarga atau petugas ambulans, anak tidak mengalami penurunan secara neurologis maka anak dapat diobservasi di IGD selama 4 jam dengan observasi tiap 30 menit (kesadaran, nadi, frekuensi napas, tekanan darah, pupil, dan kekuatan motorik). Anak dapat dipulangkan jika terdapat perbaikan selama 4 jam menjadi dalam keadaan sadar dan tidak terdapat muntah. Sakit kepala persisten, hematoma yang besar, atau luka penetrasi dapat membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Jika anak masih mengantuk atau muntah atau bila terdapat perburukan selama 4 jam, diskusikan dengan ahli bedah saraf untuk rawat inap dan penyelidikan lebih lanjut.

Trauma kepala berat:

* Kehilangan kesadaran dalam waktu lama
* Status kesadaran menurun – responsif hanya terhadap nyeri atau tidak responsif
* Terdapat kebocoran LCS dari hidung atau telinga
* Tanda-tanda neurologis lokal (pupil yang tidak sana, kelemahan sesisi)
* Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial:
o Herniasi unkus: dilatasi pupil ipsilateral akibat kompresi nervus okulomotor
o Herniasi sentral: kompresi batang otak menyebabkan bradikardi dan hipertensi
* Trauma kepala yang berpenetrasi
* Kejang (selain Kejang singkat (5cm pada bayi di bawah 1 tahun
* Mengalami kecelakaan lalu lintas dengan kecepatan tinggi
* Jatuh dari ketinggian lebih dari 3 meter
* Terluka oleh benda atau sesuatu dengan kecepatan tinggi

PANDUAN UNTUK ORANG TUA

Anak-anak seringkali mengalami benturan di kepala dan sulit untuk diketahui apakah hal itu merupakan masalah yang serius atau tidak. Jika anak Anda terbentur di kepala, sebaiknya Anda menemui dokter. Trauma kepala adalah benturan apa pun yang mengenai kepala yang menyebabkan benjol, luka lecet, robekan, atau luka yang lebih parah pada kepala anak. Kebanyakan trauma kepala bukan merupakan hal yang serius dan hanya menimbulkan benjol atau luka lecet. Namun terkadang trauma kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada otak.

Cari bantuan medis segera jika :

Anak Anda mengalami benturan keras di kepala, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan mobil.
Anak Anda kehilangan kesadaran.
Anak Anda tampak tidak sehat dan muntah beberapa kali setelahnya

Gejala dan Tanda
Gejala trauma kepala digunakan untuk menentukan berat tidaknya trauma tersebut. Trauma kepala dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat.

Trauma kepala berat adalah ketika anak Anda:

* Tidak sadar lebih dari 30 detik.
* Mengantuk dan tidak berespon terhadap suara Anda.
* Memiliki tanda-tanda trauma kepala lain yang signifikan, seperti lebar pupil yang tidak sama, kelemahan lengan dan kaki.
* Ada sesuatu yang tersangkut di kepalanya.
* Mengalami kejang kedua selain kejang singkat pertama ketika trauma terjadi.
* Anda sebaiknya menghubungi ambulans segera jika anak Anda mengalami trauma kepala berat.

Trauma kepala sedang adalah ketika anak Anda:

* Tidak sadar selama kurang dari 30 detik.
* Sadar dan berespon terhadap suara Anda.
* Muntah 2 kali atau lebih.
* Sakit kepala.
* Kejang singkat satu kali dapat terjadi langsung setelah trauma .
* Bisa mengalami luka lecet, benjol, atau luka robek yang besar di kepala.

Anak Anda sebaiknya diawasi dengan ketat di rumah sakit selama paling sedikit 4 jam setelah trauma kepala sedang.

Trauma kepala ringan adalah ketika anak Anda:

* Tidak kehilangan kesadaran/tidak pingsan.
* Sadar atau dapat berinteraksi dengan Anda.
* Mungkin muntah, namun hanya sekali.
* Bisa terdapat luka lecet atau robek di kepalanya.
* Selain itu normal.

Tatalaksana untuk trauma kepala ringan
Sebagian besar anak dengan trauma kepala ringan sembuh sepenuhnya. Sebagian besar benturan ringan hanya menyebabkan luka lecet dan nyeri sebentar.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang mengalami trauma untuk membantu mengurangi bengkak.
Jika terdapat luka, tutup dengan perban bersih dan tekan selama 5 menit. Luka robek di kepala sering berdarah banyak.

Masalah-masalah yang harus diperhatikan 1-2 hari setelahnya:

Sakit kepala. Anak Anda dapat mengalami sakit kela. Berikan parasetamol tiap 4-6 jam jika diperlukan untuk menghilangkan nyeri.
Muntah. Anak Anda dapat mengalami muntah sekali, namun jika muntah berkelanjutan, bawalah ke dokter.
Mengantuk. Segera setelah trauma kepala Anak Anda mungkin merasa mengantuk. Anda tidak perlu menjaganya agar tetap bangun bila ia ingin tidur. Jika anak Anda tidur, bangunkan tiap ½-1 jam untuk memeriksa kondisinya dan reaksinya pada hal-hal yang dikenalnya. Anda sebaiknya melakukan ini sampai ia tak lagi mengantuk dan telah terjaga selama beberapa jam. Beberapa pertanyaan yang dapat Anda ajukan:

* Apakah ia mengetahui namanya?
* Apakah ia mengetahui nama orang lain yang dikenalnya?
* Apakah ia mengetahui hari apa hari ini?
* Atau jika anak Anda masih kecil: apakah reaksinya tampak sesuai? Misalnya mengambil sebuah mainan. Apakah ia tampak interaktif dan tidak terlalu rewel?

Jika Anda mengalami kesulitan membangunkan anak Anda, bawa anak ke gawat darurat terdekat atau hubungi ambulans.
Jika perilaku anak Anda sangat berbeda dengan perilaku normalnya atau bila nyeri tidak hilang, pergilah ke dokter.

Follow up
Beberapa masalah yang mungkin timbul akibat trauma kepala bisa sulir untuk dideteksi pada awalnya. Pada beberapa minggu selanjutnya orang tua mungkin melihat adanya:

* Rewel
* Mood yang berganti-ganti
* Kelelahan
* Masalah konsentrasi
* Perubahan perilaku

Sampaikan pada dokter Anda jika Anda khawatir akan tanda-tanda tersebut.

Temui dokter Anda atau kembali ke rumah sakit segera jika anak Anda mengalami/memiliki:

* Perilaku yang tidak lazim
* Sakit kepala terus menerus atau beray yang tidak hilang dengan parasetamol (rewel pada bayi)
* Muntah berulang kali
* Keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung.
* Kejang atau spasme pada wajah, lengan, atau kaki
* Sulit bangun
* Sulit untuk tetap terjaga
* Jika Anda merasa khawatir dengan sebab apapun

Hal-hal yang harus diingat
Jika anak Anda mengalami trauma kepala, sebaiknya temui dokter.
Berikan es atau handuk dingin pada daerah yang terkena trauma untuk membantu mengurangi bengkak.

Algoritme Evaluasi dan Triase Anak dan Remaja dengan Trauma Kepala (Berdasarkan American Academy of Pediatrics dan American of Family Physician)

Keterangan

(A) Parameter ini ditujukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan yang sebelumnya sehat secara neurologis yang memiliki status mental normal, tanpa kelainan neurologis fokal (termasuk funduskopi), dan tidak terdapat tanda fisik fraktur tengkorak (seperti hemotimpanum, Battle’s sign).

(B) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten dianjurkan untuk anak dengan trauma kepala tertutup ringan tanpa kehilangan kesadaran.

(C) Observasi di klinik, tempat praktek, IGD, atau di rumah, di bawah perawatan petugas yang kompeten mungkin dilakukan untuk tatalaksana anak dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran.

(D) CT scan bersama dengan observasi dapat dilakukan untuk evaluasi dan tatalaksana awal dengan trauma kepala tertutup ringan dengan kehilangan kesadaran singkat.

(E) Jika pencitraan diperlukan oleh dokter dan jika baik CT scan dan foto Roentgen kepala tersedia, CT scan merupakan modalitas pilihan, karena sensitivitas dan spesifisitasnya yang lebih baik. Apabila tidak terdapat CT scan, foto Roentgen kepala dapat membantu dokter untuk mengetahui adanya resiko kerusakan intrakranial. Namun fraktur tengkorak dapat dideteksi pada foto kepala tanpa adanya jejas intrakranial dan kadang-kadang terdapat kerusakan intrakranial meskipun tidak terdapat fraktur tengkorak pada foto kepala. Apakah adanya kerusakan intrakranial berdasarkan hasil pada foto kepala cukup untuk merubah strategi penanganan bergantung keinginan dokter dan keluarga.

(F) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Magnetic Resonance Imaging (MRI) lebih sensitif daripada CT dalam mendiagnosis lesi intrakranial tertentu. Namun, saat ini tidak terdapat perbedaan antara CT dan MRI dalam mendiagnosis trauma dan perdarahan intrakranial akut yang secara klinis signifikan yang membutuhkan intervensi bedah saraf. CT lebih cepat dan lebih mudah dibanding MRI dan biaya CT lebih murah daripada MRI.

(G) Pasien yang secara neurologis normal dengan CT scan yang normal memiliki resiko yang sangat rendah untuk terjadinya perburukan. Pasien dapat dipulangkan untuk observasi oleh orang yang dapat dipercata jika CT scan setelah trauma normal. Keputusan untuk melakukan observasi di rumah diambil dengan mempertimbangkan kemungkinan anak harus kembali ke rumah sakit dan besarnya tingkat kepercayaan pada orang tua atau orang yang akan melakukan observasi. Observasi dapat pula dilakukan di klinik, tempat praktek, IGD, atau rumah sakit tergantung keinginan dokter dan orang tua.

(H) Jika CT scan menunjukkan adanya kelainan, tergantung kelainan tersebut apakah akan dirujuk atau tidak dan jika perlu konsultasi dengan subspesialis yang sesuai.

(I) Jika status neurologis anak memburuk selama observasi, dilakukan pemeriksaan neurologis menyeluruh, bersamaan dengan CT scan segera setelah kondisi pasien stabil. Jika pada pengulangan CT scan menunjukkan kelainan patologis intrakranial baru, diperlukan konsultasi dengan subspesialis.
Referensi :

1. American Academy of Pediatrics Committee on Quality Improvement. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari http://www.aap.org

2. American Academy of Family Physicians Commission on Clinical Polices and Research. The Management of minor closed head injury in children. August, 2007. Diakses dari http://www.aafp.org

3. Royal Childrens Hospital. Clinical practice guidelines: Head injury. Diakses dari http://www.rch.au.org
4. Royal Childrens Hospital. Kids health info for parents: Head injury. Updated June 26, 2006. Diakses dari http://www.rch.au.org.

dr. Veda

Tuberkulosis (TB)

sumber : http://milissehat.web.id/?p=101

12/31/2006

Diperkirakan sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab tuberculosis (TB).1 Dan dari populasi yang terinfeksi tersebut, setiap tahun lebih dari 8 juta orang menjadi sakit, serta 2 juta orang meninggal karena TB. Dari seluruh kasus, 11%-nya dialami oleh anak-anak di bawah 15 tahun. Menurut perhitungan global lainnya, setiap tahun 1,5 juta kasus baru TB dan 130.000 kematian akibat TB terjadi pada populasi anak, dengan kisaran persentasi yang sangat luas antar berbagai negara di dunia (antara 3-25%).1,2 Namun seringkali TB pada populasi anak tidak ditempatkan sebagai prioritas utama oleh program penanganan TB nasional karena beberapa alasan:2

* Kesulitan diagnosis
* Jarangnya penularan dari TB anak
* Sumber daya yang terbatas
* Keyakinan yang salah mengenai BCG
* Kurangnya data mengenai pengobatan

Definisi Penting

* Infeksi TB: infeksi pada orang yang terpapar Mycobacterium tuberculosis tanpa adanya gejala penyakit. Juga disebut infeksi laten TB. Umumnya didiagnosis dengan tes tuberkulin kulit.1
* Penyakit TB: infeksi TB dengan gejala penyakit. Juga disebut sebagai TB aktif.

TB pada Anak

TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.3 Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1.1,3 TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.1 Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).3

Selain oleh M. tuberculosis dari orang dewasa atau anak lain, anak dapat terinfeksi Mycobacterium bovis dari susu sapi yang tidak dipasteurisasi.3 Infeksi M. bovis ini umumnya bermanifestasi sebagai TB kelenjar getah bening atau TB usus.

Sebagian besar anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak menjadi sakit selama masa anak-anak.3 Satu-satunya bukti infeksi mungkin hanyalah tes tuberkulin kulit yang positif. Kemungkinan paling besar anak menjadi sakit dari infeksi M. tuberculosis adalah segera setelah infeksi dan menurun seiring waktu. Jika anak yang terinfeksi menjadi sakit, sebagian besar akan menunjukkan gejala dalam jangka waktu satu tahun setelah infeksi. Namun untuk bayi, jangka waktu tersebut mungkin hanya 6-8 minggu.

Faktor Risiko TB

Anak dengan risiko tinggi untuk mengalami TB antara lain:1

* Anak yang mengalami kontak dengan kasus baru yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif
* Anak kurang dari 5 tahun
* Anak dengan infeksi HIV
* Anak dengan kurang gizi yang berat

Diagnosis TB

Pada anak, diagnosis TB dapat didasarkan pada beberapa hal berikut:1

* Kontak dengan kasus sumber

Kontak dekat didefinisikan sebagai tinggal bersama di satu rumah atau mengalami kontak yang sering dengan kasus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif TB. Kasus sumber yang negatif pemeriksaan dahaknya dengan mikroskop namun positif dengan kultur juga infeksius, namun tidak seberbahaya kasus sumber dengan pemeriksaan dahak mikroskopik yang positif.

Dengan dasar tersebut, ada beberapa poin yang penting:1

* Anak di bawah 5 tahun yang mengalami kontak dekat dengan orang yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif TB harus menjalani pemeriksaan penyaring TB
* Setiap satu kasus TB terdiagnosis pada anak atau remaja, kasus sumber dewasanya harus diteliti, terutama orang dewasa yang tinggal di rumah yang sama
* Jika seorang anak mengalami TB yang infeksius, maka kontak selama masa anak-anak harus diteliti dan menjalani pemeriksaan penyaring. Kasus TB pada anak dianggap infeksius jika pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif atau memiliki kavitas (lubang) pada X-ray dadanya
* Gejala TB

Anak umumnya mengalami gejala kronis seperti batuk yang tak kunjung sembuh, demam, dan turunnya berat badan atau tidak naiknya berat badan terutama setelah menjalani program perbaikan gizi (nutritional rehabilitation).1
Batuk kronik didefinisikan sebagai batuk yang tak kunjung sembuh dan tidak membaik selama lebih dari 21 hari (3 minggu).1 Demam di sini didefinisikan sebagai demam lebih dari 380C selama 14 hari setelah kemungkinan penyebab lain dapat disingkirkan.
Walaupun TB luar paru-paru (extra pulmonary) seringkali tidak menunjukkan tanda yang jelas, beberapa tanda cukup spesifik untuk memulai pemeriksaan dan penanganan sesegera mungkin.1
Tanda fisik seperti tonjolan di tulang belakang (gibbus) atau pembesaran kelenjar getah bening leher yang tidak nyeri dengan pembentukan saluran tempat keluarnya nanah (fistula) sangat sugestif untuk TB luar paru-paru.1 Radang selaput otak (meningitis) yang tidak menunjukkan respon terhadap antibiotik, cairan pada rongga antara paru-paru dengan dinding dada (pleural effusion), cairan pada rongga selaput jantung (pericardial effusion), cairan pada rongga perut (ascites), pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri tanpa pembentukan fistula, pembengkakan sendi yang tidak nyeri, atau benjolan keras kemerahan di lengan/kaki (erythema nodosum) juga merupakan tanda-tanda perlunya dilakukan pemeriksaan TB lebih lanjut.

* Tes tuberkulin kulit (Mantoux)

Tes tuberkulin kulit akan menunjukkan hasil positif jika seorang anak terinfeksi M. tuberculosis.1 Namun hasil positif tidak mengindikasikan adanya penyakit. Untuk mendiagnosis TB, tes ini digunakan bersama dengan pemeriksaan klinis dan X-ray dada. Tes tuberkulin kulit yang negatif tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis TB.

Tes ini dikategorikan sebagai positif jika ditemukan:1

* Indurasi (tonjolan keras) ≥ 5 mm pada anak berisiko tinggi. Definisi risiko tinggi beberapa di antaranya adalah infeksi HIV dan kurang gizi yang berat. Kadang pada anak dengan HIV, kurang gizi yang berat, atau masalah lain yang menurunkan kekebalan tubuh, tes ini akan menunjukkan hasil negatif palsu karena kekebalan tubuh yang cukup dibutuhkan untuk memberikan reaksi terhadap tes
* Indurasi ≥ 10 mm pada anak lainnya, baik yang pernah menerima BCG atau tidak

* X-ray dada

Pada sebagian besar kasus, X-ray dada akan menunjukkan perubahan yang tipikal untuk TB.1 Gambaran X-ray paling umum adalah memutihnya suatu area di paru-paru dalam jangka waktu yang lama (persistent opacification) dengan pembesaran kelenjar getah bening di pangkal paru-paru (hilar) atau di sekitar pangkal saluran udara (subcarinal). Gambaran perubahan di bagian atas atau tengah paru-paru lebih umum ditemukan dibanding di bagian bawah.3 Anak dengan gambaran seperti ini yang tidak membaik setelah pemberian antibiotik harus menjalani pemeriksaan TB lebih lanjut.1 Gambaran X-ray dengan titik-titik putih yang tersebar di seluruh paru-paru (miliary) sangat sugestif untuk TB.
Pasien remaja umumnya memilikik gambaran X-ray dada serupa dengan pasien dewasa dengan adanya cairan di rongga pleura (pleural effusion) dan memutihnya bagian puncak paru-paru dengan pembentukan lubang (cavity).1
Pemeriksaan X-ray dada berguna dalam diagnosis TB pada anak.1 Karena itu X-ray dada harus diinterpretasikan oleh radiolog atau tenaga kesehatan yang terlatih dalam interpretasi X-ray.

* Tes bakteriologis

Pada anak, bahan untuk tes bakteriologis dapat diperoleh dari dahak, pengambilan cairan (aspirasi) dari lambung, atau cara lainnya seperti biopsi kelenjar getah bening.1
Pemeriksaan bakteriologis berperan penting terutama pada anak dengan:1

* Kecurigaan resistensi terhadap obat
* Infeksi HIV
* Kasus yang kompleks atau parah
* Diagnosis yang tidak pasti

Dahak untuk diperiksa dengan mikroskop umumnya dapat diperoleh pada anak ≥ 10 tahun.1 Pada anak di bawah 5 tahun, dahak sangat sulit diperoleh dan sebagian besar akan menunjukkan hasil negatif. Seperti pada pasien dewasa, pemeriksaan dahak membutuhkan 3 sediaan: yang diperoleh pada awal evaluasi, pada pagi berikutnya, dan pada kunjungan berikutnya.
Aspirasi cairan lambung dengan selang khusus lambung yang dimasukkan dari hidung (nasogastric tube) dapat dilakukan pada anak yang tidak dapat atau tidak mau mengeluarkan dahak.1 Cara lain yang dapat dilakukan adalah induksi dahak.

* Tes lain

Pengambilan contoh jaringan (aspirasi) dengan jarum halus atau fine needle aspiration dapat digunakan untuk membantu diagnosis TB luar paru-paru, terutama TB kelenjar getah bening.1
Tes lainnya adalah PCR, suatu teknik untuk mendeteksi adanya materi genetik M. tuberculosis.1 Tes ini tidak direkomendasikan untuk anak karena belum cukupnya penelitian yang dilakukan terhadap tes ini. Selain itu dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan, metode ini menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Pemeriksaan rumit lain seperti CT scan dan evaluasi saluran udara dengan selang khusus yang dilengkapi kamera (bronchoscopy) juga tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis TB anak.
Mencoba pemberian obat TB sebagai metode untuk mendiagnosis TB pada anak juga tidak direkomendasikan.1 Keputusan untuk memulai pengobatan TB pada anak harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, dan jika diputuskan untuk dilakukan, maka anak harus menjalani pengobatan dengan jangka waktu penuh.

* Penggunaan Diagnostic Score Charts

Walaupun banyak negara yang menggunakan scoring chart untuk mendiagnosis TB pada anak, tidak ada satupun yang telah diteliti secara sistematik.3 Karena itu, pendekatan ini harus digunakan semata-mata sebagai penyaring, dan bukan sebagai alat untuk menegakkan diagnosis. Di India, sistem ini tidak direkomendasikan untuk diagnosis TB anak dalam National TB Control Program mereka.2

Karena sulitnya memperoleh sediaan dahak pada anak, beberapa kriteria klinis yang sederhana telah diajukan untuk mendiagnosis TB pada anak.1 Kriteria ini didasarkan pada kriteria WHO untuk mendiagnosis TB pada anak. Diagnosis TB ditegakkan jika diperoleh 3 dari kriteria berikut ini:

* Tes tuberkulin kulit yang positif
* Gejala kronis sesuai TB
* Perubahan fisik sugestif untuk TB
* X-ray dada sugestif untuk TB

Di India, diagnosis TB pada anak didasarkan pada kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dahak jika memungkinkan, X-ray dada, tes Mantoux, dan riwayat kontak.2

TB yang Resisten terhadap Obat (drug-resistant TB)

Diagnosis ini adalah diagnosis yang dibuat berdasarkan data laboratorium.1 Namun, resistensi harus dipikirkan jika ditemukan tanda-tanda berikut:

* Pada kasus sumber yang dicurigai resisten
* Kontak dengan kasus yang resisten
* Kasus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya tetap positif setelah 3 bulan pengobatan
* Riwayat pengobatan TB sebelumnya
* Riwayat terhentinya pengobatan TB
* Pada anak yang dicurigai resisten
* Kontak dengan kasus yang resisten
* Tidak adanya respon terhadap pengobatan TB
* Kembalinya TB setelah pengobatan patuh

Kategori TB pada Anak1

* TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik positif
* 2 atau lebih sediaan dahak mikroskopik positif, atau
* 1 sediaan dahak mikroskopik positif dan perubahan X-ray dada yang sesuai dengan TB paru-paru aktif, atau
* 1 sediaan dahak mikroskopik positif dan kultur positif

* TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik negatif

Kategori ini, walaupun jarang ditemukan pada pasien dewasa, merupakan kategori yang umum ditemukan pada anak. Untuk masuk dalam kategori ini, beberapa hal harus terpenuhi adalah:

* Paling sedikit 3 sediaan dahak mikroskopik negatif, dan
* Perubahan X-ray dada sesuai TB paru-paru aktif, dan
* Tidak ada respon terhadap antibiotik spektrum luas, dan
* Keputusan dimulainya pengobatan TB

* TB luar paru-paru

TB luar paru-paru yang cukup umum pada anak antara lain adalah:1,4

* TB kelenjar getah bening leher yang diagnosisnya dibantu dengan aspirasi jarum halus (fine needle aspiration)
* TB selaput otak (meningitis) yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan serebrospinal
* TB rongga pleura
* TB rongga selaput jantung (pericardial) yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan di rongga selaput jantung
* TB rongga perut yang diagnosisnya dibantu dengan USG dan biopsi kelenjar getah bening perut
* TB tulang dan sendi yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan sendi

Pengobatan

Tujuan utama pengobatan TB pada anak adalah:1

* Membunuh sebagian besar bakteri dengan cepat untuk mencegah perkembangan penyakit dan penularan
* Menghasilkan kesembuhan permanen dengan membunuh bakteri yang tidak aktif sehingga tidak akan menimbulkan kekambuhan
* Mencapai 2 tujuan di atas dengan efek samping seminimal mungkin
* Mencagah terbentuknya bakteri yang resisten terhadap obat TB dengan menggunakan kombinasi obat.

Rekomendasi regimen dan dosis pengobatan TB pada anak-anak sama dengan pada pasien dewasa.3 Hal ini ditujukan untuk menghindari kebingungan dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Namun tetap ada beberapa perbedaan antara anak dan dewasa yang mempengaruhi pilihan jenis obat.

Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase: intensif dan lanjutan.1,3 Fase intensif ditujukan untuk membunuh sebagian besar bakteri secara cepat dan mencegah resistensi obat. Sedangkan fase lanjutan bertujuan untuk membunuh bakteri yang tidak aktif. Fase lanjutan menggunakan lebih sedikit obat karena sebagian besar bakteri telah terbunuh sehingga risiko pembentukan bakteri yang resisten terhadap pengobatan menjadi kecil.

Regimen Pengobatan TB untuk Berbagai Jenis TB pada Anak1,3

Dapat dilihat pada table 1.
Thiacetazone tidak lagi dianjurkan untuk digunakan dalam pengobatan TB karena risikonya menimbulkan reaksi yang parah pada pasien anak dan dewasa dengan HIV.1,3

Kortikosteroid dapat digunakan dalam penanganan sebagian jenis TB yang kompleks seperti meningitis TB, komplikasi TB kelenjar getah bening bronkus, dan TB rongga selaput jantung.1,3 Pada kasus meningitis TB yang berat, kortikosteroid meningkatkan harapan hidup dan menurunkan angka kesakitan.1 Jenis yang paling umum digunakan adalah prednisone dengan dosis 2 mg/kg/hari (maksimum 60mg/hari) selama 4 minggu. Setelah itu dosis harus diturunkan dalam 1-2 minggu sebelum dihentikan.

Pengobatan TB umumnya dilakukan dengan rawat jalan (outpatient basis). Namun ada beberapa kondisi yang membutuhkan perawatan di RS. Kondisi-kondisi tersebut adalah:1

* Meningitis TB dan TB milier, lebih baik selama 2 bulan pertama
* Anak dengan gangguan pernapasan
* TB tulang belakang
* Efek samping pengobatan yang parah, misalnya kuning karena keracunan pada hati (hepatotoksisitas).

Follow-up

Follow-up idealnya dilaksanakan dengan interval sebagai berikut: 2 minggu setelah awal pengobatan, akhir fase intensif (bulan kedua), dan setiap 2 bulan hingga pengobatan selesai.1

Beberapa poin penting dalam follow-up adalah sebagai berikut:1

* Pada follow-up, dosis obat disesuaikan dengan peningkatan berat badan.
* Pemeriksaan dahak mikroskopik pada bulan kedua harus dilakukan untuk anak yang pada saat diagnosis awal pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif.
* X-ray dada tidak dibutuhkan dalam follow-up.

Setelah pengobatan dimulai, kadang gejala TB atau gambaran X-ray dada menjadi lebih parah.1 Hal ini umumnya terjadi seiring peningkatan kekebalan tubuh karena perbaikan gizi, pengobatan TB itu sendiri, atau terapi antiviral pada anak dengan HIV. Pengobatan TB harus dilanjutkan, walaupun dalam sebagian kasus kortikosteroid mungkin dibutuhkan.

Efek Samping Pengobatan

Efek samping pengobatan TB lebih jarang terjadi pada anak dibandingkan pada pasien dewasa.1 Efek samping yang paling penting adalah keracunan pada hati (hepatotoksisitas) yang dapat disebabkan oleh isoniazid, rifampicin, dan pyrazinamide. Tidak ada anjuran untuk memeriksa kadar enzim hati secara rutin karena peningkatan enzim yang ringan (< 5 kali kadar normal) bukanlah indikasi untuk menghentikan pengobatan. Namun jika terjadi nyeri hati, pembesaran hati, atau menguningnya kulit, kadar enzim hati harus diperiksa, diikuti penghentian obat-obatan yang hepatotoksik hingga fungsi hati normal kembali. Jika pengobatan TB harus tetap dilanjutkan pada kasus-kasus yang berat, maka yang digunakan haruslah obat-obatan yang tidak bersifat hepatotoksik.

Isoniazid dapat menyebabkan defisiensi vitamin B6 (pyridoxine) pada kondisi tertentu sehingga suplemen vitamin B6 direkomendasikan pada anak yang kurang gizi, anak yang terinfeksi HIV, bayi yang masih menyusu ASI, dan remaja yang hamil.1

BCG

World Health Organization (WHO) merekomendasikan vaksinasi bacille Calmette-Guérin (BCG) segera setelah bayi lahir di negara-negara dengan prevalensi TB yang tinggi.1 Negara dengan prevalensi TB tinggi adalah semua negara yang tidak termasuk dalam prevalensi TB rendah.

Sedangkan kriteria negara dengan prevalensi TB rendah adalah sebagai berikut:1

* Rata-rata tahunan pelaporan TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik positif ≤ 5/100.000 selama 3 tahun terakhir
* Rata-rata tahunan pelaporan meningitis TB pada anak di bawah 5 tahun < 1/1.000.000 populasi selama 5 tahun terakhir
* Rata-rata tahunan risiko infeksi TB ≤ 0,1%

Walaupun BCG telah diberikan pada anak sejak tahun 1920-an, efektivitasnya dalam pencegahan TB masih merupakan kontroversi karena kisaran keberhasilan yang diperoleh begitu lebar (antara 0-80%).1 Namun ada satu hal yang diterima secara umum, yaitu BCG memberi perlindungan lebih terhadap penyakit TB yang parah seperti TB milier atau meningitis TB.

Karena itu kebijakan pemberian BCG disesuaikan dengan prevalensi TB di suatu negara.1 Di negara dengan prevalensi TB yang tinggi, BCG harus diberikan pada semua anak kecuali anak dengan gejala HIV/AIDS, demikian juga anak dengan kondisi lain yang menurunkan kekebalan tubuh.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksinasi BCG ulangan memberikan tambahan perlindungan, dan karena itu hal tersebut tidak dianjurkan.1 Sebagian kecil anak (1-2%) dapat mengalami efek samping vaksinasi BCG seperti pembentukan kumpulan nanah (abses) lokal, infeksi bakteri, atau pembentukan keloid. Sebagian besar reaksi tersebut akan menghilang dalam beberapa bulan.

Pemeriksaan Penyaring (Screening)

Pemeriksaan penyaring (screening) dianjurkan pada seluruh kontak, yaitu orang yang tinggal di kediaman yang sama dengan seseorang yang menderita TB.1 Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan penilaian klinis untuk menilai apakah kontak menunjukkan gejala atau baik-baik saja. Tidak diperlukan pemeriksaan rutin X-ray dada atau tes tuberkulin kulit.

Anak < 5 tahun dan anak dengan infeksi HIV yang merupakan kontak seseorang dengan TB idealnya diberikan isoniazid sebagai pencegahan.1 Isoniazid yang diberikan setiap hari selama 6 bulan sebagai pencegahan akan mengurangi kemungkinan berkembangnya TB pada anak yang terinfeksi M. tuberculosis namun belum sakit. Dosis yang diberikan adalah 5 mg/kg per hari dengan jumlah maksimum 300 mg/hari selama 6 bulan.1,3 Follow-up harus dilakukan setiap 2 bulan hingga pengobatan selesai.

Kehamilan dan ASI

Bayi yang lahir dari ibu yang menderita TB paru-paru harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya penyakit TB bawaan (kongenital) dan diobati. Jika ibu telah menjalani pengobatan minimal selama 2-3 minggu, risiko penularan umumnya tidak ada lagi. Risiko terbesar penularan adalah jika ibu baru didiagnosis TB saat melahirkan atau segera setelah itu.

Bayi yang menyusu ASI memiliki risiko tinggi infeksi dari ibu dengan pemeriksaan dahak mikroskopipk yang positif. Bayi ini harus menerima 6 bulan pengobatan dengan isoniazid, diikuti dengan vaksinasi BCG. Alternatif lain adalah pemberian isoniazid selama 3 bulan untuk kemudian dites tuberkulin kulit. Jika hasilnya negatif, isoniazid dapat dihentikan dan BCG diberikan. Jika hasilnya positif, maka pemberian isoniazid diteruskan 3 bulan lagi sebelum pengobatan dihentikan dan BCG diberikan.

Namun tidak berarti selama jangka waktu tersebut bayi tidak boleh menyusu ASI. ASI dapat terus diberikan dengan aman.

Sumber

* Practical Guidelines for the Management of Tuberculosis in Children by National TB Programmes. First Edition. March 2006
* Formulation of Guidelines for Pediatric TB Cases under RNTCP. Indian J. Tuberc 2004;51:102-105. Available from http://www.indianpediatrics.net/sep2004/927.pdf
* World Health Organization. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. Third Edition. 2003. Available from http://www.who.int/docstore/gtb/publications/ttgnp/

Kabra SK, Lodha R, Seth V. Category-based Treatment of Tuberculosis in Children. Available from http://medind.nic.in/ibr/t04/i2/ibrt04i2p102.pdf

Dermatitis Atopi (Eksema)

sumber : http://milissehat.web.id/?p=131

3/6/2007

Keterangan istilah1

1. Likenifikasi: penebalan kulit dan bertambah jelasnya garis-garis normal kulit
2. Ekskoriasi: terkelupasnya lapisan atas kulit
3. SCORAD (Scoring Atopic Dermatitis): sistem penilaian eksema dengan mempertimbangkan gejala obyektif (keparahan dan luas eksema) dan gejala subyektif (gatal dan gangguan tidur)
4. Tar: zat yang diproduksi dengan distilasi (penyulingan) batu bara, berbentuk krim atau salep dengan efek anti inflamasi (peradangan)
5. Kortikosteroid topikal: salep anti inflamasi dan anti gatal
6. Teknik balut basah: membalut daerah eksema dengan kain basah dan perban (untuk lengan dan tungkai), dan kaos basah untuk badan, dengan tujuan mengurangi kemerahan kulit, gatal, inflamasi (peradangan), keringnya kulit, dan mempermudah tidur
7. Kompres dingin: handuk basah yang dikompreskan pada kulit eksema yang gatal di wajah dan badan. Pelembab harus digunakan setelah kompres
8. Hay fever(allergic rhinitis/rinitis alergika): peradangan lapisan mukosa saluran napas atas sebagai akibat alergi terhadap serbuk sari tanaman, ditandai dengan hidung dan mata yang gatal dan berair, serta bersin-bersin

Apa itu dermatitis atopik (eksema)?1,2

Dermatitis atopik atau eksema adalah peradangan kronik kulit yang kering dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur. Penyakit ini dialami sekitar 10-20% anak. Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul hingga anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari eksema sebelum usia 5 tahun. Sebagian kecil anak akan terus mengalami eksema hingga dewasa. Eksema tidak menular. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, namun penanganan yang tepat akan mencegah dampak negatif penyakit ini terhadap anak yang mengalami eksema dan keluarganya.

Penyebab2

Penyebab eksema tidak diketahui, namun jika salah satu atau lebih anggota keluarga mengalami eksema, asma, atau rinitis alergika, maka anak Anda memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami eksema dibanding populasi umum. Sebagian anak dengan eksema juga mengalami asma atau rinitis alergika.
Eksema dapat dipicu oleh beberapa hal, antara lain:

1. Keringnya kulit
2. Iritasi oleh sabun, detergen, pelembut pakaian, dan bahan kimia lain
3. Menciptakan kondisi yang terlalu hangat untuk anak, misalnya membungkus anak dengan pakaian berlapis-lapis
4. Alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu
5. Alergi terhadap tungau debu, serbuk sari tanaman, atau bulu hewan
6. Virus dan infeksi lain
7. Perjalanan ke negara dengan iklim berbeda

Diagnosis 1,2

Eksema dapat memberikan gambaran yang sedikit berbeda sesuai usia. Pada bayi, eksema umumnya berupa ruam merah yang sangat gatal di wajah, kulit kepala, belakang telinga, badan, atau lengan dan tungkai. Pada anak balita, ruam sering kali ditemukan di lipatan kulit sekitar lutut, siku, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki. Eksema merupakan penyakit episodik, kadang kulit anak akan membaik, dan kemudian memburuk lagi. Hal ini tidak berarti Anda melakukan kesalahan dalam penanganannya.

Kriteria diagnostik untuk eksema adalah sebagai berikut:

1. Harus mengalami gatal
2. Dan 3 atau lebih dari gejala berikut:
3. Riwayat keterlibatan lipatan kulit
4. Riwayat asma atau hay fever pada anak tersebut, atau riwayat penyakit atopik pada keluarga dekat jika anak berusia kurang dari 4 tahun
5. Riwayat kulit kering di tahun sebelumnya
6. Munculnya gejala sebelum usia 2 tahun
7. Eksema di bagian fleksor tubuh (lipatan siku, lutut, pergelangan tangan)

Penilaian eksema harus dilakukan oleh tenaga medis untuk menentukan derajat keparahan serta ada tidaknya infeksi yang menyertai. Sistem SCORAD dapat digunakan untuk penilaian eksema. Dari penilaian tersebut, eksema digolongkan menjadi:

1. Eksema ringan (skor SCORAD 40): kemerahan kulit, gatal, likenifikasi, gangguan tidur, dan infeksi kulit yang semuanya berat.

Kulit yang mengalami eksema lebih rentan terhadap infeksi sekunder oleh bakteri atau virus. Infeksi harus dipertimbangkan jika eksema bertambah parah atau tidak memberi respon terhadap pengobatan. Eksema yang terinfeksi didiagnosis jika ditemukan eksema yang mengalami ekskoriasi, basah, dan membentuk kerak.

Penanganan 1 ,2

Penanganan eksema dibagi dalam 2 kategori: penanganan sehari-hari dan penanganan episode akut.

Penanganan sehari-hari

Penanganan sehari-hari dilakukan baik saat dalam episode eksema maupun di luar episode.
Menghindari faktor-faktor di lingkungan yang memicu atau memperparah eksema, misalnya:

1. Mainan, air liur, atau makanan di sekitar mulut
2. Bahan seperti wol atau pelapis car seat
3. Detergen, sabun, bubble baths, antiseptik
4. Kontak dengan bulu hewan
5. Menggunakan krim pelembab (moisturiser)
6. Krim pelembab dapat digunakan sesering mungkin. Gunakan obat, krim, dan salep sesuai instruksi dokter
7. Menggunakan moisturiser atau bath oil untuk mandi
8. Kortikosteroid topikal jika gatal dan kemerahan masih menetap setelah menghindari pencetus eksema. Jika digunakan sesuai instruksi, obat ini aman dan efektif untuk mengatasi eksema
9. Kadang dokter meresepkan satu salep untuk daerah yang paling teriritasi dan salep lain yang lebih lemah untuk daerah yang hanya mengalami eksema ringan dan daerah peka seperti wajah
10. Mengatasi gatal
11. Garukan akan memperparah eksema dan berisiko menyebabkan infeksi. Beberapa cara untuk mengatasi gatal dan garukan adalah:
12. Mengalihkan perhatian anak saat ia menggaruk
13. Menghindari kondisi yang terlalu hangat untuk anak
14. Menggunakan krim pelembab (yang ditaruh di kulkas sebelumnya) sebelum tidur
15. Memakaikan sarung tangan pada anak saat tidur
16. Jika perlu, berikan obat yang diresepkan dokter untuk mengurangi gatal di malam hari
17. Selalu memotong pendek kuku anak
18. Jika gatal sangat berat, kompres dingin dan teknik balut basah dapat digunakan untuk membantu anak tidur

Penanganan episode akut

Hal ini dilakukan segera saat ada kemerahan kulit dan gatal, dan dihentikan setelah gejala terkontrol.

1. Kortikosteroid topikal
2. Krim tar untuk likenifikasi
3. Antibiotik atau antiviral jika ada infeksi sekunder
4. Teknik balut basah, dalam 2 hari setelah kortikosteroid topikal diberikan jika eksema belum membaik
5. Kompres dingin untuk mengatasi gatal

Komplikasi1

Eksema yang terinfeksi oleh bakteri adalah komplikasi yang umum terjadi. Hal ini harus dicurigai jika ada eksema yang berkerak, basah berair, kemerahan, pecah-pecah, mengeluarkan nanah, atau mengalami ekskoriasi. Bakteri penyebab infeksi pada keadaan ini umumnya adalah Staphylococcus aureus.
Selain oleh bakteri, eksema juga dapat terinfeksi oleh virus. Infeksi virus Herpes Simplex 1 (HSV 1) ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil yang berkelompok secara tiba-tiba, berisi cairan bening atau putih, nyeri, dan gatal. Bintik-bintik ini kemudian dapat bernanah atau terkikis.

Penanganan eksema yang terinfeksi1

Hal berikut harus dilakukan sebelum mengoleskan krim lainnya: Kerak harus dibuang dan bagian basah berair harus dibersihkan sebelum mengoleskan pelembab, kortikosteroid, atau balutan basah. Buang dan bersihkan bagian-bagian tersebut saat anak dimandikan.

Jika infeksi disebabkan oleh bakteri, antibiotik dapat diberikan secara oral (lewat mulut). Pilihan antibiotik yang dapat digunakan adalah cephalexin atau flucloxacillin, 4 kali per hari selama 10 hari. Untuk infeksi yang berat, bayi di bawah usia 6 bulan, kekhawatiran akan keterlibatan mata, atau anak yang demam dan tampak sakit berat, flucloxacillin digunakan lewat jalan infus. Setelah kondisi membaik, pengobatan kemudian diteruskan dengan flucloxacillin oral hingga total 10 hari.
Bath oil antiseptik mungkin diperlukan jika anak terus mengalami infeksi berulang pada eksemanya.
Jika infeksi yang terjadi adalah infeksi oleh HSV 1, acyclovir oral diberikan 5 kali per hari selama 10 hari. Untuk infeksi berat atau anak yang tampak sakit berat dan demam, acyclovir dapat diberikan lewat jalan infus. Setelah kondisi membaik, pengobatan diteruskan dengan acyclovir oral hingga total 10 hari. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan eksema yang terinfeksi oleh virus sering kali juga terinfeksi oleh bakteri.

Pemeriksaan penunjang1

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk eksema misalnya:

Usap kulit (skin swab)

Dilakukan pada:

1. Pasien eksema yang dirawat di RS dengan eksema yang terbuka, terkeskoriasi, atau berkerak untuk menentukan jenis bakteri penyebab dan pengobatan paling tepat
2. Kecurigaan bahwa infeksi disebabkan oleh bakteri S. aureus yang resisten terhadap pengobatan standar

Usap hidung (nasal swab) dari pasien dan orang tua

Hanya dilakukan jika ada infeksi berulang atau bisul.

Tes alergi pada kulit

Dilakukan jika:

1. Anak memiliki riwayat gatal, kemerahan, bentol-bentol, atau kambuhnya eksema setelah makan makanan tertentu
2. Anak berusia kurang dari 12 bulan dengan eksema sedang – berat yang tidak membaik dengan pengobatan
3. Anak yang patuh dengan pengobatan selama 6 minggu, namun tidak menunjukkan perbaikan
4. Eksema di sekitar mata dan daerah yang terpapar lingkungan luar seperti lengan atau kaki, mungkin menunjukkan adanya alergi terhadap sesuatu di lingkungan (serbuk sari tanaman, tungau debu)

Hal-hal lain yang sering ditanyakan2

Apakah ada kaitan eksema dengan makanan?

Sebagian besar anak dengan eksema tidak mengalami reaksi alergi terhadap makanan. Namun pada sebagian kecil anak, alergi mungkin merupakan pemicu eksema. Tidak boleh ada makanan yang dianggap alergen kecuali jika terbukti anak mengalami reaksi setelah makan makanan tersebut. Membatasi makanan tertentu tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan dokter. Alergi makanan perlu dipikirkan pada bayi dengan eksema luas. Kadang anan yang lebih besar mengalami alergi terhadap makanan yang asam atau pengawet makanan dan mengalami eksema di sekitar mulut.

Apakah anak saya dapat menerima imunisasi seperti biasa?

Hampir semua anak dengan eksema dapat menerima imunisasi seperti biasa, termasuk anak yang belum pernah makan telur dan anak dengan riwayat alergi telur dalam keluarga.

Apakah anak saya boleh berenang?

Ya, anak Anda harus mandi segera setelah berenang jika chlorine atau berenang memperburuk eksema. Jika perlu, gunakan krim pelembab sebelum dan setelah berenang.

Follow up1

Eksema ringan tidak memerlukan follow up khusus selain kunjungan rutin sesuai usia anak. Untuk eksema sedang, follow up dilakukan dalam 2-4 minggu. Untuk eksema berat, follow up dilakukan dalam 1-2 minggu. Untuk anak yang sempat dirawat di RS, follow up dilakukan 2 minggu setelah keluar RS.

Sumber

1. Clinical Guidelines: Eczema Management. Avaailable from http://www.rch.org.au/rchcpg/index.cfm?doc_id=9971
2. Kids health Info for Parents: Eczema. Available from http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.cfm?doc_id=3721

dr. Nurul Itqiyah H

Demam tanpa Penyebab yang Jelas (Fever Without Source)

sumber : http://milissehat.web.id/?p=515

Demam tanpa Penyebab yang Jelas/ (Fever Without Source/FWS)

Demam adalah salah satu gejala paling umum yang menyebabkan anak dibawa ke dokter (19%-30% alasan kunjungan).1 Definisi demam di sini adalah suhu rektal ≥ 380C pada bayi (anak ≤ 1 tahun).2,3 Sedang pada anak ≥ 1 tahun definisinya adalah suhu rektal ≥ 38,40C atau oral (mulut) ≥ 37,80C.3

5%-20% anak yang mengalami demam tidak memiliki sumber infeksi yang jelas, bahkan setelah riwayat penyakit diteliti dan pemeriksaan fisik dilakukan.1,4 Dari 20% ini, sebagian besar terkait dengan infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya.1,3,4 Sebab penting lainnya pada usia di bawah 2 tahun adalah ISK (3%-4% pada anak laki-laki dan 8%-9% pada anak perempuan).

Namun pada sebagian kecil anak, demam tanpa penyebab yang jelas (FWS) mungkin didasari adanya bakteri dalam peredaran darahnya yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan infeksi bakteri yang berat seperti pneumonia (infeksi pada paru-paru), osteomyelitis (infeksi pada tulang) dan meningitis (infeksi pada selaput otak).2,3,4 Karena itu penanganan FWS sangat penting untuk diketahui, terutama untuk anak di bawah 3 tahun di mana hal ini cukup sering ditemui.

Riwayat Penyakit dan Pemeriksaan Fisik

Yang paling penting dilakukan dalam menangani FWS adalah mengenali apakah anak tampak baik-baik saja, sakit, atau toksik.5 Yang dimaksud dengan toksik adalah kondisi pucat atau kebiruan, dengan napas dan denyut nadi yang cepat, sulit ditenangkan, dan letargi (keadaan di mana anak tidak dapat berinteraksi dengan orang atau benda di sekelilingnya, tidak mengenali orang tua, atau menurun drastisnya kontak mata).2,6

Anak yang tampak baik-baik saja hanya memiliki < 3% kemungkinan infeksi bakteri berat. Anak yang tampak sakit memiliki 26% kemungkinan, dan anak yang tampak toksik memiliki 92% kemungkinan infeksi bakteri berat.5

Gejala atau tanda yang dapat menunjukkan penyebab tertentu demam harus diteliti. Misalnya riwayat anak menarik-narik telinganya (otitis media), batuk (masalah saluran pernapasan), muntah/diare (masalah saluran cerna), atau menangis saat buang air kecil (ISK).5

Selain itu riwayat kesehatan anak juga harus diperhatikan, misalnya hal-hal sebagai berikut:

* Anak dengan penyakit kronis yang menurunkan sistem kekebalan tubuh (seperti leukemia, HIV, diabetes, atau kelainan jantung bawaan) membutuhkan penanganan FWS yang lebih agresif.2
* Anak yang baru saja menggunakan antibiotik juga membutuhkan penanganan lebih agresif karena anak-anak ini cenderung tidak tampak sakit.
* Satu lagi yang harus diperhatikan adalah apakah anak tersebut menjalani hari-harinya di penitipan anak (day care). Anak-anak yang dititipkan di day care dan sering mengalami otitis media memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pneumonia.

Penanganan

Dasar penanganan yang paling penting adalah apakah anak tampak toksik atau tidak.

Semua anak ≤ 3 tahun yang tampak toksik harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit untuk meneliti kemungkinan sepsis (bakteri dalam peredaran darah) atau meningitis.6

Penanganan dengan FWS yang tidak tampak toksik dibagi menjadi 3 berdasar kelompok usia: < 28 hari, 28-90 hari, dan 3-36 bulan.

* Bayi < 28 hari

Pada kelompok usia ini, semua yang mengalami demam harus menjalani evaluasi di rumah sakit.6 Pemeriksaan yang dilakukan adalah:3
ü Hitung darah (eritrosit/darah merah, leukosit/darah putih dan jenis-jenisnya, platelet)
ü Kultur darah
ü Pemeriksaan dan kultur urin (melalui kateter atau pungsi suprapubik)
ü Pungsi lumbar untuk analisis dan kultur cairan serebrospinal (dari tulang belakang)
ü Kultur dan pemeriksaan feses
ü X-ray dada

Selain itu juga diberikan antibiotik.

Akhir-akhir ini banyak ahli yang menyarankan agar pemberian antibiotik dan perawatan di rumah sakit dilakukan hanya pada bayi dengan FWS yang berusia < 7 hari.3,6 Sedang pada bayi antara 7-28 hari yang memenuhi kriteria risiko rendah untuk infeksi bakteri berat, penanganan dapat dilakukan dengan pemeriksaan di atas tanpa diikuti pemberian antibiotik. Bayi diobservasi hingga hasil pemeriksaan di atas diperoleh. Jika kultur bakteri negatif, maka bayi tidak memerlukan antibiotik dan dapat diobservasi di rumah dengan catatan:

ü Orang tua dapat mengobservasi bayi dengan cermat
ü Terdapat akses yang mudah untuk memperoleh pelayanan medis
ü Dan terjaminnya follow-up si bayi

Yang termasuk dalam kriteria risiko rendah adalah sebagai berikut:2,6

Kriteria Rochester untuk Mengidentifikasi Risiko Rendah Infeksi Bakteri Berat pada Bayi Berusia < 90 Hari dengan FWS:

ü Bayi tampak baik-baik saja
ü Bayi sebelumnya selalu dalam keadaan sehat:

* Lahir cukup bulan (≥ 37 minggu kehamilan)
* Tidak ada riwayat pemberian antibiotik sebelum, saat, dan setelah kelahiran
* Tidak ada riwayat pengobatan hiperbilirubinemia (kuning/jaundice) tanpa sebab
* Tidak ada riwayat perawatan di rumah sakit
* Tidak ada penyakit kronis atau kongenital
* Tidak dirawat di rumah sakit lebih lama dari ibu

ü Tidak ada bukti infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau telinga
ü Hasil laboratorium:

* Sel darah putih 5,000-15,000 per mm3
* Hitung sel batang (salah satu jenis sel darah putih) 1,500 per mm3
* ≤10 sel darah putih per lapang pandang besar (LPB) pada pemeriksaan urin mikroskopis
* ≤ 5 sel darah putih per LPB pada pemeriksaan feses mikroskopis bayi dengan diare

Antibiotik yang digunakan untuk kelompok usia ini adalah:3

ü Ampicillin 100-200 mg/kg/hari intravena dalam dosis yang dibagi setiap 6 jam dan gentamicin 7.5 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 8 jam

ü Atau ceftriaxone, 50 mg/kg/hari dalam 1 dosis

ü Atau cefotaxime, 150 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 8 jam

* Bayi 28-90 hari

Pada kelompok usia ini, bayi juga dikelompokkan dalam risiko rendah atau risiko tinggi dengan Kriteria Rochester di atas. Jika bayi memiliki risiko tinggi, maka selain dilakukan pemeriksaan lengkap, juga diberikan antibiotik.2

Jika bayi masuk dalam kategori risiko rendah, maka ada 2 pilihan. Yang pertama adalah melakukan kultur darah, urin, pungsi lumbar, dan pemberian antibiotik di rumah sakit. Pilihan kedua adalah melakukan kultur urin dan observasi tanpa pemberian antibiotik, kecuali jika hasil kultur diketahui positif. Apapun pilihan yang diambil, evaluasi follow-up harus dilakukan dalam waktu 24-48 jam.2,3 Keputusan untuk melakukan observasi di rumah atau rumah sakit kembali lagi pada kemampuan orang tua melakukan observasi dengan cermat, kemudahan akses pelayanan kesehatan, dan terjaminnya follow-up.

Antibiotik yang dipilih sama dengan kelompok usia < 28 hari.3

* Anak 3-36 bulan

Pada kelompok usia ini, yang pertama dilakukan adalah mengelompokkan apakah demam si anak < 390C atau ≥ 390C.2,3,6

ü Demam < 390C

Yang harus dilakukan adalah pengambilan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti untuk mencoba mencari penyebab demam.2 Umumnya tidak perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik jika anak tampak baik-baik saja, cukup diberikan antipiretik. Namun orang tua atau caregiver harus membawa anak kembali jika demam terus berlanjut dalam 2-3 hari atau jika kondisi anak memburuk.

ü Demam ≥ 390C

Rekomendasi terbaru untuk kelompok ini adalah:2,3,6

* Kultur urin pada semua anak < 2 tahun yang diresepkan antibiotik
* X-ray dada pada anak dengan sesak napas, laju napas yang cepat, ronkhi (bunyi tidak normal saat diperiksa dengan stetoskop), bunyi napas yang menurun, atau saturasi oksigen (dengan oksimeter) 20.000/mm3
* Kultur feses jika ada lendir atau darah pada feses, atau ada > 5 leukosit per LPB pada pemeriksaan feses mikroskopis
* Kultur darah

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama adalah melakukan kultur darah pada semua anak dengan demam ≥ 390C. Pendapat kedua adalah melakukannya hanya pada anak dengan demam ≥ 390C dan leukosit > 15.000/mm3. Pendapat ketiga melakukannya hanya pada anak dengan demam ≥ 390C dan leukosit > 18.000/mm3. Sedangkan pendapat yang cukup baru menekankan pada jumlah neutrofil (salah satu jenis leukosit, terdiri atas bentuk batang dan segmen). Jika neutrofil ≥ 10.000/mm3, baru dilakukan kultur darah.

* Pemberian antibiotik

Antibiotik diberikan dengan kriteria yang sama seperti penentuan perlu tidaknya kultur darah. Pemberian antibiotik juga dapat dipertimbangkan jika orang tua atau caregiver tidak dapat diandalkan untuk melakukan evaluasi follow-up.

Antibiotik yang dipilih adalah ceftriaxone, 50 mg/kg/hari dalam dosis tunggal atau cefuroxime, 150-200 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 6-8 jam.

* Follow-up dalam 24-48 jam

Untuk melihat algoritma penanganan demam tanpa penyebab yang jelas pada anak < 3 tahun, mohon merujuk pada sumber nomor 2. (NIH)

Sumber:

1. Finkelstein JA, Christiansen CL, Platt R. Fever in Pediatric Primary Care: Occurrence, Management, and Outcomes. PEDIATRICS Vol. 105 No. 1 Supplement January 2000, pp. 260-266. Available from http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/105/1/S2/260
2. Luszczak M. Evaluation and Management of Infants and Young Children with Fever. AFP Vol. 64/No. 7 (October 1, 2001). Available from http://www.aafp.org/afp/20011001/1219.html
3. Brook I. Unexplained Fever in Young Children: How to Manage Severe Bacterial Infection. BMJ 2003;327:1094-1097 (8 November). Available from http://bmj.bmjjournals.com/cgi/content/full/327/7423/1094
4. Baraff LJ. Management of Fever without Source in Infants and Children. Ann Emerg Med. 2000 Dec;36(6):602-14. Available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=pubmed&dopt=Abstract&list_uids=11097701
5. Evidence based clinical practice guideline for fever of uncertain source in children 2 to 36 months of age. Cincinnati (OH): Cincinnati Children’s Hospital Medical Center; 2003 Oct 27. 12 p. Available from http://www.guideline.gov/summary/summary.aspx?doc_id=5613&nbr=3783
6. Park JW. Fever without Source in Children. Vol 107 / No 2 / February 2000 / Postgraduate Medicine. Available from http://www.postgradmed.com/issues/2000/02_00/park.htm

Pedoman WHO yang Baru Mengenai Preventing Mother-to-Child Transmission

sumber :http://www.kalbe.co.id/health-news/20412/pedoman-who-yang-baru-mengenai-preventing-mother-to-child-transmission.html

Kalbe.co.id – Pedoman baru dari WHO mengenai pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi (preventing mother-to-child transmission/PMTCT) berpotensi meningkatkan ketahanan hidup anak dan kesehatan ibu, mengurangi risiko (mother-to-child transmission/MTCT) hingga 5% atau lebih rendah serta secara jelas memberantas infeksi HIV pediatrik.

Pedoman itu memberikan perubahan yang bermakna pada beberapa tindakan di berbagai bidang. Anjuran kunci adalah:

* ART untuk semua ibu hamil yang HIV-positif dengan jumlah CD4 di bawah 350 atau penyakit WHO stadium 3 atau penyakit HIV stadium 4, tidak menunda mulai pengobatan dengan tulang punggung AZT dan 3TC atau tenofovir dan dengan 3TC atau FTC.
* Penyediaan antiretroviral profilaksis yang lebih lama untuk ibu hamil yang HIV-positif yang membutuhkan ART untuk kesehatan ibu.
* Apabila ibu menerima ART untuk kesehatan ibu, bayi harus menerima profilaksis nevirapine selama enam minggu setelah lahir apabila ibunya menyusui, dan profilaksis dengan nevirapine atau AZT selama enam minggu apabila ibu tidak menyusui.
* Untuk pertama kalinya ada cukup bukti bagi WHO untuk mendukung pemberian ART kepada ibu atau bayi selama masa menyusui, dengan anjuran bahwa menyusui dan profilaksis harus dilanjutkan hingga bayi berusia 12 bulan apabila status bayi adalah HIV-negatif atau tidak diketahui.
* Apabila ibu dan bayi adalah HIV-positif, menyusui harus didorong untuk paling sedikit dua tahun hidup, sesuai dengan anjuran bagi populasi umum.

“Dalam pedoman yang baru kami menyampaikan pesan yang jelas bahwa menyusui adalah pilihan yang baik untuk setiap bayi, bahkan bayi yang ibunya HIV-positif, apabila mereka memiliki akses pada antiretroviral (ARV),” kata Daisy Mafubelu, Asisten Direktur WHO bidang Family and Community Health.

Pedoman baru menawarkan petunjuk bagi negara mengenai bagaimana mengurangi MTCT melalui rejimen pengobatan dan pencegahan HIV yang lebih efektif.

Pedoman yang pertama kali diterbitkan pada 2000, dan diperbarui pada 2004 dan 2006, pedoman ART untuk PMTCT menyarankan pemberian rejimen yang sederhana, baku dan efektif dalam skala besar di seluruh rangkaian.

Pedoman 2006 menyoroti pentingnya ART seumur hidup bagi ibu hamil yang HIV-positif untuk kesehatan ibu dan anak. Selain kombinasi ARV profilaksis menggantikan nevirapine takaran tunggal. Pedoman itu menjadi tulang punggung teknik peningkatan PMTCT secara cepat, khususnya di Afrika sub-Sahara tempat lebih dari 90% ibu HIV-positif yang hamil.

Kurang lebih 21% ibu hamil dites HIV pada 2008 dan 45% menerima ARV untuk mencegah MTCT, kurang lebih sepertiganya menerima nevirapine takaran tunggal, pengobatan pencegahan yang paling tidak efektif. Hanya sepertiga ibu yang dites positif dinilai terhadap kriteria memakai ART untuk kesehatannya sendiri.

Dengan kurang lebih 1,4 juta ibu hamil yang hidup dengan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2008, jauh lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan tes dan konseling HIV serta PMTCT termasuk memadukan layanan tersebut untuk memperkuat program kesehatan ibu dan anak.

Tata Laksana Radang Tenggorokan

oleh dr.farian sakinah – milist sehat

dear Sp… mungkin aku coba menjawab pertanyaan mama Vito atau mama mama dan
papa papa yang lainnya… mengenai sakit tenggorokan….

jadi pan begini nih… sakit tenggorokan tuh banyak banget penyebabnya… ya
basicnya sih inflamasi… atau peradangan… nah peradangan itu juga banyak
penyebabnya bisa karena iritasi (asap rokok, makanan, minuman, dsb), alergi,
atau infeksi…

nah agak sulit membedakannya kalau hanya melihat secara langsung…

tapi sakit tenggorokan kalau berat tuh waw… luar biasa… waktu sehari
sebelum isi pesat tangerang… tengorokanku sakitnya… halah bukan main
rasanya rek… (halah kok curhat :P)… minum air aja… rasanya ruarrrrr
biasaaaa….. he..he… sayang ya cuma satu hari setengah aja sakitnya…
coba agak sebulan… he..he.. jadi kurus neh… (maaf maaf becanda…)

back to sakit tenggorokan lagi… kalau lihat tenggorokan… mostly…
warnanya merah… meskipun dalam keadaan inflamasi biasanya cenderung lebih
merah… tapi…. itu bukan patokan untuk langsung bilang radang
tenggorokan…

sakit tenggorokan… bukan penyakit… artinya ini adalah gejala atau…
bisa juga tadi karena iritasi/alergi saja….
biasanya saat kita influenza/commoncold… (ingat ISPA = infeksi saluran
pernapasan atas… virusnya mulai dari hidung hingga cabang tenggorok kalau
berat bisa masuk paru paru tapi alhamdulillah jarang ya… kecuali flu
burung…) virusnya juga bertengger di tenggorokan… menimbulkan reaksi
peradangan dan akhirnya jadi sakit deh tenggorokannhya…. tapi tetep aja
ini bukan sakit tenggorokan… jatuhnya ya Influenza/common cold

lalu faringitis bakteri apa nggak bisa terjadi… bisa aja terjadi radang
tenggorokan akibat bakteri … salah satu yang berat yaitu strepthroat…
yaitu radang tenggorokan karena infeksi streptokokus grup A (GAS) nah ini
yang butuh bakteri… artinya selain GAS meskipun bakteri nggak perlu
antibiotik… kecuali dalam dua minggu tidak mengalami perbaikan baru
dipertimbangkan untuk pemberian antibiotik

nah taunya dari mana…. ya dari swab (diambil dengan mengusap cairannya
dari tenggorokan)dulu… lalu apa setiap anak sakit tenggorokan lalu di
swab… he…he… nggak lagi… kacian dong… kan gak enak di swab….

jadi kita ada kriteria kecurigaan terhadap GAS
1. usia >4 tahun
2. tidak ada batuk
3. demam tinggi dan terus bertambah tinggi dari hari kehari
4. pembesaran kelejar getah bening disekitar leher/kepala
5. adanya pus/nanah di tenggorokan

nah kalau ada sperti itu baru di swab… tungguh hasil swab… kalau
kumannya GAS baru diberikan eritromisin (first line nya) selama kurleb 2
minggu… (bunda cmiiw ya… buat obatnya)

nah kalau tidak ada kecurigaan terhadap strepthroat ya kalau nyeri kasih
parasetamol… kalau sudah agak besar kasih tablet hisap yang ada
lidocainnya… (hiks sayangnya ada antiseptiknya… kalau di LN ada yang
tanpa antiseptik sih… tapi ini digunakan kalau memang nggak tahan ya
nyerinya… kalau masih tahan nggak usah yaaaa)…

jadi…dont give up with the diagnose of faringitis or sore throat… just
observe the child… okey??? go smart parent go…