Step by Step Membentuk Anak Berkepribadian Unggul

sumber : http://cyberman.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby

Membentuk aspek mental anak agar cerdas, santun dan berkepribadian kuat sama pentingnya dengan menjadikan raga sang buah hati sehat dan bertumbuh kembang normal. Jika kesehatan tubuh anak dapat distimulir dengan asupan gizi dan pola hidup sehat, maka jiwa yang kuat pun perlu dibentuk secara dini dan terencana.

Berikut step by step yang dapat anda ikuti untuk membentuk pribadi anak anda sesehat raganya. Menurut dr Soedjatmiko SpA(K) MSi Soedjatmiko, Ketua Subbagian Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI, dalam simposium Penyiapan Anak Sehat dan Berkualitas Sejak Dini, langkah pembentukkan mental anak harus dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan. Berikut uraiannya:

Masa Kehamilan
Sifat seorang ibu akan diturunkan kepada anaknya. Sifat ibu yang negatif seperti murung, pemarah, sedih atau emosional maupun positif seperti periang, percaya diri, maupun religius, kemungkinan akan melekat pada sifat anak yang akan dilahirkan.

Oleh karena itu, seorang ibu hamil harus dikondisikan berada dalam situasi tenang dan bahagia. Tentunya, sifat-sifat positif ibu juga harus diteruskan selama masa asuh anak.

Usia Kehamilan 6 Bulan/23 Minggu
Stimulasi untuk merangsang sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, mandiri, kreativitas, kepemimpinan dan moral. Pada usia 6 bulan/23 minggu, janin berada dalam tahap awal sinaptogenesis, yakni siap menerima rangsangan.

Saat itu, miliaran sel otak dibentuk namun belum ada hubungan antar sel otak. Rangsangan dapat menghubungkan antar sel otak. Stimulasi bisa diberikan dalam bentuk lagu atau musik. Irama yang diperdengarkan kepada janin tak harus klasik, alunan ayat suci atau doa juga sangat bermanfaat untuk merangsang janin.

Semakin sering dirangsang, semakin kuat hubungan antarsel otak. Karena, stimulasi yang kurang lama dan tidak intens akan membuat hubungan antarsel otak yang sudah terbentuk menghilang.

Orang tua juga perlu memperhatikan variasi stimulasi guna menjadikan hubungan antar sel semakin kompleks dan luas. Diharapkan, hal itu dapat merangsang otak kiri dan otak kanan sehingga kecerdasan si jabang bayi semakin luas dan tinggi.

Setelah Bayi Lahir
Stimulasi dapat terus dilakukan sampai anak berusia tiga tahun. Setelah bayi lahir, stimulasi bisa diberikan dalam bentuk suasana yang nyaman, bermain, bergembira. Orangtua tidak perlu tergesa-gesa menstimulasi anaknya.

Permainan yang diberi tidak perlu mahal. Jika selama ini banyak orang tua yang membelikan berbagai mainan warna warni dengan desain yang indah dan tentunya berharga mahal, ketahuilah bayi awalnya tertarik hanya pada benda yang bulat berwarna hitam putih.

Stimulasi pada bayi diberikan dalam bentuk gerakan, suara, musik, perabaan, bicara, menyanyi, menggambar atau mencoret.

Perkembangan Anak
Pola asuh keluarga sebaiknya dikondisikan dalam suasana demokratis. Prinsipnya, dalam membuat keputusan, orangtua perlu bertanya, mendengar suara anaknya.

Bila anak berbuat salah orangtua sebaiknya tidak menghukum. Berilah petunjuk bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut.

Pola asuh diktator dapat memicu kekerasan pada anak karena identik dengan larangan dan hukuman.

Perhatikan Kebutuhan Dasar Anak
Selain membentuk mental anak dengan suasana positif, orang tua juga perlu memprioritaskan kebutuhan fisis-biologis anak. Yaitu: nutrisi, imunisasi, kebersihan badan, lingkungan, pengobatan, olahraga dan waktu bermain.

Kasih sayang adalah imunisai mental terbaik! Buatlah anak anda senantiasa merasa aman, nyaman, dilindungi, diperhatikan baik minat, keinginan maupun pendapatnya. (iis)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Hak-hak Anak

Saat ini baik di Indonesia maupun di negara-negara lain sering kita lihat, dengar dan baca dari media elektronik dan media cetak anak-anak yang dianiaya, ditelantarkan bahkan dibunuh hak-haknya oleh orangtuanya sendiri maupun oleh kerasnya kehidupan. Hak asasi mereka seakan-akan tidak ada lagi dan tercabut begitu saja oleh orang-orang yang kurang bertanggungjawab.

Bukan orang dewasa saja yang mempunyai hak, anak-anakpun mempunyai hak. Hak-hak untuk anak-anak ini diakui dalam Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa pada tahun 1989. Menurut konvensi tersebut, semua anak, tanpa membedakan ras, suku bangsa, agama, jenis kelamin, asal-usul keturunan maupun bahasa memiliki 4 hak dasar yaitu :

* Hak Atas Kelangsungan Hidup
Termasuk di dalamnya adalah hak atas tingkat kehidupan yang layak, dan pelayanan kesehatan. Artinya anak-anak berhak mendapatkan gizi yang baik, tempat tinggal yang layak dan perwatan kesehatan yang baik bila ia jatuh sakit.

* Hak Untuk Berkembang
Termasuk di dalamnya adalah hak untuk mendapatkan pendidikan, informasi, waktu luang, berkreasi seni dan budaya, juga hak asasi untuk anak-anak cacat, dimana mereka berhak mendapatkan perlakuan dan pendidikan khusus.

* Hak Partisipasi
Termasuk di dalamnya adalah hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat dan berkumpul serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jadi, seharusnya orang-orang dewasa khususnya orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada anak karena bisa jadi pemaksaan kehendak dapat mengakibatkan beban psikologis terhadap diri anak.

* Hak Perlindungan
Termasuk di dalamnya adalah perlindungan dari segala bentuk eksploitasi, perlakuan kejam dan sewenang-wenang dalam proses peradilan pidana maupun dalam hal lainnya. Contoh eksploitasi yang paling sering kita lihat adalah mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Untuk itu ada baiknya para orangtua, lembaga-lembaga pendidikan maupun lembaga lain yang terkait dengan anak mengevaluasi kembali, apakah semua hak-hak asasi anak telah dipenuhi / terpenuhi.

BAYI TAK BUTUH KEHANGATAN BERLEBIHAN

source : milist balita-anda

dr. H. M. Hadat, Sp.A

Niat mulia tak selamanya berbuah positif. Memberi
kehangatan yang berlebihan pada bayi, mis., bisa jadi
bumerang. Selama ini orang tua begitu takut bayinya
kedinginan, sehingga merasa perlu mempersenjatai
putra-putri tersayang dengan baju hangat, selimut,
topi, sarung tangan, sampai kaus kaki tebal. Bahkan
ada orang tua yang sampai menutup rapat-rapat pintu,
jendela, lubang angin, melarang pemakaian kipas angin,
mematikan AC hanya agar bayinya selamat dari bahaya
masuk angin.

Tak ketinggalan, kebiasaan membaluri minyak telon atau
minyak kayu putih di tubuh bayi. Padahal di samping
bikin kepanasan, minyak-minyak itu juga bisa mengubah
kulit bayi menjadi kehitaman dan hangus. Pendek kata,
banyak orang tua tak sadar, kepungan sarana dan
prasarana penghangat justru menjadi penyebab bayi
menangis lantaran kegerahan.

Gerah membuat bayi banyak mengeluarkan keringat,
sehingga kehilangan banyak air dengan garam-garamnya.
Alhasil, dia jadi gampang haus, badan lemah sehingga
mudah terkena batuk-pilek. Jadi banyak orang tua
selama ini memperlakukan bayinya secara salah alias
salah kaprah. Begitulah kira-kira. Mengapa? Karena
bayi punya jaringan asam cokelat!

Begini penjelasannya:
Setiap manusia butuh energi untuk melakukan beragam
aktivitas. Energi itu datang dari hasil pembakaran
gula, lemak, maupun protein. Kelebihan gula dalam
darah, mis., diubah oleh hormon insulin menjadi
glikogen, sehingga kadar gula darah tetap dalam
batas-batas normal. Glikogen ini menjadi cadangan
energi yang terutama disimpan di dalam otot, jantung,
dan hati. Cadangan energi glikogen hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan energi tubuh selama 24 jam. Hal
ini berbeda dengan cadangan energi dari lemak yang
dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh selama beberapa
pekan. Karena tidak larut dalam air, pembakaran lemak
jadi lebih stabil dan lebih dapat diandalkan ketimbang
pembakaran gula yang larut dalam air. Itu sebabnya,
jika ada beban pekerjaan nan berat, jantung dan otot
lebih banyak memakai energi dari lemak.

Selanjutnya, kelebihan lemak dalam darah akan disimpan
di jaringan lemak. Jaringan lemak sendiri ada 2
macam. Pertama, jaringan lemak putih yang menyimpan
lemak dalam selnya, dan tersebar di seluruh tubuh,
terutama rongga perut dan jaringan di bawah kulit.
Kedua, jaringan lemak cokelat, terutama terdapat pada
bayi yang lahir cukup bulannya dan terbatas ada di
jaringan bawah kulit leher dan punggung.

Jaringan lemak cokelat ini makin berkurang dan
menyusut pada anak yang lebih besar dan hanya
tertinggal sedikit pada orang dewasa. Dia bisa
membuang kelebihan energi, mis., akibat makan
berlebihan, dengan membakarnya menjadi panas.
Keistimewaan lain, selnya dapat menyimpan sampai 40%
lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan ini
bisa mencapai tiga kali lipat ketimbang kenaikan suhu
yang disebabkan aktivitas olahraga.

Jelas sudah, dengan bekal jaringan lemak cokelatnya,
bayi tidak mudah kedinginan. Sebaliknya, mudah
kepanasan. Dibandingkan dengan orang dewasa muda,
daya tahan bayi terhadap udara dingin lebih tinggi
sekitar 50 der.C. Jadi, jika orang dewasa sudah
menggigil pada suhu 20 der.C, bayi tidak merasakan hal
yang sama. Buat bayi suhu 20 der.C setara dengan 25
der.C. Sebaliknya, suhu 25 der.C yang cukup dingin
buat orang dewasa bisa bikin bayi kegerahan. Sebab,
25 der.C-nya orang dewasa sama dengan 30 der.C-nya
bayi.

Itu sebabnya, meski berada di ruang ber-AC, bayi belum
tentu kedinginan. Juga tak perlu dipanasi dengan
minyak telon atau minyak kayu putih. Susu pun tidak
perlu selalu dicampur dengan air hangat. Bayi berumur
beberapa bulan bahkan lebih suka susunya didinginkan
di lemari es. Kalau boleh memilih, bayi pasti lebih
suka mandi dengan air dingin, apalagi kalau udara
sedang panas. Kesimpulannya, jangan membandingkan
kondisi bayi dengan kita, orang dewasa!

Sama-sama Menang berkat Kompromi

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Batita mulai punya pilihan-pilihan sendiri. Tak selamanya pilihan itu cocok dengan kita. Yuk, belajar berkompromi!

“Bunga mau pakai baju biru!”
“Kok, tiap hari pakai baju itu terus? Pakai baju merah saja, ya?”
“Nggak! Pokoknya pakai baju biru!”
“Kenapa pakai baju biru terus?”
“Baju biru enak!”
“Iya deh, hari ini Bunga boleh pakai baju tidur biru. Tapi besok kita cari baju lain yang sama enak, ya.”
“Oke, Bos!”

Akhirnya Bunga memakai baju kesayangannya, piama biru motif kotak-kotak. Jika saja ibunya tetap tak mengizinkan bocah tiga tahun itu mengenakan baju pilihannya, pasti dia sudah masuk angin. Acara berpakaian pun bisa ‘rusak’ karena Bunga mengamuk, ibunya hilang kesabaran.

Seperti ibunda Bunga, ayah-ibu harus belajar berkompromi dengan batita. Ini karena seiring dengan bertambahnya usia, batita mulai menyadari eksistensi dirinya sebagai pribadi tersendiri. Artinya, dia punya pilihan-pilihan dalam hidup ini, dan tidak mesti ikut pilihan ayah-ibu atau pengasuhnya terus.

Sulitnya – sulit menurut kita, lho – seringkali pilihan batita jatuh pada hal-hal yang di mata kita kurang sreg. Misal, pilihan baju kurang matching, pilihan menu kurang bergizi, atau pilihan mainan kurang mendidik. Banyak ayah-ibu nggak tahan untuk tidak menggunakan otoritas sebagai orangtua alias memaksakan pilihan mereka. Padahal ada lho, jalan keluar yang lebih mendidik, yang dalam dunia komunikasi sebutannya berkompromi.

Cara ini ditempuh terlebih dulu melalui proses mendengarkan pendapat batita, berempati terhadap pendapat tersebut, lalu menawarkan solusi sebagai jalan tengah. Menurut psikolog pendidikan anak Prof. DR. S.C. Utami Munandar, kompromi sebaiknya mulai dibiasakan di rumah sebagai cara untuk mengatasi perbedaan pendapat orangtua dengan anak.

Dan Batita Pun Percaya Diri

Sebenarnya dengan berkompromi, tak ada pihak yang ‘kalah’, melainkan semua menang karena kompromi biasanya menghasilkan win-win solution. Jadi saat berkompromi dengan anak, ayah-ibu tak perlu merasa egonya direndahkan. Malah menurut Utami, sebenarnya kompromi mengandung lebih banyak manfaat ketimbang ‘main paksa’. “Banyak hal akan kita dapat bila mau mendengarkan pendapat si kecil saat berkompromi. Pertama, kita akan mengetahui pandangannya (sebetulnya kenapa sih, Bunga inginnya memakai piama biru terus?) sehingga akan lebih mudah menyampaikan apa yang hendak kita sampaikan (“Nanti kita cari baju lain yang sama enaknya, ya”).

Kedua, pada beberapa kasus menghadapi anak yang ‘sulit’, biasanya mereka akan lebih kooperatif setelah orangtuanya mau mendengar alasan anak berbuat demikian,” papar Utami. Manfaat ketiga, dengan didengar suaranya, anak akan merasa dihargai sehingga percaya dirinya tumbuh. Batita seperti ini kelak akan mudah bergaul di lingkungan baru karena self esteem-nya sudah terbangun sejak kecil.

Yang paling mendasar bila kita mau berkompromi dengan batita adalah, dia akan terlatih berkomunikasi dengan baik karena kebiasaan berdiskusi dan menyampaikan argumen – meski sederhana. Kompromi juga bermanfaat bagi orangtua karena merupakan proses pembelajaran memupuk kesabaran, menekan ego, dan menumbuhkan jiwa demokratis.

Sayangnya, menurut Utami, sangat sedikit orangtua secara tulus mau berkompromi dengan anak, apalagi anaknya batita. “Budaya Timur mendudukkan anak sebagai pendengar, bukan teman. Padahal kompromi biasanya dilakukan jika kedua belah pihak merasa ‘berdiri sama tinggi duduk sama rendah’.”

Tidak mau berkompromi juga ciri sifat egois dan otoriter, lho. Selain bikin capek, karena nantinya membuat kita bersitegang terus dengan anak, jika iklim berkompromi tak dihidupkan di rumah, anak tidak terbiasa dengannya. Kelak setelah dewasa dia akan mencari cara-cara lain dalam menghadapi perbedaan pendapat atau pilihan, misal, cara kekerasan. Wah!

Di bawah ini langkah-langkah belajar berkompromi untuk diterapakn di rumah.

Lakukan Segera
Lakukan segera upaya mencari jalan tengah meski si kecil belum sempurna berbicara. Saat dia punya pilihan sendiri dan menolak pilihan kita, tuntunlah ke arah kompromi. “Oh, adik nggak mau sarapan dengan telur mata sapi? Kalau telurnya Mama rebus terus dikecapin seperti di tukang siomay, adik mau? Wah, pintar!”

Luangkan Waktu
Berpakaian atau mengenakan sepatu mungkin tidak selancar tahun lalu, karena kini kita harus meluangkan ekstra waktu beberapa menit menunggu pilihan anak, kemudian ekstra beberapa menit lagi untuk berkompromi jika pilihan itu terasa kurang sreg. Namun demi sempurnanya tumbuh kembang si kecil, luangkan saja waktu.

Perhatikan Pendapatnya
Jangan jadikan kompromi sebagai basa-basi, tapi hargailah betul-betul pendapat si kecil. Mengiyakan saja kata-katanya sekadar untuk menunjukkan seolah-olah kita berkompromi, tapi mengabaikan ‘isi kata-kata’ tersebut dengan kembali memaksakan kehendak kita, akan membuat anak merasa dikhianati. Upayakan kedua belah pihak sama-sama puas dengan hasil kompromi yang diambil.

Biarkan Dia ‘Menang’
Hasil kompromi tak selalu win-win untuk saat yang sama. Bisa jadi saat itu seolah kita ‘kalah’ karena harus mengalah pada pilihan batita. Perlu diingat, orangtua yang baik tidak akan selalu menekankan otoritasnya – kadang mereka menyerahkannya. Kabar baiknya, semakin banyak kesempatan Anda berikan pada anak untuk menentukan sendiri, makin dia tidak terdorong untuk memaksakan pilihannya.

Tetap Tenang
Bila kompromi sulit dicari, jangan kehilangan kesabaran (ingat, Anda-lah orang dewasanya, bukan batita). Sesekali bersedialah mengalah jika yang diperdebatkan tidak prinsipil (misal, soal pilihan piama, menu makan di hari Minggu, atau tempat rekreasi yang dituju). Akan tetapi, mengalahlah sebelum batita mengamuk.

Jangan Kompromi jika Tak Ada Pilihan
Jika urusannya tak dapat ditawar seperti makan obat, imunisasi, atau memakai sabuk pengaman di mobil, tentu kita tak bisa menerapkan kompromi.

Beri Pujian untuk Keberhasilan Berkompromi
Pujian dan kata-kata positif atas suksesnya suatu kompromi yang kita ambil bersama anak, akan mendorong batita lebih kooperatif lagi. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Batita Kembar, Jangan Selalu Sama

Sumber : cyberjob.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby

Anak kembar, apalagi identik, biasanya selalu disamakan. Tetapi saat usianya batita, sebaiknya Si Kembar mulai “dibedakan”.

Senangnya punya bayi kembar! Ke mana-mana selalu jadi pusat perhatian. Apalagi kalau mereka didandani semirip-miripnya, setelan bermotif sama, kapucong sama, sepatu sama, topi dan sarung tangan sama, kereta dorong pun sama. Bukan cuma dalam hal penampilan, dari segi sifat, selera makan, dan rutinitas harian pun, ayah-ibu cenderung memperlakukan Si Kembar sama. Jika yang satu makan, saudaranya juga ikut makan. Sama-sama dibelikan mobil-mobilan jeep, sama-sama ditidursiangkan pukul satu, sama-sama diajak jalan-jalan pukul 5 sore, atau rutinitas tidur malam sama-sama pukul 7. Jenis buah, snack dan susunya pun sama.

Tak heran bila akhirnya Si Kembar memiliki kedekatan emosional sangat kuat. Ini karena setelah selama 9 bulan berada pada rahim yang sama, begitu lahir dan tumbuh pun mereka selalu “disamakan”.

ASAH KEPRIBADIAN INDIVIDU

Sebenarnya banyak ahli perkembangan anak berpendapat, anak kembar sebaiknya jangan selalu diperlakukan sebagai satu kesatuan. Sebab hal ini sebenarnya dapat menghambat perkembangan fisik, emosi, perkembangan bahasa hingga perkembangan potensi intelektual mereka. Bahkan disinyalir, sikap “menyamakan” ini juga akan menghambat hampir setengah dari ketrampilan yang mereka butuhkan dalam hidup.

Menurut Psikolog Perkembangan Dra. Henny Eunike Wirawan, sebetulnya anak kembar tidak berbeda dengan anak lain. ”Kebetulan saja mereka mempunyai jarak lahir yang hanya berbeda beberapa detik atau menit,” jelas Pudek I Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta ini. Karena itulah, anak kembar sebenarnya bisa berkembang menjadi karakter yang berbeda. Misal, bisa jadi si kakak lebih emosional dan adik lebih rasional, atau sebaliknya.

Meski demikian, Henny maphum, mungkin ada orangtua yang lebih suka mengembarkan anaknya, karena terlihat lucu dan unik. ”Tapi untuk orangtua yang lebih bijaksana, pasti akan membiarkan mereka tumbuh sesuai pilihan serta karakternya masing-masing. Sebab semua gaya, sifat, ketertarikan, dan semua yang nempel pada anak itu pasti berbeda.”

Nah, untuk mengasah kepribadian perorangan pada anak kembar – tanpa mengganggu hubungan khusus mereka, saran Henny, berikut ini tips yang bisa dilakukan:
• Hindarkan diri Anda memanggil mereka “Si Kembar”. Panggilah mereka dengan nama mereka masing-masing. Mintalah seluruh anggota keluarga – termasuk pembantu – melakukan hal sama.

• Pastikan keduanya mudah dikenali. Walau mereka kembar identik, upayakan sedikit perbedaan di antara keduanya, misal, potongan rambut yang berbeda atau perhiasan/perlengkapan yang berbeda, sehingga orang lain mudah mengenali dan tidak salah panggil.

• Biarka n mereka memilih sendiri gaya baju mereka. Tekan keinginan Anda untuk memilihkan model/warna yang sama. Sebaliknya, usulkan (dengan tidak memaksa) pada mereka untuk menggunakan model/warna yang berbeda.

• Sediakan mainan dan benda-benda yang berbeda untuk masing-masing anak. Anak batita kembar seringkali lebih mudah saling berbagi daripada batita lainnya. Kalau perlu, tandailah mainan itu dengan nama mereka masing-masing.

• Perlakukan mereka secara setara, tetapi tidak selalu sama. Hargailah perbedaan mereka seperti yang dilakukan pada kakak beradik. Pada kembar identik mungkin tidak akan mudah, karena perbedaan mereka tidak tampak secara jelas dibanding persamaan mereka. Karena itu carilah keunikan masing-masing, bisa dari hobi, atau ketrampilan yang satu dengan yang lain.

• Luangkanlah waktu untuk masing-masing anak. Memang anak kembar lebih suka sering bersama, namun Anda harus meluangkan waktu untuk mengajak bermain/jalan-jalan salah satu di antara mereka secara bergantian.

• Jangan memaksa mereka berpisah kelas, bila memang mereka belum siap. Meski kebanyakan para ahli menganjurkan ini, namun pemisahan anak kembar terlalu dini bisa menyebabkan trauma bagi keduanya. Karena banyak anak kembar – meski tidak semua – sulit untuk berfungsi bila tidak ada kembarannya. Dalam menghadapi situasi baru, mereka kerap memadukan kekuatan sebagai satu tim. Seiring perkembangan, biarkan masing-masing mempunyai kegiatan dan teman sendiri-sendiri (tanpa selalu mengajak kembarannya). Hal ini akan membantu mereka membangun rasa percaya diri bila harus menghadapi situasi baru.

• Waspada terhadap perbandingan, ada baiknya Anda tidak membandingkan salah satu dengan yang lain pada mereka (misal, yang satu baik dan yang lain buruk). Sebab ini berarti Anda tidak mengakui kepribadian mereka, merusak harga diri, dan membangkitkan persaingan tidak sehat.

• Bila si kembar mempunyai kakak/adik yang lain, waspadailah persaingan di antara mereka. Jangan biarkan “sindroma anak kembar” membuat anak-anak lain terasing, akibat perhatian yang terlalu besar pada anak kemabr sehingga anak-anak lai nmerasa terabaikan dan menjadikan sebuah persaingan/permusuhan. Ada baiknya Anda berusaha memberikan perhatian yang adil pada setiap anak.

• Carilah bantuan. Mengawasi dua batita sekaligus bukan hal mudah, tentu Anda akan jauh lebih sibuk dibanding orangtua lainnya. Jadi tak perlu merasa malu bila membutuhkan bantuan teman atau keluarga. Di lain pihak, menjaga batita kembar lebih menyenangkan daripada dua batita dengan beda usia, karena anak kembar biasanya cenderung lebih akrab satu sama lain, saling menghibur dan karena biasanya sekamar, mereka pun jarang punya masalah tidur.(Rahmi Hastari/Berbagai sumber)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Belajar, Berpikir,dan Menerima Pengalaman Baru

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Di masa batita anak memasuki proses belajar, berpikir, dan menerima pengalaman baru. Yuk, kita bantu!

Serunya masa batita! Ini karena di masa batita, anak belajar lebih banyak ketimbang masa lain dalam hidupnya. Ada begitu banyak yang harus dipelajari. Mulai cara berteman, cara mengenal berbagai perasaan – percaya, sayang, empati, marah, takut – mengenal berbagai bentuk, rasa, warna, suasana, dan banyak lagi. Selain lewat pengalaman, semuanya dipelajari batita lewat bahasa. Namun yang paling seru dan menantang ternyata belajar lewat pengalaman, lho. Ini lantaran saat itu batita boleh mencoba berbagai hal langsung dan sendiri. Misal, ketika belajar mengenal bola. Batita boleh memegang sendiri bolanya, melempar, menendang, lalu melakukan apa saja untuk memuaskan ingin tahu; menduduki bola, menaruh bola di atas kepala, memukul dan mengempiskan bola.

Mengapa experential learning sangat menyenangkan bagi batita? Ini karena semua batita lahir dengan rasa ingin tahu yang besar, yang mendorongnya memulai proses belajar sedini mungkin. Dalam berbagai referensi tumbuh-kembang disebutkan idealnya orangtua dapat memelihara dan mengasah keingintahuan batita tersebut, lewat pola asuh yang memberi ruang penyaluran ekspresi dan kreativitas. Jika orangtua ikut berpartisipasi dan mendukung batita mulai belajar berbagai hal, kelak dia akan tetap mencari dan menjadi peserta yang aktif dan semangat dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, jika orangtua tidak mendukung proses pencarian batita, bisa saja dia berhenti mencari atau sedikitnya, jadi tidak bersemangat.

Untuk menyuburkan rasa ingin tahu dan menumbuhkan kecintaan batita belajar selama hidup, berikut beberapa tips yang bisa dijadikan panduan:

Terima, dukung, dan jawablah semua pertanyaan anak.
Karena banyak yang perlu dipelajari, jangan heran bila batita banyak sekali mengajukan pertanyaan. Kadang Anda mungkin malas dan lelah menjawab. Jangan lho, cobalah bertahan terus menjawab pertanyaan yang tak ada habisnya itu, sebab anak memang berhak mengetahui semua jawaban pertanyaannya (meski setiap jawaban biasanya membuahkan pertanyaan lainnya). Tentu saja jawaban Anda harus disesuaikan dengan usia anak, atau buatlah penjelasan dengan kalimat singkat dan sederhana.

Jika anak tidak mendapat jawaban atau menerima jawaban yang tidak memuaskan (misal, “Ah kamu terlalu kecil untuk mengerti”) biasanya mereka akan berhenti bertanya. Rasa ingin tahu dan minat eksplorasinya pun berhenti di titik ini. Sayang, kan?

Terima dan dukung penjelajahannya.
Eksplorasi anak kadang merepotkan karena membuat ruangan jadi berantakan. Tetapi percayalah, melalui proses eksplorasi ini anak mendapatkan “penemuannya”, yaitu bahwa dunia ini penuh dengan hal dan kejadian menarik yang perlu dialami agar anak memahaminya. Jadi, tahanlah keinginan Anda menghentikan penjelajah kecil ini, hanya demi kerapihan dan kebersihan semata. Sebab pada saat sama Anda bisa menghambat proses belajarnya yang penting. Selama penjelajahannya masih dalam taraf aman dan bisa ditolerir, biarkan saja ini terjadi.

Terima dan dukung percobaannya.
Pikiran batita selalu dipenuhi berbagai pertanyaan ingin tahu. “Apa yang akan terjadi jika aku mencabut bunga dari tanaman di kebun?”, “Apa yang terjadi bila aku mencubit temanku?” Meski tak ingin menghentikan semangatnya, tetapi Anda juga tak ingin membiarkan “ilmuwan cilik” ini menghancurkan tanaman kesayangan, atau membuat anak tetangga menangis, bukan?

Untuk itu cobalah berupaya menghentikan percobaannya dengan penjelasan, yang Anda ingin hindarkan adalah akibat buruk yang bisa menimpanya atau temannya. Jadi bukan melarang proses pembelajarannya. Cobalah alihkan perhatian anak pada hal lain yang mungkin menarik perhatiannya, namun tidak membahayakan.

Kenalkan anak pada berbagai situasi lingkungan.
Ajaklah anak bermain ke museum, taman bermain, toko, pasar, dan semua tempat yang aman dan cocok, yang dapat memberi pengalaman belajar. Umumnya anak menyerap banyak hal dari yang dia lihat. Lalu, Anda dapat menambah apa yang dipelajarinya dengan mengajukan pertanyaan dan menambahkan hasil pengamatan Anda sendiri.

Kenalkan padanya banyak pengalaman.
Bermain ayunan, bermain luncuran, bermain air di kolam, memasukkan tepung ke adonan, dan mencorat coret dengan crayon serta lainnya, merupakan kegiatan yang penuh dengan pengalaman bagi batita. Kemungkinan mendapatkan pengalaman ini sangat berharga dan komentar-komentar Anda dapat meningkatkannya, seperti “Lihat, semakin keras kamu mendorong, semakin tinggi ayunannya” atau “Lihat, kalau adonannya kamu aduk, tepungnya akan menyatu dengan telur” dan sebagainya.

Kenalkan daya khayal.
Anak dapat belajar dari khayalan – seperti dari buku, video, dongeng, film, dll – sebanyak yang dapat dia pelajari dari hidup sesungguhnya. Karena itu, ajaklah dia bermain peran. Dalam dunia khayalan, anak dapat berubah menjadi orang dewasa atau apa pun sesuai keinginannya.

Hindarkan menonton TV berlebihan.
Cara tercepat menghentikan pikiran adalah menyalakan televisi. Memang benar anak bisa mendapatkan informasi dari program terpilih di TV, tetapi ini adalah proses belajar pasif. Anak tidak didukung belajar sendiri dan menjadi peserta aktif. Akhirnya mereka bisa menjadi pelajar yang malas, dan dorongan alami mereka untuk menemukan segala sesuatunya sendiri, jadi terhambat – karena sudah disajikan di TV!

Masukkan proses belajar dalam kegiatan sehari-hari.
Dengan sedikit usaha sebetulnya Anda bisa semahir guru di kelas-kelas pre school. Anda dapat mengenalkan angka, warna, huruf, dari kegiatan sehari-hari. Ini bukan agar anak jadi pintar berhitung dan membaca sedini mungkin, namun untuk mengembangkan minatnya pada bidang ini kelak, dan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar.

Mendukung proses belajar dengan membina harga diri anak.
Agar mampu belajar, anak perlu senang pada dirinya sendiri. Jangan pernah memandang remeh atau mencela anak, yang membuat percaya dirinya mundur, dan membutnya kurang suka pada dirinya.

Buatlah pengalaman menjadi menyenangkan.
Jika anak merasa terpaksa dan tertekan dalam belajar, dihukum atau diejek bila gagal, atau dihadapkan cara belajar yang resmi terlalu dini, mereka bisa menjadi takut belajar, dan bukannya menyukai belajar.

Berikan teladan.
Tunjukkan pada anak sesungguhnya tidak pernah terlalu tua bagi seseorang untuk menjelajah, mencoba, dan menemukan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup. Ini juga berlaku bagi ayah-ibu. Semangat belajar Anda akan menular pada anak. (Rahmi Hastari/WTETTY)

Dalam mencari pengalaman melalui eksplorasi, batita kerap melakukan kesalahan atau kecelakaan tak disengaja. Misal, tercakar kucing saat membelai Si Pussy, memecahkan vas bunga ibu, atau tersenggol knalpot motor yang panas. Perasaan sakit, takut, dan bersalah yang timbul pada anak bisa membekas menjadi trauma, lho. Menurut Risatianti Kolopaking, S. Psi, untuk mengatasinya sebaiknya orangtua melakukan pengawasan dan segera memberi penjelasan pada anak.

Ini karena menurut psikolog pendidikan yang praktek di RS Hermina, Bekasi ini, batita sebenarnya tidak tahu apakah dia melakukan kesalahan atau tidak, sebelum orangtuanya memberikan penjelasan. ”Jangan langsung dimarahi atau disalahkan, karena rasa trauma bisa timbul justeru karena omelan Anda itu, bukan akibat peristiwanya,” terang lulusan Fakultas Psikologi Padjajaran Bandung ini.

Selama orangtua mampu memberikan penjelasan yang benar dan bisa dimengerti, lanjut Risa, anak tidak akan mengalami trauma terhadap yang dialami. Justeru, “Ada tiga hal sebenarnya yang bisa didapat anak dari pengalaman tidak menyenangkan, yaitu, dia belajar memecahkan masalah, bisa membaca situasi, dan bisa menganalisa sendiri masalah yang telah dihadapi.” (b Rahmi)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Ayahku Sibuk Terus!

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Figur dan kehadiran ayah sangat penting bagi balita. Tapi bagaimana kalau ayah tak pernah punya waktu?

“Bu, kok ayah kerja terus? Aku pengen main sama ayah,” keluh Sandi. Mata belonya memancarkan kekecewaan. Aneka mainan yang memenuhi kamarnya tak bisa mengobati kerinduannya. Bagaimana tidak. Sandi hampir tak punya kesempatan bermain bersama ayahnya. Setiap kali hanya kata ‘sibuk’ yang keluar dari mulut ibunya sebagai alasan. Padahal Sandi sangat menikmati saat-saat bersama ayahnya. Ia bisa bermain dengan lebih gembira dan kreatif bersama sang ayah. Sebagai anak laki-laki, ia juga menemukan tokoh identifikasi sebagai model untuk dirinya.

Sayang, karena pertemuan Sandi dan ayahnya sangat jarang, balita ini tak mendapatkan salah satu elemen pendidikan yang seharusnya ia terima. Keadaan ini, menurut psikolog pendidikan anak Prof. DR. Utami C. Munandar, akan menimbulkan berbagai masalah psikologis. Mulai dari lambannya perkembangan motorik, kurang berkembangnya kecerdasan emosional, hingga menurunnya tingkat kecerdasan intelektual.

Penelitian National Center for Education Statistics dan National Household Education menunjukkan, keterlibatan orangtua terutama ayah sangat berpengaruh pada tingkat prestasi anak. Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kepeduliannya secara langsung terhadap pendidikan anak akan membuat anak mendapatkan prestasi yang optimal. Menurut Myriam Medzian dalam bukunya Boys will be Boys, jika ayah ikut berbagi dalam pengasuhan atau mengasuh anaknya sendiri, anak laki-lakinya akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati dan kompetisi sosial yang baik.

Artinya, ayah tak hanya sebagai berperan sebagai pencari kebutuhan ekonomi keluarga semata. Utami menyarankan, ayah mesti secara sengaja menyediakan waktu untuk bisa berinteraksi dengan anak. “Waktu itu tidak boleh sisa dari aktivitas lain, tapi harus sengaja diusahkan agar pertemuan antara ayah dan anak jadi berkualitas,” jelas guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Saat ini yang terjadi malah sebaliknya. Anak mendapatkan waktu sisa dari keseluruhan aktivitas kehidupan ayah. Tak sedikit ayah yang menjadikan kebutuhan anak untuk bertemu dengannya sebagai kepentingan nomor sekian. Akibatnya, interaksi antara ayah-anak tak berjalan efektif.

Bila waktu pertemuan dengan anak mendapat perhatian khusus, secara otomatis ayah akan menyiapkan dirinya untuk menjadi orang yang menyenangkan saat berinteraksi dengan si kecil. Ayah tidak akan memikirkan hal lain saat bermain bersama balitanya. Dengan begitu ayah dapat mengeluarkan ide-ide menarik yang dapat memicu kreativitas anak saat bersamanya.

Tiga Cara

Hubungan yang dekat antara ayah dengan anak tidak dapat terjalin dengan sendirinya. Dalam buku Biosocial Perspective on Paternal Behavior and Involvement disebutkan, ayah bisa menjalin kedekatan dengan anak melalui tiga cara. Pertama, dengan kontak langsung. Misalnya ayah meluangkan waktu dengan bermain, memandikan anak-anak, atau mengajari anak tentang berbagai hal. Kedua, ayah menjaga agar selalu bisa dihubungi oleh anak. Anak mendapatkan waktu yang cukup panjang sehingga bisa berdiskusi dengan ayah, kapanpun anak inginkan. Ketiga, dengan selalu memupuk rasa tanggung jawab akan kesejahteraan anak.

Itu artinya, kesempatan ayah untuk memiliki ikatan yang cukup kuat seperti halnya ibu bisa dilakukan dalam keadaan apapun, meski ayah tak punya kesempatan berinteraksi langsung dengan anak. Yang terpenting, adanya jalinan komunikasi yang tidak terputus, di mana ayah memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk mengetahui keadaan anaknya. “Jadi, tak harus selalu bertemu secara fisik. Pada kondisi tertentu, ayah bisa memanfaatkan fasilitas apapun untuk menjaga agar hubungan dengan anak tetap terjalin,” ungkap Utami.

Namun, tentu saja, kondisi seperti ini harus dijelaskan kepada anak. Balita memerlukan alasan yang bisa diterimanya mengapa mereka tak bisa bertemu orangtuanya secara langsung. Penjelasan ini harus dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak terjadi salah persepsi. “Jangan lupa meminta pendapat apakah anak merasa keberatan dengan interaksi yang selama ini dilakukan.”

Dengan begitu, meski ayah tak bisa melakukan kontak langsung dengan anak, balita tak akan kehilangan figur ayah. Anak akan tetap merasa ayah mereka selalu berada di dekatnya. Ia pun tetap bisa menemukan figur atau model maskulin dalam keluarganya.

Dalam hal hubungan antara ayah dan anak, peranan ibu, menurut Utami turut berpengaruh. Ibu yang bisa memberikan kesempatan yang luas kepada ayah untuk dekat dengan anak bisa ikut membangun hubungan antara anak dan ayah yang lebih baik. “Akan sangat efektif bila ibu mengingatkan ayah untuk meluangkan waktu untuk anak, dan memberikan kepercayaan penuh saat ayah bersama anak.” Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Mempererat Bonding antara Bayi dan Ayahnya

Proses kehamilan, kelahiran dan ikatan emosi awal yang kuat sangat bergantung pada peran ayah. Pada kenyataannya, dukungan emosional dari suami selama kehamilan memberikan kontribusi yang kuat terhadap keberhasilan pasangannya beradaptasi dengan kehamilannya. Tak hanya itu, menurut R Parke dalam bukunya “Fathers”, kehadiran suami selama proses kelahiran juga terbukti dapat mengurangi rasa sakit yang dialami calon ibu saat persalinan.
Baca lebih lanjut

7 Mitos Anak Manja

7 Mitos Tentang Anak Manja
Kamis, 24 April 2008 | 15:24 WIB
Sebelum terlanjur mencap anak Anda anak yang manja, sebaiknya simak dulu mitos-mitos tentang anak manja dan penjelasan dari mitos-mitos tersebut.

Mitos 1: Terlalu sering digendong akan membuat anak jadi manja. Kadang-kadang anak harus dibiarkan menangis.

Kenyataannya:
Bayi butuh digendong, bila perlu sesering Anda bisa. Bayi menangis karena mereka lapar, sakit, buang air kecil, atau karena ingin diperhatikan.

Mitos 2: Anak-anak tidak boleh memiliki perasaan bahwa mereka selalu bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.

Kenyataannya:
Diperlukan contoh yang efektif dari orang tua dalam mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak selalu bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan. Misalnya jika anak ingin sesuatu, tanyakan padanya apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan keinginan tersebut. Mereka akan belajar dan memahami, keinginan bisa terwujud jika berusaha.

Mitos 3: Memang ada anak yang manja dari “sono”nya.

Kenyataannya:
Tidak ada anak yang terlahir manja. Manja merupakan kesimpulan dan penilaian yang dibuat oleh orang terhadap pengamatan suatu perilaku.
Anak yang merengek dan baru diam sesudah orangtuanya mengabulkan permintaannya, bukan berarti mereka manja. Mereka hanya berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan berperilaku “mengancam” agar permintaannya dikabulkan. Perilaku mereka inilah yang harus diarahkan dan diubah.

Mitos 4: Bagi sebagian anak, manja merupakan gambaran yang baik.

Kenyataannya:
Manja tidak pernah merupakan gambaran yang akurat bagi anak-anak. Jangan memberikan label manja pada anak. Bila Anda memberinya label manja, maka anak cenderung menjadi manja betulan.

Mitos 5: Sangat penting untuk menegur anak bila mereka bersikap manja.

Kenyataannya:
Bila Anda menyebut si kecil manja, yang mereka dengar bukanlah manja melainkan sebagai manja yang merusak. Tanyakan pada diri Anda, perilaku yang mana yang membuat Anda menilai anak Anda manja? Bila anak Anda merengek meminta sesuatu, ajarkan anak Anda cara meminta dengan menggunakan bahasa yang baik.

Mitos 6: Anak-anak yang memiliki mainan yang berlimpah cenderung dimanja.

Kenyataannya:
Mitos tersebut tidak benar. Kita harus melihat bagaimana benda tersebut diperoleh, kegunaannya, dan bagaimana sikap anak tersebut terhadap benda-benda yang dimilikinya.

Mitos 7: Anak yang manja perlu diubah perilakunya.

Kenyataannya:
Yang perlu diubah adalah perilaku orang tuanya dalam menghadapi anak yang mengancam karena keinginannya tidak dikabulkan.

Sumber : Kompas

Mencetak Anak Sehat

Kiat Mencetak Anak Sehat

Mengajarkan anak untuk memiliki kebiasaan hidup sehat tak cukup hanya lewat nasehat. Lebih dari itu, Anda perlu menjadi teladan bagi si kecil.

1. Menjadi contoh positif
Jika Anda tidak ingin anak Anda merokok, tunjukkan pada mereka Anda tidak punya kebiasaan itu. Bila tak ingin punya anak obesitas kurangilah kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak di rumah. Anak selalu meniru kebiasaan dan tingkah laku orang di sekitarnya.

2. Stop mengeluh
Hindari mengeluh di depan si kecil soal susahnya menurunkan berat badan atau menghentikan kebiasaan merokok. Keluhan-keluhan yang selalu Anda lontarkan akan membuat mereka menganggap hidup sehat itu sulit.

3. Tetapkan tujuan
Libatkan anak dalam membuat rencana kegiatan sehat yang akan dilakukan bersama, misalnya acara bersepeda sekeluarga atau mencoba resep makanan sehat.

4. Biarkan Anak mencoba
Kenalkan anak pada berbagai jenis kegiatan olahraga sejak dini dengan cara menyediakan alat-alat olahraga di rumah, misalnya raket atau bola basket.

5. Seimbangkan kebiasaan buruk dan baik
Tunjukkan pada mereka Anda tetap bisa menonton acara favorit di tivi sambil berlari di treadmill atau selalu menyikat gigi setelah makan makanan manis.

6. Hindari memberi makanan sebagai hadiah
Banyak ibu-ibu yang merayu anaknya untuk makan sayuran dengan memberi es krim atau kue sebagai hadiah. Kebiasaan itu akan membuat anak menilai es krim sebagai sesuatu yang baik dan sayuran hal yang buruk.

7. Biarkan mereka paham
Sampaikan pada si kecil pentingnya hidup sehat. Bila anak telah memiliki pemahaman akan kesehatan tak sulit untuk mengajaknya berolahraga atau makan makanan sehat.

Minta Maaf Pada Anak

9 Kiat Minta Maaf Pada Anak

Menjadi orangtua bukan berarti selalu benar dalam bersikap. Tak jarang, orangtua juga melakukan kesalahan pada anak, sehingga membuat hubungan terganggu. Inilah cara meminta maaf pada anak tanpa membuat Anda harus kehilangan wibawa di depannya.

1. Mengaku bersalah
Sadari bahwa Anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.

2. Tulus
Ketika meminta maaf, Anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika Anda membohonginya tentang hal ini.

3. Tenang
Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau Anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

4. Tepat sasaran
Katakan permintaan maaf Anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap Anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian Anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan Anda yang kasar, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.

5. Jangan menyalahkan
Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap Anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, Anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja Anda tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

6. Meminta maaf
Mengatakan bahwa Anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah Anda mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

7. Evaluasi
Bersama anak, lihat kembali bagaimana Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

8. Lupakan
Bagaimanapun juga, Anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah Anda. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika Anda memintanya tidak mengulang kesalahan.

9. Jangan berlebihan
Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat Anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena Anda memang bersalah, bukan karena Anda berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya

http://www.kompas.com