Vaksin Anak Tercemar DNA Virus Babi

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2010/03/23/0944090/Vaksin.Anak.Tercemar.DNA.Virus.Babi

*LONDON, KOMPAS.com — * Badan Pengawas Obat Amerika Serikat atau FDA,
Senin (22/3/2010), merekomendasikan kepada para dokter untuk
menghentikan sementara penggunaan vaksin rotarix kepada bayi karena
adanya kontaminasi DNA virus dari babi.

Material yang mencemari vaksin tersebut adalah DNA dari /porcine
circovirus 1/, sejenis virus dari babi yang belum dapat diketahui apakah
menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang.

Namun, FDA juga menekankan bahwa vaksin tersebut tidak menimbulkan
ancaman bagi kesehatan. “Tidak ada bukti pada saat ini bahwa material
ini menimbulkan risiko keselamatan,” ungkap Komisioner FDA Dr Margaret
Hamburg, seperti dikutip /CNN./

Hamburg juga mengatakan, sekitar satu juta anak di AS dan sekitar 30
juta anak di dunia telah memperoleh vaksin rotarix. Vaksin ini dibuat
oleh produsen obat asal Inggris, GlaxoSmithKline, dan disetujui
penggunaannya oleh FDA pada 2008.

Vaksin rotarix diberikan secara oral kepada bayi berusia enam pekan atau
lebih untuk mengatasi infeksi rotavirus yang mengakibatkan diare dan
muntah.
Vaksin untuk rotavirus lainnya, yakni RotaTeq, dibuat oleh Merck.
Hamburg menyatakan, RotaTeq, yang disetujui pemakaiannya oleh FDA pada
2006, tidak terkontaminasi.

Hamburg menjelaskan, FDA menemukan kontaminasi setelah dilakukannya
riset akademis menggunakan sejenis teknik untuk mendeteksi virus dalam
beragam vaksin. Mereka menemukan pencemaran material itu dan
melaporkannya kepada GlaxoSmithKline.

Pihak perusahaan Inggris itu sendiri telah membenarkan adanya
kontaminasi pada produknya. Pencemaran tersebut ditemukan pada tahap
awal pembuatan vaksin.

Dalam pernyataan tertulisnya, GlaxoSmithKline menekankan bahwa DNA virus
babi itu tidak menimbulkan ancaman penyakit bagi manusia. Virus ini
ditemukan pada produk daging dan sering kali dikonsumsi tanpa
menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan.

“Tak ada isu kesehatan yang teridentifikasi oleh agen eksternal atau
GSK. GSK peduli pada keamanan pasien dan memenuhi standar tertinggi
pembuatan vaksin dan obat-obatan. Kami sedang bekerja dan mendiskusikan
temuan ini dengan pejabat dan agensi di seluruh dunia, ” ungkap Chief
Medical Officer GSK Thomas Breuer.

Iklan

Pemerintah Segera Produksi Vaksin A H1N1

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/vie

Wednesday, 09 September 2009
JAKARTA (SI) – Pemerintah segera memproduksi vaksin untuk mengatasi
virus influenza subtipe A H1N1 (flu babi).Departemen Kesehatan dalam
waktu dekat ini segera melakukan uji klinis terhadap vaksin tersebut.

”Ya, proses penemuan vaksin tersebut tengah berlangsung,”ujar Dirjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) TjandraYoga
Aditama,Depkes,kepada Seputar Indonesiakemarin. Chandra berharap,vaksin
yang kini tengah dibuat oleh PT Bio Farma bisa berhasil dan mampu
mengurangi jumlah korban virus yang bermula dari Meksiko itu.

”Kita tahu hingga saat ini belum satu pun negara yang berhasil menemukan
vaksin H1N1.Semoga Indonesia bisa menjadi negara penemu vaksin
tersebut,”harapnya. Namun, saat ini Indonesia pun sudah siap menghadapi
flu babi dengan persediaan obat tamiflu sehingga tidak perlu memesan
vaksin dari luar negeri.

Apalagi vaksin di luar negeri juga masih dalam tahap uji coba dan baru
selesai pada Oktober 2009. ”Tidak semua negara berkembang mempunyai
persiapan seperti kita,”ujarnya. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX
Umar Wahid berharap, penelitian yang dilakukan perusahaan swasta
tersebut membuahkan hasil maksimal.

”Kita berharap, kerja (PT Bio Farma) mereka membuahkan hasil karena ini
menyangkut keselamatan banyak orang di Indonesia,”ujar Umar. Umar juga
menekankan,DPR akan memberikan dorongan terhadap langkah Depkes yang
saat ini sedang dilakukan. ”Jika Depkes melakukan hal itu, tentunya soal
anggaran akan kita bicarakan.

Tentunya dengan duduk bersama Menteri Kesehatan dan jajarannya. Hal ini
sudah mendesak karena bersifat urgen,” imbuh Umar. Bio Farma pun
berencana merampungkan vaksin flu babi atau A H1N1 pada 2010 sebanyak 20
juta dosis. Jika selesai, Indonesia menjadi negara yang mampu
memproduksi vaksin bagi kedua jenis influenza itu setengah tahun lebih
lama dari Jepang.

Menurut Direktur Peren-canaan dan Pengembangan PT Bio Farma
Iskandar,pihaknya akan mengoptimalkan benih untuk pembuatan vaksin. Pada
September tahap eksperimen akan dimulai dan pada Oktober dilanjutkan
dengan pengujian klinis antara lain diujikan kepada manusia. (fahmi faisa)

Beda Flu Babi dan Flu Burung

source : cybermed.cbn.net

Jakarta – Merebaknya berbagai macam flu membahayakan saat ini meresahkan masyarakat dunia. Bagaimana tidak, orang yang terkena dampaknya memiliki risiko kematian jika tidak segera ditanggulangi.

Saat ini penyakit flu yang paling menjadi momok flu burung dan flu babi. Apa dan bagaimana penyebab flu tersebut saat ini tengah menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan dan juga ahli kesehatan.

Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2009), kedua penyakit tersebut sama-sama disebabkan oleh penyebaran virus influenza tipe A. Flu burung disebabkan oleh virus H5N1 sementara penyebab flu babi adalah virus H1N1.

Sesuai dengan namanya, H5N1 yang menjadi penyebab flu burung penularan pertama terjadi ketika seseorang kontak dengan hewan aves atau burung yang telah terkena virus tersebut. Sementara flu babi sebagian besar ditularkan oleh hewan babi.

Kedua virus influenza tipe A ini juga sama-sama bisa menyebar dari manusia ke manusia. Bedanya, H1N1 memiliki tingkat kecepatan penyebaran lebih tinggi. Bahkan menurut hasil penelitian terbaru, hanya dengan sekali bersin saja sekira 100.000 virus H1N1 bisa menempel di mana saja dan berpotensi menyebarkan penyakit kepada orang yang menyentuh benda-benda yang terkena bersin.

Namun begitu, virus H5N1 lebih ganas daripada H1N1. Hal itu dikarenakan tingkat persentase kematian yang disebabkan H5N1 lebih tinggi, sekira 80 persen. Sementara H1N1 menyebabkan kematian hanya sekira enam persen.

Berbeda dengan H5N1 yang tumbuh subur di daerah tropis, tidak demikian halnya dengan H1N1. Namun negara manapun patut waspada mengahadapi penyebaran virus H1N1. Karena nyatanya virus tersebut kini tengah merebak di Meksico yang merupakan negara beriklim tropis. (srn)

Sumber: Okezone

Menkes: Flu Babi Lebih Tepat Disebut Flu Meksiko

sumber : cybermed.net.id

Yogyakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan flu babi atau Swine Influenza lebih tepat disebut flu Meksiko. Alasannya, kalau disebut flu babi dikhawatirkan akan mengganggu perdagangan babi.

“Kurang tepat kalau disebut flu babi karena akan mengganggu perdagangan babi,” ujar Menkes saat dicegat wartawan ketika menghadiri diskusi publik yang di Asri Medical Center (AMC) Jl HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, Kamis (30/4/2009).

Dia mengaku kalau virus H1N1 itu berasal dari hewan babi yang bisa menular ke manusia. Namun tingkat keganasannya lebih ganas H5N1 atau flu burung dibanding penyakit yang telah melanda Meksiko itu.

“Karena itu kita tak perlu khawatir berlebihan. Meski bisa menular ke manusia secara luas, tapi angka kematiannya tidak setinggi H5N1,” ungkap dia.

Menurut dia, angka kematian flu babi hanya 6 persen. Bila ada 100 orang menderita hanya 6 orang yang meninggal. Sebaliknya H5N1 bila ada 100 orang menderita di Indonesia maka 80 parsennya akan meninggal.

Dia meminta masyarakat tidak terlalu berlebihan sebab Indonesia sudah terlatih dalam menghadapi penyakit flu yang jauh lebih ganas, H5N1. Flu babi yang memang penyebarannya tapi tak seganas flu burung. “Kita jangan takut tapi harus waspada,” katanya.

Saat ini lanjut dia, Depkes telah memasang detektor temperatur di setiap pintu masuk bandara. Setiap turis yang masuk harus dideteksi panasnya. Kalau panasnya lebih dari 38 derajat celcius, perlu diperiksa lebih lanjut.

“Sebanyak 100 rumah sakit rujukan telah siapkan termasuk puskesmas-puskesmas dan poliklinik di bandara,” kata Fadilah.

Dia juga meminta agar masyarakat tidak melakukan ciuman. Yakni mencium anak, teman atau anggota keluarganya bila sedang terkena flu. Pola hidup sehat seperti melakukan cuci tangan pakai sabun juga harus dilakukan. “Kita hidupkan lagi sentinel-sentinel untuk mengirim sampel influenza ke Depkes,” katanya.

Ketika ditanyakan apakah adanya penyakit flu babi ini adalah permainan negara besar. Dia mengatakan dirinya tidak mengetahui hal itu. “Wah kita tak tahu. Yang penting kita fokus untuk menghadapi penyakit ini dan jangan sampai kena,” pungkas dia.
(bgs/djo)

Sumber: detikcom

Depkes keluarkan protap terkait flu babi

sumber : cybermed.cbn.net

Health News Mon, 04 May 2009 16:51:00 WIB

Jakarta – Pemerintah mengeluarkan prosedur tetap (protap) pengendalian dan penanggulangan influenza untuk mengamankan pertemuan Bank Pembangunan Asia (ADB) di Bali dan World Ocean Conference (WOC) di Manado pada 11-15 Mei sehubungan merebaknya flu babi.

Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan ada beberapa protap yang dikeluarkan pemerintah secara resmi di Nusa dua, Bali, pada 3 Mei itu berkaitan dengan diadakannya dua event internasional tersebut yang mendatangkan ribuan tamu dari berbagai negara.

Pertemuan ADB yang sedang berlangsung di Bali diperkirakan dihadiri sekitar 2.000-an peserta dari 67 negara. Sedangkan WOC 2009 di Manado akan dihadiri sedikitnya oleh 5.000 orang peserta dari 163 negara.

Prosedur tetap yang bertujuan untuk mengantisipasi penularan atau masuknya flu babi ke Indonesia tersebut isinya sebagai berikut:

Proses screening/penjaringan dan tata laksana di airport kedatangan bagi penumpang yang dicurigai menderita flu Meksiko/virus influenza A H1N1. Apabila ada penumpang yang dicurigai, diperiksa di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), kemudian dibawa ke rumah sakit rujukan.

Setiap pasien yang dicurigai, wajib mengikuti ketentuan yang berlaku di Indonesia, demi pencegahan perluasan penyakit Flu Meksiko/virus Influenza A H1N1 ke Indonesia.

Proses penerimaan di klinik pasien peserta pertemuan ADB di Bali, dan WOC di Manado, sbb:
Dokter dan tenaga kesehatan poliklinik sudah mendapat wawasan tentang Emerging Infectious Diseas (EID), khususnya flu Meksiko/ virus Influenza A H1N1.

Ketentuan pada nomor satu berlaku sama dengan menyediakan ruang isolasi khusus terbatas di tempat kejadian terdiagnosis, selanjutnya dirujuk ke RS Sanglah dan RS Kandouw. Spesimen pada pasien yang dicurigai diambil oleh RS Sanglah/lab Biomol FK Universitas Udayana dan RS Kandouw, dengan konfirmasi akhir ke Litbangkes Depkes.

Sambil menunggu ketentuan WHO untuk penanggulangan kasus Flu Meksiko/virus Influenza A H1N1 ini yang disepakati oleh Depkes, penderita dirawat sesuai prosedur yang berlaku. Penderita asing berhak mendapat second opinion dari negaranya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia.

Semua petugas yang kontak dengan orang yang dicurigai terpapar Flu Meksiko/ virus Influenza A H1N1 wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) dan Protection Personal Equipment (PPE).
Setiap pasien yang dicurigai menderita Flu Meksiko/virus Influenza A H1N1, wajib melengkapi diri dengan copy paspor dan visa.

Setiap pasien yang dicurigai wajib mengikuti ketentuan yang berlaku di Indonesia, demi pencegahan perluasan penyakit Flu Meksiko/ virus Influenza A H1N1 ke Indonesia. Apabila diperlukan, dokter RS Sanglah dan RS Kandouw dapat mengeluarkan surat keterangan medik terhadap proses penatalaksanaan penderita.

Tim Dinas Kesehatan Bali dan Dinas Kesehatan Sulawesi Utara akan menilai seluruh proses setiap saat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tim Dinas Kesehatan berhak melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap setiap peserta, dan setiap orang lainnya yang terlibat dalam kegiatan ini, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia

Menkes mengatakan pembiayaan yang timbul akibat ketentuan prosedur tetap tersebut, akan menjadi tanggung jawab pemerintah Indonesia. “Bila ada tamu asing dalam kedua event tersebut, nantinya diketahui terserang flu Meksiko, mereka akan dirawat dan diobati dulu di Indonesia, sampai layak terbang kembali ke negaranya,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, perlu diketahui bahwa sampai detik ini belum ada satu pun warga Indonesia yang terkena virus flu Menksiko ini. “Untuk tamu asing yang mengikuti pertemuan ADB di Bali, ada satu wartawan China yang dicurigai, karena terdeteksi oleh thermo scanner bahwa suhu buruhnya tinggi. Setelah diperiksa dengan seksama oleh dokter, ternyata dia hanya menderita flu biasa, dan saat ini sudah sehat kembali”.

Menurut dia, untuk mencegah masuknya flu Meksiko ke Indonesia, Depkes telah melakukan koordinasi dengan mengirimkan surat edaran secara nasional kepada Kepala dinas kesehatan provinsi, Kepala UPT di lingkungan Ditjen Penanggulangan Penyakit dan Pernyehatan Lingkungan (P2PL), yaitu Kantor kesehatan pelabuhan dan Balai teknik kesehatan lingkungan, dan RS vertikal mengenai langkah-langkah antisipasi.

Siti Fadilah juga mengungkapkan pihaknya sudah mengeluarkan tiga SK berkaitan dengan flu Meksiko ini yaitu SK Menkes No.290/Menkes/IV/2009, 28 April kepada Gubernur seluruh Indonesia perihal tindakan kewaspadaan dalam menghadapi Swine Flu.

Selain itu Keputusan Menkes No.310/Menkes/SK?V?2009 tentang Pembentukan tim penanggulangan kesiapsiagaan dan pandemi penyakit Swine Flu. Dan Keputusan Menkes No. 311/Menkes/SK/V/2009 tentang Penetapan kesiapsiagaan dan pandemi penyakit Swine Flu. (tw)

Sumber: Bisnis Indonesia

Jumlah kasus flu babi global capai 1.085

SOURCE cybermed.cbn.net
Health News Tue, 05 May 2009 13:18:00 WIB

New York – Kasus flu babi mencapai 1.085 di seluruh dunia, dengan penyebaran di 21 negara dan setiap wilayah utama di AS, kata pejabat kesehatan.

Di AS, virus H1N1 telah dipastikan melalui tes laboratorium terhadap 286 pasien di sembilan wilayah yang dilacak sensus AS, ungkap U.S Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta. Penyakit tersebut, yang paling banyak terjadi di Kanada, Meksiko dan AS, telah terdeteksi di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Eropa, Timur Tengah, Asia dan Selandia Baru.

WHO menyatakan bersiap menghadapi kemungkinan akan semakin parahnya penyakit tersebut, meski ada indikasi virus tersebut tidak akan lebih buruk dari flu musiman. Karena wabah penyakit terjadi di Meksiko, yang terjangkit paling parah, para pejabat kesehatan memfokuskan di Hemisphere Selatan, di mana flu musiman kemungkinan terjadi sebelum vaksin flu babi tersedia.

U.S. CDC melaporkan 286 kasus di 36 negara bagian AS, dengan satu korban meninggal dunia. Jumlah warga yang terjangkit flu di AS meningkat ketika musim flu normal akan berakhir, ujar CDC. Sedikitnya 533 sekolah di 24 negara bagian diliburkan hari ini, yang mengistirahatkan sekitar 330.000 siswa, ujar Departemen Pendidikan AS.

St. Francis Preparatory School di New York, di mana lebih dari 1.000 orang siswanya diperkirakan terinfeksi, hari ini kembali dibuka setelah tutup sejak 27 April. New York telah mengonfirmasikan 73 kasus flu babi, kata Thomas Frieden, pejabat kesehatan kota saat konferensi hari ini.

Pernyataan terjadinya pandemik sangat penting, kata World Health Organization pekan lalu. WHO menaikkan peringkat waspada 6 menjadi 5 pada 29 April dan peningkatan lebih lanjut akan mengindikasikan terjadinya pandemik, mengingatkan pemerintah untuk menjalankan rencana untuk menghambat penyakit tersebut.

WHO, agen PBB yang berbasis di Jenewa, hari ini menambahkan Kolombia dan El Salvador ke dalam daftar negara yang mengonfirmasi kasus flu babi. Negara lainnya adalah Austria, Canada, Kosta Rika, Denmark, Prancis, Jerman, China (Hong Kong), Irlandia, Israel, Italia, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Inggris dan AS.

Pejabat kesehatan Kanada pada 2 Mei lalu melaporkan kasus pertama penyakit tersebut di dunia yang menular ke babi dari manusia, kemungkinan setelah pekerja pertanian di Provinsi Alberta mengalami sakit ketika melakukan melakukan perjalanan ke Meksiko. Ratusan babi di perternakan tersebut menunjukkan gejala terjangkit strain virus H1N1 yang menjangkiti manusia, lapor Canadian Food Inspection Agency.

Tiga strain virus flu musiman utama yakni H3N2, bentuk lain dari H1N1 dan tipe-B, menyebabkan 250.000 hingga 500.000 orang meninggal di dunia per tahun, lapor WHO. Gejala flu jenis baru ini serupa, yakni gatal-gatal, batuk, dan demam. CDC menyatakan orang-orang yang menderita flu babi kemungkinan juga mengalami diare.

Pihak otoritas menyarankan untuk mencuci tangan, hidup higienis dan diam di rumah ketika sakit sebagai cara yang paling efektif untuk mengontrol penyebarannya. WHO dan CDC mengatakan menutup perbatasan atau membunuh hewan merupakan langkah yang mahal yang tidak akan memperlambat penyebaran flu babi.(t03/er)

Sumber: Bisnis Indonesia