Merapi Meletus Lagi

sumber : vivanews.com

VIVAnews – Sejak pertama kali meletus, Selasa 26 Oktober 2010 lalu, Gunung Merapi hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mulai jinak. Bahkan, kemarin, Rabu 3 November, kondisi Merapi kritis. Hampir empat jam lebih, suara dentuman dan awan panas vulkanik, wedhus gembel, meruap dari pucuknya.

Si wedhus gembel kini makin liar, meluncur jauh hingga 9 kilometer. Radius luncurannya ini tiga kali lebih jauh dibandingkan dengan luncuran yang terjadi pada 26 Oktober. Yang mengerikan, semburan awan panas ini juga ditingkahi suara dentuman keras.

“Telah terjadi krisis di Merapi sejak pukul 11.04. Awan panas sudah keluar selama 47 menit, tapi hingga kini belum berhenti,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief dalam akun Twitternya, Rabu 3 Novbember 2010.

“Sedang akan diambil keputusan baru menyangkut jarak radius pengungsian diperpanjang,” tambah Andi.

Warga panik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemudian mengeluarkan pengumuman, pengosongan wilayah dengan radius 15 kilometer dari puncak gunung yang sedang muntab itu. Semula, lembaga tersebut hanya mematok di angka 10 kilometer.

Penetapan radius berbahaya ini berlaku sejak pukul 16.00 WIB. “Semua tanpa kecuali (harus) mematuhi ini (PVMBG),” tegas Andi.

Artinya, aturan berlaku tidak hanya untuk warga yang tinggal di sepanjang radius itu, tapi juga jurnalis dan tim relawan yang berjibaku dengan petaka dalam bencana ini.

Peningkatan letupan Merapi sebetulnya sudah terjadi sejak pagi hari. Pengamatan PVMBG antara pukul 08.00-12.00 WIB mencatat gempa multiphase terjadi sebanyak 21 kali. Gempa guguran juga masih mendominasi, yakni 140 kali dan awan panas 38 kali.

Sementara kepulan asap awan panas teramati di semua pos dengan arah menuju Kali Gendol. Rentetan awan panas ini terjadi sejak pukul 11.04 WIB hingga pukul 18.01 WIB. PVMBG membeberkan kronologi erupsi Merapi itu sebagai berikut:

1. Pukul 11.11-13.19 WIB, terjadi awan panas beruntun dengan durasi maksimum 2 menit. Sementara cuaca dalam keadaan kabut dan hujan, sehingga tidak bisa melihat keadaan puncak Gunung Merapi.

2. Pukul 13.27 WIB dan 13.30 WIB, terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak 2 kali.

3. Pukul 14.00-14.03 WIB, terjadi guguran besar beruntun sebanyak 4 kali, durasi makimum 1 menit.

4. Pukul 14.04 –14.27 WIB, terjadi rentetan awan panas dengan durasi maksimum 5 menit. Diperkirakan jarak luncur awan panas lebih dari 10 km, sehingga diputuskan untuk memperluas daerah aman hingga di luar radius 15 km.

5. Pukul 14.44 WIB, terjadi awan panas besar selama 1,5 jam.
6. Pukul 16.23 WIB, aktivitas mulai reda.
7. Pukul 17.30 WIB, dilaporkan bahwa semburan awan panas terjadi lagi, luncurannya mencapai 9 km di alur Kali Gendol.
8. Pukul 18.01 WIB, luncuran awan panas terjadi lagi.

Belum didapat laporan resmi apakah ada korban jiwa akibat erupsi kali ini. Namun tiga rumah dan satu kandang di RT 03/RW 04, Dusun Jambu, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, habis dilumat si wedhus.

Koordinator Tim SAR Sleman, Suharyono yang bermarkas di Posko Utama Merapi, Pakem, Sleman, mengungkapkan ketakutan dan kepanikan warga sekitar Merapi. Mereka meminta lokasi pengungsian di Kepuharjo dan Glagaharjo dipindahkan ke lokasi lain. Barak pengungsian di dua wilayah ini memang berada di radius bahaya. Untuk sementara, pengungsi di Kepuharjo dievakuasi ke Barak Wukirsari yang ada di Cangkringan.

Ancaman Lahar Dingin

Hingga pukul 21.00 WIB, letupan belum juga mereda. Seiring itu bahaya lain mengintai. Hujan deras yang mewarnai letupan Merapi memicu petaka lanjutan, banjir lahar dingin.

Informasi yang disampaikan radio komunitas Merapi menyebutkan, sekitar pukul 16.30 WIB, lahar dingin dari puncak Merapi telah mengalir ke Kali Gendol. “Warga yang tinggal di 200-300 meter dari sisi Sungai Gendol diminta segera mengungsi,” kata petugas pengamat Merapi, Samsang.

Tak hanya Kali Gendol, lahar dingin juga merembes ke Kali Kuning, Umbulharjo, Sleman, tepatnya di sisi timur Kaliurang. Kedalaman lahar dingin ini antara 50 cm hingga 1 meter. Material yang terkandung dalam lahar dingin ini masih berupa pasir dan krikil dengan sedikit endapan lumpur di atasnya. Bau belerang sangat menyengat.

PVMBG meminta warga menjauhi bibir sungai karena dikhawatirkan terjadi luapan lahar dingin jika badan sungai tidak mampu menampung material Merapi.

Laporan: Fajar Sodiq | Sleman

Merapi Meletus Lagi 1 November 2010

sumber : VIVAnews.com,

VIVAnews – Gunung Merapi kembali meletus dan mengeluarkan awan panas. Gumpalan awan pekat hitam terlihat sekitar pukul 10.00 WIB.

Pantauan VIVAnews.com dari Posko Induk di Pakem, Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin 1 November 2010. Letusan yang besar itu dimuntahkan dari puncak menuju ke arah selatan.

Suasana di Posko Induk langsung haru-biru. Warga dan pengungsi yang berada di dekat lokasi langsung panik. “Ini kemungkinan lebih besar dari yang sudah ada,” kata warga setempat. Hembusan awan panas, lebih tinggi dari letusan Selasa 26 Oktober 2010.

Hingga kini, letusan yang mengeluarkan awan hitam pekat itu masih berlangsung. Abu vulkanik belum terasa di sekitar Pakem, Kaliurang. Abu vulkanik juga terlihat mengarah ke arah Timur. Warga di himbau agar tidak panik.

Dua kali letusan besar terjadi di Merapi. Pada 26 Oktober, wedhus gembel menewaskan sekitar 37 orang. Pada Minggu 31 Oktober dini hari sempat terjadi dentuman yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Pada Minggu petang juga terjadi empat kali awan panas.

“Seperti sudah saya prediksi. Letusan Merapi kali ini tiga kali lebih besar dari 1997, 2001, dan 2006,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Surono, kepada VIVAnews.com, pagi tadi.

Merapi Meletus Lagi

sumber : http://infogres.com/2010/10/30/merapi-meletus-lagi-yogyakarta-diguyur-hujan-abu-pekat/

Gunung Merapi meletus lagi, kawasan Yogyakarta diguyur hujan abu pekat setelah erupsi Gunung Merapi. Hujan abu terpantau di Kecamatan Ngemplak, Ngadlik dan Mlati.

Warga di sekitar lereng Gunung Merapi diminta oleh Tim SAR untuk mengungsi ke arah Kota Yogyakarta. Di Turi dan Pakem, terdengar sirene serta pengumuman agar mengungsi, Sabtu (30/10/2010) dini hari.

Mobil, motor serta orang-orang yang menuju Selatan Yogya pun berwarna putih abu-abu tertutup debu.

Di Kaliurang, Sleman, hujan abu pekat mengguyur hingga sejauh 20 Km dari puncak Merapi. Awalnya hujan abu bercampur pasir turun dengan deras, sempat pula turun bersama air.

Pada pukul 02.00, di beberapa titik, abu bercampur pasir menutupi jalan setinggi setengah cm.

Lalu lintas pengungsi dari arah Lereng Merapi yang melalui Kaliurang mulai berkurang. Sesekali terlihat ambulance menuju arah Merapi untuk melakukan evakuasi warga yang masih tersisa di lereng.

Kronologi Letusan Merapi

sumber : http://infogres.com/2010/10/27/inilah-kronologi-meletusnya-gunung-merapi-secara-langsung/

sumber : detik.com

Gunung Merapi akhirnya meletus sebagai penjelasan bahwa Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di dunia dan paling berbahaya di Indonesia telah meletuskan pada Selasa 26 Oktober pukul 17.02 WIB.

Berikut kronologi letusan Merapi versi pemantau langsung sebagaimana siaran pers Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Rabu (27/10/2010):

Ada 4 seismograf untuk mengamati akvitas vulkanik Merapi, yang diletakkan di Klatakan/Babadan/Magelang (sisi barat); Pusunglondon/Selo/Boyolali (utara); Deles/Klaten (timur/tenggara); dan Plawangan/Turgo/Kaliurang (selatan).

*Menjelang Pukul 16.00 WIB*
Aktivitas vulkanik masih cenderung naik, pasca naiknya status menjadi “Awas” sejak sehari sebelumnya. Secara visual melalui kamera yang diletakkan di pos pengamatan lereng Merapi tidak bisa diamati langsung karena tertutup kabut tebal sejak beberapa jam sebelumnya (foto pojok kiri bawah). Bahkan pos-pos yang berada di lereng Merapi pun melaporkan bahwa mereka tidak bisa memantau secara visual. Komunikasi melalui jaringan radio HT.

*Pukul 16.00 – 17.00 WIB*
Ada peningkatan aktivitas cukup signifikan meliputi gempa vulkanik, multiphase (MP), guguran, dsb. Tapi masih dianggap belum ‘cukup’ berbahaya. Tak ada gambaran visual sama sekali. Semua hanya tergantung pada alat-alat. Sempat ada wawancara oleh sejumlah media nasional pada petugas terkait kemungkinan/skenario letusan yang akan terjadi.

*Pukul 17.00 – 17.30 WIB*
Terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang sangat tajam, terutama mulai pukul 17.02 WIB, yang ternyata adalah luncuran awan panas. Empat seismograf tadi semuanya mencatat amplitudo getaran yang sangat lebar (besar), bahkan jarumnya pun terlepas berulang kali. Petugas monitoring mulai sibuk dan panik luar biasa, apalagi karena besarnya amplitudo dan lamanya kejadian. Pos-pos pengamatan di lereng pun juga melaporkan demikian, hanya saja sama sekali tidak diketahui, apa itu awan panas / yg lain. Semua tertutup kabut tebal. Tak ada yang bisa menduga ada apa di balik kabut tebal itu.

*17.30 WIB – 18.30 WIB*
Kabut masih sangat tebal dan mulai gelap. Semakin sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di Merapi. Empat seismograf masih saja mencatat getaran yang sangat besar (dan lagi-lagi beberapa kali jarumnya sampai lepas, dan gulungan2 kertasnya diganti cepat sekali – padahal normalnya 12 jam sekali). Petugas menyatakan ada 3 kali letusan & luncuran awan panas dan kemungkinan eksplosif menyebar ke segala arah. Petugas pusat memperintahkan pada semua petugas pos di lereng merapi untuk langsung meninggalkan pos, turun untuk evakuasi. Petugas juga menghubungi aparat-aparat di beberapa tempat, agar dilakukan evakuasi paksa untuk warga. Sirene di berbagai tempat dibunyikan. Jaringan radio HT mulai sangat crowded, begitu pula jaringan telepon di pos. Beberapa petugas terlihat sangat panik (menangis?), sembari terus berdoa dan bertakbir.

*Pukul 18.30 – 19.00 WIB*
Petugas pusat mengeluarkan pernyataan/informasi resmi pada media, tentang terjadinya letusan ini, serta fokus sekarang adalah pada proses evakuasi. Aktivitas vulkanik yang terdeteksi di seismograf mulai menurun, kecuali 1 seismograf di Plawangan/Turgo/Kalikuning. Petugas mengkhawatirkan daerah sekitar Kinahrejo (tempat mbah Maridjan), Kaliadem, dan sekitar lereng selatan Merapi.

*19.00 WIB – …
Petugas di pos-pos pengamatan lereng Merapi naik kembali ke pos mereka (tapi beberapa masih dilarang untuk kembali untuk beberapa saat). Hujan kerikil dan abu mulai dilaporkan oleh pos-pos pemantauan, terutama di daerah barat daya Merapi. Bau belerang juga bisa dicium dari sekitar lereng. Aktivitas Merapi dipantau dari seismograf, terus cenderung turun, bahkan stabil normal tenang, walau beberapa kali kadang terjadi guguran material. Secara visual Merapi masih tertutup kabut, sehingga tidak ada bisa yang bisa melihat ’seberapa besar letusan, kemana arah awan panas, dsb’. Kondisi petugas mulai tenang, bahkan beberapa kali terlihat bercanda. Wartawan dan media masih terus standby di pusat pemantauan, dan beberapa menyusul naik ke Kaliurang.

*Aftermath*
Petugas BPPTK menyatakan Merapi sekarang ini sedang dalam kondisi tidur nyenyak setelah aktivitas tadi. Belum diketahui, apakah akan ada aktivitas vulkanik susulan lagi. Mereka sempat khawatir, jika yang terjadi tadi hanyalah/baru awal saja. Sebagaimana pola-pola erupsi Merapi yang sebelumnya, yang biasanya kecil dulu, lalu sedang, besar, berkurang, kembali ke normal lagi, dst. Titik api / aliran lahar juga belum bisa dikonfirmasi. Apa yang terjadi tadi lebih besar daripada yang terjadi tahun 2006.

Lokasi yang terkena letusan / awan panas petang tadi, kemungkinan besar daerah-daerah sekitar lereng Merapi, dalam radius 4-6 km, terutama lereng selatan.

Abu/debu vulkanik dilaporkan bahkan sampai Gombong – Kebumen. Evakuasi masih terus dilakukan.

Detik-Detik Merapi Meletus

sumber : http://sugengsetyawan.blogspot.com

Gunung merapi meletus pada hari Selasa kemarin tepatnya tanggal 25 Oktober 2010 pukul 17.00 wib
Setelah beberapa hari aktifitas vulkanik G. Merapi terus mengalami peningkatan secara signtfikan baik jumlah maupun energi gempabumi vulkanik, Selasa (26/10) sore G. Merapi memasuki fase erupsi. Berikut dibawah ini kronologis letusan G. Merapi yang terjadi Selasa sore hingga menjelang malam.

1. Pukul 17.02 mulai terjadi awanpanas selama 9 menit
2. Pukul 17.18 terjadi awanpanas selama 4 menit
3. Pukul 17.23 terjadi awanpanas selama 5 menit
4. Pukul 17.30 terjadi awanpanas selama 2 menit
5. Pukul 17.37 terjadi awanpanas selama 2 menit
6. Pukul 17.42 terjadi awanpanas besar selama 33 menit
7. Pukul 18.00 sampai dengan 18.45 terdengar suara gemuruh dari Pos Pengamatan Merapi di Jrakah dan Selo
8. Pukul 18.10, pukul 18.15, pukul 18.25 terdengan suara dentuman
9. Pukul 18.16 terjadi awanpanas selama 5 menit
10. Pukul 18.21 terjadi awanpanas besar selama 33 menit
11. Dari pos Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi
12. Pukul 18.54 aktivitas awanpanas mulai mereda
13. Luncuran awanpanas mengarah kesektor Barat-Barat Daya dan sektor Selatan-Tenggara

Kronologi dikutip dari Letusan Gunung Merapi Tanggal 26 Oktober 2010 yang dikeluarkan oleh a.n Kepala Badan Geologi, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Gunung Merapi merupakan gunungapi tipe strato, dengan ketinggian 2.980 meter dari permukaan laut. Secara geografis terletak pada posisi 7° 325′ Lintang Selatan dan 110° 26.5′ Bujur Timur. secara administratif terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyalali dan Kabupaten Klaten. Status kegiatan G. Merapi ditingkatkan dari Normal manjadi Waspada pada tanggal 20 September 2010, ditingkatkan menjadi Siaga pada 21 Oktober 2010 dan menjadi Awas, terhitung sejak 25 Oktober 2010

Badai Matahari 2012, Masyarakat Tak Perlu Cemas

sumber :http://www.kapanlagi.com/h/badai-matahari-2012-masyarakat-tak-perlu-cemas.html

Kapanlagi.com – Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap badai matahari yang diprediksikan terjadi pada 2012, karena dampaknya terkait dengan cuaca maupun iklim di Indonesia tidak signifikan.

“Apalagi kita tinggal di dekat katulistiwa dan berdekatan dengan samudera yang luas, maka tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan terkena dampak dari badai matahari itu, seperti terjadi kemarau panjang yang mengancam ketersediaan pangan dan air bersih,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Toni Agus Wijaya, Rabu (17/6).

[Info untuk Anda: “Semua berita KapanLagi.com bisa dibuka di ponsel. Pastikan layanan GPRS atau 3G Anda sudah aktif, lalu buka mobile internet browser Anda, masukkan alamat: m.kapanlagi.com”]

Berdasarkan laporan laman Inggris ‘New Scientist’, badai matahari atau solar storm, adalah siklus ledakan dahsyat dari masa puncak aktivitas bintik matahari yang biasa terjadi setiap 11 tahun sekali.

Ilmuwan Amerika Serikat memperingatkan bahwa badai matahari yang akan terjadi pada 2012 memiliki daya rusak yang jauh lebih besar, antara lain terjadi kemarau panjang sehingga mengancam ketersediaan pangan dan air bersih.

Menurut Toni, sejak awal 2008 para ahli mulai melakukan pencermatan dan kajian tentang kemungkinan dampak yang timbul akibat dari badai matahari, terhadap cuaca maupun iklim di bumi.

“Sampai sekarang masih dikaji apakah nantinya badai tersebut ada pengaruhnya atau tidak terhadap cuaca maupun iklim di bumi. Yang pasti, cuaca maupun iklim sangat dinamis, sehingga kajian itu harus dilakukan terus menerus, guna mendapatkan kesimpulan yang akurat,” katanya.

Ia mengatakan, matahari adalah pengendali cuaca. Sehingga perubahan cuaca maupun iklim, faktor utamanya adalah matahari.

Toni menyebutkan badai matahari terjadi karena ada aktivitas di planet matahari. “Ledakan dahsyat dari masa puncak aktivitas bintik matahari yang terjadi setiap 11 tahun sekali itu mengeluarkan partikel, dan panasnya sangat tinggi. Ini semacam siklus, dan sudah biasa terjadi,” katanya.

Menurut dia, selama ini dampak dari badai matahari di antaranya mengganggu komunikasi melalui radio. “Tetapi, gangguannya tidak terus menerus, hanya pada saat-saat tertentu, dan biasanya hanya dua atau tiga hari,” katanya.

Sementara itu, Wahana lingkungan hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengingatkan pemerintah perlu memberikan informasi kepada masyarakat luas termasuk petani dan nelayan mengenai dampak badai matahari dasyat yang diprediksikan terjadi pada 2012.

“Misalnya saja, selama ini petani kita melakukan proses tanam hanya dengan menyesuaikan musim. Tetapi jika pada 2012 musim itu sudah bisa diprediksi dan ada kaitannya dengan badai matahari, maka sebaiknya pemerintah memberikan informasi kepada petani,” kata Direktur Walhi DIY Suparlan.

Ia mengatakan informasi kepada petani di antaranya mengenai cara untuk beradaptasi dan melakukan mitigasi bencana, sehingga petani dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai jenis tanaman dan waktu penanaman, sekaligus menghindari kemungkinan terjadi kekurangan pangan.

“Proses adaptasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh masyarakat, tetapi perlu dukungan pemerintah,” katanya. (kpl/bar)

Gempa Chile Membuat Hari Semakin Singkat

sumber : http://www.antaranews.com/berita/1267551677/gempa-chile-membuat-hari-semakin-singkat

Jakarta (ANTARA News) – Gempa bumi dahsyat berkekuatan 8,8 skala Richter yang mengguncang Chile akan mengubah seluruh perputaran Bumi dan memperpendek lamanya hari di planet kita, demikian seorang ilmuwan NASA seperti dikutip Space.com, Selasa.

Gempa Chile yang tercatat sebagai gempa terkuat ketujuh dalam sejarah ini sepertinya bakal memperpendek lama hari di Planet Bumi sampai 1,26 milidetik, kata ilmuwan peneliti Richard Gross dari Laboratorium Populasi Jet, NASA, di Pasadena, California.

“Mungkin yang lebih menarik adalah seberapa kuat gempa bumi Chile itu menggeser poros Bumi,” kata para pejabat NASA, dalam pernyataan terbarunya Senin waktu AS (Selasa WIB).

Model komputer yang digunakan Gross dan rekan-rekannya untuk menentukan dampak dari dampak Gempa Chile juga mendapati bahwa gempa itu tampaknya telah menggeser poros Planet Bumi sampai kira-kira 3 inci (8 cm atau 27 milimiliardetik).

Poros Bumi tidak sama dengan kutub utara-selatan planet ini, yang berputar sekali setiap hari dengan kecepatan sekitar 1.000 mph/mil per jam (1.604 kph, km per jam).

Poros Bumi adalah poros di mana massa Planet Bumi seimbang. Poros ini bercabang dari sumbu utara-selatan Bumi sampai kira-kira 33 kaki (10 meter).

Gempa bumi dahsyat telah mengubah hari-hari di Bumi dan porosnya di masa lalu. Gempa Sumatera tahun 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter, yang memicu gelombang tsunami, telah memperpendek hari sampai 6,8 mikrodetik dan menggeser poros Bumi sampai sekitar 2,76 inci (7 cm, atau 2,32 miliardetik).

Satu hari Bumi sama dengan sekitar 24 jam. Dalam hitungan tahun, lama satu hari normal berubah secara gradual sampai satu milidetik. Hal itu bertambah di musim dingin, manakala Bumi berputar lebih lambat, dan berkurang pada masim panas, kata Gross.

Gempa Chile lebih kecil dibandingan getaran Gempa Sumatera, namun dampak Gempa Chile terhadap Planet Bumi lebih besar karena lokasinya ada di garis lintang tengah Bumi, bukan di garis khatulistiwa seperti Gempa Sumatera.

Patahan yang mengakibatkan gempa Chile 2010 juga teriris di Bumi pada sudut yang lebih curam ketimbang patahan pada Gempa Sumatera, demikian para ilmuwan NASA.

“Ini yang membuat patahan Chile lebih efektif dalam menggerakan massa Bumi secara vertikal, dan oleh karena itu lebih efektif dalam menggeser poros Planet Bumi.” kata para ilmuwan NASA.

Gross menyatakan penemuannya ini didasarkan pada data awal yang tersedia pada Gempa Chile. Karena inofrmasi mengenai karakteristik gempa semakin terbuka, prediksanya mengenai dampak Gempa Chulie mungkin berubah.

Gemp Chile menewaskan lebih dari 700 orang dan menyebabkan kehancuran di seluruh penjuru negara di Amerika Selatan itu.

Beberapa teleskop raksasa di Gurun Atacama, Chile, lolos dari dampak merusakkan dari gempa, demikian Observatorium Selatan Eropa.

Sebuah instrumen satelit NAS pengukur kadar garam yang dipasang di sebuah satelit Argentina juga selamat dari guncangan gempa, demikian para pejabat JPL.

Instrumen bernama Aquarius itu berada di kota Bariloche, Argentina, yang sebelumnya sudah ditempatkan pada satelit Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC-D). Fasilitas integrasi satelit kira-kira berjarak 365 mil (588 km) dari episentrum Gempa Chile.

Instrumen Aquarius dirancang untuk bisa menyediakan peta global bulanan mengenai konsentrasi garam dari samudera, ademi menjejak sirkulasi sekarang ini dan perannya dalam perubahan iklim. (*)

diterjemahkan jafar sidik dari space.com