ALERGI DAN STEVENS JOHNSON SYNDROME

sumber : http://tonang.blogsome.com/2005/06/23/alergi-dan-stevens-johnson-syndrome-sabtu-21-mei-2005/
Oleh : Hannah K Damar

Seorang anak sering sakit-sakitan, batuk pilek, kadang demam dan gatal-gatal pada tangan dan kaki yang hilang timbul. Hampir setiap minggu dia pergi ke dokter. Banyak dokter dia datangi. Namun penyakit anak ini tidak kunjung sembuh sampai akhirnya dia memutuskan berobat ke luar negeri. Ternyata di sana penyakit ini sembuh dengan sendirinya. Dia pun kembali ke tanah air. Akan tetapi, yang terjadi, anak ini kembali sakit. Akhirnya dia menyadari ada sesuatu yang tidak cocok, mungkin alergi sebagai penyebabnya. Setelah dilakukan tes ternyata debu yang berasal dari karpet dan sofa yang jarang dibersihkan yang menjadi penyebabnya. Setelah barang-barang tersebut dibersihkan dan dipindahkan, kini anak itu jarang sakit-sakitan lagi.

Contoh kasus di atas menunjukkan alergi terhadap sesuatu bisa menimbulkan penyakit yang berkepanjangan. Untungnya alergi seperti itu tidak berlebihan dan bisa diketahui sumbernya sehingga bisa dihindari. Namun ada pula alergi yang timbul secara berlebihan dan bermanifestasi sebagai keadaan yang berpotensi fatal yang dikenal dengan Stevens Johnson Syndrome (SJS).

Istilah Stevens Johnson Syndrome akhir-akhir ini memang kerap terdengar di meia massa. Meskipun nama penyakit ini sudah lama dikenal di kalangan medis, namun karena penderitanya jarang sehingga kurang diketahui masyarakat. SJS bisa terjadi karena adanya kompleks imun di dalam tubuh. Ketika terjadi ikatan anatar antigen dan antibodi yang disebut sebagai kompleks imun, kompleks imun tersebut menimbulkan reaksi pada tempat dia mengendap sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. SJS ini secara khusus melibatkan kulit dan membran mukosa atau selaput lendir

Nama lain dari kerusakan proses imunologi ini adalah erythema multiforme atau kemerahan pada kulit dengan berbagai bentuk. Erythema ini terbagi atas dua, yaitu erythema minor dan mayor. Erythema Multiforme yang berat mayor itu dinamakan Stevens Johnson Syndrome yang namanya diberikan sesuai dengan penemunya, AM Stevens dan SC Johnson.

SJS sebetulnya merupakan reaksi hipersensitivitas. Gell and Combs membagi reaksi hipersensivitas menjadi empat kelompok. Pertama adalah reaksi anafilaksis, yaitu reaksi yang sangat cepat timbul dan sering fatal, biasanya reaksi ini diperantarai imunoglobulin E. Kelompok kedua adalah reaksi sitotoksik yang menyebabkan kematian dan kerusakan sel. Kelompok ketiga, yakni reaksi imun kompleks. Reaksi ini terjadi jika ada alergen dari luar, misalnya obat-obatan yang bereaksi dengan antibodi yang ada dalam tubuh. Kemudian antibodi dan alergen bersatu dan kompleks imunnya merusak oragan-organ tertentu. Adapun kelompok keempat, yaitu reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi alergi ini tidak segera terjadi,tetapi justru berlangsung setelah beberapa hari atau minggu. Contoh yang dapat kita jumpai adalahpemakaian kosmetik yang baru menimbulkan alergi setelah beberapa kali pemakaian. SJS diduga merupakan bagian dari reaksi kelompok tiga atau empat. Selain itu, contoh yang paling jelas juga kalau kita membuat reaksi pada kulit dengan melakukan tes mantoux. Reaksiny baru bisa dibaca tiga hari kemudian.

Penyebab SJS itu sendiri bisa dikategorikan empat kelompok, yakni obat-obatan, infeksi, keganasan seperti kanker, serta penyebab yang tidak ditahui pasti atau idiopatik. SJS bisa disebabkan oleh obat-obatan seperti antibiotika golongan penisilin, cefalosforin, dan sulfa, obat-obatan anti nyeri seperti non steroid anti inflammatory drugs (NSAIDs), allopurinol untuk aam urat, phenytoin, karbamazepin, barbiturat untuk obat anti kejang dan epilepsi. Contoh penyebab infeksi adalah virus herpes simplex (HSV), AIDS, infeksi virus coxackie, influensa, hepatitis, mumps (gondongan), infeksi mycoplasma, lymphogranuloma venereum (LGV), infeksi ricketsia, dan variola. Infeksi bakteri misalnya, disebabkan oleh grup A betastreptokokus, diphteria, brucellosis, mycobacteriae, mycoplasma pneumonia, tularemia, dan typhoid.

Infeksi juga bisa disebabkan oleh jamur seperti coccidiodomycosis, dermatophytosis, dan histoplasmosis. Sementara infeksi parasit seperti pada penderita malaria dan trichomoniasis. Pada anak-anak, infeksi sering terjadi disebabkan leh virus Epstein Barr dan enterovirus.

Penyebab lainnya adalah kanker seperti karsinoma dan limfoma. Kita harus ingat, di satu sisi, yaitu sekitar 25 persen * 50 persen penderita SJS tak jelas penyebab pastinya. Untuk orang dewasa, SJS biasanya desebabkan kanker dan obat-obatan. Adapun pada anak lebih banyak karena infeksi.

Untuk pencegahannya adalah dengan cara menghindari alergen karena memang penyebab masalahnya adalah alergi. Nah, hal inilah yang sulit karena seringkali kita tak mengetahui alergi apa yang ada pada diri kita sendiri.

SJS biasanya mulai timbul dengan gejala-gejala seperti infeksi saluran pernapasan atas yang tidak spesifik., kadang-kadang 1-14 hari. Ada demam, susah menelan, menggigil, nyeri kepala, rasa lelah, seringkali juga muntah-muntah dan diare. Muncul kelainan kulit seperti koreng, melepuh, sampai bernanah, serta sulit makan dan minum. Bahkan juga mengenai saluran kencing menyebabkan nyeri.

Kelainan kulit bisa dimulai dengan bercak kemerahan tersebar hingga tumbuh lenting-lenting yang berair dan membesar hingga menimbulkan koreng, terutama pada selaput lendir seperti di hidung, mulut, mata, alat kelamin, dan lain-lain. Berat ringannya manifestasi klinis SJS bervariasi pada tiap individu bisa dari yang ringan sampai berat menimbulkan gangguanpernafasan dan infeksi berat sampai mematikan.

Selain SJS, ada pula bentuk alergi lain yang dikenal dengan Toxic Epidermal Necrolysis Syndrome (TENS). Bedanya, kalau pada SJS terutama terjadi antara selaput lendir dengan kulit seperti hidung, mata, mulut, serta alat-alat vital sampai anus, sedangkan TENS menyebabkan kulit melepuh, mengelupas seperti ketika kulit habis terbakar.

Penyakit SJS bisa mengenai semua umur dari anak-anak sampai orang tua, laki-laki dan perempuan, walaupun dilaporkan banyak wanita yang cenderung terkena SJS dibandingkan dengan laki-laki seperti ang diungkap dalam website SJS. Namun kecenderungan ini tidak menyebutkan diskriminasi rasial atau diskriminasi seksual.

Di Amerika kejadian dari kasus ini lebih banyak terjadi pada awal musim semi dan musim dingin. Namun, belum diketahui banyak, kenapa kasus ini muncul di awal kedua musim tersebut. Sementara itu, di Indonesia kasus ini muncul tidak mengenal musim. Angka kematian karena penyakit ini di seluruh dunia mencapai 3 persen-15 persen, terutama disebabkan oleh gagal napas dan infeksi yang berat.

SJS juga bisa mengenai mata dan menimbulkan kebutaan akibat adanya peradangan pada kornea atau selaput bening mata. Jika erjadi infeksi atau inflamasi pada seluruh bola mata disebut panophthalmitis. Kasus ini terjadi pada sekitar 3 persen-10 persen pasien. SJS bisa menyebabkan perlukaan pada alat kelamin hingga menjadi jaringanparut dan menyebabkan kesulitan berkemih.

Dalam praktk sehari-hari sebaiknya dokter dan pasien saling mengingatkan apakah ada alergi terhadap obat-obatan tertentu bisa akan diberikan obat-obatan. Pertanyaan singkat dari seorang dokter tentang apakah si pasien alegi terhadap sesuatu sangat penting untuk diprhatikan karena hal ini sangat menentukan obat-obatan yang bakal diberikan untuk mengurang sakit pasien. Misalnya, bila pasien alergi dengan antalgin, dokter pasti tidak akan memberikan obat yang mengandung antalgin.

Jika pasien tidak mengetahui jens obatnya, minimal memberitahukan ke dokter penyakit yang pernah diderita dan juga gejala yang pernah dirasakan setelah minum obat tertentu. Pasien jangan ragu mengatakan kepada dokter jika memang mengalami banyak alergi, misalnya sering bersin karena debu, suka gatal-gatal jika makan makanan tertentu. Hal ini sangat membantu dokter untuk berhati-hati memberikan obat terlebih lagi jika pasien menyadari adanya alergi dengan obat tertentu. Yang sulit adalah kalau pasien tidak pernah tahu ada riwayat alergi sebelumnya sehingga dokter sulit memprediksikan kemungkinan reaksi alergi. Reaksi seperti ini bisa saja terjadi. Biasanya dokter akan berhati-hati dengan melakukan tes kulit sebelum memberikan obat terutama suntikan antibiotika. Namun, cara ini juga masih mempunyai keterbatasan karena tidak semua obat bisa dilakukan tes kulit mengingat brat molekul obat tersebut.

Tes kulit yang negatif tidak berarti bahwa pasien pasti 100 persen tidak akan alergi terhadap obat tersebut, karena tes dilakukan dalam waktu singkat. Saat dilakukan tes kulit tidak ada gatal, tidak ada bentol sama sekaliataupun kemerahan, tetapi ketika obat tersebut disuntikkan bisa saja masih timbul reaksi. Tes kulit poitif menunjukkan pasien ini alergi sehingga dokter tidak akan memberikan obat tersebut karena akda kemungkinan besar akan timbul reaksi alergi.

Memang untuk menilai ada tidaknya alergi adalah dengan challenge test, artinya orang tersebut diberikan obat dahulu untuk mengetahui alergi atau tidak. Apabila timbul reaksi, berarti pasien tersebut mengalami alergi. Masalah kembai muncul ketika challenge test itu ternyata langsung menimbulkan reaksi yang berlebihan dan fatal. Dalam hal ini tes seperti ini tidak dilakukan.

SJS tidak hanya terjadi karena obat suntikan. Namun, bisa juga timbul karena obat yang diminum. Kasus demikian banyak terjadi dan cukup menyulitkan dokter dalam mengobati.

SJS ini bisa disembuhkan bila pasien cepat datang mencari pertolongan dan reaksi yang timbul tidak berat. Tingkat kematian juga tidak tergolong tinggi, mencapai 3 persen-15 persen, tetapi jika sudah terkena SJS bisa berpotensi mematikan.

(dr.Hannah K Damar, SPKK. Pengajar FK UPH dan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin, Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci Siloam Healthcare group).

Iklan