Mengambil Manfaat dari Hewan Peliharaan

sumber :http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=cyberwoman|0|0|8|1358
SUMBER :Mother And Baby

Sejak awal kehidupannya, anak-anak cenderung menunjukkan ketertarikannya pada binatang. Dunia binatang juga kerap menjadi media paling ampuh bagi orangtua untuk berkomunikasi dengan anak. Lihat saja bayi yang suka bermain dengan mainan binatang atau mendengarkan cerita mengenai Si Kancil, atau Si Itik Buruk Rupa.

Ketika anak menginjak usia 2-3 tahun, anak mengembangkan kemampuan kognitifnya untuk fokus pada karakteristik binatang dalam kehidupan nyata, dan semakin tertarik untuk berinteraksi dengan binatang. Selain karena suara dan gerakan spontan yang dilakukan binatang, anak-anak juga dapat menemukan bahwa dalam beberapa hal, binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Sekaligus perbedaan-perbedaannya.

“Anak memang senang dengan binatang,” kata Mohammad Rizal Psi, Psikolog Perkembangan Anak dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Menurutnya hal lebih disebabkan oleh karena anak merasa bahwa binatang adalah sesuatu yang menyenangkan untuk diajak bermain. “Anak senang bermain dan butuh mainan, dan salah satu “mainan” yang bisa dimainkan adalah binatang. Apalagi binatang bisa memberikan reaksi saat diajak bermain,” katanya menjelaskan. Ada juga yang berpendapat, tambah Rizal, anak-anak bisa menempatkan binatang dalam posisi yang lebih inferior, sehingga mereka dapat lebih leluasa menyalurkan keinginannya pada binatang.

Namun, jika anak menyatakan keinginannya untuk memelihara hewan, Rizal menyarakankan agar orangtua melihat dulu, hewan apa yang diinginkan oleh anak. ”Bila tidak membahayakan anak, serta memang mudah untuk dirawat, tidak ada salahnya membiarkan anak untuk belajar memelihara binatang,” katanya. Apalagi, memelihara hewan ternyata bisa memberikan banyak manfaat bagi si kecil.

Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Mengembangkan kemampuan kognitif anak

Penelitian yang dilakukan Bob Poresky, sosiolog dari Kansas State University, Amerika Serikat, pada tahun 1988 menyimpulkan bahwa kemampuan kognitif anak dapat meningkat dengan memiliki hewan peliharaan. Menurut Poresky, jenis-jenis hewan peliharaan yang dapat merespon sikap anak – misalnya anjing atau kucing – cenderung akan meningkatkan intelejensi anak. Dikatakannya, semakin dekat hubungan anak dengan hewan peliharaannya tersebut, maka akan semakin baik kemampuan anak untuk melihat dunia dari sudut pandang binatang peliharaannya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan kognitif anak yang kemudian berdampak pula pada intelejensianya.

Menambahkan Poresky, Rizal mengatakan bahwa melalui peliharaannya, anak balita misalnya, bisa belajar aneka bentuk serta mengidentifikasi anggota-anggota tubuh pada hewan, seperti kepala, badan, ekor, paruh, sayap dan lain sebagainya. Selain itu, anak juga bisa mengenal lebih dekat bagaimana kehidupan hewan, bagaimana mereka bersuara, bergerak, makan, minum, dan lain-lain. Tak hanya itu, belajar berhitung pun bisa lebih menyenangkan bagi anak-anak jika memanfaatkan hewan sebagai sarananya.

Misalnya, mintalah si kecil untuk menghitung berapa kaki Si Doggie, atau berapa kali dia bisa menangkap bola yang dilempar ke arahnya. Untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan analisisnya, anak juga bisa melakukan observasi untuk menemukan dalam hal apa saja hewan peliharaannya sama dengan manusia, dan hal-hal apa saja yang membuatnya berbeda dengan manusia atau hewan lainnya.

Belajar empati

Ada kecenderungan anak-anak suka memperlakukan hewan dengan cara yang salah, misalnya menarik-narik buntut anjing atau telinga kucing dan lain sebagainya. Tetapi pengalaman Drh.Tjut Nurmaini, memperlihatkan bahwa anak yang mempunyai hewan peliharaan cenderung punya empati yang lebih besar, dan cenderung tidak kasar. ”Yang tidak punya peliharaan akan dengan semaunya menangkap capung, misalnya, dan kemudian menggenggamnya dalam tangannya. Ini terjadi karena anak itu tidak bisa mengukur, seberapa besar kekuatan genggamannya. Ia melakukannya tanpa perhitungan. Nah, anak yang mempunyai binatang peliharaan, pasti akan merasa miris melihatnya,” urainya.

Belajar bertanggung jawab

Menurut Rizal, ”Memelihara hewan juga adalah bentuk tanggung jawab sederhana terhadap sesuai yang disukai, dalam hal ini binatang.” Seperti layaknya manusia, hewan juga adalah makhluk hidup yang butuh makan dan minum. Latihlah si kecil untuk bertanggungjawab dengan meminta mengurus kebutuhan tersebut bagi binatang peliharaan. Ingatkan juga akan akibat yang mungkin terjadi seperti sakit atau mati, jika ia lalai dalam memberi makan dan minum.

Menghilangkan stres

Tjut yang juga penyayang binatang itu, mengatakan bahwa hewan peliharaan dapat membantu anak menghilangkan stres. “Dengan melihat tingkahnya yang lucu ketika diajak bermain, saya bisa tertawa,” kata dokter yang sudah menganggap kucing-kucing peliharaannya sebagai anggota keluarganya sendiri. Bahkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa kehadiran anjing peliharaan, dapat mengurangi stres anak yang sedang ujian. Penelitian Ann Ottney Cain, seorang profesor Psychiatric Nursing, pada tahun 1985, juga menemukan bahwa 70% keluarga yang disurvei melaporkan bahwa kebahagiaan dan keceriaan anggota keluarganya meningkat dengan kehadiran hewan peliharaan di tengah keluarga mereka.

Dampak Kesehatan

Banyak orang yang ragu memelihara hewan karena dikhawatirkan dapat memberikan dampak negatif dari segi kesehatan, misalnya menularkan penyakit tertentu. Menurut Tjut, “Kalau kita bicara hewan peliharaan, biasanya mereka rutin dibawa ke dokter oleh pemiliknya. Jangankan sakit, kalau hewan peliharaannya tidak mau makan saja, pemiliknya sudah membawanya ke dokter,” tambahnya lagi. Jadi masalah kesehatan hewan peliharaan relatif lebih terjamin.

Selain itu, Tjut mengatakan, dampak negatif kesehatan yang ditimbulkan dari hewan sebenarnya bisa dicegah dengan prosedur kebersihan standar yang sudah diketahui anak dari sekolah, yaitu mencuci tangan sesudah memegang-megang hewan peliharaan. “Jangankan sesudah pegang hewan kesayangan, pergi dari mana-mana pun, kita selalu diajarkan cuci tangan. Nah, itu metode pertama,” katanya.

Kalaupun sehabis memegang kucing, kemudian langsung makan, Tjut juga belum menemukan hasil yang signifikan, pemilik hewan langsung terkena toksoplasma, misalnya. Menurutnya, masalah kesehatan lebih disebabkan oleh apa yang dimakan. Ia mencontohkan, toksoplasma itu bukan dari hewan peliharaan, tetapi karena memakan makanan setengah matang seperti sate kambing ataupun sayuran mentah. Ia pun kurang setuju bila dikatakan bahwa binatang peliharaan merupakan sumber penyakit utama bagi anak, terutama bagi penderita alergi. Penelitian justru menunjukkan bahwa hewan peliharaan bisa memberikan manfaat positif dari segi kesehatan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan Journal of Allergic and Clinical Immunology tahun 2003, ahli alergi Thomas Platts-Mills, MD, PhD dari University of Virginia, menemukan bahwa semakin dini usia anak (idealnya selama dua tahun pertama) dan semakin lama memiliki hewan peliharaan, makin kecil frekuensi anak mengalami alergi pada tahun-tahun selanjutnya. Hasil penelitian tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa bayi yang di dalam rumahnya terdapat dua atau lebih kucing, justru berpeluang terkurangi resiko perkembangan jenis alerginya.

Anak-anak dengan alergi, bila tidak ditangani dengan baik sejak dini, pada umumnya jenis alerginya akan berkembang sesuai peningkatan usianya. Anak alergi yang memiliki hewan peliharaan, kemungkinan alerginya akan berkembang menjadi bermacam-macam jenis alergi, malah berkurang 77% dibandingkan dengan anak alergi yang tidak mempunyai hewan peliharaan. Kedua penelitian tersebut membantah keyakinan sebelumnya bahwa eksposur anak terhadap hewan peliharaan di masa kecil dapat meningkatkan risiko berkembangnya alergi.

Selain itu, penelitian lain di tahun 1990 menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan hanya mempunyai masalah kesehatan yang lebih sedikit, itupun masalah-masalah dalam kategori ringan. Dari segi kesehatan fisik, pemilik hewan peliharaan juga mempunyai kondisi yang lebih baik, bila dihubungkan dengan seringnya mereka melakukan olahraga bersama hewan peliharaannya. Dari sisi kesehatan mental, sebuah riset juga menemukan bahwa pemilik hewan peliharaan juga memiliki kondisi psikologis yang lebih baik. Ditemukan juga, hewan peliharaan dapat mengurangi rasa sepi dan rasa terasing pemiliknya.

Memilih Hewan Peliharaan

Menurut Tjut, hewan yang sehat sama seperti anak yang sehat; lincah dan aktif. Demikin pula ketika mereka sakit, yang biasanya menjadi lesu. Hewan yang sehat biasanya juga bisa memberikan respon yang baik. Karena itu, sebelum membeli hewan peliharaan, ada baiknya Anda sediakan waktu yang cukup untuk mengamati perilaku calon hewan peliharaan. ”Amati responnya, agar tidak kecolongan,” katanya.

Anjing

Pilihlah anjing yang tenang dan sabar atau termasuk dalam kategori family dog, seperti golden retriever, boxer, pomeranian chihuahua, shitzu dan lain sebaginya.

Kucing

Pilihlah kucing yang tenang dan suka dipegang atau disayang-sayang. Kucing yang mudah cemas, cenderung tidak bersahabat dan perilakunya sering tidak terduga. Kucing seperti ini bukanlah pilihan yang baik bagi si kecil.

Hewan Kecil

Hewan kecil seperti hamster dan kelinci bisa menjadi salah satu hewan peliharaan rumah. Tetapi jika di rumah ada anak yang masih sangat kecil, binatang mengerat ini bukan pilihan yang baik karena anak sulit dicegah untuk tidak memegangnya atau mencengkeramnya terlalu keras. Selain itu, hewan ini tak segan untuk menggigit balik jika disakiti.

Ikan

Ikan bisa menjadi pilihan yang menarik untuk dapat diamat-amati oleh si kecil. Tempatkanlah akuarium atau fish bowl di tempat yang sulit untuk dijangkau, apalagi ditarik oleh si kecil.

Reptil

Reptil seperti ular, iguana, bahkan kura-kura bukan pilihan yang aman untuk anak. Kura-kura membawa bakteri salmonela yang dapat menular pada si kecil.

Tips Memelihara Hewan

1. Peliharalah binatang yang sesuai dengan ukuran anak, atau yang memang ia sukai.

2. Jika memiliki bayi, jangan melihara anjing yang cenderung kasar, karena bisa terinjak.

3. Lakukan pemeriksaan kesehatan hewan peliharaan secara rutin

4. Jagalah kebersihan binatang dan kandang dengan memandikan dan membersihkan kandang dari kotoran.

5. Libatkan anak dalam perawatan binatang, agar anak paham mengenai lingkungannya

6. Jangan menyakiti hewan

Safety Tips

Selalu awasi selalu si kecil saat berinteraksi atau berada dekat dengan hewan peliharaannya. Anak di bawah 5 tahun tidak akan selalu ingat larangan atau instruksi yang pernah diberikan kepadanya. Oleh karena itu menjaga keamanannya harus tetap menjadi tugas dan tanggung jawab orang dewasa di sekitarnya.

Meskipun sebentar, jangan pernah meninggalkan si kecil sendirian bersama hewan peliharaannya.

Jauhkan makanan dan mainan hewan peliharaan dari jangkauan si kecil.

Jika anjing yang menjadi pilihan, latihlah dia untuk mematuhi semua perintah yang diberikan oleh anggota keluarga.

Ajari si kecil bagaimana bertingkah laku terhadap hewan peliharaannya.

1. Berjalanlah pelan-pelan di sekitar hewan, jangan pernah mengejar atau lari meninggalkannya.
2. Jangan pernah mengganggu hewan yang sedang makan, tidur, atau mengunyah sesuatu.
3. Jangan menatap hewan peliharaan lekat-lekat.
4. Jangan tarik kaki, ekor dan kupingnya
5. Kenali ciri-ciri atau peringai ketika hewan peliharaan marah, dan segeralah menjauh
6. Jangan pernah menengahi hewan yang tengah berkelahi dengan tangan kosong. Guyuran air seringkali efektif untuk memisahkan hewan yang berkelahi.
(Meliana Simarmata)

Sumber: Majalah Inspire Kids