Sibling Rivalry (2)


SUMBER : http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg206790.html

Sylvia Radjawane
Wed, 07 May 2008 00:41:24 -0700

http://www.askdrsears.com/html/6/T064200.asp

*SIBLING RIVALRY
(translated by: Sylvia Radjawane)*
————————-

*7. Set limits.*

Kadangkala Anda terlalu lelah untuk berperan sebagai ‘psikolog amatir’ dan
Anda hanya ingin segera berganti peran sebagai ‘polisi’. Lakukanlah dan
tidak perlu cemas dengan dampak permanen yang mungkin mempengaruhi psikis
anak Anda. Sampaikan pesan dengan jelas tentang apa yang Anda harapkan
terhadap cara bersikap anak Anda kepada saudaranya yang lain, sebelum timbul
argumentasi antar anggota keluarga Anda.

Ingatkan secara verbal dengan tenang: ‘Cukup!’, jika ada anak yang
meremehkan saudaranya. Atau, tunjukkan tatapan mata yang
menyiratkan,’jangan sekali-kali berani mencoba!’.

Hentikan segera pertengkaran yang terjadi sebelum menjadi tak terkendali.
Waspada dengan peran anak-anak sebagai ‘penyerang & korban’. Tugas Anda
adalah melindungi anak-anak Anda, bahkan melindungi mereka dari saudaranya
yang lain.

Bagaimana cara anak berperi laku satu dengan yang lain dalam keluarganya
adalah pelajaran sosial pertama yang mereka dapatkan untuk berperi laku
dalam suatu kelompok. Dalam keluarga kami, kami menetapkan ‘batas maksimum
yang diperbolehkan’ terhadap peri laku yang kami ajarkan dalam kehidupan
bersama dalam keluarga, dan anak-anak juga diajarkan untuk menghormati
batasan-batasan itu. Pada waktu ada pertengkaran karena berebut mainan dan
menimbulkan suara yang desibelnya sudah melebihi ‘batas toleransi yang
diperbolehkan’, Martha, sang ibu, hanya akan berkomentar singkat,’Ini sudah
mengganggu kedamaian Ibu!’.

Anak-anak telah belajar – karena mereka telah diajarkan – bahwa ‘batas
maksimum’ telah tercapai dan mereka harus segera mengubah peri laku yang
lebih bisa diterima secara sosial.

*8. Hold family meetings.*

Hayden adalah anak perempuan pertama kami setelah 3 kakak laki-lakinya.
Walau kami pikir bahwa tidak menjadi masalah untuk sekadar menggoda dan
bercanda, Hayden tidak selalu sepakat mengenai hal ini. Suatu hari saat ia
berumur 5 tahun, ia bilang,’Tidak ada satu pun di keluarga ini yang
mencintai saya’. Kami mengadakan pertemuan keluarga sebagai ajang ‘curhat’.
Setelah itu Hayden dan para saudara prianya berteman dengan lebih baik.

*9. Humor is the best medicine.*

Anak ke-5 kami, Peter, memegang sejumput rambut dalam tangannya, berlari ke
arah dapur dan mengeluhkan adiknya yang berusia 2 tahun: ‘Hayden telah
menarik lepas rambutku’. Yang mengejutkan Peter, Martha, sang ibu, segera
berkomentar jenaka, ‘Mengapa kamu tidak membawa rambut itu ke sekolah untuk
ditunjukkan dan diceritakan kepada teman-temanmu?’. Peter segera menanggapi
komentar ibunya sebagai ide yang cukup lucu dan ia segera lupa dengan
si-‘penarik rambut’ nya.

Suatu hari saaat Jim dan Bob berebut mainan yang dampaknya sudah melebihi
‘batas maksimum yang dibolehkan’ dalam aturan keluarga kami, Saya berkata
kepada mereka,’Jika kalian ingin bertarung seperti hewan, saya akan
membangun kandang-kandang di halaman belakang untuk kalian. Saya akan
menjuluki salah satu dari kalian ‘kucing’ dan yang lain ‘anjing’. Saya akan
meletakkan makanan kucing juga makanan anjing di depan kandang kalian ..’

Para pemilik hewan peliharaan pun telah mengetahui bahkan kucing dan anjing
dapat diajar untuk hidup bersama dengan harmonis jika pemilik mereka
menetapkan aturan rumah juga hubungan pertemanan di antara hewan-hewan
peliharaannya.

Humor tidak melukai dan dapat mengejutkan anak-anak, sehingga mereka dapat
melihat bagaimana tidak pekanya mereka terhadap saudaranya.

Berikan humor kepada anak Anda tentang kehidupan nyata. ‘Aku ingin jadi
bayi, juga’ kata Trisha yang berusia 4 tahun. ‘Baiklah, komentar ibunya,
‘Kamu bisa menjadi seorang bayi hari ini. Apa yang kamu ingin lakukan?’
‘Aku ingin susu botol’. Ibunya memberikan Trisha sebotol susu formula. ‘Iih,
rasanya nggak enak!’ ‘Kamu ingin main apa?’ ‘Aku ingin mengendarai sepeda
roda-3 ku’. ‘Bayi tidak dapat mengendarai sepeda roda-3’ ‘Bolehkah aku minta
sandwich isi selai kacang dan jelly?’ ‘Bayi tidak dapat makan sandwich isi
selai kacang dan jelly. Mereka hanya makan makanan bayi.’ Akhirnya Trisha
memutuskan bahwa dia tidak mau lagi jadi seorang bayi, dan berkata: ‘
kayaknya aku ke luar rumah saja dan main dengan sepeda roda 3 ku’.

* *

*10. Foster a team spirit.*

Kadang kami membawa semua anak kami dalam perjalanan keluarga. Mereka segera
belajar bahwa setiap hak selalu diikuti tanggung jawab, sehingga mereka
belajar bagaimana cara bersikap dalam kelompok. Rumah dan keluarga adalah
hubungan sosial pertama yang dipelajari anak-anak. Mereka belajar bagaimana
seseorang memperlakukan orang lain dan setiap orang dalam kelompok memiliki
hak individu. Mereka membangun tenggang rasa dalam kelompok, yang merupakan
alat penting dalam kehidupan. Pada kenyataannya, dengan mendisiplinkan
anak-anak sebenarnya orang tua telah memberikan mereka modal untuk sukses
dalam kehidupan.

Suatu kali kami mengajak ke-delapan anak kami (lengkap dengan 2 cucu juga
para ibu mereka!), menyewa sebuah kapal layar mengarungi Karibia. Dalam
situasi seperti ini, anak-anak itu harus bekerja sama dan rukun (untuk
keselamatan dan kewarasan) bersama.

*11. Promote empathy.*

Mendisiplinkan anak-anak kita dalam satu keluarga memberikan mereka modal
untuk sukses dalam kehidupan, dan salah satu modal yang terpenting yang juga
memiliki dampak sosial sepanjang hidup adalah kualitas empati mereka. Ini
adalah cara lain dari moto ‘Lakukan pada orang lain sama seperti yang kamu
ingin mereka lakukan kepadamu’. Bantu anak-anak Anda belajar bagaimana cara
mendukung orang lain dan selalu berpikir lebih dahulu apakah peri laku
mereka memberikan dampak tertentu pada orang lain.

Kita ingin anak-anak kita berpikir melalui apa yang mereka lakukan. Kurangnya
empati merupakan tanda dari hubungan anti-sosial di antara anak dalam
keluarga jika kelak mereka dewasa.

*12. Promote gender sensitivity.*

Kami mengalami tantangan seperti ini setelah ada Hayden, putri pertama kami
(sebelumnya kami sudah memiliki 3 orang putra). Keadaan keluarga segera
menjadi: ‘Bob, Jim dan Pete’ versus Hayden. Kondisi keluarga yang
sebelumnya sudah ramai, kini ditambah issue kepribadian dan gender yang
berbeda, belum lagi masalah antar anak dalam keluarga yang bisa saja menjadi
tak terkendali jika orang tua tidak senantiasa memantau ‘panas’ nya.

Anak-anak lelaki kami masuk dalam tahap ‘tak ada toleransi bagi anak
perempuan’. Hayden, menjadi lebih kuat saat ia harus hidup dengan kondisi
demikian. Kami orang tuanya harus waspada karena kami menyadari bahwa cara
pandang pertama Hayden terhadap isu ‘pria’ (selain ayah) adalah cara pandang
dia terhadap hubungannya dengan para kakak lelakinya – begitu juga
sebaliknya. Kami tidak ingin para anak laki-laki kami belajar bahwa
‘menjadi yang lebih muda dan menjadi wanita’ adalah sama dengan ‘kurang
berarti’.

Bertahun-tahun kemudian, saat kami menyaksikan presiden kelas senior,
Hayden, memimpin para teman prianya dalam badan kepemimpinan siswa, kami
berpikir betapa pendidikan kami terhadap Hayden untuk memperoleh respek dari
para kakak laki-lakinya mempengaruhi hubungan yang sama antara dia dengan
teman-teman prianya.

*13. Ignore smallies; address biggies.*

Untuk hal-hal kecil, seperti berebut mainan, ajarkan anak-anak Anda untuk
mengatasinya sendiri. Nyatakan saja secara sederhana tentang konsekuensinya
dan apa yang Anda harapkan, ‘Saya akan kembali dalam 1 menit. Jika kalian
tidak juga belajar bagaimana berbagi mainan atau mencari solusi lainnya,
mainan itu akan masuk ke dalam garasi.’ Anda dapat ‘mengistirahatkan’
mainan atau ‘mengistirahatkan’ anak-anak. Anda sedang menyampaikan
sekaligus 2 pesan kepada mereka: Anda mengharapkan mereka dapat mengatasi
masalah ini sendiri, tapi Anda juga memberikan mereka konsekuensi tegas
bahwa jika mereka tidak juga dapat mencari solusinya, Anda yang akan
melakukannya.

Anak-anak mengharapkan bimbingan orang tua, sekaligus juga menginginkan
orang dewasa melindungi diri mereka sendiri dari tingkah laku yang ….
seperti anak-anak, seperti: hal-hal besar yang justru diacuhkan, misalnya:
seorang anak yang membuat anak lain jadi korban. Dalam situasi seperti ini,
anak-anak membutuhkan Anda untuk memantau hal-hal yang diacuhkan seperti
ini. Sebab jika tidak, Anda tidak melakukan tugas Anda. Dengan hanya diam,
anak yang jadi korban akan menyimpulkan bahwa Anda berpihak pada anak lain
yang menyerangnya.

Pertentangan di antara anak dalam suatu keluarga tampaknya juga merupakan
salah satu tahap dalam hidup yang harus dijalani. Anak-anak sering
melakukannya, khususnya saat mereka bosan. Mereka merasa ‘kita butuh aksi
di sini. Ayo, kita timbulkan masalah!’ Ini yang akhirnya membuat anak yang
lebih besar mendorong adiknya, walau kadangkala anak yang lebih kecil
berubah menjadi ‘pengganggu’ dan ‘penghasut’, seakan-akan anak nomer 2 harus
berusaha sedikit lebih keras.

… (to be continued) …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s