11 Pesan Kunci Praktek Pemberian MPASI

Sumber : milis MPASI Rumahan

1. Timbang anak Anda setiap bulan. Anak sehat, tambah umur, tambah berat, tambah pandai.

—> Rajin bawa ke Posyandu yaaaa! Isi KMS menurut jenis kelamin anak.

2. Bayi & anak yang mendapat ASI hingga usia 2th atau lebih, akan bertumbuh kuat, sehat & berkembang dengan baik.

—> ASI memang makanan termurah+sehat :) Sebisa mungkin kita memberikan ASI kecuali memang ada indikasi medis dan keadaan tertentu yang membuat anak harus diberi susu formula. It’s OK :)

3. Bayi yang diberi MPASI mulai 6bln & tetap memperoleh ASI smp usia 2th atau lebih akan tumbuh & berkembang baik.

—-> Artinya… Jgn dari umur 2 bulan dikasi pisang XD Yang pakai susu formula juga tetap sebaiknya mulai makan makanan pendamping di usia 6 bulan (kecuali ada indikasi medis lain)

4. Bubur MPASI yang kental akan memberi energi yg lebih banyak daripada yang encer.

—> Pada masa perkenalan boleh dimulai dengan bubur/makanan yang encer, tingkatkan secara bertahap sesuai dengan umur anak. Hal ini karena anak bayi perlu energi besar dari makanan pendamingnya.

5. Makanan sumber hewani sangat baik untuk anak agar tumbuh & berkembang dengan baik.

—> Terutama sebagai sumber alami Fe (zat besi) yg mudah diserap tubuh, sumber protein dan energi protein.

6. Kacang-kacangan & olahannya seperti tahu & tempe adalah bahan makanan yg baik untuk anak.

—> Siapa bilang tempe & tahu nggak kece :D Makanan ini bagus sebagai sumber protein dan zat besi bagi yang tidak makan bahan makanan hewani. Kupas kulit ari kacang-kacangan supaya lebih mudah dicerna bayi.

7. Sayur & buah bewarna hijau tua/kuning/merah membantu kesehatan mata anak & meningkatkan daya tahan tubuh melawan penyakit.

—> Nggak perlu dijelaskan lagi yah, pasti sudah paham kalau anak (dan kita!) wajib mengkonsumsi sayur dan buah setiap hari untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral secara alami :)

8. Untuk pertumbuhan yg baik, anak membutuhkan makanan beraneka ragam. Terdiri dari 2-4x makanan utama, 1-2x makanan selingan.

—> Usahakan memberikan makanan selingan yang sehat. Hindari makanan selingan yang “nyampah” seperti yang tinggi gula, bersoda, banyak menggunakan bahan tambahan makanan (pewarna buatanm perisa buatan, pengembang, pengawet) dan berpenyedap rasa.

9. Seiring dgn perumbuhan anak, maka jumlah makanan yg diperlukan bertambah.

—> Sangatlah penting untuk menyesuaikan jumlah makanan dengan umur anak. Bisa dilihat di buku “MPASI Perdana Cihuy” kami :)

10. Anak kecil PERLU belajar makan. Bujuk dan BANTU penuh dengan keSABARan.

—> ;-) mari-mari sedia stok sabar yang buanyaaaaaakkk.. Problema anak belajar makan itu banyak, mulai dari melepeh, mengemut, tidak mau buka mulut, sembelit, hingga membuat kotor meja dan lantai :D Sabar, dan tetap ajari anak untuk belajar makan dengan baik. It takes time. so be patient.

11. Bujuk anak untuk tetap makan & minum selama sakit & beri makanan tambahan dalam masa pemulihan supaya kesehatan cpt pulih & tumbuh kejar.

—> Bayi/anak yang sedang sakit cenderung malas dan kehilangan nafsu makan. Tetap tawarkan makanan dan minuman yang menyamankan dalam jumlah sedikit namun sering. Setelah sembuh, tambahkan jumlah makanannya / frekuensi makannya supaya bisa mengejar kembali berat badan yang biasanya turun selama sakit.

Dan jangan lupa selalu bawa-bawa dan baca dan praktekin isi buku MPASI perdana Cihuyyy yaaa.. ga rugi deh beli bukunya. Aku juga beli buku keduanya..

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (2)

sumber : sehatgroup.web.id (milis sehat)
Lanjutkan Pemberian ASI Selama 2 Tahun atau Lebih, Sesering dan Selama Anda dan Bayi Anda Menginginkannya

Meneruskan pemberian ASI sangat penting bagi nutrisi dan pertumbuhan anak setelah 6 bulan pertama. ASI tetap menjadi makanan ideal untuk bayi dan balita berusia lebih dari 6 bulan karena alasan-alasan berikut ini :
ASI adalah makanan berkualitas tinggi.

ASI adalah makanan bernutrisi dan berenergi tinggi, yang mudah dicerna. ASI memiliki kandungan yang dapat membantu penyerapan nutrisi..
Secara rata-rata, bayi berusia 6-8 bulan yang diberikan ASI mendapatkan 70% energinya dari ASI, jumlah ini berkurang menjadi sekitar 55% pada usia 9-11 bulan, dan 40% pada usia 12-23 bulan.
ASI juga merupakan penyedia utama protein, mineral, asam lemak esensial dan faktor-faktor pelindung lainnya. ASI menyediakan lebih banyak kalori dan nutrisi per ml daripada makanan lainnya, dan jauh lebih lembut daripada sereal, beras bayi ataupun puree (makanan yang dihaluskan-red) sayuran yang biasanya menjadi makanan padat pertama untuk bayi-bayi yang lebih besar.
Bila perut bayi diisi dengan makanan yang kandungan nutrisinya buruk, makan asupan ASI-nya juga akan berkurang dan secara keseluruhan cara makan dan kesehatannya akan menurun. Kontribusi yang diberikan ASI sering kali terlupakan karena terlalu tingginya antusiasme untuk mulai memberikan makanan tambahan. Tantangannya adalah bagaimana cara memberikan makanan lain yang dapat menjadi tambahan bagi nutrisi yang sudah diberikan oleh ASI, bukan menggantikannya.
ASI tetap kaya nutrisi saat anak > 1 thn

Penelitian yang dilakukan pakar-pakar laktasi di WHO mengungkapkan bahwa pemberian ASI di saat anak > 1 tahun tetap memberikan nutrisi yang tidak ternilai harganya.
Pemberian ASI pada batita memberikan:
 31% kebutuhan energi anak;
 38% kebutuhan protein anak;
 45% kebutuhan Vitamin A anak;
 95% kebutuhan Vitamin C anak;
Sumber: WHO/CDR/93.
Bahkan menurut penelitian Goldman, dkk, kandungan zat imun dalam ASI makin tinggi seiring dengan bertambahnya usia anak.
Bayi yang masih mendapatkan ASI tidak akan pernah kelaparan

ASI yang diberikan kapan saja saat bayi menginginkannya (on demand) akan mengatur asupan makanan pada bayi; bila mereka lapar mereka akan mencari puting susu, menangis atau minta untuk diberi ASI. Bila pemberian ASI tanpa jadwal ini dilanjutkan bersamaan dengan pemberian makanan tambahan, bayi masih dapat mengatur berapa banyaknya asupan makanan mereka. Bila mereka tidak menyukai satu makanan tertentu, atau bila makanan yang diberikan tidak cukup, mereka bisa lebih banyak minum ASI.
ASI meyediakan faktor pelindung

ASI memiliki ± 50 faktor kekebalan yang telah diketahui, dan mungkin masih banyak lagi yang belum diketahui. Faktor anti infeksi yang terdapat di dalam ASI menyediakan perlindungan terhadap penyakit dan bila penyakit itu terjadi pemberian ASI dapat membuat penyakit tersebut menjadi tidak terlalu parah. Perlindungan ini terus berlangsung setelah 6 bulan karena memberikan makanan dan minuman lain akan membuat bayi terpapar pada berbagai jenis infeksi dan bakteri patogen yang terdapat di dalam makanan pada saat sistem kekebalan tubuh si anak sendiri masih dalam proses pematangan. Perlindungan yang sama masih tetap tersedia meskipun pemberian ASI berkurang hingga beberapa kali saja dalam sehari.
ASI membantu kesembuhan dari suatu penyakit

Bayi yang sedang sakit seringkali menolak untuk makan, akan tetapi biasanya mereka mau disusui ASI. Para ibu dapat memberikan respon terhadap serangan penyakit dengan memberikan ASI yang bersifat menenangkan, menyembuhkan dan penuh nutrisi. Faktor pertumbuhan dalam ASI mempercepat perbaikan pada organ usus setelah diare. (Bila bayi terlalu sakit mereka biasanya tidak mau menghisap ASI maka mereka perlu dibawa ke pusat kesehatan sesegera mungkin).
Pertalian khusus antara ibu dan anak terus berlangsung

ASI dapat membangun hubungan emosi antara ibu dan bayi yang terasa sangat nikmat dan berharga di atas usia 6 bulan. (WM/DS/PP)

Prinsip Pemberian Makanan Pendamping ASI (1)

sumber : sehatgroup.web.id (milis sehat)

Memperkenalkan Makanan Pendamping ASI Setelah Bayi Berusia 6 Bulan

Pakar ASI dan pakar kesehatan menyatakan bahwa Anda harus menunggu sampai bayi Anda berusia 6 bulan untuk memperkenalkan makanan padat, dengan kata lain, pemberian makanan padat harus dimulai pada usia 6 bulan, bukan pada usia 4 bulan
Telah banyak penelitian yang dilakukan dalam beberapa tahun belakangan ini, dan sebagian besar organisasi kesehatan telah memperbaharui rekomendasi mereka dan mendukung hasil riset tersebut. Sayangnya, banyak penyedia jasa kesehatan belum memperbaharui rekomendasi mereka pada para orang tua, dan banyak sekali buku-buku yang masih ketinggalan jaman, sehingga masih banyak yang merekomendasikan pengenalan makanan padat di usia 4 bulan.
Organisasi-organisasi di bawah ini merekomendasikan pemberian ASI Eksklusif (tanpa ada tambahan cereal, jus atau makanan lainnya) pada semua bayi selama 6 bulan pertama dalam hidup mereka (bukan pada usia 4 – 6 bulan):
1 World Health Organization – Organisasi Kesehatan Dunia
2 UNICEF – Organisasi PBB yang mengurus masalah anak-anak
3 US Department of Health & Human Services – Departemen Kesehatan AS
4 American Academy of Pediatrics – Organisasi Dokter Anak di AS
5 American Academy of Family Physicians – Organisasi Dokter Keluarga di AS
6 American Dietetic Association – Asosiasi Diet AS
7 Australian National Health and Medical Research Council – Badan Kesehatan Nasional Australia
8 Royal Australian College of General Practitioners – Organisasi Dokter Umum Australia
9 Health Canada – Organisasi Kesehatan Kanada

Mengapa Perkenalan Makanan Pendamping ASI Harus Dimulai Pada Usia 6 Bulan?

Penundaan pemberian makanan padat sampai bayi berusia 6 bulan berlaku bagi bagi yang mendapatkan ASI, ASI eksklusif dan juga susu formula.
1. ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga ia berusia enam bulan

ASI adalah makan bernutrisi dan berenergi tinggi, yang mudah untuk dicerna. ASI memiliki kandungan yang dapat membantu menyerapan nutrisi. Pada bulan-bulan awal, saat bayi dalam kondisi yang paling rentan, ASI eksklusif membantu melindunginya bayi dari diare, sudden infant death syndrome/SIDS – sindrom kematian tiba-tiba pada bayi, infeksi telinga dan penyakit infeksi lain yang biasa terjadi.
Riset medis mengatakan bahwa ASI eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan. Organisasi Kesehatan Dunia – WHO mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi… Evaluasi pada bukti-bukti yang telah ada menunjukkan bahwa pada tingkat populasi dasar, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan adalah cara yang paling optimal dalam pemberian makan kepada bayi. ”
Setelah 6 bulan, biasanya bayi membutuhkan lebih banyak zat besi dan seng daripada yang tersedia didalam ASI – pada titik inilah, nutrisi tambahan bisa diperoleh dari sedikit porsi makanan padat. Bayi-bayi tertentu bisa minum ASI hingga usia 12 bulan atau lebih – selama bayi anda terus menambah berat dan tumbuh sebagaimana mestinya, berarti ASI anda bisa memenuhi kebutuhannya dengan baik.
2. Menunda pemberian makanan padat memberikan perlindungan yang lebih baik pada bayi terhadap berbagai penyakit

Meskipun bayi terus menerima imunitas melalui ASI selama mereka terus disusui, kekebalan paling besar diterima bayi saat dia diberikan ASI eksklusif. ASI memiliki kandungan 50+ faktor imunitas yang sudah dikenal, dan mungkin lebih banyak lagi yang masih tidak diketahui. Satu studi memperlihatkan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan+ mengalami infeksi telinga 40% lebih sedikit daripada bayi yang diberi ASI ditambah makanan tambahan lain. Probabilitas terjadinya penyakit pernapasan selama masa kanak-kanak secara signifikan berkurang bila bayi diberikan ASI eksklusif setidaknya selama 15 minggu dan makanan pada tidak diberikan selama periode ini. (Wilson, 1998). Lebih banyak lagi studi yang juga mengaitkan tingkat eksklusivitas ASI dengan meningkatnya kesehatan (lihat faktor imunitas pada susu manusia dan Resiko pemberian makanan instan).
3. Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada sistem penernaan bayi untuk berkembang menjadi lebih matang

Biasanya bayi siap untuk makan makanan padat, baik secara pertumbuhan maupun secara psikologis, pada usia 6 – 9 bulan. Bila makanan padat sudah mulai diberikan sebelum sistem pencernaan bayi siap untuk menerimanya, maka makanan tersebut tidak dapat dicerna dengan baik dan dapat menyebabkan reaksi yang tidak menyenangkan (gangguan pencernaan, timbulnya gas, konstipasi dll). Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. Asam lambung dan pepsin dibuang pada saat kelahiran dan baru dalam 3 sampai 4 bulan terakhir jumlahnya meningkat mendekati jumlah untuk orang dewasa. Amilase, enzim yang diproduksi oleh pankreas belum mencapai jumlah yang cukup untuk mencernakan makanan kasar sampai usia sekitar 6 bulan. Dan enzim pencerna karbohidrat seperti maltase, isomaltase dan sukrase belum mencapai level oranga dewasa sebelum 7 bulan. Bayi juga memiliki jumlah lipase dan bile salts dalam jumlah yang sedikit, sehingga pencernaan lemak belum mencapai level orang dewasa sebelum usia 6-9 bulan.
4. Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada bayi agar sistem yang dibutuhkan untuk mencerna makanan padat dapat berkembang dengan baik

Tanda-tanda yang menunjukkan bahwa bayi sudah siap untuk menerima makanan padat termasuk ::
– Bayi dapat duduk dengan baik tanpa dibantu.
– Reflek lidah bayi sudah hilang dan tidak secara otomatis mendorong makanan padat keluar dari mulutnya dengan lidah.
– Bayi sudah siap dan mau mengunyah.
– Bayi sudah bisa “menjumput”, dimana dia bisa memegang makanan atau benda lainnya dengan jempol dan telunjuknya. Menggunakan jari dan menggosokkan makanan ke telapak tangan tidak bisa menggantikan gerakan “menjumput”.
– Bayi kelihatan bersemangat untuk ikut serta pada saat makan dan mungkin akan mencoba untuk meraih makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.
Sering kali kita mengatakan bahwa salah satu tanda bahwa bayi sudah siap untuk menerima makanan padat adalah bila bayi terus menerus ingin menyusu (kelihatan tidak puas setelah diberikan ASI/susu)-walaupun dia tidak sedang dalam keadaan sakit, akan tumbuh gigi , mengalami perubahan rutinitas atau mengalami pertumbuhan yang tiba-tiba. Meskipun demikian, sulit untuk menentukan apakah peningkatan kebutuhan untuk menyusui itu berhubungan dengan kesiapan bayi untuk menerima makanan padat. Banyak (bahkan sebagian besar) bayi usia 6 bulan yang mengalami pertumbuhan yang tiba-tiba, tumbuh gigi dan mengalami berbagai perkembangan – dalam satu waktu, yang pada akhirnya bisa menyebabkan meningkatnya kebutuhan untuk menyusui. Yakinkan bahwa anda melihat semua tanda-tanda kesiapan untuk menerima makanan padat sebagai suatu kesatuan, karena bila bayi hanya menunjukkan meningkatnya kebutuhan untuk menyusui, itu bukanlah tanda kesiapannya untuk menerima makanan padat.
5. Menunda pemberian makanan padat mengurangi resiko alergi makanan

Berbagai catatan menunjukkan bahwa memperpanjang pemberian ASI eksklusif mengakibatkan rendahnya angka insiden terjadinya alergi makanan (lihat Referensi alergi dan Resiko Pemberian Makanan Instan). Sejak lahir sampai usia antara empat sampai enam bulan, bayi memiliki apa yang biasa disebut sebagai “usus yang terbuka”. Ini berarti bahwa jarak yang ada di antara sel-sel pada usus kecil akan membuat makromolekul yang utuh, termasuk protein dan bakteri patogen, dapat masuk ke dalam aliran darah. Hal ini menguntungkan bagi bayi yang mendapatkan ASI karena zat antibodi yang terdapat di dalam ASI dapat masuk langsung melalui aliran darah bayi, tetapi hal ini juga berarti bahwa protein-protein lain dari makanan selain ASI (yang mungkin dapat menyebabkan bayi menderita alergi) dan bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai penyakit bisa masuk juga. Dalam 4-6 bulan pertama usia bayi, saat usus masih “terbuka”, antibodi (slgA) dari ASI melapisi organ pencernaan bayi dan menyediakan kekebalan pasif, mengurangi terjadinya penyakit dan reaksi alergi sebelum penutupan usus terjadi. Bayi mulai memproduksi antibodi sendiri pada usia sekitar 6 bulan, dan penutupan usus biasanya terjadi pada saat yang sama.
6. Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari anemia karena kekurangan zat besi

Pengenalan suplemen zat besi dan makanan yang mengandung zat besi, terutama pada usia enam bulan pertama, mengurangi efisiensi penyerapan zat besi pada bayi. Bayi yang sehat dan lahir cukup bulan yang diberi ASI eksklusif selama 6-9 bulan menunjukkan kecukupan kandungan hemoglobin dan zat besi yang normal. Dalam suatu studi (Pisacane, 1995), para peneliti menyimpulkan bahwa bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 7 bulan (dan tidak diberikan suplemen zat besi atau sereal yang mengandung zat besi) menunjukkan level hemoglobin yang secara signifikan lebih tinggi dalam waktu satu tahun dibandingkan bayi yang mendapat ASI tapi menerima makanan padat pada usia kurang dari tujuh bulan. Para peneliti tidak berhasil menemukan adanya kasus anemia di tahun pertama pada bayi yang diberikan ASI eksklusif selama tujuh bulan dan akhirnya menyimpulkan bahwa memberikan ASI eksklusif selama tujuh bulan mengurangi resiko terjadinya anemia.
7. Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari resiko terjadinya obesitas di masa datang

Pemberian makanan padat terlalu dini sering dihubungkan dengan meningkatnya kandungan lemak dan berat badan pada anak-anak. (Untuk contoh, lihat Wilson 1998, von Kries 1999, Kalies 2005)
8. Menunda pemberian makanan padat membantu para ibu untuk mejaga kesediaan ASI mereka

Berbagai studi menunjukkan bahwa pada bayi makanan padat akan menggantikan prosi susu dalam menunya – makanan tersebut tidak menambah total asupan pada bayi. Makin banyak makanan padat yang dimakan oleh bayi, maka makin sedikit susu yang dia serap dari ibunya, dan makin sedikit susu yang diserap dari ibu berarti produksi ASI juga makin sedikit. Bayi yang makan banyak makanan padat atau makan makanan padat pada umur yang lebih muda cenderung lebih cepat disapih.
9. Menunda makanan padat membantu memberi jarak pada kelahirn bayi

Pemberian ASI biasanya sangat efektif dalam mencegah kehamilan terutama bila bayi anda mendapatkan ASI eksklusif dan semua kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi melalui ASI..
10. Menunda pemberian makanan padat membuat pemberiannya menjadi lebih mudah

Bayi yang mulai makan makanan padat pada usia yang lebih besar dapat makan sendiri dan lebih kecil kecendurangan untuk mengalami alergi terhadap makanan.

Hati-Hati Dengan Produk Makanan Bayi

sumber : http://www.erabaru.net/featured-news/48-hot-update/4046-hati-hati-dengan-produk-makanan-bayi

Hanya masakan rumah yang benar-benar dapat memberikan nutrisi bagi anak Anda di awal kehidupannya. (LAURIE SANDERS/THE EPOCH TIMES)

Studi baru yang diselenggarakan oleh the Children’s Food Campaign telah mengupas beberapa fakta yang mengerikan mengenai bahan-bahan yang dimasukkan dalam makanan bayi [1].

Survei terhadap lebih dari 100 produk makanan bayi, yang dipajang di supermarket utama Inggris selama musim semi 2009, menyingkap betapa tidak sehatnya makanan-makanan ini. Sayangnya, dengan iklan dan promosi yang gencar, para produsen ini dapat menggerakkan pikiran para orang tua yang berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Saya yakin minimnya pengetahuan cenderung mendorong pengambilan keputusan yang kurang benar, dan karena semua produk tersebut merupakan merek ternama dan terpercaya, mereka diizinkan untuk menyertakan segala macam unsur yang tidak baik ke dalam produk makanan mereka tanpa peraturan yang sesuai. Secara mengejutkan, Cow & Gate tidak dapat memberikan daftar periset dan ringkasan informasi nutrisi yang diminta terhadap semua produk makanan bayi dan balita yang dipasarkan.

Bagaimanapun, masalahnya lebih besar dari yang diperkirakan. Banyak orang tua yang melakukan penelitian untuk mendapatkan yang terbaik bagi anak-anak mereka dan tetap menggunakan makanan bayi organik kemasan. Ini pastinya merupakan salah satu promosi pemasaran paling menyesatkan. Pada pemeriksaan yang lebih mendalam, produk makanan bayi organik ini tidak akan semenarik seperti yang diharapkan para orang tua.

Masalah utama dengan semua makanan bayi kemasan ini adalah mereka melalui proses pemanasan tinggi. Ini memungkinkan produk dipajang di rak supermarket dalam jangka waktu yang lama dan menuai laba maksimum.

Dengan pemanasan tinggi, makanan yang disterilisasi sama dengan makanan yang tanpa nutrisi. Tidak ada manfaat nutrisi dari makanan yang dimasak, diproses, dan kemudian diiklankan sebagai `telah disterilisasi – sekali pun awalnya merupakan bahan dasar organik. Ini merupakan sampah makanan organik yang mengerikan.

Ada nasihat yang mengatakan bahwa memasak sayuran terlalu lama akan menghabiskan kandungan nutrisi dan ini persis seperti yang sedang dilakukan pada bahan-bahan dalam makanan bayi kemasan.

Melihat situs Hipp Organic, sebuah produsen ternama makanan bayi organik Inggris, saya menemukan beberapa ungkapan yang menegaskan praktek pemanasan ini. “Makanan kemasan kami disterilkan dalam kemasan tertutup hampa udara selama proses pengemasan” dan “Anda tidak akan dapat mencapai temperatur setinggi tahap pengawetan seperti yang kami lakukan di bawah tekanan tinggi ini.”

Hampir sama, ketika saya berbicara dengan “tim teknik” di Plum Organics, saya mendapat informasi bila makanan mereka yang diiklankan `telah disterilisasi’ melalui tahap pemanasan produk akhir selama tiga menit. Itu sama saja dengan membasmi kandungan materi baik!

Makanan steril nampaknya tidak begitu mengundang selera, juga tidak tampak alami. Sebagai orangtua, saya ingin buah hati saya mendapatkan nutrisi terbaik di saat saya bisa mengontrol apa saja yang dia konsumsi. Sudah pasti makanan yang kita temui di jajaran rak toko selama berbulan-bulan, tidak mungkin bernutrisi.

Pasar makanan bayi organik ditenggelamkan oleh janji-janji “awal yang baik” bagi bayi Anda, tetapi apa yang sedang Anda berikan pada buah hati Anda? Apakah Anda memberikan semangkuk makanan bayi organik atau sebaliknya? Saya tidak akan! Saya tidak pernah membeli atau mencobanya, tetapi melihat teman memberikan makan tersebut pada bayi mereka, saya tidak dapat membayangkan makanan itu sedikit pun–dan melihat ekspresi pada wajah bayi-bayi mereka, nampaknya mereka juga tidak ingin!

Pentingnya sayur-sayuran dan buah-buahan segar begitu ditekankan pada kita di mana pun kita berada, dengan bersemangat kita mencari toko buah dan supermarket yang menjual produk yang `baru saja’ dipetik. Bahkan dengan alasan menghemat sedikit waktu, kita memberi anak-anak kita bubur `hasil pemanasan’ atas dasar “tidak apa-apa karena ini makanan organik”?

Masalahnya adalah, dengan kemasan pemasaran dan pengemasan yang memikat, produk makanan bayi ini meyakinkan para orang tua bahwa mereka sedang memberikan makanan terbaik pada anak-anak mereka, tetapi saya khawatir justru mereka benar-benar dikelabui.

Satu-satunya cara agar mengetahui dengan pasti apa saja yang sedang dikonsumsi bayi Anda adalah dengan menyiapkan sendiri makanan mereka. Tidak perlu terlalu rumit, dan saat ini banyak buku yang berisi pelajaran bagaimana cara melakukannya, jadi saya tidak terlalu membahas hal ini.

Jika Anda telanjur memberikan makanan olahan pada bayi Anda, tidak pernah ada kata terlambat untuk mengambil keputusan positif. Saran saya: Pilihlah cara Anda sendiri. Pastikan kesehatan jangka panjang anak Anda di tangan Anda sendiri dan putuskan apakah Anda percaya dengan segala promosi dan iklan yang disampaikan atau Anda memilih untuk melakukan penyelidikan sendiri.

Apapun yang Anda putuskan, seharusnya menjadi keputusan yang tepat bagi Anda dan keluarga Anda, dan keputusan itu berada di tangan Anda. (Laurie Sanders/The Epoch Times/feb)

Referensi:

1. Survei Children’s Food Campaign pada Mei 2009. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi situs: http://www.sustainweb.org

Laurie Sanders spesialis menulis tentang pengasuhan anak dan metode pengasuhan “alternatif”. Dia memperkenalkan metode pengasuhan anak secara kreatif, menemukan gaya yang sesuai dengan anak.

Homemade Baby Food

source : The BIG secret: It takes less than 30 minutes per week
By Cheryl Tallman and Joan Ahlers

Making baby food can be healthier for your baby, and offers your baby an introduction to foods rich in variety, flavor, color, taste and smell. All of your friends (and your mother-in-law) will think you are a super parent for making your baby’s food. The big secret — it is super easy and takes less than 30 minutes per week.

A common approach to making baby food is called the “ice cube tray” method. The concept is simple: make large quantities of basic food purees using a standard blender or food processor and freeze it in single servings (1 ounce) in ice cube trays. With this method, you only need to make baby food once, maybe twice, per week. Over time you build up a large variety of single-serving baby food cubes in the freezer.

Here are the four basic steps of making baby food with the ice cube tray method:
Step 1: Prep – Depending on the type of baby food you are preparing, you will need to wash, chop and peel the fruits and vegetables. You should not use detergent or bleach when washing fruits and vegetables because these chemicals can leave a residue that will be absorbed by porous food like produce. If you are using frozen produce, simply open the package.

Step 2: Cook – Cook the food in the microwave or use a stovetop method of steaming. We prefer microwave cooking for several reasons: saves time because foods cook faster; retains more nutrients than other cooking methods; and it is easier clean up. If you prefer the stovetop method of cooking foods, you must use a steamer basket. DO NOT boil food, boiling food reduces nutrient content. Foods must be cooked well. They are done when the can be pierced or mashed easily with a fork.
Step 3: Puree – Pour the food and cooking juices into a food processor or a blender and puree. Food consistency is created during this step. You want your baby to have food that is soft and velvety in texture. You may need to add water to some foods to get the right consistency. Although water will slightly dilute the food’s nutritional value, the difference is not significant enough to worry about.

Step 4: Freeze – Pour the food puree into ice cube trays. Cover and place them in the freezer for eight to 10 hours or overnight. Pop the baby food cubes from the freezer trays. Place the cubes in a freezer storage bags or stackable containers (Label the bag/containers with the date and the type of food), and return them immediately to the freezer. Baby food cubes stay fresh for up to two months.

Sample Recipe: Apple Puree
6 medium golden delicious apples

Step 1: Prep – Wash, peel, core and cut apples into one-inch (3 cm) slices.

Step 2: Cook – Place apples in a microwave safe dish. Cover. Cook 5 minutes and let stand for 5 minutes. Cook an additional 5 minutes. The apples are done when they can be pierced easily with a fork.

Step 3: Puree – Place apples and cooking juices into a blender or a food processor. Puree to a smooth texture.

Step 4: Freeze – Spoon into So Easy Baby Food Trays or ice cube trays. Cover. Place in freezer eight to 10 hours or overnight. Remove cubes from trays, place in storage container or freezer bag, and return immediately to the freezer.

Makes 24 1-ounce servings. Stays fresh for two months in the freezer.
To serve, select frozen apple cubes from the freezer, defrost and warm, check the temperature and feed.

Age to introduce: About 6 months

Serving Homemade Baby Food
Using the ice cube tray method of making baby food makes it is easy to create a large variety of food cubes in your freezer. When it is time for feeding, simply select the food cubes from the freezer, thaw them and feed them to your baby. You may want to warm the food first. Baby food can be served cold, at room temperature or slightly warm. Never serve hot food to your baby, and always check the temperature of food or drinks before feeding them to your baby.

Baby food should have soft, velvety consistency. If you are just starting solids, thinner food is better than thicker food. If you defrost the food and see that it is too thick, you can easily thin it by adding some breast milk or formula. This also adds a little extra nutrition too. If the opposite happens, and the food is too thin, you can easily thicken the food by adding a little baby cereal, mashed banana or plain yogurt.

After your baby has been introduced to a variety of single flavor foods and he is a little older, you can begin making meal time more interesting and introduce your baby to array of tastes, by combining different foods to create medleys.

Here are some examples of foods cubes that taste great together:
• Green peas and sweet potatoes
• Green beans and white potatoes
• Broccoli, cauliflower and melted cheese
• Butternut squash, corn and mashed tofu
• Peaches, pears and rice cereal
• Mango, Papaya and banana
• Raspberries, apples, yogurt and ground walnuts

Solid Food

Source : http://www.babyloveclub.com.au/solid-food

When is the best time to start your baby on solids? Here are some tips to help identify when the time has come, however please note the following advice is of general nature only – for more specific guidelines for your baby consult your dietitian. Hints your baby’s ready to start solids.
• Your baby often shows great interest in your food
• Baby has good head control
• Baby seems hungrier than usual
• Baby may start waking again at night, when previously was mostly sleeping through
Starting solids before 4 months of age is of NO benefit to your baby and NOT recommended, as they cannot properly digest any foods before 4 months and it may even increase the risk of such conditions as food/ skin allergies, eczema or dermatitis just to name a few. IDEALLY it is recommended that baby receives only breast milk or formula up until 6 months. However if this isn’t possible solids can be introduced earlier, but NOT before 4 months of age. Starting solids is a process achieved over time. Babies begin taking only small teaspoons of rice cereal and gradually, their appetite for different foods and an increased amount of food builds up. Did you know: Your baby’s first experience of flavours probably occurred in the womb! Just remember. Eating should be an enjoyable time. It is a very social activity and also nutritionally important. As your baby’s activity increases, then so does their demand for solids/ calories. Get the camera out for some messy memories! Do’s: Go at your baby’s pace. When introducing solids, smile. Your own facial expressions are very powerful, “mmmmm isn’t this rice cereal just SO tasty” will help your baby to understand. Use a clean soft spoon and dish for baby. Do look at commercial food labels and consider the following:
• Check if suitable for baby’s age
• Check expiry date
• Check seals on jars and ensure cans are intact
• Choose foods that contain no added sugars
• Check for no added salt

If there is a family history of asthma, eczema or allergies to food, please consult your Doctor, Maternal and Child Health Nurse or dietitian to see if your baby needs to avoid particular foods. All babies should have foods introduced gradually to aid in detection of potential allergies. For the latest information on Infant Feeding Guidelines (2003) prepared by the National Health & Medical Research Council (NHMRC) please click here.
Don’ts:
Don’t force feed your baby – they will let you know they have had enough, eg. They’ll turn their head away and may even start spitting food out! That’s your little sweetie telling you that’s enough.
• Do not reheat previously warmed food
• There isn’t any need to give juice – they will thank you when they are older with lovely teeth and skin. However, if you do give juice, dilute it – 1 part juice to 10 parts water.
• Never give juice to your baby in a bottle.
• Do not add any salt to foods – this is very important as your baby’s kidneys cannot cope with it.
• Do not add sugar – there are enough natural sugars in fruit. Never leave your baby unattended when eating.
Starting foods around 6 months.
Texture of foods:
Soft, smooth/pureed
Foods you might like to try:
• Rice cereal: Prepare with breast milk or formula (Follow instructions on the box)
• Vegetable or fruit purees
• Potato – Carrots
• Pumpkin – Sweet Potato
• Zucchini – Broccoli
• Green Beans – Avocado
• Parsnip – Cauliflower
• Cucumber – Peas
• Pear -Peaches
• Apple -Plums
• Banana -Mango
• Kiwi fruit -Apricot
• Melon -Paw Paw
Gradually introduce a wide variety of foods.
Also increase the amount of food – start with 1-2 teaspoons once a day and slowly increase.
Before 6 months offer breast milk or formula before solids.
Around 6 months start offering solids before breast milk or formula.
Remember this is a gradual process; it will take time. Try following your baby’s appetite.
6 – 9 months.
Texture of foods:
Mashed, minced, chopped or diced (babies can chew soft lumps before they get teeth)
Foods you might like to try:
• Meats: Chicken, beef, pork, lamb, turkey
• Rice, porridge, semolina
• Split pulses ie. Lentils
• Wider variety of Vegetables and Fruits
7 months.
• Full-fat milk products
• Yoghurt, fromage frais, plain custard
• Cheese
• Wheat-based foods (including wholemeal)
• Bread, rusks, wheat noodles, pasta
8 months.
• Citrus fruit
• Berries
• Tomatoes
• Fish – canned sardines, pilchards, salmon and mackerel
• Tuna
• Baked Beans
9 months.
• Well cooked eggs * if no family allergies
• Egg noodle * if no family allergies
9-12 months.
Texture of foods:
Chop, diced finger foods – starting to self feed (bring out that plastic apron and newspaper for the floor).
• You might like to try making modified family meals or encourage self feeds (stay near by in case of choking)
• Avoid sweet biscuits
• Stop bottles at 12 months
Be Cautious:
If no family allergies exist, you can start to try your baby on tiny amounts of shellfish, cooked egg yolk or smooth peanut butter after 9 months of age. Be sure to consult your dietitian if you have any concerns.
Avoid :
• Nuts and seeds eg. Sesame – do not give to children under 5 years
• Honey – Do not give before 12 months. Honey may contain a type of bacteria, which can produce toxins in your baby’s intestines, putting your baby at risk of a serious illness called “infant botulism”.
• Sugar – it could encourage a sweet tooth and lead to tooth decay.
• Salt – Don’t add salt as your baby’s kidneys cannot cope.

Food for Babies

Source : http://www.ianrpubs.unl.edu/epublic/pages/publicationD.jsp?publicationId=290
This NebGuide explains how to add solid food to your baby’s diet.
________________________________________
Darlene Pohlman, Extension Nutrition Specialist
Alice Henneman, Extension Educator
________________________________________
• When to Start Solid Foods
• Feed Your Baby Like a Baby
• The First Solid Food
• Heating Baby Food
• Warning
• Summary Tips
Good nutrition is vital for a baby’s growth and development. The American Academy of Pediatrics strongly recommends breast-feeding for most full-term infants. No formula can replace the immunological protection a baby receives from colostrum — the breast milk produced the first few days after birth. It’s important to breast-feed for at least the first few weeks, even if it can’t be continued for a long time. If unable to breast-feed or if breast-feeding is discontinued before the baby’s first birthday, commercially prepared infant formula is the best alternative.
Nutrients found in breast milk or appropriate iron-fortified formulas are the only sources of food your baby needs for the first four to six months and should remain the core of the diet throughout the first year. Formula-fed babies also may need plain water. What you feed your baby in the first year of life is very important because this is when your baby grows most rapidly. Babies usually triple their birth weight in the first year.
When to Start Solid Foods
The time to start semisolid or solid food depends on your baby’s development. The baby’s digestive system or immature kidneys may not be ready for solid foods before 4 to 6 months of age. Food allergies and choking can cause problems when feeding solids too early. Feeding too early also may cause unnecessary stress on you and your baby. Check with your doctor before beginning to feed solid foods.
Look for these signs of physical readiness that indicate your baby may be ready for solid foods.
• Your baby’s birth weight has doubled.
• Your baby can sit up with support and can control his or her head.
• Your baby can control upper body movements and pull forward when food is wanted or move back when full.
• Your baby’s tongue doesn’t keep pushing food out.
Feed Your Baby Like a Baby
Use a very small spoon to feed solid foods. Spoons designed for babies are available at most grocery or department stores. Using a baby spoon commercially coated with plastic will help protect baby’s tender gums. Never use a bottle or infant-feeder for semisolid or solid foods like cereal because they can increase the possibility of choking or overfeeding. When offering solid foods the first time to your baby, pick a day when both you and your baby are in a good mood. Trying solid food for the first time is a big event for both you and the baby. This time should not be rushed.
Introduce only one food at a time. Wait a week before introducing another food and always watch to see if the baby has any reaction such as vomiting, diarrhea, wheezing or a skin rash. If you feed only one new food at a time and there is no reaction, you can continue feeding that food without concern about possible allergies. If your baby doesn’t want to eat a new food, don’t force the issue. Offer it again the next day. If the food is still refused, wait two or three weeks before offering it again.
The First Solid Food
Baby’s first solid food should be dry-packed, iron-fortified baby cereal mixed with breast milk, formula or water. Dry cereals are usually the first solid foods given to infants because they meet the baby’s iron requirements. Start with rice cereal since it is least likely to cause an allergic reaction. After successfully feeding rice cereal for a week, you may introduce another infant cereal such as oatmeal or barley cereal. Wheat and mixed cereals should be introduced last because of possible allergic reactions. To mix baby’s first cereal, use 1 teaspoon dry cereal with 2 to 3 tablespoons of breast milk, formula or water. Read the label on the dry cereal package and use the liquid recommended. The mixture should be very thin. As your baby is able to accept more food, mix equal parts of liquid to dry cereal. Do not use raw or pasteurized cow’s milk to mix cereal. Cow’s milk is difficult for a baby’s system to digest until after 1 year of age.
At first give only a small amount of cereal — about 1 teaspoon twice a day. Gradually increase it to 2 to 3 tablespoons twice a day. Remember, your baby’s appetite for food will be small at first. Learn your baby’s signals for fullness such as starting to play, blowing bubbles, pushing the spoon away or turning the head. Respect your baby’s signals for being full. Feeding babies only when hungry will teach them to pay attention their appetite. Never force feed your baby.
Introducing vegetables, fruits and meats
Introduce strained vegetables and fruits after the baby is comfortable with eating cereal. Introduce one vegetable or fruit at a time. Watch for reactions that may indicate food sensitivity. Begin by adding mild-flavored vegetables such as carrots, yellow squash, sweet potatoes or green beans and then add fruits such as peaches, applesauce and pears. After your baby accepts several kinds of vegetables, offer two varieties each day for added nutrition. Beets, spinach and collard and turnip greens have nitrates and should be introduced after 1 year of age. Vegetables usually are introduced first because starting with the sweet taste of fruits may make some vegetables less appealing.
Offer strained, lean meats after your baby fully accepts vegetables and fruits. As with cereals, vegetables and fruits, offer a single meat at a time and watch for an allergic response. Meat dinners are not recommended because they have less protein than single ingredient foods such as strained meats or vegetables. Introduce cooked egg yolks after meats have been accepted. Egg whites may cause a food reaction and should not be introduced until after baby’s first birthday.
Allergic responses to food
Allergic responses to look for after introducing new foods include:
• gastrointestinal distress such as vomiting, excessive gas or diarrhea
• skin problems such as itching, swelling, hives or rashes
• respiratory distress such as congestion, coughing or wheezing
If your baby has an allergic response to a food, consult with your baby’s doctor. Certain foods are more likely than others to cause a reaction. These foods should not be offered to a child under 1 year of age:
• cow’s milk
• eggs
• nuts of any kind, including nut butters
• wheat
• corn
• citrus fruits and juices
• seafood
If you think that your baby may be at risk for food allergies, you may want to consider breast-feeding for as long as possible because breast milk is the least likely to provoke an allergic reaction. If you use formula, choose a formula with care as some formulas are less likely than others to prompt an allergic reaction. Your baby’s doctor will advise you on which formula would be appropriate. Delay the introduction of solid foods for as long as possible. The more time that a baby’s immune system is allowed to develop, the less likely it will become sensitized to a particular food protein. Keep a record of each solid food introduced and your baby’s reaction to it.
Appetite
During the first year, the main source of nutrition should be breast milk or formula. The baby should continue to have five to six breast-feedings or 24 to 40 ounces of formula in 24 hours. If milk consumption drops below 24 ounces or your baby does not want to nurse, you may be feeding too much solid food. Your baby’s appetite will vary from feeding to feeding — don’t force your baby to drink every drop or eat an extra spoonful. If you feel your baby is not eating enough, consult your doctor or dietitian.
First finger foods
When babies are 6 to 7 months old, they usually enjoy finger foods. Acceptable finger foods include hard toast, melba toast, crackers, and cooked vegetables and fruits. Be alert to possible choking hazards.
Home-prepared baby food
Even though manufacturers of infant foods no longer add salt or sugar to most products, many parents prefer to make their own baby food with a food processor, blender, strainer, masher or grinder. If you make your own baby food, remember:
• Follow clean, sanitary procedures in all food preparation and storage.
• Fresh or frozen foods can be used.
• The best cooking methods for baby food are steaming rather than boiling, and broiling rather than frying.
• Microwave cooking is a good preparation method, especially for vegetables, because foods can be cooked in very little water.
• Do not add salt.
• Do not add sugar.
• Do not use honey or corn syrup in any form during your baby’s first year because it may contain clostridium botulinum spores. These spores may make your baby very ill, although they may not make an adult sick.
• Mash or puree clean, washed and peeled soft raw fresh fruit such as bananas, pears, strawberries or melons.
• Homecooked baby food may be immediately frozen or stored in shallow covered containers in the refrigerator for one to two days. Check that your refrigerator maintains a proper and consistent temperature of 40°F or lower.
• One way to freeze baby food is to pour pureed food into ice cube trays and freeze. When food is firmly frozen, remove the cubes and store in plastic bags or containers in the freezer for no more than two months.
If you buy commercially prepared food, remember that combination foods such as dinners and desserts often have added starch. Combination foods are more expensive and less nutritious than individual foods. Read labels to know what prepared foods contain.
Heating Baby Food
Baby food may be served cold, at room temperature or heated. Baby food should be heated in one of three ways. An electric baby dish may be used. The electric dish keeps the food at constant temperature, but food should always be stirred and tested for temperature before feeding to the baby. Do not heat baby food in baby food jars. They are not heat-resistant and can crack or break when heated in the oven, boiling water or the microwave. Food can be heated in a small heat-resistant dish placed in a saucepan with about 1 inch of water. After dishes are placed in a saucepan, heat water to simmering, not boiling. When the food is warm, remove, stir and test for temperature. A microwave oven may be used for warming baby food. Heat a few seconds and let the food stand a short time before serving. Stir food thoroughly because hot spots can be created. Food may feel cool to the touch but be hot in the middle. Always test food by placing some on your wrist or by tasting the food. Use your own spoon for tasting; never use the baby’s spoon.
Don’t feed your baby from a container that has more food than your baby can eat at one time. Discard what is left. It contains bacteria from the baby’s mouth that can continue to grow. Opened food stored in the refrigerator for more than two days should not be fed to your baby. Labeling the food with the date when storing is a good practice. Reheat food only one time. If food is not consumed after the first reheating, discard it.
Warning
The size, shape and consistency of the following foods can cause choking:
• berries, cherries and grapes
• pickles
• raw vegetables such as peas, carrots and celery
• nuts
• raisins
• peanut butter
• adult dry cereals
• whole kernel corn
• hot dogs
• chips
• pretzels
• marshmallows (regular and miniature)
• popcorn
Summary Tips
For a successful beginning:
• Use a small spoon and feed from a dish.
• Throw away leftover food not eaten.
• Do not use the baby’s spoon for tasting.
• Always refrigerate an opened jar of food immediately.
• Discard baby food that is left in the refrigerator more than two days.
• Introduce one new food at a time and be mindful that an allergic reaction can occur when introducing a new food.
• Wait a week before offering another new food.
• Do not add salt, sugar or other seasonings to food.
• Offer a variety of foods.
• Never leave a baby unattended during mealtime.
• Remember that breast milk or formula is still the main source of nutrition during the first year.
• Respect baby’s signals for being full.
• Creating a friendly social setting with family and friends usually encourages your child’s enjoyment of food.
• Smile when you give your baby a spoonful of food.
This publication has been peer reviewed.