BILA ANAK TERKENA CAMPAK

Hati-hati bila anak demam dibarengi munculnya bercak merah di
sekitar tubuh. Jangan dianggap enteng, Bu.

Hari itu, di rumah keluarga Ibu Niken terjadi kepanikan. Pasalnya,
kulit Nandia (13 bulan) berbercak merah, bahkan seperti
menghitam. “Memang, beberapa hari ini dia panas tinggi. Tapi, saya
pikir dia demam biasa saja,” ujar Ibu Niken dengan rasa bersalah.

Ternyata, dari pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Nandia terkena
campak. “Hal itu bisa saja terjadi. Memang adakalanya penyakit campak
tak terlihat karena campaknya belum keluar,” ujar DR.Sri Rezeki H.
Hadinegoro, Dr. Sp.A(K), dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Apa yang dialami Ibu Niken kerap juga dialami ibu-ibu lain. Mari kita
mengenal campak lebih jauh, agar tak langsung panik saat
menghadapinya.

PNYEBABNYA ADALAH VIRUS

Penyakit campak/measles disebabkan oleh virus Morbili. Pada tahun 60-
an, di Amerika campak merupakan penyakit yang mengakibatkan kematian
400 balita setiap tahunnya. Gejala campak memang agak sulit dideteksi
secara dini. Karena, gejala campak, seperti batuk, pilek, dan demam,
menurut Sri, hampir sama dengan penyakit flu biasa. “Padahal, campak
merupakan penyakit infeksi yang berbahaya.” Bahkan, gejala munculnya
bercak merah di kulit pun hampir mirip dengan karena keracunan obat
atau alergi karena dingin.

Gejala awal penyakit campak ini dimulai dengan adanya batuk-batuk.
Lalu, 1-2 hari kemudian timbul demam yang tinggi dan turun naik
berkisar antara 38-40 derajat, selama lima hari. Biasanya dibarengi
dengan mata merah dan seperti berair.

Pada saat itu pula, biasanya muncul bintik putih seperti Koplik spot
di sebelah dalam mulut. Dan ini biasanya akan bertahan 3-4 hari.
Kadang-kadang juga disertai dengan munculnya diare. Memasuki hari
kelima demamnya akan tinggi sekali. “Pada waktu itulah, bercak merah
mulai keluar.”

Bercak merah campak berbeda dengan bercak biang keringat, misalnya.
Karena, biang keringat tidak dibarengi dengan demam. Bercak-bercak
merah ini muncul secara bertahap dan merambat. Lokasi “khusus” ini
biasanya muncul pertama kali di belakang kuping, leher, dada ke
bawah, tangan, kaki lalu ke muka.

Jadi, terang Sri, bercak-bercak merah ini tak sekaligus muncul ke
seluruh tubuh. Perlu waktu, biasanya seminggu barulah memenuhi
seluruh tubuh. Tetapi, jika daya tahan tubuh anak cukup bagus bercak
merahnya tak terlalu menyebar atau tak terlalu penuh. Umumnya jika
bercak merah ini sudah keluar, demamnya akan turun dengan sendirinya.
Usai itu, kulit kemudian menjadi hitam bersisik, kira-kira selama 2
minggu. Timbul warna kehitaman itu merupakan periode penyembuhan.
Lama-lama tanda hitam itu akan rontok, hilang atau sembuh dengan
sendirinya.

Yang jelas, bercak-bercak merah ini menimbulkan gatal luar biasa.
Yang dikhawatirkan, kata Sri, timbul infeksi karena anak menggaruk
dengan tangan yang tidak bersih. Infeksi ini muncul seperti bisul-
bisul kecil bernanah. Ditambah lagi kebiasaan yang tidak benar dari
para ibu ini, yang tidak memandikan anak yang sedang terkena
campak. “Padahal anak yang campak, bila panasnya sudah turun tetap
harus dimandikan,” tandas Sri. Minimal, dilap handuk basah untuk
membersihkan keringatnya. Dan, usahakan untuk menggunakan sabun bayi
yang tak terlalu merangsang kulit atau yang tak terlalu keras.
Gosoklah seluruh bagian tubuhnya seperti biasa, asal tidak terlalu
keras. Justru, bila anak tak dimandikan, anak akan berkeringat dan
tentu rasanya lebih gatal lagi. “Dengan mandi anak akan merasa
nyaman. Nah, untuk mengurangi rasa gatalnya, sehabis mandi bisa
dibedaki dengan salycyl talc,” papar Sri.

KOMPLIKASI

“Yang terang, disebut campak apabila demam itu berlanjut dengan
timbulnya bercak-bercak merah. Kita sering salah kaprah, bila anak
demam tinggi dan tidak mengeluarkan bercak-bercak merah, menandakan
bahwa campaknya tidak keluar. “Tanpa bercak merah, kendati demamnya
tinggi, namanya bukan campak.”

Anak yang terkena campak ini tergolong sakit berat. Paling tidak
menghabiskan waktu sakit selama tiga minggu. Dan campak ini juga
dikategorikan atas ringan dan berat. Disebut ringan, kata Sri,
apabila setelah keluar campak, demamnya akan turun. “Sedangkan campak
yang berat bila sampai ada komplikasinya. Komplikasi itu bisa terjadi
disepanjang berlangsung penyakitnya,” jelas Sri. Komplikasi terberat
bisa sampai menimbulkan kematian. Radang paru (pneumonia) merupakan
komplikasi yang paling sering mengakibatkan kematian pada anak.

Komplikasi ini bisa terjadi karena virus Morbilli bisa menyebar
melalui aliran darah ke mana-mana. Selain ke kulit, ke selaput lendir
hidung, mulut, pencernaan. Bahkan bila virus itu masuk ke daerah otak
bisa menimbulkan kejang-kejang, kesadaran menurun/ensefalopati.

Bila ke daerah pencernaan bisa menimbulkan diare atau muntah-muntah
sehingga anak kekurangan cairan atau dehidrasi. Selain itu karena ada
sariawan juga membuatnya perih dan tak mau makan. “Umumnya campak
yang berat ini terjadi pada anak yang gizinya buruk,” ujar Sri.

Perlu diketahui, campak ditularkan lewat udara yang terhisap melalui
hidung atau mulut. Karena penularannya terjadi langsung, penyakit
campak menular begitu cepat. Penularan sudah berlangsung 1-2 hari
sebelum keluarnya bercak-bercak merah. Karena itu, anak yang campak
harus diisolasi agar tidak menularkan pada anak yang lain. Ia pun
perlu mendapat istirahat yang cukup. Kemudian, makan bergizi.

PENANGANAN CAMPAK

Anak yang diduga terkena campak harus dipastikan dulu apakah betul-
betul campak atau bukan. Bila diagnosis sudah ditegakkan, dan tak ada
komplikasi, anak cukup dirawat di rumah. “Tetapi, bila sampai terjadi
komplikasi harus dirawat di rumah sakit.”

Yang terang, bila campak tak diobati akan berbahaya karena dampaknya
yang bisa bermacam-macam tadi. Anak pun akan rewel, sulit minum, tak
bisa tidur, bisa kejang, kekurangan cairan, sesak nafas dan
sebagainya. “Jadi jangan punya anggapan bahwa campak didiamkanpun tak
apa-apa. Karena ini termasuk penyakit berat,” tandas Sri.

Dan, pengobatan campak dilakukan untuk mengobati gejalanya. Hal ini
disebabkan karena penyebab campak adalah virus. “Jadi, bukan
mematikan virusnya. Karena begitu gejala penyakitnya timbul virusnya
sendiri sudah tak ada,” jelas Sri. Jadi, anak akan diberi obat
penurun panas untuk demam, obat sariawan untuk sariawan (bila ada),
dan obat diare untuk mengatasi diarenya. Dan obat batuk untuk
mengobati batuknya. Lalu disiapkan pula obat anti kejang bila anak
punya bakat kejang.

Sebaiknya anak berpantang makanan yang merangsang batuk, seperti
goreng-gorengan, permen dan coklat. Selain itu, berilah anak makanan
yang mudah dicerna.

Umumnya bila anak terkena campak akan rentan sehingga mudah sekali
terkena penyakit lain. Misalnya bila di sekitarnya ada yang flu,
radang tenggorokan atau bahkan TBC, maka diapun bisa terkena.
Biasanya masa rentan ini berlangsung sebulan setelah sembuh.

IMUNISASI

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya timbulnya campak
pada anak?

Untuk diketahui, semua penyakit virus itu bersifat endemis. Artinya
penyakit itu tidak mengenal musim, karena bisa muncul sepanjang
tahun. Karena itu, pencegahan dilakukan hanya dengan imunisasi
campak. “Imunisasi pertama dilakukan pada usia antara 6-9 bulan. Lalu
diulang pada usia 5-6 tahun atau ketika sekolah TK atau SD kelas
satu.”

Vaksin campak ini tergolong ringan sekali, tak ada efeknya. Cuma
biasanya setelah satu minggu, badan agak hangat dan adakalanya
diare. “Tapi, vaksin ini lebih ringan daripada vaksin DPT.”

Karena umumnya campak banyak menyerang anak usia balita, itulah
mengapa imunisasi diberikan di bawah usia setahun. Karena itu bila
dalam satu keluarga, misalnya kakaknya yang usia TK terkena campak,
lalu ada adiknya yang masih bayi, orang tua harus ekstra hati-
hati. “Jika adiknya belum diimunisasi akan berbahaya sekali.
Sebaiknya kakak atau adiknya dipisahkan dari rumah, misalnya
dititipkan atau tinggal sementara di rumah nenek atau saudara
lainnya,” saran Sri.

Kemudian, lakukan pemantauan terhadap si adik selama kurang lebih
tiga minggu, apakah tertular atau tidak. Bila adiknya tak terkena
dalam waktu itu, segera berikan imunisasi. “Tapi, bila yang terjadi
dalam waktu 3 minggu itu adiknya terkena campak, tak perlu
diimunisasi tapi harus diobati.” Hal ini disebabkan, lanjut Sri,
vaksin imunisasi merupakan virus yang hidup tapi dilemahkan. Jadi,
kalau sudah tertular virus dalam badannya maka jangan diberikan lagi.

Anak yang sudah mendapatkan imunisasi diharapkan tak terkena campak.
Karena sudah ada imunnya. Kalau toh terkena tak akan sampai berat.
Perlu diingat, “Seorang anak akan terkena campak sekali seumur hidup.
Kalau dikatakan sampai 2-3 kali terkena campak, itu salah, berarti
diagnosisnya tak betul,” kata Sri.

Dan bila masa kecilnya tak terkena campak bisa saja terkena di usia
setelah besar. Kecuali bila daya tahan tubuhnya kuat, ada kemungkinan
tidak terkena.

Campak – Manifestasi Klinis-Tatalaksana

sumber : http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/kulit/2010/11/27/campak-manifestasi-klinis-tatalaksana/

Findra Setianingrum, MD

Manifestasi Klinis dan Diagnosis

Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing memiliki ciri khusus

Stadium prodormal

Berlangsung rata-rata 3 hari (2-4 hari), ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjuntivitis. Tanda patognomonik yaitu timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik.

Gambar 2.Bercak Koplik

Selama stadium prodormal, suhu meningkat bertahap dengan nilai 39.5ºC + 1.1ºC selama kurang lebih 4 hari. Gejala nasal merepresentasikan infeksi virus respiratori dan sama seperti yang terjadi pada nasofaringitis akut atau common cold. Bersin-bersin, rhinitis, dan kongesti ialah gejala yang umum.

Bercak Koplik biasanya berwarna putih di atas permukaan mukosa yang merah terang. Bercak Koplik pertama muncul di di depan mukosa bukal molar namun akan dengan cepat menyebar ke sebagian besar bukal dan mukosa labial bawah. Hal yang penting adalah latar belakang mukosa yang selalu merah terang dan granular, sehingga dapat dibedakan dari lesi normal pada permukaan mukosa yang pucat yang biasanya terdapat pada dewasa.

Stadium erupsi

Ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ekstremitas. Eksantema biasanya terjadi pada puncak gejala respiratorik dan ketika suhu sekitar 39.5ºC. Saat itu, bercak Koplik mencapai puncaknya dan 3 hari berikutnya akan menghilang.

Stadium konvalesens

Setelah 3 hari ruam berangsur menghilang sesuai ututan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman, dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

Diagnosis

Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari, didikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan, dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak (bercak Koplik).

Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya sama dan jelas. Sebagai contoh, pasien yang mengidap gizi kurang, ruamnya dapat sampai berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien sudah eninggal sebelum ruam timbul. Pada kasus gizi kurang juga dapat terjadi diare yang berkelanjutan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu; seperti pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi, dan pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal; diagnosis banding lainnya adalah rubela, demam skarlatina, ruam akibat obat-obatan, eksantema subitum dan infeksi Stafilokokus.

Komplikasi

Laringitis akut

Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai dengan distres pernafasan, sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.

Bronkopneumonia

Dapat disebabkan oleh virus campak maupun infeksi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanya ronki basah halus. Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus. Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik.

Kejang Demam

Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam.

Ensefalitis

Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah timbulnya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1000 kasus campak, dengan mortalitas antara 30-40%. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak. Gejala ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, koma dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas meningkat, twitching, disorientasi juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan adar glukosa dalam batas normal.

Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)

SSPE merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah menderita campak adalah 0.6-2.2 per 100.000 infeksi campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan masa inkubasi rata-rata 7 tahun. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan.

Enteritis

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein (protein losing enteropathy).

Pengobatan

Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campak dirawat di bangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila terdapat malnutrisi diberikan 1500 IU tiap hari.

Apabila terdapat penyulit, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit yang timbul, yaitu:

Bronkopneumonia

Diberikan antibiotik ampisillin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin biasanya negatif (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hipersensitivity disebabkan oleh sel limfosit-T yang terganggu fungsinya.

Enteritis

Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis+dehidrasi.

Ensefalopati/Ensefalitis

Perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga ¾ kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid berupa deksametason 1 mg/kg/hari sebagai dosis awal dilanjutkan 0.5 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off). Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.

Pencegahan

Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan pelaksanaannya pada tahun 1982.

Pata tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonstone B) dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminiun). Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat.

Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1.100 TCID-50 atau sebanyak 0.5 ml. Tetapi dalam hal vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID-50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Cara pemberian yang dianjurkan adallah subkutan, walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular tampaknya mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan.

Referensi:

1. Satari H I, Hadinegoro S R S, dkk. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi 2. Jakarta: Bag.Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002.
2. Departemen Ilmu kesehatan Anak RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: 2007.
3. Cherry, JD. Measles Virus. In Feigin RD, Cherry JD, Demmler GJ, Kaplan SL. Textbook of Pediatric Infectious Disease Volume 2. 5th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2004. p. 2290-8.

BABY MEASLES

sumber : milist balita-anda

sumber:

http://www.todaysparent.com/toddler/healthsafety/article.jsp?

content=791670&page=1.

by: Diane Sacks
(Paediatrician Diane Sacks spent 20 years at the Hospital for Sick Children
in Toronto, and is currently on staff at North York General Hospital)

Question:
Anak saya yang berusia 16 bulan telah didiagnosa ‘baby measles’
(Roseola). Ia telah divaksinasi (MMR) pada usia 12 bulan. Saya tidak
menemukan informasi apa pun tentang diagnosa ini. Apakah bedanya ‘red
measles’ (campak) dengan baby measles (roseola)?

Answer:
‘Red measles’ (rubeola atau campak) adalah penyakit infeksi virus yang cukup
serius yang hampir pasti dapat dicegah dengan vaksinasi yang diberikan pada
anak usia 12 hingga 15 bulan. Gejala-gejalanya berupa: demam tinggi, batuk,
hidung ‘meler’ dan mata yang merah, yang kemudian diikuti dengan timbulnya
‘rash’ (bintik-bintik) merah beberapa hari kemudian. Munculnya bintik tsb.
umumnya dimulai dari area wajah dan kemudian menyebar ke seluruh
tubuh. Campak dapat menular pada rentang waktu 3-5 hari sebelum adanya
gejala-gejala, hingga 4 hari setelah bintik-bintik tsb. muncul. Infeksi
jenis ini dapat juga berakibat komplikasi, seperti pneumonia, encephalitis
dan kejang-kejang.

‘Baby measles’ (roseola), disebabkan oleh jenis virus yang berbeda dan
lumrah dialami anak-anak usia 6 hingga 24 bulan (cukup langka terjadi pada
anak di usia sebelum 4 bulan dan setelah usia 4 tahun). Anak-anak yang
menderita roseola dapat mengalami gejala demam yang sangat tinggi tapi yang
mengejutkan, kondisi mereka umumnya baik-baik saja bahkan tetap aktif, walau
tetap ada kemungkinan selera makan mereka jadi merosot. ‘Rash’
(bintik-bintik) tidak akan muncul hingga demam mereda dan hal itu yang
kemudian membuat anak Anda jadi agak rewel.

Cukup sulit mendiagnosa ‘roseola’ sebelum bintik-bintik muncul di tubuh
penderita; salah satu petunjuk lagi yang bisa digunakan adalah adanya
kelenjar yang membengkak di bagian belakang kepala (area tengkuk). Sangat
disayangkan, banyak anak yang diberi resep antibiotik yang tidak perlu hanya
untuk meredakan demam jenis ini. Kemudian, saat bintik-bintik muncul,
terjadi ‘kerancuan’ antara ‘roseola’ atau karena alergi akibat antibiotik.

Anak-anak tidak seharusnya diberi antibiotik jika kita tidak tahu pasti apa
yang sedang kita hadapi dan apa yang kita ingin tangani. Pengecualian
berlaku bagi bayi yang baru lahir (di bawah usia 3-4 bulan), dan hanya
setelah tes penunjang lain telah dilakukan untuk menegakkan diagnosa serta
observasi ketat yang terus dilakukan terhadap perkembangan si kecil.

Roseola bersifat menular, tapi tidak terlalu serius. Saya selalu berpikir
bahwa bagian yang paling serius dari diagnosa penyakit ini adalah gangguan
pada ‘kesehatan mental’ para orang tua: pertama – berhadapan dengan demam
anak yang tinggi, kedua – menangani anak yang begitu ‘rewel’ saat
bintik-bintiknya telah muncul.

Campak

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=ePDT&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-esnj280.htm

Widodo Darmowandowo, Parwati S. Basuki

BATASAN

Campak, measles atau rubeola adalah� penyakit virus akut yang disebabkan oleh virus campak. Penyakit ini sangat infeksius, menular� sejak awal masa prodromal sampai lebih kurang 4 hari setelah munculnya ruam. Infeksi disebarkan lewat udara (airborne).

PATOFISIOLOGI

Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan berbiak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit� menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit. �

GEJALA KLINIK

� Panas meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-5, pada saat ruam keluar

� Coryza yang terjadi sukar dibedakan dengan common cold yang berat. Membaik dengan cepat pada saat pans menurun.

� Conjunctivitis ditandai dengan mata merah pada conjunctiva disertai dengan keradangan disertai dengan keluhan fotofobia.

� Cough merupakan akibat keradangan pada epitel saluran nafas, mencapai puncak pada saat erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu.

� Munculnya Koplik�s spot umumnya pada sekitar 2 hari sebelum munculnya ruam (hari ke ��3-4) dan cepat menghilang setelah beberapa jam atau hari. Koplik�s spot adalah sekumpulan noktah� putih pada daerah epitel bucal yang merah (a grain of salt in the sea of red), yang merupakan tanda klinik yang pathognomonik untuk campak.

� Ruam makulopapular semula bewarna kemerahan. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga, menyebar ke arah perifer sampai pada kaki. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi confluent. Ruam ini membedakan dengan rubella yang ruamnya discrete dan tidak mengalami desquamasi. Telapak tangan dan kaki tidak mengalami desquamasi.

LANGKAH DIAGNOSTIK

Anamnesis

Adanya demam tinggi terus menerus 38,50 C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila kena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare. Pada hari ke 4-5 demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam. Saat ruam timbul, batuk dan diare bertambah parah sehingga anak mengalami sesak nafas atau dehidrasi.

Pemeriksaan fisik

Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga stadium :

� Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik.

� Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas.

� Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

� Sangat penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk mewaspadai timbulnya komplikasi. Gizi buruk merupakan risiko komplikasi berat.

Pemeriksaan penunjang

Laboratorium

� Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri

� Pemeriksaan antibodi IgM anti campak

� Pemeriksaan untuk komplikasi :

1. Ensefalopati/ensefalitis : dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah dan analisis gas darah

2. Enteritis : feses lengkap

3. Bronkopneumonia : dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah.

DIAGNOSIS

Ditegakkan berdasarkan adanya :

* Anamnesis, tanda klinik dan tanda yang patognomonik
* pemeriksaan serologik atau virologik yang positif

DIAGNOSIS BANDING

Ruam kulit eksantema akut yang lain seperti :

� rubela,

� roseola infantum (eksantema subitum),

� infeksi mononukleosus,

� erupsi obat.

KOMPLIKASI

� Campak menjadi berat� pada pasien dengan gizi buruk dan anak yang lebih kecil

� Diare dapat diikuti dehidrasi

� Otitis media

� Laringotrakeobronkitis (croup)

� Bronkopneumonia

� Ensefalitis akut,

� Reaktifasi tuberkulosis

� Malnutrisi pasca serangan campak

� Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), suatu proses degeneratif susunan syaraf pusat dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi tingkah laku dan intelektual, diikuti kejang. Disebabkan oleh infeksi virus yang menetap, timbul beberapa tahun setelah infeksi merupakan salah satu komplikasi campak onset lambat.

PENATALAKSANAAN

� Tatalaksana medik

i. Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari :

1. Pemberian cairan yang cukup

2. Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi

3. Suplemen nutrisi

4. Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder

5. Anti konvulsi apabila terjadi kejang

6. Pemberian vitamin A.

ii. Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39,00 C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit, atau adanya komplikasi.

iii. Campak tanpa komplikasi :

1. Hindari penularan

2. Tirah baring di tempat tidur

3. Vitamin A 100.000 IU, apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari

4. Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi

iv. Campak dengan komplikasi :

1. Ensefalopati/ensefalitis

a. Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan PDT ensefalitis

b. Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan PDT ensefalitis

c. Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit

2. Bronkopneumonia :

a. Antibiotika sesuai dengan PDT pneumonia

b. Oksigen nasal atau dengan masker

c. Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit

3. Enteritis : koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi (lihat Bab enteritis dehidrasi).

4. Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi TB laten. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan.

5. Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang/buruk.

� Tatalaksana Epidemiologik

Langkah Preventif

1. Imunisasi campak termasuk dalam program imunisasi nasional sejak tahun 1982, angka cakupan imunisasi menurun < 80% dalam 3 tahun terakhir sehingga masih dijumpai daerah kantong risiko tinggi transmisi virus campak.

2. Strategi reduksi campak terdiri dari :

a. Pengobatan pasien campak dengan memberikan vitamin A���

b. Imunisasi campak

i. PPI : diberikan pada umur 9 bulan.

ii. Imunisasi campak dapat diberikan bersama vaksin MMR pada umur 12-15 bulan

iii. Mass campaign, bersamaan dengan Pekan Imunisasi nasional

iv. Catch-up immunization, diberikan pada anak sekolah dasar kelas 1-6, disertai dengan keep up dan strengthening.

c. Survailans

DAFTAR PUSTAKA

1. Parwati SB. Campak dalam perspektif perkembangan imunisasi dan diagnosis. Pediatri pencegahan mutakhir I, CE IKA Unair, 2000 : 73-92.

2. Katz SL. Measles in Katz SL, Gershon AA, Hotez PJ (eds). Krugman�s Infectious Diseases of Children, 8th ed, St. Louis, Mosby, 1998 : 247-264.

3. Kristensen I, Aaby P, Jensen H, Routine vaccination and child survival : Follow up study in Guinea-Bissou, West Africa. Br Med J. 2000 ; 321 : 1-8.

4. Joklik WK. Paramyxovirus in Joklik WK, Virology, 3rd ed. London, Prentice-Hall International Inc., 1988 ; hal. 204-219.

5. �Redd SC, Markowitz LE, Katz SL, Measles vaccine in Plotkin and Orenstein (eds), Vaccines, 3rd ed, Philadelphia, WB Saunders, 1999 : 222-266.

6. Toit DR, Ward KN, Brown DWG, Mirev E. Measles and rubella misdiagnosed as exanthema subitum (roseola infantum) Br Med J, 1996 ; 312 : 101-2.

7. WHO. Manual for the laboratory diagnosis of measles virus infection. Geneva, 2000. WHO/V&B/00. 16.

8. Heifand RF, Health JL, Anderson LJ, Gonus D, Bellini WJ. Diagnosis of measles with an IgM-captured EIA : the optimal timing of specimen collection after rash onset. J Infect Dis, 1997 ; 175 : 195-7.

9. Shann F. Meta analysis of trials of prophylactic antibiotics for children with measles : inadequate evidence Br Med J, 1997 ; 314 : 334.

MERAWAT ANAK CAMPAK

sumber : NAKITA

Bila anak tak perlu dirawat di rumah sakit, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua tatkala merawat anak campak, diantaranya:
* Isolasi
Anak campak perlu diisolasi, karena akan mudah menularkan pada yang lain. Terutama bila ada saudaranya yang masih bayi. Apalagi bila dia belum mendapat imunisasi campak. Pisahkan mereka. Atau, untuk sementara, bayi Anda mengungsi dulu ke rumah nenek atau saudara lain.
* Peralatan Khusus
Untuk sementara waktu, selama sakit dan pemulihan, siapkan peralatan khusus untuk si penderita. Misalnya, piring, gelas, sendok, handuk, dan sebagainya. Ini untuk menghindrai penularan lewat kontak tak langsung.
* Pengobatan yang Benar
Beri anak pengobatan yang selayaknya. Tentu saja atas konsultasi dan resep dokter. Sehingga Anda bisa memberikan pengobatan yang tepat.
* Jaga Kebersihan
Kendati dia sedang sakit, apabila sudah tidak panas, Anda tetap perlu memandikannya. Agar si anak tetap merasa segar dan untuk mengurangi rasa gatal yang ditimbulkan.
Dedeh

BILA ANAK TERKENA CAMPAK

sumber : NAKITA

Hati-hati bila anak demam dibarengi munculnya bercak merah di sekitar tubuh. Jangan dianggap enteng, Bu.
Hari itu, di rumah keluarga Ibu Niken terjadi kepanikan. Pasalnya, kulit Nandia (13 bulan) berbercak merah, bahkan seperti menghitam. “Memang, beberapa hari ini dia panas tinggi. Tapi, saya pikir dia demam biasa saja,” ujar Ibu Niken dengan rasa bersalah.
Ternyata, dari pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa Nandia terkena campak. “Hal itu bisa saja terjadi. Memang adakalanya penyakit campak tak terlihat karena campaknya belum keluar,” ujar DR.Sri Rezeki H. Hadinegoro, Dr. Sp.A(K), dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Apa yang dialami Ibu Niken kerap juga dialami ibu-ibu lain. Mari kita mengenal campak lebih jauh, agar tak langsung panik saat menghadapinya.
PNYEBABNYA ADALAH VIRUS
Penyakit campak/measles disebabkan oleh virus Morbili. Pada tahun 60-an, di Amerika campak merupakan penyakit yang mengakibatkan kematian 400 balita setiap tahunnya. Gejala campak memang agak sulit dideteksi secara dini. Karena, gejala campak, seperti batuk, pilek, dan demam, menurut Sri, hampir sama dengan penyakit flu biasa. “Padahal, campak merupakan penyakit infeksi yang berbahaya.” Bahkan, gejala munculnya bercak merah di kulit pun hampir mirip dengan karena keracunan obat atau alergi karena dingin.
Gejala awal penyakit campak ini dimulai dengan adanya batuk-batuk. Lalu, 1-2 hari kemudian timbul demam yang tinggi dan turun naik berkisar antara 38-40 derajat, selama lima hari. Biasanya dibarengi dengan mata merah dan seperti berair.
Pada saat itu pula, biasanya muncul bintik putih seperti Koplik spot di sebelah dalam mulut. Dan ini biasanya akan bertahan 3-4 hari. Kadang-kadang juga disertai dengan munculnya diare. Memasuki hari kelima demamnya akan tinggi sekali. “Pada waktu itulah, bercak merah mulai keluar.”
Bercak merah campak berbeda dengan bercak biang keringat, misalnya. Karena, biang keringat tidak dibarengi dengan demam. Bercak-bercak merah ini muncul secara bertahap dan merambat. Lokasi “khusus” ini biasanya muncul pertama kali di belakang kuping, leher, dada ke bawah, tangan, kaki lalu ke muka.
Jadi, terang Sri, bercak-bercak merah ini tak sekaligus muncul ke seluruh tubuh. Perlu waktu, biasanya seminggu barulah memenuhi seluruh tubuh. Tetapi, jika daya tahan tubuh anak cukup bagus bercak merahnya tak terlalu menyebar atau tak terlalu penuh. Umumnya jika bercak merah ini sudah keluar, demamnya akan turun dengan sendirinya. Usai itu, kulit kemudian menjadi hitam bersisik, kira-kira selama 2 minggu. Timbul warna kehitaman itu merupakan periode penyembuhan. Lama-lama tanda hitam itu akan rontok, hilang atau sembuh dengan sendirinya.
Yang jelas, bercak-bercak merah ini menimbulkan gatal luar biasa. Yang dikhawatirkan, kata Sri, timbul infeksi karena anak menggaruk dengan tangan yang tidak bersih. Infeksi ini muncul seperti bisul-bisul kecil bernanah. Ditambah lagi kebiasaan yang tidak benar dari para ibu ini, yang tidak memandikan anak yang sedang terkena campak. “Padahal anak yang campak, bila panasnya sudah turun tetap harus dimandikan,” tandas Sri. Minimal, dilap handuk basah untuk membersihkan keringatnya. Dan, usahakan untuk menggunakan sabun bayi yang tak terlalu merangsang kulit atau yang tak terlalu keras. Gosoklah seluruh bagian tubuhnya seperti biasa, asal tidak terlalu keras. Justru, bila anak tak dimandikan, anak akan berkeringat dan tentu rasanya lebih gatal lagi. “Dengan mandi anak akan merasa nyaman. Nah, untuk mengurangi rasa gatalnya, sehabis mandi bisa dibedaki dengan salycyl talc,” papar Sri.
KOMPLIKASI
“Yang terang, disebut campak apabila demam itu berlanjut dengan timbulnya bercak-bercak merah. Kita sering salah kaprah, bila anak demam tinggi dan tidak mengeluarkan bercak-bercak merah, menandakan bahwa campaknya tidak keluar. “Tanpa bercak merah, kendati demamnya tinggi, namanya bukan campak.”
Anak yang terkena campak ini tergolong sakit berat. Paling tidak menghabiskan waktu sakit selama tiga minggu. Dan campak ini juga dikategorikan atas ringan dan berat. Disebut ringan, kata Sri, apabila setelah keluar campak, demamnya akan turun. “Sedangkan campak yang berat bila sampai ada komplikasinya. Komplikasi itu bisa terjadi disepanjang berlangsung penyakitnya,” jelas Sri. Komplikasi terberat bisa sampai menimbulkan kematian. Radang paru (pneumonia) merupakan komplikasi yang paling sering mengakibatkan kematian pada anak.
Komplikasi ini bisa terjadi karena virus Morbilli bisa menyebar melalui aliran darah ke mana-mana. Selain ke kulit, ke selaput lendir hidung, mulut, pencernaan. Bahkan bila virus itu masuk ke daerah otak bisa menimbulkan kejang-kejang, kesadaran menurun/ensefalopati.
Bila ke daerah pencernaan bisa menimbulkan diare atau muntah-muntah sehingga anak kekurangan cairan atau dehidrasi. Selain itu karena ada sariawan juga membuatnya perih dan tak mau makan. “Umumnya campak yang berat ini terjadi pada anak yang gizinya buruk,” ujar Sri.
Perlu diketahui, campak ditularkan lewat udara yang terhisap melalui hidung atau mulut. Karena penularannya terjadi langsung, penyakit campak menular begitu cepat. Penularan sudah berlangsung 1-2 hari sebelum keluarnya bercak-bercak merah. Karena itu, anak yang campak harus diisolasi agar tidak menularkan pada anak yang lain. Ia pun perlu mendapat istirahat yang cukup. Kemudian, makan bergizi.
PENANGANAN CAMPAK
Anak yang diduga terkena campak harus dipastikan dulu apakah betul-betul campak atau bukan. Bila diagnosis sudah ditegakkan, dan tak ada komplikasi, anak cukup dirawat di rumah. “Tetapi, bila sampai terjadi komplikasi harus dirawat di rumah sakit.”
Yang terang, bila campak tak diobati akan berbahaya karena dampaknya yang bisa bermacam-macam tadi. Anak pun akan rewel, sulit minum, tak bisa tidur, bisa kejang, kekurangan cairan, sesak nafas dan sebagainya. “Jadi jangan punya anggapan bahwa campak didiamkanpun tak apa-apa. Karena ini termasuk penyakit berat,” tandas Sri.
Dan, pengobatan campak dilakukan untuk mengobati gejalanya. Hal ini disebabkan karena penyebab campak adalah virus. “Jadi, bukan mematikan virusnya. Karena begitu gejala penyakitnya timbul virusnya sendiri sudah tak ada,” jelas Sri. Jadi, anak akan diberi obat penurun panas untuk demam, obat sariawan untuk sariawan (bila ada), dan obat diare untuk mengatasi diarenya. Dan obat batuk untuk mengobati batuknya. Lalu disiapkan pula obat anti kejang bila anak punya bakat kejang.
Sebaiknya anak berpantang makanan yang merangsang batuk, seperti goreng-gorengan, permen dan coklat. Selain itu, berilah anak makanan yang mudah dicerna.
Umumnya bila anak terkena campak akan rentan sehingga mudah sekali terkena penyakit lain. Misalnya bila di sekitarnya ada yang flu, radang tenggorokan atau bahkan TBC, maka diapun bisa terkena. Biasanya masa rentan ini berlangsung sebulan setelah sembuh.
IMUNISASI
Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya timbulnya campak pada anak?
Untuk diketahui, semua penyakit virus itu bersifat endemis. Artinya penyakit itu tidak mengenal musim, karena bisa muncul sepanjang tahun. Karena itu, pencegahan dilakukan hanya dengan imunisasi campak. “Imunisasi pertama dilakukan pada usia antara 6-9 bulan. Lalu diulang pada usia 5-6 tahun atau ketika sekolah TK atau SD kelas satu.”
Vaksin campak ini tergolong ringan sekali, tak ada efeknya. Cuma biasanya setelah satu minggu, badan agak hangat dan adakalanya diare. “Tapi, vaksin ini lebih ringan daripada vaksin DPT.”
Karena umumnya campak banyak menyerang anak usia balita, itulah mengapa imunisasi diberikan di bawah usia setahun. Karena itu bila dalam satu keluarga, misalnya kakaknya yang usia TK terkena campak, lalu ada adiknya yang masih bayi, orang tua harus ekstra hati-hati. “Jika adiknya belum diimunisasi akan berbahaya sekali. Sebaiknya kakak atau adiknya dipisahkan dari rumah, misalnya dititipkan atau tinggal sementara di rumah nenek atau saudara lainnya,” saran Sri.
Kemudian, lakukan pemantauan terhadap si adik selama kurang lebih tiga minggu, apakah tertular atau tidak. Bila adiknya tak terkena dalam waktu itu, segera berikan imunisasi. “Tapi, bila yang terjadi dalam waktu 3 minggu itu adiknya terkena campak, tak perlu diimunisasi tapi harus diobati.” Hal ini disebabkan, lanjut Sri, vaksin imunisasi merupakan virus yang hidup tapi dilemahkan. Jadi, kalau sudah tertular virus dalam badannya maka jangan diberikan lagi.
Anak yang sudah mendapatkan imunisasi diharapkan tak terkena campak. Karena sudah ada imunnya. Kalau toh terkena tak akan sampai berat. Perlu diingat, “Seorang anak akan terkena campak sekali seumur hidup. Kalau dikatakan sampai 2-3 kali terkena campak, itu salah, berarti diagnosisnya tak betul,” kata Sri.
Dan bila masa kecilnya tak terkena campak bisa saja terkena di usia setelah besar. Kecuali bila daya tahan tubuhnya kuat, ada kemungkinan tidak terkena.
Nah, sudah lebih jelas kan, Bu, Pak. Jadi, tidak panik lagi, ya.
Dedeh kurniasih . Foto : Iman Dharma (nakita)

CAMPAK

sumber : http://cpddokter.com/home/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=55

Campak adalah penyakit yang sangat menular yang dapat disebabkan oleh sebuah virus yang bernama Virus Campak. Penularan melalui udara ataupun kontak langsung dengan penderita.Gejala-gejalanya adalah : Demam, batuk, pilek dan bercak-bercak merah pada permukaan kulit 3 – 5 hari setelah anak menderita demam. Bercak mula-mula timbul dipipi bawah telinga yang kemudian menjalar ke muka, tubuh dan anggota tubuh lainnya.
Komplikasi dari penyakit Campak ini adalah radang Paru-paru, infeksi pada telinga, radang pada saraf, radang pada sendi dan radang pada otak yang
Baca lebih lanjut