K o n s t i p a s i ( Sembelit )

Batasan:

* Perasaan nyeri waktu Buang Air Besar (BAB)
* Tidak dapat BAB
* Jarang BAB, 4 hari tidak BAB sudah disebut sembelit

Penyebab:

* Sering karena :
1. Makanan yang kurang mengandung serat
2. Terlalu banyak minum susu

* Menahan keinginan BAB, bila anak nyeri waktu BAB, sering menahan-nahan sehingga faeces lebih keras, bahkan menyebabkan robekan anus (fissura ani)

Perawatan di rumah

1. Untuk bayi/anak umur kurang dari 1 tahun.
� Bila lebih dari 2 bulan berikan jus buah 2 kali sehari.
� Susu diganti dengan formula kedele.
� Bila bayi lebih dari 4 bulan berikan bubur yang mengandung banyak serat misalnya sereal, kacang-kacangan, bayam 2 kali sehari.

2. Anak umur lebih dari 1 tahun.

* Berikan buah atau sayuran paling sedikit 3 kali sehari.
* Makanan berserat seperti sereal, corn flakes, oatmeal, beras merah. Popcorn adalah merupakan camilan yang tinggi serat baik untuk anak diatas 1 tahun.
* Kurangi makanan yang menyebabkan konstipasi seperti susu, es krim, yoghurt dan wortel masak.
* Berikan minum air yang banyak.

3. Latihan menggunakan toilet.
4. Pelunak faeces (stool softener)

Bila pemberian diet tidak berhasil, berikan stool softener setiap malam selama 1 minggu contoh : metamacil, minyak mentol �-1 sendok makan.

5. Jangan sembarangan memakai suppositoria atau enema tanya nasehat dokter.

Imunisasi

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-0l1g6a-tips.htm

Apa yang seharusnya diketahui oleh setiap keluarga dan masyarakat mengenai imunisasi? Tanpa imunisasi, kira-kira 3 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit campak, 2 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan, 1 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit tetanus, dan dari setiap 200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakir-penyakit tertentu. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap.

Bilamana fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat memberikan imunisasi dengan pertimbangan tertentu, orang tua dapat menghubungi seseorang Dokter (Dokter Spesialis Anak) untuk mendapatkannya.

Tujuan Imunisasi:

Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.

Manfaat Imunisasi:

* Untuk Anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian.
* Untuk Keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
* Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.

Perlukah Imunisasi ulang?

Imunisasi perlu diulang untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit.

Dimana mendapatkan imunisasi?

* Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)-Di Puskesmas, Rumah Sakit Bersalin, BKIA atau Rumah Sakit Pemerintah.
* Di Praktek Dokter/Bidan atau Rumah Sakit Swasta.

Apakah imunisasi Difteri, Pertusis (Batuk rejan), Tetanus (DPT) dapat diberikan bersama-sama imunisasi polio?

Imunisasi DPTdan polio dapat diberikan bersamaan waktunya.

Efek samping Imunisasi:

Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yang membuktikan bahwa vaksin betuk-betul bekerja secara tepat.

Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut:

BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2�3 minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah �10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.

DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, kemerahan atau bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus, akan sembuh sendiri.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.

POLIO: Jarang timbuk efek samping.

CAMPAK: Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4�10 hari sesudah penyuntikan.

HEPATITIS: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.

TETANUS TOXOID: Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada.

Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.

Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian imunisasi Hepatitis?

Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.

Untuk apakah imunisasi ini?

Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.

Apakah imunisasi dasar dan berapa kali diberikan?

* Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapat kekebalan awal secara aktif
* Kekebalan Imunisasi dasar perlu diulang pada DPT, Polio, Hepatitis agar dapat mdlindungi dari paparan penyakit.
* Pemberian Imunisasi dasar pada Campak, BCG, tidak perlu diulang karena kekebalan yang diperoleh dapat melindungi dari paparan bibit penyakit dalam waktu cukup lama.

Vaksinasi MMR Tidak Berkaitan Dengan Timbulnya Autisme

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-8yfsl0-tips.htm

Apakah autisme itu?

Autisme adalah istilah yang digunakan untuk sekumpulan gangguan perkembangan secara neurologik dimana individu yang mengalaminya akan mengalami gangguan pada kemampuan interaksi sosialnya dan keterampilan komunikasinya, serta kecenderungan untuk mengulangi suatu perilaku tertentu. Terdapat berbagai macam bentuk autisme, dari seseorang yang dapat berperilaku baik pada berbagai keadaan, sampai seseorang yang mengalami gangguan bicara dan keterampilan harian sederhana. Autisme biasanya didiagnosa pada usia balita atau usia prasekolah, walaupun ada juga yang didiagnosa pada usia yang lebih tua. Menurut laporan, sekitar 20% anak yang mengalami autisme mengalami sesuatu yang disebut sebagai �regresi�, yaitu mereka tampaknya mengalami suatu perkembangan normal tetapi kemudian kehilangan keterampilan komunikasi dan sosial. Anak laki-laki mempunyai resiko tiga sampai empat kali lipat untuk mengalami autisme dari pada anak perempuan. Autisme dapat terjadi pada semua kelompok ras, etnik, dan sosial manapun. Berbagai macam faktor yang diduga berhubungan dengan autisme antara lain faktor infeksi, metabolisme, genetik, neurologik, dan lingkungan.

Faktor genetik dan kelainan otak pada saat lahir dianggap sebagai penyebab utama autisme.

Apakah vaksin measles-mumps-rubella (MMR) / campak-gondong-rubella dapat menyebabkan autisme?

Menurut bukti-bukti ilmiah yang ada saat ini tidak ada satupun hipotesis yang mendukung pernyataan bahwa vaksin MMR, atau kombinasinya, dapat menyebabkan terjadinya autisme maupun bentuk autisme regresif. Pertanyaan-pertanyaan akan adanya kemungkinan kaitan antara vaksin MMR dan autisme telah diteliti secara luas oleh National Academy of Sciences, Institute of Medicine, Amerika. Penelitian ini menyimpulkan berdasarkan bukti-bukti epidemiologi yang ada saat ini bahwa tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Apa saja yang telah dapat disimpulkan melalui penelitian tersebut?

Penelitian epidemiologi telah menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara vaksinasi MMR pada anak dengan terjadinya autisme.

Apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa ada kemungkinan kaitan antara autisme dan vaksin MMR?

Beberapa penelitian yang menyatakan ada kemungkinan hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme sebenarnya memiliki kekurangan dan kelemahan signifikan dan tidak dapat dibuktikan dengan nyata. Penelitian-penelitian semacam ini telah gagal dalam menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan autisme.

Penelitian tersebut meneliti dengan menggunakan jumlah kasus yang terlalu sedikit yang diperlukan untuk dapat menyimpulkan sesuatu secara umum. Selain itu, kasus yang diteliti bukan merupakan sampel yang representatif dan tidak menggunakan kelompok kontrol sebagai perbandingan.

Apakah vaksinasi MMR yang diberikan secara terpisah berdasarkan komponen individualnya, dengan kata lain menyuntik anak tiga kali secara terpisah, akan lebih aman dari pada satu suntikan kombinasi?

Tidak ada penelitian ilmiah atau data yang menunjukkan bahwa ada manfaat dalam pemberian vaksinasi MMR secara terpisah menurut komponen individualnya. Komite Institute of Medicine, Amerika yang menganalisa keamanan imunisasi telah menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung pernyataan bahwa sistem kekebalan bayi belum mampu menghadapi sejumlah antigen yang disuntikkan saat imunisasi rutin. Memisahkan vaksinasi MMR menjadi tiga dosis terpisah yang diberikan sebanyak tiga kali akan menambah ketidaknyamanan.

Apakah adik dari seorang anak autistik, atau anak dari seorang autistik dapat diberi vaksinasi MMR?

Ya. Bukti-bukti ilmiah saat ini tidak menunjukkan bahwa vaksin MMR, atau kombinasi apapu vaksin tersebut, dapat menyebabkan terjadinya autisme, termasuk bentuk autisme regresif.

Apakah vaksinasi sebaiknya ditunda sampai akibat negatif dari vaksin ini diketahui?

Tidak. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa vaksin yang diberikan pada imunisasi dapat menyebabkan akibat jangka panjang. Sebaliknya, seseorang dapat jatuh sakit dan meninggal dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini. (cfs/cdc.gov)

Cedera Kepala Pada Anak

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-tx8els-tips.htm

Cedera kepala merupakan penyebab kematian utama pada anak diatas usia 1 tahun di Amerika Serikat. Cedera kepala atau yang biasa juga disebut trauma kepala mempunyai berbagai dampak antara lain dampak emosi, dampak psikososial dan dampak ekonomi baik bagi anak maupun bagi keluarganya akibat dari lamanya masa perawatan di rumah sakit dan perlunya perawatan jangka panjang pasca trauma.

Otak anak yang lebih lunak dari pada otak orang dewasa menjadikannya lebih mudah mengalami cedera bila terjadi perubahan kecepatan mendadak (trauma).

Trauma kepala selain dapat menyebabkan kematian, juga dapat menyebabkan akibat buruk lain yaitu kecacatan permanen.

10-20% anak yang mengalami cedera kepala berat akan mengalami masalah dengan ingatan jangka pendeknya dan menunjukkan respons yang lebih lambat, terutama jika mengalami koma sekurangnya 3 minggu. Selain itu, lebih dari setengahnya akan mengalami gangguan saraf.

Berbagai macam bentuk trauma kepala secara primer adalah:

1. Trauma pada kulit kepala

Umunya berupa perdarahan karena robeknya kulit kepala.

2. Patah tulang kepala
3. Hilangnya kesadaran sementara

Dapat disertai kejang, muntah, dan gangguan ingatan.

4. Kerusakan jaringan otak
5. Timbunan darah dibawah tulang kepala

Karena robeknya pembuluh darah

6. Adanya benda asing di dalam kepala
7. Perdarahan di dalam kepala
8. Kerusakan sel-sel otak menyeluruh

Anak yang mengalami trauma kepala juga sering disertai dengan trauma fisik lainnya. Karena itu anak tersebut harus segera dibawa ke dokter agar dapat dievaluasi dengan cermat sehingga akibat-akibat buruk seperti yang telah disebutkan di atas dapat ditekan serendah-rendahnya.
Secara umum anak-anak yang kesadarannya baik, bertingkah laku normal dan hasil pemeriksaan sarafnya normal setelah mengalami trauma mungkin perlu diobservasi selama 4 jam, dan jika tidak dijumpai kemunduran tanda-tanda vital seperti jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi darahnya, anak dapat diobservasi di rumah dengan saran oleh dokter untuk tetap mengawasi tanda vital sesuai instruksi dokter. Anak-anak tersebut tetap diberi pembatasan aktivitas yang dilaksanakan selama 72 jam. Dan apabila terdapat kemunduran pada jangka waktu tersebut, orang tua disarankan untuk segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Indikasi masuk Rumah Sakit adalah:

1. Penurunan kesadaran
2. Keadaan kebingungan yang memanjang
3. Muntah-muntah hebat
4. Mekanisme terjadinya trauma yang tidak jelas atau terjadinya trauma tanpa ada orang yang menyaksikan
5. Tanda gangguan saraf terlokalisasi

Misalnya gangguan pernafasan, gangguan bicara, kelumpuhan anggota tubuh

6. Kejang
7. Patah tulang kepala

Perlu diwaspadai pula bila anak keluar darah dari mulut, hidung atau telinganya yang dapat berasal dari dalam tempurung kepalanya.

Pada anak yang pulang dari perawatan di Rumah Sakit terdapat beberapa indikasi yang perlu dikerjakan:

1. Orang tua sebaiknya mengatakan apa adanya yang terjadi pada anak setelah pulang dari RS
2. Menerangkan pada orang tua dan anak bahwa mungkin masih dijumpai keluhan nyeri kepala dan muntah, diharapkan orang tua mendampingi tidur anak dan mengadakan pengawasan secara berkala kesadaran anak
3. Mengadakan konsultasi secara berkala dengan anak jika anak dalam keadaan baik

(cfs/disederhanakan dari kuliah PKB IKA ke 33)

Asma? Apakah anak saya mengidap asma?

SUMBER : http://www.pediatrik.com/

Anda mungkin mendengar anak anda mengeluarkan suara seperti siulan saat ia menghembuskan nafasnya. Atau mungkin anak anda terlihat cepat lelah bila ia berolah raga. Mungkin ia mengalami batuk terus menerus. Anda mungkin bertanya-tanya � apakah ia mengidap asma? Asma adalah suatu istilah yang sering anda dengar tetapi mungkin anda kurang mengerti apa sebenarnya asma itu.
Asma merupakan gangguan menahun yang paling sering dikeluhkan pada anak dan remaja, yang menyerang sekitar lima juta anak berusia dibawah 18 tahun, termasuk diantaranya 1,3 juta anak berusia dibawah lima tahun. Lima puluh sampai 80 persen anak yang mengidap asma menunjukkan gejala-gejalanya sebelum usia lima tahun.
Asma merupakan penyakit yang serius karena asma mempengaruhi kemampuan pernafasan seseorang dan jumlah oksigen yang berada dalam darah. Dengan disgnosa yang tepat, perawatan yang terencana, dan bimbingan dari orang tua, anak pengidap asma dapat menjalani kegiatan mereka sehari-hari sama seperti anak lain yang tidak mengidap asma. Pendidikan dan komitmen merupakan kunci penting dalam menghadapi asma.

Apakah asma itu?
Asma adalah gangguan keradangan menahun saluran pernafasan. Artinya, tabung yang dilalui udara untuk mecapai paru-paru sering membengkak dan meradang. Pembengkakan ini menyebabkan udara sulit keluar masuk dengan bebas. Saluran pernafasan tersebut juga sensitif terhadap pemicu tertentu, dimana pemicu ini bervariasi dari satu orang ke orang lain. Banyak anak pengidap asma mengalami apa yang disebut asma alergi, artinya bahan alergen tertentu dapat memperburuk asma. Bagi anak-anak ini, paparan terhadap alergen seperti debu, binatang-binatang kecil, jamur, bulu binatang atau kecoak dapat mengiritasi saluran pernafasannya yang sensitif sehingga terjadi penyempitan saluran lebih lanjut, produksi cairan lendir yang berlebihan dan kontraksi otot sekitar saluran pernafasan.

Apakah anak saya mengidap asma?
Asma merupakan penyakit yang dapat menyerupai penyakit pernafasan lain sehingga cukup sulit untuk diketahui. Selain itu beberapa anak dapat mengalami suatu masa bebas gejala selama waktu yang cukup lama kemudian mengalami serangan asma berulang.
Gejala-gejala yang perlu dikonsultasikan ke dokter bila anda mencurigai anak anda mengidap asma antara lain:
� Batuk. Dapat terus menerus atau berulang. Tidak semua anak yang mengidap asma menunjukkan gejala ini setiap saat.
� Suara seperti siulan (wheezing/mengi) yang terdengar saat anak menghembuskan nafas.
� Nafas yang pendek atau cepat. Ini dapat terjadi baik setelah olah raga atau tidak berkaitan dengan olah raga.
� Rasa sesak di dada.
Gejala-gejala lain termasuk:
� Rasa lelah � anak dapat menjadi kurang tangkas, berhenti bermain atau menjadi mudah rewel.
� Anak yang lebih kecil mungki menyatakan dadanya sakit atau terasa tidak enak.
� Bayi mungkin mengalami kesulitan makan.
� Anak yang lebih tua mungkin menghindari aktivitas fisik berat seperti oalh raga.
� Anak mungkin mengalami gangguan tidur karena batuk malam hari atau kesulitan bernafas.

Siapa saja yang dapat mengidap asma?
Tidak ada petanda yang jelas untuk meramal apakah seseorang akan mengidap asama atau tidak, tetapi ada beberapa penelitian yang menunjukkan beberapa faktor yang berkaitan dengan mula terjadinya asma pada anak antara lain:
� Bayi atau anak kecil yang mengeluarkan suara seperti siulan bila mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas yang disebabkan oleh virus.
� Alergi. Hubungan antara asma dan alergi sangat erat. Jika anak anda mempunyai alergi tertentu, waspadalah terhadap kemungkinan anak anda mengidap asma.
� Riwayat keluarga terhadap asma dan/atau alergi.
� Paparan terhadap asap rokok dan alergen saat di dalam kandungan.

Tidak ada dua orang yang memiliki gejala atau hasil akhir asma yang sama persis. Asma merupakan penyakit yang sangat pribadi yang tidak terjadi dalam bentuk yang sama pada setiap orang. Ingatlah bahwa anda harus selalu memperhatikan anak anda dan mendengarkan keluhan0keluhannya yang mungkin berkaitan dengan asma. Jika anda curiga anak anda mengidap asma, bawa anak anda ke dokter untuk diperiksa dan diuji. Tindakan yang tepat dapat memberi hasil yang memuaskan. (cfs/aaaai.org)

Mengapa Anak Mengompol Dan Bagaimana Menghadapinya.

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-noalwv-tips.htm

Mengapa Anak Mengompol Dan Bagaimana Menghadapinya.
Setiap malam di seluruh Amerika, 5 sampai 7 juta anak tidur, dan mengompol. Istilah medik dari mengompol adalah enuresis, yaitu mengeluarakan air seni secara tidak sadar pada usia dimana seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak dan remaja. Bagi anak, mengompol sering merupakan hal yang sangat memalukan. Sedangkan bagi orang tua, hal ini dapat merupakan pengalaman yang menjengkelkan. Mereka bertanya-tanya apakah mengompol dilakukan dengan sengaja karena kemalasan anak mereka.

Siapa saja yang mengalaminya?
Enuresis terjadi pada 20% anak berusia 5 sampai 6 tahun dan sekitar 1% remaja. Sebagian besar anak yang mengalami enuresis dinyatakan normal secara fisik dan emosional. Walaupun beberapa dari mereka memang ada yang memiliki kandung kemih yang kecil, tetapi hal ini seharusnya tidak menghalangi mereka untuk tidak mengompol.
Mengompol pada anak berusia dibawah 6 tahun merupakan hal yang umum sehingga tidak memerlukan program perawatan khusus.
Enuresis sering merupakan turunan dalam keluarga, sekitar 85% anak yang mengalami enuresis memiliki kerabat yang juga mengalami enuresis, dan sekitar setengah dari mereka memiliki orang tua atau saudara yang juga mengalami enuresis.
Jenis enuresis.
Sebagian besar anak mengalami apa yang disebut enuresis �primer�, yang berarti bahwa mereka mengompol sejak usia balita. Enuresis ini tidak berhubungan dengan bagaimana didikan penggunaan kamar mandi seorang anak. Orang tua tidak perlu merasa bersalah dan merasa telah melakukan seuatu yang salah bila anak mengalami hal seperti ini.
Sedangkan sejumlah kecil anak yang lain mengalami enuresis �sekunder�, yang berarti bahwa mereka telah berhenti mengompol, setidaknya untuk beberapa bulan, tetapi kemudian mengompol lagi. Ada berbagai hal yang dapat berperan dalam enuresis sekunder, antara lain masalah medik, seperti infeksi saluran kemih atau diabetes, dan masalah di lingkungan keluarga yang dapat menyebabkan menyebabkan stres, seperti perceraian orang tua atau masalah di sekolah. Walaupun demikian, alasan spesifik dari mengompol lebih sering tidak diketahui.
Sebagian besar anak mengalami enuresis jenis nokturnal (atau malam hari). Mereka mengompol selama mereka tidur. Kadang-kadang, beberapa anak mengompol pada siang hari saat mereka terjaga (enuresis diurnal). Mereka mungkin memiliki kandung kemih yang tidak stabil, yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih buang air kecil dan yang terlalu sering. Anak-anak ini dapat dirujuk ke dokter anak dan mungkin akan diberi obat selama beberapa waktu yang dapat melemaskan otot kandung kemih.
Sembelit (konstipasi) juga dapat berhubungan dengan enuresis. Umumnya, hanya dengan merubah menu makan sehari-hari sudah dapat menyambuhkan konstipasi ringan, tetapi pada beberapa kasus berat konstipasi memerlukan perawatan khusus sebelum masalah enuresisnya dapat diatasi.
Enuresis primer juga dapat berhubungan dengan kelainan lain seperti attention deficit hyperactivity disorder (AD/HD) dan anemia sel sabit.
Perawatan dan pengobatan
Sampai saat ini belum ada yang tahu persis mengapa seorang anak mengompol, walaupun berbagai alasan telah diajukan. Salah satu alasannya antara lain bahwa ada beberapa anak yang tidur begitu nyenyak dan sulit bangun dibandingkan dengan anak lain yang terbangun bila merasa kandung kemihnya penuh.
Ada anak yang tidak mengompol bila tidur di rumah teman atau kerabatnya, tetapi selalu mengompol bila tidur di tempat tidurnya sendiri. Mungkin, bila tidur di tempat asing yang jauh dari rumah menyebabkan mereka tidak tidur senyenyak biasanya. Hal ini sangat menjengkelkan bagi anak dan orang tuanya. Tetapi, hal ini juga merupakan pertanda bagus bahwa anak dapat disembuhkan. Anak-anak ini, mungkin, baik secara sadar maupun tidak, berusaha untuk tidak mengompol bila mereka tidak di rumah sendiri. Pelatihan mental semacam ini mungkin dapat membantu.
�Sebagian besar orang tua telah mencoba untuk membangunkan anak mereka pada malam hari untuk buang air kecil, tetapi anak mereka masih tetap mengompol� demikian penjelasan Sandra Hassink, MD, seorang dokter anak yang menjalankan klinik enuresis. �Beberapa orang tua juga mencoba membatasi jumlah cairan yang diminum oleh anaknya, dan tetap saja anak mereka masih mengompol, selain itu si anak juga merasa haus. Kami tidak menggunakan teknik-teknik semacam ini. Kami ingin anak untuk tidur pada malam hari dan terbangun sendiri bila mereka merasa ingin buang air kecil. Kami juga berusaha menghindarkan anak dari kafein�.
Menurut Dr. Hassink, sebagian besar masalah enuresis dapat sembuh sendiri. Enuresis bukan merupakan kesalahan anak atau orang tua. �Keberhasilan dalam perawatan enuresis tergantung pada dorongan yang diberikan kepada seorang anak. Kami menekankan kepada anak-anak� bahwa tidak ada orang yang sengaja mengompol karena mengompol merupakan hal yang memalukan dan tidak nyaman. Hukuman sebaiknya tidak diberikan bila anak mengompol karena dapat membuat masalah menjadi tambah buruk. Keberhasilan dalam mengatasi masalah mengompol ini sangat tergantung pada dukungan keluarga yang bersifat positif�.
Sebagian besar anak mengompol sebanyak 7 kali dalam semalam, demikian menurut Dr. Hassink, dan sebagian kecil mengompol berulang kali dalam semalam. �Anak-anak ini dapat berhenti mengompol� tegasnya. �Dapat dimengerti bahwa anak yang mengompol mengira hanya dia saja yang masih mengompol diantara teman-temannya�. Karena itu, memberitahu si anak bahwa ada keluarganya yang dapat menghentikan kebiasaan mengompolnya akan sangat membantu untuk mengerti bahwa kebiasaan mengompolnya tersebut dapat dihentikan.
Orang tua sebaiknya juga membicarakan hal ini dengan dokter anak. Riwayat yang diambil, pemeriksaan fisik, dan analisa kencing merupakan langkah pertama yang penting. Tetapi hasil yang diperoleh biasanya tidak menunjukkan adanya kelainan.
Sejalan dengan pertumbuhan anak, terjadi penurunan dalam jumlah anak yang mengalami enuresis nokturnal. Pada akhirnya, anak yang mengompol akan menghentikan kebiasaannya tersebut. Tujuan dari suatu program perawatan adalah untuk menghentikan kebiasaan ini lebih cepat. Keberhasilan dapat diperoleh paling tidak dalam 1 sampai 2 bulan setelah dimulainya perawatan.
Ada berbagai macam pendekatan, baik medik maupun perilaku, untuk mengatasi masalah ini. Dr. Hassink mengatakan, �kami lebih menekankan pada perubahan perilaku, bukan penggunaan obat-obatan. Beberapa program ada yang menggunakan obat-obatan. Tetapi sebagian besar pasien kami telah mencoba dan gagal. Tingkat keberhasilan yang menggunakan obat-obatan ini hanya setengah dari tingkat keberhasilan yang menggunakan metode perilaku. Lagipula, obat-obatan yang digunakan kadang-kadang harganya mahal�.
Dr. Hassink menyarankan agar anak yang mengompol juga harus ikut bertanggung jawab dalam membersihkan alas tidur yang basah. Tapi ia juga menekankan bahwa hal ini jangan dianggap sebagai hukuman. Menurutnya justru anak akan merasa lebih baik dengan membantu membersihkan. �Kami menyarankan agar anak dilatih untuk dapat mengendalikan keinginan buang air kecilnya. Selain itu, buku bergambar yang berisi tentang masalah mengompol yang dibaca tiap malam dapat membantu mendorong mereka untuk tidak mengompol�.
Jam dengan alarm merupakan hal yang penting dalam program yang dijalankan Dr. Hassink. Seperempat dari pasiennya telah mencoba menggunakan metode jam ini tetapi gagal. Tapi saat mereka mencobanya bersama-sama dengan metode lain tingkat keberhasilannya meningkat. Hal penting yang harus diingat bahwa teknik-teknik manapun yang digunakan membutuhkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sebelum menunjukkan hasil. Karena itu setiap orang, baik anak maupun orang tua, harus bersabar. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menyerah setelah dalam 1 sampai 2 minggu suatu program belum menunjukkan hasilnya.
Ingat bahwa orang tua harus selalu bersikap mendukung terhadap anak yang mengompol. Hampir sebagian besar kasus� seperti ini akan memperoleh hasil yang baik pada akhirnya. (cfs/kidshealth.org)

Melatih Anak Untuk Bersikap Sportif

sumber : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-sqhoey-tips.htm
Apakah Sikap Sportif Itu?

Olahraga, terutama olahraga tim atau kelompok, sangat berguna dalam melatih anak untuk bersikap sportif.

Sikap sportif pada anak dapat dilihat antara lain pada sikapnya yang menghargai dan menghormati yang ditujukan kepada teman satu timnya, lawannya, dan pelatihnya. Mereka belajar mengenai sikap sportif ini dari orang-orang dewasa yang berada di sekitar mereka. Anak-anak yang sering berada pada lingkungan dimana orang dewasa di sekitarnya selalu bersikap sportif akan mengerti secara bertahap bahwa pemenang sesungguhnya dalam suatu olah raga adalah mereka yang tahu untuk selalu bersikap baik dan tetap merasa percaya diri, baik bila mereka menang maupun bila mereka kalah.

Orang tua dapat membantu anak mereka untuk mengerti tentang sikap sportif melalui berbagai cara, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa tubuh. Hal ini dapat dimulai dengan sesuatu yang sederhana seperti membiasakan anak untuk bersalaman dengan lawan sebelum dimulainya pertandingan. Selain itu dapat juga dengan mengakui bila lawan bermain bagus dan menerima kekalahan dengan rasa besar hati. Menunjukkan sikap sportif tidak selalu mudah, memberi ucapan selamat kepada lawan yang menang setelah kalah dalam suatu pertandingan dapat terasa sangat berat bagi anak. Tetapi anak yang dapat berbesar hati dan melakukan hal tersebut akan memetik hasilnya bila mereka dewasa nanti.

Anak yang suka mengejek lawan selama pertandingan cenderung untuk melakukan hal yang sama walaupun mereka berada pada keadaan lain, seperti di dalam kelas. Sebaliknya, anak yang suka bersikap sportif akan selalu bersikap sportif dalam semua aspek kehidupannya.

Pemenangnya Adalah Anak Yang Bersikap Sportif

Pada suatu pertandingan yang dianggap berarti oleh seorang anak, mereka akan sangat terfokus pada kemenangan. Mereka akan melupakan tujuan utama dari suatu pertandingan yaitu untuk bersenang-senang. Tanpa adanya orang tua yang selalu mengingatkan dan memberi contoh baik, mereka juga dapat melupakan sikap yang baik sebelum, selama, dan setelah pertandingan.

Bila seorang anak mempunyai orang tua yang hanya peduli pada kemenangan, maka ia akan menangkap pesan-pesan tersirat bahwa ia boleh melakukan apapun selama pertandingan asalkan mereka menang. Jika orang tua selalu menekan anak untuk selalu bermain lebih baik, atau menyangsikan permainan anak selama bertanding, maka anak akan menangkap pesan tersirat bahwa mereka hanya akan diperhatikan bila mereka menang sehingga anak tersebut akan melakukan segala cara untuk meraih kemenangan.

Orang tua yang menekankan kepada anak untuk selalu bersikap sportif, akan menganggap bahwa kemenangan hanya satu dari beberapa tujuan yang diinginkan untuk anak. Tujuan lain yang juga diinginkan orang tua seperti ini yaitu peningkatan keterampilan anak mereka.

Orang tua yang baik adalah orang tua yang selalu mendorong anak untuk selalu bermain sportif, bersenang-senang selama pertandingan, dan berkonsentrasi pada kerja sama tim serta meningkatkan keterampilan bertanding mereka.

Bantulah Anak Untuk Selalu Bersikap Sportif

Ingatlah selalu prinsip berikut, bahwa sikap lebih berhasil dari pada kata-kata. Hal ini terutama penting dalam mengajarkan anak anda untuk bersikap sportif. Sikap anda selama latihan atau pertandingan anak akan lebih mempengaruhi mereka dari pada segala nasihat yang anda berikan.

Berikut ini adalah beberapa saran untuk membantu anak agar selau bersikap sportif:

* Ingatlah bahwa anda adalah orang tua bukan pelatih. Tunjukkan dorongan, bukan arahan seperti pelatih dari bangku penonton.
* Jangan terlalu keras kepada anak. Jangan bandingkan dia dengan teman satu timnya atau dengan lawan.
* Ucapkan komentar-komentar positif. Jangan berkata tidak sopan kepada pelatih, pemain, atau lawan.
* Berikan tepuk tangan baik bila anak anda yang bermain bagus maupun bila lawan yang bermain bagus.
* Berikan contoh baik dengan sikap anda yang sopan kepada orang tua tim lawan. Ucapkan selamat kepada orang tua tim lawan jika mereka menang.
* Ingatlah bahwa yang bermain adalah anak anda, bukan anda. Jangan paksakan anak untuk berolah raga tertentu karena anda menyukai olah raga tersebut. Biarkan anak anda memilih sendiri olah raga apa yang ingin ia lakukan.

* Ingatlah bahwa ini hanya sebuah permainan. Walaupun bila anak anda kalah, hal ini tidak akan menghancurkan hidup anak anda.
* Tunjukkan kepada anak anda sikap sportif yang dilakukan atlet profesional. Tunjukkan pula bila ada sikap tidak sportif, dan jelaskan bagaimana hal seperti itu dapat mengganggu permainan.
* Terakhir, jangan lupa untuk bersenang-senang. Bahkan bila anak anda bukanlah bintang pertandingan, nikmati saja pertandingan.

(cfs/kidshealth.org)