Batuk Rejan

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/?p=63

Batuk rejan adalah infeksi saluran napas (infeksi pada paru-paru) yang menyebabkan serangan batuk yang bertubi-tubi. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri yang disebut Bordetella pertussis. Pertussis adalah nama lain dari batuk rejan.
Batuk rejan mudah sekali ditularkan. Bakteri tersebar melalui sebutir cairan ludah yang keluar saat batuk atau bersin. Bakteri ini juga dapat menyebar dari tangan ke hidung bila tangan telah bersentuhan dengan bakteri tersebut. Contohnya, bila anak anda telah terinfeksi dan anda mengusap hidung mereka dengan tisu lalu anda mengusap hidung anak lain, anda telah menyebarkan infeksi bakteri tersebut melalui tangan anda.
70-100% dari orang yang tinggal di rumah yang sama dengan dengan penderita batuk rejan biasanya akan terinfeksi.
Penyakit ini terutama sangat serius bila terjadi pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. Bayi-bayi pengidap batuk rejan biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Anak-anak dan orang dewasa juga dapat menderita penyakit ini. Biasanya anak-anak dan orang dewasa yang terkena batuk rejan tidak akan kelihatan sakit parah, tapi mereka bisa menderita batuk selama berminggu-minggu.
Ada imunisasi untuk mencegah terjadinya batuk rejan. Anak-anak yang telah diimunisasi tetap dapat tertular batuk rejan tapi biasanya tidak berdampak serius.

Gejala dan Tanda-tanda

Batuk rejan biasanya gejalanya mirip dengan selesma, seperti hidung mampet dan batuk kering, yang berlangsung selama kurang lebih satu minggu.
Setelah itu, batuk terus berlanjut, yang mungkin akan mencapai satu minggu. Batuk akan makin panjang dan sering kali berakhir dengan suara seperti orang menarik napas.
Pada anak-anak, batuk berulang-ulang dapat membuat mereka muntah.
Anak-anak biasanya kelihatan sehat bila tidak sedang batuk.
Pada kasus-kasus yang lebih parah, bayi dan anak-anak mungkin mengalami kesulitan untuk bernapas sehabis batuk.
Anggota keluarga yang lain sering kali juga mengalami batuk.
Pada bayi-bayi yang masih berusia di bawah 6 bulan, mungkin akan mengalami berhenti bernapas (yang disebut apnoea) bukan hanya batuk-batuk biasa.

Bagaimana Menegakkan Diagnosis

Biasanya dokter Anda akan menentukan apakah anak Anda menderita batuk rejan dengan mengajukan pertanyaan tentang batuk yang mereka alami atau dengan melihat anak Anda saat sedang batuk.
Pemeriksaan sekresi yang diambil dari hidung dan tes darah kadang-kadang dapat membantu untuk memastikan diagnosis tersebut.

Perawatan

Jenis-jenis perawatan yang dilakukan sangat bergantung pada banyak hal termasuk:

Usia anak Anda
Seberapa parah gejala yang dialami
Berapa lama anak Anda telah mengalami gejala tersebut.

Batuk rejan sangat berbahaya untuk para bayi, penderita yang masih berusia bayi ini yang biasanya harus dirawat di rumah sakit untuk diawasi secara intensif. Anak-anak dengan usia yang lebih dewasa yang mengalami gejala yang lebih parah juga biasanya harus dirawat di rumah sakit. Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan sangat berbeda untuk setiap anak.

Antibiotik

Dokter Anda mungkin akan meresepkan antibiotik untuk anak Anda, tapi pemberian antibiotik bukanlah suatu keharusan. Pengobatan dengan antibiotik dapat mengurangi berapa lama anak Anda berada dalam kondisi yang mampu menularkan penyakitnya. Bila anak Anda sudah mengalami gejala batuk lebih dari 21 hari, mereka tidak lagi dapat menularkan penyakitnya. Pada kasus seperti ini, antibiotik biasanya tidak diperlukan.

Bersekolah

Anak Anda tidak boleh pergi ke sekolah atau tempat penitipan :

Selama 3 minggu dari saat ia mulai batuk, bila tidak ada pemberian antibiotik atau
Selama setidaknya 5 hari setelah mereka minum antibiotik.

Perawatan untuk Orang-orang Di Sekitar Penderita

Batuk rejan sangat mudah menular. Seringkali anggota keluarga yang lain atau orang lain yang sering melakukan kontak dengan penderita juga terinfeksi.
Batuk rejan sangat menular pada saat 3 minggu sebelum dan 3 minggu setelah batuk dimulai. Bila anak Anda diberi antibiotik, mereka masih dapat menularkan infeksi penyakit tersebut sampai mereka telah mengkonsumsi antibiotik selama lima hari.
Antibiotik harus diberikan pada semua orang yang tinggal di rumah yang sama atau yang melakukan kontak dengan anak Anda saat mereka dalam masa penularan.

Pencegahan

Imunisasi yang lengkap pada anak-anak adalah cara terbaik untuk mengendalikan batuk rejan.
Vaksinasi diberikan pada anak usia 2, 4, 6 bulan, dan pada usia 4 tahun.
Semua orang tua dengan anak berusia di bawah 8 tahun harus memeriksa apakah jadwal imunisasi anak mereka telah sesuai jadwal dan meminta dokter anak untuk melakukan imunisasi yang tertinggal.
Sesuai peraturan, para dokter yang merawat pasien yang diguga atau telah dipastikan menderita batuk rejan harus memberitahu Departemen Sosial (Departemen Kesehatan). Departemen kesehatan melakukan pencatatan tentang berapa banyak anak yang terinfeksi setiap tahun.

Hal-hal yang Perlu Diingat

Batuk rejan sangat berbahaya untuk bayi berusia di bawah 6 bulan. Bayi yang menderita batuk rejan biasanya perlu dirawat di rumah sakit.
Batuk rejan sangat mudah menular dan seringkali anggota keluarga yang lain atau orang-orang yang melakukan kontak denga penderita akan terinfeksi.
Bila anak Anda sudah batuk selama lebih dari 21 hari (3 minggu), mereka tidak lagi dapat menularkan infeksinya. Anak-anak ini biasanya tidak membutuhkan antibiotik.

Diterjemahkan : WM

Sumber :http://www.rch.org.au

Diare : Diare Karena Antibiotik

sumber : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1304

Diare karena antibiotik terjadi ketika antibiotik mengganggu keseimbangan antara bakteri “baik” dan “buruk” dalam saluran pencernaan,sehingga menyebabkan bakteri yang berbahaya dapat tumbuh melebihi jumlah seharusnya sehingga menyebabkan diare.

Sebagian besar diare karena antibiotik tidak berat dan berheti setelah anda menghentikan pemakaian antibiotik. Tetapi kadang-kadang Anda dapat mengalami colitis, radang usus besar, atau bentuk kolitis yang lebih berat yaitu kolitis pseudomembranosa. Keduanya dapat menyebabkan sakit perut, demam dan diare berdarah.

Terdapat tatalaksana yang efektif untuk diare ringa karena antibiotik dan kolitis karena antibiotik. . Selain itu dengan mengonsumsi suplemen bakteri baik atau makan yoghurt dapat mengurangi gejala atau membantu mencegah diare karena antibiotik.

Gejala

Diare karena antibiotik memberikan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi dari ringan sampai berat. Umumnya Anda hanya akan mengalami sedikit perubahan jumlah bakteri dalam saluran pencernaan Anda, yang dapat menyebabkan tinja menjadi lunak atau frekuensi BAB lebih sering dari biasanya.

Gejala ini umumnya muncul dalam waktu lima sampai 10 hari setelah Anda memulai terapi antibiotik dan berakhir dalam waktu dua minggu setelah anda berhenti minum antibiotik.
Ketika pertumbuhan bakteri berbahaya berlebih maka Anda dapat mengalami tanda dan gejala kolitis atau kolitis pseudomembranosa, seperti:

* diare berair
* sakit perut dan kram
* Demam, sering lebih tinggi dari 101 F (38,3 C)
* nanah di tinja
* darah di tinja
* Mual
* Dehidrasi

Sebagian besar orang mengalami perbaikan dalam dua minggu setelah memulai pengobatan untuk kolitis atau kolitis pseudomembranosa. Namun, bila gejal muncul kembali dalam waktu satu bulan setelah pengobatan awal maka Anda mungkin perlu mendapat pengobatan kembali.

Penyebab

Saluran pencernaan Anda adalah rumah bagi jutaan mikroorganisme (flora usus), termasuk lebih dari 500 jenis bakteri. Banyak bakteri ini bermanfaat bagi tubuh, melakukan fungsi-fungsi penting, seperti menghasilkan vitamin tertentu, merangsang sistem kekebalan tubuh, dan membantu melindungi Anda dari virus dan bakteri berbahaya.

Tapi beberapa bakteri yang biasanya menghuni saluran pencernaan Anda ada yang berpotensi berbahaya. Namun jumlah mereka biasanya dikontrol oleh jumlah bakteri lain yang menguntungkan di usus. Keseimbangan diantara keduanya dapat terganggu oleh penyakit, obat atau faktor lainnya.

Antibiotik dapat sangat mengganggu flora usus, bakteri yang biasanya hidup di usus besar, karena mereka menghancurkan bakteri yang menguntungkan bersama bakteri yang potensial berbahaya. Tanpa jumlah yang cukup dari bakteri yang “baik” maka bakteri yang “buruk” yang resisten terhadap antibiotik yang Anda minum dapat tumbuh di luar kendali, menghasilkan racun yang dapat merusak dinding usus dan memicu peradangan.

Antibiotik telah menyelamatkan jutaan nyawa. Namun seperti semua obat-obatan, antibiotik juga memiliki efek samping. Dan salah satu yang paling umum adalah diare karena antibiotik, yang mengenai hingga satu dari lima orang yang menerima terapi antibiotik.

Penyebab tersering
Bakteri bertanggung jawab untuk hampir semua kasus kolitis pseudomembranosa dan diare karena antibiotik yang berat adalah Clostridium difficile. Sebagian besar orang memperoleh infeksi selama dirawat di rumah sakit atau tempat perawatan setelah menerima antibiotik.

Sebetulnya sebagian besar orang yang dirawat di rumah sakit terkena C. difficile, tetapi bakteri ini hanya menyebabkan masalah pada orang yang mendapat pengobatan dengan antibiotik. Bakteri ini kemudian tumbuh di luar kendali dan menyebabkan diare yang berat serta dapat berisiko megnakibatkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Antibiotik yang menyebabkan diare?
Hampir semua antibiotik dapat menyebabkan diare karena antibiotik, kolitis atau kolitis pseudomembranosa. Penyebab yang paling sering adalah ampisilin, klindamisin dan cephalosporins seperti cefpodoxime.

Kadang-kadang erythromycin, quinolones (Ciprofoxacin, Floxin) dan tetrasiklin juga dapat menyebabkan diare karena antibiotik. Diare karena antibiotik tetap dapat terjadi baik anda menggunakan antibiotik minum atau suntik.

Efek lain antibiotik
Selain mengganggu keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan Anda, antibiotik juga dapat mempengaruhi :

* kecepatan pencernaan. Antibiotik, seperti eritromisin, dapat menyebabkan makanan terlalu cepat untuk meninggalkan lambung, sehingga menyebabkan mual dan muntah. Antibiotik lain dapat meningkatkan kontraksi usus, mempercepat laju makanan melalui usus halus sehingga berperan terhadap diare.
* pemecahan makanan. Antibiotik dapat mempengaruhi cara tubuh memetabolisme asam lemak.

Faktor risiko

Siapa pun yang menjalani terapi antibiotik berisiko mengalami diare karena antibiotik. Tetapi yang lebih berisio adalah :

* orang lanjut tua
* memiliki riwayat operasi pada saluran pencernaan
* riwayat baru dirawat di rumah sakit atau panti jompo
* memiliki penyakit yang serius, seperti kanker atau penyakit peradangan usus (inflammatory bowel disease)

Kapan harus menghubungi dokter

Hubungi dokter segera jika Anda mengalami tanda-tanda dan gejala berikut:

* Demam
* sakit perut yang berat
* Nanah atau darah dalam tinja

Tanda dan gejala ini dapat menunjukkan beberapa kondisi, mulai dari virus, bakteri atau infeksi parasit sampai inflammatory bowel diasese, seperti kolitis ulserativa atau penyakit Crohn
Namun, jika Anda sedang minum antibiotik atau baru saja selesai terapi antibiotik, mungkin Anda mengalami diare karena antibiotik. Dokter Anda dapat melakukan tes untuk menentukan penyebab pasti masalah Anda.

Tes dan diagnosis

Untuk membantu mendiagnosis terkait antibiotik diare, dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan Anda, termasuk apakah Anda sudah dirawat di rumah sakit baru-baru ini atau terapi antibiotik. Jika gejala yang anda alami cukup berat, kemungkinan Anda juga akan diminta meakukan pemeriksaan tinja.

Tinja diperiksa di laboratorium ada tidaknya C. difficile. Dalam beberapa kasus, hasil tes laboratorium adalah negatif palsu. Ini berarti bahwa meskipun sebenarnya terdapat C. difficile dalam saluran pencernaan Anda,namun tidak terdeteksi oleh tes. Tes dapat diulang untuk memberikan hasil yang lebih akurat.

Komplikasi

Diare karena Antibiotik yang ringan cenderung tidak menimbulkan masalah. Tetapi kolitis pseudomembranosa dapat mengakibatkan komplikasi yang berbahaya, termasuk:

* lubang di usus (perforasi usus). Ini hasil dari kerusakan pada lapisan usus besar Anda. Risiko terbesar dari perforasi usus adalah bahwa bakteri dari usus Anda selanjutnya akan menginfeksi rongga perut (peritonitis).
* Toxic megacolon. Dalam keadaan ini, usus besar Anda tidak mampu untuk mengeluarkan gas dan tinja, sehingga menjadi sangat buncit (megacolon). Tanda dan gejala toxic megacolon meliputi sakit perut dan membesar, demam dan kelemahan. Jika tidak diobati, usus besar Anda dapat pecah, menyebabkan bakteri dari usus besar anda memasuki rongga perut Anda. Usus besar yang pecah memerlukan operasi darurat dan dapat menyebabkan kematian.
* Dehidrasi. Diare berat dapat menyebabkan hilangnya cairan dan elektrolit. Dehidrasi berat dapat menyebabkan kejang-kejang dan syok. Tanda dan gejala dari dehidrasi adalah mulut sangat kering, haus, buang air kecil sedikit atau tidak sama sekali, dan kelemahan.

Tatalaksana

Diare ringan
Jika Anda mengalami diare ringan, gejala yang Anda alami akan hilang dalam beberapa hari sampai dua minggu setelah penggunaan antibiotik selesai. Sementara itu, dokter anda dapat merekomendasikan minum banyak cairan untuk mencegah dehidrasi dan menghindari makanan yang dapat memperparah gejala anda. Bila diare lebih parah, maka dokter mungkin menghentikan terapi antibiotik dan menunggu diare menghilang.

Diare berat
Dalam kasus-kasus diare karena antibiotik yang sangat berat, kolitis atau kolitis pseudomembranosa, kemungkinan Anda akan tatalaksana dengan obat metronidazol (flagyl), dalam bentuk tablet selama 10 hari. Jika metronidazol tidak efektif, atau Anda sedang hamil atau menyusui, Anda akan menerima obat lain, vankomisin (Vancocin).

Vankomisin dan metronidazol adalah antibiotik yang efektif terhadap C. difficile. Vankomisin pernah menjadi obat pilihan pertama untuk mengobati diare karena antibiotik, tetapi sangat mahal dan sekarang disimpan untuk kasus-kasus yang paling resisten. Namun, vankomisin dianjurkan untuk ibu hamil dan menyusui karena metronidazol tidak terbukti aman pada janin dan bayi.

Pencegahan

Saran berikut dapat membantu mencegah diare karena antibiotik atau mengurangi keparahannya:

* Gunakan antibiotik hanya bila Anda dan dokter Anda merasa itu benar-benar diperlukan. Perlu diketahui bahwa antibiotik tidak akan membantu infeksi virus, seperti pilek dan flu.
* Gunakan antibiotik sesuai yang diresepkan. Tidak meningkatkan dosis, menggandakan dosis saat dosis terlewat atau menggunakan obat lebih lama daripada yang dokter instruksikan.

Tindakan di rumah

Jika Anda mengalami diare karena antibiotik, kolitis atau kolitis pseudomembranosa, perubahan pola makan ini dapat membantu meringankan gejala:

* Minum banyak cairan. Air adalah yang terbaik, cairan dengan natrium dan kalium (elektrolit) dapat bermanfaat juga (cairan rehidrasi oral). Hindari minuman berkarbonasi, jus jeruk, alkohol dan minuman berkafein, seperti kopi, teh dan cola, yang dapat memperparah gejala anda.
* Utamakan makanan yang lembut, lunak, mudah dicerna. Ini termasuk beras, kentang panggang, yoghurt dan pisang. Hal terbaik untuk menghindari jus serta produk turunan susu karena mereka bisa membuat diare lebih buruk.
* Cobalah makan beberapa makanan kecil. makan cemilan beberapa kali dibandingkan hanya dua atau tiga kali makan besar. Porsi yang lebih kecil lebih mudah dicerna.
* Hindari makanan tertentu. Hindari makanaan pedas, berlemak, atau makanan yang digoreng dan makanan lainnya yang membuat gejala lebih buruk.

Juga, hubungi dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengambil obat anti diare, yang dapat mengganggu kemampuan tubuh Anda untuk menghilangkan racun dan mengakibatkan komplikasi serius.(YSK)

Bahan bacaan :

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/diarrhea.html

Diare : Shigella

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1311

Shigella adalah bakteri yang dapat menginfeksi saluran pencernaan dan menyebabkan gejala mulai dari diare, nyeri perut, muntah, dan mual, sampai komplikasi yang lebih serius. Infeksi ini disebut Shigellosis, terkadang dapat menghilang dalam perjalanan penyakitnya, antibiotik dapat mempersingkat perjalanan penyakit.

Shigellosis, yang paling umum terjadi dalam musim panas, umumnya mengenai anak-anak usia 2-4 tahun, dan jarang menginfeksi bayi kurang dari 6 bulan.

Infeksi ini sangat menular dan dapat dicegah dengan cuci tangan yang baik.

Tanda dan Gejala
Bakteri Shigella menghasilkan racun yang dapat menyerang permukaan usus besar, menyebabkan pembengkakan, luka pada dinding usus, dan diare berdarah.

Keparahan diare pada Shigellosis berbeda dari diare biasa. Pada anak-anak dengan Shigellosis, pertama kali buang air besar besar sering dan berair. Kemudian buang air besar mungkin lebih sedikit, tetapi terdapat darah dan lendir di dalamnya.

Gejala lain Shigellosis termasuk:

* Nyeri perut
* Demam tinggi
* Hilangnya nafsu makan
* Mual dan muntah
* nyeri saat buang air besar

Dalam kasus Shigellosis yang sangat parah, seseorang mungkin mengalami kejang, kaku kuduk, sakit kepala, kelelahan, dan kebingungan. Shigellosis juga dapat menyebabkan dehidrasi dan komplikasi lain yang jarang terjadi, seperti radang sendi, ruam kulit, dan gagal ginjal.

Beberapa anak dengan kasus Shigellosis yang berat mungkin perlu dirawat di rumah sakit.

Penularan

Shigellosis sangat menular. Seseorang dapat terinfeksi melalui kontak dengan sesuatu yang terkontaminasi oleh tinja dari orang yang terinfeksi. Ini termasuk mainan, permukaan di toilet, dan bahkan makanan yang disiapkan oleh seseorang yang terinfeksi. Misalnya, anak-anak yang menyentuh permukaan yang terkontaminasi oleh shigella seperti toilet atau mainan dan kemudian memasukkan jari-jari mereka di mulut maka mereka bisa menjadi terinfeksi. Shigella bahkan dapat dibawa dan disebarkan oleh lalat yang kontak dengan tinja yang terinfeksi.

Karena tidak membutuhkan banyak bakteri Shigella untuk menyebabkan infeksi maka penyakit dapat menyebar dengan mudah dalam keluarga dan penampungan anak. Bakteri mungkin juga tersebar di sumber air di daerahdengan sanitasi yang buruk. Shigella masih dapat disebarkan dalam 4 minggu setelah gejala penyakit selesai (walaupun pengobatan antibiotik dapat mengurangi pengeluaran bakteri Shigella di tinja).

Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah penyebaran Shigella adalah dengan sering mencuci tangan yang bersih dengan sabun, terutama setelah menggunakan toilet dan sebelum mereka makan. Hal ini terutama penting dalam perawatan anak.

Jika Anda merawat anak yang mengalami diare, cuci tangan sebelum menyentuh orang lain dan sebelum memegang makanan. (Siapa pun dengan diare sebaiknya tidak menyiapkan makanan bagi orang lain.) Pastikan untuk sering membersihkan dan membersihkan toilet yang digunakan oleh seseorang dengan Shigellosis.

Popok anak dengan Shigellosis harus dibuang dalam tong sampah yang tertutup, dan bekas popok harus dibersihkan dengan disinfektan setelah digunakan. Anak-anak (terutama mereka yang masih menggunakan popok) dengan Shigellosis atau dengan diare dari setiap penyebab harus dijauhkan dari anak-anak lain.

Penanganan, penyimpanan, dan persiapan makanan juga dapat membantu mencegah infeksi Shigella. Makanan dingin harus disimpan dingin dan makanan panas harus disimpan panas untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

Diagnosis dan Pengobatan

Untuk mengkonfirmasi diagnosis Shigellosis, dokter akan mengambil sampel tinja dari anak Anda yang akan diuji untuk bakteri Shigella. Tes darah dan tes lainnya juga dapat menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala, terutama jika anak Anda memiliki sejumlah besar darah dalam tinja.

Beberapa kasus Shigellosis tidak memerlukan pengobatan, tetapi antibiotik akan diberikan untuk memperpendek penyakit dan untuk mencegah penyebaran bakteri kepada orang lain.

Jika dokter memberikan resep antibiotik sesuai diagnosis maka berikan mereka sesuai dosis. Hindari pemberian obat bebas untuk muntah-muntah atau diare, karena mereka dapat memperpanjang penyakit. Acetaminophen (parasetamol) dapat diberikan untuk mengurangi demam dan membuat anak Anda lebih nyaman.

Untuk mencegah dehidrasi, ikuti petunjuk dokter Anda tentang apa yang anak Anda harus makan dan minum. Dokter anda dapat merekomendasikan minuman khusus yang disebut cairan rehidrasi oral, atau CRO (seperti Pedialyte) untuk menggantikan cairan tubuh dengan cepat, terutama jika diare telah berlangsung selama 2 atau 3 hari atau lebih.

Anak-anak yang mengalami dehidrasi sedang-berat atau yang memiliki penyakit lain yang lebih serius mungkin perlu dirawat di rumah sakit untuk dipantau dan mendapat tatalaksana seperti cairan infus atau antibiotik.

Kapan Harus Menghubungi Dokter

Hubungi dokter jika anak Anda mempunyai tanda-tanda infeksi Shigella, termasuk diare dengan darah atau lendir, disertai dengan sakit perut, mual dan muntah, atau demam tinggi.

Anak-anak dengan diare dapat dengan cepat mengalami dehidrasi, yang dapat mengakibatkan komplikasi yang serius. Tanda-tanda dehidrasi meliputi:

* Haus
* rewel
* gelisah
* penurunan kesadaran (sulit dibangunkan)
* Mulut,lidah, dan bibir kering
* Mata cekung
* Popok kering selama beberapa jam pada bayi atau jarang BAK

Jika Anda melihat tanda-tanda ini, hubungi dokter segera. (YSK)

Bahan bacaan : Shigellosis; Joel Klein, MD

http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=KidsHealth&lic=1&ps=107&cat_id=20048&article_set=23014

Diare : Amebiasis

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=1314

Apa Amebiasis?

Amebiasis adalah penyakit di saluran cerna yang biasanya ditularkan ketika seseorang makan atau minum sesuatu yang terkontaminasi dengan parasit yang disebut Entamoeba histolytica (E. histolytica). Parasit ini adalah amuba, sebuah organisme bersel tunggal. Untuk itu penyakit ini disebut amebiasis.

Dalam banyak kasus, parasit tinggal di usus besar seseorang tanpa menyebabkan gejala apapun. Tapi terkadang parasit ini menyerang permukaan usus besar sehingga menyebabkan diare berdarah, sakit perut, kram, mual, kehilangan nafsu makan, atau demam. Dalam kasus yang jarang terjadi, parasit ini dapat menyebar ke organ-organ lain seperti hati, paru-paru, dan otak.

Amebiasis umumnya terjadi di daerah yang padat dengan sanitasi yang tidak memadai. Penyakit ini umum terjadi di negara berkembang, termasuk Afrika, Amerika Latin, India, dan Asia Tenggara.

Tanda dan Gejala

Sebagian besar anak-anak yang mengalami amebiasis memiliki gejala minimal atau tanpa gejala. Ketika anak-anak menjadi sakit, mereka merasakan nyeri perut yang mulai perlahan-lahan, bersamaan dengan buang air besar yang lebih sering dengan tinja lunak atau cair, kram, mual, dan hilangnya nafsu makan. Dapat pula demam dan tinja berdarah.

Pada beberapa orang, gejala amebiasis dapat dimulai dalam beberapa hari sampai minggu setelah menelan makanan atau air yang tercemar oleh amoeba. Pada orang lainnya, gejala amebiasis dapat memerlukan waktu berbulan-bulan untuk muncul atau tidak pernah muncul sama sekali.

Penularan
Amebiasis merupakan penyakit menular. Pada keadaan lingkungan yang tidak sehat dan kebersihan yang buruk maka infeksi menular dari satu orang ke lainnya sangat mungkin terjadi.
Seseorang yang membawa amoeba di ususnya (carier) dapat menularkan infeksi kepada orang lain melalui tinja. Ketika tinja yang terinfeksi mengkontaminasi makanan atau persediaan air, amebiasis dapat menyebar dengan cepat ke banyak orang sekaligus. Hal ini terutama berlaku di negara-negara berkembang di mana sumber air minum dapat terkontaminasi.

Amebiasis juga dapat menyebar karena cuci tangan yang tidak bersih.

Pencegahan

Tidak ada vaksin untuk mencegah amebiasis.
Karena amoebas dapat mengkontaminasi makanan dan air maka Anda dapat membantu mencegah dengan bersikap hati-hati tentang apa yang Anda makan dan minum. Aturan yang baik tentang makanan adalah dengan memasaknya, merebusnya, mengupasnya, atau bila tidak mungkin maka lupakan makanan tersebut sama sekali.
Perawatan

Jika dokter Anda mencurigai bahwa anak Anda telah amebiasis, Anda mungkin diminta untuk mengumpulkan sampel tinja.

Kapan Harus Menghubungi Dokter

Hubungi dokter jika anak Anda mempunyai tanda-tanda atau gejala amebiasis, termasuk:

* Diare dengan darah atau lendir
* Sakit perut
* Demam
* perut membuncit
* Rasa sakit atau nyeri di daerah hati (di bawah iga di sebelah kanan)
(YSK)

Bahan bacaan : Amebiasis; Joel Klein, MD

http://kidshealth.org/PageManager.jsp?dn=KidsHealth&lic=1&ps=107&cat_id=20045&article_set=22744

Diare : Rotavirus

sumber :http://www.sehatgroup.web.id/?p=1292

Hampir semua anak pernah terinfeksi rotavirus pada umur 5 tahun. Rotavirus adalah salah satu penyebab paling umum dari diare. Infeksi berat rotavirus (gastroentritis karena rotavirus) merupakan penyebab utama diare berat dengan dehidrasi pada bayi dan anak-anak.

Infeksi rotavirus bertanggungjawab pada lebih dari 3 juta kasus dan 55 ribu kasus yang harus dirawat di rumah sakit pada anak-anak di bawah 5 tahun tiap tahunnya di Amerika Serikat. Walaupun infeksi ini relatif tidak banyak menyebabkan kematian di Amerika, kasus diare yang disebabkan rotavirus menyebabkan lebih dari ½ juta kasus kematian di seluruh dunia tiap tahunnya. Hal ini biasanya terjadi di negara-negara berkembang yang kondisi nutrisi dan pelayanan kesehatannya tidak optimal.
Tanda dan Gejala

Anak yang terinfeksi rotavirus menderita demam, mual, dan muntah-muntah yang diikuti dengan kram perut serta diare berair yang sering. Anak juga mungkin akan menderita batuk dan pilek. Namun pada beberapa kasus, infeksi rotavirus hanya menimbulkan beberapa gejala atau bahkan tidak sama sekali, khususnya bila mengenai orang dewasa.

Kadang diare yang disebabkan oleh infeksi rotavirus sangat berat sehingga dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi. Tanda-tanda dehidrasi meliputi: merasa kehausan, rewel, gelisah, sulit dibangunkan, mata cekung, mulut, lidah, dan kulit mengering, jarang buang air kecil, dan popok yang kering selama beberapa jam pada bayi.
Penularan

Di Amerika Serikat, kejadian infeksi rotavirus biasanya terjadi selama musim dingin dan musim semi. Infeksi ini merupakan masalah khas pusat-pusat penitipan anak dan rumah sakit anak karena sangat menular.

Virus menular melalui feses dari orang yang terinfeksi baik sebelum maupun sesudah mereka menunjukkan gejala penyakit. Anak-anak dapat terinfeksi ketika mereka memasukkan jari mereka ke mulut setelah menyentuh sesuatu yang telah terkontaminasi virus. Biasanya hal ini terjadi ketika anak-anak tidak mencuci tangan mereka, khususnya pada saat sebelum makan dan sesudah menggunakan toilet.

Orang yang bekerja dengan anak-anak seperti di pusat pelayanan kesehatan dan penitipan anak dapat menyebarkan virus khususnya ketika mereka tidak mencuci tangan setelah mengganti popok.
Pencegahan

Sekarang The American Academy of Pediatrics (AAP) telah merekomendasikan vaksinasi rotavirus dalam daftar imunisasi rutin yang diberikan pada semua bayi.

Vaksin RotaTeq terbukti dapat mencegah hingga kira-kira 75% kasus infeksi rotavirus dan 98% kasus yang berat. Vaksin lain, Rotarix, juga tersedia dan efektif untuk mencegah infeksi rotavirus.

Vaksin rotavirus yang sebelumnya pernah ada ditarik dari pasaran pada 1999 karena terkait pada meningkatnya risiko intususepsi, sejenis sumbatan/obstruksi usus pada bayi. Baik RotaTeq maupun Rotarix telah terbukti tidak meningkatkan risiko ini.

Sebenarnya sering mencuci tangan adalah cara terbaik untuk mencegah menyebarnya infeksi rotavirus. Anak yang terinfeksi harus tinggal di rumah sampai diare berakhir. Di rumah sakit, penyebaran rotavirus ditatalaksana dengan mengisolasi pasien dan menerapkan aturan cuci tangan yang ketat.
Perawatan Profesional

Bayi atau anak yang kemudian menderita dehidrasi ringan sampai sedang mungkin perlu dirawat di rumah sakit dengan cairan intravena (IV) untuk mengembalikan cairan dan garam tubuh kembali ke batas normal. Kebanyakan anak-anak yang sudah lebih besar cukup dirawat di rumah.

Dokter mungkin akan menguji darah, urin, dan feses anak bila diperlukan untuk memastikan bahwa diare yang sedang diderita disebabkan oleh rotavirus dan bukan oleh bakteri. Dokter juga tidak akan meresepkan antibiotik untuk infeksi rotavirus karena antibiotik tidak dapat bekerja melawan penyakit yang disebabkan oleh virus.
Perawatan di Rumah

Untuk mencegah dehidrasi, ikuti petunjuk dokter mengenai apa yang harus dimakan dan diminum oleh anak Anda. Dokter mungkin akan meminta Anda memberikan minuman khusus untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, khususnya bila diare telah terjadi selama lebih dari 2-3 hari.

Secara umum, anak dengan diare ringan yang tidak menderita dehidrasi harus tetap makan dengan normal tapi harus minum lebih banyak cairan. Hindari jus buah dan soft drink karena dapat membuat diare menjadi lebih parah. Mereka yang menderita dehidrasi ringan sampai sedang harus diberi cairan rehidrasi oral dalam jumlah yang sedikit tapi sering untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi dan segera kembali makan secara normal. Anak yang masih minum ASI harus tetap disusui.

Anak yang muntah-muntah akan membutuhkan makan dengan cara sedikit-sedikit tapi sering. Ikuti petunjuk dokter dan hindari memberi anak Anda obat-obatan yang dijual bebas untuk mengatasi muntah atau diare.
Kapan harus menghubungi dokter?

Hubungi dokter jika anak Anda menunjukkan gejala-gejala infeksi rotavirus, termasuk diare berair, demam, mual, muntah. Segera ke dokter jika anak Anda menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. (QQ)

Catatan : di Indonesia vaksin rotavirus belum masuk dalam rekomendasi IDAI 2008

10 Rambutan Sehari Ampuh Turunkan Tekanan Darah

SUMBER : http://health.detik.com/read/2012/03/26/172439/1876811/766/10-rambutan-sehari-ampuh-turunkan-tekanan-darah
Jakarta, Buah rambutan banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Pohon atau tanaman yang memiliki nama latin Nephelium lappaceum ini merupakan tanaman khas daerah tropis dan sulit hidup di daerah beriklim non tropis. Lebih spesifik lagi, buah rambutan berasal dari kepulauan Melayu.

Nama rambutan berasal dari bahasa melayu yang artinya berbulu. Buah ini dikenal orang barat dengan sebutan leci berbulu. Disebut leci karena bentuk dan rasanya menyerupai leci. Di Hawaii, rambutan disebut sebagai berry hoop.

Rambutan adalah sumber vitamin C dan kalsium dan mengandung niacin, zat besi, protein dan serat dalam jumlah yang memadai. Satu cangkir atau 150 gram rambutan mengandung 123 kalori.

Rambutan banyak mengandung mineral yang diperlukan tubuh seperti kalsium (9,58 mg/100g), magnesium (12,3 mg/100g) dan kalium (84,1 mg/100g). Kesemua elemen penting ini sangat dibutuhkan dalam diet seimbang. Tingkat keasaman atau pH buah rambutan adalah sebesar 4,66 dan dikombinasikan kadar gula yang relatif tinggi. Kandungan asam ini ideal untuk menyeimbangkan kandungan gula yang besar.

“Setiap buah rambutan rata-rata mengandung 59 kalori. Untuk menghindari penyakit kanker, makanlah 5 buah rambutah setiap hari secara teratur. Sebuah penelitian menemukan bahwa makan 9 – 10 buah rambutan efektif menurunkan tekanan darah,” kata Michele Blacksberg, konsultan kesehatan di New York seperti dilansir FoxNews, Senin (26/3/2012)

Dinding buah rambutan berisi tanin dan saponin. Di Indonesia, bagian ini umumnya dikeringkan dan digunakan untuk obat. Akar pohon rambutan juga bisa digunakan untuk mengobati demam. Benih rambutan mengandung lemak dan polifenol.

Rambutan matang dapat disimpan dari 5 – 8 hari tetapi akan kehilangan 19% – 25% dari beratnya dan berair. Hilangnya kelembaban kulit dan bulu-bulu lembut menjadi berwarna gelap menunjukkan bahwa buah ini mulai membusuk. Buah rambutan sebaiknya disimpan dalam kantong plastik tertutup. Kombinasi suhu rendah dan karbon dioksida 7,5 – 9,2% dalam kantong plastik tertutup menjaga rambutan tetap segar selama 12 hari.

Kenaikan Berat Badan Anak Paling Banyak Saat Kelas 1-3 SD

sumber : http://health.detik.com/read/2011/11/28/124818/1777106/1301/kenaikan-berat-badan-anak-paling-banyak-saat-kelas-1-3-sd
Jakarta, Studi menemukan bahwa anak sekolah dasar kelas 1-3 mendapatkan berat badan lebih banyak dibanding anak-anak SD kelas lainnya.

Studi yang hasilnya dilaporkan dalam jurnal Pediatrics menemukan bahwa peningkatan berat badan terbesar terjadi pada ‘masa kritis’ di awal sekolah dasar dengan peningkatan indeks massa tubuh yang signifikan yaitu sekitar 5,8 persen yang terjadi pada anak kelas 1-3 sekolah dasar.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena saat anak prasekolah sebagian besar anak-anak ini bermain dan terus bergerak, tapi ketika memasuki masa sekolah maka anak-anak ini akan lebih banyak duduk diam dan belajar sehingga lebih sedikit membakar kalori.

Meski kadang anak-anak ini memiliki berat badan yang normal ketika memasuki masa sekolah dasar, tapi tetap ada kemungkinan berat badannya bisa bertambah saat ia mulai sekolah dasar.

Dalam studi ini peneliti melihat data dari sekitar 4.200 anak-anak berkulit putih, 700 anak berkulit hitam dan lebih dari 1.000 anak hispanik dengan menganalisis berat dan tinggi badan anak-anak selama 9 tahun.

“Kami ingin melihat perubahan indeks massa tubuh dari waktu ke waktu, bukan hanya pada anak yang kelebihan berat badan atau obesitas tapi untuk semua anak,” ujar penulis studi Ashlesha Datar dari RAND Corporation di Santa Monica, California, seperti dikutip dari Healthland.Time, Senin (28/11/2011).

Diketahui sekitar 40 persen anak-anak memiliki penambahan berat badan sekitar 25 persen pada grafik pertumbuhannya saat sekolah, lalu proporsinya naik menjadi 45 persen hingga ia kelas 3. Tapi peneliti menemukan tidak ada perubahan berat badan yang signifikan saat sekolah menengah.

Datar mengungkapkan kelas pendidikan fisik mungkin tidak bisa dijadwalkan lebih sering, tapi bisa diakali dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga seperti basket, sepakbola atau kegiatan fisik lainnya.

“Para ahli harus mulai berpikir tentang intervensi yang bisa dilakukan untuk mencegah kelebihan berat badan, karena anak-anak ini lebih senang menghabiskan waktu di depan televisi ketimbang bergerak atau beraktivitas fisik,” ujar Datar.