Temper Tantrum 3

Temper Tantrum

Orangtua yang mempunyai anak balita (bawah lima tahun) mungkin pernah mengalami suatu waktu ketika sang anak ingin dibelikan sesuatu atau ingin memiliki sesuatu dan permintaannya tidak dituruti maka tanpa di duga, si anak menangis sekeras-kerasnya bahkan sampai berguling-guling di lantai. Anda tentu menjadi jengkel, tapi si anak semakin menjadi-jadi tangisnya.

Itulah yang disebut Temper Tantrum (mengeluarkan amarah yang hebat untuk mencapai maksudnya), suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun di saat anak menunjukkan kemandirian dan sikap negativistiknya. Perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat Anda semakin jengkel, seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menyepak-nyepak, dan sebagainya. Bahkan pada anak yang lebih kecil, diiringi pula dengan muntah atau kencing di celana.

Mengapa Temper Tantrum ini bisa terjadi ? Hal ini disebabkan karena anak belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Tentu saja hal ini akan bertambah parah jika orang tua tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada anaknya, dan tidak bisa mengendalikan emosinya karena malu, jengkel, dan sebagainya.

Beberapa penyebab konkrit yang membuat anak mengalami Temper Tantrum adalah :

  1. Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
  2. Anak gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tidak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan orang lain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
  3. Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orang tua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain, misalnya untuk makan. Mungkin orang tua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Si anak akan merasa bahwa ia tidak akan mampu dan tidak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara dia sendiri harus selalu menuruti perintah orang tuanya. Ini konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak meledak.
  4. Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, sering terjadi Temper Tantrum, di mana dia putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada sekitarnya.
  5. Yang paling sering terjadi adalah karena anak mencontoh tindakan penyaluran amarah yang salah pada ayah atau ibunya. Jika Anda peduli dengan perkembangan anak Anda, periksalah kembali sikap dan sifat-sifat kita sebagai orangtua.

Beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasinya :

  • Yang paling utama adalah orangtua harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Jika Anda marah, salurkanlah itu secara tepat. Anda harus ingat, bahwa anak merekam setiap kejadian yang positif maupun negatif yang terjadi di sekitarnya. Jika tanpa Anda sadari anak Anda sudah merekam sifat-sifat Anda yang buruk, atau dia melihat si Ayah memukul Ibunya, bisa dipastikan peristiwa itu akan membawa pengaruh buruk dalam hidupnya kelak.
  • Jika anak ingin bermain dan tidak ingin diganggu, berilah kesempatan secara bijaksana kepadanya. Jangan terlalu mengekang, dan beri kepercayaan bahwa dia bisa bermain dan bergaul dengan baik.
  • Jika Anda terpaksa harus berseberangan pendapat dengan si anak saat dia mengamuk, kemukakan pendapat Anda secara tegas, tetapi lembut. Jangan membentaknya, apalagi sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Atur emosi Anda, karena dia tidak sedang bermusuhan dengan Anda, dan dia bukan musuh Anda. Abaikan tangisnya dan ajaklah dia berbicara dengan lembut. Jelaskan kepadanya mengapa Anda tidak memberinya mainan yang dia ingini dengan alasan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Jelaskan dengan sabar sampai dia mengerti maksud Anda yang sebenarnya, karena saat itu adalah konflik yang sedang dialami oleh si anak. Pastikan bahwa ia bisa mengerti maksud Anda dengan baik, karena konflik yang berakhir menggantung, akan muncul di kemudian hari dengan bentuk yang tidak pernah Anda duga sebelumnya. Sekali lagi, atur emosi Anda. Mungkin Anda malu dilihat banyak orang di supermarket. Tapi ingatlah akan perkembangan emosi anak Anda. Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi jika Anda terbawa emosi dan rasa malu, dan Anda bersikap keras kepada anak Anda.

Ajarlah anak Anda untuk berlatih menguasai dan mengendalikan emosinya. Anda bisa mengajaknya bermain musik, melukis, bermain bola, atau permainan lainnya. Lewat permainan-permainan tersebut, anak belajar untuk menerima kekalahan, belajar untuk tidak sombong jika menang, bersikap sportif, dan belajar bersaing secara sehat. Tapi ingat, jangan sekali-kali Anda bermain curang. Mungkin Anda pikir ini hanya sekedar permainan. Tapi anak akan berpikir dan menerapkan pada dirinya, bahwa berlaku curang itu sah-sah saja.

Temper Tantrum 2

Temper tantrum

Terasa aneh karena tiba-tiba anak berubah? Sering menangis menjerit-jerit tanpa sebab yang jelas, gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi, membanting botol, atau bahkan kadang memukul pengasuhnya. Mungkin Anda sedang menghadapi Temper Tantrum (ledakan emosi) si buah hati.

Selama tahap ini, kita mungkin panik menghadapinya. Tapi dengan memahami dan tahu bagaimana cara menghadapi, tentu kita akan lebih tenang dan mudah untuk menjalani saat tiba-tiba anak “meledak” emosinya.

Yang harus kita pahami adalah tantrum merupakan sesuatu yang normal dan biasa terjadi pada saat tumbuh kembang anak dan biasa muncul saat anak berusia 1-3 tahun (Tantrums Secret to Calming the Storm, La Forge, 1996). Kenapa tantrum terjadi? Secara garis besar, penyebabnya adalah: karena anak mencari perhatian; lapar; lelah; atau karena anak frustrasi.

Frustrasi

Frustrasi pada anak sering kali membuat bingung para orangtua. Frustrasi pada anak bisa terjadi karena anak tidak mendapatkan keinginannya: bisa mainan, perhatian, maupun orangtuanya. Jadi, saat Anda melihat (atau bahkan mengalami sendiri) anak menangis di pertokoan karena minta sesuatu, atau bahkan menjerit dan berguling di lantai, itu bisa jadi temper tantrum.

Atau suatu pagi, saat Anda mau ke kantor. Si kecil yang biasanya mengantar dengan riang, tiba-tiba menangis menjerit-njerit sambil memegangi kaki Anda. “Gak boleh…. Bunda gak boleh pergi,,, di rumah saja.”

Lain waktu, si buah hati ingin bercerita sesuatu yang seru kepada Anda. Tapi, dia susah sekali mengomunikasikannya. Hal ini membuatnya frustrasi dan mengakibatkan tantrum. Anak-anak biasanya lebih cepat memahami sesuatu, namun masih susah untuk mengungkapkannya (karena keterbatasan kosakata/bahasa). Namun, saat kemampuan bahasanya meningkat, bisa jadi tantrum akan menurun/hilang.

Cara Menghadapi

Sebenarnya, tantrum akan mulai berkurang saat anak memasuki usia sekolah. Namun, selama masa-masa itu, kita perlu kiat yang tepat untuk menghadapi tantrum.

– Pertama, tetap tenang. Tarik napas, berpikirlah dengan jernih. Kenapa? Karena apabila Anda ikut frustrasi, bahkan berteriak, bisa jadi kondisi malah akan lebih runyam. Sedapat mungkin, alihkan perhatian anak. Misalnya, kalau anak minta mainan dan sudah mulai tantrum… alihkan perhatiannya ke benda/tempat lain.

– Hindari memberi apa yang anak inginkan hanya karena kita merasa “malu”. Misalnya karena anak menangis di pertokoan, kita langsung membelikan apa yang diminta. Anak itu pintar lho Moms. Jadi, sekali hal itu berhasil, bisa jadi dia akan “membacanya” bahwa kita akan memberi apa yang dia inginkan kalau dia menangis.

– Memindahkannya ke tempat yang lebih tenang. Jika tantrum terjadi di tempat ramai, angkat si buah hati, bawa ke tempat yang lebih tenang, dan biarkan tantrumnya selesai. Setelah itu, baru kita ajak bicara.

– Tidak mengacuhkan anak saat tantrum kadang juga perlu. Tentu dengan melihat bahwa kondisi di sekitarnya aman. Kalau dia sudah tenang, baru kita peluk dan tanya dengan lembut, kenapa dia marah.

– Jika tantrum makin menjadi, peluk si buah hati. Tapi kalau kita tidak bisa memeluk (karena kita juga sudah mulai jengkel/emosi), paling enggak, duduk/berdiri di dekatnya.

Antisipasi

– Mengantisipasi tantrum juga perlu loh. Jadi, kita harus tahu, sampai batas mana anak kita. Misalnya, kita terlalu asyik jalan-jalan sampai lupa bahwa sudah waktunya makan. Dan ini bisa mengakibatkan tantrum pada anak.

– Sodorkan pertanyaan dengan pilihan jawaban. Misalnya, saat anak susah gosok gigi. Kita tanya: “mau gosok gigi kapan sayang? Sebelum mandi, atau sesudah mandi”. Sedapat mungkin, hindari jawaban “ya” atau “enggak”.

Jika tantrum sudah lewat, kita bisa mencari tau apa sebenarnya keinginan anak. “Kenapa marah begitu sayang? Sebenarnya pengen apa? Mama enggak tau adik pengen apa kalau menangis begitu.” Yang paling penting, bantu anak untuk mengekspresikan kemarahannya secara verbal dan terkendali. Berikan rasa cinta dan aman kepada si buah hati. Tunjukkan kepadanya, meski dia telah berbuat salah, sebagai orangtua kita tetap menyayanginya.

Yang penting, selama tantrum terjadi, sebaiknya tidak membujuk, berargumen, atau menasihati anak karena anak biasanya tidak akan menanggapi/mendengarkan. Bahkan, terkadang hal itu malah membuat tantrum anak makin menjadi.

**Dari berbagai sumber & pengalaman pribadi**

Temper Tantrum 1

*Temper Tantrum

(Dari A-Z Tentang Perkembangan Anak)*

Temper Tantrum adalah letupan kemarahan anak, atau disebut pula sebagai

mengamuk. Temper Tantrum adalah hal yang sering terjadi dalam 4 tahun pertama usia anak. Temper Tanrum bisa terdiri dari gabungan tingkah laku menangis,

menjerit, melempar barang, membuat tubuh kaku, memukul serta berguling-guling di lantai atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu

Kebiasaan temper tantrum akan lebih sering dilakukan bila anak

mengetahui bahwa dengan cara itu keinginannya akan dipenuhi. Anak-anak balita yang mengalami sakit untuk waktu yang lama sering menunjukan kebiasaan ini setelah sembuh. Ini karena anak terbiasa memperoleh apa yang ia inginkan sehingga ia tidak mampu mentolerir frustasi.

Anak-anak yang diperlakukan tidak konsisten oleh orang tuanya dalam penangannan disiplin akan lebih sering menunjukan temper tantrum. Keadaan lain yang juga meningkatkan frekuensi temper tantrum adalah sikap orang tua yang cenderung mengkritik dan terlalu crewet.

Temper Tantrum terbentuk secara kondisional. Misalnya anak menjadi sering marah karena si ibu selalu dengan paksa menyuruh anak buang air kecil saat ia asyik

bermain. Kemarahan yang awalnya timbul karena anak dihentikan dari aktivitas

bermainnya, akhirnya beralih pasa situasi pergi ke kamar mandi bisa membangkitkan kemarahan anak.

Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental serta yang mengalami hambatan dalam perkembangan bicara juga sering menunjukan temper tantrum, yaitu pada saat mereka gagal mengungkapkan maksudnya pada lingkungan.

*Penanganan*

Frekuensi temper tantrum atau mengamuk bisa dikurangi dengan cara menghindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak, tuntutan yang berlebihan atau pemberian tugas yang diluar kemampuan anak. Orang tua sebaiknya tidak bersikap sewenang-wenang dan tidak terlalu memegang teguh sikap-sikap keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak.

Yang paling penting adalah bersikap konsisten atau ajeg, namun tetap penuh kasih sayang.Keajegan memungkinkan anak belajar dari pengalaman-pengalamannya. Namun demikian,ini tidak berarti bahwa segala sesuatu harus berlangsung rutin tanpa pengecualian.Bagaimanapun juga, pengecualian dari apa yang sudah ditetapkan boleh saja dilakukansepanjang hal itu diperlukan dan tidak dilakukan demi mengikuti suasana hati orang tua semata.

Kebiasaan mengamuk sebaiknya diperlakukan dengan wajar dan tenang. Orang

tua diharapkan secara terus-menerus bersikap tenang, kalem dan tidak terpancing untuk marah, konsistensi dan penuh pengertian. Sedapat mungkin abaikanlah adegan mengamuk tsb, sehingga anak menyadari bahwa ia tidak bisa memperoleh perhatian dengan kemarahannya itu. Anak harus belajar bahwa dengan mengamuk ia tidak akan mendapat apa yang ia inginkan.

Jangan sekali-sekali mencoba berargumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk. beberapa saat setelah amukan berakhir atau mereda merupakan saat yang baik untuk mengatakan bahwa caranya itu salah dan tidak bisa diterima. Di atas itu semua, perlu diketahui bahwa, dalam batas-batas tertentu, mengamuk adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak.

*Menghadapi Tantrum si Kecil

(3 Tahun Pertama Yang Menentukan)*

Sebagai orang tua, sebaiknya Anda melihat kecenderungan tantrum pada

anak sebagai ekspresiyang sehat. Namun terkadang orang tua kewalahan menghadapi Tantrum si kecil. Menghilangkan tantrum 100 persen tentu bukan pekerjaan mudah. Berikut ini beberapa cara untuk meminimalkan

kemarahan si kecil. Cobalah menerapkan cara ini sesuai situasi, dan

pastikan bahwa orang-orang yang membantu Anda mengasuh si kecil menggunakan cara yang sama dengan Anda.

_Cobalah tenang_

Kepanikan Anda menghadapi tantrum si kecil akan menyulut kemarahannya. Melihat Anda tidak dapat mengendalikan diri, anak akan panik dan sulit mengendalikan

dirinya juga. Si kecil membutuhkan sosok yang dapat menularkan ketenangan untuk mengontrol situasi, karena keterbatasannya mendalikan diri di usia ini. Ia juga membutuhkan kepastian bahwa dalam situasi apa pun Anda masih mencintainya.

_Ingat-ingat penyebabnya_

Cobalah menuliskan di dalam agenda Anda, apa penyulut kemarahan si kecil. Terkadang tantrum disebabkan anak terlalu lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi. Jika ini penyebabnya,cobalah menghindari keadaan ini. Kemungkinan lain, tantrum si kecil hanya muncul jika iadibawa ke supermarket. Jika demikian, batasi kepergian ke supermarket dengan membawa sikecil.

_Berbicalah dengan halus namun mantap_

Jika Anda berteriak maka si kecil akan membalas dengan teriakan yang lebih hebat.

Namun jika Anda dapat berbicara dengan intonasi yang halus namun mantap, hal ini akanmembatu si kecil mengatasi diri. Terkadang karena terlalu halus suara yang Anda ucapkan,si kecil tidap dapat mendengar. Hal ini justru menguntungkan, karena

biasanya ia akanterdiam berkonsentrasi pada apa yang Anda ucapkan.

_Singkirkan keinginan menggunakan hukuman fisik_

Tantrum si kecil terkadang membuat orang tua kesal, sehingga tanpa sadar orang tuamenjatuhkan hukuman fisik seperti memukul atau mencubit agar si kecil

diam. Hal inimerupakan pertanda bahwa Anda pun telah kehilangan kontrol diri.

Bagaimana memintasi kecil belajar mengontrol dirinya, jika orang tuanya sendiri tidak mampu mengontrol diri sendiri?

_Jangan berdebat_

Mengajak si kecil berdebat selama kemarahannya meledak tidak ada gunanya. Pada saat ini si kecil dapat diharapkan berpikir rasional. Tunggulah hingga is sudah dapat menggunakan logika berpikirnya kembali, baru ajak ia berdiskusi.

_Jaga anak dari kemungkinan celaka_

Terkadang si kecil banyak menggunakan gerakan memukul atau mendang. Jika hal ini tidal diwaspadai dapat mencelakai dirinya sendiri, atau orang di sekitarnya.

Cobalah mengajak anak ke tempat yang lebih aman, misalnya tidurkan ia di tempat tidur, atau ikatkan tali penagaman jika ia mengamuk di kereta dorongnya. Jika tidak mungkin, cobalah untuk memegang,atau memeluknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain mencegah kemungkinan celaka, dengan memegang atau memeluk, si kecil merasa Anda membantunya menyatukan ‘bagian’ dari dirinya yang telah ‘hancur berkeping-keping’.Pelukan erat juga membantu meluruhkan kemarahan, baik bagi si kecil maupun Anda.

_Tunjukan empati_

Tunjukan bahwa Anda mengerti perasaan si kecil. Misalnya dengan berkata,”Ibu tahu sulit rasanya jika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibu juga sering

merasa kecewa dan marah jika ibu tidak mendapatkan apa yang ibu inginkan”.

_Coba alihkan perhatian anak_

Kadang-kadang ada anak yang sulit sekali mengatasi tantrum-nya. Campur tangan orang tua bahkan dapat memperburuk kemarahannya. Jika ini terjadi, cobalah alihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan permainan yang telah lama tidak dilakukannya, atau perdengarkan lagu-lagu gembira favoritnya. Cara lain yang dapat dicoba adalah humor misalnya dengan mengatakan,”Apa pun yang kamu lakukan, jangan ketawa!! Eh…, lho kok malah ketawa”.

_Berikan waktu jeda_

Jika si kecil tidak dapat mengontrol dirinya untuk waktu yang cukup lama, cobalah untuk memberikan waktu jeda. Misalnya, biarkan ia menyendiri di dalam lmarnya hingga kemarahannya reda. Namun tentunya semua itu harus dibawah pengawasan anda. Pastikan bahwa ia aman berada sendiri di dalam kamarnya.

_Jangan takut jika tak mereda_

Jika Anda tidak dapat meredakan tantrum-nya, jangan terlalu cemas. Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk mengekspresikan emosinya. Setelah ia merasa

lega, maka semua akan segera berakhir.

Tantrum

Tantrum

Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi.

Andi menangis, menjerit-jerit dan berguling-guling di lantai karena menuntut ibunya untuk membelikan mainan mobil-mobilan di sebuah hypermarket di Jakarta? Ibunya sudah berusaha membujuk Andi dan mengatakan bahwa sudah banyak mobil-mobilan di rumahnya. Namun Andi malah semakin menjadi-jadi. Ibunya menjadi serba salah, malu dan tidak berdaya menghadapi anaknya. Di satu sisi, ibunya tidak ingin membelikan mainan tersebut karena masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Namun disisi lain, kalau tidak dibelikan maka ia kuatir Andi akan menjerit-jerit semakin lama dan keras, sehingga menarik perhatian semua orang dan orang bisa saja menyangka dirinya adalah orangtua yang kejam. Ibunya menjadi bingung….., lalu akhirnya ia terpaksa membeli mainan yang diinginkan Andi. Benarkah tindakan sang Ibu?

Temper Tantrum

Kejadian di atas merupakan suatu kejadian yang disebut sebagai Temper Tantrums atau suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Temper Tantrum (untuk selanjutnya disebut sebagai Tantrum) seringkali muncul pada anak usia 15 (lima belas) bulan sampai 6 (enam) tahun.

Tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “sulit”, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.

2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.

3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.

4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.

5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.

6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku Tantrum, menurut tingkatan usia:

1. Di bawah usia 3 tahun:

  • Menangis
  • Menggigit
  • Memukul
  • Menendang
  • Menjerit
  • Memekik-mekik
  • Melengkungkan punggung
  • Melempar badan ke lantai
  • Memukul-mukulkan tangan
  • Menahan nafas
  • Membentur-benturkan kepala
  • Melempar-lempar barang

2. Usia 3 – 4 tahun:

  • Perilaku-perilaku tersebut diatas
  • Menghentak-hentakan kaki
  • Berteriak-teriak
  • Meninju
  • Membanting pintu
  • Mengkritik
  • Merengek

3. Usia 5 tahun ke atas

  • Perilaku- perilaku tersebut pada 2 (dua) kategori usia di atas
  • Memaki
  • Menyumpah
  • Memukul kakak/adik atau temannya
  • Mengkritik diri sendiri
  • Memecahkan barang dengan sengaja
  • Mengancam

Faktor Penyebab

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.

Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.

Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.

Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua

Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan Tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Tindakan

Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir. Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut). Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Pertanyaan sebagian besar orangtua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami Tantrum. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami mencoba untuk memberikan beberapa saran tentang tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua untuk mengatasi hal tersebut. Tindakan-tindakan ini terbagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu:

1. Mencegah terjadinya Tantrum

2. Menangani Anak yang sedang mengalami Tantrum

3. Menangani anak pasca Tantrum

Pencegahan

Langkah pertama untuk mencegah terjadinya Tantrum adalah dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si anak. Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.

Langkah kedua dalam mencegah Tantrum adalah dengan melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun.

Ketika Tantrum Terjadi

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:

  1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.
  2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
  3. Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan.
  4. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: “kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih”; “kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong”), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan “mama/papa sayang kamu”, “mama ada di sini sampai kamu selesai”. Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.

Ketika Tantrum Telah Berlalu

Saat Tantrum anak sudah berhenti, seberapapun parahnya ledakan emosi yang telah terjadi tersebut, janganlah diikuti dengan hukuman, nasihat-nasihat, teguran, maupun sindiran. Juga jangan diberikan hadiah apapun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang diinginkan (jika Tantrum terjadi karena menginginkan sesuatu). Dengan tetap tidak memberikan apa yang diinginkan si anak, orangtua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orangtuanya.

Berikanlah rasa cinta dan rasa aman Anda kepada anak. Ajak anak, membaca buku atau bermain sepeda bersama. Tunjukkan kepada anak, sekalipun ia telah berbuat salah, sebagai orangtua Anda tetap mengasihinya.

Setelah Tantrum berakhir, orangtua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi Tantrum. Apakah benar-benar anak yang berbuat salah atau orangtua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustrasi, lapar, atau sakit? Berpikir ulang ini perlu, agar orangtua bisa mencegah Tantrum berikutnya.

Jika anak yang dianggap salah, orangtua perlu berpikir untuk mengajarkan kepada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Kalau memang ingin mengajar dan memberi nasihat, jangan dilakukan setelah Tantrum berakhir, tapi lakukanlah ketika keadaan sedang tenang dan nyaman bagi orangtua dan anak. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika Tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi Tantrum. Saat orangtua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustrasi, lelah dan lapar merupakan saat yang ideal.

Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa kalau orangtua memiliki anak yang “sulit” dan mudah menjadi Tantrum, tentu tidak adil jika dikatakan sepenuhnya kesalahan orangtua. Namun harus diakui bahwa orangtualah yang punya peranan untuk membimbing anak dalam mengatur emosinya dan mempermudah kehidupan anak agar Tantrum tidak terus-menerus meletup. Beberapa saran diatas mungkin dapat berguna bagi anda terutama bagi para ibu/ayah muda yang belum memiliki pengalaman mengasuh anak. Selamat membaca, semoga bermanfaat.(jp)

Menhadapi Tantrum Anak

Menghadapi Tantrum Anak

Cerita gw dibawah ternyata menurut ilmu psikological adalah gejalatantrum. Awalnya gw mengira tindakan2 nakal Calulla itu adalah karena anak gw-nya aja yang kelewat manja.Tapi ternyata umur 2 tahun sampai 3 tahun disebut sebagai masa “terrible twos”, maksudnya, dimasa itu anak akan mengalami kemunduran prilaku, salah satunya ya cepat marah itu yang biasa disebut tantrum. Tingkah laku semacam ini terjadi bukan karena kenakalan tetapi karena rasa frustasi.Selain itu sikap semacam ini terjadi karena sifat egosentris anak, bukan keegoisannya.Sikap ini yang membuatnya selalu ingin mendahulukan semua keinginannya. Membiarkan anak melakukan hal-hal yang ia inginkan tidak akan menghilangkan tantrum, dalam beberapa kejadian, pendekatan seperti itu akan meningkatkan frekuensinya terjadi tantrum berikutnya, karena ia akan belajar bahwa dengan cara itu keinginannya pasti dituruti.

Menurut salah satu buku yang gw baca, buku karangan Dr.Richard C.Woolfson, ada 5 prinsip praktis dalam menghadapi gejala ini antara lain :
1. Pusatkan perhatian pada saat-saat bahagia
Cobalah ajak sikecil mengingat-ingat kenangan-kenanangan yang membahagiakan yang dialami si kecil, jangan terlalu lama mengingat-ingat pertengkaran dan tantrum yang terjadi hari itu.
2. Sesekali beristirahatlah dari rutinitas
Rencanakanlah acara khusus dengan si kecil walaupun sebenarnya suasan hatinya sedang jelek.
3. Bermain bersamanya
Setelah menghabiskan beberapa jam dengan anak yang sedang marah, anda mungkin enggan bersantai bersamanya, akan tetapi tetaplah berusah untuk melakukannya, selalu luangkan waktu untuk bermain dengannya tanpa mempedulikan tingkah lakunya hari itu.
4. Bacakan Buku cerita sebelum tidur
Daya ingat anak masih pendek, menjelang tidur ia telah melupakan semua perang urat syaraf yg terjadi diantara anda berdua, bacakan buku-buku cerita sebelum ia tidur adalah cara yang baik untuk saling berbaikan lagi.
5. Berbagi dengan pasangan
Cobalah menceritakan perasaan anda pada pasangan.Anda akan merasa lebih baik dengan melakukan hal ini.

Dalam masa tantrum ini, jika kita menyikapi dengan emosional seperti marah, justru akan makin menyulitkan, karena ketegangan yang terjadi akan makin semakin menjadi-jadi.berusahalah untuk tetap tenang, begitu pesan buku ini.

by MErrytaRiyadi

Atasi Emosi Anak

Mengatasi Ledakan Emosi Anak

Tak jarang balita Anda mengungkapkan emosinya dengan cara membanting mainannya, atau berteriak-teriak sambil menangis di tengah keramaian. Ledakan emosi seperti itu disebut dengan Temper Tantrum. Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan temper tantrum, dan bagaimana menghadapinya dengan benar?

Temper tantrum bisa bermacam-macam bentuk, mulai dari merengek, menangis, berteriak-teriak, menendang, memukul atau menahan napas. Pada umumnya sama saja pada anak lelaki atau perempuan dan biasanya terjadi pada anak usia satu sampai tiga tahun. Beberapa anak mungkin sering mengalami tantrum, ada pula yang hanya beberapa kali atau jarang.

Penyebab Tantrum

Meskipun sebaiknya temper tantrum jarang terjadi , namun tantrum termasuk normal dalam periode pertumbuhan anak dan tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif.

Ada beberapa penyebab dasar terjadinya tantrum, antara lain : anak mencari perhatian, lelah, lapar atau tidak nyaman. Sebagai tambahan, tantrum kadang terjadi karena anak frustasi pada dunia, misalnya tidak mendapatkan yang diinginkan. Frustasi pada anak bukan sesuatu yang tidak dapat diterima karena justru ia akan belajar mengenal orang lain, objek atau dirinya sendiri.

Sebelum menginjak usia dua tahun, anak mulai membangun rasa percaya diri yang kuat pada dirinya. Ia ingin belajar mandiri untuk mengekspresikan dirinya dan untuk menguasai lingkungan disekitarnya lebih dari yang sebenarnya mampu ia atasi. Anak akan merasa aku bisa melakukan sendiri atau aku ingin itu, atau berikan itu padaku. Ketika usia balita anak mulai menyadari bahwa ia tidak dapat melakukannya sendiri dan tidak mendapatkan semua yang diinginkan, terbentuklah tantrum.

Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit. Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati.

Jika orangtua mengijinkan seorang anak melakukan sesuatu atau mendapatkan apa yang diinginkannya setelah tantrum, hal itu sama saja dengan menyetujui tantrum dan mengajarkan anak bertindak agresif. Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut

Mencegah Tantrum

Cara paling baik untuk mengatasi tantrum adalah dengan mencegahnya. Pastikan anak Anda tidak kekurangan perhatian. Pada anak, perhatian yang negatif (respon salah orangtua pada tantrum) lebih baik daripada tidak ada perhatian sama sekali. Coba untuk mempertahankan kebiasaan untuk berlaku positif, dalam arti memberi penghargaan jika mereka bersikap baik.

Kenalilah sifat dan kebiasaan anak Anda. Temani mereka belajar dan bermain, ini akan menunjukkan kepada mereka bahwa orangtuanya peduli dan memiliki perhatian terhadap kegiatannya. Evaluasi pula cara Anda mendidik anak selama ini, apakah terlalu memanjakan, menuruti segala kemauannya, terlalu melarang, atau Anda sering tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti.

Menghadapi Tantrum

Yang paling penting untuk diingat saat menghadapi anak yang tantrum, apapun sebabnya, tetaplah tenang. Jangan perumit masalah dengan frustasi Anda. Anak akan merasakan emosi orangtua yang naik, hal itu bisa menyebabkan emosi anak ikut meningkat sehingga tantrum semakin menjadi.

Seorang anak yang sedang mengalami tantrum tidak dapat menerima bujukan, ia justru akan merespons negatif tindakan Anda, jangan pula mengacuhkan. Yang terbaik adalah membiarkannya, Anda bisa tetap berada disampingnya, peluk atau gendonglah anak Anda dengan penuh cinta, hal itu dapat membantunya menenangkan diri.

Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.

Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.

Sebagai orangtua Anda perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi tantrum. Pada saat tenang, dalam situasi nyaman bagi orangtua dan anak, Anda perlu mengajarkan nilai-nilai kepada anak agar ia tidak mengulangi kesalahannya lagi.

Semoga saran diatas dapat menjadi referensi baru bagi Anda, terutama para Ayah/Ibu muda. (***/anna)

Kiat Atasi Batita Ngamuk

sumber : NAKITA

KIAT JITU ATASI SI BATITA NGAMUK

Munculnya tantrum atau amarah yang tak terkendali sebetulnya merupakan pertanda baik. Tangani amukannya secara bijak.

Sering, kan, anak marah-marah hanya karena ia merasa tidak puas oleh hal
sepele. Misalnya, sepatu yang disodorkan ibu tidak sesuai dengan
keinginannya. Ia minta warna merah jambu, tapi karena kotor, ia harus
memakai sepatu yang berwarna cokelat. Yang terjadi kemudian, si anak menolak
sambil marah dan melempar sepatunya. Kalau keinginannya belum terpenuhi
juga, dia akan semakin marah dan menangis keras. Bahkan, terkadang sampai
berguling-guling di lantai.

Pada kenyataannya, tantrum merupakan suatu hal yang wajar karena dialami
oleh semua anak usia dini. Perilaku ini belum muncul di usia awal karena
umumnya bayi hanya menunjukkan respons atas kebutuhannya seperti kalau
lapar, haus, dan popoknya basah, dengan cara menangis. Namun seiring
perkembangannya, di usia sekitar 9 bulan bayi mengembangkan konsep “saya
mau”. Nah, bila sesuatu yang diinginkannya tidak berjalan sesuai yang dia
mau, maka ia akan frustasi. Salah satu cara untuk menandakan perasaan itu
adalah dengan tantrum. Inilah bentuk-bentuk amukan di usia batita dan cara
mengatasinya.

USIA 12-18 bulan

Mendekati usia setahun, anak bisa frustrasi saat menghadapi adanya
hambatan-hambatan fisik. Misalnya, beberapa anak merasa terintangi saat
harus duduk di kursi tinggi (kursi makan batita), di carseat, atau di tempat
bermainnya yang berpagar. Benda-benda tersebut membatasi geraknya sementara
kemampuan motoriknya sedang berkembang dan bertambah. Selain itu, anak juga
masih terbatas kemampuan bicaranya, sehingga belum dapat mengekspresikan
keinginannya lewat kata-kata. Akibatnya ia akan mengepalkan tangannya dengan
muka memerah karena marah, seolah ia mengatakan kepada kita bahwa situasinya
saat itu sedang tidak nyaman.

* Bentuk tantrum

Anak menangis keras, melengkungkan punggungnya, dan menggeliat-geliat dengan
marah.

* Cara mengatasinya

Sebagai orang tua, cobalah untuk memahami segala keterbatasannya, dan
antisipasilah hambatan-hambatan itu agar tantrum tidak keburu muncul. Jika
anak telanjur mengamuk, cara mengintervensinya yaitu dengan mengambil si
anak untuk disayang-sayang, dielus, dan dipeluk sampai dia tenang. Tak perlu
memberi pelajaran pada anak seusia ini. Alihkan saja perhatiannya pada
mainan dan nyanyian, ini dapat membantu.

Kasih sayang orang tua bukan hanya dapat mengerem tantrum, tapi juga
membantu anak mengembangkan rasa aman, sehingga ia mampu membangun dasar
dari perasaan yang baik. Dengan modal dasar ini, bila sudah besar nanti, ia
bisa menenangkan dirinya kala sedang marah. Ia pun akan belajar bahwa
dirinya bisa mengontrol dan dapat tetap tenang tanpa harus marah
meledak-ledak.

Namun perlu diingat, bagaimanapun juga tidaklah mudah menenangkan anak yang
tengah frustrasi dan membuatnya nyaman. Bila memang tidak berhasil, hadapi
terus dengan sikap yang santai. Pastikan bahwa segala sesuatunya sudah
berjalan benar, dan tidak ada kesalahan yang jadi penyebab tantrum-nya.
Kalau sudah begitu, jangan coba-coba untuk menghentikan tangisannya.
Adakalanya, Anda cuma bisa menunggu sampai tantrum-nya reda.

18 BULAN SAMPAI 3 TAHUN

Ingat, di usia batita, tantrum tak lebih merupakan ekspresi sederhana dari
rasa frustrasi. Anak sebetulnya ingin merasa berkuasa dan menjadi sangat
marah ketika keinginannya tidak terpenuhi segera. Sementara, sangatlah
penting bagi orang tua untuk mendukung kemandiriannya yang sedang
berkembang. Oleh karena itu, orang tua tetap harus bersikap kritis untuk
mengatakan “tidak” terhadap permintaan-perminta annya yang tidak masuk akal.

Contohnya, saat kita sedang memasak anak merengek-rengek minta digendong.
Katakan kepadanya baik-baik bahwa dia akan segera digendong bila kita sudah
menyelesaikan pekerjaan dapur. Jadi, lanjutkan saja pekerjaan memasak
tersebut.

Namun, bersiaplah bila kemudian anak berteriak, “Gendong!” sambil
meraung-raung dan menarik-narik baju kita. Karena anak belum dapat mengatur
perasaannya, kemarahan itu cenderung meningkat. Akibatnya, tantrum-nya tidak
dapat diprediksi, bisa cepat menghilang dan bisa juga menguat.

* Bentuk tantrum:

Berteriak sambil menangis, menendang, membanting dan melempar sesuatu,
memukuli tangan dan kaki, serta menjatuhkan diri ke lantai. Jadi, jangan
kaget bila anak melemparkan dirinya ke lantai sambil menghentak-hentakka n
tangan dan kakinya di lantai karena frustrasi.

Mengapa bisa seperti itu? Tentunya karena di usia ini anak belum mengerti
konsep menunggu. Bila sedikit saja penanganannya tertunda, hal itu bisa
membuatnya lepas kendali. Begitu pun dengan rasa capek, lapar, dan perubahan
yang tidak diharapkan.

Ironisnya, tingkah laku yang terburuk justru ditunjukkan kepada kita yang
telah mencurahkan kasih sayang secara tulus. Rupanya, kedekatan selama ini
membuatnya merasa aman untuk mengekspresikan kemarahan, rasa frustrasi dan
kekecewaannya di hadapan kita.

* Cara mengatasinya:

Orang tua harus mengambil tindakan bila ia menggigit, memukul, menendang,
mencakar atau bila membahayakan dan melukai dirinya sendiri dengan
mengeliat-geliat di lantai tanpa kontrol. Cara mengintervensinya dengan
bergerak tenang dan menghindari jangkauan anak, sambil mengatakan, “Tidak.
Kamu tak boleh tendang ibu/ayah!” Bila ia bermaksud membahayakan dan melukai
dirinya, maka segeralah bawa ke tempat yang aman dimana dia dapat
melanjutkan tantrum-nya dengan aman.

Selama menghadapi tantrum, bersikaplah konsisten atau tidak mengalah.
Misalnya, anak mengamuk karena kita tidak mengizinkannya makan permen
ketiga. Saat ia berteriak-teriak minta lagi, berikan alasan yang masuk akal.
Sikap menyerah hanya akan membuat anak belajar bahwa dia bisa menggertak
orang tua untuk menuruti keinginannya.

Anak di usia ini masih bisa dialihkan perhatiannya. Ajaklah ia untuk mencoba
berbagai permainan yang menarik, seperti puzzle sederhana. Hal ini akan
membantu menggeser pikirannya dari permen tadi.

Bila tantrum-nya penuh dengan gerakan-gerakan, sebaiknya orang tua tetap
berada di dekatnya. Biarkan ia begitu dan jangan memberinya respons. Saat
tidak mendapat hal yang diinginkan, ia mungkin menginginkan perhatian dari
kita. Namun, bila kita meladeni kelakuannya dalam bentuk interaksi apapun,
hal ini malah akan meningkatkan tantrum-nya. Sebaliknya semakin sedikit kita
bereaksi, semakin cepat pula tantrum itu teratasi.

Bila Anda ragu untuk memberi respons atau tidak, ingatlah bahwa anak perlu
belajar bagaimana mengalami perasaan frustrasi dan kekecewaan. Jadi, cara
terbaik untuk membantunya adalah dengan tidak ikut campur. Beri ia
kesempatan untuk mengatasi perasaan tidak nyamannya sendiri, dan bagaimana
mengembalikan kontrol diri setelah lepas kendali.

Sekali dia belajar, dia akan siap untuk pelajaran berikutnya. Pada akhirnya,
dengan tidak bereaksi, anak akan melihat bahwa tantrum-nya itu tak
berpengaruh apa-apa pada orang tua. Atau paling tidak, ia melihat efeknya
terhadap kita sangatlah kecil. Dengan demikian sedikit kemungkinan anak akan
mengulang amukannya di lain waktu.

Segera sesudah itu anak dapat memulai proses pemulihan dan belajar
menenangkan diri sendiri. Begitu tantrum-nya sudah lewat ia akan kembali
bersahabat. Ini mengisyaratkan bahwa semakin cepat anak mengendalikan
kontrol dirinya, semakin cepat pula dia mau berbaikan kembali dengan kita.

LIMA CARA AGAR ORANG TUA TETAP TENANG

1. Lakukan kegiatan

Meski mungkin kita bingung menghadapi kemarahan anak, tetaplah bersikap
seolah tak peduli dan lakukan aktivitas sehari-hari. Fokuskan pada
tugas-tugas yang konkret, semisal mencuci piring, menyiram tanaman, atau
membereskan kamar. Hal ini dapat membantu kita untuk mengalihkan pikiran
dari anak yang tantrum.

2. Berhitung

Menghadapi amukan anak yang tidak terkendali, sangat mungkin membuat kita
menjadi kesal. Agar tidak berlanjut menjadi amarah, maka ambil napas
dalam-dalam kemudian hitunglah satu sampai sepuluh. Berhitung akan membantu
kita menenangkan diri.

3. Tidak menggunakan fisik

Bila hampir kelepasan memberi pukulan, maka ingatlah bahwa cara terbaik
menyelesaikan konflik adalah dengan bicara dan kompromi setelah anak dan
orang tua sudah sama-sama tenang.

4. Pindah ke tempat lain

Ciptakan jarak dengan anak yang sedang mengamuk. Untuk anak yang masih kecil
bisa dengan membawanya ke ruang lain yang aman, kemudian tinggalkan. Untuk
anak yang lebih besar bisa dengan memintanya pergi keluar dari ruangan, tapi
bila ia menolak maka orang tua yang sebaiknya pergi.

5. Ingat bahwa tantrum adalah suatu sinyal yang baik

Tantrum merupakan suatu reaksi normal terhadap frustrasi, bukan suatu tanda
ketidakpatuhan. Tantrum juga mengisyaratkan bahwa kita sebenarnya sudah
berlaku benar dengan membuat batasan-batasan, sehingga anak merasa cukup
aman mengekspresikan dirinya secara jujur pada kita.

dari milis balita anda