Membentuk Anak Cerdas

Membentuk Anak Cerdas

Perhatikan Kualitas Makanan Ibu Hamil

Kecerdasan anak dapat dibentuk sejak ia ada dalam kandungan sang ibu. Tentunya, ibu pun pada saat hamil perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsinya karena secara langsung akan mempengaruhi pula kondisi janin yang sedang dikandungnya.

Karena adanya bayi yang sedang dikandung, konsumsi makan ibu akan lebih meningkat daripada sebelumnya. Menurut Roziana, ahli gizi dari Rumah Sakit Awal Bross, itu adalah hal lumrah saat ibu membutuhkan kuantitas makanan hingga dua kali dari kondisi biasa.

Kebutuhan konsumsi makanan yang dibutuhkan ibu hamil biasanya juga dipengaruhi oleh tiga waktu semester dalam usia kehamilan. Pada semester pertama dan kedua atau tiga bulan pertama dan kedua dari kehamilan, faktor kuantitas begitu dibutuhkan ibu hamil.

“Terutama pada semester pertama, bisa dua kali kebutuhan kuantitas makanan yang dibutuhkan ibuhamil. Untuk memenuhi kuantitas tersebut, bisa dengan sering makan dalam porsi kecil tapi sering. Usahakan hindari makan berbentuk basah karena dapat memicu mual. Bisa seperti ngemil roti bakar tapi tetap perhatikan nilai gizinya,” anjur Roziana.

Sementara pada saat semester terakhir yaitu tiga bulan usia kandungan terakhir, ibu membutuhkan jumlah kuatitas makanan untuk persiapan melahirkan. Ibu pun harus memperhatikan berat badannya. Normalnya, kenaikan berat badan ibu bisa sekitar 15 kg dari berat badannya sebelum hamil.

Selain memperhatikan kualitas, ibu juga perlu memperhatikan kualitas makanannya. Untuk kecerdasan bayi kelak, seorang ibu perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung protein dan omega tiga atau omega enam.

“Biasanya orang tahu kandungan omega tiga dan enam pada minyak ikan. Tapi bila ingin mengkonsumsi suplemen yang mengandung omega tiga dan enam, ibu hamil perlu berkonsultasi juga dengan dokter atau ahli gizi,” saran Roziana.

Karena menurutnya, konsumsi minyak ikan yang berlebihan bisa mempengaruhi proses pencernaan bahkan keracunan vitamin. Mengkonsumsi zat omega tiga dan enam secara berlebihan juga mempengaruhi oksidasi vitamin E dan A.

Selain suplemen minyak ikan yang banyak mengandung omega tiga dan enam, ibu hamil juga perlu memperhatikan konsumsi suplemen lainnya. Sebelum mengkonsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter kandungan atau ahli gizi untuk mendapatkan rekomendasi suplemen yang tepat dan dibutuhkan oleh tubuh. (ika)

Lebih Baik Food Base

Sebenarnya jika seorang ibu menginginkan kelak anaknya cerdas, mulai dari hamil ia lebih baik memperhatikan kandungan makanannya daripada mengkonsumsi suplemen. “Lebih baik memperhatikan food base daripada mengkonsumsi suplemen,” tegas Roziana.

Memperhatikan makanan dasar atau food base ini diatur pada setiap kadar makanan yang dikonsumsi baik sayur mayur maupun lauknya. Idealnya, seorang ibu mengkonsumsi empat sehat lima sempurna dua kali sehari, dan empat sehat satu kali sehari.

“Kalau untuk minum susu, mungkin bisa dua kali sehari. Sedangkan setiap makan baiknya ada yang namanya sayur, lauk, dan buah. Intinya menu seimbang,” anjur Roziana.

Selain makanan yang banyak mengandung omega tiga dan enam, makanan yang mengandung protein juga perlu banyak dikonsumsi ibu hamil yang ingin anaknya kelak menjadi cerdas. Makanan yang tergolong dalam ikan seperti tongkol, col, tuna, atau salmon cukup banyak mengandung protein. Selain itu bisa pula mengkonsumsi ganggang laut seperti agar-agar.

Selama masa hamil, ibu hamil juga perlu menghindari makanan yang banyak mengandung bahan pengawet atau makanan dalam kemasan kaleng dan vetsin. Makanan dalam kelompok tersebut dapat mengurangi tingkat kecerdasan anak nantinya. (ika)

ASI Eksklusif Pengaruhi Kecerdasan Anak

Selain masa hamil, seorang ibu juga perlu memperhatikan pemberian ASI terutama pada saat usia bayi 0-6 bulan. “Terutama ASI pertama yang keluar itu sangat baik untuk bayi karena banyak mengandung hemoglobin. ASI ini juga sangat membantu pencernaan,” anjur Roziana.

Pada masa enam bulan pertama, bayi sangat memerlukan ASI karena kadar proteinnya yang cukup tinggi, mudah diserap, dan terdiri dari enzim-enzim yang dibutuhkan oleh tubuh bayi.

Usahakan seorang ibu lebih banyak memberikan ASI daripada susu buatan. Selain karena faktor higienitas, pemberian ASI oleh ibu juga untuk menjaga faktor psikologis antara ibu dan anak serta merangsang kecerdasan anak.

Setelah itu pada saat usia bayi enam bulan hingga delapan bulan, bayi mulai bisa diberikan bubur susu yang terdiri dari tepung dan susu. ASI juga terus perlu diberikan hingga bayi usia dua tahun.

Sementara itu dalam masa pertumbuhan seorang anak di bawah usia lima tahun, pemberian susu buatan yang mengandung omega tiga dan enam atau DDA juga bisa diberikan. Unsur-unsur tersebut diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan anak. Namun, Roziana tetap menganjurkan alangkah baiknya seorang ibu lebih memperhatikan food base. (ika)

Musik dan Dongeng untuk Rangsang Kecerdasan

Tidak hanya konsumsi makanan saja yang dapat meningkatkan kecerdasan anak. Menurut Roziana, ada beberapa faktor lain yang bisa mempengaruhi kecerdasan seorang anak. Misalnya pengenalan dengan musik dan dongeng.

“Banyak-banyak mempedengarkan musik klasik mulai dari masa kehamilan ibu, merangsang bayi dengan permainan yang banyak memiliki warna, serta dongeng bisa juga mempengaruhi kecerdasan anak,” ujarnya.

Sebetulnya mulai usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar suara-suara dari tubuh ibunya, seperti detak jantung, desir aliran darah, dan bahkan belaian pada perut ibu. Selanjutnya, sekitar usia 16 minggu, janin mulai bisa mendengar suara-suara dari luar tubuh ibu.

Untuk membuktikan, caranya bisa dengan mengajak janin bicara ataupun memperdengarkan musik jenis apa saja. Sebagai reaksi, ia akan bergerak-gerak yang menandakan otaknya dapat menerima rangsangan dari luar.

Selain suara ibu, ayah, atau kakak si bayi, musik adalah bentuk rangsangan yang paling disarankan untuk memicu pertumbuhan sel otak janin. Seluruh anggota keluarga dapat menyanyi bersama atau rajin-rajinlah ibu memperdengarkan musik bagi janinnya. Tentu saja, pilih lagu dan musik yang bernada riang serta menenangkan, karena nuansa ini mampu menciptakan emosi yang seimbang, baik bagi janin maupun ibu.

Wanita hamil yang tidak stres dan tenang, tentu detak jantungnya akan lebih teratur. Keteraturan irama ini akan menenangkan bayi dalam kandungannya, yang bahkan juga bermanfaat saat persalinan.

Apapun jenis musik selama berirama tenang dan mengalun lembut, pasti akan memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Hanya saja, musik klasiklah yang sudah diteliti secara ilmiah dan terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jenis musik lainnya belum pernah.

Gubahan musik klasik ini, bila rajin diperdengarkan pada janin, akan memberikan efek keseimbangan emosi dan ketenangan. Dengan demikian, setelah lahir ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak cengeng dan mudah berkonsentrasi. Dengan modal ini, kemampuan bicaranya akan ikut terpacu, disusul kemampuan bersosialisasinya yang muncul lebih cepat.

Dengan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi, anak juga lebih mudah menyerap informasi yang didapat dari lingkungan. Semakin banyak informasi yang dimilikinya, tentu semakin cerdas pula anak tersebut. Ini karena musik klasik bisa merangsang perkembangan otak anak, terutama yang berkaitan dengan daya penalaran, logika, dan kemampuan matematisnya.

Di usia sekolah, kemampuan berkonsentrasi sangat berperan dalam membentuk prestasi karena membuat anak akan lebih mudah belajar. Sering orang tua mengeluh mengenai anak-anak mereka di usia sekolah yang kurang memiliki kemampuan berkonsentrasi. Jika terapi musik ini diikuti dengan benar, besar kemungkinan anak-anak akan terhindar dari hal tersebut.

Namun, tak perlu khawatir kalau semasa hamil, ibu belum sempat memanfaatkan terapi musik ini, sebab terapi musik tetap bisa dilakukan mulai sampai anak berusia 3 tahun, bahkan lebih. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera memulainya. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, ada baiknya untuk mulai diperkenalkan dengan alat musik, sehingga mereka bisa bermain musik untuk dirinya sendiri.

Ternyata, tidak semua musik dianjurkan untuk diperdengarkan pada janin, bayi dan balita. Yang tidak disarankan adalah musik dengan irama keras dan cepat, seperti irama rock, disco, serta rap. Musik yang terlalu keras akan membuat mereka tegang dan gelisah. Jadi, bukan jenis musiknya yang boleh atau tidak boleh, tapi beat atau iramanya.

Setelah bayi lahir, jenis musik yang diperdengarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat itu. Menjelang ia tidur, pilihlah musik instrumental yang tenang dan lembut. Dengan begitu, anak dapat segera terlelap. Sebaliknya, untuk menemani anak bermain, pilih musik yang bernada riang dan gembira, sehingga ia merasa bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.

Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “efek Mozart”.

Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernah dialami bayi selama dalam kandungan. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan. (ika/bbs)

Efek Mozart

Dengan memperdengarkan Mozart secara teratur semenjak masa kehamilan, akan banyak efek positif yang bisa didapat. Di antaranya:

* Orang tua dapat berkomunikasi dan bersambung rasa dengan anak bahkan sebelum ia dilahirkan.

* Musik ini dapat merangsang pertumbuhan otak selama masih dalam rahim dan pada awal masa kanak-kanak.

* Memberikan efek positif dalam hal persepsi emosi dan sikap sejak sebelum dilahirkan.

* Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik.

* Meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk lancar dan mudahnya anak merangkak, berjalan, melompat dan berlari.

* Meningkatkan kemampuan berbahasa, perbendaharaan kata, kemampuan berekspresi, dan kelancaran berkomunikasi.

* Meningkatkan kemampuan sosialnya.

* Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan untuk mengingat serta menghapal.

* Membantu anak membangun rasa percaya dirinya. (net)

~ by ika maya susanti on 27 Mei, 2007.

Iklan

Kapan Kecerdasan Bayi Terbentuk

Kecerdasan Bayi Anda – Kapan Mulai Terbentuknya?

Oleh daddy

Tahukah Anda, bayi berusia 3 bulan otaknya telah membentuk koneksi yang jumlahnya kurang lebih 2 kali yang dimiliki oleh orang dewasa? Berapa jumlahnya? Yaaah…sekitar 1000 triliun koneksi lah… Wow!

OK, sebelum saya melanjutkan, mungkin Anda ingin tahu dulu apa sih sebenarnya yang dinamakan koneksi otak itu? Secara sederhana, koneksi otak adalah hubungan antara sel-sel otak dengan sel-sel lainnya dalam tubuh manusia.

Nah, berkaitan dengan bayi, sebuah koneksi akan semakin kuat terbentuk dalam otak bayi apabila kejadian atau pengalaman yang memicu terbentuknya koneksi tersebut semakin sering terjadi.

Coba Anda baca sekali lagi pernyataan di atas!

Sudah? OK, terus apa artinya? Agar lebih mudah dimengerti, mari kita lihat beberapa contoh berikut…

Seorang bayi yang sering diajak berbicara oleh orang-orang di sekelilingnya, nantinya akan memiliki kemampuan berbahasa lebih baik dibandingkan dengan orang yang ketika masih bayi jarang diajak bicara. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau seorang bayi tidak pernah diajak berbicara sama sekali!

Seorang bayi yang sering berinteraksi dengan banyak orang di lingkungannya, insya Allah akan mudah bersosialisasi nantinya ketika dia dewasa. Begitu pula, kasih sayang dan kehangatan yang Anda berikan kepada bayi Anda akan membentuk kepribadian yang positif ketika dia beranjak dewasa.

Ketika Anda mengajak bayi Anda berbicara, sesungguhnya Anda sedang memicu terbentuknya sebuah koneksi dalam otaknya. Semakin sering aktivitas ini Anda lakukan, semakin kuat koneksi yang tercipta. Selanjutnya, bayi Anda akan memiliki kepandaian berbahasa kelak ketika ia dewasa.

Ratusan kejadian atau pengalaman yang dialami oleh bayi Anda akan memicu terbentuknya ratusan koneksi dalam otaknya. Ingat, sekali lagi, semakin sering si bayi mengalami suatu kejadian, semakin kuat koneksi tersebut terbentuk dalam otaknya.

Inilah penjelasan ilmiahnya mengapa bayi dan anak-anak kecil selalu diibaratkan sebagai kertas putih…terserah si orang tua ingin menulis apa di atas kertas itu. Keburukankah atau kebaikan?

Makanya, hati-hati dalam berinteraksi dengan bayi Anda dan jangan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini untuk membentuk kepribadian dan kecerdasan bayi Anda sejak dini, bahkan semenjak masih dalam kandungan!

Tahukah Anda, dengan tersenyum kepada bayi Anda ketika dia menangis, berarti Anda telah memicu terbentuknya suatu koneksi otak yang akan berdampak positif pada emosi si bayi?

Stimulasi Bayi

Sayang, banyak orang tua yang tidak menyadari kalau sejak bayi, anak sudah dapat melakukan peniruan karena kemampuan ini lebih identik dengan anak batita. Padahal seperti dituturkan Dra. Psi. Tisna Chandra, sejak usia 2 bulan, si kecil sebenarnya sudah cakap meniru. Hanya saja, orang tua tidak menyadarinya, sehingga momen ini pun sering luput dari perhatian.

Seperti cerita yang diungkapkan Lubis. Ayah muda ini sempat terperanjat, saat Aldi, bayinya berusia 8 bulan, mampu mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukannya. “Ketika aku bertepuk tangan, ia coba mengikuti. Begitu juga saat melambai-lambaikan tangan. Bukan hanya itu, ia juga bisa tiru-tiru suara. Kalau aku bilang “pa-pa”, dia berusaha mengucapkannya. Lucu banget. Tapi apa benar bayi sebesar Aldi sudah bisa meniru?”

Tisna menegaskan peniruan merupakan salah satu tugas perkembangan yang perlu dilalui bayi, sebelum masuk pada keterampilan identifikasi.

Nah, kembali lagi pada pembahasan sebelumnya, di atas usia 7 bulan, fungsi memori bayi sudah semakin baik. Ini berarti kecakapannya untuk menangkap dan menyimpan apa yang dilihat dan didengarnya lalu kemudian ditirunya akan semakin baik. Jadi dalam kasus Aldi tadi, wajar kalau ia sudah dapat meniru kata, walau hanya sebatas babbling, seperti “ma-ma-ma” atau “pa-pa-pa”.

Menginjak 8 bulan, keterampilan bayi makin berkembang dengan kesanggupan mencontoh gerakan motorik, ekspresi emosi, ataupun peniruan objek seperti memindahkan dan memasukkan mainan. “Tapi jangan berharap dengan hanya sekali memberi contoh, lantas bayi langsung bisa tiru-tiru. Contoh harus diberikan berkali-kali sehingga memungkinkannya untuk merekam di dalam memori lalu mengikutinya. “tandas psikolog dari Spectrum Treatment Center, Bintaro, Banten ini.

STIMULASI SESUAI KEMAMPUAN

Berikut beberapa perkembangan peniruan si kecil yang dapat distimulasi sehingga tumbuh kembangnya makin optimal:

Suara dan Kata

Di usia 2 bulan bayi sudah mampu meniru kata-kata walau sekadar berujar “u…u…u” atau “a…a…a.” Sementara di usia 7 bulan, si kecil sudah bisa babbling atau mengucapkan suku kata yang senada seperti “ma-ma-ma atau “da-da-da”. Kemampuannya kian bertambah saat 11 bulan. Saat ini bayi sudah bisa menirukan kata berunsur konsonan-vokal dengan lebih bervariasi, seperti “ka-ka”, “mi-mi”, “bo-bo”, dan sebagainya.

* Stimulus:

Penting diketahui bayi suka meniru suara yang didengarnya. Jadi rajin-rajinlah untuk mengajaknya bercakap-cakap. Saat memandikan, misalnya, berbincang-bincanglah tentang apa yang tengah kita lakukan, “Mama mau gosok tangan Adek. Angkat tangan Adek seperti ini, ya.” Semakin banyak kata yang dikenalkan pada bayi, akan semakin banyak yang tersimpan dalam memorinya. Saat kemampuan bicaranya sudah semakin baik, si kecil tinggal membuka memori yang pernah disimpannya di masa bayi ini.

* Yang perlu dicermati:

Saat berbicara dengan bayi, hindari bahasa/kata yang dicadel-cadelkan. “Cayang mau cucu ya?” (padahal maksudnya “Sayang mau susu ya?”) Bila bayi terbiasa mendengar kata yang tidak benar kelak dia akan mengatakannya seperti apa yang kita ucapkan. Repotnya, kelak kita harus membetulkan kesalahan anak tersebut bukan?

Gerakan Motorik

Pada usia 8 bulan, bayi sudah dapat mengangkat-angkat tangan. Sebulan kemudian, ia mampu melambaikan tangan serta melakukan gerakan kiss by. Sementara umur 10 bulan, kecakapannya bertambah dengan bertepuk tangan.

* Stimulus:

Saat kita ingin si kecil mengikuti suatu gerakan, sesuaikan dengan kemampuan motorik yang ia miliki. Di usia 8 bulan, umpamanya, ia bisa diminta mengikuti contoh gerakan tangan ke atas dan ke bawah. Tapi jangan mengharapnya bisa meniru gerakan bertepuk tangan karena kesanggupannya belum sampai di situ. Berikut beberapa rangsangan lain yang bisa diberikan:

– Gerakkan jari jemari kita di udara untuk ditirunya. Stimulus ini berguna untuk merangsang keterampilan motorik halus anak agar ia kelak terampil dalam memegang benda-benda kecil, seperti pensil, pena, gelas, sendok-garpu, dan sebagainya.

– Kala menginjak 9-10 bulan, si kecil bisa diajak melakukan gerakan “mata genit” (beri contoh dengan menyipitkan/mengedipkan mata kita). Rangsangan seperti ini juga akan bermanfaat bagi pertumbuhan saraf-saraf di bagian kelopak matanya.

* Yang perlu dicermati:

Selain beberapa manfaat tadi, stimulasi-stimulasi semacam ini juga dapat mengembangkan kemampuan indra peraba serta inteligensinya. Gerakan meniru menaikkan dan menurunkan mainan, umpamanya, memungkinkan bayi merasakan permukaan yang kasar/halus dari mainan yang dipegangnya.

Peniruan Ekspresi Emosi

Bayi 9 bulan sudah bisa menirukan ekspresi senang, marah, lucu, dan lainnya. Ini berkaitan dengan pertumbuhan emosinya yang sudah berkembang dan pembelajaran dari lingkungan terdekat, seperti orang tua, pengasuh, kakak, nenek/kakek dan lainnya.

* Stimulasi:

Walau ia belum memahami apa itu senang, sedih, jengkel dan sebagainya, tapi melatih ekspresi emosinya tetap perlu. Cara paling sederhana adalah dengan selalu menunjukkan senyum dan tawa saat berhadapan dengannya.

* Yang perlu dicermati:

Sebagai manusia, wajar bila kita merasa sedih, jengkel atau marah. Namun sebaiknya jangan terlalu sering menampakkan emosi-emosi negatif pada si kecil. Bukankah ia sudah pandai meniru? Jadi kalau seorang ibu mudah mencucurkan air mata, si kecil pun bisa tumbuh menjadi anak yang cengeng. Begitu juga, bila emosi orang tua kerap meledak-ledak. Tak menutup kemungkinan karakter si kecil pun akan seperti itu nantinya. Intinya, bayi perlu belajar pentingnya kestabilan emosi. Jadi boleh saja, kita menunjuk wajah jengkel sekali-kali. Tapi tetap harus diimbangi dengan senyum dan tawa.

Peniruan Objek

Sejak usia 7 bulan bayi sanggup meniru perilaku orang-orang di sekelilingnya. Untuk itu, beri ia lebih banyak kebebasan untuk melakukan berbagai gerakan lewat perilaku-perilaku yang kita contohkan.

* Stimulasi:

Salah satu permainan yang bisa dicoba adalah menaruh bola ke dalam keranjang. Bayi 7 bulanan tengah menggandrungi kegiatan seperti ini. Sekitar usia 8-12 bulan, si kecil mulai bisa melakukan hal yang lebih kompleks, seperti memencet-mencet tombol keyboard komputer.

* Yang perlu dicermati:

Pilih mainan atau objek yang menarik dari segi warna, corak, bentuk, maupun bunyi. Rasa ketertarikan akan membuat bayi mau menyentuh, mengambil, dan memegang benda/mainan tersebut sehingga stimulasi dapat berjalan lebih optimal.

WASPADAI BILA BAYI TIDAK PERNAH MENIRU

Meskipun belum tentu sebagai pertanda kelainan, tak ada salahnya kita melakukan tindakan lebih lanjut. Antara lain, dengan mengonsultasikan perkembangan bayi pada psikolog atau dokter. Ada beberapa penyebab bayi tidak sanggup melakukan peniruan. Bisa karena organ bicaranya atau organ pendengarannya terganggu. Akibatnya saat kita mencoba mencontohkan kata-kata/ perilaku, ia tidak dapat mengikutinya. Kemungkinan lain adalah autisma. Bayi dengan gangguan ini umumnya tidak mampu berkomunikasi dengan lingkungan, tertutup, dan asyik dengan dirinya sendiri.

Tapi tentu tidak bijaksana jika kita langsung panik saat mendapati bayi tidak bisa melakukan suatu peniruan. Mungkin saja, ia hanya mengalami keterlambatan dan hanya perlu waktu lebih lama-sekitar 1-2 bulan dalam perkembangannya. Ini pun normal-normal saja selama tidak ada indikasi gangguan lain.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Stimulasi

Stimulasi yang paling awal dilakukan untuk bayi
adalah menempatkan bayi berada di ruangan terbuka. Tujuannya agar bayi
bisa melihat sekelilingnya dan otaknya mendapat rangsangan lewat semua
indranya. Mulai suara, warna-warna di sekitarnya, sentuhan dari orang
sekitarnya, atau ajakan bicara. Bayi yang sejak awal telah mendapatkan
rangsangan melalui pendengaran bunyi bahasa, menurut dr Herry Pujiastuti
SpS, bisa merangsang perkembangan pusat bahasa dalam otaknya.

Penelitian telah membuktikan bahwa ocehan bayi
berumur 3-6 bulan sesuai dengan fonem bahasanya. Orang tua dan keluarga
pun harus mulai berbicara dengan bayi. Dari rangsangan suara melalui
bahasa ini, bayi akan cepat bereaksi bila orang tuanya berbicara.

Psikolog dari Amerika Serikat, Harlow, yang kemudian
dikenal dengan Eksperimen Harlow, menyimpulkan anak yang mendapat nutrisi
bagus tetapi tidak mendapat rangsangan apa pun karena hidupnya terisolasi
dan terpisah dari ibunya, ketika dewasa akan mengalami gangguan emosi.
Dari percobaan Harlow menunjukkan bahwa betapa pentingnya menggendong,
memeluk, menimang anak untuk pembentukan karakter. Anak yang kurang atau
tidak mendapat pengasuhan ibu yang baik, akan menjadi seorang yang agresif
dan mudah melakukan kekerasan.

Fakta tersebut menunjukkan adanya hubungan antara
pusat dan fungsi di dalam otak pada usia dini. Menurut dr Andre Mayza,
pada masa perkembangan anak, hendaknya otak harus mendapatkan perangsangan,
pemrograman yang baik dan seimbang.

Pemrograman yang salah atau kurang pada usia dini
dapat berdampak perilakunya buruk ketika dewasa. Perlu diingat, pengalaman
anak di waktu kecil berpengaruh menetap dalam masa perkembangan itu.
Pemrograman berarti pendidikan, berpengaruh membentuk, menentukan fungsi
struktur-struktur otak bersangkutan.

Stimulasi Indra Untuk Kecerdasan

STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN

ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya. Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan. Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya.
Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan
menentukan kecerdasan. Apalagi bila dikaitkan dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun (ada juga yang mengatakan 0-6 tahun).

Setelah itu, perkembangan otak manusia pun akan melambat. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya. Cepatnya perkembangan otak dalam periode ini
ditandai dengan pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi hampir 3 kali lipatnya setelah akhir tahun ketiga.

Sekadar untuk diketahui, pada masa awal usianya, fungsi kedua belahan otak bayi masih sama. Hal ini bisa terlihat dari cara bayi meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan anak cenderung memakai tangan tertentu (umumnya kanan) untuk melakukan sesuatu.

Contoh lain akan pentingnya stimulasi terlihat pada penelitian tentang huruf ”L” yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan, bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap konsonan ”L”. Namun, saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang karena konsonan L dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. ”Itu salah satu bukti kalau otak tidak distimulasi, sinaps-sinapsnya (simpai) akan hilang begitu saja.”

IBARAT PESAWAT TELEPON

Saraf-saraf dalam organ otak diibaratkan sebagai kumpulan pesawat telepon yang koneksinya belum terhubung satu sama lain. Agar koneksi antara pesawat telepon di dalam otak ”saling nyambung” diperlukan stimulasi.

Tujuan stimulasi adalah mengembangkan hubungan (network) antara satu saraf dengan saraf lain. ”Saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan karena ‘pesawat-pesawat telepon’ miliknya sudah terkoneksi sebelum itu. Sebaliknya, bila pesawat-pesawat telepon itu tidak distimulasi maka sinaps-sinapsnya akan hilang.

Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan organ otak jadi mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.

Masalahnya, begitu banyak hal yang perlu dipelajari si bayi kecil lewat kelima indranya; ada indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba hingga pengecap. Orang tua harus rajin menstimulasi semua indra bayi secara seimbang agar tumbuh kembangnya menjadi optimal.

Nah, kali ini yang akan dibahas adalah stimulasi indra peraba dan indra pengecap.

STIMULASI INDRA PERABA

Sebenarnya, secara tidak sadar, orang tua sudah melakukan beberapa stimulasi indra sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

Pijat bayi

Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat.

”Jadi terbukti sentuhan orang tua mempengaruhi perkembangan bayi, bukan?”.
Akan lebih baik bila mengikuti berbagai kursus pijat bayi yang banyak diselenggarakan untuk mengetahui teknik pijatan yang tepat. Jika bayi dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.

Perhatikan ranjang

Kebanyakan, waktu bayi akan dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indra peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

Manfaatkan berbagai bahan

Bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Untuk itu kita bisa mengenalkannya kepada berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Bisa juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Dengan mandi, misalnya, bayi jadi tahu sifat sabun yang licin.

Berjalan tanpa alas

Bila sudah agak besar, bayi bisa diajak berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan kala menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Nah, apa yang kita sampaikan kepada sensori peraba bayi akan terekam di dalam otaknya dan membantu dia menghubungkan jaringan sel-sel saraf yang ada di dalamnya. Akhirnya, pada sekitar usia 2 tahun ia mulai
bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

STIMULASI INDRA PENGECAP

Stimulasi indra pengecap pun sudah akrab dengan aktivitas sehari-hari si kecil, berikut beberapa di antaranya:

Menyusu ASI

Menyusu ASI merupakan salah satu cara merangsang indra pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.

Biarkan mengisap jari

Untuk menstimulasi indra pengecapnya biarkan bayi mengisap jari. Seperti diketahui, setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Sampai usia 7 bulan pun, kebiasaan mengisap jari pada bayi masih dianggap wajar. Setelah usia itu tentu kebiasaan ini mesti dihentikan.

Memberikan PASI

Selepas usia 6 bulan, mulailah bayi diperkenalkan dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indra pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.

Mainan gigitan

Bisa diberikan saat ia mulai memasukkan segala sesuatu
ke dalam mulutnya, yakni sekitar usia 6 bulan. Tentu saja perhatikan kebersihannya.

Ajak si kecil ngobrol saat kita memberinya stimulasi. Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Dengan berkomunikasi, orang tua juga akan menjalin kedekatan dengan anak. Namun, kelekatan tetap kurang terjalin bila sambil berbicara, pikiran orangtua berada entah di mana. Jadi, ajak bayi berbicara dengan tatapan mata. Saat memandikan, kita bisa ngobrol tentang air yang begitu dingin. ”Ih airnya dingin, ya..”
Dengan begitu, anak merasa bahwa kita berusaha berhubungan dengannya. Walau mungkin respons bayi belum terlihat, hanya menatap saja, misalnya, tapi itu sebenarnya menunjukkan kelekatan sudah terbangun

Stimulasi Gerak Silang

STIMULASI GERAK SILANG UNTUK KOORDINASI OTAK

Lakukan sambil bermain kala bayi telentang atau tengkurap.

Stimulasi gerak silang bisa dilakukan pada semua usia, tetapi sebaiknya dimulai di usia bayi. Alasannya, di usia bayi otak tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Jika stimulasi gerak silang diberikan mulai di usia ini, maka keseimbangan otak kanan dan kirinya lebih mudah diasah. Begitu pula koordinasi motoriknya.

Untuk bayi usia awal, stimulasi gerak silang diberikan kepada bayi dalam posisi ditelentangkan. Kemudian gerakkan kaki dan tangan si kecil secara bersilangan. Tangan kiri digerakkan bersamaan dengan kaki kanan, tangan kanan digerakkan berbarengan dengan kaki kiri. Inilah gerakan menyilang.

Perhatikan pula tahapan perkembangan yang sudah harus dicapai. Di akhir usia 3 bulan, misalnya, bayi sudah harus bisa membolak-balikkan badannya. Stimulasi gerak silang yang merangsang kekuatan otot tangan dan badan besar (trunk) dapat dimanfaatkan untuk meraih kemampuan itu. Dengan kata lain, stimulasi diberikan untuk mendapat apa yang tengah dibutuhkan si kecil. Jangan lupa, lakukan latihan sambil bermain.

Selain berupa rangsang gerak, latihan gerak silang bayi dapat dilakukan dengan memberi bayi rangsang raba, misalnya kelitiki tubuhnya perlahan. Stimulasi ini akan membuat kaki dan tangan bayi bergerak silang. Prinsipnya, stimulus gerakan tersebut bisa berupa suatu rangsang gerakan atau rangsang raba. Coba perhatikan, kalau salah satu kakinya diraba, saraf-saraf peraba di kakinya akan merespons dengan gerak refleks menghindar.

Setelah berusia 4 bulanan, bayi mulai berusaha mengambil benda yang ada di hadapannya dengan cara mengesot. Untuk menstimulasinya, perlihatkan mainan atau benda aman lainnya di hadapan bayi. Ketika Ia mulai beringsut, jauhkan sedikit demi sedikit benda yang menjadi incarannya. Lalu, biarkan bayi meraih benda itu sebagai reward bagi usahanya.

Secara tak langsung “alam” memang sudah mengondisikan otak kanan dan kiri bayi untuk melatih koordinasi mata dan gerak motoriknya. Fase koordinasi ini terbentuk agar si kecil dapat melakukan gerak silang yang lebih kompleks seperti mengesot tadi dan merangkak di usia 8-9 bulan.

Fase koordinasi awalnya dilakukan lewat perangsangan indra perabaan, pendengaran, dan penglihatan. Semua bentuk rangsang tersebut membentuk dasar-dasar kemampuan sensori. Ketika bayi sudah bisa mengoordinasikan semua hal tadi, barulah muncul kemampuan gerak. Gerak inilah yang akan merangsang kemampuan motorik untuk melakukan persepsi. Dengan cara ini bayi bisa mengartikan apa yang dia lihat, dia dengar, dia raba dan dia gerakkan, sebelum akhirnya masuk pada kemampuan konseptual dimana sel-sel saraf di otak sudah bisa berfungsi optimal.

Nah, stimulasi gerak silang di usia bayi selain bermanfaat dalam mengaktifkan hubungan otak kanan dan kiri, juga membantu koordinasi indra pendengaran, penglihatan, perabaan dan koordinasi motorik gerak bayi. Semakin berkembang otaknya, maka semakin optimal pula kemajuannya. Inilah yang kelak menjadi cikal bakal pembentukan kemampuan memori, konsentrasi, membaca, menulis, menghitung, berbahasa dan kemampuan lainnya di tahapan usia berikut.

PERSILANGAN OTAK

Otak atau pusat persarafan, terbagi menjadi dua bagian yaitu otak belahan kanan dan otak belahan kiri. Otak kanan berkaitan dengan kreativitas, intuisi dan seni. Dengan kata lain lebih mengarah ke abstraksi, imajinasi, dan konseptual. Sementara otak belahan kiri lebih terkait pada kemampuan menganalisis dan berpikir logis, mengarah pada sesuatu yang dihafal dan yang bersifat rutin. Kemampuan bahasa melibatkan fungsi kedua belahan tersebut. Otak belahan kiri lebih banyak bekerja untuk pembentukan struktur bahasa, sedangkan ide pemahaman akan bahasa dihasilkan oleh belahan otak kanan.

Ada benarnya jika dikatakan belahan otak kanan mengatur anggota tubuh bagian kiri dan otak belahan kiri mengatur anggota tubuh bagian kanan karena memang ada gerak silang seperti itu. Perlu diketahui, daras atau serabut-serabut saraf yang mempersarafi organ tubuh belahan kanan maupun kiri secara garis besar memiliki topografi yang bersilangan di otak. Artinya, serabut saraf yang mempersarafi organ kaki dan tangan sebelah kanan akan berhubungan dengan serabut persarafan di otak sebelah kiri. Begitu pula sebaliknya.

Namun, tak berarti belahan kanan dan kiri terpisah sama sekali. Karena tetap ada serabut-serabut saraf yang senantiasa berhubungan dengan belahan otak yang sama. Konkretnya, serabut saraf organ tubuh kanan tetap ada yang bersambungan dengan otak sebelah kanan. Meski jumlah serabut saraf yang berada di belahan yang sama tidak sebanyak saraf yang bersilangan. Ini sangat masuk akal karena jika serabut saraf yang saling bersilangan terpisah sama sekali dan tidak ada yang menyambung pada belahan yang sama, tentu tidak pernah akan ada titik temunya. Akibatnya, pastilah tak mungkin terjadi koordinasi.

Tersambungnya serabut-serabut saraf organ tubuh dengan belahan otak dari sisi yang sama memungkinkan belahan otak yang satunya lagi masih dapat mengambil alih fungsi untuk mengatur belahan tubuh yang sama saat ada sesuatu yang tak beres pada belahan otak yang bersebelahan.

NORMAL WALAU TIDAK MERANGKAK

Merangkak di usia bayi juga merupakan gerak silang yang dapat menstimulasi koordinasi gerak anggota tubuhnya. Kemampuan koordinasi ini tentu akan memengaruhi kemampuan koordinasi lainnya.

Akan tetapi baik Irawan maupun Vitri kurang setuju bila dikatakan bayi yang tidak mengalami fase merangkak akan menemui hambatan di usia besarnya. Vitri mencontohkan anak yang tidak cepat memberi respons saat menerima instruksi. Perjalanan ke arah itu cukup jauh sekali. Bukankah untuk bisa memahami instruksi, anak perlu konsentrasi? Sementara untuk bisa memahami arti instruksi itu sendiri, anak perlu menguasai bahasa reseptif. Jadi, kalau anak tak cepat memberi respons, sangat mungkin kendalanya ada di dalam salah satu prasyarat kemampuan tadi. Apakah mungkin persepsi auditorinya yang tak berkembang baik, ada saraf di otaknya yang bermasalah, atau berbagai kemungkinan lainnya.

Begitu pula anak mengalami gangguan koordinasi. Tentu bukan semata-mata karena dia tidak merangkak di usia bayi. Soalnya, ada begitu banyak kemungkinan lain yang menjadi faktor penyebab. Contoh, ada trauma yang menyebabkan salah satu saraf koordinasinya terganggu. Jadi, bukan berarti jika bayi tak melalui tahapan merangkak di usia 8-9 bulan, pasti akan berdampak langsung pada tingkat kecerdasannya kelak.

Namun, sebaiknya konsultasikan kondisi si kecil pada dokter anak, apakah tidak merangkak ini sebagai sesuatu yang normal atau abnormal. Kalau memang disebabkan gangguan tertentu, mau tidak mau gangguan itulah yang harus diatasi sebelum melanjutkannya dengan pemberian stimulasi yang sesuai.

Dedeh Kurniasih. Foto: Iman/NAKITA

Stimulasi Dini

Stimulasi Dini Biar Anak Lebih Pintar dan Kreatif

“Saya memanggil nama dan mengajak bicara Len Al sejak dalam kandungan. Kebiasaan itu terus kami lakukan setelah ia lahir. Saya sering membacakan buku, mengajak bermain, dan memuji tiap kali Len Al berhasil meraih mainannya. Saat di dapur, istri saya menunjuk dan menyebut nama benda yang dipegangnya, mengajak bermain dan bicara sambil menyuapi makanan.”

Leo leonidas MD FAAP

Kini Len Al (29), putra Leo Leonidas-Assistant Clinical Professor in Pediatrics Tufts University School of Medicine, Boston- sebagaimana diceritakan dalam Brainy-Child.com mengikuti jejak ayahnya, menjalani pendidikan dokter spesialis anak. Len Al cemerlang sejak sekolah dasar dan selalu jadi juara.

Pelbagai penelitian membuktikan bahwa memeluk, menyanyi, bermain, dan berbicara pada bayi bisa meningkatkan kecerdasan mereka.

Menurut dr Soedjatmiko SpA (K) MSi (Psi) dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam simposium sehari “Penyiapan Anak Sehat dan Berkualitas Sejak Dini”, Selasa (12/8), sel-sel otak janin terbentuk sejak tiga-empat bulan dalam kandungan dan berlanjut sampai anak berusia tiga-empat tahun. Jumlah sel otak tumbuh mencapai miliaran, tetapi belum ada hubungan antarsel. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel otak ditentukan stimulasi lingkungan.

“Hubungan ini mulai terbentuk saat janin berusia enam bulan. Makin bervariasi rangsangan yang diterima bayi dan balita, makin kompleks hubungan antarsel otak. Makin sering dan teratur rangsangan yang diterima, makin kuat hubungan antarsel otak. Makin kompleks dan kuat hubungan antarsel otak, makin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak,” ujar Soedjatmiko dalam simposium yang merupakan kerja sama Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional dan Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam rangka Hari Anak Nasional dan Pekan ASI Sedunia tahun 2003.

STIMULASI dini perlu dilakukan sejak bayi lahir, bahkan sejak janin enam bulan dalam kandungan. Rangsangan dilakukan tiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan), gerak kasar dan halus dari kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi serta merangsang perasaan yang menyenangkan, serta pikiran bayi dan balita.

Stimulasi disarankan dilakukan terus-menerus saat berinteraksi dengan bayi atau balita. Misalnya saat memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, berjalan-jalan, bermain, sampai menjelang tidur.

“Stimulasi harus dilakukan dalam suasana menyenangkan dan penuh kasih sayang. Ibu atau pengasuh harus peka terhadap isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, serta tidak memaksakan kehendak jika anak sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh harus menciptakan rasa aman dan nyaman, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberi penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberi koreksi dan bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau membuat kesalahan,” urai Soedjatmiko yang juga Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Stimulasi yang bervariasi dalam suasana yang menyenangkan akan memacu pelbagai aspek kecerdasan anak, seperti logika-matematik, emosi, komunikasi, bahasa, musikal, gerak, visuo-spasial, dan seni rupa.

Atau seperti yang dikemukakan Leonidas, makin dini sel otak atau neuron distimulasi makin banyak sinaps (hubungan antarneuron) yang terbentuk. Makin banyak sinaps neuron terbentuk makin mampu seseorang mengingat, belajar, bicara, berpikir, menghitung, dan lebih kreatif. (ATK)

Stimulasi Dini pada Bayi dan Balita Untuk Mengembangkan Kecerdasan Multipel dan Kreativitas Anak

1/22/2007

Apa yang dimaksud dengan kecerdasan multipel ?

Kecerdasan multipel (multiple inteligensia) adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak, antara lain verbal-linguistic (kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, diskusi, tulisan), logical-mathematical (kemampuan menggunakan logika-matematik dalam memecahkan berbagai masalah), visual spatial (kemampuan berpikir tiga dimensi), bodily-kinesthetic (ketrampilan gerak, menari, olahraga), musical (kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi, nada, melodi, irama), intrapersonal (kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri), interpersonal (kemampuan memahami dan menyesuaikan diri dengan orang lain), naturalist (kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan).

Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kualitas kecerdasan ?

Kecerdasan multipel dipengaruhi 2 faktor utama yang saling terkait yaitu faktor keturunan (bawaan, genetik) dan faktor lingkungan. Seorang anak dapat mengembangkan berbagai kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh lingkungan terus menerus.

Orangtua yang cerdas anaknya cenderung akan cerdas pula jika faktor lingkungan mendukung pengembangan kecerdasaannnya sejak didalam kandungan, masa bayi dan balita. Walaupun kedua orangtuanya cerdas tetapi jika lingkungannya tidak menyediakan kebutuhan pokok untuk pengembangan kecerdasannya, maka potensi kecerdasan anak tidak akan berkembang optimal. Sedangkan orangtua yang kebetulan tidak berkesempatan mengikuti pendidikan tinggi (belum tentu mereka tidak cerdas, mungkin karena tidak ada kesempatan atau hambatan ekonomi) anaknya bisa cerdas jika dicukupi kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja.

Apa kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan ?

Tiga kebutuhan pokok untuk mengembangkan kecerdasan antara lain adalah kebutuhan FISIK-BIOLOGIS (terutama untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik), EMOSI-KASIH SAYANG (mempengaruhi kecerdasan emosi, inter dan intrapersonal) dan STIMULASI DINI (merangsang kecerdasan-kecerdasan lain).

Kebutuhan FISIK-BIOLOGIS terutama gizi yang baik sejak di dalam kandungan sampai remaja terutama untuk perkembangan otak, pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan, dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Kebutuhan EMOSI-KASIH SAYANG : terutama dengan melindungi, menimbulkan rasa aman dan nyaman, memperhatikan dan menghargai anak, tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan tetapi lebih banyak memberikan contoh-contoh dengan penuh kasih sayang. Kebutuhan STIMULASI meliputi rangsangan yang terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua system sensorik dan motorik.

Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan sejak janin didalam kandungan karena akan saling berpengaruh. Bila kebutuhan biofisik tidak tercukupi, gizinya kurang, sering sakit, maka perkembangan otaknya tidak optimal. Bila kebutuhan emosi dan kasih sayang tidak tercukupi maka kecerdasan inter dan antar personal juga rendah. Bila stimulasi dalam interaksi sehari-hari kurang bervariasi maka perkembangan kecerdasan juga kurang bervariasi.

Apa itu STIMULASI DINI ? Apa manfaatnya ?

Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin 6 bulan di dalam kandungan) dilakukan setiap hari, untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak (kecerdasan multipel) yaitu kecerdasan : logiko-matematik, emosi, komunikasi bahasa (lingusitik), kecerdasan musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, senirupa dll.

Cara melakukan stimulasi dini

Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur.

Stimulasi untuk bayi 0 – 3 bulan dengan cara : mengusahakan rasa nyaman, aman dan menyenangkan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara atau musik bergantian, menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok (lingkaran atau kotak-kotak hitam-putih), benda-benda berbunyi, mengulingkan bayi kekanan-kekiri, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.

Umur 3 – 6 bulan ditambah dengan bermain ‘cilukba’, melihat wajah bayi dan pengasuh di cermin, dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, duduk.

Umur 6 – 9 bulan ditambah dengan memanggil namanya, mengajak bersalaman, tepuk tangan, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.

Umur 9 – 12 bulan ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, kakak, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.

Umur 12 – 18 bulan ditambah dengan latihan mencoret-coret menggunakan pensil warna, menyusun kubus, balok-balok, potongan gambar sederhana (puzzle) memasukkan dan mengeluarkan benda-benda kecil dari wadahnya, bermain dengan boneka, sendok, piring, gelas, teko, sapu, lap. Latihlah berjalan tanpa berpegangan, berjalan mundur, memanjat tangga, menendang bola, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah-perintah sederhana (mana bola, pegang ini, masukan itu, ambil itu), menyebutkan nama atau menunjukkan benda-benda.

Umur 18 – 24 bulan ditambah dengan menanyakan, menyebutkan dan menunjukkan bagian-bagian tubuh (mana mata ? hidung?, telinga?, mulut ? dll), menanyakan gambar atau menyebutkan nama binatang & benda-benda disekitar rumah, mengajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum mandi, main, minta dll), latihan menggambar garis-garis, mencuci tangan, memakai celana – baju, bermain melempar bola, melompat.

Umur 2 – 3 tahun ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat (besar-kecil, panas-dingin, tinggi-rendah, banyak-sedikit dll), menyebutkan nama-nama teman, menghitung benda-benda, memakai baju, menyikat gigi, bermain kartu, boneka, masak-masakan, menggambar garis, lingkaran, manusia, latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil / besar di toilet.

Setelah umur 3 tahun selain mengembangkan kemampuan-kemampuan umur sebelumnya, stimulasi juga di arahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain : memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, berhitung sederhana, mengerti perintah sederhana (buang air kecil / besar di toilet), dan kemandirian (ditinggalkan di sekolah), berbagi dengan teman dll. Perangsangan dapat dilakukan di rumah (oleh pengasuh dan keluarga) namun dapat pula di Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak atau sejenisnya.

Pentingnya suasana ketika stimulasi

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Pentingnya pola pengasuhan yang demokratik (otoritatif)

Oleh karena itu interaksi antara pengasuh dan bayi atau balita harus dilakukan dalam suasana pola asuh yang demokratik (otoritatif). Yaitu pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, artinya memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.

Mengapa stimulasi dini bisa merangsang kecerdasan multipel ?

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3 – 4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai umur 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antar sel, sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.

Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, maka semakin kuat maka hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari, bila dikembangkan terus menerus, sehingga anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (multiple inteligensia).

Bagaimana cara merangsang kecerdasan multipel ?

Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.

Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan komputer dll.

Kembangkan kecerdasan visual-spatial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.

Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.

Merangsang kecerdasan musikal dengan mendengarkan musik, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.

Melatih kecerdasan emosi inter-personal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerjasama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.

Melatih kecerdasan emosi intra-personal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.

Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.

Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka anak kita akan mempunyai kecerdasan yang multipel.

Bagaimana cara mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas dibutuhkan oleh manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kreativitas harus dikembangkan sejak dini. Banyak keluarga yang tidak menyadari bahwa sikap orangtua yang otoriter (diktator) terhadap anak akan mematikan bibit-bibit kreativitas anak, sehingga ketika menjadi dewasa hanya mempunyai kreativitas yang sangat terbatas.

Bagaimana peran orangtua utk mengembangkan kreativitas anak ?

Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu : mau mendengarkan omongan anak, menghargai pendapat anak, mendorong anak untuk berani mengungkapkannya. Jangan memotong pembicaraan anak ketika ia ingin mengungkapkan pikirannya. Jangan memaksakan pada anak bahwa pendapat orangtua paling benar, atau melecehkan pendapat anak

Orangtua harus mendorong anak untuk berani mencoba mengemukakan pendapat, gagasan, melakukan sesuatu atau mengambil keputusan sendiri (asalkan tidak membahayakan atau merugikan oranglain atau diri sendiri). Jangan mengancam atau menghukum anak kalau pendapat atau perbuatannya dianggap salah oleh orangtua. Anak tidaklah salah, mereka umumnya belum tahu, dalam tahap belajar. Oleh karena itu tanyakan mengapa mereka berpendapat atau berbuat demikian, beri kesempatan untuk mengemukan alasan-alasan. Berikanlah contoh-contoh, ajaklah berpikir, jangan didikte atau dipaksa, biarkan mereka yang memperbaikinya dengan caranya sendiri. Dengan demikian tidak mematikan keberanian mereka untuk mengemukakan pikiran, gagasan, pendapat atau melakukan sesuatu.

Selain itu orangtua harus mendorong kemandirian anak dalam melakukan sesuatu, menghargai usaha-usaha yang telah dilakukannya, memberikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Cara-cara ini merupakan salah satu unsur penting pengembangan kreativitas anak.

Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian disekeliling kita, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus menjawab dengan cara menyediakan sarana yang semakin merangsang anak berpikir lebih dalam, misalnya dengan memberikan gambar-gambar, buku-buku. Jangan menolak, melarang atau menghentikan rasa ingin tahu anak, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir dan mewujudkan gagasan anak dengan cara masing-masing. Biarkan mereka bermain, menggambar, membuat bentuk-bentuk atau warna-warna dengan cara yang tidak lazim, tidak logis, tidak realistis atau belum pernah ada. Biarkan mereka menggambar sepeda dengan roda segi empat, langit berwarna merah, daun berwarna biru. Jangan banyak melarang, mendikte, mencela, mengecam, atau membatasi anak. Berilah kebebasan, kesempatan, dorongan, penghargaan atau pujian untuk mencoba suatu gagasan, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Semua hal-hal tersebut akan merangsang perkembangan fungsi otak kanan yang penting untuk kreativitas anak yaitu: berfikir divergen (meluas), intuitif (berdasarkan intuisi), abstrak, bebas, simultan.

Ringkasan

    • Jika menginginkan anak dengan kecerdasan multipel harus dilakukan perangsangan sejak bayi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan), dengan mengajak berbicara, bermain untuk merangsang perasaan dan pikiran, merangsang gerak kasar dan halus pada leher, tubuh, kaki, tangan dan jari-jari.
    • Cara melakukan stimulasi harus disesuaikan dengan umur dan tahapan tumbuh -kembang anak. Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita, misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau kapanpun dan dimanapun ketika anda dapat berinteraksi dengan balita anda. Selanjutnya dapat ditambah melalui Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak dan sejenisnya.
    • Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat bayi, memperhatikan minat, keinginan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, menciptakan rasa aman dan nyaman, memberi contoh tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memberikan penghargaan atau pujian atas keberhasilan atau perilaku yang baik, memberikan koreksi bukan ancaman atau hukuman bila anak tidak dapat melakukan sesuatu atau ketika melakukan kesalahan.
    • Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak. Dengarkan omongan anak, dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak, jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak. Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan pujian untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak, jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain.

Stimulasi dan Nutrisi Bayi

Stimulasi dan Nutrisi Penting untuk Bayi

Jumat, 15 Oktober, 2004 oleh: Siswono
Stimulasi dan Nutrisi Penting untuk Bayi

Gizi.net – LEMAS – Seorang bayi, Aksamaldi (5 bulan), terbaring lemah dalam gendongan ibunya karena muntah dan buang air besar selama seminggu di kamp pengungsi Cot Gapu, Bireuen, NAD. Ia sempat dirawat dan menerima infus di rumah sakit selama 3 hari. Kondisi kamp di udara terbuka dan gizi yang kurang menyebabkan ia sakit.

KEBUTUHAN stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan suatu pengetahuan ataupun keterampilan baru ternyata sangat penting dalam peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat bernapas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan lainnya. Sedangkan stimulasi utama diberikan khusus untuk anak usia 0 – 7 tahun.

Di dalam perkembangan seorang anak, stimulasi merupakan suatu kebutuhan dasar. Stimulasi dapat berpe-ran untuk peningkatan fungsi sensorik (dengar, raba, lihat rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), emosi-sosial, bicara, kognitif, mandiri, dan kreativitas (moral, kepemimpinan). Selain itu, stimulasi juga dapat merangsang sel otak (sinaps). Demikian terungkap dalam diskusi dan workshop bertema “Enfa A+ Smart System: Perpaduan Stimulasi dan Nutrisi Menuju Kecerdasan Optimal”, di Jakarta, pekan lalu. Diskusi ini menghadirkan beberapa pembicara yaitu, Mayke S. Tedjasaputra (Psikolog dan Play Therapist), Hartono Gunardi (Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM), dan Soepardi Soedibyo (Konsultan Gizi Anak RSCM).

Seorang pembicara, Hartono Gunardi, mengatakan, sel otak pada bayi dibentuk semenjak 6 bulan masa kehamilan. Karena itu, proses stimulasi sudah bisa dan harus dilakukan semenjak usia janin 23 minggu. Dalam masa kehamilan, proses stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti rangsang suara (adanya efek Mozart), gerakan perabaan, bicara, menyanyi, dan bercerita.

Menurut Hartono, semakin dini dan semakin la-ma stimulasi itu dilakukan, maka akan semakin besar manfaatnya. Katanya, ada beberapa tahapan kegunaan dari proses stimulasi pada bayi ketika pertama kali dilahirkan. Pada usia bayi 0 – 6 bulan, penyesuaian dan persepsi ibu dapat terbentuk melalui proses stimulasi. Sedangkan, pada usia 0 – 36 bulan intelektual dan perilaku mulai terbentuk. Sementara pada usia 0 – 48 bulan, kognitif , dan 0 -96 bulan keahlian membaca dan menulis perlu dirangsang. “Stimulasi semenjak dini juga sangat diperlukan dalam merangsang perkembangan otak, baik itu otak kanan maupun otak kiri,” tambahnya.

Sementara itu, Psikolog dan Play Therapist, Mayke S Tedjasaputra, mengatakan, respons terhadap suara dan vibrasi tampaknya dimulai pada usia 26 minggu masa kehamilan dan meningkat sampai akhirnya menetap pada usia 32 minggu. Ia menceritakan, ada suatu penelitian yang meneliti tentang respons janin berusia 26 minggu yang diperdengarkan sebuah cerita secara terus menerus oleh ibunya.

Hasilnya, kata Mayke, di usia 3 hari setelah kelahirannya, bayi tersebut ternyata menghisap putting ibunya secara lebih aktif dibandingkan ketika mendengar dua cerita lain yang jarang diceritakan oleh ibunya. “Respons terhadap suara ibu pun lebih aktif bila dibandingkan respons terhadap suara-suara orang lain,” ujarnya melanjutkan cerita.

Menurut Mayke, usapan halus yang dilakukan di perut ibu yang sedang mengandung juga diperlukan untuk membuat janin merasa tenang. Katanya, bila janin banyak bergerak, seorang ibu dapat melakukan usapan lembut pada perutnya. Tetapi, sekalipun stimulasi untuk janin diperlukan, dalam pelaksanaannya haruslah dilakukan secara bijaksana. “Jangan sampai orang tua terlalu bersemangat menstimulasi janinnya sehingga lupa kebutuhan janin untuk beristirahat,” tambahnya

Dalam penjelasannya, Mayke menegaskan akan pentingnya bermain dalam proses stimulasi yang dilakukan pada anak. Sebab, menurut Mayke bermain adalah dunia kerja anak. “Nah dalam proses bermain inilah penyediaan waktu orang tua untuk menjadikan sarana bermain sebagai media efektif peningkatan kecerdasan anak sangat diperlukan,” tambahnya.

DHA-ARA

Di lain hal, Soepardi Soedibyo dalam penjelasannya, mengatakan akan pentingnya zat asam dokosaheksaenoat (DHA) dan asam arakhidonat (ARA) pada bayi. Menurutnya, zat DHA-ARA sangat diperlukan dalam proses perkembangan kecerdasan bayi, baik ketika masih didalam kandungan maupun setelah lahir.

Kandungan DHA dan ARA telah teruji secara klinis membantu perkembangan otak dan meningkatkan ketajaman penglihatan. “Ketika sebelum lahir, suplai zat ini diberikan oleh ibu melalui plasenta, sedangkan setelah lahir diberikan melalui Air Susu Ibu atau ASI,” ungkapnya. Oleh karena itu tambahnya, ASI merupakan satu hal yang penting bagi seorang ibu untuk diberikan kepada bayi. Menurutnya, bayi yang mendapatkan ASI, tingkat IQ atau kecerdasannya lebih baik.

Kematangan sistem imun pada bayi yang diberikan ASI juga lebih baik daripada formula biasa. “Sebab, kandungan DHA-ARA terdapat pada ASI, bukan pada susu sapi,” terangnya.

Soepardi menambahkan, proses pemberian ASI pada bayi yang paling baik adalah pada masa enam bulan pertama setelah lahir. Pada masa itu, kandungan LC-PUFA (asam lemak yang diperlukan pada saat pembentukan sel membran, otak dan penglihatan) cukup dipenuhi kebutuhannya bagi bayi. Bayi baru lahir tidak mampu mensintesiskan secara keseluruhan untuk kebutuhannya, sehingga perlu mendapat AA dan DHA yang berasal dari LC-PUFA dari ibu semasa kehamilan.

Selain berguna bagi bayi, pemberian ASI pada bayi dikatakan Soperdi sangat memberikan keuntungan pada seorang ibu. Risiko keganasan pada payudara, ovarium, dan uterus, maupun osteoporosis dapat dikurangi dengan memberikan ASI pada bayi. “Keuntungan yang lain adalah mempercepat penyembuhan sesudah melahirkan dan pengembalian berat badan,” tambahnya. (YAN/E-5)

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2004/10/14/index.html