Campak – Manifestasi Klinis-Tatalaksana

sumber : http://www.exomedindonesia.com/referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/kulit/2010/11/27/campak-manifestasi-klinis-tatalaksana/

Findra Setianingrum, MD

Manifestasi Klinis dan Diagnosis

Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing memiliki ciri khusus

Stadium prodormal

Berlangsung rata-rata 3 hari (2-4 hari), ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjuntivitis. Tanda patognomonik yaitu timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik.

Gambar 2.Bercak Koplik

Selama stadium prodormal, suhu meningkat bertahap dengan nilai 39.5ºC + 1.1ºC selama kurang lebih 4 hari. Gejala nasal merepresentasikan infeksi virus respiratori dan sama seperti yang terjadi pada nasofaringitis akut atau common cold. Bersin-bersin, rhinitis, dan kongesti ialah gejala yang umum.

Bercak Koplik biasanya berwarna putih di atas permukaan mukosa yang merah terang. Bercak Koplik pertama muncul di di depan mukosa bukal molar namun akan dengan cepat menyebar ke sebagian besar bukal dan mukosa labial bawah. Hal yang penting adalah latar belakang mukosa yang selalu merah terang dan granular, sehingga dapat dibedakan dari lesi normal pada permukaan mukosa yang pucat yang biasanya terdapat pada dewasa.

Stadium erupsi

Ditandai dengan timbulnya ruam makulopapular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ekstremitas. Eksantema biasanya terjadi pada puncak gejala respiratorik dan ketika suhu sekitar 39.5ºC. Saat itu, bercak Koplik mencapai puncaknya dan 3 hari berikutnya akan menghilang.

Stadium konvalesens

Setelah 3 hari ruam berangsur menghilang sesuai ututan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman, dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu.

Diagnosis

Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari, didikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan, dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak (bercak Koplik).

Meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya sama dan jelas. Sebagai contoh, pasien yang mengidap gizi kurang, ruamnya dapat sampai berdarah dan mengelupas atau bahkan pasien sudah eninggal sebelum ruam timbul. Pada kasus gizi kurang juga dapat terjadi diare yang berkelanjutan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang sekedar membantu; seperti pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi, dan pada pemeriksaan serologi didapatkan IgM spesifik. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal; diagnosis banding lainnya adalah rubela, demam skarlatina, ruam akibat obat-obatan, eksantema subitum dan infeksi Stafilokokus.

Komplikasi

Laringitis akut

Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran nafas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai dengan distres pernafasan, sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang.

Bronkopneumonia

Dapat disebabkan oleh virus campak maupun infeksi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanya ronki basah halus. Pada saat suhu turun, apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali batuk yang masih dapat berlanjut sampai beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya pneumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus. Gambaran infiltrat pada foto toraks dan adanya leukositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara sedang berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteri biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberi antibiotik.

Kejang Demam

Kejang dapat timbul pada periode demam, umumnya pada puncak demam saat ruam keluar. Kejang dalam hal ini diklasifikasikan sebagai kejang demam.

Ensefalitis

Merupakan penyulit neurologik yang paling sering terjadi, biasanya terjadi pada hari ke 4-7 setelah timbulnya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1000 kasus campak, dengan mortalitas antara 30-40%. Terjadinya ensefalitis dapat melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak. Gejala ensefalitis dapat berupa kejang, letargi, koma dan iritabel. Keluhan nyeri kepala, frekuensi nafas meningkat, twitching, disorientasi juga dapat ditemukan. Pemeriksaan cairan serebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan adar glukosa dalam batas normal.

Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE)

SSPE merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak yang sebelumnya pernah menderita campak adalah 0.6-2.2 per 100.000 infeksi campak. Risiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan masa inkubasi rata-rata 7 tahun. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan serebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) meningkat (1:1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6-9 bulan.

Enteritis

Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. Dapat pula timbul enteropati yang menyebabkan kehilangan protein (protein losing enteropathy).

Pengobatan

Pasien campak tanpa penyulit dapat berobat jalan. Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan pada campak dengan penyulit, pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campak dirawat di bangsal isolasi sistem pernafasan, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali, apabila terdapat malnutrisi diberikan 1500 IU tiap hari.

Apabila terdapat penyulit, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi penyulit yang timbul, yaitu:

Bronkopneumonia

Diberikan antibiotik ampisillin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin biasanya negatif (anergi) pada saat anak menderita campak. Gangguan reaksi delayed hipersensitivity disebabkan oleh sel limfosit-T yang terganggu fungsinya.

Enteritis

Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis+dehidrasi.

Ensefalopati/Ensefalitis

Perlu reduksi jumlah pemberian cairan hingga ¾ kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid berupa deksametason 1 mg/kg/hari sebagai dosis awal dilanjutkan 0.5 mg/kg/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik (bila pemberian lebih dari 5 hari dilakukan tappering off). Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.

Pencegahan

Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan pelaksanaannya pada tahun 1982.

Pata tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan (tipe Edmonstone B) dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminiun). Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat.

Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1.100 TCID-50 atau sebanyak 0.5 ml. Tetapi dalam hal vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID-50 saja mungkin sudah dapat memberikan hasil yang baik. Cara pemberian yang dianjurkan adallah subkutan, walaupun dari data yang terbatas dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular tampaknya mempunyai efektivitas yang sama dengan subkutan.

Referensi:

1. Satari H I, Hadinegoro S R S, dkk. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi 2. Jakarta: Bag.Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2002.
2. Departemen Ilmu kesehatan Anak RSCM. Panduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: 2007.
3. Cherry, JD. Measles Virus. In Feigin RD, Cherry JD, Demmler GJ, Kaplan SL. Textbook of Pediatric Infectious Disease Volume 2. 5th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2004. p. 2290-8.

Iklan

Zat Besi Anak Anda

sumber : Sumber : http://milissehat.web.id/?p=1391

Pernah terbersit dalam pikiran anda, mengapa begitu banyak produk makanan sereal dan susu formula diperkaya dengan zat besi? Besi adalah bahan yang dibutuhkan untuk membuat hemoglobin, komponen pembawa oksigen dari sel darah merah.
Sel darah merah akan bersirkulasi di seluruh tubuh untuk mensuplai oksigen ke semua sel dalam tubuh. Tanpa cukup zat besi, tubuh tidak dapat membuat sel darah merah yang cukup, dan jaringan dan organ tidak akan mendapatkan oksigen yang mereka butuhkan. Jadi, sangat penting untuk anak-anak dan remaja untuk mendapatkan cukup zat besi dalam makanan sehari-hari.
Berapa Banyak Zat Besi yang Dibutuhkan Anak?
Kebutuhan zat besi pada setiap anak berbeda pada setuap usia dan tahap perkembangan.  Berikut ini, jumlah zat besi yang harus di dapatkan oleh mereka, berdasarkan usia dan tahap perkembangan:
• Bayi yang masih mendapat ASI, cenderung memperoleh cukup zat besi dari ibu mereka sampai usia 4-6 bulan, saat MPASI misalnya sereal yang diperkaya zat besi biasanya diperkenalkan (meskipun ibu menyusui harus terus memberikan ASI). Untuk bayi yang memperoleh susu formula, sebaiknya mendapatkan susu formula yang kaya akan zat besi.
• Bayi usia 7-12 bulan membutuhkan 11 mg zat besi per hari. Sedangkan bayi yang usianya kurang dari 1 tahun, harus mendapatkan MPASI yang diperkaya dengan zat besi.
• Anak-anak berusia 1-12 tahun membutuhkan 70-10 mg zat besi setiap harinya.
• Anak remaja laki-laki harus mendapatkan 11 mg zat besi setiap harinya dan anak remaja perempuan harus mendapatkan 15 mg.  (Remaja adalah tahap dengan pertumbuhan yang cepat dan gadis-gadis remaja sangat membutuhkan pengganti zat besi untuk menggantikan kehilangan zat besi tiap bulannya ketika mereka mengalami menstruasi.)
• Atlet muda yang secara teratur melakukan olah raga berat cenderung kehilangan besi lebih banyak namun dapat memenuhi zat besi tambahan dalam makanan mereka.
Apa itu Defisiensi Besi?
Defisiensi besi (ketika persediaan zat besi dalam tubuh menjadi berkurang) bisa menjadi masalah bagi beberapa anak, terutama balita dan remaja (terutama gadis-gadis saat menstruasi setiap bulannya). Bahkan, banyak remaja putri beresiko kekurangan zat besi – walaupun sedang tidak berada pada masa menstruasi – jika makanan mereka tidak mengandung cukup besi untuk mengimbangi hilangnya sel darah merah yang mengandung besi selama menstruasi. Selain itu, atlet remaja kehilangan zat besi melalui berkeringat dan rute lain selama sedang melakukan aktivitas olahraga yang intensif.
Setelah usia 12 bulan, balita akan beresiko mengalami kekurangan zat besi karena mereka sudah tidak lagi minum susu formula yang diperkaya zat besi dan tidak lagi makan sereal bayi yang kaya akan zat besi atau makanan lain yang cukup mengandung zat besi.
Banyak minum susu sapi (sekitar 710 ml setiap hari) juga dapat membuat anak berisiko terhadap kekurangan zat besi. Ingin tahu kenapa:
• Susu sapi rendah akan zat besi.
• Anak-anak, terutama balita, apabila terlalu banyak minum susu sapi cenderung menjadi kurang lapar sehingga makanan yang kaya akan zat besi tidak di konsumsi.
• Susu akan mengganggu penyerapan zat besi dan juga bisa mengganggu lapisan pada usus, yang dapat menyebabkan sejumlah kecil perdarahan sehingga zat besi akan hilang melalui tinja/kotoran.
Kekurangan zat besi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan berpotensi untuk menyebabkan gangguan belajar dan perilaku. Dan hal tersebut akan berlanjut menjadi anemia defisiensi besi (berkurangnya jumlah sel darah merah dalam tubuh).
Banyak orang dengan anemia defisiensi besi tidak memiliki tanda dan gejala karena itu pasokan besi tubuh habis secara perlahan-lahan. Namun, selama anemia berlangsung, beberapa gejala dapat muncul:
• Kelelahan dan kelemahan
• Kulit dan selaput lendir yang pucat
• Detak jantung yang cepat atau munculnya bunyi jantung yang baru (diketahui melalui  pemeriksaan dokter)
• Menjadi lekas marah
• Menurunnya nafsu makan
• Mengeluhkan pusing atau perasaan pusing
Jika anak Anda memiliki gejala-gejala tersebut, konsultasikan dengan dokter Anda, yang mungkin akan menyarankan anda untuk melakukan tes darah sederhana untuk mencari terjadi defisiensi zat besi, dan dapat memberikan resep suplemen zat besi. Namun, karena konsumsi zat besi yang berlebihan juga dapat menyebabkan masalah kesehatan, maka anda tidak boleh memberi anak anda suplemen besi tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter anda.
Zat Besi di Dalam Makanan Setiap Hari
Meskipun besi dari sumber daging lebih mudah diserap oleh tubuh daripada besi yang berasal  dari makanan nabati, semua makanan yang kaya zat besi dapat membuat diet lebih bergizi:
• Daging merah
• Unggas
• Ikan tongkol
• Ikan salmon
• Telur
• Tahu
• Gandum
• Kacang kering dan kacang polong
• Buah kering
• lSayuran hijau
• Cereals

Berikut adalah cara lain anda dapat memastikan anak-anak mendapatkan cukup zat besi:
• Batasi asupan susu mereka sekitar 473-710 ml/hari.
• Tetap berikan sereal yang diperkaya zat besi melayani sampai anak-anak berusia 18-24 bulan.
• Sajikan makanan yang kaya zat besi bersama makanan yang mengandung vitamin C – seperti tomat, brokoli, jeruk, dan stroberi. Vitamin C berfungsi untuk meningkatkan penyerapan zat besi.
• Hindari kopi atau teh pada saat makan – keduanya mengandung tanin yang dapat mengurangi penyerapan zat besi.
• Jika Anda memiliki anggota keluarga yang seorang vegetarian, memantau atau dia diet untuk membuatnya memperoleh besi yang cukup. Karena besi dari sumber daging lebih mudah diserap dari besi dari sumber tanaman, Anda mungkin perlu menambah makanan yang diperkaya zat besi untuk diet vegetarian.
Sediakanlah bahan makanan yang diperkaya dengan zat besi, terutama terhadap bahan makanan yang digunakan setiap harinya. Dan pastikan untuk mengajarkan kepada anak-anak bahwa besi merupakan bagian penting dan sehat yang harus berada dalam bahan makanan. (olien)
Sumber : http://www.kidshealth.com

Pengobatan Dokter Indonesia Harus Didasarkan Bukti Ilmiah

sumber : http://health.detik.com/read/2011/04/19/121659/1620554/763/pengobatan-dokter-indonesia-harus-didasarkan-bukti-ilmiah?l991101755

Pengobatan Dokter Indonesia Harus Didasarkan Bukti Ilmiah

*AN Uyung Pramudiarja* – detikHealth

*Jakarta,* Sebagai profesi yang memiliki otonomi, dokter bebas menentukan
sendiri jenis terapi maupun obat yang akan diberikan pada pasien. Meski
begitu, setiap pilihan harus didasarkan pada bukti ilmiah sesuai
konsep *evidence
based medicine*.

Untuk menyeragamkan pengetahuan para dokter tentang perkembangan ilmu
pengetahuan di bidang medis, seluruh fakultas kedokteran dan rumah sakit
se-Indonesia membentuk sebuah jaringan riset ilmiah. Jaringan ini dinamakan
*Indonesian Clinical Epidemology and Evidence Based Medicine* (ICE-EBM)
Network.

“Muaranya nanti adalah setiap dokter mengetahui manajemen diagnosis yang
benar,” ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes), Dr Trihono, MSc dalam peresmian yang dilakukan di Gedung
Kementerian Kesehatan, Selasa (19/4/2011).

Manajemen diagnosis yang benar yang dimaksud Trihono adalah berdasarkan
bukti ilmiah paling mutakhir, bukan keputusan subyektif masing-masing
dokter. Otonomi yang dimiliki oleh setiap dokter memungkinkan adanya
perbedaan manajemen diagnosis dan terapi antara dokter yang satu dengan yang
lain.

Trihono mengakui, perbedaan standar pengobatan sangat mungkin terjadi
mengingat kualitas dokter di Indonesia sangat beragam. Dari sekian banyak
rumah sakit dan fakultas kedokteran di Indonesia, tidak semuanya memiliki
akses yang baik untuk memutakhirkan pengetahuan para dokternya.

Sementara itu, *Vice President* ICE-EBM Network Prof Iwan Dwiprahasto
mengatakan setiap dokter perlu mengetahui perkembangan terkini di bidang
kedokteran. Hingga kini, masih ada dokter menerapkan teori-teori yang benar
di masa lalu namun sudah tidak relevan pada masa kini.

“Pengetahuan terus berkembang. Dulu dokter tahunya kalau demam dikompres air
dingin, sekarang justru dengan air hangat. Juga soal diagnosis, dulu untuk
mendiagnosis typus dokter cukup memakai metode WIDAL tapi sekarang sudah
tidak sesuai,” ungkap Prof Iwan.

Dengan terbentuknya ICE-EBM Network yang rencananya hari ini akan diresmikan
oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Prof Iwan berharap
pertemuan-pertemuan maupun riset ilmiah di seluruh fakultas kedokteran dan
rumah sakit bisa lebih terkoordinir. Dengan demikian, pengetahuan para
dokter bisa lebih diseragamkan.

KAPAN GIGI BAYI TUMBUH?

sumber : http://bayidananak.com/2008/11/20/kapan-gigi-bayi-tumbuh/

Sampai usia 2 tahun anak punya 20 gigi susu.
Pertumbuhan gigi bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, tepatnya
sejak janin berusia 4 minggu sampai bayi lahir. Pertumbuhan ini masih
berlangsung di dalam rahang dan tak terlihat dari luar.

Proses munculnya gigi ke permukaan menembus gusi tidak bisa diukur
lamanya. Sampai di mana posisinya pun hanya bisa dilihat dengan foto
rontgen. Namun biasanya, gigi pertama muncul sejak usia sekitar 6 bulan
sampai 12 bulan. Mula-mula yang tumbuh adalah mahkota gigi yang berwarna
putih dengan lapisan luar emailnya, lalu berikutnya ada dentin, dan
berikutnya lagi adalah pulpa yang menjadi tempat saraf dan pembuluh
darah. Paling akhir yaitu akar gigi.

Satu satu yang memengaruhi waktu kemunculan gigi adalah asupan kalsium
selagi ibu hamil. Namun, tidak berarti ibu yang lebih banyak mengonsumsi
kalsium akan melahirkan bayi dengan pertumbuhan gigi yang lebih cepat.
Bagaimanapun juga, daya serap kalsium setiap janin berbeda-beda. Selain
itu, asupan kalsium pun dibutuhkan oleh pembentukan dan pertumbuhan
tulang.

DUH GATAL!

Pada setiap anak, gejala yang timbul saat tumbuh gigi berbeda-beda atau
individual. Reaksinya tergantung pada daya tahan tubuh dan ketahanan
akan rasa sakit. Gejala umum yang ditemui antara lain :

* Gatal pada gusi

Ini paling sering dialami. Rasa gatal ini membuat anak sering menggigit
benda yang dipegangnya. Untuk mengatasinya berikan biskuit bayi yang
agak keras tapi akan hancur terkena air liur, sehingga tidak
membahayakan. Atau bisa juga diberi mainan khusus bayi untuk
digigit-gigit yang aman dari zat beracun.

* Rewel

Keadaan gatal pada gusi membuat bayi merasa tak nyaman. Akibatnya bayi
yang baru tumbuh gigi hampir selalu rewel.

* Gusi tampak kemerahan

* Tidak nafsu makan

Perasaan tak enak di mulut karena tumbuh gigi bisa membuat anak malas
makan atau mengunyah. Meski demikian anak tetap harus makan.

* Demam

Biasanya tidak sampai demam tinggi. Bila demamnya cukup tinggi, bawalah
anak ke dokter untuk mengecek apakah demamnya memang disebabkan akan
tumbuh gigi atau ada penyebab lain.

BARU LAHIR, EH, PUNYA GIGI

Erupsi gigi susu yang terjadi lebih dini termasuk kelainan pertumbuhan
dan perkembangan gigi. Contohnya, bayi yang pada saat lahir sudah
memiliki gigi (istilahnya gigi natal). Tumbuhnya tidak tentu, di bagian
depan atas atau bawah tapi jarang di bagian belakang. Banyaknya satu
buah. Ada juga erupsi gigi dini yang terjadi baru pada bulan pertama
setelah kelahiran (istilahnya gigi neonatal). Pada kasus keduanya, belum
tentu bayi mengalami gejala sakit tumbuh gigi.

Penanganan dilakukan dengan melihat apakah gigi erupsi dini mengganggu
atau tidak. Jika tidak, maka akan dibiarkan.

GIGI TETAP

Gigi tetap pertama biasanya muncul di usia 6 tahunan. Oleh karenanya,
paling baik kalau gigi susu tanggal ketika gigi tetap penggantinya sudah
teraba atau terlihat. Gigi susu harus dipertahankan karena merupakan
penuntun erupsi bagi gigi tetap. Jika gigi susu copot sebelum waktunya
gigi tetap keluar, maka gigi geligi “tetangganya” akan bergeser mengisi
sebagian kavling yang kosong. Akibatnya, gigi tetap tumbuh tidak pada
tempatnya alias berantakan.

Dedeh Kurniasih

Konsultan ahli:
drg. Eva Fauziah, Sp.KGA
pengajar Fakultas Kedokteran Gigi UI

AGAR GIGI CEPAT TUMBUH

* Latih anak menggigit biskuit bayi yang gampang lumer. Jika bayi sudah
kenyang, gunakan mainan gigit-gigitan yang aman. Dengan menggigit, gigi
di dalam akan menekan gusi, sehingga mempercepat proses keluarnya.

* Berikan makanan bernutrisi sesuai aturan, yaitu dari semipadat di usia
6 bulan menjadi semi padat dan padat di usia 1 tahun. Nutrisi yang baik
berguna untuk tumbuh kembang dan merangsang pertumbuhan gigi dari dalam.

Kapan Gigi Bayi Tumbuh

sumber :http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=58

Gigi bayi mulai terlihat, pada usia yang berbeda-beda pada setiap bayi dan kadang-kadang memerlukan waktu yang agak lama sebelum mulai terlihat.

Pada usia tiga tahun kebanyakan anak-anak akan mempunyai semua gigi pertamanya atau gigi susu 20bh. Jika bayi anda mencapai usia dua belas bulan dan belum mempunyai gigi pertamanya, sebaiknya anda konsultasikan dengan dokter gigi anda.

Pertumbuhan gigi pada setiap bayi sangat bervariasi dan tidak ada dua orang anak akan mempunyai jadwal pertumbuhan gigi yang sama.

Tanda-tanda yang dapat dilihat bahwa si kecil anda sedang bertumbuh gigi pertamanya:

• Lebih rewel.
• Menangis di waktu malam.
• Air liur yang berlebihan.
• Memasukkan jari tangan, mainan, dll ke dalam mulut.
• Gusi bengkak, merah.
• Meningkatnya permintaan ASI atau Susu botol.
• Menolak minum ASI atau Susu botol karena mengisap menimbulkan rasa sakit.
• Napsu makan berkurang.
• Tidur terganggu.

Catatan penting yang perlu diingat: Pertumbuhan gigi TIDAK menyebabkan Deman tinggi, masalah tidur, diare, atau pertahanan tubuh yang rendah terhadap infeksi. Mempercayai mitos ini dapat menyebabkan penanganan masalah penyakit yang sesungguhnya menjadi tertunda atau suatu penyakit yang serius dapat menjadi terlambat terdiagnosa.

© Dr. Suririnah -www.infoibu.com

Gigi

sumber : http://www.wyethindonesia.com/$$Gigi.html?menu_id=126&menu_item_id=6

Pertumbuhan gigi pertama sang bayi adalah peristiwa yang sangat menyenangkan setiap orangtua. Peristiwa ini adalah tonggak pertumbuhan, sama halnya seperti berjalan dan berbicara. Tentunya setiap orangtua ingin gigi-geligi anaknya kuat dan sehat. Dokter gigi dan para ahli kesehatan dapat dimintai saran tentang cara merawat gigi yang baik.

Situs ini menyajikan informasi dasar tentang cara pemberian makan yang benar serta perawatan kesehatan gigi yang baik. Informasi ini sama sekali bukan untuk menggantikan saran-saran dari para ahli kesehatan.

Gigi pertama anak anda (disebut juga gigi susu atau gigi primer) adalah pembuka jalan bagi serangkaian gigi dewasa yang kuat dan sehat. Kebanyakan bayi memiliki 1 atau 2 gigi pada usia 7 bulan. Oleh karena laju pertumbuhan anak bervariasi, tidak perlu dipermasalahkan apakah gigi pertamanya tumbuh sebelum atau sesudah ia berusia satu tahun. Sebagian besar gigi susu anak anda telah bertumbuh ketika ia berumur antara 2,5 sampai 3 tahun.
– Meneteskan air liur lebih dari biasanya
– Pipi bersemu merah
– Sulit tidur
– Gelisah
– Mengunyah atau menggigit-gigit benda keras

Apabila permukaan gusi anak anda kelihatan pecah-pecah sebelum gigi pertama tumbuh, inilah pertanda bahwa gigi-geliginya beresiko mengalami pembusukan. Pembusukan gigi terjadi ketika bakteri dalam mulut memanfaatkan beberapa jenis karbohidrat, terutama gula, untuk memproduksi zat asam. Zat asam ini menyerang enamel gigi (bungkus luar yang keras) sehingga struktur gigi melemah dan gampang sekali membusuk.

Air liur berperan penting mencegah pembusukan dengan cara membersihkan gigi dari karbohidrat dan asam. Air liur pun membantu memperkuat dan memperbaiki gigi.

Karbohidrat berbentuk gula sangat diperlukan dalam makanan bayi karena merupakan sumber energi penting bagi pertumbuhan yang sehat. Gula berbentuk laktosa terdapat dalam air susu ibu, air susu sapi, dan dalam hampir semua susu formula bayi. Susu formula kedelai dan susu formula bebas-laktosa mengandung karbohidrat pengganti, misalnya sukrosa, maltodekstrin, atau sirup jagung padat.

Perlu diingat juga, semua makanan dan minuman yang mengandung gula apa saja dapat menimbulkan pembusukan gigi. Semakin sering terjadi kontak antara zat ini dengan gigi, dan semakin lama menempel di gigi, makin besar pula resiko terjadinya pembusukan. Oleh karena itu, perawatan kesehatan gigi secara benar adalah sama pentingnya bagi bayi, anak-anak dan orang dewasa.

Tak lama setelah gigi pertama tumbuh, mungkin anda mulai mengenalkan makanan padat kepada bayi sebagai bagian dari proses menyapih. Mulai saat ini dan seterusnya, makanan bayi semakin bervariasi. Gula terdapat dalam berbagai jenis makanan, terutama buah-buahan dan jus buah. Selain itu terdapat juga dalam susu dan produk olahannya, serta dalam berbagai sayuran.

Beberapa jenis makanan lain, seperti misalnya serealia yang diolah untuk sarapan serta makanan manis (contohnya, kue kering, bolu, dan es krim) diberi tambahan gula. Untuk mengurangi resiko pembusukan gigi, sebaiknya makanan yang ditambahi gula hanya diberikan pada jam makan saja. Bersihkanlah gigi bayi sesudah makan.

Ketika bayi memasuki masa sapih, saat itulah anda mulai meletakkan fondasi kuat untuk kesehatan gigi dengan cara memberikan makanan seimbang dan bervariasi. Perhatikanlah petunjuk-petunjuk berikut ini yang dapat membantu anda mengontrol kontak gigi bayi dengan gula sehingga risiko pembusukan berkurang:

– Secepat mungkin ajarilah bayi minum dari training cup (gelas untuk berlatih minum). Biasanya mulai usia 6 bulan atau setelah gigi pertama tumbuh.
– Jangan biarkan bayi menghirup dari botol atau gelas terlalu lama karena hal ini justru memperlama kontak antara gigi dan gula. Dengan alasan yang sama, jangan gunakan botol susu sebagai pengganti dot/empeng dan jangan membiarkan bayi tertidur selagi minum dari botol. Tertidur selagi minum dari botol juga mengandung resiko tersedak.
– Jangan minum dari botol setelah berusia 12 bulan kecuali ahli kesehatan menyarankan demikian.
– Jangan menambahkan gula atau zat padat lainnya dalam botol susu.
– Jangan mencelupkan dot dalam cairan bergula.
– Pada waktu bayi memasuki masa sapih, berikan dia makanan yang seimbang dan bervariasi.
– Batasi makanan dan minuman yang ditambahi gula.
– Batasi pemberian makanan dan minuman yang ditambahi gula hanya pada jam makan saja; makanan manis diberikan sebagai penutup (dessert) segera sesudah makan. Jangan memberikan cemilan yang terlalu manis/bergula.
– Jika bayi merasa haus diantara jam makan, berikanlah air putih matang yang telah didinginkan. Kalau dia menolak, tambahkan satu atau dua tetes jus buah ke dalamnya.

Kebiasaan merawat gigi dengan baik seharusnya ditanamkan sedini mungkin. Dengan demikian gigi tetap sehat dan kuat, sekaligus meletakkan dasar yang baik untuk gigi permanen. Gigi harus disikat karena sisa makanan atau minuman yang mengendap disitu dapat menimbulkan pembusukan.

Ketika gigi bayi sudah tumbuh, anda perlu melindungi gusinya dengan cara menggosoknya perlahan-lahan dengan kain, kapas, atau jari yang bersih. Sekitar usia 6 atau 7 bulan, anda dapat memijat gusinya secara hati-hati dengan sikat gigi khusus. Bentuknya seperti sikat gigi biasa tetapi ujung bulunya terbuat dari karet dan dirancang sedemikian rupa untuk membiasakan bayi terhadap stimulasi sebuah sikat gigi. Sikat ini bisa digigit-gigit bayi menjelang tumbuhnya gigi pertama; akan tetapi jangan biarkan dia menggigit-gigit tanpa pengawasan untuk mencegah resiko tertelan.

Begitu tumbuh, gigi bayi bisa mulai dibersihkan. Gunakan kain lembut atau kapas untuk membersihkan gigi pertama. Ketika jumlahnya sudah 2 atau lebih, gunakan sikat gigi bayi yang lembut dengan secolek pasta gigi bayi. Konsultasikan dengan dokter gigi atau ahli kesehatan sebelum menggunakan pasta gigi yang mengandung fluorida.

Sikatlah dengan hati-hati; gusi bayi masih sangat lembut dan gampang terluka. Bagian depan, belakang, dan sela-sela gigi beserta permukaan gusi untuk menggigit, semuanya harus dibersihkan. Selalu perhatikan, apakah ada gigi baru yang tumbuh.

Apabila giginya masih 1 atau 2 cukup dibersihkan sehari sekali, tetapi  lebih dari itu sebaiknya disikat 2 kali sehari.

Bersihkan gigi bayi pada waktu malam sesudah makan terakhir. Bila dia merasa haus dimalam hari, cukup berikan air matang yang dingin.

Fluorida adalah mineral yang terdapat dalam lapisan enamel gigi dan berfungsi memperkuat sehingga gigi tidak mudah busuk. Ada beberapa jenis fluorida yang digunakan untuk melindungi gigi. Seharusnya air minum lokal juga mengandung fluorida dalam kadar yang melindungi. Bila mineral ini tidak terdapat di dalamnya maka biasanya dokter gigi menyarankan penggunaan suplemen fuorida (pada umumnya dalam bentuk tetes atau tablet). Jangan campur suplemen ini dalam susu bayi karena hal itu justru menghambat penyerapan fluorida.

Sebagai bahan tambahan dalam pasta gigi, fluorida diketahui mencegah karies gigi. Akan tetapi, kelebihan fluorida dapat menimbulkan fluorosis yaitu keadaan dimana enamel gigi berbercak-bercak secara permanen. Anak-anak dibawah 2 tahun sangat beresiko mengalami fluorosis karena refleks menelan mereka belum terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, sebaiknya anda berkonsultasi dengan ahli kesehatan tentang penggunaan pasta gigi yang mengandung fluorida secara tepat ketika anak masih bayi.

Sebaiknya anda memeriksakan gigi bayi secara teratur sejak dini untuk memastikan kesehatan dan kebenaran posisinya. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan oleh dokter anak atau dokter gigi sejak gigi pertama tumbuh. Sebaiknya pemeriksaan gigi dilakukan setiap 3 sampai 6 bulan sekali, kecuali dokter memberi saran lain.

Q & A dan tips seputar epilepsi pada anak

sumber :http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.asp?q=200962394110

Epilepsi merupakan problem neurologi kronis yang cukup banyak dialami anak-anak, akan tetapi masyarakat masih kurang mendapat pengetahuan yang benar tentang epilepsi pada anak. Berikut ini adalah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang tua ketika anaknya didiagnosis epilepsi :

Q : Mengapa anak saya dikatakan epilepsi, setahu saya epilepsi atau ayan itu kejangnya sampai mengeluarkan busa dari mulut.

A : Epilepsi adalah kejang berulang 2 kali atau lebih tanpa penyebab. Sebelum kejang anak masih beraktifitas seperti biasa, setelah kejang anak juga kembali beraktifitas seperti biasa. Kejang pada epilepsi tidak harus kejang kelojotan dan mengeluarkan busa, serangan kejang dapat berupa kaku di seluruh tubuh, kejang kaku/kelojotan sebagian lengan atau tungkai bawah, kedutan di sebelah mata dan sebagian wajah, hilangnya kesadaran sesaaat (anak tampak bengong/seperti melamun), tangan atau kaki tiba-tiba tersentak atau anak tiba-tiba jatuh seperti kehilangan tenaga. Gejala klinis kejang sangat tergantung dari area otak yang menjadi fokus kejang. Oleh karena itu kita harus curiga anak mengindap epilepsi bila anak mendapat serangan yang berulang tanpa sebab.

Q : Apakah anak saya sudah dikatakan epilepsi jika baru 1 kali mengalami kejang tanpa penyebab ? (first unprovoked seizure)

A : Jika baru 1 kali mengalami kejang tanpa penyebab belum dapat dikatakan epilepsi. Akan tetapi pemberian obat antiepilepsi akan dipertimbangkan jika risiko berulangnya kejang cukup besar yang dapat dilihat dari pemeriksaan EEG yang tidak normal (banyak fokus kejang) atau anak walaupun baru 1 kali mengalami kejang tapi kejang berlangsung lama (lebih dari 30 menit).

Q : Keluarga besar saya dan suami tidak ada keturunan epilepsi, mengapa anak saya bisa menderita epilepsi ?

A : Faktor genetik memang berperan dalam epilepsi, akan tetapi tidak semua jenis epilepsi menunjukkan faktor genetik sebagai penyebab. Pada anak dengan gangguan perkembangan otak, pernah mengalami perdarahan di kepala, riwayat radang otak, radang selaput otak dsb dapat terjadi kerusakan sel-sel saraf di otak. Sel-sel saraf yang rusak itulah yang suatu saat dapat menjadi fokus timbulnya kejang pada epilepsi.

Q : Apakah diagnosis epilepsi pada anak saya sudah pasti? Karena dokter mengatakan EEG anak saya normal.

A : Jika seorang anak mengalami kejang berulang 2 kali atau lebih pada episode yang berbeda dan tidak ada penyebab lain (unprovoked seizure), maka anak tersebut sudah dikatakan epilepsi. Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) terutama untuk melihat fokus kejang berasal dari otak sebelah mana (kanan/kiri, bagian depan/samping/belakang) , adakah penyebaran kejang ke daerah lain di otak serta untuk melihat jenis epilepsi. Semuanya bermanfaat untuk menentukan obat antiepilepsi yang akan diberikan, jenis epilepsi, dan menentukan prognosis (perjalanan penyakit epilepsi itu sendiri) di kemudian hari. Hasil EEG dapat normal, dikarenakan rekaman dilakukan lebih dari 2 hari setelah serangan, rekaman hanya dilakukan dalam 20 – 30 menit, dan prognosis anak dalam pengobatan baik

Q : Berapa lama anak saya harus minum obat?

A : Sebagian besar jenis epilepsi pada anak memerlukan pengobatan sampai 2 tahun bebas kejang dari kejang yang terakhir, jadi bukan 2 tahun minum obat. Hal ini sudah dibuktikan oleh banyak penelitian dan literatur bahwa angka kekambuhan kejang akan semakin kecil jika anak minum obat sampai 2 tahun bebas kejang dibandingkan hanya minum obat sampai 1 tahun bebas kejang.

Q : Berapa macam obat epilepsi yang harus diminum ?

A : Dokter akan memberikan 1 macam obat epilepsi terlebih dahulu dimulai dari dosis minimal. Jika kejang masih ada, dokter akan menaikkan dosis secara bertahap sampai dosis optimal yang dapat mengontrol kejang. Dosis optimal akan terus dipertahankan sampai 2 tahun bebas kejang, dosis akan disesuaikan jika terdapat kenaikan berat badan anak. Jika dengan 1 macam obat (dosis maksimal) kejang masih ada, dokter akan memberikan obat antiepilepsi kedua sebagai tambahan.

Q : Apakah obat epilepsi tidak menimbulkan ketergantungan karena dikonsumsi dalam waktu yang lama ?

A : Obat antiepilepsi tidak termasuk golongan obat hipnotik-sedatif atau obat narkotik sehingga tidak akan menimbulkan ketergantungan. Selama minum obat antiepilepsi dokter akan melakukan pemantauan efek samping obat dengan melihat gejala efek samping, pemeriksaan darah lengkap, fngsi hati, fungsi ginjal. Pemberian obat antiepilepsi diberikan setelah dipertimbangkan bahwa keuntungan lebih banyak dibanding kerugiannya.

Q : Apakah anak saya harus minum obat seumur hidup ?

A : Sebagian besar tidak.Hampir 70% pasien epilepsi anak dapat terkontrol dengan obat antiepiulepsi. Ada jenis epilepsi tertentu (Juvenile myoclonic epilepsy) yaitu seorang anak di atas usia 5 tahun dengan serangan kaget seluruh tubuh yang sering berulang, anak ini memerlukan pengobatan seumur hidup. Jenis epilepsi yang berat juga memerlukan pengobatan yang lebih lama dengan lebih dari 1 macam obat antiepilepsi.

Q : Apa saja yang harus diperhatikan selama anak saya minum obat epilepsi ?

A : Keteraturan minum obat sangat penting. Jika obat harus diminum 2 kali sehari, berarti jarak minum obat adalah 12 jam, demikian juga jika dosis obat 3 kali sehari, maka interval pemberian obat adalah 8 jam. Jika kita lupa memberi obat, maka berikan sesegera mungkin begitu kita teringat, jangan menunggu keesokan harinya. Lihat tips pengobatan epilepsi dibawah.

Q : Apakah ada makanan yang perlu dipantang selama minum obat anti epilepsi ?

A : Tidak ada makanan yang perlu dipantang.

Q : Apa yang dapat menyebabkan anak saya kejang, walaupun anak saya sudah minum obat teratur?

A : Beberapa keadaan yang harus diwaspadai dapat merangsang kejang: a. Panas tinggi di atas 39 0C. b. Muntah-muntah berulang. c. Diare lama yang menyebabkan dehidrasi. d. Anak terlalu lelah. e. Emosi anak yang berlebihan.

Tips pengobatan epilepsi

1. Pastikan anak anda minum obat secara teratur. Penghentian obat tiba-tiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus.
2. Jika satu dosis terlewat/lupa, segera minum obat tersebut begitu teringat kembali.Tanyakan pada dokter anda apa yang harus dilakukan jika anak lupa minum satu dosis obat.
3. Tanyakan kepada dokter apa yang harus anda kerjakan bila anak kejang. Ajarkan kepada anggota di rumah.
4. Diskusikan obat-obat atau vitamin lain yang diberikan dengan dokter anda apakah bisa mempengaruhi kerja OAE (Obat Anti Epilepsi). Obat seperti dekongestan, asetosal dan obat herbal bisa berinteraksi dengan OAE.
5. Jangan ganti OAE dari merk paten ke obat generik tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena perbedaan pemrosesan obat dapat mempengaruhi metabolisme OAE dalam tubuh.
6. Anak penderita epilepsi sebaiknya memakai tanda pengenal
7. Jika OAE diminum ketika anak berada di sekolah, beritahukan guru maupun pengawas mengenai hal tersebut.
8. Bawakan di tas sekolah obat penghenti kejang yang diberikan melalui dubur. Beritahukan adanya obat tersebut kepada guru di sekolah.
9. Hindari habisnya persediaan OAE dengan menyediakan obat cadangan untuk 2 minggu.
10. Simpan OAE di tempat yang sulit dijangkau anak kecil.
11. Untuk anak yang sudah besar, jam dengan alarm pengingat waktu minum obat dilengkapi dengan kotak obat akan sangat bermanfaat.
12. Bagi OAE dalam beberapa dosis untuk pemakaian seharí, hal ini memudahkan ketika anak menginap di luar rumah.
13. Sangat penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. Pencetus yang sering dialami :

Lupa minum obat, kurang tidur, terlambat atau lupa makan, stres fisik dan emosi, anak dalam keadaan sakit atau demam, kadar obat antiepilepsi yang rendah dalam darah, cahaya yang berkedip-kedip yang dihasilkan komputer, TV, video game dll (pada pasien epilepsi fotosensitif).

Penulis : Setyo Handryastuti

UKK Neurologi Anak – PPIDAI