Anak Belajar Bergaul


sumber : tabloidnakita.com

Mulailah dengan mengajak si batita ke acara-acara keluarga.
Sebenarnya, sejak bayi pun, anak sudah belajar bergaul. Hanya saja masih di lingkungan terbatas, seperti dengan ibunya, ayahnya, pengasuhnya, atau orang-orang terdekat di lingkungannya. Setelah usia setahun, umumnya si batita sudah dapat mulai dilatih bersosialisasi, namun hanya sebatas mengeksplorasi lingkungan saja. Umpama, “Ini Kakek, ayo berikan salam.” Selanjutnya, seiring usia bertambah, kemampuan bersosialisasi ini semakin berkembang dan dilakukan lebih intens lagi. Akan tetapi tuntutannya tidak terlalu tinggi. Memasuki usia 2 tahun, umumnya si batita masih berteman ke dalam rumah, yakni orang-orang yang ada di lingkungan keluarganya. Meski sesekali ia pun mulai mengeksplorasi ke luar lingkungan keluarga, namun jangan berharap ia berteman seperti yang diharapkan. Bila diamati saat si batita main bersama anak lain sebayanya, biasanya mainnya masih sendiri-sendiri.

YANG HARUS DIKUASAI
Inilah beberapa perkembangan kemampuan bergaul yang seharusnya dicapai oleh anak usia 1-2 tahun:
1. Mengenali diri sendiri di kaca atau melalui foto-foto anak tersebut.
2. Menyebut dirinya sendiri dengan nama panggilannya.
3. Bermain-main sendiri dan berusaha mencari dan menggunakan benda yang ada di sekitarnya sebagai alat permainan.
4. Meniru tingkah laku orang dewasa dalam mempermainkan mainannya, seperti dipukul-pukulkan, dilempar, dikocok-kocok, ditiup dan lain-lain.
5. Membantu menyimpan benda-benda mainan ke dalam tempat yang disediakan.
6. Mulai dapat memilih orang-orang yang dikenalinya.

STIMULASI
1. Menyebutkan keinginan anak dengan namanya.
Hendaknya ibu/pengasuh selalu menyebutkan keinginan anak sebelum melakukan sesuatu. Misal, “Ita mau minum?” Tekan-kan penggunaan nama anak ini supaya anak dapat mengulanginya. Ulangi kegiatan ini setiap kali anak meminta sesuatu sampai akhirnya anak mengerti apa yang diinginkan oleh ibunya atau pengasuhnya.
2. Bermain menirukan tingkah laku orang dewasa.
Ajak si batita ikut serta dalam kegiatan sehari-hari ibu/peng- asuhnya. Sambil melakukan kegiatan, ajak anak berbicara atau berilah penjelasan-penjelasan. Contoh, ibu sedang memasak di dapur, si batita diajak dan mintalah ia untuk mengambilkan sendok atau sayuran dan lain-lain. Atau, ajak si batita menyapu halaman dan minta ia untuk ikut menyapu dengan menggunakan sapu berukuran kecil. Kemudian, minta ia untuk memasukkan sampah-sampah daun kering ke keranjang sampah.
3. Ajak anak datang ke acara-acara keluarga.
Kegiatan ini hendaknya dilakukan dengan rutin. Umpama, sebulan sekali mengunjungi kakek-nenek atau kerabat yang lain. Kesempatan ini tetap harus diberikan dan orangtua hendak-nya tak perlu cemas bila si batita menjadi rewel. Bila ia terus-menerus rewel, cobalah untuk mencari tahu penyebabnya. Mungkin ia kaget dengan lingkungan yang ramai dan suara yang keras. Pertama-tama biarkan ia menjadi pengamat lingkungan. Jangan paksa ia untuk langsung bermain dengan sanak-saudara atau kerabat yang lain. Selanjutnya, dapat ditingkatkan pada pertemuan berikutnya. Ajak dia melakukan aktivitas bersama-sama, seperti makan bersama, berbincang-bincang, dan lain-lain meski masih didampingi.
4. Bermain bersama.
Untuk awal, lakukan kegiatan ini bersama ibu, ayah atau pengasuhnya. Contoh, sambil bermain tamu-tamuan dengan boneka. Di situ ia belajar kalau bertamu ke tempat orang lain hendaknya mengucapkan salam. Tak hanya itu, si batita pun mendapat pengetahuan bahwa bermain bersama itu ternyata menyenangkan, sehingga dapat menjadi modal bagi dirinya untuk bermain dengan orang lain.
PENTINGNYA BERSOSIALISASI
Bersosialisasi atau kontak sosial diperlukan karena berguna untuk membentuk basic trust, percaya kepada pihak di luar dirinya. Umumnya basic trust terbentuk pada orang-orang terdekat yang mengasuhnya, bisa ibunya atau malah si pengasuh bila sehari-hari anak lebih dekat dengan pengasuh. Jika diamati, ini akan jelas terlihat saat anak berusia 1 tahun. Akibatnya, ia akan menangis cemas bila ditinggal jauh oleh orang terdekatnya.
Selanjutnya basic trust akan berkembang menjadi trust, percaya. Inilah yang menjadi dasar bagi si batita mengembangkan rasa percaya diri dan keterampilan bersosialisasi. Bila rasa percaya diri terbentuk dengan baik, kelak ia akan memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik. Sebaliknya, bila rasa percaya diri ini tidak terbentuk, kelak ia akan memiliki kemampuan bersosialisasi yang minim. Ini mungkin terjadi karena tidak tumbuhnya perasaan aman dalam dirinya semasa bayi. Misal, saat ia menangis tak ada yang segera menenangkan. Atau, malah digerutui oleh ibunya/pengasuh dan sama sekali tak mendapatkan pelukan hangat yang menenangkan. Akibatnya akan tumbuh perasaan takut atau tak nyaman dalam dirinya. Hal yang sama juga tumbuh saat bersosialisasi dengan lingkungan di luar.
TAK MAU PISAH DARI BUNDA
Bukan pemandangan aneh bila menyaksikan anak usia batita tak mau lepas dari ibu atau pengasuhnya. Bila memandangi ibu-ibu lain yang memiliki batita, Ninik kerap merasa gundah. Bagaimana tidak? Asti, putrinya yang berusia 2,5 tahun selalu minta ditemani bila diajak bermain bersama. Sementara yang lain sudah berani
sendiri dan tidak ditemani oleh orangtuanya. Jika Anda menghadapi kasus seperti ini tak perlu berkecil hati. Langkah yang sebaiknya dilakukan adalah telusuri dulu kemungkinan penyebab si kecil tak mau berpisah.
PENYEBAB
* Tidak dipersiapkan.
Bisa jadi si batita tak mau berpisah dengan orangtua atau pengasuhnya, karena tidak dipersiapkan semenjak awal. Orangtua/pengasuhnya tidak menyampaikan kepada si batita bahwa pada saat bermain bersama teman-temannya nanti, orangtua/pengasuhnya tak akan menemani. Misal, “Sambil menunggu Asti main, Ibu nanti akan pergi ke warung sebentar ya.” Namun hendaknya persiapan ini dilakukan jauh sebelum acara bermain bersama, jangan berpamitan secara mendadak. Kalau tidak, si batita tidak menyiapkan mental untuk berpisah. Selain itu, jangan lupa sampaikan bahwa nanti ibu akan kembali untuk menjemput.
* Kematangan sosial belum tercapai.
Umumnya juga disebabkan belum tercapainya kematangan sosial yang sesuai dengan standar usianya. Bisa jadi ia baru memasuki tahapan belajar untuk percaya pada orang lain, namun ia belum bisa percaya penuh. Pada saat ini ia baru memiliki rasa aman dengan sosok orangtua/pengasuhnya, sehingga ia tak mau berpisah dengan orangtua/pengasuhnya. Namun, orangtua tak perlu khawatir karena perilaku lekat ini meru-pakan suatu tahapan perkembangan yang harus dilalui setiap anak. Perilaku kelekatan ini sesungguhnya sudah “dipelajari” sejak anak masih bayi. Umumnya yang menjadi objek kelekatan anak adalah orang yang mengasuhnya sehari-hari, bisa si ibu ataupun pengasuhnya.
* Terlambat mengajak bersosialisasi.
Bisa jadi pula karena orangtua terlambat saat memulai pertama kali mengajak bersosialisasi. Misal, karena di lingkungan rumah tak ada teman sebayanya, jadi tak ada yang diajak bersosialisasi. Atau, bisa jadi karena kesempatannya sedikit; orangtua atau si pengasuh selalu mendampingi ke mana pun si anak pergi.
TIP & TRIK MENGATASI
Tak dianjurkan untuk secara drastis meninggalkan si batita begitu saja karena akan menyebabkan trauma dan membuatnya merasa tak aman lagi. Yang terbaik ialah mengajaknya berkomunikasi dengan memberikan pengertian sedikit demi sedikit. Nah, berikut ini beberapa tip dan trik yang dapat dilakukan orangtua guna mengatasi permasalahan ini.
1. Lakukan stimulasi.
Contohnya, beri kesempatan kepada si batita untuk mengunjungi kerabat atau sanak-saudara. Lakukan kegiatan ini secara rutin, niscaya si batita jadi terbiasa mengenal orang di luar lingkungan terdekatnya.
Cara lainnya adalah bermain peran menggunakan boneka dengan mengambil tema bermain bersama, misal. Selanjutnya dapat ditingkatkan dengan ditemani oleh batita yang lain. Pada tingkat berikutnya, dilakukan de-ngan manusia dewasa lain yang diundang untuk datang ke rumah dan bermain bersama, tapi orang itu bukan berasal dari lingkungan terdekatnya.
2. Integrasi secara bertahap.
Bila si kecil tetap tak mau ditinggal, jangan sekalipun me-maksa. Beri kesempatan padanya untuk melihat-lihat terlebih dahulu sambil mengenal lingkungan yang baru didatangi. Orang terdekat tentunya tetap harus mendampingi karena anak yang insecure (merasa tak aman) akan semakin tegang atau takut jika merasa ditinggalkan.
Lebih baik lagi bila pada kesempatan itu ada sekelompok anak yang sedang bermain bersama, sehingga si batita dapat mengamati pula kegiatan tersebut sebagai kegiatan yang juga menyenangkan. Mintalah ia untuk terlibat bermain bersama meski masih harus didampingi.
Selanjutnya, setiba kembali di rumah, komunikasikan dengan si batita suasana di lingkungan baru tadi. Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Sampaikan bahwa acara tadi cukup menyenangkan.
3. Seringlah mengajaknya bermain dan mengobrol.
Minimnya keterlibatan orangtua dapat menyebabkan anak merasa insecure, sehingga ia tak punya gambaran bagaimana harus berperan di luar. Jika Anda sering mengajak bermain dan mengobrol, ia akan punya bekal sehingga ia tak begitu sulit untuk mengobrol atau bermain dengan orang lain.
4. Biasakan untuk berpamitan.
Sebaiknya, orangtua membiasakan diri berpamitan pada anak bila ingin keluar rumah. Jangan secara mendadak meninggal anak karena akan menyebabkan trauma dan anak merasa tak aman lagi. Yang terbaik ialah mengajaknya berkomunikasi, “Adek, Bunda mau pergi sebentar. Nanti Bunda kembali lagi. Adek di rumah sama Mbak ya. Mbak yang akan menjaga Adek.”
Selain itu tak jarang pula, si ibu lantaran harus segera berangkat mencoba membujuk dengan menyuruh si pengasuh membawa si kecil jalan-jalan di sekitar perumahan. Cara ini sama sekali tak dibenarkan, bisa-bisa dalam diri si batita akan tumbuh perasaan tak aman sehingga ia jadi berpikir kalau ia lengah maka akan ditinggal.
Cara lain yang cukup aman untuk meninggalkan anak adalah dengan memberi kegiatan kepada anak. Sebelum pergi, ibu ikut melibatkan diri sebentar, kemudian baru ditinggalkan. Jadi, selain anak diberikan pengertian, juga dialihkan perhatiannya. Tentunya berapa lama meninggalkan anak juga harus dilakukan secara bertahap, dari sebentar lalu diperpanjang.
5. Lakukan persiapan sebelum berpisah.
Sebaiknya anak diberi tahu jauh hari atau malam sebelumnya. Jangan pada saat ibu mau pergi, baru si anak diberi tahu. Tujuannya untuk menyiapkan mental anak bahwa ia akan berpisah dengan ibunya, tetapi anak tahu bahwa ada saatnya ia ditinggal namun ibunya tetap akan kembali.
Utami Sri Rahayu.
Konsultan Ahli:
Zahrasari Lukita Dewi, Psi.,Msi.,
dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s