Belajar Disiplin Sambil Main


sumber : tabloidnakita.com

Tak ada urat yang tegang jika Anda fleksibel terhadap si kecil.
Kemampuan berjalan membawa perubahan besar pada si batita. Lihatlah, dia begitu bersemangat menjelajah ke sana kemari untuk memahami dunia. Tangannya pun tak berhenti menjamah. Jika Anda tak paham misi si kecil, maka yang terlihat hanyalah sosok yang tak bisa diam. Maunya main dan main. Energinya seolah tak pernah habis.
Tak jarang, orangtua khawatir jika mainnya tak dibatasi, si batita akan tumbuh menjadi anak tanpa disiplin. Benarkah begitu? Tentu saja Anda harus percaya, bermain adalah cara bagi si batita untuk belajar tentang banyak hal. Aksi melompat, memanjat, atau aksi dengan tangan adalah latihan mengembangkan keterampilan motorik yang disertai koordinasi dengan mata secara simultan.
Lantas, bagaimana agar dalam dunia bermainnya itu si kecil juga belajar disiplin? Pasti bisa. Anda tak perlu kelewat sering menghentikan aktivitasnya dan memberinya segala macam batasan. Yang dibutuhkan si kecil dari Anda hanyalah pengarahan. Contohnya, ajarkan padanya permainan-permainan yang bisa mengerahkan kemampuan motorik sekaligus kognitif. Dengan bola yang disukainya, lakukan permainan memindah-kan bola dari ember merah ke ember hijau misalnya. Dengan demikian mereka bisa tetap bermain, namun aktivitasnya tetap terarah.
JADWAL AJEG
Dalam suasana bermain, per-kenalkan si batita pada rutinitas yang mencakup jadwal mandi, makan, dan tidur. Anda boleh bersikap fleksibel, tapi bagaima-napun juga konsistensi perlu dijaga. Jadi, fleksibel di sini bukan membolehkan apa yang tak boleh, melainkan menawarkan pilihan untuk tetap menikmati kesenangan sambil menjalankan rutinitas sesuai jadwal.
Ke kamar mandi, contohnya, bawalah beberapa mainannya. Dengan demikian, si kecil tidak merasa kesenangannya direnggut meski ia harus mandi. Kalau jadwal mandi ditetapkan antara pukul 4-5 sore, ya lakukanlah selalu secara ajeg di kisaran waktu tersebut. Akan sangat mendukung bila orangtua atau tokoh panutan lainnya mencontohkan hal yang sama.
Rutinitas yang diperkenalkan di usia ini akan sangat bermanfaat kelak ketika batita harus menyesuaikan dirinya dengan jadwal orang lain. Misalnya ketika ia harus sekolah, kursus atau malah bekerja. Selain itu, rutinitas ikut membentuk watak disiplin anak di kemudian hari. Tentu saja asalkan orangtua secara konsisten membiasakan anaknya pada rutinitas yang sama.
KREATIF DONG
Bila si batita tak mau sedikit pun meninggalkan aktivitas bermainnya demi rutinitas, seperti makan, mandi dan tidur, pandai-pandailah orangtua menciptakan situasi yang membuat si kecil mau beranjak. Soal makan, contohnya, untuk membentuk kebiasaan makan dengan tertib, tetaplah ajak anak duduk di kursi makan. Namun jangan mengharapkan ia mau duduk manis tanpa upaya apa pun dari orangtua.
Untuk batita awal yang masih disuapi, sediakan mainan yang bisa membuatnya asyik selama waktu makan. Sementara dengan batita akhir yang sudah mulai belajar makan sendiri, Anda sebaiknya makan bersama di meja, atau membacakan buku, bernyanyi, dan lain-lain. Pendek kata, beri dia kegiatan menarik karena baginya ada begitu banyak hal yang jauh lebih asyik untuk dieksplorasi daripada diam saja.
Begitu juga bila waktu mandi tiba. Ciptakan hal-hal menarik yang membuat batita mau dengan sendirinya, tanpa perlu ditarik-tarik untuk mandi. Ketika tiba jam mandi, contohnya, tunjukkan sabun yang bentuknya lucu-lucu. Atau siapkan beberapa gelas plastik warna yang bisa dimanfaatkannya untuk main air bersama ibu.
Bila tiba waktu tidur, ajak si batita mengenali waktu tersebut dengan cara yang mudah. Misalnya, “Kalau nanti jam di kamar berbunyi ding-dong, berarti itu waktunya kamu naik ke tempat tidur.” Pada saat jam berbunyi, bimbinglah anak ke tempat tidurnya. Bila perlu dengan mainannya. Biarkan ia bermain sejenak di tempat tidur sebelum akhirnya tertidur. Anak yang sudah lelah seharian bermain, biasanya akan mudah tertidur.
PERLU TEMAN
Anak batita perlu teman untuk bermain. Kehadiran orang lain dianggapnya memberi pengalaman bermain yang lebih menyenangkan dan bukankah orangtua merupakan teman bermain yang selalu tersedia? Bermain dengan orangtua tentu akan memperkaya ikatan batin antara orangtua dan anak. Namun ini tak berarti orangtua harus selalu menemani si batita sepanjang waktu. Sesekali ada baiknya ia dibiarkan bermain sendiri. Namun tetap dalam pengawasan.
Kala bermain sendiri, si kecil belajar bahwa kegiatan yang dilakukan seorang diri pun tak kalah menyenangkan. Selain itu, sibatita akan belajar kalau orang lain juga punya kegiatan sendiri yang “tak bisa diganggu” hanya karena ia merengek ingin ditemani bermain. Ayah dan ibu juga perlu baca koran, ibu perlu menyiapkan makanan di dapur, atau kakak harus mengerjakan PR dan sebagainya. Dengan demikian si batita akan belajar menghormati kesibukan orang lain dan mendisiplinkan diri.
Santi Hartono.
Narasumber:
Evi Elviati, Psi.,
psikolog dari Essa Consulting

One thought on “Belajar Disiplin Sambil Main

  1. stlh lama frustasi dgn keaktifan anak sy,sy jd pnya motivasi u/ lbh mengenali krkternya stlh membaca artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s