Anak Belajar dari Pengalaman


sumber : tabloidnakita.com

Mengalami langsung adalah metode belajar yang paling tepat.
Banyak hal yang dipelajari si batita. Di antaranya tentang relasi dan perasaan (tentang kepercayaan, menyayangi dan empati, tentang marah, takut, iri dan dendam), tentang bahasa, dan tentang proses suatu kejadian. Dari semuanya, hal terpenting yang harus si batita pelajari adalah bahwa proses belajar itu menyenangkan.
Oleh karena itu, dukungan orangtua sangatlah penting. Dimulai dari rasa ingin tahu yang ditunjukkan oleh anak, doronglah proses belajar anak untuk memupuk sifat kreatifnya. Jika orangtua tak mendukung, maka anak akan berhenti mencari tahu karena semangatnya menyurut.
Nah, berikut ini ada 9 hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menyuburkan rasa ingin tahu anak dan menumbuhkannya menjadi kecintaan untuk belajar selama hidup.
1. Jawablah pertanyaannya.
Karena ada banyak hal baru yang ingin diketahui anak, maka ia jadi banyak bertanya. Semua pertanyaan itu berhak mendapat jawaban yang benar sesuai nalar anak batita. Bila pertanyaannya tak dijawab atau tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, anak akan berhenti bertanya atau menangkap persepsi yang tidak benar. Jadi, jawablah semua pertanyaannya. Gunakan bahasa yang sederhana dan singkat.
2. Masukkan proses belajar dalam kegiatan sehari-hari.
Apa pun yang dilakukan anak sehari-hari dapat menjadi bahan pelajaran baginya. Berpikirlah kreatif. Misalnya, kapan pun Anda dapat mengajarkan hitungan sederhana dan lambang bilangan kepada si kecil. “Lihat, berapa wortel yang ibu masak. Hitung yuk satu, dua, tiga.” Melalui kegiatan ini diharapkan minat si batita meluas ke berbagai bidang pengetahuan, bukannya memaksa si batita untuk langsung bisa berhitung. Minat yang luas akan mendukung proses belajarnya kelak, sekaligus melibatkan indra si batita sebagai alat belajar.
3. Dukung penjelajahannya.
Melalui proses eksplorasi atau penjelajahan, si batita belajar memahami banyak hal. Dampingi dan berikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami. Biarkan ia melakukan beragam “percobaan”. Efek sampingnya pasti rumah jadi berantakan. Namun tahanlah keinginan Anda untuk menghentikan aktivitasnya karena dapat menghambat proses belajar si kecil. Lain hal bila percobaannya membahayakan keselamatan anak, Anda bisa menghentikan, tentu dengan disertai penjelasan dampak yang mungkin terjadi. Sebagai penggantinya, sediakan percobaan-percobaan yang dapat dilakukan dalam situasi terkendali. Misal, mencampur pewarna kue di baskom, menyaring pasir dengan saringan pasir, dan lain-lain.
4. Kenalkan anak dengan berbagai pengalaman.
Pengalaman sederhana yang dialami dalam kehidupan sehari-sehari dapat memberikan pelajaran berharga bagi si batita. Tentunya asalkan orangtua memberikan penjelasan tentang peristiwa tersebut dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari si batita. Ada banyak pengalaman yang mungkin dapat ditemui, di antaranya, menanam bunga, bermain air di kolam, mencabut tanaman liar, mencampur adonan kue, menata meja, menyalakan tombol lampu, dan lain-lain.
5. Kenalkan anak dengan berbagai situasi.
Berbagai situasi yang dimaksud tentu saja semua tempat dan waktu yang dirasa aman bagi anak. Pengenalan situasi juga dapat memberikan pengalaman belajar. Contoh, museum, taman bermain, pasar, kebun binatang, kendaraan umum, restoran, rumah sakit, toilet umum dan lain-lain. Umumnya, anak menyerap banyak hal dari pengamatannya. Orangtua dapat menambahkan apa yang dipelajari anak dengan mengajukan pertanyaan dari hasil pengamatan si anak sendiri.
6. Kenalkan anak dengan daya khayal.
Daya khayal atau imajinasi perlu diperkuat sebagai bekal kemampuan anak untuk berpikir kreatif. Salah satunya melalui bermain peran yang secara alami sangat disukai anak-anak usia dini. Banyak hal akan didapat dari bermain peran, di antaranya mengasah kemampuan berbahasa, mengenali situasi dan menanggapinya, mencari solusi untuk keluar dari masalah, bagaimana berempati, dan juga melatih motoriknya. Umpama, bagaimana menjadi pedagang ikan di pasar yang harus pandai tawar menawar dengan pembeli, si pembeli tidak punya uang cukup, lihai menangkap ikan yang masih hidup, membersihkannya, menimbang, dan memberikan kepada pembeli. Kemampuan bermain peran juga menunjukkan kemampuan anak menyerap berbagai pengalaman sehari-hari.
7. Mendukung proses belajar dengan membina harga diri anak.
Agar mampu belajar, seorang anak perlu merasa senang pada dirinya sendiri. Nah, tumbuhkan perasaan bangga akan keberhasilan yang telah diraih. Karenanya, orangtua jangan sungkan memberikan pujian atas keberhasilan yang baru dicapai si batita. Selanjutnya, penghargaan berupa tepuk tangan atau pelukan hangat, misalnya, tetap diperlukan oleh anak agar ia memiliki konsep diri yang positif.
8. Buatlah agar pengalaman belajar ini menyenangkan.
Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan, orangtua hendaknya menghindari suasana yang tidak nyaman. Misal, memaksa anak melakukan aktivitas tertentu padahal ia sedang tidak menunjukkan minatnya. Ikuti saja apa yang sedang menjadi daya tarik baginya. Ingat, menyenangkan bagi orangtua belum tentu menyenangkan bagi si batita.
9. Berikan teladan.
Tunjukkan kepada anak bahwa Anda sebagai orangtua tidak merasa terlalu tua untuk menjelajah, mencoba kegiatan baru, dan bermain peran yang dirasa konyol sekalipun dengannya. Jadikan belajar sebagai kegiatan seumur hidup. Alhasil, semangat belajar Anda akan menular pada anak.
Utami Sri Rahayu. Foto: Iman/nakita
EMOH DIAJAK KE PASAR
Pemandangan dan bau tak sedap mestinya bisa diakali.
Mengajak si kecil ke pasar ternyata sarat dengan pembelajaran. Ratusan macam benda dapat dilihatnya di satu lokasi. Dia terdorong banyak bertanya dan ingin meraba semuanya. Namun, mungkin ada satu hal yang tidak disukainya di pasar jika si kecil biasa dididik resik di rumah; itu lo pemandangan jorok dan bau yang tak sedap. Terkadang, alasan ini pula yang membuat kita malas mengajaknya ke sana. Padahal ada bagusnya juga, lo, mengakrabkan anak dengan situasi yang tidak terlalu nyaman tapi sarat pengetahuan. Ya pasar itu contohnya, supaya anak mampu beradaptasi dengan berbagai situasi.
Tentu agar dapat memetik manfaat bagi anak, orangtua pun harus bisa melihat hal-hal positif dari setiap situasi, termasuk situasi tak nyaman di pasar. Nah, bagaimana trik agar si batita menikmati acara jalan-jalannya ke sana?
1. Berikan penjelasan sebelum hari H.
Sejak seminggu sebelum hari H, berceritalah tentang serunya suasana pasar, bagaimana “petualangan” dilakukan, dan apa saja hal-hal menarik yang dapat dilihat si kecil di pasar. “Di pasar dijual ikan lele yang masih hidup, lo. Kita bisa menangkap sendiri ikan-ikan berenang-renang di dalam bak-bak penampungan. Belut juga ada. Itu binatang yang mirip ular tapi jinak dan tidak menggigit.”
2. Ciptakan serangkaian teka-teki atau permainan.
Untuk menumbuhkan rasa ingin tahu si batita, ciptakan serangkaian permainan sebelum pergi ke lokasi. Dapat berupa permainan peran atau sekadar teka-teki. Umpama, bermain peran sebagai pedagang dan pembeli. Atau, tebak-tebakan yang menimbulkan rasa penasaran si batita, seperti, “Ayo Dek, tebak, kulit ikan licin atau enggak? Nanti Adek lihat di pedagang ikan di pasar ya.” Tak ada salahnya pula si batita diajak bermain basah-basahan di taman terlebih dahulu agar tidak merasa jijik saat merasakan langsung beceknya pasar.
3. Persiapan sebelum berangkat ke lokasi.
Sebelum berangkat ke lokasi, lakukan persiapan sesuai dengan kebutuhan. Bila si batita diperkirakan tidak tahan panas, bawakan topi pelindung. Atau, bila si batita tidak tahan dengan bau amis, siapkan saputangan untuk menutup hidung. Selain itu, bila mengetahui bahwa si batita memang sama sekali tidak tahan dengan bau amis, sebaiknya hindari tempat-tempat yang menimbulkan aroma itu, seperti tempat ikan basah atau ikan asin.
4. Dampingi dan berikan penjelasan dengan bahasa sederhana.
Saat “berpetualang” di pasar, dampingi anak dan berikan penjelasan tentang situasi dan beragam pedagang yang ada, sehingga si batita mendapatkan tambahan pengetahuan. Contoh, “Ini sayuran berwarna hijau, ada bayam, kangkung, dan sawi.” Atau, “Yang ini buah-buahan berwarna kuning, ada pepaya, nanas, jeruk.” Khusus untuk batita, cukup memberikan penjelasan yang sederhana, seperti pengklasifikasian warna, bentuk, tekstur, dan lain-lain.
5. Berikan penghargaan.
Berikan penghargaan bila si batita berhasil menjawab pertanyaan saat melakukan klasifikasi. Hal itu akan memacu semangat dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Umpama, dengan membelikan ikan kecil-kecil, makanan tradisional, atau mainan tradisional yang ada di pasar. Sekaligus untuk mengenalkan beragam mainan dan makanan yang ada di pasar.
KECERDASAN YANG DIKEMBANGKAN
Mengunjungi pasar bersama si batita pastinya dapat mengembangkan banyak kecerdasan, antara lain:
1 Kecerdasan kinestetik-jasmani
Mengajak si batita ikut menangkap ikan yang masih hidup di kios ikan sudah dapat mengembangkan kecerdasan kinestetiknya. Gerakan tangannya berusaha mengikuti gesitnya ikan berenang.
2. Kecerdasan interpersonal
Proses tawar-menawar antara pedagang dan pembeli di pasar dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal si batita. Si batita dapat mengamati, bagaimana berinteraksi dengan orang lain.
3. Kecerdasan visual-spasial
Saat si batita mengamati aneka bentuk dan warna dari buah dan sayuran, sesungguhnya ia tengah mengembangkan kecerdasan visual-spasialnya.
TIP-TIP PENTING
1. Pertimbangkan waktu berbelanja.
Karena kegiatan ini untuk memberikan pengalaman baru kepada si batita, di pasar sebaiknya Anda tidak terlalu “heboh” berbelanja. Bisa-bisa karena si ibu mengejar target berbelanja untuk kebutuhan di rumah, si batita jadi terabaikan dan merasa tak nyaman.
2. Jangan paksa jika si batita menolak.
Saat si batita menolak ke pasar, tundalah keinginan Anda, atau alihkan perhatiannya pada hal-hal yang menyenangkan lainnya. Pemaksaaan dapat menyebabkan trauma, jera atau tak berani untuk mencoba lagi. Selanjutnya dapat dicoba lagi secara perlahan.
3. Ciptakan suasana menyenangkan.
Suasana pasar memang ramai dan terkadang becek serta bau. Untuk itu, ciptakan suasana yang menyenangkan. Umpama, membuat konsep seperti sedang berpetualang untuk mengalihkan perhatian si batita dari hal-hal yang tidak mengenakkan dan fokus pada hal-hal yang mengasyikkan.
Uut
Konsultan Ahli:
Indri Savitri, Psi.,
dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI

One thought on “Anak Belajar dari Pengalaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s