Jika Anak Tidak Mau Berbagi Mainan


sumber : tabloidnakita.com

Jelaskan, berbagi itu sangat menyenangkan dan menguntungkan.
Memang, tak mudah mengajarkan berbagi kepada anak. Jangankan membagi kue yang dimiliki, meminjamkan mainan pun sulitnya minta ampun. Itu karena ego anak masih tinggi. Ia berpikir hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan kebutuhan orang lain tak penting buatnya. Ia juga sangat posesif terhadap semua barang miliknya. Coba saja lihat apa yang dilakukannya saat orangtua menggendong atau membonceng anak lain. Itu juga berlaku buat mainan miliknya.
Masalahnya, di usia ini anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, baik teman-teman di rumah maupun “sekolah”. Sehingga ketidakmauan anak untuk berbagi, jelas bisa membuatnya dijauhi teman-teman, disamping berpotensi menjadi seorang dewasa yang egois. Itulah mengapa, anak harus diajarkan berbagi.
MENYENANGKAN & MENGUNTUNGKAN
Jelaskan kepada si kecil bahwa berbagi itu menyenangkan. Banyak anak tak mau berbagi karena menganggap berbagi itu tak menyenangkan. Padahal, faktanya tidak selalu demikian. Berbagi justru sangat menyenangkan. Anak bisa bertukar mainan dengan teman-nya. Bukankah anak sangat tertarik dengan mainan yang baru dikenalnya, juga dia cenderung bosan dengan mainan miliknya? Inilah yang perlu dijelaskan orangtua, “Kalau kamu mau meminjamkan robot Power Rangersmu, kamu bisa memain-kan mobil pemadam kebakaran yang bagus itu.”
Selain itu, anak juga ogah berbagi karena merasa makanan miliknya berkurang. Jika dia mau berbagi kue, maka jatah kuenya yang tadinya ada dua menjadi tinggal satu. Nah, agar anak mengerti manfaat berbagi, pada tahap awal, berbagi bisa dila-kukan dengan pertukaran. Anak A bisa membagi kue kismisnya ke si B, sedangkan si A bisa mendapat kue brownies. Dengan cara itu, anak merasa berbagi tidaklah merugikan justru mengun-tungkan, karena dia bisa mendapat dua kue dengan rasa berbeda. Untuk tahap selanjutnya, sangat mungkin anak mau berbagi meski dia tak langsung mendapat “imbalan” dari temannya.
Hal menyenangkan lainnya dari mau berbagi adalah banyak teman. Lewat bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan, membuat anak semakin paham, berbagi itu menjadi modal untuk bergaul. Anak bisa belajar sebab akibat dari lingkungannya. Jika dia tak mau berbagi, dia akan dijauhi teman-temannya. Sebaliknya, jika dia mau berbagi, dia akan memiliki banyak teman.
TIDAK MEMAKSA
Namun dalam mengenalkan konsep berbagi atau mengajarkan berbagi, hindari pemaksaan. Banyak kan orangtua yang mengenalkan konsep berbagi dengan agak memaksa? Yang paling sering, tanpa minta izin terlebih dahulu, orangtua langsung mengambil mainan anak dan meminjamkannya kepada sang teman. Ini jelas akan melukai harga diri anak karena hak-haknya tak dihormati. Begitu pun bila orangtua berkata, “Ayo, bagi cokelatmu kepada Adi, ya.” Ingat, berbagi juga ada etikanya. Kita harus minta minta izin terlebih dahulu.
Selain itu, si pemilik barang juga punya hak untuk menolak meminjamkan barangnya. Apalagi di usia prasekolah, anak sudah sadar konsep kepemilikan, mana mainan miliknya dan mana pula mainan teman. Dia juga sudah mengenali barang atau benda yang dimiliki orangtua, pengasuh, dan orang-orang terdekat lainnya. Jadi, anak pun berhak menolak berbagi, tentunya dengan alasan-alasan yang dapat diterima. Contoh, anak khawatir mainannya akan rusak. Ini diperkuat oleh pengalamannya minggu lalu, saat rambut bonekanya lepas seusai dipinjamkan. Dalam hal ini, dengan keengganan anak untuk berbagi, justru akan menumbuhkan tanggung jawab anak terhadap semua mainan miliknya. Atau, mainan itu adalah mainan mahal favoritnya atau yang didapat dari kerja keras seperti menjuarai lomba tertentu.
Pemaksaan lain yang juga kerap dilakukan orangtua adalah mengancam anak jika menolak berbagi. “Kalau kamu tidak mau membagi cokelat itu kepada temanmu, Mama tidak akan membelikan cokelat lagi besok.” Pada kondisi ini, anak mau berbagi bukan karena dorongan dari dalam dirinya, melainkan takut oleh ancaman orangtua. Dalam jangka pendek, cara ini dirasa efektif; anak langsung menjadi sosok pemurah, yang mau membagikan barang atau makanan miliknya. Tapi bisa dibayangkan dampak jangka panjangnya, anak akan tumbuh menjadi pribadi pelit karena merasa berbagi itu tidak menyenangkan.
Jadi, jangan sekali-kali memaksa anak untuk berbagi. Anak kadang memerlukan waktu untuk bisa berbagi dengan teman sebayanya. Suatu saat, bukan tak mungkin dia bisa mencontoh bagaimana asyiknya berbagi dari temannya. Yang penting, tak ada kata bosan dalam “kamus” orangtua untuk mengenalkan konsep berbagi pada si buah hati.
HAL LAIN yang PERLU DILAKUKAN
Selain menghargai hak-hak anak alias tanpa pemaksaan, orangtua juga perlu melakukan hal-hal berikut:
1. Mulai dari sosok terdekat.
Mengajarkan berbagi bisa dimulai dari keluarga. Saat ada satu kue di rumah, potonglah kue itu sejumlah anggota keluarga lalu bagi-bagikan, satu potong untuk ayah, ibu, kakak, dan si kecil. Selanjutnya, ajari anak berbagi dengan temannya. Saat berbelanja di toko mainan, misal, orangtua bisa membelikan anak dua balon, lalu katakan, “Satu balon untukmu dan satu balon lagi buat temanmu.”
2. Jelaskan batasan.
Di usia ini, anak tak tahu batasan berbagi. Tak heran, ada anak yang bak dermawan membagikan semua barang miliknya kepada teman. Bahkan, dia sendiri sampai tak menikmati/memiliki barang tersebut. Jika punya lima permen, maka kelimanya dibagikan habis kepada semua temannya. Orangtualah yang harus menjelaskan, jika anak memiliki lima permen, maka 3-4 permen itu bisa dibagikan kepada temannya. Sisanya, bisa dinikmati sendiri.
3. Bergiliran.
Berbagi tak selalu identik dengan makanan atau mainan, tapi juga hal lain seperti bergiliran saat hendak main ayunan, bergantian kala bermain games, dan lain-lain. Ini terlihat sepele tapi penting, karena bisa menekan ego anak yang sedang tinggi-tingginya. Semakin rendah ego anak bisa ditekan, maka kemungkinan anak bisa berbagi semakin besar.
4. Lakukan lewat cerita.
Banyak sekali buku cerita yang menjelaskan pentingnya konsep berbagi kepada anak. Cerita sangat efektif dalam mengajarkan berbagi kepada anak. Dengan menceritakannya secara berulang-ulang, anak akan sadar pentingnya berbagi.
Saeful Imam.
Narasumber:
Yunita P. Sakul, Psi.,
dari Essa Consulting Group, Jakarta

One thought on “Jika Anak Tidak Mau Berbagi Mainan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s