BANTU DIRI SENDIRI


sumber : tabloidnakita.com

Apa saja yang semestinya sudah mampu dilakukan anak usia 3-5 tahun untuk membantu dirinya sendiri?
Menolong diri sendiri adalah kemampuan dan keinginan melakukan segala sesuatu sendiri. Disingkat bantu diri atau self help. Bantu diri di usia prasekolah mencakup aktivitas makan, mandi, berpakaian, buang air kecil dan buang air besar sendiri. Namun, kalau Anda berpikir bahwa semua kemampuan itu akan muncul dengan sendirinya, tentu saja itu tidak tepat. Tanpa dilatih sejak dini, anak-anak tidak akan tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri.
Keterampilan mengenakan baju, contohnya, dapat mulai dilatihkan sejak usia 2 tahun. Sebagai langkah awal, kenalkan dulu aneka jenis pakaian, dari kaus oblong, T-shirt, sampai kemeja berkancing. Setelah itu lanjutkan dengan mengenalkan celana pendek dan celana panjang. Sedangkan kepada anak perempuan, selain kaus, kemeja dan celana, kenalkan juga rok dan gaun padanya.
Selanjutnya, mulailah dengan mempraktikkan hal yang paling mudah terlebih dulu. Di usia 3 tahun, misalnya, diharapkan ia mulai bisa meneroboskan lengannya pada lengan kemeja. Setelah itu belajar memakai rok atau celana karet. Selanjutnya, masih dibutuhkan ketekunan dan kesabaran ekstra saat membimbing si prasekolah agar terampil manarik ritsleting dan mengancingkan bajunya.
Untuk menyenangkan buah hati tercinta, lakukan latihan sambil bercerita, bermain, dan bernyanyi. Ciptakan lagu-lagu dengan syair sederhana yang memuat cara-cara sederhana membuka dan mengancingkan baju, sehingga anak dengan mudah dapat mencernanya. Kegiatan menarik ritsleting dan mengancingkan baju sekaligus akan mengasah kemampuan motorik halusnya.
Awalnya sangat mungkin akan terkesan berantakan. Bila ini yang terjadi, biarkan. Tak perlu terpancing untuk memarahinya ataupun kelewat memaksakan “nilai-nilai” orangtua mengenai kerapian dan kepantasan. Biarkan saja ia bereksplorasi terlebih dahulu. Dukung anak jika berhasil dan segera betulkan jika ia keliru tanpa perlu menyalahkannya.
Yang terpenting, berikan kesempatan kepada anak untuk mencoba disertai keyakinannya bahwa orangtua akan memberi perhatian penuh sekaligus menciptakan rasa aman. Jika anak merasa nyaman, ia akan menjalani proses pembelajaran ini dengan lancar. Kalau saja sejak usia batita bantu diri telah diperkenalkan secara konsisten, maka di usia prasekolah, sudah selayaknya anak mampu melakukan aktivitas bantu diri dengan baik.
CIKAL BAKAL KEMANDIRIAN
Hebatnya, keterampilan bantu diri merupakan cikal bakal kemandirian anak. Jika anak tumbuh menjadi pribadi mandiri berarti ia memiliki sejumlah kelebihan, di antaranya:
* Tak perlu bergantung sepenuhnya pada orang lain hanya untuk melakukan kegiatan fisik maupun pengambilan keputusan. Berarti ia mampu menyelesaikan tugas sekaligus mengemban tanggung jawabnya tanpa mengandalkan bantuan orang lain.
* Tak mudah panik bila menghadapi situasi baru/berbeda sebab ia terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri.
* Tumbuh menjadi individu kreatif karena ia banyak menelurkan ide baru.
* Tak mudah frustrasi setiap kali mengalami benturan atau menemui kesulitan karena ia senantiasa tertantang untuk mencoba memecahkan persoalannya sendiri.
* Tumbuh menjadi pribadi yang disukai dalam pergaulan berkat kemandirian dan kematangan yang ditunjukkannya. Contohnya, mampu dengan cepat menyelesaikan tugas kelompok tanpa merecoki teman-teman anggota kelompoknya.
* Rasa percaya dirinya berkembang optimal karena setiap kali berhasil menguasai kemampuan tertentu, maka nilai positif dalam diri anak akan bertambah. Perlu diingat, pembentukan self esteem antara lain didapat melalui penguasaan keterampilan. Yang pasti, pribadi mandiri mampu mengem-bangkan apa yang menjadi nilai positif dalam dirinya.
* Keterampilan motoriknya berkembang dengan baik mengingat anak terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Contoh sederhanya, ia terampil menulis karena terbiasa menggunakan jari-jarinya untuk mengerjakan tugasnya secara mandiri.
Masalah: masih disuapi Target Anda Strategi
Contohnya, usia anak kini 4 tahun. Jika disuruh makan sendiri sampai habis lama sekali. Kemungkinan besar karena di usia batita orangtua dan pengasuh tak cukup sabar mendampingi anak belajar makan secara mandiri. Selain itu, sering kali anak dianggap hanya mengotori meja makan dan area sekitarnya. Anak bisa makan sendiri. – Belajarlah bersabar ketika mendampingi anak makan sendiri.
– Dampingi anak sambil makan bersama. Ceritakan hal-hal yang menyenangkan tentang makanan yang sedang dimakan dan lain-lain.
– Berikan porsi yang kira-kira dapat dihabiskan anak sambil makan sendiri.
– Lontarkan pujian bila si prasekolah bisa menghabiskan makanannya.
– Buatlah agar tampilan makanannya menggugah selera, bisa dari resepnya ataupun cara penyajiannya.
– Bersikaplah konsisten untuk membiarkan anak makan sendiri.
TUGAS SEDERHANA
* Mengenakan baju
Memasuki usia 4 tahun, anak sudah mampu memakai baju sendiri. Bila mengenakan kaus, ia pun sudah dapat membedakan mana bagian depan dan mana bagian belakang, sehingga tidak lagi terbolak-balik. Bahkan, ia mulai terampil mengancingkan kemejanya.
* Mengenakan sepatu
Awalnya, pilihkan sepatu berperekat. Selanjutnya bimbing ia agar mampu mengenakan sepatu bertali sederhana. Proses mengikatkan tali sepatu sekaligus merupakan ajang latihan bagi kemampuan motorik halusnya.
* Makan
Memasuki usia 4 tahun anak mampu makan sendiri dan menggunakan peralatan makan dengan benar. Seyogyanya ia juga sudah paham mengenai disiplin waktu makan sekaligus apa saja aturan di meja makan. Contohnya, tidak boleh menghambur-hamburkan makanan, mengunyah sambil mengeluarkan bebunyian, duduk bermalas-malasan, makan di sembarang tempat atau sambil berjalan-jalan seenaknya. Selain itu, anak juga mestinya sudah mampu mengambil makanan untuk dirinya saat di meja makan.
Seiring bertambahnya usia, tingkatkan keterampilannya dengan memberi pengetahuan tentang kebiasaan makan sesuai adat di keluarga besar. Misalnya saja, kebiasaan makan tanpa menggunakan alat atau langsung dengan tangan. Orangtua tak ada salahnya mengajarkan kebiasaan itu. Dengan mendapat pengetahuan dan kepercayaan untuk melakukannya, ini akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Hasilnya, kelak ia bakal mampu menyesuaikan diri dengan etiket makan di manapun.
* Aktivitas di kamar mandi
Mandi, buang air besar, buang air kecil dan membersihkan sesudahnya adalah aktivitas bantu diri di kamar mandi yang sudah dapat dilakukan anak usia prasekolah. Sebelumnya, anak sudah dapat dilatih untuk bisa mencuci muka dan tangannya.
Namun dengan alasan keber-sihan, tak ada salahnya orangtua sesekali mengontrol cara mandi dan membersihkan diri anak. Khusus untuk anak perempuan, ingatkan untuk membasuh kemaluannya dari arah depan ke belakang dan bukan sebaliknya, terutama usai buang air besar. Jangan lupa, jelaskan alasannya dengan bahasa sederhana, yakni agar kotoran dan kuman yang mungkin tertinggal di anus tidak terbawa ke vagina.
Tahapan berikutnya, bimbing juga anak untuk mengeringkan alat kelaminnya dengan tisu atau handuk kecil yang bersih agar tidak lembap. Jika sudah, bimbing ia untuk mengenakan kembali celananya dan merapikan penampilannya. Saat memakai celana, mintalah anak untuk berpegangan pada dinding kamar mandi agar tidak terjatuh akibat ketidakseimbangan tubuhnya.
KALAU TERLAMBAT
Bila keterampilan bantu diri ini belum dikuasai di usia prasekolah, sebaiknya orangtua segera mengubah sikap. Boleh jadi karena selama ini anak tidak diberi kesempatan untuk melatih dirinya. Jadi, segeralah ciptakan tugas-tugas sederhana dan bimbinglah dia saat melakukan tugasnya.
Sangat mungkin proses belajar bantu diri yang baru dimulai di usia ini makan waktu lebih lama. Apalagi jika anak sudah terbiasa mendapat pelayanan penuh dari orangtua, pembantu atau pengasuh, karena motivasi anak harus dibangun lebih dulu. Namun, berbekal kemauan dan kesabaran, cara-cara membantu diri dapat diajarkan. Lakukan secara perlahan dan bertahap dari aktivitas yang paling mudah, seperti menaruh piring di tempat cucian, sampai yang kompleks seperti mandi sendiri. Jangan lupa, sertakan contoh di setiap latihan agar motivasinya tumbuh dan anak benar-benar memahaminya sebelum masuk ke langkah berikut. Kuncinya, lebih baik terlambat daripada tidak. Tanpa keterampilan bantu diri, anak akan mengalami banyak hambatan.
Santi Hartono.
Narasumber:
Sani B. Hermawan Psi.,
psikolog dan Direktur Lembaga Pelatihan Daya Insani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s