Manfaat Main Kolase Untuk Anak

sumber : tabloidnakita.com

Tempel, tempel, dan tempel…wah hasilnya bagus, lo.
Pulang “sekolah” Julia langsung membuka tasnya. Dikeluarkannya beberapa stiker warna-warni dan lembar untuk menempelkannya. “Asyik, aku akan menempelnya satu per satu,” ucap Julia senang. Dilepasnya satu per satu stiker warna-warninya, ada yang berbentuk segitiga, lingkaran, bintang, persegi panjang, dan lainnya. Kemudian ditempelnya di sebuah gambar yang masih berupa garis (outline). Tak berapa lama gambar yang tadinya polos kini menjadi indah. “Bagus kan, Ma?” ucap Julia meminta persetujuan mamanya. “Wah, kolase buatanmu bagus sekali. Anak Mama sudah pintar mencocokkan bentuk dan menempelkan stiker!” puji mama.
Ya, kolase adalah permainan keterampilan melengkapi gambar menggunakan stiker warna. Anak diminta menempelkannya pada bidang yang tepat seperti yang diperintahkan atau di mana pun ia menyukainya. Tinggal melepas dan menempelnya di media gambar. Sebagian bahkan mengharuskan anak menggunting stikernya sesuai kebutuhan. Tak rugi mengenalkannya karena anak bisa menarik banyak manfaat positif dari permainan ini.
9 Manfaat
1. Melatih Motorik Halus
Saat bermain kolase, anak harus melepas satu per satu stiker. Sebagian anak mungkin agak kesulitan melakukannya karena butuh gerakan-gerakan halus dari jari-jemari untuk melepas stiker dan menempelnya di bidang gambar. Nah, latihan melalui permainan ini secara langsung menstimulasi kemampuan motorik halusnya. Jari-jemarinya akan siap untuk diajak belajar menulis.
Kemampuan motorik halus yang baik sangat penting karena berpengaruh terhadap aktivitas anak sehari-hari. Misal, anak bisa menjumput kacang lalu menyuapnya, memegang pensil lebih baik, atau memegang benda kecil lainnya dengan baik.
2. Meningkatkan Kreativitas
Pilihlah permainan kolase yang juga memancing kreativitas. Salah satunya yang menyediakan pilihan, baik warna, bidang tempel, karakter, atau lainnya yang memenuhi selera.
3. Melatih Konsentrasi
Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat melepas dan menempel stiker. Lambat-laun kemampuan konsentrasinya akan semakin terasah.
Pada saat berkonsentrasi melepas dan menempel dibutuhkan pula koordinasi pergerakan tangan dan mata. Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak di masa yang sangat pesat.
4. Mengenal Warna
Kolase terdiri atas banyak sekali warna; merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosakatanya bertambah.
5. Mengenal Bentuk
Selain warna, beragam bentuk pun ada pada kolase. Ada segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang, busur, dan gambar-gambar bukan geometris. Pengenalan bentuk geometri dasar yang baik, kelak membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya, dia akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah berbentuk segitiga, dan sebagainya. Pemahaman ini membuat kerja otak lebih aktif sehingga kecerdasan anak tumbuh lebih maksimal.
6. Melatih Memecahkan Masalah
Kolase merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan anak. Tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar sebenarnya sedang dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak untuk keluar dari permasalahan. Ketika sedang menalikan sepatu, umpamanya, dia akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikannya hingga tuntas.
7. Mengasah Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Nah, kemampuan spasial akan ikut terasah dalam permainan ini. Pasalnya, terdapat banyak bentuk stiker yang ukurannya berbeda-beda dan anak harus berusaha menyesuaikan stikernya dengan ruang yang ada di outline gambar. Supaya tepat, anak harus benar-benar saat mengukurnya. Lewat hal inilah kecerdasan spasialnya terasah.
8. Melatih Ketekunan
Tak mudah menyelesaikan kolase dalam waktu cepat. Butuh ketekunan dan kesabaran saat mengerjakannya mengingat setiap bentuk harus dilepas dan ditempel satu per satu. Tak heran bila permainan ini pun dapat melatih ketekunan dan kesabaran anak.
9. Meningkatkan Kepercayaan Diri.
Bila anak mampu menyelesaikannya, dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dalam dirinya tumbuh kepercayaan diri kalau dia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kepercayaan diri sangat positif untuk menambah daya kreativitas anak karena mereka tidak takut atau malu saat mengerjakan sesuatu.
Kepercayaan diri anak biasanya akan tumbuh lebih besar bila dia ternyata berhasil menyusun kolase lebih cepat daripada teman-temannya. Namun, kepercayaan diri ini sebaiknya dijaga agar tidak berubah menjadi kesombongan.
5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
1. Beri Penjelasan
Banyak anak yang belum tahu cara memainkan kolase sehingga kita perlu menjelaskan dengan baik mengenai langkah-langkah yang harus anak lakukan. Dari melepas stiker, mengenali bentuk stiker, cara menempel yang baik, memilih stiker, dan seterusnya. Bila anak belum memahami dengan baik, ulangi lagi penjelasannya sampai dia benar-benar memahami. Biasanya kalau sudah paham, anak akan dengan mudah mengerjakan kolase sendiri.
2. Kenali Kemampuan Anak
Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Ada anak yang kemampuan motoriknya bagus sehingga dengan mudah dia bisa melepas dan menempel stiker. Sebaliknya ada pula anak yang kemampuan motoriknya belum cukup baik, sehingga dia sulit melakukannya. Nah, sesuaikan jenis kolase dengan tingkat kemampuannya sebelum memilih bentuk yang lebih rumit.
3. Ajarkan Menggunting
Ada kolase yang stikernya belum dipotong dan mengharuskan anak menggunting dahulu sebelum menempel. Nah, beri contoh cara memegang gunting yang aman dan cara menggunting yang benar. Mulailah dengan mengunting bentuk yang paling sederhana seperti segi empat atau segitiga. Berikan contoh sampai anak benar-benar memahaminya.
Pahami pula kemampuan setiap anak dalam menggunting. Biasanya usia 3-4 tahun dapat dilatih memegang gunting dan dapat menggunting dengan cara yang benar namun belum bisa mengikuti panduan. Lalu di usia 4-5 tahun anak mampu menggunting dengan mengikuti garis lurus atau melengkung. Selanjutnya di usia 5-6 tahun anak bisa menggunting bentuk lingkaran, segi- tiga, atau segiempat. Dengan memahami perkembangan kemampuan ini, akan lebih mudah bagi kita mengarahkannya.
4. Gunakan Seluruh Jari
Minta anak menggunakan kelima jarinya saat mengelupas stiker maupun menempelkannya supaya kemampuan semua jemari anak terstimulasi. Sangat baik bila anak menggunakan kedua tangannya secara bergantian agar terjadi keseimbangan antara otak kiri dan kanan.
5. Beri Support dan Reward
Biar saja jika hasil pekerjaannya belum memuaskan. Jangan malah berkomentar negatif. Komentar negatif bukannya membangun semangat anak tetapi malah akan membuatnya merasa terpojok dan enggan berusaha lagi. Begitu pula jika anak berhasil mengerjakannya dengan baik, hargai dengan pujian dan ungkapan sayang.
Irfan Hasuki.
Narasumber:
Laila Fadhilah, S.Pd.,
pengajar di TK Bunayya, Jakarta Selatan

Iklan

ASAH OTAK Lewat TEKA-TEKI

sumber : tabloidnakita.com

Tak hanya mengasah kreativitas, tapi juga kemampuan menganalisis.
“Aku buah-buahan, rasanya manis, rambutku banyak dan warnaku merah, apa hayo?” tanya Dika, bocah 4;6 tahun, kepada tiga teman mainnya. Di saat dua temannya mengernyitkan dahi, berpikir mencari jawaban tepat, tiba-tiba seorang temannya yang lain menjawab, “Buah rambutan!”
“Betul!” ucap Dika sambil menepuk bahu temannya itu.
Anak prasekolah, tepatnya mulai 4 sampai 6 tahun, memang senang bermain teka-teki. Kesenangan ini muncul karena pengaruh lingkungan ketika anak sudah bersosialisasi dengan teman-temannya, entah yang sebaya atau berumur di atasnya. “Nah, dari interaksi itu, mungkin saja anak mendengar atau mengamati teman-temannya bermain teka-teki,” ujar Efriyani Djuwita, M.Si.
Bisa juga, main tebak-tebakan ini datang dari orangtua atau pengasuhnya. Saat senggang, beberapa orangtua sangat senang menggunakan permainan ini. Pengaruh lainnya bisa lewat media, entah televisi atau media cetak. Bahkan, beberapa majalah anak menyediakan kolom khusus teka-teki beserta hadiah bagi pengirim jawaban yang benar. Apalagi, tambah psikolog perkembangan anak yang akrab dipanggil Ita ini, kosakata, pengalaman, dan kemampuan kognitif anak juga sudah berkembang. “Mereka sudah bisa mencari jawaban dari potongan-potongan informasi yang di-namakan petunjuk. Jawaban itu diperoleh dari pengalamannya sehari-hari. Semakin kaya wawasan anak semakin mudah dia menjawab.”
Selain itu, usia ini juga dikenal dengan usia cerewet. Anak senang bertanya dan menanyakan sesuatu. Nah, dengan permainan teka-teki, keterampilan berbahasanya seakan tersalurkan. Bahkan, beberapa anak yang cerdas sangat senang bila bisa membuat teka-teki sendiri.
TEKA-TEKI PORNO
Tentunya, anak tidak ujug-ujug bisa bermain teka-teki yang rumit, melainkan dimulai dari soal-soal sederhana. Awalnya sangat mungkin anak hanya bertanya-jawab tentang persamaan dan perbedaan dari sebuah kata atau benda. Umpama, “Apa persamaan bemo dan bajaj?”, “Apa beda ikan dan kodok?”, dan seterusnya. Dari situ anak belajar mengotak-atik kata-kata menjadi sebuah teka-teki.
Jadi, sesuai kemampuan kognisinya, teka-teki anak prasekolah umumnya cukup sederhana. Misal, di awal pertanyaan, anak akan menyebutkan kategori seperti, “Aku binatang.”, “Aku buah-buahan….”, dan sebagainya. Petunjuknya pun, biasanya cukup lengkap sehingga memudahkan mereka untuk menjawab. Beberapa teka-teki favorit, umumnya tak jauh dari dunia anak-anak, seperti tokoh jagoannya, binatang, mobil, buah-buahan, dan lainnya. Mereka senang mengenali ciri sesuatu benda, lalu mengubahnya menjadi teka-teki seru.
Yang jelas, permainan teka-teki dapat mengasah kreativitas dan memperkaya wawasan anak. Karenanya, Ita menyarankan orangtua agar menanggapi pertanyaan teka-teki anak. “Berpikirlah dan jawablah dengan serius, sehingga anak merasa dihargai. Hindari jawaban asal-asalan yang membuat anak malas dan ogah-ogahan memberikan soal teka-teki lagi,” kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
Jika anak kehabisan ide, cobalah orangtua gantian memberikan pertanyaan kepada anak. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan anak. Jika anak sedang gandrung dengan Spiderman, misal, cobalah membuat soal teka-teki tentang jagoannya itu. Jika anak kesulitan menjawab, cobalah untuk memberikan petunjuk lebih banyak. Atau, anak bisa berpikir untuk beberapa lama sampai menemukan jawaban tepat. Boleh jadi orangtua memberikan teka-teki di malam hari, tetapi baru dijawab keesokan harinya oleh anak sepulang sekolah. Tak masalah. Kemudian, jika anak menemukan teka-teki di majalah dan kesulitan menjawabnya, sebaiknya orangtua bersama anak memecahkan soal teka-teki itu.
Namun, orangtua tetap harus melakukan pembatasan atau pengawasan. Tak semua teka-teki positif dan menghibur. Ada beberapa teka-teki yang berkonotasi negatif, jorok, berbau pornografi, atau pelecehan terhadap seseorang dan golongan tertentu. Jadi, orangtua harus memilah, teka-teki mana yang cocok dan tidak buat anak. Selamat berteka-teki bersama si buah hati!
4 MANFAAT MAIN TEKA-TEKI
1. Mengasah Daya Ingat
Saat teka-teki diluncurkan, anak akan menyisir semua arsip yang ada di kepalanya, untuk kemudian dicocokkan dengan petunjuk yang ada. Karenanya, permainan ini sangat baik untuk menjaga daya ingat anak. Selain itu, sangat mungkin anak menemukan kosakata baru yang belum dikuasainya. Dengan begitu, wawasan anak semakin kaya, kosakatanya pun bertambah banyak.
2. Belajar Klasifikasi
Anak belajar mengklasifikasikan, mana yang termasuk kategori buah-buahan, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Saat disebutkan buah-buahan, pikiran anak akan melayang kepada jeruk, pepaya, rambutan, dan sebagainya. Demikian juga ketika pertanyaan itu merujuk kepada binatang, maka gajah, monyet, kodok, dan lainnya, akan segera melintas dalam pikirannya. Dengan keterampilan klasifikasi ini, anak akan mudah menata ribuan kosakata yang dikuasainya.
3. Mengembangkan Kemampuan Analisis
Anak belajar menganalisis jawaban yang tepat dari berbagai petunjuk yang ada. Dia belajar menggabungkan informasi itu dan menemukan jawabannya. Kemampuan analisis ini sangat berguna, khususnya saat anak masuk usia sekolah. Banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan analisis, utamanya soal-soal yang memakai penggunaan cerita.
4. Menghibur
Permainan teka-teki sangat menghibur. Ini jelas permainan yang menyenangkan dan bisa mengakrabkan hubungan anak dengan orangtua, maupun antarteman sebaya. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun, baik dalam perjalanan, di rumah, sekolah, maupun di saat-saat santai lainnya.
BEBERAPA CONTOH TEKA-TEKI ANAK
Orangtua bisa membuat beberapa soal teka-teki yang kreatif. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan keseharian anak. Sangat mungkin jawaban dari teka-teki itu lebih dari satu. Berikut beberapa contohnya:
* Buah-buahan
– Aku buah-buahan. Warna kulitku hijau. Warna dagingku merah. Rasaku manis. (Jawaban: semangka)
– Aku buah-buahan. Aku memiliki banyak duri tajam. Bauku harum dan rasaku manis. (Jawaban: durian)
* Binatang
– Aku binatang berkaki empat. Aku berbadan besar dan memiliki belalai panjang. (Jawaban: gajah)
– Aku binatang berkaki empat. Leherku panjaaangng… sekali. Aku memiliki banyak bintik di tubuhku. (Jawaban: jerapah)
– Aku binatang tanpa kaki dan tangan. Badanku panjang dan lentur. Gigiku tajam dan aku memiliki racun berbahaya. (Jawaban: ular)
* Jagoan
– Aku bisa memanjat gedung seperti laba-laba. Warna bajuku merah. Aku bisa mengeluarkan jala yang mampu menjerat lawan. (Jawaban: Spiderman)
– Aku seorang jagoan yang memiliki jubah. Aku bisa terbang dan di dadaku terdapat huruf S. Siapakah aku? (Jawaban: Superman)