Anak Asal Bunyi atau Bohong


sumber : tabloidnakita.com

“Makan siangmu habis, Sayang?” “Habis.” “Lo, kok, nasi di piringmu masih banyak?”
Si batita senang mengatakan hal di luar kenyataan. Sampai-sampai muncul pertanyaan di benak kita, dia sengaja berbohong atau cuma asal bunyi (asbun), sih? Tapi, kok, enggak cuma sekali, ya? Pintar amat dia. Harus disikapi bagaimana, dong
Anak usia batita memang cenderung bersikap spontan dalam menjawab apa pun. Adakalanya apa yang dikatakan tidak sesuai kenyataan. Tak heran kalau kemudian muncul kesan ia seolah asal bicara, bahkan sengaja berbohong.
Asal tahu saja, di usia batita anak belum punya kecenderungan berkata bohong. Alasannya, berbohong memiliki sifat patologis, atau sudah bisa memanipulasi dengan mengatakan sesuatu yang tak sesuai kenyataan. Kemampuan ini baru ditemukan pada anak usia sekolah yang pola pikirnya sudah lebih berkembang dan maju dibanding anak usia batita.
Kalau toh si batita seolah berkata bohong ini lebih dila-tar-belakangi beberapa faktor, antara lain:
* Menciptakan imej positif
Sesuai dengan tahap perkembangannya, anak usia batita, baik laki-laki dan perempuan mulai sadar akan dirinya sendiri. Anak berusaha menciptakan imej diri positif yang dipelajarinya dari sikap orangtua selama ini. Per-kembangan moral yang ingin dicapainya yaitu mencitrakan diri seperti yang disukai kedua orangtuanya. Dengan demikian ia akan menjadi anak kesayangan ayah dan ibunya. Dorongan akan citra diri positif ini membuat anak berusaha mencocokkan perilaku seperti apa yang harus dia katakan sesuai dengan harapan lingkungan dari dirinya. Semua dilakukannya dengan melihat dari kacamata dirinya.
* Adanya stimulus-respons orangtua dan anak
Seringkali orangtua mena-namkan suatu nilai tertentu pada anak. Misalnya, “Kalau makan dihabiskan ya. Kalau enggak nanti Ibu enggak sayang Adek lagi.” Nah, anak pun mengharapkan rewards berupa kasih sayang, pujian dan lainnya dari orangtua. Untuk mendapatkannya ia
berusaha bersikap sesuai dengan yang apa diharapkan orangtuanya. Jadi, begitu ditanyakan apakah hari itu dia menghabiskan makanannya atau tidak, spontan dia akan mengatakan “habis” meski kenyataannya tidak demikian. Ini dilakukan si anak semata-mata demi berharap mendapat respons yang dia inginkan dari orangtuanya.
* Cari perhatian
Adakalanya sikap batita yang seolah berkata bohong ini sebetulnya hanya lantaran ingin cari-cari perhatian. Jadi, ketika ditanya tentang sesuatu, ia segera meresponsnya dengan memberi informasi yang tidak semestinya. Dengan jawaban tersebut orang di lingkungannya memberi reaksi tertentu yang diharapkan si batita. Cara ini sebetulnya digunakan sebagai pesan kepada orang lain bahwa ia ingin diperhatikan.
* Menutup rasa takut
Sering kali, maksud baik orangtua diterima secara salah oleh anak. Teguran, contohnya, dianggap menekan dirinya. Boleh jadi orangtua pada dasarnya tidak bersikap keras. Namun, saat menghadapi perilaku anaknya yang kurang sesuai dengan harapan mungkin saja tanpa disadari orangtua terpancing marah. Nada suara meninggi dan sering disertai dengan tuduhan negatif pada anak. Ketidakhati-hatian orangtua dalam bersikap ini membuat anak merasa kecut untuk bicara jujur apa adanya. Itulah mengapa di lain waktu dan seterusnya anak akan terbiasa menjawab sesuai yang diinginkan lawan bicaranya. Jangan salah, justru anak-anak yang cerdaslah yang mampu menangkap bahasa yang diinginkan orang lain dari dirinya.
BAGAIMANA MERESPONSNYA?
Sebetulnya, kebiasaan asal bicara dapat diperbaiki apabila orangtua bersedia mengubah gaya berkomunikasinya dengan si batita. Ketika anak kedapatan asbun, berikan respons berupa jawaban yang bernada gurauan. Contohnya, “Ah, masak sih kamu sudah makan? Coba sini Mama periksa perutmu. Kata mbak belum. Mama lihat piring makanmu juga masih rapi di meja makan.” Justru lewat respons yang tidak menegangkan semacam ini anak justru terpancing untuk berterus terang. Dalam hal ini, tak apa mengatakan yang bukan kenyataan asalkan tidak diulangi lagi.
Sebetulnya asbun pada anak batita sangatlah wajar, sesuai dengan tahap perkembangannya. Awalnya, muncul sebagai spontanitas anak atau wujud ke-inginan untuk tidak dipersalahkan. Namun, kalau tidak segera diluruskan dan ditangani sangat mungkin berlanjut menjadi perilaku berbohong yang tidak sehat. Runyam kan nantinya?
Sayangnya, tanpa disadari orangtua teramat sering meniadakan support bagi anak untuk bicara apa adanya. Anak jadi terkondisi untuk bicara tidak jujur asalkan ayah-ibu senang. Kelak di usia sekolah atau bahkan usia dewasa, kebiasaan berbohong dapat terus berlanjut demi membentuk citra diri yang diinginkan lingkungan. Misalnya di sekolah mendapat nilai jelek, tapi kepada orangtua dan temannya mengaku mendapat nilai bagus. Dia tak punya teman di sekolah tapi mengaku-aku punya banyak teman, dan sebagainya.
Saat dewasa nanti tidak tertutup kemungkinan anak berkembang menjadi individu yang berkarakter manipulatif. Ia memilih tidak berterus terang dan berkata yang bagus-bagus saja meski itu berarti menyusahkan diri sendiri. Individu seperti ini tentu saja patut dipertanyakan ketulusan sikapnya.
Karenanya, orangtua harus kritis menghadapi anak batita yang selalu menampilkan citra diri positif. Segera cari tahu latar belakangnya karena bagaimanapun mustahil anak selalu bersikap sempurna, bukan?
MENGEMBALIKAN KEJUJURAN ANAK
* inggalkan pendekatan interogatif
Selama ini tanpa disadari masih banyak orangtua yang mengajukan pertanyaan pada anaknya dengan gaya interogasi. Contohnya, “Adek tadi nakal ya?”, “Hayo, tadi makannya enggak habis ya?”, atau “Pasti kamu tadi gangguin kakak ya?” Gaya berkomunikasi satu arah yang lebih mirip dengan interogasi ini tentu saja tidak disukai siapa pun, termasuk anak. Yang bersangkutan merasa ditekan atau dipojokkan.
* Rangsang anak untuk mau bercerita
Kalau orangtua mendengar secara tidak langsung mengenai kejadian yang menimpa anaknya, pancinglah agar si kecil mau menceritakan kejadian tersebut. Misalnya, “Ibu dengar Adek tadi ribut sama kakak. Memangnya ada apa sih?” Pendek kata, lontarkan pertanyaan positif yang membuatnya mau bercerita dan merasa dirinya diterima apa adanya. Penerimaan semacam ini akan membuat anak terdorong untuk menceritakan segalanya, termasuk hal-hal yang jelek sekalipun. Ia merasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
* Sikapi dengan santai
“Wah, kamu bertengkar sama kakak kayak di film aja! Kenapa ya harus bertengkar seperti itu?” Pada dasarnya orangtua memang dituntut untuk bersikap kreatif agar cerita sebenarnya dari mulut si kecil bisa mengalir lancar.
* Ciptakan rasa aman
Orangtua mesti sadar sepenuhnya mengapa anak cenderung asbun atau malah sudah menjurus pada berbohong. Sangat mungkin ada perilaku orangtua yang membuat anak merasa takut untuk berterus terang. Untuk meminimalkan ketakutan ini, orangtua bisa mengatakan, “Sebenarnya kalau makanmu enggak habis juga enggak apa-apa, kok. Bilang aja, enggak usah takut. Bunda enggak marah kok. Bunda cuma pengin tahu apa makanannya yang enggak enak, Adek sudah kenyang, atau kelewat asyik main?”
Pendekatan seperti ini membuat anak merasa aman. Ia yakin, meski perilakunya kurang terpuji karena tidak menghabiskan makanan, tapi dengan mau menyampaikan apa adanya, ia tidak akan kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya. Setidaknya ini juga mendorong anak untuk tidak takut bercerita tentang apa pun yang ada di luar harapan orangtuanya, termasuk hal-hal yang tak enak untuk disampaikan. Dengan kata lain, anak jadi termotivasi untuk membangun keberanian bicara jujur. Inilah nilai yang mesti ditanamkan.
Jangan lupa untuk memberi contoh konkret kepada anak. Contohnya, saat ayah tidak menghabiskan makanannya, jelaskan, “Wah, Ayah sudah usahakan menghabiskan makanan ini, tapi tidak bisa. Perut Ayah lagi sakit nih. Nanti kalau Ayah paksakan habis bisa-bisa malah muntah.”
Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
Indri savitri, Psi.,
Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s