Si TELEDOR


sumber : tabloidnakita.com

Biasakan anak untuk beres-beres sendiri setiap usai menggunakan barang.
Sering kan si prasekolah mempertanyakan di mana mainannya atau barang-barang lainnya miliknya? Ketika dia ingin bermain dengan bonekanya atau mobil-mobilannya, dia tak menemukan mainan tersebut di kotaknya. Atau, ketika dia hendak memakai sandal, ternyata cuma ada satu, sementara pasangannya entah di mana.
Ya, ini salah satu perilaku yang nyebelin dari anak usia ini, “menyimpan” barang-barang atau mainannya di sembarang tempat. Ada yang tercecer di antara rerumputan di halaman rumah, tersembunyi di balik bebatuan, teronggok di kolong tempat tidur atau bahkan di sudut dapur, dan sebagainya. Belum lagi barang/mainan yang tak jelas nasibnya. Barang/mainan itu biasanya baru ditemukan setelah ada aktivitas “bersih-bersih” rumah.
Sebenarnya, perilaku si prasekolah yang demikian dapat dimaklumi. Pasalnya, kemampuan mengingat anak 4-5 tahun belum berkembang optimal. Tak heran, anak usia ini bak seorang manula yang sudah pikun. Berangkat bersepeda, tapi pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Sepedanya diletakkan di mana, dia tidak tahu. Begitu juga dengan nasib mainannya yang sehabis bermain langsung dilupakan.
Meskipun wajar, bukan berarti kita boleh terus membiarkan barang/mainan milik si kecil hilang satu per satu. “Sejak dini, orangtua dapat mengajari anaknya agar bisa bertanggung jawab terhadap semua barang atau mainan miliknya,” kata Rahmitha P. Sandjojo, Psi., dari Buah Hati Preschool, Bogor.
Bila anak dibiarkan saja hidup berantakan, bukan tak mungkin dia akan menjadi sosok yang teledor, pribadi yang jorok. Menyimpan barang di mana saja, juga tak bertanggung jawab terhadap barang miliknya. Tak heran jika dia sering lupa di mana barang miliknya disimpan/diletakkan. Kelak jika bekerja di kantor, dia tak terbiasa mengelompokkan file-file yang ada di mejanya, dan mejanya pun tak pernah rapi.
Selain itu, anak juga tak bisa menghargai hak milik. Dia main serobot barang milik orang lain. Dia juga tak pernah menolak jika barangnya dipinjam teman atau orang lain. Tak peduli apakah barangnya kembali atau tidak, rusak atau utuh. Tentu kita tak ingin hal itu terjadi pada si buah hati, kan? Oleh karenanya, psikolog yang akrab disapa Mitha ini menganjurkan orangtua agar sejak dini mengajari anak untuk beres-beres seusai bermain.
WADAH YANG MUDAH
Di rumah, mulailah dengan mengajari anak membereskan mainan seusai dimainkan. Cuma, jangan lupa, sediakan kotak untuk menyimpan mainan. “Banyak anak enggan membereskan mainan karena tak disediakan tempat atau wadahnya, atau tempat menaruh mainannya bergonta-ganti sehingga membuat anak bingung ke tempat mana bonekanya harus disimpan dan ke tempat mana balok-baloknya disimpan,” beber Mitha.
Jika mainannya kelewat banyak, sediakan beberapa kotak dengan model atau warna berbeda. Lalu bagilah, mainan mana yang masuk kotak A dan mainan yang masuk kotak B. Misal, mainan A khusus untuk mainan berukuran kecil sedangkan kotak B bisa menampung boneka besar dan mainan berukuran besar lainnya. Kenalkan secara berulang-ulang setiap hari sehingga anak paham. Cara ini secara tak langsung mengajarkan klasifikasi sederhana, menyimpan barang sesuai dengan tempatnya, dan ini memudahkan anak saat mencari mainannya.
Berikutnya, ajak anak membereskan mainan. Berikan contoh terlebih dahulu, “Mainan mobilmu disimpan di kotak biru ini, ya.” Kemudian, biarkan anak mengambil mainannya untuk disimpan ke dalam kotak. Beri pujian ketika anak berhasil melakukannya, dan terus berikan motivasi hingga semua mainannya dibereskan. Lakukan secara bersama-sama. Agar anak berkonsentrasi penuh, tegaskan, dia tak boleh bermain atau menonton film sebelum semua mainannya dibereskan. Di sisi lain, orangtua juga harus mengedepankan sikap sabar. Bagaimanapun, anak memerlukan waktu tidak sebentar untuk membereskan mainan.
Meski terlibat langsung dan memberi contoh, namun jangan terlalu banyak membantu atau malah akhirnya membereskan sendiri mainan itu tanpa melibatkan anak. Bila ini yang terjadi, anak justru akan merasa keenakan sehingga akhirnya enggan membereskan mainan. “Mengapa aku harus membereskan mainan? Toh, ada Mama yang bisa membereskannya dengan cepat.”
TANPA PAKSAAN & ANCAMAN
Jelaskan pula manfaatnya jika mainannya disimpan rapi. “Kamu tidak perlu bersusah payah lagi saat mencari mainan. Selain itu, jika mainannya berantakan, kamu bisa terluka atau terpeleset karena mainannya terinjak. Mainanmu juga bisa rusak jika diletakkan di sembarang tempat.”
Hindari cara-cara memaksa atau mengancam, “Ayo, bereskan mainan! Jika tidak, Mama enggak membelikanmu mainan lagi.” Itu tidak hanya membuat anak semakin ogah membereskan mainan, tapi juga memiliki konsep yang salah tentang mengapa dirinya harus membereskan mainan. Bukan supaya rapi dan lebih bertanggung jawab, melainkan agar dirinya dibelikan mainan baru. Banyak anak yang enggan membereskan mainan, salah satunya juga dikarenakan ajakan yang tak bersahabat ini.
Sebenarnya, tanggung jawab yang sama juga diajarkan di “sekolah”, baik playgroup maupun taman kanak-kanak. Untuk playgroup, beberapa “sekolah” yang menganut sistem sentra menerapkan aturan main. Salah satunya, anak bebas mau bermain di mana, apakah di sentra balok, sentra musik, sentra ibadah, dan lain-lain. Di setiap sentra anak diharuskan merawat dan menjaga mainan. Plus tak boleh berpindah sentra jika mainan di sentra sebelumnya belum dibereskan. Ini secara tak langsung mengajari anak bertanggung jawab, sekaligus belajar membereskan mainannya sendiri. Tanpa ketergantungan dan bantuan orang dewasa.
CARI TERUS SAMPAI KETEMU
Bagaimana jika anak lupa atau benda miliknya tertinggal? Tugas orangtua adalah merunut kembali aktivitas yang dilakukan anak. Jika sepedanya tertinggal, tanyakan anak tadi bermain di mana saja. Rumah A, lapangan B, dan seterusnya. Ajak anak untuk terus mencari sampai didapat kembali sepedanya. Itu merupakan bentuk tanggung jawab anak terhadap barang miliknya. Sedapat mungkin hindari mencari sepeda itu tanpa disertai anak. Jangan sekali-kali memarahi karena tak membuat anak langsung teringat, juga tak membuatnya tergerak mencari sepedanya sendiri. Yang ada justru anak takut dan enggan mencari sepedanya.
Hal lain yang perlu diingat, jadilah contoh dalam kerapian dan tanggung jawab. Ingat, anak cepat meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Jangan heran melihat anak berantakan jika kamar orangtuanya sendiri berantakan. Atau, anak tak memedulikan mobilnya rusak karena orangtua sendiri tak peduli dengan handphone-nya yang diletakkan sembarangan. Bagaimanapun, contoh dari orangtua memang lebih “mujarab” ketimbang berjuta kata!
Saeful Imam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s