Manfaat Main Kolase Untuk Anak

sumber : tabloidnakita.com

Tempel, tempel, dan tempel…wah hasilnya bagus, lo.
Pulang “sekolah” Julia langsung membuka tasnya. Dikeluarkannya beberapa stiker warna-warni dan lembar untuk menempelkannya. “Asyik, aku akan menempelnya satu per satu,” ucap Julia senang. Dilepasnya satu per satu stiker warna-warninya, ada yang berbentuk segitiga, lingkaran, bintang, persegi panjang, dan lainnya. Kemudian ditempelnya di sebuah gambar yang masih berupa garis (outline). Tak berapa lama gambar yang tadinya polos kini menjadi indah. “Bagus kan, Ma?” ucap Julia meminta persetujuan mamanya. “Wah, kolase buatanmu bagus sekali. Anak Mama sudah pintar mencocokkan bentuk dan menempelkan stiker!” puji mama.
Ya, kolase adalah permainan keterampilan melengkapi gambar menggunakan stiker warna. Anak diminta menempelkannya pada bidang yang tepat seperti yang diperintahkan atau di mana pun ia menyukainya. Tinggal melepas dan menempelnya di media gambar. Sebagian bahkan mengharuskan anak menggunting stikernya sesuai kebutuhan. Tak rugi mengenalkannya karena anak bisa menarik banyak manfaat positif dari permainan ini.
9 Manfaat
1. Melatih Motorik Halus
Saat bermain kolase, anak harus melepas satu per satu stiker. Sebagian anak mungkin agak kesulitan melakukannya karena butuh gerakan-gerakan halus dari jari-jemari untuk melepas stiker dan menempelnya di bidang gambar. Nah, latihan melalui permainan ini secara langsung menstimulasi kemampuan motorik halusnya. Jari-jemarinya akan siap untuk diajak belajar menulis.
Kemampuan motorik halus yang baik sangat penting karena berpengaruh terhadap aktivitas anak sehari-hari. Misal, anak bisa menjumput kacang lalu menyuapnya, memegang pensil lebih baik, atau memegang benda kecil lainnya dengan baik.
2. Meningkatkan Kreativitas
Pilihlah permainan kolase yang juga memancing kreativitas. Salah satunya yang menyediakan pilihan, baik warna, bidang tempel, karakter, atau lainnya yang memenuhi selera.
3. Melatih Konsentrasi
Butuh konsentrasi cukup tinggi bagi anak saat melepas dan menempel stiker. Lambat-laun kemampuan konsentrasinya akan semakin terasah.
Pada saat berkonsentrasi melepas dan menempel dibutuhkan pula koordinasi pergerakan tangan dan mata. Koordinasi ini sangat baik untuk merangsang pertumbuhan otak di masa yang sangat pesat.
4. Mengenal Warna
Kolase terdiri atas banyak sekali warna; merah, hijau, kuning, biru, dan lainnya. Anak dapat belajar mengenal warna agar wawasan dan kosakatanya bertambah.
5. Mengenal Bentuk
Selain warna, beragam bentuk pun ada pada kolase. Ada segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang, busur, dan gambar-gambar bukan geometris. Pengenalan bentuk geometri dasar yang baik, kelak membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya, dia akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah berbentuk segitiga, dan sebagainya. Pemahaman ini membuat kerja otak lebih aktif sehingga kecerdasan anak tumbuh lebih maksimal.
6. Melatih Memecahkan Masalah
Kolase merupakan sebuah masalah yang harus diselesaikan anak. Tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar sebenarnya sedang dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak untuk keluar dari permasalahan. Ketika sedang menalikan sepatu, umpamanya, dia akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikannya hingga tuntas.
7. Mengasah Kecerdasan Spasial
Kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mengenal dan memahami ruang. Nah, kemampuan spasial akan ikut terasah dalam permainan ini. Pasalnya, terdapat banyak bentuk stiker yang ukurannya berbeda-beda dan anak harus berusaha menyesuaikan stikernya dengan ruang yang ada di outline gambar. Supaya tepat, anak harus benar-benar saat mengukurnya. Lewat hal inilah kecerdasan spasialnya terasah.
8. Melatih Ketekunan
Tak mudah menyelesaikan kolase dalam waktu cepat. Butuh ketekunan dan kesabaran saat mengerjakannya mengingat setiap bentuk harus dilepas dan ditempel satu per satu. Tak heran bila permainan ini pun dapat melatih ketekunan dan kesabaran anak.
9. Meningkatkan Kepercayaan Diri.
Bila anak mampu menyelesaikannya, dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Dalam dirinya tumbuh kepercayaan diri kalau dia mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Kepercayaan diri sangat positif untuk menambah daya kreativitas anak karena mereka tidak takut atau malu saat mengerjakan sesuatu.
Kepercayaan diri anak biasanya akan tumbuh lebih besar bila dia ternyata berhasil menyusun kolase lebih cepat daripada teman-temannya. Namun, kepercayaan diri ini sebaiknya dijaga agar tidak berubah menjadi kesombongan.
5 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
1. Beri Penjelasan
Banyak anak yang belum tahu cara memainkan kolase sehingga kita perlu menjelaskan dengan baik mengenai langkah-langkah yang harus anak lakukan. Dari melepas stiker, mengenali bentuk stiker, cara menempel yang baik, memilih stiker, dan seterusnya. Bila anak belum memahami dengan baik, ulangi lagi penjelasannya sampai dia benar-benar memahami. Biasanya kalau sudah paham, anak akan dengan mudah mengerjakan kolase sendiri.
2. Kenali Kemampuan Anak
Setiap anak punya kemampuan yang berbeda. Ada anak yang kemampuan motoriknya bagus sehingga dengan mudah dia bisa melepas dan menempel stiker. Sebaliknya ada pula anak yang kemampuan motoriknya belum cukup baik, sehingga dia sulit melakukannya. Nah, sesuaikan jenis kolase dengan tingkat kemampuannya sebelum memilih bentuk yang lebih rumit.
3. Ajarkan Menggunting
Ada kolase yang stikernya belum dipotong dan mengharuskan anak menggunting dahulu sebelum menempel. Nah, beri contoh cara memegang gunting yang aman dan cara menggunting yang benar. Mulailah dengan mengunting bentuk yang paling sederhana seperti segi empat atau segitiga. Berikan contoh sampai anak benar-benar memahaminya.
Pahami pula kemampuan setiap anak dalam menggunting. Biasanya usia 3-4 tahun dapat dilatih memegang gunting dan dapat menggunting dengan cara yang benar namun belum bisa mengikuti panduan. Lalu di usia 4-5 tahun anak mampu menggunting dengan mengikuti garis lurus atau melengkung. Selanjutnya di usia 5-6 tahun anak bisa menggunting bentuk lingkaran, segi- tiga, atau segiempat. Dengan memahami perkembangan kemampuan ini, akan lebih mudah bagi kita mengarahkannya.
4. Gunakan Seluruh Jari
Minta anak menggunakan kelima jarinya saat mengelupas stiker maupun menempelkannya supaya kemampuan semua jemari anak terstimulasi. Sangat baik bila anak menggunakan kedua tangannya secara bergantian agar terjadi keseimbangan antara otak kiri dan kanan.
5. Beri Support dan Reward
Biar saja jika hasil pekerjaannya belum memuaskan. Jangan malah berkomentar negatif. Komentar negatif bukannya membangun semangat anak tetapi malah akan membuatnya merasa terpojok dan enggan berusaha lagi. Begitu pula jika anak berhasil mengerjakannya dengan baik, hargai dengan pujian dan ungkapan sayang.
Irfan Hasuki.
Narasumber:
Laila Fadhilah, S.Pd.,
pengajar di TK Bunayya, Jakarta Selatan

ASAH OTAK Lewat TEKA-TEKI

sumber : tabloidnakita.com

Tak hanya mengasah kreativitas, tapi juga kemampuan menganalisis.
“Aku buah-buahan, rasanya manis, rambutku banyak dan warnaku merah, apa hayo?” tanya Dika, bocah 4;6 tahun, kepada tiga teman mainnya. Di saat dua temannya mengernyitkan dahi, berpikir mencari jawaban tepat, tiba-tiba seorang temannya yang lain menjawab, “Buah rambutan!”
“Betul!” ucap Dika sambil menepuk bahu temannya itu.
Anak prasekolah, tepatnya mulai 4 sampai 6 tahun, memang senang bermain teka-teki. Kesenangan ini muncul karena pengaruh lingkungan ketika anak sudah bersosialisasi dengan teman-temannya, entah yang sebaya atau berumur di atasnya. “Nah, dari interaksi itu, mungkin saja anak mendengar atau mengamati teman-temannya bermain teka-teki,” ujar Efriyani Djuwita, M.Si.
Bisa juga, main tebak-tebakan ini datang dari orangtua atau pengasuhnya. Saat senggang, beberapa orangtua sangat senang menggunakan permainan ini. Pengaruh lainnya bisa lewat media, entah televisi atau media cetak. Bahkan, beberapa majalah anak menyediakan kolom khusus teka-teki beserta hadiah bagi pengirim jawaban yang benar. Apalagi, tambah psikolog perkembangan anak yang akrab dipanggil Ita ini, kosakata, pengalaman, dan kemampuan kognitif anak juga sudah berkembang. “Mereka sudah bisa mencari jawaban dari potongan-potongan informasi yang di-namakan petunjuk. Jawaban itu diperoleh dari pengalamannya sehari-hari. Semakin kaya wawasan anak semakin mudah dia menjawab.”
Selain itu, usia ini juga dikenal dengan usia cerewet. Anak senang bertanya dan menanyakan sesuatu. Nah, dengan permainan teka-teki, keterampilan berbahasanya seakan tersalurkan. Bahkan, beberapa anak yang cerdas sangat senang bila bisa membuat teka-teki sendiri.
TEKA-TEKI PORNO
Tentunya, anak tidak ujug-ujug bisa bermain teka-teki yang rumit, melainkan dimulai dari soal-soal sederhana. Awalnya sangat mungkin anak hanya bertanya-jawab tentang persamaan dan perbedaan dari sebuah kata atau benda. Umpama, “Apa persamaan bemo dan bajaj?”, “Apa beda ikan dan kodok?”, dan seterusnya. Dari situ anak belajar mengotak-atik kata-kata menjadi sebuah teka-teki.
Jadi, sesuai kemampuan kognisinya, teka-teki anak prasekolah umumnya cukup sederhana. Misal, di awal pertanyaan, anak akan menyebutkan kategori seperti, “Aku binatang.”, “Aku buah-buahan….”, dan sebagainya. Petunjuknya pun, biasanya cukup lengkap sehingga memudahkan mereka untuk menjawab. Beberapa teka-teki favorit, umumnya tak jauh dari dunia anak-anak, seperti tokoh jagoannya, binatang, mobil, buah-buahan, dan lainnya. Mereka senang mengenali ciri sesuatu benda, lalu mengubahnya menjadi teka-teki seru.
Yang jelas, permainan teka-teki dapat mengasah kreativitas dan memperkaya wawasan anak. Karenanya, Ita menyarankan orangtua agar menanggapi pertanyaan teka-teki anak. “Berpikirlah dan jawablah dengan serius, sehingga anak merasa dihargai. Hindari jawaban asal-asalan yang membuat anak malas dan ogah-ogahan memberikan soal teka-teki lagi,” kata pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.
Jika anak kehabisan ide, cobalah orangtua gantian memberikan pertanyaan kepada anak. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan anak. Jika anak sedang gandrung dengan Spiderman, misal, cobalah membuat soal teka-teki tentang jagoannya itu. Jika anak kesulitan menjawab, cobalah untuk memberikan petunjuk lebih banyak. Atau, anak bisa berpikir untuk beberapa lama sampai menemukan jawaban tepat. Boleh jadi orangtua memberikan teka-teki di malam hari, tetapi baru dijawab keesokan harinya oleh anak sepulang sekolah. Tak masalah. Kemudian, jika anak menemukan teka-teki di majalah dan kesulitan menjawabnya, sebaiknya orangtua bersama anak memecahkan soal teka-teki itu.
Namun, orangtua tetap harus melakukan pembatasan atau pengawasan. Tak semua teka-teki positif dan menghibur. Ada beberapa teka-teki yang berkonotasi negatif, jorok, berbau pornografi, atau pelecehan terhadap seseorang dan golongan tertentu. Jadi, orangtua harus memilah, teka-teki mana yang cocok dan tidak buat anak. Selamat berteka-teki bersama si buah hati!
4 MANFAAT MAIN TEKA-TEKI
1. Mengasah Daya Ingat
Saat teka-teki diluncurkan, anak akan menyisir semua arsip yang ada di kepalanya, untuk kemudian dicocokkan dengan petunjuk yang ada. Karenanya, permainan ini sangat baik untuk menjaga daya ingat anak. Selain itu, sangat mungkin anak menemukan kosakata baru yang belum dikuasainya. Dengan begitu, wawasan anak semakin kaya, kosakatanya pun bertambah banyak.
2. Belajar Klasifikasi
Anak belajar mengklasifikasikan, mana yang termasuk kategori buah-buahan, binatang, kendaraan, dan sebagainya. Saat disebutkan buah-buahan, pikiran anak akan melayang kepada jeruk, pepaya, rambutan, dan sebagainya. Demikian juga ketika pertanyaan itu merujuk kepada binatang, maka gajah, monyet, kodok, dan lainnya, akan segera melintas dalam pikirannya. Dengan keterampilan klasifikasi ini, anak akan mudah menata ribuan kosakata yang dikuasainya.
3. Mengembangkan Kemampuan Analisis
Anak belajar menganalisis jawaban yang tepat dari berbagai petunjuk yang ada. Dia belajar menggabungkan informasi itu dan menemukan jawabannya. Kemampuan analisis ini sangat berguna, khususnya saat anak masuk usia sekolah. Banyak sekali pertanyaan yang membutuhkan analisis, utamanya soal-soal yang memakai penggunaan cerita.
4. Menghibur
Permainan teka-teki sangat menghibur. Ini jelas permainan yang menyenangkan dan bisa mengakrabkan hubungan anak dengan orangtua, maupun antarteman sebaya. Bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun, baik dalam perjalanan, di rumah, sekolah, maupun di saat-saat santai lainnya.
BEBERAPA CONTOH TEKA-TEKI ANAK
Orangtua bisa membuat beberapa soal teka-teki yang kreatif. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan keseharian anak. Sangat mungkin jawaban dari teka-teki itu lebih dari satu. Berikut beberapa contohnya:
* Buah-buahan
– Aku buah-buahan. Warna kulitku hijau. Warna dagingku merah. Rasaku manis. (Jawaban: semangka)
– Aku buah-buahan. Aku memiliki banyak duri tajam. Bauku harum dan rasaku manis. (Jawaban: durian)
* Binatang
– Aku binatang berkaki empat. Aku berbadan besar dan memiliki belalai panjang. (Jawaban: gajah)
– Aku binatang berkaki empat. Leherku panjaaangng… sekali. Aku memiliki banyak bintik di tubuhku. (Jawaban: jerapah)
– Aku binatang tanpa kaki dan tangan. Badanku panjang dan lentur. Gigiku tajam dan aku memiliki racun berbahaya. (Jawaban: ular)
* Jagoan
– Aku bisa memanjat gedung seperti laba-laba. Warna bajuku merah. Aku bisa mengeluarkan jala yang mampu menjerat lawan. (Jawaban: Spiderman)
– Aku seorang jagoan yang memiliki jubah. Aku bisa terbang dan di dadaku terdapat huruf S. Siapakah aku? (Jawaban: Superman)

Pola Asuh Jadi Penentu

sumber : http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/11/12/ArticleHtmls/12_11_2010_014_002.shtml?Mode=0

KELUARGA adalah lingkungan sosial yang pertama bagi anak-anak, tempat
mereka pertama kali mendapatkan informasi dan bimbingan akan berbagai
hal, termasuk soal kesehatan. Keberhasilan upaya membentuk generasi
sehat turut ditentukan pola asuh orang tua.

“Kalau di dalam lingkungan keluarga hidup sehat tidak diperkenalkan pada
anak, pola hidup keliru akan melekat pada anak,�’ ujar Dewan Pembina
Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, baru-baru ini di Jakarta.

Menurut Seto, sejak awal orang tua harus menerapkan dan mengenalkan pola
hidup sehat kepada anak-anak, seperti makan bergizi dan teratur,
istirahat cukup, olahraga, menjaga kebersihan badan, dan adanya
kesempatan untuk bermain.

Selain itu, orang tua harus me numbuhkan suasana gembira, menghindari
tekanan atau tindak kekerasan pada anakanak. Hal itu penting untuk
kesehatan jiwa anak.

Hal senada juga disampaikan Ketua Yayasan Masyarakat Sadar Gizi, dr
Tirta Prawita Sari. Menurutnya, dalam mayoritas keluarga ibu menjadi
sosok yang paling dekat dengan anak-anak. Posisi yang demikian
menjadikan ibu sebagai sosok paling pas untuk mengenalkan pola hidup
sehat kepada anak-anak.

�’Ibulah yang merupakan pilar utama dalam mewujudkan keluarga sehat,�’
ujar Tirta dalam sebuah diskusi jelang Hari Kesehatan Nasional 2010 di
Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tirta menjelaskan, pola asuh yang baik akan berpengaruh terhadap status
kesehatan bayi, balita, dan anaknya.

Ibu hendaknya mengajar dan membimbing anaknya tentang kebersihan, pola
makan sehataman-seimbang, olahraga rutin, istirahat cukup, dan rekreasi.

Namun, semua itu tidak akan terwujud bila suami (ayah) atau anggota
keluarga yang menjadi penentu kebijakan dalam rumah tangga tidak
menyadari pentingnya peran ibu dalam pengasuhan anak. Artinya, betapa
pun besarnya komitmen ibu dalam pola asuh, jika tidak mendapat dukungan
dari anggota keluarga lain, akan berakhir sia-sia.

�’Dalam batasan tertentu, seorang ibu seharusnya memiliki kewenangan
positif yang cukup luas dalam memberikan kasih sayang, yang kemudian
berujung pada keberhasilan proses pengasuhan anak.�’ Sementara itu,
pemerintah seharusnya menjamin ketersediaan sarana dan prasarana yang
diperlukan seorang ibu untuk mengoptimalkan diri dalam membesarkan anak.

Contohnya, menjamin kebebasan ibu untuk memberikan air susu ibu (ASI).

Penjaminan kebebasan ini sangat penting karena di pundak ibulah generasi
ahli waris masa depan dan penentu kelangsungan hidup bangsa akan
dititipkan. (*/S-3)

Awali dari Kebiasaan Sederhana

KEBIASAAN baik, walau sederhana, akan membawa dampak positif yang besar.
Pun demikian dalam urusan kesehatan keluarga. Kebiasaan-kebiasaan sehat
akan menjauhkan keluarga dari penyakit. Berikut beberapa perilaku
sederhana yang menyehatkan bila diterapkan secara konsisten:

Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.

Mandi teratur dan mencuci tangan sebelum makan, sesudah bepergian, dan
setelah dari kamar mandi/toilet.

Memperbanyak menu sayur dan buah dalam keluarga.

Menghindari menu makanan siap saji, tinggi gula dan tinggi garam.

Menyediakan porsi istirahat cukup bagi anak-anak.

Olahraga rutin.

Cek kesehatan (medical checkup) secara teratur.

Menjalin komunikasi efektif antaranggota keluarga.
Jangan sampai kesibukan kedua orang tua yang bekerja membuat anak lepas
kontrol dan terjerumus pada perilaku yang merugikan kesehatan serta masa
depannya. (*/S-3)

Anak Asal Bunyi atau Bohong

sumber : tabloidnakita.com

“Makan siangmu habis, Sayang?” “Habis.” “Lo, kok, nasi di piringmu masih banyak?”
Si batita senang mengatakan hal di luar kenyataan. Sampai-sampai muncul pertanyaan di benak kita, dia sengaja berbohong atau cuma asal bunyi (asbun), sih? Tapi, kok, enggak cuma sekali, ya? Pintar amat dia. Harus disikapi bagaimana, dong
Anak usia batita memang cenderung bersikap spontan dalam menjawab apa pun. Adakalanya apa yang dikatakan tidak sesuai kenyataan. Tak heran kalau kemudian muncul kesan ia seolah asal bicara, bahkan sengaja berbohong.
Asal tahu saja, di usia batita anak belum punya kecenderungan berkata bohong. Alasannya, berbohong memiliki sifat patologis, atau sudah bisa memanipulasi dengan mengatakan sesuatu yang tak sesuai kenyataan. Kemampuan ini baru ditemukan pada anak usia sekolah yang pola pikirnya sudah lebih berkembang dan maju dibanding anak usia batita.
Kalau toh si batita seolah berkata bohong ini lebih dila-tar-belakangi beberapa faktor, antara lain:
* Menciptakan imej positif
Sesuai dengan tahap perkembangannya, anak usia batita, baik laki-laki dan perempuan mulai sadar akan dirinya sendiri. Anak berusaha menciptakan imej diri positif yang dipelajarinya dari sikap orangtua selama ini. Per-kembangan moral yang ingin dicapainya yaitu mencitrakan diri seperti yang disukai kedua orangtuanya. Dengan demikian ia akan menjadi anak kesayangan ayah dan ibunya. Dorongan akan citra diri positif ini membuat anak berusaha mencocokkan perilaku seperti apa yang harus dia katakan sesuai dengan harapan lingkungan dari dirinya. Semua dilakukannya dengan melihat dari kacamata dirinya.
* Adanya stimulus-respons orangtua dan anak
Seringkali orangtua mena-namkan suatu nilai tertentu pada anak. Misalnya, “Kalau makan dihabiskan ya. Kalau enggak nanti Ibu enggak sayang Adek lagi.” Nah, anak pun mengharapkan rewards berupa kasih sayang, pujian dan lainnya dari orangtua. Untuk mendapatkannya ia
berusaha bersikap sesuai dengan yang apa diharapkan orangtuanya. Jadi, begitu ditanyakan apakah hari itu dia menghabiskan makanannya atau tidak, spontan dia akan mengatakan “habis” meski kenyataannya tidak demikian. Ini dilakukan si anak semata-mata demi berharap mendapat respons yang dia inginkan dari orangtuanya.
* Cari perhatian
Adakalanya sikap batita yang seolah berkata bohong ini sebetulnya hanya lantaran ingin cari-cari perhatian. Jadi, ketika ditanya tentang sesuatu, ia segera meresponsnya dengan memberi informasi yang tidak semestinya. Dengan jawaban tersebut orang di lingkungannya memberi reaksi tertentu yang diharapkan si batita. Cara ini sebetulnya digunakan sebagai pesan kepada orang lain bahwa ia ingin diperhatikan.
* Menutup rasa takut
Sering kali, maksud baik orangtua diterima secara salah oleh anak. Teguran, contohnya, dianggap menekan dirinya. Boleh jadi orangtua pada dasarnya tidak bersikap keras. Namun, saat menghadapi perilaku anaknya yang kurang sesuai dengan harapan mungkin saja tanpa disadari orangtua terpancing marah. Nada suara meninggi dan sering disertai dengan tuduhan negatif pada anak. Ketidakhati-hatian orangtua dalam bersikap ini membuat anak merasa kecut untuk bicara jujur apa adanya. Itulah mengapa di lain waktu dan seterusnya anak akan terbiasa menjawab sesuai yang diinginkan lawan bicaranya. Jangan salah, justru anak-anak yang cerdaslah yang mampu menangkap bahasa yang diinginkan orang lain dari dirinya.
BAGAIMANA MERESPONSNYA?
Sebetulnya, kebiasaan asal bicara dapat diperbaiki apabila orangtua bersedia mengubah gaya berkomunikasinya dengan si batita. Ketika anak kedapatan asbun, berikan respons berupa jawaban yang bernada gurauan. Contohnya, “Ah, masak sih kamu sudah makan? Coba sini Mama periksa perutmu. Kata mbak belum. Mama lihat piring makanmu juga masih rapi di meja makan.” Justru lewat respons yang tidak menegangkan semacam ini anak justru terpancing untuk berterus terang. Dalam hal ini, tak apa mengatakan yang bukan kenyataan asalkan tidak diulangi lagi.
Sebetulnya asbun pada anak batita sangatlah wajar, sesuai dengan tahap perkembangannya. Awalnya, muncul sebagai spontanitas anak atau wujud ke-inginan untuk tidak dipersalahkan. Namun, kalau tidak segera diluruskan dan ditangani sangat mungkin berlanjut menjadi perilaku berbohong yang tidak sehat. Runyam kan nantinya?
Sayangnya, tanpa disadari orangtua teramat sering meniadakan support bagi anak untuk bicara apa adanya. Anak jadi terkondisi untuk bicara tidak jujur asalkan ayah-ibu senang. Kelak di usia sekolah atau bahkan usia dewasa, kebiasaan berbohong dapat terus berlanjut demi membentuk citra diri yang diinginkan lingkungan. Misalnya di sekolah mendapat nilai jelek, tapi kepada orangtua dan temannya mengaku mendapat nilai bagus. Dia tak punya teman di sekolah tapi mengaku-aku punya banyak teman, dan sebagainya.
Saat dewasa nanti tidak tertutup kemungkinan anak berkembang menjadi individu yang berkarakter manipulatif. Ia memilih tidak berterus terang dan berkata yang bagus-bagus saja meski itu berarti menyusahkan diri sendiri. Individu seperti ini tentu saja patut dipertanyakan ketulusan sikapnya.
Karenanya, orangtua harus kritis menghadapi anak batita yang selalu menampilkan citra diri positif. Segera cari tahu latar belakangnya karena bagaimanapun mustahil anak selalu bersikap sempurna, bukan?
MENGEMBALIKAN KEJUJURAN ANAK
* inggalkan pendekatan interogatif
Selama ini tanpa disadari masih banyak orangtua yang mengajukan pertanyaan pada anaknya dengan gaya interogasi. Contohnya, “Adek tadi nakal ya?”, “Hayo, tadi makannya enggak habis ya?”, atau “Pasti kamu tadi gangguin kakak ya?” Gaya berkomunikasi satu arah yang lebih mirip dengan interogasi ini tentu saja tidak disukai siapa pun, termasuk anak. Yang bersangkutan merasa ditekan atau dipojokkan.
* Rangsang anak untuk mau bercerita
Kalau orangtua mendengar secara tidak langsung mengenai kejadian yang menimpa anaknya, pancinglah agar si kecil mau menceritakan kejadian tersebut. Misalnya, “Ibu dengar Adek tadi ribut sama kakak. Memangnya ada apa sih?” Pendek kata, lontarkan pertanyaan positif yang membuatnya mau bercerita dan merasa dirinya diterima apa adanya. Penerimaan semacam ini akan membuat anak terdorong untuk menceritakan segalanya, termasuk hal-hal yang jelek sekalipun. Ia merasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
* Sikapi dengan santai
“Wah, kamu bertengkar sama kakak kayak di film aja! Kenapa ya harus bertengkar seperti itu?” Pada dasarnya orangtua memang dituntut untuk bersikap kreatif agar cerita sebenarnya dari mulut si kecil bisa mengalir lancar.
* Ciptakan rasa aman
Orangtua mesti sadar sepenuhnya mengapa anak cenderung asbun atau malah sudah menjurus pada berbohong. Sangat mungkin ada perilaku orangtua yang membuat anak merasa takut untuk berterus terang. Untuk meminimalkan ketakutan ini, orangtua bisa mengatakan, “Sebenarnya kalau makanmu enggak habis juga enggak apa-apa, kok. Bilang aja, enggak usah takut. Bunda enggak marah kok. Bunda cuma pengin tahu apa makanannya yang enggak enak, Adek sudah kenyang, atau kelewat asyik main?”
Pendekatan seperti ini membuat anak merasa aman. Ia yakin, meski perilakunya kurang terpuji karena tidak menghabiskan makanan, tapi dengan mau menyampaikan apa adanya, ia tidak akan kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya. Setidaknya ini juga mendorong anak untuk tidak takut bercerita tentang apa pun yang ada di luar harapan orangtuanya, termasuk hal-hal yang tak enak untuk disampaikan. Dengan kata lain, anak jadi termotivasi untuk membangun keberanian bicara jujur. Inilah nilai yang mesti ditanamkan.
Jangan lupa untuk memberi contoh konkret kepada anak. Contohnya, saat ayah tidak menghabiskan makanannya, jelaskan, “Wah, Ayah sudah usahakan menghabiskan makanan ini, tapi tidak bisa. Perut Ayah lagi sakit nih. Nanti kalau Ayah paksakan habis bisa-bisa malah muntah.”
Dedeh Kurniasih.
Konsultan Ahli:
Indri savitri, Psi.,
Kepala Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia)

8 Fakta Seputar Bayi

sumber : http://sediadisini.com/pengembangan-diri/sosial/543-delapan-fakta-seputar-bayi

Ada bayi yang sudah bisa mengucapkan kata “mama” saat usia 8 bulan, ada yang sampai umur 2 tahun hanya diam saja. Ada bayi yang sudah menampakkan tanda-tanda depresi saat di playgroup, ada yang tetap riang gembira sepanjang waktu. Ada bayi yang agresif, ada yang tenang menghanyutkan. Mengapa bisa demikian? Inilah 8 fakta seputar bayi.
Kapan bayi mulai belajar bicara?
Sejak bulan ke-6 kehamilan, bayi dalam kandungan sudah mampu mendengar suara di luar perut. Sebab saat itu telinganya telah tumbuh sempurna. Pada fase terakhir kehamilan, bulan ke-8, bayi mampu membedakan bermacam suara. Sebuah studi dari Universitas Würzburg: saat baru lahir bayi-bayi berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa ibu. Bayi Indonesia yang diletakkan di samping bayi Brasilia akan ngobrol sesuai bahasa ibu masing-masing. Dengan nada tinggi dan rendah yang persis vokal sang ibunda. Yang mengherankan, mereka saling memahami kendati dilahirkan dari 2 rahim yang beda bahasa.

Haruskah bayi diajak ngobrol?
Ya. Kelihatannya menjanjikan. Ayah, ibu, atau saudara bicara papapipimamamimu. Bayi meniru. Sederhana sekali. Setiap bayi akan berupaya berbicara karena hal ini merupakan hasrat bawaan seperti keinginan untuk berjalan. Bayi yang lahir dari ortu bisu pun akan berupaya untuk bicara. Tidak serta-merta ikut bisu. Sebuah studi menunjukkan bahayanya jika sampai usia 3 tahun bayi tidak ada atau sedikit yang mengajak untuk berbicara. Tidak ada yang akan bisa dilakukan untuk menutup celah kebisuan ini.
Bayi yang dibesarkan dalam lingkungan gorila, seperti Tarzan, akan sulit bicara seperti manusia normal jika dia dewasa kelak. Sehingga sangatlah penting jika orang tua, utamanya ibu, yang mengomentari ini itu ketika sedang sibuk dengan bayinya. Misalnya “kini kita akan mengenakan kaus kakimu, sayang” saat sedang menyelimuti kaki mungil dengan kaus kaki. Atau menyanyikan lagu anak-anak seperti “naik-naik ke puncak gunung” saat sedang menggendong bayi menuju vila tempat peristirahatan. Pokoknya ajak bayi Anda senantiasa berkomunikasi secara verbal ketika Anda sibuk dengan buah hati Anda. Namun kegiatan ini tidak perlu dilakukan 24 jam/hari. Cukup saat sedang bercengkerama dengan dia, misalnya pada waktu mengganti popok.

Mengapa bayi dari ortu yang lincah dan cekatan lebih cerdas?
Anak dari ortu yang doyan ngobrol biasanya lebih cerdas ketimbang anak dari ortu pendiam. Mengapa? Hasil penelitian dari Universitas Chicago menunjukkan, bahwa ortu lincah berbicara dengan disertai gerakan tangan dan mimik wajah. Bayi lebih cepat paham apa yang dimaksud oleh ucapan mamanya jika disertai dengan jurus pantomim. Upayakan selalu gerakan tubuh Anda untuk lebih menjelaskan maksud pembicaraan dengan bayi. Kerlingan mata, untaian senyum, dan lainnya perlu menyertai pembicaraan Anda dengan makhluk mungil yang lucu ini.

Mengapa bayi perempuan belajar lebh cepat ketimbang bayi laki-laki?
Ya, data statistik menunjukkan bahwa bayi perempuan sampai mencapai usia 2 tahun telah belajar dan menguasai rata-rata 120 kata. Bayi laki-laki cuma 90 kata. Sampai usia playgroup bayi perempuan menguasai lebih banyak perbendaharaan kata. Namun bayi laki-laki 3 kali lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan tumpukan kotak kayu. Mengapa koq bisa begitu, masih menjadi penelitian para ahli. Kemungkinan besar ada kaitannya dengan proses hormon, yang membuat otak bayi perempuan lebih cepat matang. Bayi laki-laki memerlukan kombinasi lebih kuat soal kesan akustik dan optik. Dari fakta ini terlihat, betapa wanita sangat cocok di bidang pekerjaan yang berkaitan dengan bahasa dan kata, misalnya penyiar radio atau televisi. Tapi juga tidak menutup kemungkinan bagi pria untuk bekerja di bidang linguistik.

Apakah bayi yang berbicara lebih dini itu lebih cerdas?
Bisa saja namun tidak mutlak. Beberapa riset menunjukkan, betapa bayi yang sudah bisa berbicara lebih dini memang lebih cepat mengutarakan sesuatu. Mereka mampu membuat sang ibu paham akan apa-apa yang ada di benak mereka. Para ilmuwan menyimpulkan, bahwa pengembangan bahasa dan kecerdasan tidak erat berhubungan satu sama lain. Buktinya ada pada bayi yang terkena sindrom William-Beuren. Bayi yang terbelakang secara genetika ini ternyata juga punya kemampuan untuk berbicara, walaupun tidak seperti bayi normal. Para periset berasumsi bahwa semakin dini bayi bisa berbicara, dia ini kian tinggi IQ-nya. Tapi asumsi ini tidak berlaku sebaliknya. Bayi yang baru bisa berbicara pada usia 2 tahun, dia ini juga mampu nantinya menjadi Einstein kecil.

Apakah pesawat tv bagi bayi merupakan guru bahasa yang baik?
Jawabannya singkat dan jelas: tidak. Jika kita sebagai orang dewasa bisa belajar bahasa Inggris dari video buatan Hollywood, tidak demikian dengan bayi. Suara yang keluar dari pesawat tv (termasuk radio) itu bagi bayi cukup menyiksa. Bayangkan, bayi harus menyaring suara mama dari bentakan dan dentuman film action yang sedang kita lihat. Buah hati kita tidak suka dar-der-dor tersebut. Ini berlaku sampai bayi berusia 3 tahun, termasuk acara tv untuk anak-anak. Perbendaharaan kata bayi hanya bertambah melalui kontak langsung. Dari ayah, saudara, kakek, nenek, dan terutama ibu. Adalah yang terbaik jika kita membacakan cerita anak-anak dari buku cerita, daripada membiarkan bayi menonton tv.

Mengapa di playgroup sering diadakan acara menyanyi?
Dari sononya setiap bayi senang musik. Bayi bahkan mampu mengenali melodi yang pernah ia dengar saat dalam kandungan. Bayi yang ketika dalam kandungan sering mendengar alunan musik seriosa (seperti karya Wolfgang Amadeus Mozart) dalam hidupnya kelak akan menjadi manusia damai yang gampang menguasai situasi kehidupan. Bayi yang saat dalam kandungan sering mendengar lagu-lagu keras macam hard-rock cenderung akan jadi manusia kasar yang gampang murka ketika dewasa kelak. Beberapa perguruan tinggi pernah meneliti latar belakang bajingan kambuhan, maling, dan bandit saat balita mereka dan kondisi keluarga pada waktu bayi masih dalam kandungan. Ternyata 98% dari mereka dilahirkan dalam keluarga broken-home dan lingkungan yang keras.

Apakah faktor saat masih bayi berpengaruh pada kehidupannya kelak?
Ya, sangat berpengaruh. Bahkan ketika bayi masih dalam kandungan pun sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya seumur hidup. Bayi yang tidak diinginkan kelahirannya akan mengetahui hal tersebut. Lebih-lebih jika ibu yang mengandungnya sebagai penolak utama. Ini akan menjadi luka batin yang luar biasa dalam. Hasil riset beberapa universitas membuktikan, betapa semua terhukum mati mengalami waktu yang sangat berat saat dalam kandungan ibu. Masa kanak-kanak mereka sama saja. Lingkungan keras dan keluarga tidak harmonis adalah latar belakang para terdakwa yang divonis hukuman lebih dari 20 tahun penjara. Memang ada yang bertobat, tapi lebih banyak yang kambuh. Karena itu sangatlah penting bagi ibu untuk mengupayakan lingkungan yang tenang dan menghindari pikiran depresif pada saat kehamilan. Bayi mampu membaca perasaan Anda.

Anak Terlambat Bicara

sumber : http://groups.yahoo.com/group/berita-dunia-ibu/message/120

Buletin Mingguan http://www.dunia-ibu.org
Edisi No: 106-02-01-2004
——————————————–

Buletin kali ini memfokuskan pada masalah anak yang terlambat bicara.
Di sini diulas berbagai pengalaman ibu-ibu dan juga tersedia banyak
informasi mengenai pencegahan maupun terapinya. [Qn]

JIKA ANAK ANDA TERLAMBAT BICARA

TANYA:
Anak adik saya, lelaki umur 2 tahun 3 bulan sampai saat ini masih
belum bisa bicara, kosa kata yang bisa diucapkan tidak lebih dari 5
kata : Mama, Ayah, Diii (nama kakak-nya), Ya dan Cu (minta susu).
Mama dan ayahnya berusaha tiap hari untuk menambah perbendaharaan
kata-kata namun sangat sulit bagi dia untuk menghafal maupun
mengucapkannya.

Apakah diantara Ibu ada yang punya kasus serupa? Apakah ini
berhubungan dengan apa yang disebut orang “autis’? (not sure yet).
Menurut DSA keponakan saya, untuk umur segitu masih wajar jika susah
bicara dan cuma diberi vitamin saja. Tapi kalau melihat teman-teman
sebayanya kayaknya kok saya ngenes ya karena dia diam saja, tidak
pernah ngoceh kayak yang lain. Please sharingnya, apakah kiranya
perlu dibawa ke psikolog anak? Jika perlu, tolong referensinya. (Y)

Jangan panik dulu, karena perkembangan setiap anak itu berbeda. Untuk
kasus terlambat ngomong perlu hati-hati untuk menganalisanya. Coba
cari tahu ada tidak riwayat terlambat ngomong di keluarga, kalau
memang tidak ada coba perhatikan dulu:
1. kesehatan fisik anak, apakah dia sehat atau sering sakit-
sakitan
2. bagaimana perilaku anak, apakah dia punya perhatian terhadap
sekelilingnya atau hanya sibuk dengan diri sendiri
3. apakah dia ada alergi thd sesuatu (makanan, udara dll)

Ini perlu sekali supaya kita tidak salah menangani masalah
keterlambatan bicara ini dikemudian hari. Kalau perlu jangan ragu deh
pergi ke psikolog untuk berdiskusi dan observasi, jangan sampai si
anak diberi label yang salah. Coba ke Lembaga Psikologi Terapan UI,
disana psikolognya cukup bagus dan tidak terlalu mahal.
Ini cuma berdasarkan pengalaman pribadiku saja, karena aku punya
seorang anak yang dulu cuma didiagnosa terlambat ngomong, karena
katanya biasalah anak laki-laki terlambat ngomong. Seandainya waktu
bisa diputar kembali. Tapi sudahlah yang penting kedepannya bagaimana
menjaga anak-anak kita tetap sehat dan bisa berkembang sesuai dengan
kemampuannya. (DN)

Referensi ke Klinik Anakku.
1. Kelapa Gading Boulevard Blok LA 6 no. 34-35. Kelapa Gading
Permai (depan mal Kelapa Gading) – Jakarta Utara (450 2355-56)
2. Jl . Raya Manggis Blok A no. 2B-C. Komplek Ruko Cinere (depan
mal Cinere) – Jakarta Selatan (754 5400)
3. Komplek Green Ville Blok BG no. 14-15 – Jakarta Barat (566
9211)
4. Jl. Ahmad Yani –Bekasi. Pusat Niaga kalimalang Blok A-6 no. 1-
2 (885 4001-02)

TANYA:
Anak saya usianya hampir 2 tahun (tepatnya 21 bulan), tapi sampai
saat ini bicaranya masih payah banget. Pernah bisa ngomong mamam,
minyum, syusyu, kakak, tapi terus hilang lagi. Ngocehnya masih tidak
bisa kita mengerti.saya lihat pendengarannya baik, dan tingkahnya sih
sudah kayak anak gede. motorik kasarnya bagus sekali. Kita sudah coba
ngajak ngomong terus, tapi kayaknya dia cuek banget. Tetap saja
ngomong sesuai dengan maunya dia. apakah mungkin karena kita tinggal
di lingkungan beda-beda bahasa (saya tinggal di negara berbahasa
perancis, di rumah kita berbahasa indonesia, tapi TV umumnya bahasa
perancis atau inggris). Bisa minta sharingnya, bagi yang pernah
mengalami pengalaman serupa.

JAWAB:
Memasuki usia dua tahun, anak sedang memasuki tahap awal tumbuh
kembang kognitif yaitu tahap pra-operasional, yaitu pemahaman
berdasarkan hal2 konkret saja. Jadi dia mengerti apa yang bisa dia
lihat saja. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang bersifat
bawaan, yakni dengan sendirinya anak akan mengerti akan bahasa selama
organ2 fungsi bicaranya berkembang baik. Namun, tidak dapat diabaikan
juga adalah faktor lingkungan dan pengalaman. Jika anak tidak diberi
rangsangan secara verbal, anak tidak akan bisa belajar bahasa. Jadi,
yang terpenting adalah rangsangan yang anda berikan dan hasratnya
berbicara. Berikan saja perkenalan bahasa, baik indonesia, prancis,
atau inggris. hal ini sangat baik untuk pembiasaan pendengarannya.
Misalnya, dia sudah paham bahwa ketika mau minum, maka anda berkata
minum, lalu dalam bahasa prancis, besoknya dalam bahasa inggris,
sambil memberikan keterangan yang mudah dimengerti, bahwa lingkungan
memang mengkondisikan harus menggunakan banyak bahasa. Jangan dipaksa
atau dianggap tidak mampu berbahasa ketika anak menunjukkan sikap
cuek, kemungkinan dia sedang memprosesnya sesuai atau tidak dengan
memori yang dimilikinya.

KEMUNGKINAN AUTIS:
CATATAN DARI Dr Rudy Sutadi SpA, Wakil Ketua Yayasan Autisme
Indonesia:
Penyandang autisme memiliki gangguan/ masalah pada bidang komunikasi,
interaksi sosial, dan minat yang terbatas serta berulang-ulang.
Mungkin juga terdapat masalah pada bidang sensasi (indera), dan
fungsi adaptif. Hal-hal tersebut menyebabkan tingkat
perkembangan/kemampuan penyandang autisme semakin lama akan semakin
jauh tertinggal dari anak seusianya. Dalam talk show ini, Dr. Rudy
memberi contoh sebagai berikut: Masalah pada komunikasi, misalnya
anak tidak bisa bicara, terlambat bicara, bicara hanya mengeluarkan
suara-suara/suku-suku kata yang tidak mempunyai arti
(babling/bahasa “planit”), hanya menarik tangan orang dewasa bila
menginginkan sesuatu. Pada yang mulai bisa bicara, mungkin hanya
sekedar mengulangi kata-kata orang lain (membeo/echoing/ echolaly)
atau pada usia 18-24 bulan tiba-tiba bicaranya menghilang (berhenti
bicara).

TANYA:
Mohon info seperti apa/prosesnya bagaimana untuk pemeriksaan Autisme?
(apakah dengan tes-tes tertentu, ada tahap-2nya, pemeriksaan lab
dll?) Apakah di dokter anak sudah cukup? Dan berdasarkan apa
nantinya kesimpulan diambil? Kalaupun ada ciri-ciri yang mengarah ke
penyakit Autisme dan anak mengalami salah satu gejalanya, bisa
dicurigai mengidap penyakit ybs? Apakah Yayasan Autisme ((waktu itu
saya pernah melihat tayangan di Metro TV yang menampilkan dokter Rudy
(kalau tidak salah) sebagai wakil ketua Yayasan tsb))sudah mempunyai
situs sendiri di Internet ?

JAWAB:
Gangguan autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pervasif
pada anak. Untuk menegakkan diagnosa gangguan autisme ini tidaklah
memerlukan suatu pemeriksaan yang canggih-canggih seperti MRI, brain
mapping atau CT scan, kecuali ada indikasi lain yang bermakna. Oleh
karena akhir-akhir ini gangguan autisme sering dikaitkan dengan
keracunan logam berat dan pertumbuhan jamur yang pesat di usus, maka
beberapa pemeriksaan yang berkaitan dengan hal tsb sering dilakukan
(dengan catatan sesuai indikasi yang berlaku). Untuk menegakkan
diagnosis gangguan autisme biasanya didasarkan dari gejala gejala
klinis yang tampak dan jelas menunjukkan pola penyimpangan dari
perkembangan normal anak seusianya. Kriteria yang digunakan pada saat
ini adalah dari pedoman kriteria diagnosis berdasarkan DSM-IV
(Diagnostic & Statistic Manual of Mental Disorder IV) atau ICD-10
(International Classification of Disease 10).

Kriteria Diagnostik gangguan autisme berdasarkan DSM IV adalah:

A. Harus ada sedikitnya gejala dari (1), (2), dan (3) dengan minimal
2 gejala dari (1) dan masing-masing satu gejala dari (2) dan (3) :

(1). Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
Minimal harus ada 2 gejala dari gejala di bawah ini:
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai, kontak
mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik yang
kurang tertuju.
b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya (sesuai dengan usia anak)
c. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
d. Kurangnya hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, seperti ditunjukkan
minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini :
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (tak ada
usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa bicara)
b. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa
meniru.

(3) Ada suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam
perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala
di bawah ini:
a. mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas
dan berlebih-lebihan.
b. terpaku pada satu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tak ada
gunanya.
c. ada gerakan-gerakan yang aneh yang khas dan diulang-ulang.
d. seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

B. Gejala-gejala di atas timbul sebelum usia 3 tahun dan adanya
keterlambatan / gangguan dalam bidang:
(1) interaksi sosial,
(2) bicara/berbahasa,
(3) cara bermain baik simbolik atau imajinatif

C. Tidak disebabkan oleh sindroma RCH / gangguan disintegrasi masa
kanak. Dengan mempelajari gejala-gejala tsb di atas maka para orang
tua dapat menduga apakah anak tsb termasuk anak dengan autisme atau
bukan.

TANYA:
Anak saya perempuan usia 1 tahun 8 bulan, sampai saat ini anak saya
masih belum bisa ngomong seperti anak seusianya, ngomongnya masih
belum terarah (semaunya saja ngomongnya). Dan kalau diajarin untuk
berbicara dia cuek saja, apalagi kalau sudah asyik nonton tv di
panggil saja tidak noleh. Anak saya berat badannya kira2 11 kg dan
dia termaksud anak yang lincah, pro aktif dan suka bercanda,cuman
satu saja sampai sekarang belum bisa ngomong. Yang ingin saya
tanyakan apakah anak saya termasuk lambat berbicara atau autisme?

JAWAB:
Tolong anaknya dibawa saja untuk diperiksa. Tentunya saya tidak bisa
memastikan apakah autis atau bukan dengan data yang terbatas. Umur 1
tahun 8 bulan belum bicara harus diperiksa dengan teliti. Jangan
menunggu, tolong diperiksakan saja.

Kebetulan sama dulu juga mengalami kegelisahan seperti itu. Anak saya
yang besar waktu umur 2 tahun, kosakata yang jelas masih sedikit,
sebagian besar bahasa planet yang hanya dia yang tahu artinya. Jadi
seringnya komunikasi kita seperti satu arah, kita tidak ngerti apa
yang diucapkan dan kalau ditanya, seringnya diam saja, atau dijawab
pakai isyarat, tapi sepertinya dia mengerti apa yang kita bicarakan,
Padahal di rumah eyangnya, banyak orang (om-om-nya) dan semuanya
cerewet, seneng ngajak ngobrol anakku, jadi tidak mungkin karena
kurang stimulasi. Saya juga konsultasikan ke DSA, karena patokan
saya, anak harusnya mulai lancar bicara, start 2 tahun, tapi kok
anakku telaat, Tadinya saya sampai pengen ikut terapi bicara, tapi
menurut DSA-ku, anakku masih wajar, dan disarankan untuk dimasukkan
kelompok bermain dulu, saya sampai minta vitamin, khususnya vit.
untuk perkembangan otak, karena saya takut, anakku khan suka jatuh
pas belajar jalan, jadi was-was saja, Akhirnya pas anakku 2 th 4
bulan aku masukkan ke kelompok bermain, yang seminggu sekali, memang
awal mulanya dia, masih penyesuaian diri dan lebih banyak diam, tapi
seiring waktu, banyak kemajuan pesat dari anakku. Mungkin karena
banyak teman sebaya, dll, anakku mulai banyak bicara, dan lebih
kritis, pokoknya, jadi cerewet deh sekarang, apa saja dikomentarin,

Sekarang anakku sudah 2 thn 10 bulan, alhamdulillah, sudah banyak
bicaranya, malah sudah bisa cerita atau ngadu, jadi pengasuhnya tidak
bisa macam2, karena sudah bisa laporan sich, Mungkin dicoba dulu
dimasukkan ke Kelompok bermain mbak? setahu saya kalau anak autis,
tanda-tandanya bukan hanya telat bicara, banyak faktor atau ciri2
lain yang mungkin ibu lain bisa tambahin, (DS)

Anak saya dulupun demikian sewaktu umurnya 2 tahun plus namun yang
perlu diperhatikan : Bila diajak bicara apakah si anak mengerti apa
yang dikatakan? Atau ditest dengan cara menyuruh si anak buang sampah
misalnya. Bila diajak bicara apakah mata si anak menatap pembicara???
Bila hal diatas sudah dilakukan kemungkinan besar hanya kurang
interaksi internal, bukannya autis. Akhirnya pada waktu itu si anak
saya sekolahkan padahal umurnya baru 2 tahunan dan PRT dirumah saya
tambah menjadi 2 orang sehingga si anak banyak mendengar orang bicara
dan sianakpun berintraksi dengan banyak orang. Dan alhamdullilah
lambat laun terlihat perkembangannya. Semoga saja anak adik mbak
demikian seperti anak saya yang pertama (sekarang umurnya sudah 5
tahun 5 bulan dan sudah cerewet). (URI)

Soal ini yang juga bikin aku cemas. Anakku, 20 bulan, sampai sekarang
belum bisa bicara lho ibu. Kata yang fasih diucapkan cuma 1 kata
yaitu “udah”. Selain itu tidak ada yang jelas. Cuma eh, aa, uu, mba’
(bukan manggil mbak lho tapi kalau’ minta perhatian bapaknya),
manggil akunya dengan ah ah / eh. Mau minum susu cuma tunjuk botol
sambil bicara eh, eh, eh, Kadang mau minum putih saja sambil nangis
karena kita tidak ngerti maksud bahasa dia. Hal yang agak melegakan
hati adalah dia selalu merespons dengan baik apa yang kami sampaikan,
seperti meletakkan gelas di cucian, mematikan lampu mobil, mengambil
barang-barang (gelas dll). Tiap makan dia akan berinisiatif
bilang “a'” kalau’ dirasa mulutnya sudah kosong sementara dia belum
disuap lagi. Bermain bersama dilakukan dengan gembira jadi
sosialisasi kayaknya tidak masalah deh, disuruh salim dia akan
langsung mengulurkan tangan meski dengan orang asing. Penjelasan ibu
sekalian memang cukup menenangkan tapi aku apa perlu periksa juga ke
DSA yang lain ya, soalnya kalau’ dengan Dr Bambang, menurut beliau
anakku tidak masalah. Cuma sering tercetus takutnya terjadi aku
terlambat merespons. (A)

Anakku juga termasuk agak telat ngomongnya, umur 15 bulan ngomongnya
masih pakai bahasa planet, padahal sepupu2-nya umur 12 bulan sudah
bisa panggil mama papa. Kata DSA tidak masalah wong anaknya dia saja
baru ngomong umur 2 thn, tapi kalau mau second opinion ke dr lain ya
silakan, akhirnya dirujuk ke Prof. Taslim di Hermina Jtn. Waktu
diperiksa dia bilang tidak ada masalah dan tidak autis (legaaaa
rasanya), cuman dibilangin kurang banyak latihan/ diajak ngobrol,
(padahal kurang gimana lagi ya cerewetnya kita), dikasih obat racikan
untuk 1 bulan plus tugas untuk lebih intensif lagi ngajarin/ngajak
ngomong, eh baru seminggu minum obat anakku sudah mulai panggil mama,
mama, juju (susu) sudah, dan beberapa kata pendek lainnya. Berhubung
aku merasa tidak urgent lagi akhirnya aku tidak balik lagi ke si
Prof, padahal DSAnya bilang silakan saja diteruskan, Tapi keponakanku
juga baru ngomong umur 3,5 tahun lho !! Gara2 awalnya sering
ditinggal didepan TV nonton sendirian, karena ibunya sibuk ngurusin
rumah, sudah di terapi wicara bolak-balik tidak ada kemajuan,
akhirnya dimasukin play group baru deh mulai ngomong, Sekarang sudah
4,5 tahun dan cerewet!!(IT)

Mungkin yang harus kita lakukan bukan cuma ‘cerewet’ sendiri. Tapi,
berusaha ngerangsang si anak untuk ngejawab omongan2 kita. Mungkin
kalau ‘cerewet’ yang satu arah, si anak malah bingung kali
yach. “Ibuku kok tidak kasih kesempatan aku buat ngomong ya???”.
Soalnya beberapa sodara saya yang anak2nya pada telat ngomong,
kejadiannya sama seperti itu. Si ortu asyik sajacerewet sendiri,
sementara si anak asyik saja ngedengerinnya dan tidak bisa nanggepin
kecerewetan si ortu ini, (R)

Keponakanku sampai ultahnya yang ke-2 bicaranya sama, yang keluar
cuma ah uh eh doang. Persis, kalau mendengar perkataan orang dia bisa
mengerti. Seperti disuruh salam, atau diminta mengambilkan mainannya
gitu dia bisa mengerti. Waktu itu seisi rumah juga cemas melihat
keadaan ini sementara badannya bongsor, diusia 2 tahun sudah seperti
anak usia 3-4 tahun tapi ngomongnya masih bahasa planet, kan lucu
jadinya. Padahal bundanya, tantenya dan orang2 disekelilingnya adalah
orang2 yang cerewet alias doyan ngomong. Lalu pola bicara kita orang2
disekelilingnya mulai sedikit diperhatikan. Kita sepakat kalau bicara
sama dia, bicaranya sesedikit mungkin. Tapi dipraktekin dan minta dia
bicara berulang2. Misalnya kita baca buku sama2 lalu kita bilang “Ini
burung” lalu tanya apa ini? Begitu lama2 dia bisa walaupun hanya
ujung katanya saja. Lalu kalau dia minta sesuatu misalnya dia minta
susu, kita biarin dulu sampai dia mencoba bilang susu atau dia
berusaha menunjukan bahwa yang diinginkannya itu susu. Dulu dia suka
nunjuk tempat bikin susunya terus kita bilang “oh mau susu ya” “Mau
apa dik?” “susu” gitu terus diulang2. Kadang secara tidak sadar
lingkungan memenuhi kebutuhan anak sedemikian rupa sehingga tanpa
sianak harus bicarapun lingkungan sudah mengeri dan memberikan
kebutuhan dia. Si anak jadi tidak terlatih untuk mengemukakan
apa.yang diinginkannya. Tapi kita harus waspada juga jangan sampai
sianak jadi frustasi karena dia mencoba mengemukakan bahwa dia pengen
susu tapi kita terus cuekin karena dia belum bener ngomong susu.
Dengan memperbanyak anak bersosialisasi dengan anak sebayanya juga
bisa merangsang anak untuk berkomunikasi. karena dengan teman sebaya
mau tahu mau dia harus mencoba mengemukakan apa yang dipikirkannya.
Misalnya kalau dengan orang tua dia mengatakan “mau su” kita sudah
ngerti kalau dia mau susu. Tapi dengan anak lain belum tentu.
Situasinya membuat sianak memang harus bicara, tapi dalam keadaan
yang tidak tertekan karena situasinya bermain. Usia hampir 2 tahun 6
bulan, dia terus bisa bicara, bahkan tidak bisa berenti kalau sudah
nanya. Kata neneknya, ayahnya dulu juga baru bica bicara lancar
diusia 2 tahun, jadi barangkali ada kaitannya juga ya? (SK)

Iya betul ya. Ini juga berlaku baik bagi anak normal maupun yang
bermasalah ya? Soalnya temenku yang terapi-in anaknya itu juga
disuruh begitu sama terapistnya. Anak jangan langsung dilayani kalau
misalnya cuma bilang,”Uh,uh,”, sambil nunjuk botol susu-nya. Kita
harus rangsang supaya dia ‘berbicara’ dulu baru dikasih susunya. Juga
kadang kita tidak sabar nunggu anak ngomong sampai selesai. Jadi dia
lagi bilang, “Mau minum… minum…”, kadang ada yang nyambung :”Susu
ya?”. Sebaiknya sih ditungguin si anak selesai berpikir dan
mengutarakan pikirannya. Sebab kadang anak lebih cepet di otak
daripada di bibir. Otaknya sudah mikirin apa, yang nyampe bibir baru
apa gitu. (R)

Nah kalau yang kayak gini kejadiannya sama ponakanku satu lagi. Jadi
malas bicara karena kalau dia ngomong sesuatu trus agak lama kan
kadang lingkungan jadi tidak sabar, ini anak mau ngomong apa sih?
lalu kalau dia ngomong lingkungan jadi suka memotong omongannya.
Misalnya dia bilang Bu kaka mau itu, mau itu, mau itu bu, Ibunya
langsung bilang “oh mau coklat dari toko kemaren ya? Kadang
lingkungan bermaksud membantu sianak menuntaskan perkataannya, tapi
kadang hal itu malah jadi menghambat si anak untuk berbicara. Kita
bisa saja terus tanya, mau apa? kaka mau apa ya? Ibu kok belum
ngerti? sampai sianak bisa mengemukakan apa yang ada dipikirannya
Kakak sekarang suka curhat sama aku (waktu dia usia 10tahun) katanya
ibunya suka nuduh dia. Aku tidak ngerti kenapa dia bisa punya pikiran
seperti itu setelah ditanya tanya, rupanya dia sebel karena katanya
kalau dia ngomong belum selesai ibunya sudah motong pembicaraan
dia. “padahal bukan itu loh tante yang mau kakak bilang sama
Ibu”. “Ah kakak jadi males ngomong katanya kalau orang ngomong kita
tidak boleh motong omongan orang. Tapi kalau kakak ngomong kok suka
dipotong”. Untung cepet ketahuan kalau dia punya pikiran seperti itu.
Kalau keterusan? bukan tidak mungkin akan muncul masalah yang lebih
serius lagi. (SK)

Usulan ini sudah aku terapin berulang untuk si kecil. Sudah
uh..uh..uh.. sambil nunjuk botol. Aku tanya “adik mau apa”,
uh..uh..uh.. keukeuh nunjuk botol. Aku tanya “mau apa dik”, sambil
nunggu dia mau ngomong apa keluarnya uh..uh..uh.. lagi sambil nunjuk
botolnya. Berapa kali masih begitu akhirnya aku ambil botol susu dia
sambil bilang : adik mau minum susu ? Dia tuh uh, uh, uh, lagi sambil
jalan balik ke dispenser tempet biasanya susu dibuatin, nungguin di
situ. Kalau’ ditanya lagi adik mau apa, waduh bisa langsung ngamuk.
Mungkin pikirnya Ibuku ini sudah ngerti maksud aku masih tanya-tanya
saja.

Aku sih masih berusaha terus nih, pengasuhnya juga aku ingatin terus
supaya tetap merangsang adik untuk mau ngomong. Kakaknya, padahal
cerewet betul, ngajakin ngomong adiknya. Semoga juga cuma masalah
waktu saja ya, bukan yang lain-lain. (A)

Mungkin dicoba kata per kata. Jadi misalnya ditanya mau apa, tetap
masih uh-uh-uh lagi, kitanya bilang, susu? Adik mau susu? Susu yang
ini? S, u, s, u, coba dik, Berkali-kali-kali seperti gitu, lama2
lengket di otaknya, itu SUSU. Sembari terus melatih, kita juga tetap
memperhatikan, juga mengingat2, apa ayah/ibu/sepupu2nya dulu juga ada
yang begitu? Sebab anak tetatidaku, sudah 2 tahun lebih (dulu) belum
bisa ngomong juga, ternyata dirunut2, sepupu2nya dari garis bapaknya
semua rata2 begitu. Rata2 lancar bicara umur 3 tahun. Ya bener saja,
memang dia umur 3 tahun baru lancar bicaranya (R).

Kalau menuruntuku adik itu sudah ada usahanya untuk mengemukakan apa
yang dia inginkan. Adik kalau mau susu nunjuk botol laau ngajak
ketempat dispenser, itu salah satu bentuk usahanya dia. Barangkali
memang masih susah buat adik untuk bicara, tapi kita teruskan saja
usahanya kalau sudah diambil susu dibilang oh adik mau susu ya? Susu,
gitu terus, Insya Allah kalau berulang2 dan konsisten dilakukan oleh
lingkungannya akan diinget terus sama sianak. Memang sebaiknya jangan
sampai sianak ngamuk, takutnya menimbulkan frustasi yang
berkepanjangan. (SK)

Kalau aku punya pengalaman dari kedua saudaraku yang pertama anaknya
sampai 3,5 tahun susah ngomongnya pakaui bahasa planet, naah ibunya
terus saja melatih dia untuk bicara ngikutin kata ibunya, dan katanya
kakeknya tuh anak (bapaknya si ibu) dulu waktu kecilnya juga lama
baru bisa bicara lancar sekitar umur 4 tahunan makannya si ibu santai
saja, soalnya dikaitkan dengan cerita keturunan itu, kalau yang satu
lagi anaknya mengalami autis ini terlihat dengan dia sering bicara
planet dengan dunianya sendiri dimana dia ngoceh saja tanpa ketahuan
ngomong apaan, akhirnya ibunya menemui ahli wicara apa ya pokonya
dokter anak di warung buncit untuk terapi bicara, dan alhamdullillah
kata dokternya sajaran ibunya dalam melatih anaknya bicara sudah
benar, anak dilatih untuk bicara keinginannya dengan dibantu,
Akhirnya si autis bisa bicara walaupun belum jelas sekarang sudah
kelas satu SD,(N)

Waktu itu aku sudah curiga abis karena anakku tidak bisa ngomong, ada
sih mama, papa, tapi hiperaktif nya itu lho. Jadi sudah niat, 24
bulan tidak ngomong, bawa ke dokter, dulu di Malaysia dokternya
bilang bukan autis. Masalahnya dibilangnya, speech and comm.
disorder, Kemudian aku cek ke 3 dokter, idem dito, bukan autis, tapi
pas di Jakarta, positif dibilang autis. Tapinya, terapi yang disuruh
sama dengan yang dibilang dr. di Malaysia. Aku inget daftar
pertanyaan dari Dr. Hardyono di KG itu ya, bisa dicek:

(1) Suka ketawa sendiri tidak
(2) Suka pegang2 penis
(3) Suka lihat & maenin benda berputar
(4) Usia satu tahun belum bisa menunjuk sesuatu yang dia mau/maksud
(5) Suka jingjit
(6) Suka berputar-putar
(7) Suka mengamuk kalau tidak dituruti (bisa membenturkan kepala ke
tembok, atau tiduran di lantai, atau tahan nafas)
(8) tidak nengok kalau dipanggil
(9) Lebih suka main sendiri
(10)Suka menyusun mobil2an berderet2
(11)Kontak mata yang jarang dengan lawan bicara

Kalau 2 tahun belum bicara, atau ada ciri2 di atas, takutnya nyesel
bawa saja dicek ke dokter, Aku ingetin begini, soalnya ada temenku
sekarang nyesel banget telat bawa anaknya, 5 tahun baru ketahuan
asperges. (IE)

Aku mau cerita ya, ibu, tentang anakku, dari umur 12-16 bulanan, aku
sudah was-was karena anakku belum juga bicara, rasa khawatir ini
timbul karena aku punya 2 temen dimana anak2 kita lahir hanya selang
10 hari dan anakku yang paling tua, kedua anak temanku itu umur 12-13
thn sudah bisa bilang num susu, bis, motor, bil-mobil, mama, papa,
eyang, sudah lumayan jelas, smtr dia jauhhh, banget, deh dari mereka,
kalau kita tanya andung, mana, dia tidak nunjuk ke ibuku, tapi cukup
melemparkan pandang kearah ibuku dengan senyum, kesannya seolah2 dia
bilang itu andung, setiap ditanya matanya mana; kakinya mana, lagi2
Cuma senyum2, sambil tetap ngeluarin suara2 bayi-nya, dirumah,
rasanya jugan ditanya deh, gimana ramenya kita, hampir yang ibu semua
lakukin buat anak2 ibu itu juga yang kita lakuin dirumah, bacain
cerita, nyanyi, sampai untuk mengenalkan warna aku pakai dengan cara,
kamu pakai baju putih ya, gitu deh, waktu aku baca postingan ibu,
ternyata F juga melakukan hal ini, dari waktu ke waktu kita tetap
usaha terus, kalau tanya ke dsa-nya, beliau cuma bilang, tetap saja
bu dilatih, belum 2 thn kan? Tapi selama itu juga banyak pemahaman
dan pengertian yang diterimanya, kalau dikasih perintah yang mudah2
dia bisa lakukan, spt ambil handuk buat mandi, pakai sepatu, bisa
pakai sandal sendiri, buang sampah, semacam itu deh.

Antara umur 18-24 bulan, tiba2 aku surprise, waktu pulang, dia bisa
bilang ‘allahu akbar’ dengan jelas tapi tanpa huruf ‘r’, rupanya
sesiangan dia diajarin oleh kakeknya, tidak lama kmdn kata ‘amin’
karena dia sering lihat kita2 stelah shalat berdoa, terus waktu itu
juga dia lagi getol2nya niruin gaya org shalat. Terus tidak berapa
lama ibu DI ngomongin soal vcd iqra, wah, aku langsung beli, hampir
tiap pagi slbm aku berangkat knt (kadang juga sore, tergantung maunya
ayra juga) stel vcd ini, tidak nyangka dia nyimak, kata ibuku lagi
dia juga mulai ikut2an berdendang kalau kita nyanyi. Sepanjang
desember kemarin (pas 2 thn) banyak banget deh, ibu yang dia sudah
bisa, sekali2, aku tanya lagi, mata kamu mana? dia tunjuk matanya,
aku tanya lengkap dia bisa kasih tahu lengkap anggota badannya, dia
juga sudah bisa nyebut panggilan2 org2 rumah, (kecuali mama/ayah dr
dulu dia memang bisa), terus aku tanyain juga iqra alif, dia bisa,
juga, aku tanya secara acak, ia juga bisa, (mis;dal diatas,nanti dia
nyahut ‘da’, ) sudah bisa nyanyi lagu favoritnya ‘topi saya bundar’,
sudah bisa bilang mamam(makan), o, iya, aku juga udah masukkin ke
tempat bermain, tapi kayaknya belum efek deh, ke dia untuk bicara,
karena dia sendiri masih cuek dan masih lebih banyak sama kitanya,
ketimbang teman2nya, meskipun ditempatnya bermain itu, sudah lumayan
banyak juga anak yang sudah bisa bicara, lihat dia saat ini paling
tidak bisa mengurangi sedikit kekhawatiranku (aku sempet kepikiran
juga siapa tahu dia autis), mudah2an dari bulan ke bulan nantinya ada
kemajuan, demikian juga buat anak2 ibu, o, iya, aku seneng juga baca
sharingnya ibu tentang ini, siapa tahu ada input tambahan buatku spy
bisa merangsangnya bicara. (R)

Iya, aku dibilanginnya juga jangan bersedih dulu kalau baru bisa
ngomong SSSS doang buat susu, sudah harus dikasih reward tu kalau
bilang “SSsss…” pas mau susu. Anakku dulu baru bisa ngomong umur 5
tahun lho, sampai sekarang kalau ngomong masih irrrriiit banget. (IE)

Kalau menurut pendapatku, beda anak, beda kasus, beda penanganan. Ada
late talkers karna lingkungannya pendiem. Ada yang justru karna
lingkungan terlalu bawel. Ada yang terbantu dengan ‘dipaksa’
menyelesaikan kalimat. Tapi ada yang justru jadi frustrasi banget
trus takut omong (karena dia merasa tidak ada org yang mau ngertiin
dia, lha dia mana tahu bahwa kita sedang nunggu dia ngucapin kata
yang benerkalau buat dia kan itu kata sudah bener. Jangan kecil hati
karena ngelihat suatu metode berhasil di org lain dan tidak di kita
dan kalau kita mau jadiin usia sebagai indikasi normal / tidaknya
tumbuh kembang anak kita, hati-hatilah, yakin dulu bahwa kita memang
tahu ilmunya jadi was-was itu manusiawi sekali, tapi kalau saking
waswasnya trus berdasarkan cerita org lain kita memastikan kasusnya
anak kita, apalagi trus kita taruh label tertentu pada si anak dan
memilih sendiri penanganannya ini yang bahaya. Yang jelas, sebagai
orgtua insya Allah kita punya deh insting kalau emang kita rasa ada
yang tidak beres cari, cari, cari pendapat dari yang kompeten dokter
anak, psikolog, kalau bisa tim sih lebih bagus yang penting bisa
diajak diskusi sampai ngelotok sampai semua pertanyaan & keraguan
terjawab kalau masih ada yang dirasa tidak puas, cari lagi pendapat
lain, untuk bisa tegakkan diagnosa apapun, butuh pemeriksaan dan
analisa detil yang didasarkan sejarah tumbuh kembang si anak dan
observasi langsung! ini yang terpenting. Karena sekali lagi, tiap
anak beda, tiap anak super istimewa, (H)

Soal anak belum bisa ngomong emang bikin kita cemas ya. Aku kalau
berdo’a berharap perkembangan bayiku dalam perut kelak akan selancar
kakaknya, jadi kalau kakaknya ngoceh aku suka berdo’a dalam hati agar
adiknya pun lancar perkembangannya, padahal kalau dipikir saat hamil
pertama itu aku merasa lumayan tertekan lho, maksudku saat itu
kebetulan aku lagi ada masalah rumah tangga, makanya kalau lihat dia
lari2 trus ngoceh nanya ini itu aku cuman bisa bilang Subhanallah
kalau inget saat hamil dia betapa “mandiri” nya aku,
betapa “pendiam”nya aku, dulu saat hamil dia aku juga suka makan junk
food, kalau tidak bisa keluar rumah aku punya daftar delivery service
masing2 restoran junk food, hehehe, aku tahu itu tidak bagus, habis
daripada tidak ada yang masuk perut, sekarang Z sudah 2 th,aku juga
tunda dulu imunisasi MMRnya,meski blom sekolah skrg dia sudah bisa
bilang one sampai ten,yang penting kalau ngajarin ke anak kita jugan
cemas, anak mungkin ikut merasakan ketegangan kita,ikhlas dengan
kondisi anak & rileks saja sambil jalan, toh tiap anak itu unik &
perkembangannya tidak selalu sama, aku selalu bicara saat melakukan
kegiatan bersama anakku sejak dia bayi, apapun itu,lagi ganti
popok,mandiin,bahkan sabun jatuhpun kuungkapkan seolah dia ngerti
sabun itu licin, kebetulan pbt-ku juga full comment kalau nonton
TV,oh ya ada yang bilang TV juga merangsang anak cepat bicara, asal
tepat yach tontonannya,VCD juga membantu, dulu anakku kalau nanya
suka bilangm?,hm?, hm?, jadi kita jawabnya berulang2, ternyata dia
niru pbt-ku kalau diajak ngobrol temennya suka bilang gitu, akhirnya
aku tegur jangan ‘hm”,tapi “apa bunda?”, atau “apa Mbak?”, itu
kukatakan berulang2 tiap kali dia ber hm-hm-ria, skrg sudah tidak
lagi,malah suka ngeledek,”apa bunda?,hm?,hm?,hm?”, kemudian dia
terkekeh. (C)

WHAT DOES IT MEAN WHEN A CHILD IS LATE TALKING?
Stephen Camarata John F. Kennedy Center on Development and
Disabilities

Talking is one of the most salient developmental milestones in early
childhood. To a parent’s delight, most children start talking about
the time their first birthday is celebrated. Over 90% of children
begin using words by 18 months of age. But what about the remaining
10%? Is the late onset of words simply normal developmental variation
without any long-term impact or is it an indication that something is
wrong? The answer is that late talking can be either and it is
important to determine whether this is a passing phase or a condition
requiring intervention. What is late talking? A parent once contacted
me and was concerned that her child was not using words at 13 months
of age. She had read that first words come in by 12 months and was
rather distraught that her son hadn’t met this milestone. Like many
developmental milestones, talking has a rather variable onset, with a
normal distribution of approximately 9-18 months. That is, according
to a large normative study (Fenson et al, 1992) a majority of
typically developing children will begin using first words somewhere
within this age range. In terms of age-equivalency, this is a huge
span! Consider that an age deviation (age of onset minus median
divided by median) would yield a “50% delay” for a child who in
actuality has normal onset of first words at 18 months. In the
absence of a more general developmental condition (e.g, Down
Syndrome), this would simply be normal variation.

If a child is late talking
The first thing to be said about all late talking cases is that a
medical evaluation should be completed to rule out any medical
factors contributing to the late onset of language. In addition, an
audiological examination should be performed to ensure that a major
risk factor, hearing loss, is not the cause of the late talking. If a
child is not using true words by 18 months of age, this would be
considered a form of late talking. But is this a stage of development
or a symptom of a broader clinical condition, such as autism, that
will require treatment? A number of clinical conditions include late
talking as a symptom. The fourth edition of the diagnostic and
statistical manual of the American Psychiatric Association (DSM-IV,
APA 1994) lists a number of conditions “first appearing in childhood”
that include late talking. The most prevalent include expressive
language disorder, mixed expressive-receptive language disorder,
phonological disorder, mental retardation, and some of the pervasive
developmental disorders, including autism, Rhett’s syndrome and PDD-
NOS (not otherwise specified). Note that Asberger’s syndrome is
characterized in the DSM-IV as normal onset of language, indicating
that late talking is not a symptom of this condition. It is also true
that many children who talk late are “nonclinical” in that they may
not begin talking until two, three, or even four years of age, yet
when talking begins they quickly catch up and have none of the
clinical conditions mentioned above. But how can a parent know what
is happening with their own child two or three year old child who
isn’t talking yet? The uncertainty can be quite difficult.

Differential Diagnosis of Late Talking
Here at the Kennedy Center, many researchers are studying ways to
differentially diagnose developmental disabilities. For example,
Wendy Stone is researching methods of accurately identifying autism
in young children, a process that historically has been difficult to
identify with a high degree of certainty until a child is a bit older
(e.g, five years of age). In addition, she is working with KC
investigators Paul Yoder and Mark Wolery to study treatment for
preschoolers with autism. But the broader question is how one can
tell if a child has mental retardation, autism or other PDD, language
disorder or will simply “grow out” of the problem. Basically, the
process of differential diagnosis requires careful observation of the
child and the evaluation process should include a detailed
examination of the risk factors. In general, the fewer risk factors
evident, the more likely the late talking is a developmental
variation rather than a clinical condition.
For example, several studies over the past decade have indicated that
if the only trait evident in the child is late onset of words at age
two, there is a very high probability that the vocabulary size will
be within the normal range at the age of four (Paul, 1993, 2000;
Whitehurst et al. 1992). But, Paul (1994) reported that a child with
phonological (speech sound disorders) was more likely to continue to
have language difficulty beyond age four. This suggests that a
diagnostic model should provide a systematic analysis of risk factors
when recommending treatment for late talking.

Risk Factors
If a child is not talking, what skills are also important? As
mentioned above, the quality of the child’s vocalizations (e.g, are a
variety of sounds used in babbling?) is predictive of late growth. In
addition, the child’s receptive language skills are important. The
children who normalized in the Whitehurst et al. report had normal
(age appropriate) comprehension and our own baseline data on late
talkers suggests that those with normal comprehension are much more
likely to normalize than those with significant comprehension
deficits. Another important domain is the nature and quality of the
child’s nonverbal social interactions. Child with serious problems
such as autism are less likely to initiate nonverbal social
interactions than are children who are likely to normalize. Indeed,
reduced social interaction that can not be accounted for by the late
talking itself is a hallmark characteristic of autism or other forms
of PDD (DSM-IV). Finally, a child’s nonlinguistic cognitive abilities
are an important factor. It is not surprising that late talkers often
fall below expected levels on verbally based intelligence tests.
After all, how many of us could do well on a test given in a language
we don’t understand? But, late talkers who are otherwise unimpaired
should fall within the normal range on tests that examine nonverbal
cognitive abilities (e.g, the revised Leiter International
Performance Scale, Roid & Miller, 1997). If the late talker is below
expected levels on nonverbal tests (in addition to verbal tests),
this suggests a more comprehensive disability. In simple terms, these
kinds of tests predict a child’s rate of learning and if cognitive
abilities are below expected levels, it is likely that the child will
learn more slowly and require more attention than peers.
Treatment for Late Talking
The language skills of any late talker, regardless of diagnosis, and
typically developing children as well, can be accelerated by applying
focused stimulation on words, word endings, sentences, and speech
sounds. Researchers at the Kennedy Center have a long and impressive
history of developing ever more effective treatments and this work
continues. If the only factor in the late talking is the late onset
of words, there is a very high likelihood that the child will
normalize within a relatively short time. All children with
disabilities can learn, so more serious problems can be improved with
appropriate treatment. It is comforting to know that the overwhelming
of people with disabilities learn to talk. An important challenge in
these more serious conditions such as autism, is making sure that the
focus of language intervention is on truly functional skills (e.g,
useful words) and making sure that the goals are coordinated among
the special educators, preschool teachers, speech-pathologists, and
parents as these children will likely benefit from learning the same
words in each context. Unfortunately, there are many unproven (and
often expensive) treatments being offered to families that do not
directly improve talking. At this time, unlike the research to
support directly teaching a child to talk, there is not scientific
evidence to support the use of special diets, massage, muscle
exercises, non-language auditory training, or chelation to treat late
talking. Moreover as Paul (2000) notes, late talking may simply be a
developmental stage or it may be a symptom of a more severe
condition. Many late talkers will normalize without treatment and
many others will normalize with an appropriate treatment program, but
regardless of whether the late talking is a stage or a symptom, all
can learn. It is important to have an accurate diagnosis, and if
needed, appropriate treatment. Future Studies Because a general
condition, lat talking, is a behavioral trait for many different
clinical conditions as well as a variation on nonclinical
development, we hypothesize that this is a very interesting group for
developing neural, genetic, and auditory perceptual signatures that
will yield useful diagnostic information and perhaps provide
important prognostic indictors for treatment. Here at the Kennedy
Center at Vanderbilt University, teams of researchers have begun to
study these questions in more detail. We believe that it will
ultimately be possible to provide more accurate diagnoses and, if
needed, more effective treatment to improve on what Paul (2000) has
characterized as a relatively low accuracy rate in predicting later
development in lat talking two year olds.

Wah, aku telat baca topik ini, sehari cuti saja email sudah buanyak
banget. Anakku yang besar (now 25 mos), termasuk yang lambat mulai
bicara. Sempat juga kita khawatir dengan autis, speech delay atau
penyakit lainnya. Padahal orang di rumah cerewetnya bukan main,
bingung kan Akhirnya mulai umur 20 bulanan, aku coba salah satu cara
yang disarankan ibu DI yang pinter-pinter ini. Aku belikan VCD lagu-
lagu anak banyak sekali (beli di sojong, murmer dan kumplit) Setiap
hari bangun tidur langsung setel VCD, malam pulang kantor, setel VCD
sampai tertidur. Lalu dari VCD itu beberapa lagu favorit kita rekam
di kaset, nah kaset itu diputar berulang- ulang, ya di jalan, ya
waktu makan siang pokoknya setiap ada waktu. Hasilnya dalam waktu
tidak terlalu lama, anakku bisa menyanyikan lagu lengkap Misalnya
nina bobo, cicak didinding, naik-naik kepuncak gunung etc sekarang
malahan lagu-lagi yang lumayan susah/panjang dia sudah bisa.
Kesimpulanku sih, dia bukan belum bisa ngomong, tapi memang dia belum
pengen/stimulusnya kurang tepat. Kalau kata-kata, herannya malahan
baru bisa merangkai dua kata spt “mau berenang” (nah ini fasih
banget), “mau mandi” yah pokoknya dua kata saja, aku belum pernah
denger dia ngomong 3 kata.Kalau kosa katanya sih sudah lumayan
banyak, semua benda di rumah dia tahu namanya. Lumayan, aku sudah
agak lega (V)

TANYA:
Ibu, kenapa ya kok banyak anak yang autis dan hiperaktif sudah berapa
temen dan saudara yang anaknya autis dan hiperaktif ini akibat dari
apa ya? Kata temen karena banyaknya mengkonsumsi junk food tapi masa’
iya sih? Kalau ada yang tahu sharing dong, (Nt)

Kalau aku dibilanginnya karena turunan, ada yang karena rubela pas
hamil, ada yang curiga karena MMR.Tapi bisa jadi juga, karena
sekarang sudah banyak informasi tentang autis, jadi baru ketahuan deh
anak autis. Soalnya dulu suamiku tidak dibilang autis, pdhl dari
cerita mertua, curiga banget dia autis karena ciri2nya ada semua.
Dokterku sendiri di tempat yang lama, tidak mau nge-cap pasiennya
autis sebelum 5 tahun, sementara banyak juga kan dokter yang begitu
lihat langsung yakin pasiennya autis. Aku inget dulu selalu di
saranin second opinion, ya ? Biar lebih yakin, Kalau junkfood sih aku
tidak tahu bisa jadi penyebab, cuma fyi, anak autis tidak boleh makan
junkfood and msg, (IE)

Kalau aku sih sudah bukannya second opinion lagi, sampai fourth,
five, sixth opinion. Tidak percaya ahli-ahli disini pakai ahli negeri
seberang juga,, dan hasilnya sama, dengan begini aku (mudah-mudahan)
tidak salah menanganinya. Jadi aku tidak sekedar “ikut-ikutan”
atau “latah” therapy ini dan itu, mana jaman aku 5 thn yang lalu itu
susah cari info karena belum banyak yang tahu. Seperti yang sudah aku
share sebelumnya yang terpenting, cari dulu akar permasalahannya,
kemudian cari ahli yang tepat dan temukan penanganan yang cocok
sesuai saran ahli dan hati nurani masing-masing. (DN)

Perkembangan bicara anak pertamaku bukan main cepetnya kalau tidak
mau dibilang kecepetan. Tapi anak kedua lain sama sekali, sudah 2 th
sekarang tapi belum terlalu lancar bicaranya, kadang yang denger
masih tidak ngerti. Padahal kalau dipikir, dulu anak pertamaku kan
kalau aku ke kantor cuma ditinggal ama BSnya, sementara anak kedua
sekarang lebih banyak temennya, ada kakaknya, BSnya, mbaknya
kakaknya, mamiku, dll, logikanya anak kedua harusnya bisa lebih
lancar berbicara. Tapi kenyataannya lain. Aku sih cuma mikir, yah
anak adalah individu yang unik, selama secara keseluruhan
perkembangannya baik, aku tenang-tenang saja. (SM)

Apa anak ke dua begitu ya??
Anakku memang baru 8,5 bulan. Actually dia sudah mulai ngoceh. Cuma
herannya dia banyak ngoceh pas jam 4 pagi saat dia bangun karena pup.
Atau jam2 Abangnya tidur. Aku perhatiin sih begitu. Mungkin kalau
Abangnya sudah bangun, adiknya merasa kalah suara kali ya?? Soalnya
si Abang anaknya bener2 heboh gitu. Aku sekarang rada2 cemas gitu,
kasian juga lihat Arei tidak banyak omong saat ada Zaldi. Paling dia
cuma senyum2 dan ketawa saja. Padahal aku sudah pancing2 supaya dia
ngoceh. Tapi memang dia lebih banyak silent. Tapi memang dia tetep
aktif ngikutin becandanya Abang. Sampai Embah-Abahnya bilang “ini
anak idep (tidak banyak tingkah)”. Tapi aku kok jadi worry ya? Jadi
kalau jam 4 dia bangun, aku seneng banget, ngocehnya tidak brenti2.
Ada tidak ibu yang pengalaman begini? Atau ada ide gimana supaya si
adik tidak kalah suara sama Abangnya? (S)

Waktu bayi, kakanya pendidam, tidak pernah ngoceh, tp umur 1 th tahu-
tahu saja dia ngomong, jelas dan nyambung. Sementara adiknya, waktu
bayi malah cerewet sekali, ngoceh terus, aku kirain bakalan cepet
ngomong, tahunya… salah aku. (SM)

Kok yang sering aku temui tentang anak ke-2 begitu ya? Ibunya rata2
bilang, anak pertama bicaranya cepet, anak kedua lebih lambat. Apa
kira2 karena terlalu ramai gitu, maka si anak lebih asyik
mendengarkan daripada berlatih bicara ? (R)

Kalau kasus keponakanku karena anak pertama dominan di rumah dan
seringnya sibuk dengan dirinya sendiri/main sendiri dan setiap
adiknya mau ngomong sering dipotong dan ortunya secara tidak sengaja
jadinya lebih sering ngobrol dan dengerin ngomongnya si kakak yang
jelas daripada dengan si adik yang ngomongnya tidak jelas maksudnya,
mungkin itu bikin si adik frustasi ya? Menurut DSA anakku biasanya
anak ke 2 ngomongnya cepet juga karena meniru kakaknya apalagi kalau
kakaknya banyak ngomong kecuali kasus tadi dan kebanyakan anak yang
lambat bicaranya anak laki2 mungkin anak perempuan lebih cerewet kali
ya? (Nt)

Adikku pernah cerita kalau dia ketemu seorang ibu yang lagi terapi
bicara anaknya di Klinik Anakku Bekasi. Menurut ibu ini setelah
konsul beberapa kali dengan psikolog ketahuan anaknya telat bicara
karena terbebani oleh kondisi kakak yang nota bene jadi “benchmark”
si adek. Si adek pengen sekali seperti si Abang kesekolah, punya
teman,main sepeda dst, sementara jarak umur membuatnya tidak bisa dan
frustasi. Solusinya selain terapi si Ibu memberikan fasiltas sama
dengan si Abang spt memasukkan ke PG membelikan sepeda dst. Aku juga
baru tahu kalau hal seperti itu bisa juga membuat si adek mogok
bicara. Aku juga harus waspada nih, dengan perkembangan anak keduaku
(masih 6 bulan) karena si kakak super aktif untuk semua kegiatan
termasuk bicara.(Es)

Anakku yang ke dua (N) juga gitu, sampai sekarang sudah 16 bulan
masih pakai bahasa planet, dia baru bisa bilang ‘mama’ dan ‘udah’.
Lain banget sama N (anak I) yang usia 14 bulan sudah mulai banyak
mengucapkan kata2 walaupun hanya belakangnya saja. Tapi dari bayinya
N memang banyak ngoceh, kebalikannya N tidak suka ngoceh, seingatku
dulu pernah dibilang kalau anak bayi suka ngoceh ngomongnya lama,
tapi kalau diem ngomongnya cepat. Hal ini terbukti untuk kedua
anakku, tapi kalau interaksi dengan kita biasa2 saja, anaknya normal2
saja kan ibu? (YA)

Si TELEDOR

sumber : tabloidnakita.com

Biasakan anak untuk beres-beres sendiri setiap usai menggunakan barang.
Sering kan si prasekolah mempertanyakan di mana mainannya atau barang-barang lainnya miliknya? Ketika dia ingin bermain dengan bonekanya atau mobil-mobilannya, dia tak menemukan mainan tersebut di kotaknya. Atau, ketika dia hendak memakai sandal, ternyata cuma ada satu, sementara pasangannya entah di mana.
Ya, ini salah satu perilaku yang nyebelin dari anak usia ini, “menyimpan” barang-barang atau mainannya di sembarang tempat. Ada yang tercecer di antara rerumputan di halaman rumah, tersembunyi di balik bebatuan, teronggok di kolong tempat tidur atau bahkan di sudut dapur, dan sebagainya. Belum lagi barang/mainan yang tak jelas nasibnya. Barang/mainan itu biasanya baru ditemukan setelah ada aktivitas “bersih-bersih” rumah.
Sebenarnya, perilaku si prasekolah yang demikian dapat dimaklumi. Pasalnya, kemampuan mengingat anak 4-5 tahun belum berkembang optimal. Tak heran, anak usia ini bak seorang manula yang sudah pikun. Berangkat bersepeda, tapi pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Sepedanya diletakkan di mana, dia tidak tahu. Begitu juga dengan nasib mainannya yang sehabis bermain langsung dilupakan.
Meskipun wajar, bukan berarti kita boleh terus membiarkan barang/mainan milik si kecil hilang satu per satu. “Sejak dini, orangtua dapat mengajari anaknya agar bisa bertanggung jawab terhadap semua barang atau mainan miliknya,” kata Rahmitha P. Sandjojo, Psi., dari Buah Hati Preschool, Bogor.
Bila anak dibiarkan saja hidup berantakan, bukan tak mungkin dia akan menjadi sosok yang teledor, pribadi yang jorok. Menyimpan barang di mana saja, juga tak bertanggung jawab terhadap barang miliknya. Tak heran jika dia sering lupa di mana barang miliknya disimpan/diletakkan. Kelak jika bekerja di kantor, dia tak terbiasa mengelompokkan file-file yang ada di mejanya, dan mejanya pun tak pernah rapi.
Selain itu, anak juga tak bisa menghargai hak milik. Dia main serobot barang milik orang lain. Dia juga tak pernah menolak jika barangnya dipinjam teman atau orang lain. Tak peduli apakah barangnya kembali atau tidak, rusak atau utuh. Tentu kita tak ingin hal itu terjadi pada si buah hati, kan? Oleh karenanya, psikolog yang akrab disapa Mitha ini menganjurkan orangtua agar sejak dini mengajari anak untuk beres-beres seusai bermain.
WADAH YANG MUDAH
Di rumah, mulailah dengan mengajari anak membereskan mainan seusai dimainkan. Cuma, jangan lupa, sediakan kotak untuk menyimpan mainan. “Banyak anak enggan membereskan mainan karena tak disediakan tempat atau wadahnya, atau tempat menaruh mainannya bergonta-ganti sehingga membuat anak bingung ke tempat mana bonekanya harus disimpan dan ke tempat mana balok-baloknya disimpan,” beber Mitha.
Jika mainannya kelewat banyak, sediakan beberapa kotak dengan model atau warna berbeda. Lalu bagilah, mainan mana yang masuk kotak A dan mainan yang masuk kotak B. Misal, mainan A khusus untuk mainan berukuran kecil sedangkan kotak B bisa menampung boneka besar dan mainan berukuran besar lainnya. Kenalkan secara berulang-ulang setiap hari sehingga anak paham. Cara ini secara tak langsung mengajarkan klasifikasi sederhana, menyimpan barang sesuai dengan tempatnya, dan ini memudahkan anak saat mencari mainannya.
Berikutnya, ajak anak membereskan mainan. Berikan contoh terlebih dahulu, “Mainan mobilmu disimpan di kotak biru ini, ya.” Kemudian, biarkan anak mengambil mainannya untuk disimpan ke dalam kotak. Beri pujian ketika anak berhasil melakukannya, dan terus berikan motivasi hingga semua mainannya dibereskan. Lakukan secara bersama-sama. Agar anak berkonsentrasi penuh, tegaskan, dia tak boleh bermain atau menonton film sebelum semua mainannya dibereskan. Di sisi lain, orangtua juga harus mengedepankan sikap sabar. Bagaimanapun, anak memerlukan waktu tidak sebentar untuk membereskan mainan.
Meski terlibat langsung dan memberi contoh, namun jangan terlalu banyak membantu atau malah akhirnya membereskan sendiri mainan itu tanpa melibatkan anak. Bila ini yang terjadi, anak justru akan merasa keenakan sehingga akhirnya enggan membereskan mainan. “Mengapa aku harus membereskan mainan? Toh, ada Mama yang bisa membereskannya dengan cepat.”
TANPA PAKSAAN & ANCAMAN
Jelaskan pula manfaatnya jika mainannya disimpan rapi. “Kamu tidak perlu bersusah payah lagi saat mencari mainan. Selain itu, jika mainannya berantakan, kamu bisa terluka atau terpeleset karena mainannya terinjak. Mainanmu juga bisa rusak jika diletakkan di sembarang tempat.”
Hindari cara-cara memaksa atau mengancam, “Ayo, bereskan mainan! Jika tidak, Mama enggak membelikanmu mainan lagi.” Itu tidak hanya membuat anak semakin ogah membereskan mainan, tapi juga memiliki konsep yang salah tentang mengapa dirinya harus membereskan mainan. Bukan supaya rapi dan lebih bertanggung jawab, melainkan agar dirinya dibelikan mainan baru. Banyak anak yang enggan membereskan mainan, salah satunya juga dikarenakan ajakan yang tak bersahabat ini.
Sebenarnya, tanggung jawab yang sama juga diajarkan di “sekolah”, baik playgroup maupun taman kanak-kanak. Untuk playgroup, beberapa “sekolah” yang menganut sistem sentra menerapkan aturan main. Salah satunya, anak bebas mau bermain di mana, apakah di sentra balok, sentra musik, sentra ibadah, dan lain-lain. Di setiap sentra anak diharuskan merawat dan menjaga mainan. Plus tak boleh berpindah sentra jika mainan di sentra sebelumnya belum dibereskan. Ini secara tak langsung mengajari anak bertanggung jawab, sekaligus belajar membereskan mainannya sendiri. Tanpa ketergantungan dan bantuan orang dewasa.
CARI TERUS SAMPAI KETEMU
Bagaimana jika anak lupa atau benda miliknya tertinggal? Tugas orangtua adalah merunut kembali aktivitas yang dilakukan anak. Jika sepedanya tertinggal, tanyakan anak tadi bermain di mana saja. Rumah A, lapangan B, dan seterusnya. Ajak anak untuk terus mencari sampai didapat kembali sepedanya. Itu merupakan bentuk tanggung jawab anak terhadap barang miliknya. Sedapat mungkin hindari mencari sepeda itu tanpa disertai anak. Jangan sekali-kali memarahi karena tak membuat anak langsung teringat, juga tak membuatnya tergerak mencari sepedanya sendiri. Yang ada justru anak takut dan enggan mencari sepedanya.
Hal lain yang perlu diingat, jadilah contoh dalam kerapian dan tanggung jawab. Ingat, anak cepat meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Jangan heran melihat anak berantakan jika kamar orangtuanya sendiri berantakan. Atau, anak tak memedulikan mobilnya rusak karena orangtua sendiri tak peduli dengan handphone-nya yang diletakkan sembarangan. Bagaimanapun, contoh dari orangtua memang lebih “mujarab” ketimbang berjuta kata!
Saeful Imam.