Jika Si Kecil Mencuri


sumber : tabloidnakita.com

Memalukan deh, tiap kali pulang dari rumah tetangga, si kecil selalu bawa oleh-oleh mainan. Pasti dia mengambilnya begitu saja tanpa izin.
Coba deh periksa boks mainan batita Anda. Pasti akan Anda temukan sejumlah mainan “asing” yang bukan miliknya. Bukan cuma itu, Anda juga bakal menemukan benda-benda lainnya, entah lipstik atau bolpoin yang hilang beberapa waktu lampau, dan sebagainya.
Ini memang perilaku khas anak batita. Kemunculannya disebabkan dorongan rasa ingin tahu (curiosity) pada sesuatu yang dia lihat atau orang lain pakai. Saat anak lain memainkan robot-robotan, misal, si batita penasaran dan ingin memainkannya juga, meski di rumah sebenarnya dia memiliki mainan tak kalah bagus.
Selain itu, anak mulai senang mengenali dan menggali hal¬hal di lingkungannya. Inilah yang memunculkan sikap ingin mencoba hal-hal baru atau benda yang sama sekali belum dikenalnya. Tak heran, telepon genggam, lipstik, gunting, dan aneka benda lain dalam sekejap sudah ada dalam genggamannya.
Karenanya, psikolog Sani B. Hermawan tak setuju bila orangtua memarahi si batita, apalagi sampai mengatakan dia telah mencuri barang milik orang lain. “Anak batita belum tahu mengenai hak milik. Dia menyangka semua benda yang ada adalah miliknya dan untuknya,” ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insaniini.
Namun, bukan berarti kita boleh membiarkannya begitu saja. Justru ini bisa menjadi gerbang bagi orangtua untuk mengajari anak norma-norma sosial yang berlaku, sekaligus aturan boleh-tidak. “Anak harus diberi tahu tentang hak milik. Ada barang milik dia, milik ibu, ayah, bahkan teman-temannya. Hak itu harus dihargai. Berikan contoh dengan logika terbalik, ‘Kamu mau tidak barangmu diambil temanmu tanpa bilang?’ Jelaskan juga, ada etika meminjam, seperti meminta izin terlebih dahulu.”
Jadi, ajarkan etika meminjam. Pada tahap awal, tentu anak perlu diawasi dan diberi pemahaman tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan terhadap barang tersebut. Durasinya pun singkat, artinya barang itu harus cepat dikembalikan. Barulah setelah anak dapat bertanggung jawab, dia perlu diberi kepercayaan dan durasinya boleh agak lama, tentunya atas seizin si empunya.
Selain itu, ingatkan anak agar memelihara barang milik orang lain dan tidak merusaknya. Hal ini untuk membentuk sikap menghargai. Selanjutnya terang-kan, barang itu adalah barang orang lain yang harus dikembalikan. Jangan lupa untuk menga-jarkan terima kasih pada saat mengembalikan.
Jika anak ngambek tak mau mengembalikan, orangtua perlu menjelaskan hak dan kewajiban dengan sederhana, bahwa barang itu bukan barang miliknya (hak), dan kewajibannyalah untuk mengembalikan secara baik-baik. Tanyakan, apa yang membuatnya sangat tertarik pada benda tersebut. Di rumah, ajak dia mencari benda miliknya yang mirip dengan barang/mainan kepunyaan temannya itu. Dengan demikian, anak tak terlalu merasa kehilangan jika mainan temannya dikembalikan. Walaupun bereaksi sedih, anak harus dituntun untuk mengembalikan benda pada orang yang meminjamkan.
Di sisi lain, anak pun harus diajarkan menghargai barang miliknya. Kalau tidak, mungkin saja ia menyenangi barang orang lain tetapi tidak menghargai barang miliknya. Sikap ini cenderung mendorongnya untuk selalu merebut milik orang lain. Atasi dengan mengembalikan rasa bangga pada diri anak terhadap benda-benda miliknya. Caranya, kenalkan hal-hal positif dan kelebihan dari mainannya. Entah itu robotnya yang bisa bergerak, bersuara, atau bonekanya yang lucu.
Jika ada barang yang tak boleh dimainkan, berikan penjelasan dengan baik. “Adek tidak boleh memainkan barang ini karena kalau jatuh dan pecah, Ibu tidak dapat memakainya lagi.” Dengan demikian anak bisa memahami dan sekaligus mendapat informasi yang memuaskan. Jika anak tidak patuh pada aturan, membandel, dan tak mau dinasihati, jelaskan secara perlahan dan berulang sampai ia paham.
AJARKAN BERBAGI
Tahap selanjutnya, anak bisa diajarkan berbagi. Jika dia biasa meminjam mainan temannya, maka mainan miliknya juga boleh dipinjam orang lain. Agar pesan kita mudah ditangkap, cobalah cari contoh lain yang akrab dengan anak. Bisa berupa makanan, buku bergambar, bacaan, dan lain-lain. Mulailah dari anggota keluarga terlebih dahulu. Saat anak hendak mengambil pulpen milik ayah, jelaskan dia harus meminta izin terlebih dahulu, plus mengucapkan terima kasih saat mengembalikan.
Selain itu, jadilah teladan buat anak. Ajarkan bagaimana menghargai hak milik orang lain. Contoh, saat melihat kue lezat si kecil terhidang di meja, jangan sekali-kali mengambilnya tanpa izin. Ingat, kue itu milik anak yang harus dihargai. Mintalah izin dan jangan memaksa mengambil jika anak tak mengizinkan. Hal lain yang perlu diingat, jangan sekali-kali menyerahkan mainan atau benda milik anak kepada anak lain tanpa seizinnya. Itu tidak hanya melukai anak, tapi juga mengajarinya untuk tidak menghargai hak milik orang lain. Jangan lupa, anak belajar dari apa yang dilihat dari orang terdekatnya. Jika Anda sering melanggar hak orang lain, jangan harap anak bisa menghargai kepunyaan orang lain.
Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA
“Mama JAHAT!”
Ini merupakan ekspresi sehat dan wajar. Orangtua hanya perlu mengendalikan.
“Mama jahat!” ungkapan yang singkat tapi dalam. Ibu mana yang tidak terperangah mendengarnya. Ada yang langsung marah, tapi ada pula yang kemudian cuek. Anda termasuk yang mana? Mungkin yang lalu terpikir adalah, kok bisa-bisanya si cilik mengucapkan kata-kata itu dengan entengnya.
Itulah komunikasi provokatif; demikian beberapa pakar psikologi perkembangan menyebutnya. Komunikasi itu tidak hanya menjengkelkan, tapi juga memalukan. Bayangkan saja jika kata-kata ajaib itu meluncur di depan orang banyak. Singkat kata, komunikasi provokatif
merupakan bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal yang memancing emosi, tidak sopan, tidak pantas, tidak senonoh, dan bahkan menyakitkan. Bentuk komunikasi ini sebenarnya sudah ada sejak bayi lahir. Bagaimana bayi menangis sambil menjerit demi menuntut keinginannya dipenuhi, itulah komunikasi provokatif.
Di usia batita, kata “tidak” atau “enggak” adalah kata provokatif pertamanya. Anak senang bereksperimen dengan kosakata yang baru dikuasainya. Apa pun yang dikatakan orang-tua, anak senang mengatakan “tidak”. Terlebih, saat orangtua melarang atau meminta anak melakukan sesuatu. Jika ucapan tidak mempan, anak pun mencari jalan lain yang lebih “keras”, dengan harapan kemauannya dituruti seperti memukul, menggigit, menendang, menarik-narik baju, dan lainnya.
WAJAR TAPI TAK BOLEH DIBIARKAN
Komunikasi provokatif muncul karena di satu sisi anak memiliki hasrat dan emosi yang kuat, sedangkan di sisi lain anak tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Selain itu, di usia ini juga anak sangat egois dan cenderung memaksakan kehendak. Apalagi, jika orangtua terlalu banyak melarang, sebentar-sebentar “tidak boleh” atau sedikit-sedikit “jangan”. Anak pun kesal sehingga keluarlah jurus komunikasi provokatifnya. Sebab lain munculnya komunikasi ini adalah anak merasa terbuang, semisal tak diajak jalan-jalan ke mal karena sedang sakit, atau merasa malu karena dimarahi orangtua di depan kawan-kawannya.
Sebenarnya, komunikasi ini wajar dilakukan sebagai bagian dari perkembangan emosi anak. Emosi yang tersalurkan lebih sehat ketimbang emosi terpendam. Itulah mengapa, komunikasi provokatif adalah ekspresi sehat. Sayangnya, penyaluran emosi tersebut dilakukan dengan cara yang tidak tepat, yaitu menge-luarkan kata-kata kasar/tak pantas dan kekerasan fisik. Jadi, meski komunikasi provokatif tergolong wajar di usia batita, orangtua tetap harus mengarahkan, bagaimana berekspresi yang sehat yang lebih dapat diterima lingkungan (acceptable behaviour).
Selain itu, anak usia batita belum mengerti apa yang dia katakan, semisal “mama goblok”, “mama jahat”, “anjing lu”, dan sebagainya. Umumnya, mereka mendapatkan kata-kata itu dari lingkungan di sekitarnya, seperti orang dewasa di rumah maupun di luar rumah dan tontonan di televisi. Anak melihat, saat kesal, orang dewasa mengucapkan kata-kata tersebut. Anak pun menirunya, karena dipikirnya kata-kata itulah yang harus dia ucapkan di kala hatinya sedang kesal/marah. Begitu pun dengan perilaku provokatif seperti menjambak, memukul, mencubit, dan sebagainya. Sekali lagi, meski wajar, komunikasi dan perilaku pro-vokatif tak boleh dibiarkan. Anak harus diberi pengarahan untuk mengungkapkan diri dengan cara yang enak.
Ragam Komunikasi PROVOKATIF dan MENGATASINYA
* Komunikasi Provokatif Fisik
Bentuknya bermacam-macam, bisa meludah, memukul, menjambak, menggigit, dan lain-lain. Sedapat mungkin, cegahlah agar tindakan itu jangan sampai dilakukan. Jadi, saat anak hendak meludah karena pandangannya ke teve terhalang, misal, cobalah jelaskan, “Adek sebaiknya mengatakan ‘permisi, Mama, aku tidak bisa lihat’. Nah, Mama kan jadi tahu kalau kepala Mama menghalangi pandangan Adek ke teve.”
Hindarkan sikap reaktif karena bisa membuat anak semakin giat mengulangi perilaku negatifnya. Jelaskan, tempat yang tepat untuk meludah seperti, “Adek boleh meludah sepuasnya di kamar mandi.” Berikan pujian jika anak sudah menghilangkan kebiasaan buruknya itu, “Hari ini Adek hebat. Adek tidak menggigit Reza meskipun dia mengambil mainanmu.” Jangan lupa, jelaskan ekspresi yang tepat selain menggigit, “Lebih baik Adek bilang, ‘jangan ambil, ini mainanku’ kepada temanmu yang akan mengambil mainanmu dengan paksa.”
Hindarkan pula membalas dengan hukuman fisik atau kekerasan fisik yang sama. Mungkin saja anak menghentikannya, tapi itu hanya sementara dan dengan alasan takut. Nantinya, bukan tak mungkin komunikasi provokatif fisik ini muncul kembali.
* Perilaku Mengesalkan
Si kecil menjerit “mau es krim” sambil melempar-lempar mainannya ke hadapan Anda, atau berteriak “pulaaang”, sambil menarik-narik baju Anda, dan sebagainya. Dia berharap, teriakan dan jeritan dapat membuat keinginannya terkabul. Ingat, anak batita selalu menginginkan hasil instan. Jika dia menginginkan sesuatu, maka hal itu harus terkabul sekarang juga, tak bisa ditunda sedetik pun. Ini juga berlaku saat anak butuh perhatian orangtua.
Si batita harus diberikan pengertian, mengapa keinginannya tak bisa dipenuhi segera atau harus ditunda. Contoh, “Adek mau es krim? Oke, setelah makan nasi, Adek boleh makan es krim.” Selain itu, ketahui juga penyebab kekesalan anak. Misal, anak minta pulang saat diajak pergi arisan. Mungkin dia bosan karena kita asyik mengobrol sementara si kecil terabaikan. Nah, kita perlu mencari cara agar anak tidak bosan, entah dengan membawakan mainannya, atau mengenalkan si kecil dengan teman-temannya sebaya.
* Komentar Marah
Anak bisa meluapkan emosinya dengan kata-kata, misalnya saja “Mama jahat”, “Mama bodoh”, atau bahkan dengan kata-kata kasar/tak senonoh. Hal ini bisa dilakukan kepada siapa pun, baik orangtua maupun orang dewasa lain, saudara, bahkan teman-temannya. Namun ingat, anak belum paham sepenuhnya arti kata-kata tersebut. Dia hanya sekadar meniru tanpa menyadari apa yang dikatakannya itu boleh atau tidak. Jadi, tak guna memarahinya. Lebih baik tenangkan anak dan jelaskan mengapa kita tak bisa mengabulkan keinginannya, “Adek, sekarang sudah larut malam. Di luar dingin dan gelap. Jadi kita tidak bisa main di luar, Lagi pula, sekarang sudah waktunya tidur.” Kemudian alihkan perhatiannya dengan mengatakan, “Yuk, kita masuk ke kamar. Mama akan bacakan cerita untukmu. Ceritanya bagus lo.”
Bila komentar marah ini dilontarkan kepada temannya yang mencoba merebut mainannya, “Enggak boleh. Goblok!” misalnya, sebaiknya angkat anak menjauh dari si teman dan tegurlah dengan lembut, “Adek enggak boleh berkata seperti itu. Itu kata-kata kasar.” Cara ini bisa menjaga perasaan anak di depan temannya. Kemudian ajarkan cara yang lebih tepat, “Kalau temanmu akan merebut mainanmu, katakan saja, ‘Enggak boleh, ini punyaku.'”
* Uring-uringan
Sikap dan perilaku anak benar-benar membingungkan. Begini salah begitu salah. Tidak tahu apa maunya. Orangtua jadi jengkel dan tak jarang langsung memarahi anak. Sebenarnya, anak sedang menguji orangtua. Perhatian orangtua yang dicari, bukan kemauannya dipenuhi. Sangat mungkin anak ingin tidur dan mengantuk, tapi dia ngelantur dengan meminta dibuatkan susu. Saat dibuatkan susu, dia rewel dan meminta yang lain.
Orangtua harus peka. Perhatikan, apa sebenarnya yang dimaui anak. Jika dia terlihat lelah dan mengantuk, coba abaikan permintaannya yang macam-macam, tapi usap dan gendonglah. Berikan kenyamanan sehingga dia lelap tertidur.
Saeful Imam.
Konsultan ahli:
Mira D. Amir, Psi.,
dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s