Jika Anak MAU Tinggal DI RUMAH Nenek


sumber : tabloidnakita.com

Boleh jadi bukan semata karena fasilitas yang berlebih, tapi dia butuh kenyamanan.
Seorang teman bercerita kalau anaknya yang berumur 4 tahun tak mau diajak pulang saat diajak mudik Lebaran kemarin ke rumah neneknya. Jadi terpaksa ia dan istri pulang duluan ke Jakarta sementara si kecil tinggal dengan neneknya di Bandung. “Udah pake segala macam cara ngebujuk tapi dia enggak mau pulang juga. Memang sih di sana dia mendapat segala fasilitas yang lebih oke daripada di rumah. Jadi apa yang harus saya lakukan ya?”
Pernah mengalami kejadian yang sama seperti teman tadi? Atau setidaknya mirip, seperti saat diajak ke rumah budenya, si prasekolah susah diajak pulang karena di sana ada fasilitas kolam renang dan PS 3, umpamanya. Nah, menurut Indah Kiranawati Machsus, Psi., pada dasarnya manusia (termasuk anak-anak) cenderung mencari hal-hal yang dianggap lebih enak atau menyenangkan. Dalam konteks ini, anak lebih betah tinggal di rumah kerabatentah itu nenek/kakek, tante/omlantaran mendapatkan pemuasan kesenangan dalam bentuk beragam fasilitas yang tersedia di rumah tersebut.
ENGGAK MAU PULANG
Yang jelas, saran Indah sebaiknya hal ini tak dibiarkan berlarut-larut, hingga si anak jadi emoh pulang dan memilih menetap di rumah tersebut. Kalau sudah begini, tentu orangtua yang jadi kelabakan. Lalu apa saja yang perlu dilakukan orangtua?
* Ajak bicara dan bujuk
Langkah yang pertama dan utama adalah jalin komunikasi yang baik dengan si prasekolah. Ketahui kenapa anak merasa asyik atau senang tinggal di rumah nenek, lantas enggak mau pulang-pulang. Mungkin lantaran adanya sajian fasilitas bermain/permainan yang notabene tak ada di rumah. Kalaupun fasilitas tersebut ada, tapi sudah jelek, rusak, kurang canggih dan sebagainya.
Kemungkinan lain karena adanya fasilitas ruang atau halaman yang begitu lapang. Berbeda dengan di rumah yang serbaterbatas lahannya. Kalau kondisinya berbeda seperti itu, ajak bicara sang buah hati, agar tak keterusan minta tinggal di rumah tersebut. Contoh “Kakak senang main di rumah, Nenek? Tapi, kan, kita mesti pulang. Kakak besok, kan, sekolah? Nanti kalau libur, kita main ke rumah Nenek lagi ya.” Pokoknya bujuk sedemikian rupa sehingga anak tak malah tinggal selamanya bersama nenek.
* Ketahui akar masalahnya
Cari terus lebih dalam, apa alasan anak pengin tinggal di rumah kerabat itu. Boleh kiranya kita meminta ia menceritakan seperti apa sih suasana di sana. Mungkin saja bukan sekadar fasilitas yang komplet, baru dan canggih, akan tetapi ditambah suasana yang begitu nyaman, sikap yang hangat dan ramah dari para penghuni rumah itu sehingga menyebabkan ia lebih betah di sana. Toh, mungkin ada juga orangtua yang menyediakan segambreng fasilitas dan kemudahan, tapi anaknya tetap enggak betah. Malah dia senang main di rumah temannya yang kondisinya biasa-biasa saja. Ada juga, kan, anak yang lebih memilih tetap tinggal di rumah sederhananya, ketimbang berkunjung ke rumah kerabat yang besar, megah dan serbawah. Dia lebih merasa nyaman di rumah mungil orangtuanya.
Jadi, telusuri akar masalahnya. Selain karena faktor fasilitas yang lebih komplet, kemungkinan juga anak sebenarnya merasa bosan. Bukan semata-mata anak jadi “matre”, inginnya sesuatu yang wah atau bagus. Apalagi kalau kita menyimak tumbuh-kembang anak usia prasekolah yang umumnya masih dalam tahap eksplorasi dimana bila ia sudah tak menemukan hal menarik untuk dieksplorasi, jangan heran dia jadi merasa bosan. Selanjutnya, si anak mulai kerasan dan betah di rumah orang lain yang mungkin memiliki sesuatu yang lebih menarik untuk dieksplorasi.
SOLUSI YANG TEPAT
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan bila kita mulai melihat “gelagat” si prasekolah senang tinggal di rumah kerabat/saudara dan bahkan menolak untuk pulang. Berikut di antaranya:
* Buat kesepakatan
Meskipun masih tergolong dini, akan tetapi dia bisa, kok, diajak untuk membuat kesepakatan bersama. Tinggal bagaimana cara kita menyampaikan dengan bahasa yang dimengertinya. Misal, atur jadwal kapan anak boleh ke rumah nenek atau saudara lain yang fasilitasnya berlebih itu. Apakah tiap hari Minggu atau saat hari libur. Tentukan pula apakah sekadar berkunjung/bermain atau sekalian menginap. Kalau menginap kira-kira berapa lama, dan sebagainya. Jadi meskipun di rumah kerabat sendiri, akan tetapi anak sejak dini belajar untuk mengenal “etika” ke rumah orang lain; ada saatnya juga untuk pulang ke rumah, bukan berarti menginap maksud-nya tinggal di sana untuk selamanya.
Dalam hal ini, ajak anak untuk mengambil keputusan atas pilihannya. Jelaskan pada anak bahwa aturan yang sudah disetujui itu mesti dilakukan dengan baik. Jelaskan dengan bahasanya bahwa aturan atau kesepakatan yang dibuat itu untuk kebaikannya juga bukan berarti untuk mengekangnya.
* Ciptakan suasana nyaman
Meskipun ketersediaan fasilitas yang ada di rumah kurang lengkap, canggih atau sudah “jadul”, kita bisa kok membuat anak betah dengan fasilitas yang ada. Kuncinya adalah menciptakan suasana yang nyaman, hangat, ramah buat anak. Coba bayangkan bagaimana reaksi anak, misalnya kalau kita sebagai orangtua ternyata sering marah-marah, padahal fasilitas di rumah begitu komplet.
Selanjutnya Anda perlu melibatkan diri dengan aktivitas bermain anak. Mungkin selama ini dia enggak betah di rumah, dan doyan di rumah kerabat karena kegiatan bermainnya sungguh menarik. Boleh dicoba dengan melakukan berbagai permainan interaktif bersama anak. Jangan takut kegiatan yang “konvensional” membuat anak lebih betah di rumah orang lain, misalnya, bermain game di komputer. Paling tidak, kalau kita tak bisa memberikan fasilitas yang berlebih, cukup berikan fasilitas yang menunjang hobi si anak tentunya. Misalnya, kalau anak senang bermain game, enggak harus PS, bukan? Bisa melalui game komputer tinggal dipilihkan jenis game-nya mau seperti apa. Kalau perlu, ajak teman-temannya untuk bermain di rumah. Siapa tahu, dengan banyak melakukan aktivitas bersama, anak jadi lebih betah tinggal di rumah. Yang diharapkan, dia tak lagi pengin tinggal di rumah kerabat.
Hilman Hilmansyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s